Minggu, 21 Oktober 2012

BEST FRIEND [?]

Alunan piano terdengar jelas ditelinga. Hamparan mawar putih menghiasi ballroom. Tawa, ucap kata, decap mulut yang mengunyah makanan, serta kilapnya lampu blitz kamera mengisi hampir seluruh ruangan tersebut.

“Selamat ya Dinda, semoga bahagia. Cepat dapat momongan” senyum lebar membuncah.

Dinda mengitari ballroom, dia mencari sosok seorang pria yang selalu menemaninya.

“Raihan ! kamu makan terus ya” Dinda menjewer telinga Raihan. Semua mata memandang mereka berdua, bisik dan tawa kembali terdengar renyah.

“Pengantin wanitanya galak ya?”

“Waduh pasti sakit tuh”

Satu per satu komentar bermunculan, suasana kembali meriah. Raihan menggerakkan bibirnya kelu,”sakit ih”

“Makanya jangan kabur-kaburan. Ada yang mau aku kenalin nih” desak Dinda.

“Aku laper” Raihan memasang wajah memelas.

“Ya sudah”

Dinda berdiri melihat Raihan yang menggosok ke dua tangannya, sigap untuk meraih hidangan yang tersedia. Sudut mata Dinda seakan ingin meneteskan air mata. Ia teringat kembali segala kenangannya bersama Raihan. Raihan yang sejak kecil menjadi pasangan setianya, sahabat sejak dalam kandungan. Tiada hari yang dilewati Dinda tanpa adanya Raihan bahkan hingga mereka dewasa.

Disisi lain, Raihan pun teringat akan semua kenangan mereka. Bagaimana paras Dinda kecil yang berpura-pura menjadi pengantin wanitanya. Paras Raihan yang cemberut karena dijadikan korban oleh kakaknya.

“Udah, disini kan aku sutradaranya. Raihan nurut ! Kamu jadi pengantin pria, Dinda pengantin wanitanya”

“Aku gak mau kak, malu-maluin ih”

“Kalau udah gede nanti emang kamu gak mau nikah sama Dinda? Dia kan cantik”

“ENGGAK ! Cengeng gitu”

Namun seiring waktu yang telah berputar, perasaan itu pun muncul. Meresap perlahan mengikis sebuah kata persahabatan. Raihan terlalu takut untuk mengakuinya. Gejolak cinta yang muncul diantara sahabat. Raihan tidak ingin ketika dia menyatakan apa yang dirasakannya, Dinda akan menganggap semuanya hanyalah ilusi karena mereka sahabat. Raihan memilih untuk berdiam diri hingga pada akhirnya sebuah kesempatan terbuka.

“Salah satu diantara kalian gak ada nih yang mau jadi calonnya anak tante?” tanya Nurhalisa, Ibu Dinda,”Menurut tante usia Dinda sudah pantas untuk dinikahkan dan kalian adalah calon yang tepat”

“Ah tante bisa aja” jawab kakak lelaki Raihan,”Raihan, kamu suka gak sama Dinda?”

“Udah selesai makannya? Udah kenyang belum?” Dinda membuyarkan lamunan Raihan.

 “Alhamdulillah, udah kenyang”

“Yuk”

Dinda segera menarik Raihan berdiri.

Mereka berjalan menyurusi lautan para undangan yang hadir. Gaun pengantin serta jilbab putih bersih Dinda bergerak lembut mengikuti setiap sentuhan tubuh Dinda. Raihan menatap dari belakang dengan jantung yang berdegup cepat. Hari ini nyata telah tiba.

“Mas, ini Raihan”

“Raihan, sini ada yang mau mas kenalin. Ini teman kuliah Mas, namanya Jingga”

Raihan tersenyum lalu memperkenalkan dirinya sebagai balasan perkenalan Jingga.

“Raihan, kamu temani temen Mas makan ya” katanya seraya mengedipkan mata

Raihan terdiam beberapa saat. Jingga menarik baju Raihan, memintanya untuk mencari tempat agar bisa makan dan mengobrol. Raihan menemani Jingga menuju meja tempatnya makan. Dari sana dia menatap Dinda dan kakak kandungnya yang sedang bercengkerama. Ya, hari ini nyata telah tiba dan semuanya memang sudah sangat terlambat. Dia tidak mungkin memutar kembali yang telah terjadi. Hari ini Raihan memang bahagia melihat Dinda, gadis yang selama ini disukainya mengenakan gaun pengantin, namun sisi lain hatinya sakit karena bukan dia yang menjadi pengantin pria untuk Dinda.

“Kami cuma sahabat Mas”

“Jadi? Kamu tidak ada rasa apapun sama Dinda?”

“Kami sahabatan dari kecil. Cuma itu aja Mas”

“Kalau kamu memang hanya menganggap seperti itu, Mas bisa tenang. Mas suka sama Dinda,” kakak lelaki Raihan menatap wajah Nurhalisa dengan sungguh-sungguh,”Tante, saya siap menjadi pasangan Dinda asal Dinda juga mau”

Mereka hanya sekedar sahabat, entah kenapa kini Raihan merasa prinsip itulah yang menghancurkan segalanya.

Di sudut ruangan Dinda menangis dalam hati. Semua keputusan yang sekarang terjadi, dialah yang menentukannya.

“Kalau saja Raihan tahu yang aku harapkan datang meminangku adalah dia” batin Dinda.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

what do u think, say it !