Minggu, 29 Desember 2013

KUCING KEBERUNTUNGAN


Halo, namaku kucing keberuntungan. Aku adalah pajangan bundar gendut  yang suka menggerak-gerakkan satu tangan memanggil orang-orang untuk mampir. Menurut kepercayaan beberapa orang, memajang badan tambunku di atas etalase toko akan mendatangkan rejeki yang melimpah. Entah benar atau tidak, kenyataannya adalah sepuluh tahun yang lalu seorang pria berkulit putih dan pendek membeli dan menempatkanku di toko miliknya. Sebuah toko kue tempat berbagai macam orang datang. Mulai dari anak kecil yang iseng mencomot krim kue, remaja tanggung yang suka duduk ngerumpi di sudut-sudut meja, atau ibu-ibu arisan yang heboh memamerkan perhiasan mereka. Dunia manusia yang luar biasa.

Kring!

Nah ini dia, si gadis misterius yang sejak tiga hari lalu mencuri perhatianku. Namanya adalah Laras. Beberapa orang di tempat ini melihatnya dengan heran. Ya, itulah yang aku rasakan ketika pertama kali melihatnya. Sebuah kaos belel dipadu dengan dengan shaggy pantalon serta coat panjang yang kumal menutup tubuhnya yang kurus. Belum lagi ditambah dengan topi rap cap yang hampir menutup sebagian besar wajahnya. Sempurna sudah tampilannya sebagai manusia aneh. Gayanya seperti seseorang yang ditelan tumpukan pakaian raksasa.

Kunjungan pertamanya di toko membuat hampir sebagian besar petugas toko kue berbisik-bisik.

“Orang kayak gini pasti cuma lihat-lihat aja. Gak bakal bisa beli kue.”

“Dia gak punya baju lain apa? Seragam kita aja masih lebih bagus.”

Bla bla bla.

Terlalu membosankan untuk didengar lebih lanjut.

Dibalik itu semua, Laras si manusia dengan pakaian bertumpuk memiliki tatapan mata yang sangat indah. Seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan. Melihatnya masuk ke dalam toko membuat imajinasiku berputar. Diimajiku berkelebat sosoknya dalam peran kehidupan yang berbeda-beda. Kadang Laras berubah menjadi seorang gadis bangsawan yang lari dari kehidupan nyamannya, agen rahasia, atau pemilik toko kue yang sedang menyamar. Ah, entah mana yang benar tapi aku sangat menikmatinya.

Hari ini dia datang dengan tergesa-gesa. Ada cipratan lumpur diantara ujung-ujung coat kumalnya. Padahal sejak pagi tadi kota ini tidak diguyur hujan, mana mungkin bisa ada kubangan lumpur yang tercipta? Apa mungkin dia habis menjelajah kota seberang? Aku mulai berasumsi dengan imajiku lagi. Senyumku mulai mengembang, meski mungkin tidak ada yang memperhatikan. Eh tapi tunggu dulu.

“Mama, kucingnya hidup.”

“Iya nak, iya.”

Si Ibu yang sedang sibuk dengan smartphone-nya seperti tidak terlalu peduli. Syukurlah. Sudut mataku kembali melirik Laras yang sekarang sedang duduk mencoret sketchbook polkadot miliknya. Apa yang kali ini dia gambar? Penasaran sekali rasanya. Pikiranku mulai melayangkan banyak ilusi khayalan. Saking penasarannya, tanpa sadar tubuhku bergeser begitu jauh dari atas etalase toko hingga hampir terjatuh. Tatapan Laras yang membuatku sadar akan hal itu. Manik matanya yang sejak tadi lurus ke arah sketchbook mendadak bertemu dengan mataku. Apa mungkin dia sadar kalau aku memperhatikannya? Ah, itu tidak mungkin. Lihatlah kini Laras kembali sibuk dengan coretan-coretannya. Tidak mungkin Laras memperhatikanku yang tersembunyi. Tersembunyi? Yup, sejak lima tahun lalu penerus toko kue ini memutuskan untuk tidak lagi mempercayaiku hingga menyembunyikanku di atas etalase toko yang tidak terlihat.

Tapi sudahlah sekarang kembali lagi ke Laras. Hey, kemana dia? Ah, sekarang dia berjalan ke arahku. Sebaiknya aku mematung dan berakting sebaik mungkin.

“Kamu kesepian sepertiku? Kamu penasaran sepertiku? Sama. Namaku Laras, salam kenal kucing keberuntungan.”

Aku tidak percaya apa yang baru saja aku dengar. Ingin rasanya berbalik dan menjawab pertanyaan Laras namun takdir langit tidak memperbolehkan. Aku hanya bisa mengerling dalam senang.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 28 Desember 2013

ILMUWAN GILA


Sepagi ini wajahku sudah muram. Bagaimana tidak, Ayah membuat seluruh rumah penuh dengan bulu-bulu coklat dari tubuhnya. Ya, Ayahku memiliki bulu coklat diseluruh tubuhnya layaknya serigala. Tidak. Tidak. Ayahku bukan manusia serigala seperti yang diceritakan buku-buku. Ayahku adalah seorang ilmuwan aneh yang suka sekali menjadikan dirinya sendiri sebagai bahan percobaan. Aku tidak tahu apa yang ingin Ayah coba sehingga tubuhnya berubah menjadi aneh seperti itu. Aku sudah tidak peduli lagi.

“Tidak sarapan dulu?”

Aku hanya menggeleng. Bagaimana bisa aku sarapan dengan bulu-bulu yang berserakan di meja makan? Seringkali aku berharap Ayah akan berubah menjadi Ayah pada umumnya. Bekerja di kantor pemerintah, mengantarkanku pergi sekolah, dan bisa menemaniku libur akhir pekan. Tidak tahukah Ayah bahwa aku kesepian sejak Ibu meninggal?

“Kusut banget sih mukamu.” Cita menepuk punggungku.

“Mau bagaimana lagi . . .”

“Pasti Ayahmu.” Belum sempat aku melanjutkan Cita sudah menebaknya dengan sempurna.

Cita adalah sahabatku yang luar biasa. Dia adalah tempat curhat nomor satu. Dulu disaat sebagian besar teman kelas menjauhiku karena pekerjaan Ayah yang dijuluki ‘ilmuwan gila’, Cita memilih mendekatiku. Dia juga selalu berkata bahwa Ayahku pasti punya alasan mengapa melakukan itu semua. Tapi aku, seperti biasa tidak menaruh perhatian terhadap ceramah Cita.

“Makan siang sudah ada di meja, makan dulu. Ayah mau pergi sebentar, ada urusan.” Ayah membuyarkan lamunanku yang sudah terbang ke sana kemari. Jika Ayah berkata ada urusan maka Ayah tidak akan pulang hingga malam menjelang. Waktu yang cukup bagiku untuk membersihkan sudut rumah yang penuh dengan bulu.

Sigap, setelah makan siang beres aku mulai kegiatan bersih-bersih. Ketika jingga fajar terbenam kegiatan tersebut baru selesai. Luar biasa. Aku memilih merebahkan tubuh disofa, kemudian teringat sebuah buku yang tidak sengaja aku temukan ketika membersihkan lorong menuju laboratorium Ayah. Buku itu terlihat usang dengan ujung yang berlipat-lipat. Aku membuka lembar demi lembar. Beberapa rumus tampak berhamburan di kertas-kertas menguning. Ah, ini pasti buku yang berisi penelitian milik Ayah. Aku memilih tidak peduli sebelum akhirnya mataku melihat sesuatu yang mencuat. Itu adalah fotoku yang tersenyum ketika berada di depan petshop.

Aku ingat hari itu adalah hari dimana aku meminta dibelikan kucing berbulu coklat yang tambun. Dan di hari itu juga akhirnya aku menyerah untuk memelihara kucing. Ternyata aku alergi terhadap bulu kucing, hewan yang sangat aku sukai. Seharian itu pula aku tidak ingin beranjak dari petshop dan membuat Ayah serta Ibu pusing.

Kenapa Ayah menyimpan foto ini? Di kertas tempat buku itu tertambat ada rumus-rumus aneh yang tetap saja tidak ku mengerti. Dibagian paling bawah rumus tersebut ada sebuah tulisan yang membuatku tertegun.

Misi : menciptakan makhluk berbulu untuk Ani agar tidak bersin-bersin.

Airmataku mengalir. Jadi, ini alasan mengapa tubuh Ayah menjadi sangat berbulu? Dan hey sekarang aku sadar bulu-bulu Ayah tidak membuatku bersin.

“Ani.” Ayah sudah berdiri dihadapanku, aku tidak menyadarinya.

Ayah terkejut melihat ekspresiku dan buku yang aku pegang. Aku mengira akan dimarahi habis-habis namun ternyata Ayah hanya tersenyum.

“Ani sudah melihatnya?” Aku mengangguk.

“Banyak yang bilang itu adalah penelitian paling bodoh yang Ayah lakukan tapi menurut Ayah itu adalah penelitian paling menyenangkan. Kapan lagi penelitian Ayah bisa membuat puteri kesayangan Ayah bisa tersenyum? Ayah tahu Ani kesepian, Ayah mengerti tidak bisa menemani Ani. Jadi Ayah memilih untuk membawakanmu teman.”

Ayah mengangkat seekor kucing tambun. Refleks aku menjauh, takut bersin-bersin. Tapi Ayah berkata ‘tidak apa-apa’ sehingga aku mendekat. Dan Ayah benar, aku tidak bersin sama sekali.

“Penemuan Ayah akhirnya berhasil meskipun harus membuatmu murung beberapa bulan karena bulu-bulu itu.”

Aku tertawa dan memeluk Ayah. Cita benar Ayah pasti punya alasan melakukan itu semua. Dan sekarang aku peduli terhadap apapun yang dilakukan Ayah, sama seperti pedulinya Ayah terhadapku.

Percayalah bahwa keluarga adalah orang pertama yang selalu memikirkanmu. Oleh karena itu, jadilah orang pertama yang juga memikirkan ke dua orang tuamu.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Jumat, 27 Desember 2013

ALMIRA DAN IRENG



"Kepedulian yang tidak dilihat oleh mata"

Aku tidak mengerti apa itu waktu dan jam yang berdetak. Bagiku firasat sudah cukup. Firasat itulah yang membuatku tahu kapan Almira akan pulang dan kapan kita akan bermain bersama. Seperti hari ini ketika penghuni rumah tengah nyaman beristirahat siang, aku memilih duduk sigap di depan pintu. Tidak sabar menanti si gadis berambut emas berlari ke arahku dan menunjukkan senyum manisnya.

Saat seperti inilah yang sangat ku nanti. Bermain seharian dengannya dan mendengkur manja ketika mendengar ia bercerita. Hal ini jauh lebih membahagiakan dibanding mengejar bola bulu atau tikus-tikus nakal di atas loteng.

“Ireng!!”

Suara Almira membahana dari ujung pagar. Ia tersipu setelah berteriak begitu keras. Ada seorang laki-laki yang berdiri di sampingnya. Dari baju yang ia kenakan, laki-laki itu tampak seperti teman sekolah Almira. Mereka berjalan menghampiriku.

“Ini kucingku, namanya Ireng.”

Almira mengelus ujung kepalaku. Laki-laki itu tersenyum dan terlihat ingin ikut mengelus ujung kepalaku. Aku menggeleng lalu berjalan mengitari kaki Almira. Aku tidak ingin dielus oleh orang lain.

“Ireng, mainnya nanti saja ya. Aku mau ngerjain PR sama Brahma.”

Aku merengut dan duduk di atas bantal bulu. Mataku menatap sigap Almira dan laki-laki bernama Brahma itu. Mereka terlihat sangat akrab.

“Hey bung, harusnya aku yang saat ini bercanda akrab dengan Almira!” Ingin rasanya berteriak seperti itu.

Aku tidak suka Brahma. Lihat saja tingkahnya yang tidak sopan. Sekarang tangannya mulai genit menyentuh tangan Almira. Telingaku bergetar. Ujung-ujung kumisku mulai bergoyang ikut kesal.

RAWR!!

“IRENG!!!”

Almira menarikku kasar. Hey, aku melakukan itu demi kamu Almira.

“Aku pulang aja deh, kayaknya kucingmu gak suka aku di sini.”

Almira menatapku geram. Setelah Brahma pulang dengan tangan yang tercakar, Almira mulai memarahiku. Ia mengucapkan kalimat seperti ‘cinta pertama’ dan ‘jangan mengganggu’. Ah Almira, tindakanku tadi adalah untuk melindungimu dari kelakuan tidak sopan laki-laki bernama Brahma itu. Rasanya tidak tega melihat Almira hanya menjadi objek mainan. Aku tidak tahu darimana pemikiran itu berasal. Yang aku tahu, aku menyayangi Almira dan yang bisa aku lakukan untuknya adalah menjaganya dengan cakar-cakarku ini. Semoga suatu saat nanti Almira bisa mengerti.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Kamis, 26 Desember 2013

PRASANGKA ALILA




- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

PIRING ARIMBI



(Sebenarnya banyak tulisan yang mau di-post cuma lagi pengen mengubah semua tulisan itu jadi dongeng singkat)

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 14 Desember 2013

NADA DAN PETRICHOR DI BULAN DESEMBER




Percik hujan pada setiap sudut jalan masih membekas. Semua hal tak bisa menampik kedatangan karunia satu ini. Aku mulai belajar menyebutnya sebagai karunia sejak kau mengalunkan irama indah itu untukku. Nada-nada itu membuatku lupa akan rasa tidak suka pada hujan di bulan Desember. Alunan merdu tersebut membelai lembut seirama dengan petrichor yang berkejaran.

Kepulan asap susu hangat dari toko seberang menyahut. Aku menengadahkan pandanganku sejenak, berharap bisa mendengar kembali nada-nada yang membuatku bahagia dan merasakan kesejukan petrichor hari itu.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Minggu, 24 November 2013

TOPENG : TRI



Sudah sejam aku berkutat dengan kertas dan pensil. Membuat tulisan dan gambar tidak jelas seraya menikmati segelas cappuccino. Aku suka tempat ini, kafe diujung gang yang sunyi. Tempat favoritku adalah kursi dipojok dinding. Ada sebuah lukisan taman bunga matahari disana.

Kafe ini adalah panggung sandiwara. Setiap hari ada saja manusia dengan tingkah polah yang aneh. Seperti hari ini, ada pasangan yang datang dengan wajah bahagia. Mereka duduk dalam diam ketika menyantap pesanan. Tanpa ada aba-aba darimana pun, si cewek menangis dan mereka pun meninggalkan kafe dengan wajah cemberut.

Manusia itu unik, aku suka memperhatikan hal tersebut. Dan bagi pelayan kafe ini aku adalah salah satu dari manusia unik tersebut.

“Mbak, gak bosan ke sini setiap hari? Eh bukannya gak boleh loh tapi . . . .”

“Gak bosan kok.” Jawabku sambil tersenyum.

Pelayan itu memperhatikan sekeliling, sepi. Dia duduk disalah satu bangku dan mulai mengajakku berbicara. Terlihat dari gestur tubuhnya, dia butuh teman berbagi. Hanya perlu waktu lima menit untuk memancingnya berbicara. Berjam-jam kemudian semua masalahnya diceritakan begitu lancar. Aku menanggapinya dengan tersenyum dan sesekali mengangguk. Ya, dia hanya butuh didengar.

Sejak saat itu bangku disebelahku jarang sepi. Beberapa pengunjung dan pelayan mulai menghampiriku dan menceritakan berbagai masalah yang mereka hadapi. Ah, banyak sekali manusia yang ingin didengar.

Jika berada di kafe ini aku bisa mendengarkan dengan baik karena aku telah mengubur beberapa topengku dan memilih melangkah kepada kepribadian ini. Aku adalah Tri.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

KATARSIS



Penghilang penat dan kesal. Kabur ke dunia dimana semuanya bisa diatur oleh diri sendiri. Karena tidak semua hal bisa diceritakan dan ada yang mau mendengarkan.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Rabu, 30 Oktober 2013

SEE



Terlahir dilangit dengan kemilau yang membuat beberapa orang terpaku, tidak lantas membuat kami terlihat hebat.
Tampak begitu kecil berhamburan diantara luasnya langit malam yang gelap, tidak lantas membuat kami pantas dikasihani.
Setiap hal memiliki sisinya masing-masing yang mungkin tidak akan pernah dipahami oleh orang lain.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 15 Oktober 2013

PENJAGA WAKTU


Suara jarum jam yang berdetak itu sungguh indah. Dentingnya bergema membentuk rima yang tenang dan pasti. Membuat dunia ini berada dalam zona yang tersusun rapi.  Waktu adalah segalanya. Dia akan berlari tanpa menunggumu. Hal tersebut membuatku kagum. Kecintaanku pada waktu dan jam membuatku dihidupkan kembali sebagai penjaga waktu.

Tugasku adalah menjaga waktu agar tidak melenceng. Terlambat atau cepat satu detik saja bisa mengganggu tatanan dunia. Entah sudah berapa lama aku mengurus perangkat waktu di dalam kastil. Mengawasi manusia yang sibuk di dunia mereka lewat setiap jam yang mereka gunakan.

Aku bisa melihat manusia mana yang menghargai jerih payahku. Mereka akan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Tidak ada satu detik pun yang terbuang percuma. Rasanya bahagia sekali melihat hal itu. Namun ada juga manusia yang seenaknya saja mempermainkan waktu. Menunda. Sengaja melakukan sesuatu tidak tepat waktu. Menumpuk pekerjaan dan mengganggu tatanan hidup. Merusak setiap detik.

Arisa. Dia adalah seorang manusia baik hati yang secara khusus kuperhatikan. Caranya memanfaatkan waktu dan merawat setiap jam di rumahnya membuatku kagum. Hidupnya tidak berjalan mulus. Setidaknya itulah yang dikatakan orang-orang. Aku tidak sepenuhnya percaya karena Arisa selalu terlihat bahagia. Tidak peduli seberapa berat jalan yang dia hadapi. Dia menghargai waktu. Dia kuat.

Aku suka setiap kali Arisa terbangun pada pukul 05.00 tepat, mandi dan merapikan diri. Dia akan pergi ke perpustakaan pukul 04.00 sore, setiap harinya. Dia memanfaatkan waktu dengan tepat. Banyak yang mencibirnya sebagai wanita yang kaku. Arisa hanya tersenyum.

Kini diusianya yang menginjak 50 tahun, Arisa tetap sama seperti Arisa yang aku kenal. Meskipun sering sakit-sakitan, dia tidak pernah membuang waktu dengan percuma. Tanpa sadar aku lebih memperhatikannya daripada menjaga waktu. Suatu malam yang tenang, Arisa mendadak melirik jam besar di kamarnya. Aku yang selalu menatapnya melalui jam besar itu tertegun. Arisa seperti mengetahui bahwa aku terus mengawasinya.

“Penjaga Waktu, terimakasih. Aku tahu kau selalu membantuku. Membangunku dengan alarm yang kencang setiap pagi. Mengingatkanku akan janji-janji yang mungkin terlupa melalui dering nyaringmu. Sepertinya hari ini adalah hari terakhir untukku. Aku akan merindukan semuanya. Waktuku telah habis.”
Mendengar hal itu tanpa sadar membuat tubuhku melangkah keluar dari jam besar. Memegang tangan Arisa yang telah dingin.

“Sama-sama Arisa. Terimakasih juga karena sangat menghargai waktu.”




- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Senin, 14 Oktober 2013

SURAT UNTUKMU



Seperti bunga dandelion yang terbang mengikuti arah angin, aku pun begitu. Mengikuti alur cerita hidup yang diberikan Tuhan padaku. Teman-temanku memiliki skema kehidupan sendiri. Berapa tahun lagi menjadi apa atau harus berbuat apa keesokan harinya. Mereka sebut itu dengan mimpi dan harapan. Tapi tidak denganku. Sejak kejadian beberapa tahun silam, yang aku percaya kini adalah hiduplah dengan penuh kebahagiaan untuk hari ini karena kita tidak tahu kapan deru napas yang dipinjamkan akan kembali diambil.

Aku mungkin terlihat selalu optimis dimatamu. Mencoba apa pun yang aku percaya. Mengikatmu untuk melihat semua ekspresi sesungguhnya diriku. Bahkan aku melepaskan cangkangku agar kau tahu aslinya jiwaku. Aku takut tidak memiliki cukup waktu untuk menjelaskan padamu seperti apa diriku karena hidup adalah misteri.

Kau sering bilang firasatmu mengatakan kita akan hidup bahagia. Tinggal di rumah mungil di tepi pantai. Memancing dan memandang karunia Tuhan untuk kita yang berlarian diantara pasir putih. Bersama hingga akhirnya kau pergi dengan bangga. Itukah mimpimu? Semoga tercapai karena aku tidak tahu bagaimana jadinya nanti ragaku.

Aku tidak punya mimpi meskipun aku tahu mimpi bisa membuat seseorang bangkit. Yang aku punya hanyalah untaian kata dan rasa hati yang sesungguhnya. Aku hidup bahagia untuk hari ini, ketika bersamamu.

Surat untukmu jika nanti aku tidak bisa lagi memijakkan kaki di muka Bumi.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 12 Oktober 2013

DOLL




Aku melihatmu lagi. Langkahmu yang tegap melintas dijalanan yang ramai. Gesit sekali menghindar dari deretan manusia yang berpacu dengan waktu. Wajahmu tampak cemas memikirkan sesuatu. Beberapa kertas mencuat dari balik jas hitam yang kau kenakan. Sepertinya kau terburu-buru. Urusan perkerjaankah? Hmm, mungkin saja. Aku tersenyum menunggu.

Hujan deras membasahi siang di kota. Satu per satu payung dikembangkan. Aku bisa menatap kilauan rintik hujan diantara warna-warninya indah bagaikan kristal yang dilemparkan pada trampolin, memantulkan pesona. Diantara semua kemilau itu, aku berharap dapat melihat sebuah payung biru pudar. Payung usang yang selalu kau gunakan. Aku masih menunggumu.

Waktu berlalu dan malam pun mulai menjelang. Tirai-tirai telah menutupi pandanganku meninggalkan berkas hitam pekat warna malam. Ternyata kau tidak berkunjung. Aku menunggumu, menantikan cerita kisahmu tentang dunia ini. Mengenai kebisingan wanita-wanita ditempat kerjamu, amarah bosmu, atau pun kesedihan tentang dia yang jauh darimu. Aku menikmati setiap detik itu. Caramu berbicara membuatku bisa merasakan setiap alunan kalimat itu. Indah sekali dunia ini. Aku berharap bisa mendapatkan kesempatan untuk keluar dari tempat ini dan menikmati semuanya. Aku boneka kesepian.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 08 Oktober 2013

ILUSTRASI : KEPOLOSAN RASA


"Ketika kamu bersedia menjadi 'bodoh' untuk seseorang, mungkin itu cinta."


Belakangan ini suka bikin ilustrasi untuk cerpen. Kali ini bikin ilustrasi untuk tulisannya Zie yaitu Kepolosan Rasa.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Kamis, 03 Oktober 2013

TOPENG : FIA



Malam ini langit terlihat cerah. Bintang membentuk bintik putih di atas sana. Tumpukan lilin tertata rapi diantara kakiku. Api jingga bergoyang mengikuti gerakan angin, sendu tanpa padam sekali pun.

“Kau menikmatinya?” Pria di hadapanku bertanya.

Aku tersenyum.

Tentu saja aku menikmatinya. Mencicipi makanan dari koki terhebat di daratan Eropa. Melihat kerlip lampu dari ruang eksklusif sebuah café. Sajian yang seharusnya diterima oleh seorang wanita.

“Dan untuk hal yang . . .”

“Kita akan membicarakannya nanti Carlos. Aku sedang makan.”

Tanpa mempedulikan tatapan matanya, aku menikmati tiap gigitan steak yang sudah ku potong. Inilah konsekuensi yang harus dia terima jika nekat memaksaku menjadi apa yang dia inginkan. Aku pun bisa berlaku sama. Memaksanya mengikuti kehendakku yang kini sedang berapi-api.

Ini adalah kali ke lima aku memaksanya berkeliling Eropa. Menguras semua hal yang dia miliki, sama seperti apa yang telah dia lakukan.

“Orang tuaku akan datang malam ini.” Dia sibuk memeriksa smartphone miliknya.

“Aku tidak ingin bertemu mereka.”

“Tapi Fia, kau sudah berjanji.”

“Kapan?” Aku menatap lurus ke arah matanya.

Wajahnya yang pucat membuatku sangat bahagia. Sembarang saja dia meraih serbet dan membasuh wajahnya. Dia tampak gugup. Carlos bisa merasakan ketegangan yang merusak batinnya. Hal yang sama seperti yang dirasakan adikku ketika Carlos dengan sepihak membatalkan pernikahan.

“Bukankah kita telah merencanakan ini semua sejak . .”

“Kita?”

Aku berdiri merapikan black mini dress yang ku kenakan, berjalan menjauh darinya.

“Fia!”

“Kau pikir hubungan apa yang kita jalani?”

Wajahnya terlihat sangat ketakutan. Cincin berlian yang sejak tadi digenggamnya kini tergeletak pasrah di lantai. Ke dua orang tuanya yang baru tiba tampak kebingungan. Aku tersenyum santai meninggalkan aura kesedihan di ruangan tersebut. Malam yang sangat indah.

Ayah tidak pernah mengajarkanku untuk membalas dendam, tetapi hidup yang mengajarkanku semuanya. Dan ketika bersamanya aku memutuskan untuk mengubur beberapa topengku. Melangkah dengan satu kepribadian lain. Aku, Fia.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Minggu, 29 September 2013

TOPENG : RAHMA



Ada kalanya aku ingin berteriak ketika jiwa-jiwa di luar sana mulai mengatur tentang bagaimana semestinya bahagia itu. Uang yang melimpah serta kemilau wajah yang bersinar. Aku muak mendengar itu semua. Bukan berarti aku tidak membutuhkan uang atau tidak ingin memiliki kilau tetapi aku jengah diatur dengan peraturan yang bahkan tidak tahu bahwa aku memiliki standar tersendiri.

Hari ini tepat ketika reuni berlangsung, semua raut wajah tampak berseri membagi pengalaman mereka. Ada yang berkata bisa membeli sebuah ferrari dalam seminggu kerja. Ada yang bangga mendapatkan pasangan yang paling keren-well, itu persepsi pribadi yang berbicara. Kepalaku berdenyut cepat, seperti ada yang menusuk isinya dengan sebilah pisau. Dunia apa ini?

Aku memilih duduk menatap fenomena ini. Apa ada yang salah denganku ataukah hanya aku saja yang belum berubah menjadi lebih baik? Ah, oke. Apa itu standar lebih baik?

“Ku lihat kau sudah bisa membeli sebuah rumah baru.”

“. . . .”

“Rahma?”

“Ah ya, hanya sebuah rumah kecil untuk menampung semua ide gilaku.”

“Kau sudah jadi ‘orang’ rupanya.”

Dia membuat tanda kutip pada kata orang. Aku hanya tersenyum dan menggeleng. Hey, apa aku sudah menjadi lebih baik? Entahlah. Aku memutuskan untuk berdiri dan mencari tahu. Bertukar cerita dengan mereka yang aku temui. Sebagian menggeleng dan menatapku heran.

“Kau memilih tempat itu? Rahma, kau bisa mencari tempat yang lebih baik.”

Aku meringis mendengar semua komentar yang mereka ucapkan. Aturan dan standar meluncur bagaikan sebuah pasal-pasal dari tiap mulut mereka. Demi sopan santun, aku memaksakan diri untuk mendengarkan dan sesekali mengangguk. Bukan karena setuju melainkan menunjukkan pada mereka bahwa jiwaku ada bersama mereka, mendengarkan. Dan sepertinya hal itu berhasil karena mereka terus mengoceh tanpa henti. Namun yang tidak mereka sadari adalah kini sebagian dari hatiku mulai berputar di dalam ruangan ini mengumpulkan berbagai macam ide gila.

“Rahma?”

“Ya??”

“Entahlah. Tapi sepertinya kau berubah. Tidak terlalu ceria dan tampak banyak berpikir.”

Aku hanya tersenyum.

Apakah aku berubah? Jika itu standar yang mereka berikan, maka jawabnya adalah iya. Namun jika mengikuti standarku, maka jawabannya tidak. Hari ini aku memutuskan untuk melepaskan topeng itu. Melangkah dengan salah satu kepribadianku. Aku, Rahma.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Jumat, 27 September 2013

NECROMANCER



Jejak derasnya hujan semalam masih tampak jelas disepanjang jalan. Bau lembab menguap diudara. Hawa dingin yang berhembus sejak semalam membuat para penghuni kota enggan melangkahkan kaki mereka keluar rumah. Lebih nyaman berselimut tebal di dalam rumah sambil menikmati secangkir teh atau susu hangat. Namun hal itu tampak tidak berlaku bagi Levi. Tubuhnya yang ringkih terlihat terseok-seok menarik sebuah bungkusan besar. Ke dua telapak tangannya yang telah kapalan mulai membiru. Sesekali dia meniup ke dua telapak tangan tersebut, mencoba memberikan kehangatan. Ujung atap sebuah rumah tua mencuri perhatiannya. Langkah kakinya semakin dipercepat.

Rumah tua di pinggiran sungai tersebut tampak tidak terawat. Berbagai ilalang menutupi pagar karat yang berderit-derit ketika ditiup angin. Pintu kayu mahoninya terlihat rapuh dimakan oleh rayap. Wangi lembab dan bangkai tercium sangat kental dari dalam rumah.

“Kau datang juga.”

Seorang wanita seksi menepuk kepala Levi. Levi tersenyum – yang sebenarnya lebih tampak sebagai sebuah seringai.

“Aku membawakan sesuatu untuk Leona.”

Wanita seksi dihadapan Levi tersenyum melihat bungkusan. Dia memberi isyarat agar Levi mengikutinya ke ruang bawah tanah. Mereka berjalan beriringan, melewati sekat demi sekat ruangan yang meninggalkan cicitan tikus. Sungguh tempat yang sangat menjijikkan. Levi sempat pingsan ketika pertama kali berkunjung ke tempat ini. Penciumannya tidak kuat menghirup aroma campur aduk yang mengelilingi rumah ini.

Hari ini adalah kali ke sepuluh dia berkunjung. Penciumannya sudah mulai terlatih. Dia kini tidak peduli bau busuk yang masih menyengat dari dalam rumah atau hawa dingin yang menusuk kulit. Demi Leona.

Mereka mulai memasuki sebuah lorong yang lebih bersih. Pipa-pipa baja terlihat membeku di bawah lantai. Marmer putih berkilauan di kaki dan dinding. Lorong ini terlihat lebih modern dan bersih. Siapapun tidak akan yakin jika rumah bobrok tadi menyimpan sebuah lorong yang begitu mewah sebagai jalan menuju ruang bawah tanah.

Pintu besar dengan garis-garis lengkung aneh menyambut mereka. Sebuah symbol mencuat di tengah-tengah lengkungan tadi. Simbol yang membawa Levi ke tempat ini. Simbol yang menjadi pesan terakhir Leona.

“Kau harus bertemu Nadine ketika waktuku habis dan bawa aku menuju simbol abadi sehingga tidak akan ada yang dapat memisahkan kita.”

Setahun kata-kata itu bergema di dalam pikiran Levi. Kalimat tersebut dan sebuah coretan tangan Leona menjadi petunjuk bagi Levi untuk menemukan Nadine.

“Leona.”

Levi tak kuasa berlari memeluk sebuah tubuh membusuk di atas meja. Kerinduannya akan sosok manis itu menghalangi logikanya.

“Berhentilah menyentuhnya! Kau hanya akan merusak organnya!”

Nadine menarik kasar Levi. Levi berdiam diri menatap pantulan dirinya pada tetesan air di lantai. Wajahnya tampak sangat kusut. Ke dua matanya terlihat memiliki cekungan yang sangat dalam. Dia lelah.

“Kapan hal ini akan berakhir? Berapa lama lagi aku bisa melihat Leona?”

“Ambillah bungkusan tadi. Lakukan ritual secepat mungkin dan berhenti bertanya.”

Nadine bosan mendengar ocehan Levi yang sama sejak mereka pertama kali bertemu. Dia selalu berharap seandainya Leona menceritakan lebih detail bahwa hal yang mereka lakukan ini butuh waktu yang sangat lama.

Nadine mengenal Leona ketika perkumpulan mereka melakukan ritual pertama, memanggil jiwa ketua yang telah pergi. Mereka berdua menjadi sangat akrab dalam segi apapun, termasuk pemikiran yang bertentangan dengan perkumpulan.

“Kau! Masukan potongan itu ke dalam kuali! Berhentilah meratapi Leona!” teriak Nadine.

Levi tersentak kemudian memasukan potongan yang diminta Nadine. Isi kuali meletup-letup mengeluarkan asap dengan bau yang memusingkan kepala. Nadine mendekati Levi, tangan mereka bertaut satu sama lain. Nadine mulai mengucapkan kalimat-kalimat dalam bahasa yang tidak dapat di mengerti. Setelah dia selesai mengucapkan kalimat-kalimat tadi, Levi mulai menuangkan ramuan busuk ke tubuh Leona. Cairan kental berwarna hijau lumut mulai menutupi jasad Leona yang hampir membusuk.

“Apakah ini akan berhasil?” Levi kembali bertanya.

Nadine mengarahkan pandangannya pada Levi, kemudian mengarahkan telunjuknya pada kaki Leona yang kini tampak segar kembali.

“Ya. Ini baru permulaan.”

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Senin, 19 Agustus 2013

[POISON SERIES] ROSARY PEA


Kisah ini sangat panjang untuk dituturkan karena begitu banyak pelaku di dalamnya. Kisah ini mungkin akan menjadi kisah tanpa akhir. Bersambung hingga bumi berhenti berputar. Mari kita mulai.

Alkisah di sebuah sudut bumi terdapat satu cekungan besar yang ditutupi berjuta-juta pohon. Kanopi-kanopinya lebat selayaknya janggut seorang pria yang tak pernah bercukur. Debur ombak di bawah cekungan itu tampak mengikis karang besar secara perlahan namun pasti. Karang-karang tersebut menjulang kokoh tanpa adanya camar atau pun hewan lain yang bercengkerama. Sepi, seakan tidak ada satu pun makhluk hidup yang berani mendekati.

Angin utara bertiup kencang, membuat berjuta-juta pohon bergoyang indah. Kabut mulai melingkupi tempat tak terjamah itu. Siluet pohon kurus tinggi menari seperti manusia. Satu dua bayangan hitam mulai melompat kearah laut sementara yang lainnya berdiri di atas pohon, memantau sekitar. Mereka adalah penghuni hutan di cekungan tersebut.

Beribu-ribu tahun yang lalu para makhluk ini dikenal sebagai penjaga hutan. Mereka hidup berdampingan dengan manusia dalam damai. Namun seiring dengan berkembangnya teknologi, keberadaan mereka mulai tersingkirkan – tidak dipercaya.

ROSARY PEA



Tetes embun berkilau diterpa sinar matahari pagi. Badai semalam seakan tidak ada artinya ketika keindahan ini terlihat. Rosary Pea, gadis manis berambut putih mulai memainkan jemarinya menyerap embun-embun didedaunan. Gaun pink keunguannya menyapu tanah basah, meninggalkan bercak coklat.

“Segar”

Rosary Pea meneguk kumpulan embun yang dibawanya. Raut wajahnya terlihat bahagia menatap hutan. Inilah tempat yang paling menyenangkan untuknya, hutan di sebuah cekungan yang sepi. Matanya menatap nanar mangkuk putih yang tergeletak diantara sulur pohon. Beberapa biji kacang polong berhamburan. Rosary Pea teringat kejadian beberapa tahun lalu.

Musim panas setahun yang lalu, Rosary Pea melakukan tugas pertamanya. Dia mengunjungi sebuah perkampungan disudut hutan subtropis. Tugasnya adalah melindungi biota hutan yang indah itu. Rosary Pea akhirnya hidup di tengah-tengah penduduk desa. Semua berjalan sangat indah hingga beberapa orang – yang mengaku – datang dari kota  berkunjung.

Mereka menawarkan sejumlah uang untuk beberapa gelondongan kayu.

“Hanya satu dua pohon, tidak masalah. Bisa ditanam lagi”. Kata-kata dari mulut manis mereka berucap.

Para penduduk yang terbuai akan hal itu meng-iya-kan semuanya. Rosary Pea berusaha memperingatkan mereka namun ucapannya dianggap angin lalu bahkan ia diledek karena ucapannya sendiri.

“Kau masih percaya penjaga hutan? Sudah bukan jamannya lagi, gadis muda!”

Rosary Pea menggeram, dia harus melakukan ‘hal itu’. Akhirnya Rosary Pea menghilang dari perkampungan dan masa paceklik pun dimulai. Para penduduk kelimpungan mencari bahan pangan untuk penghidupan. Hutan tempat mereka bernaung telah habis tak bersisa sedangkan orang-orang kota telah kabur entah kemana. Para penduduk berusaha mempertahankan diri dengan melakukan apa saja. Kekacauan pun terjadi. Saling bantai, tangisan, dan amarah mewarnai perkampungan tersebut. Para penduduk tidak punya kekuatan untuk pergi dari tempat tersebut entah kenapa.

Di tengah kekacauan, Rosary Pea muncul kembali membawa semangkuk kacang polong putih. Para penduduk mendekatinya dengan cepat, merebut mangkuk tersebut.

“Tidak usah terburu-buru, aku punya banyak di sini”

Rosary Pea memunculkan mangkuk-mangkuk yang lainnya. Para penduduk yang kelaparan melahap habis kacang polong tersebut tanpa pikir panjang.

“Satu dua tiga”. Hitung Rosary Pea.

Pada hitungan terakhirnya para penduduk mulai tumbang. Mulut mereka mengeluarkan busa putih yang sangat banyak yang disertai dengan kejang-kejang hebat. Dalam waktu beberapa menit para penduduk serempak kehilangan nyawa mereka. Rosary Pea tersenyum dan mengumpulkan kembali mangkuk-mangkuknya.

“Anggap saja aku melakukan ini untuk kalian semua. Meringankan kesulitan hidup kalian karena cepat atau lambat kalian pasti mati. Dan apa yang kulakukan ini juga merupakan balasan dari hutan atas keserakahan kalian”.


***

Penjelasan :

Rosary Pea atau Abrus Precatorius adalah salah satu jenis tanaman kacang polong yang tumbuh di daerah subtropis. Biji tanaman Rosary Pea mengandung suatu senyawa yang dapat membunuh seorang manusia. Senyawa tersebut dinamai abrin yang mengakibatkan kejang, mual, demam, dan disfungsi gula darah. Obat penawar untuk racun tersebut belum ditemukan.

keterangan lebih lanjut : wikipedia

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

WEEKLY ARTWORK #4 #5


#WeeklyArtwork4 art blogger Indonesia dengan tema film favorit. Saya suka sama salah satu kalimat -yang kalau tidak salah- diucapkan Alice oleh karena itu saya memilih membuat fan art film ini.

 "I wonder if I've been changed in the night. Was I the same when I got up this morning? I almost think I can remember feeling a little different, but if I'm not the same, the next question is who in the world I am?"



#WeeklyArtwork5 dengan tema Indonesia banget. Saya memilih cendrawasih karena kebetulan lahir di Papua dan hewan ini termasuk hewan yang sangat indah namun sudah langka.

Klasifikasi Ilmiah Cendrawasih :

Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Passeriformes
Famili : Paradisaeidae



- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 17 Agustus 2013

SACRAMENTO


Gemericik air sungai terdengar jelas dari sini. Kemilau cahaya bulan terpantul di atasnya. Bulatan putih itu tampak rapuh bergoyang menampilkan siluet aneh. Malam ini memang sangat cocok untuk melepas jiwa-jiwa keruh. Malam dimana cahaya bulan tepat berada di atas kepala.

Derak-derak kayu yang terbakar membawa hawa panas. Api jingga kebiruan silih berganti menari bagaikan pasangan di lantai dansa yang menjilat sebuah tali tambang yang terjulur begitu saja. Mencuat dari seorang tubuh gadis yang terikat.

“Amelie, si darah pasir ini harus kita bakar sekarang?!”

Seorang gadis bertudung coklat lusuh berbicara.

“Tidak Anelise.”

Jawaban tegas menghentikan semangat Anelise. Fokusnya kembali tertuju pada ritual. Mantra-mantra masih mengalun. Para tudung coklat lusuh tampak mulai mengelilingi api unggun. Tangan mereka kontan terangkat sekali diikuti teriakan rapalan yang kuat. Kemudian disusul rapalan yang lemah ketika mereka bersimpuh di tanah.

Dyin bisa merasakan bahwa ritual tersebut mulai bekerja pada dirinya. Tubuhnya mulai lemas dan semakin lama indera perasanya kelu. Tiga jam digantung dan seminggu disekap sudah cukup membuatnya merasa tersiksa dan kini ditambah dengan sebuah ritual aneh.

“Ini ganjaran yang setimpal untukmu!”

Entah mengapa suara Amelie kembali berdenging ditelinganya ibarat sebuah kaset yang diputar ulang. Imaji Dyin kembali pada waktu dimana Amelie mendobrak paksa pintu rumahnya dan mengganggu waktu liburnya. Amelie muncul begitu saja dengan segerombolan orang-orang bertudung coklat lusuh, mengganggu keasyikan Dyin menonton dorama. Amelie dan kelompoknya melontarkan kata-kata dalam bahasa yang tidak dia kenali seperti darah pasir atau ‘gedwee’. Disusul dengan membungkus Dyin begitu saja dan melemparnya ke sebuah tempat yang – bagi Dyin – terasa seperti bagasi.

“Buat dirimu nyaman di sini!” Kata Amelie dengan nada sarkasme yang dalam.

Dyin menjamah sekelilingnya, matanya dengan cepat mencoba menyesuaikan. Kini dia berada di dalam sebuah penjara bawah tanah. Jeruji-jeruji besih penjara tersebut terlihat kokoh namun basah karena terkena rembesan air yang jatuh dari tumpukan bata. Bau lembab begitu menyengat hidung, membuat napas seolah tertahan.

“Kastil Bayangan.” Batin Dyin.

“Tentu saja Dyin.”

Amelie seolah bisa membaca pikiran Dyin dan dia menyebut nama Dyin seperti melafalkan kata “dying” yang bagi telinga Dyin terdengar sangat mengganggu. Amelie hanya tertawa melihat ekspresi mual Dyin, dia menembus begitu saja jeruji besi yang menghadang. Membuat tubuhnya tampak seperti asap yang menyembul. Tudung coklat lusuhnya tersingkap dan menampakkan rambut pirang sebahu.

“Amnesiamu sudah sembuh? Berhentilah meniru Puteri kami, gedwee! Itu sangat tidak sopan!”

“Cukup!”

Seorang pria kekar masuk dengan cekatan ke dalam penjara. Pria itu menarik tangan Amelie yang siap menampar Dyin. Matanya menatap tajam Amelie sambil menggeleng.

“Biar upacara malam purnama yang akan melakukannya. Tidak seharusnya tangan kita dikotori oleh seorang gedwee”

“Kau benar Ralie.” Jawab Amelie sambil tersenyum licik.

Upacara yang mereka bicarakan adalah Sacramento, sebuah upacara penyucian dan pemberian maaf bagi mereka yang telah lancang mengusik keluarga tingkat atas Kastil Bayangan. Dyin telah melakukan kesalahan dengan meniru secara habis-habisan Puteri Kastil yang menyamar dan bersekolah di tempatnya. Dyin memang haus ketenaran, dia ingin dianggap dan dipandang namun dia salah memilih target untuk ditiru karena Puteri Kastil Bayangan sangat tidak suka akan sikap lancang Dyin ini. Kini Dyin harus membayar semua perbuatannya. Penghuni Kastil Bayangan – mulai dari pelayan hingga prajurit – membenci  seorang gedwee, orang yang selalu meniru.

“Sacramento dimulai!”

Ralie berteriak memandang bulan, membuyarkan kilas balik yang ada dalam angan Dyin. Rapalan mantra semakin tajam terdengar membuat api berkobar menjadi sangat besar, Dyin hanya bisa pasrah. Tubuhnya terbakar perlahan namun pasti. Upacara sudah dimulai dan tidak ada yang bisa menghentikannya.

Aku duduk di atas kursi hitam berkilauan, tak jauh dari tempat itu. Tersenyum bahagia.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..