Rabu, 21 November 2012

CANTIK


Bagimu cinta adalah kemolekan fisik, wangi dunia yang membasuh jiwa, langkah tegap kaki jenjang, dan segala keindahan untuk matamu. Bagiku cinta adalah kamu, kehangatan kasih sayang, harapan untuk hidup lebih baik, dan debaran lainnya.

“Sudah telat”

Aku mengamit tumpukan buku begitu saja. Membiarkan kertas-kertas terlipat kusut, menindih satu sama lain tak peduli satu bagian atau bukan. Kau berdiri tepat di depan pagar. Senyum pagimu merekah.

“Perlu bantuan?”

Aku hanya bisa mengangguk, membiarkan bias semu merah menampar pipiku. Pagi yang dingin seketika menjadi hangat. Aku selalu suka kebiasaanmu itu. Rapi, teliti, sigap, dan lucu. Kita berjalan bersisian tanpa suara. Hanya detak jantung yang terdengar.

Tanganmu yang besar itu meraih tanganku, membenarkan posisi jalanku yang setengah miring. Aku suka. Jari jemari kita saling berbicara, membisikkan rasa hati yang bahkan dewa dewi sekali pun tidak paham. Inikah yang namanya dunia hanya milik berdua?

Entah berapa lama kita berjalan. Kau berhenti mendadak, matamu terpaku pada satu titik. Seseorang berdiri di ujung jalan. Bibir merahnya merekah memanggil namamu. Kau melempar begitu saja kertas dan buku dalam pelukan. Menghantam wajahku yang berbingkai tanya.

BRUK !

Ternyata mimpi itu lagi.

Kepalaku pusing, badanku sakit karena terpelanting dengan indah. Ya, indah sekali ! Mataku memicing menatap berkas mentari yang menelisik dicelah gorden. Ah pagi telah menyapa. Aku berdiri dengan gontai, mencoba merapikan rambutku dengan sisir perak.

Mimpi tadi selalu membangunkan dengan sangat sempurna tiap pagi.

“Wanita harus terlihat cantik dan mempesona bahkan ketika baru bangun”

Kata-katamu terngiang lagi ditelingaku. Sekuat itukah pengaruhmu terhadap hidupku?

Sebuah handuk bercorak bunga memanggilku, menampar halus bayang semua tadi. Aku memang butuh menyegarkan diriku sendiri. Ingatan itu membuatku ingin berlama-lama memanjakan tubuh diantara derasnya air, berharap semua asa akan luntur bersama air yang mengalir melewati pipa-pipa.

Tik tok . . .

Aku memandang riasan tipis yang menutupi seluruh wajahku. Tidak ada rambut kusut, mata yang sayu, bibir yang kering, dan pipi yang menjemukan. Aku telah berubah dan aku akan membuatmu menyesal. Aku berjumawa.
*
“Aku salah”

Tangismu pecah dihadapanku. Lututmu mencium tanah hampir sejam. Wajahmu penuh dengan peluh sebesar biji jagung, kau terlihat sangat lelah. Apa benar ini yang aku harapkan?

“Kau memang cantik Ra, aku sadar sekarang”

Hangat. Aku cuma bisa mendengar detak jantungnya, detak jantungku. Apa ini? Bukankah aku ingin membuatnya menyesal? Kenapa sekarang aku tidak tega membiarkannya seperti ini?

Dia memang hanya mencintai keindahan fisik dan aku . . . memang hanya mencintainya. Itu bodoh.





- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

what do u think, say it !