Senin, 21 Mei 2012

POOR WITCH

inspirasi cerita

Disetiap permulaan selalu ada akhir, entah itu bahagia maupun sedih. Aku tidak pernah mengerti hal itu hingga aku bertemu dengannya. Tatapan tajam pupil birunya yang menusuk serta seulas senyum hangatnya seakan mendekapku manja. Seketika itu juga, aku lupa akan perbedaan. Tangannya yang membiru merengkuhku.

“Nona, tolong aku” sekejap itu juga bius sinar matanya tertutup.

Aku yang mendadak tersadar dari lamunan, membawanya ke gubuk kecilku. Dia terkena racun hutan ini. Entah darimana dia berasal, satu hal yang pasti dia tersesat. Tidak ada seorang pun manusia yang berani mendekati hutan tandus yang dijaga oleh gadis penyihir, aku.

Entah apa yang ada dipikiran orang – orang itu hingga mereka takut mendekati tempatku bermukim. Aku yang hidup sendiri sejak beratus tahun yang lalu juga tidak ingin menunjukkan keberadaanku yang sebenarnya tidak menakutkan ini. Apa gunanya sebuah pengakuan? Jika pada akhirnya kau pun akan dilupakan karena pengakuan itu.

Hujan rintik yang sejak pagi tadi menghiasi hutan telah reda. Seberkas cahaya matahari tampak malu menelisik kisi – kisi dinding gubukku. Pria yang berbaring di sampingku terlihat damai bersama pembaringannya.

“Dia pria yang tampan” batinku.

Tanpa sadar aku menatap penampilanku yang terbias di cermin. Rambut blonde panjang yang kusut, kulit putih pucat berbintik, serta tatapan mata yang sendu. Aku terlihat selayaknya  seorang gadis manusia biasa. Aku tidak menakutkan seperti penyihir yang ada didalam dongeng. Aku pun tidak secantik penyihir yang ada didalam novel para manusia itu. Tapi satu hal yang pasti, hawaku berbeda. Aku menghela napas mengakui kenyataan itu.

Sapuan tanganku kini menarik sebuah sisir perak. Sisir itu bergerak merapikan rambutku yang selalu kusut. Kau pasti akan bertanya – tanya kenapa aku tidak langsung menyihir rambutku sebagus apa yang aku inginkan? Yah kau tahu, hidup tidak semudah itu sekalipun aku seorang penyihir.

“Nona?”

Aku menatap sekilas pria itu. Wajahnya sudah terlihat segar kembali. Ramuan yang ku berikan sejam yang lalu rupanya telah bekerja dengan baik.

“Ada apa?” jawabku dengan suara serak.

“Kau penyihir itu rupanya”

Terselip sebuah rasa kagum dari ucapannya. Aku menanggapi itu semua dengan sebuah anggukan singkat.

“Bolehkah aku menemanimu disini? Rasanya lebih menyenangkan menikmati hidup di dalam hutan bersamamu”

Aku tidak tahu apa maksud dari kata – katanya itu. Aku hanya merasakan sebuah aliran listrik yang menggelitik seluruh tubuhku. Aku bahagia.
*

Setahun berlalu dengan indah dan tenang. Aku menikmati kehidupanku yang bahagia dengannya. Kami selalu bersama menikmati keindahan hutan. Aku mulai bisa tersenyum dan bertingkah selayaknya manusia. Sepertinya hawa penyihirku juga telah lenyap meskipun kekuatan itu masih ada.

“Rasanya aku mau kembali ke kota” ucapan itu terlontar begitu saja dari bibirnya.

Aku mengangkat wajahku dari dekapan hangatnya.

“Kau ingat, aku masih memiliki keluarga disana” tangannya terarah pada sebuah hamparan asap yang mengepul diseberang.

“Aku juga merindukan Ayah dan Ibuku”lanjutnya.

“Kau akan meninggalkanku” bibirku kelu mengucapkan kata itu.

“Aku akan kembali. Aku hanya ingin menemui keluargaku dan menceritakan hubungan kita. Aku ingin kita hidup bahagia di kota itu”

Aku melepas dekapannya dengan cepat.

“KAU TELAH JANJI PADAKU ! HUTAN INI RUMAH KITA” aku tidak dapat mengendalikan diriku lagi.

Dia terpaku melihat wajahku yang memerah. Matanya menatapku dengan lembut.

“Kau telah berjanji” suaraku melemah.

Dia memelukku dengan erat dan membisikkan sesuatu. Pelukan itu semakin ku eratkan.

*

Tahun telah berganti lebih dari sepuluh kali. Dia belum kembali seperti apa yang telah dia janjikan padaku. Aku menatap tart dengan jejeran lilin di meja bundar dengan kalut. Setahun yang lalu ketika aku memutuskan menemuinya di kota, aku bertemu dengan seorang gadis muda. Gadis itu tersenyum di pinggir hutan ketika berbicara dengan seorang wanita tua. Mereka menyebut namanya. Gadis itu berkata dia akan menikahi gadis itu tahun ini. Dia telah menjadi orang sukses seperti apa yang dia janjikan pada gadis itu bertahun – tahun yang lalu. Dia kembali dari sebuah tempat dengan membawa emas yang sangat banyak untuk melamar gadis manis yang terus ku tatap itu.

“Bukankah itu emas yang ku berikan padamu dulu?”

Aku takut itu benar dan aku terlalu takut untuk mendengar lebih jauh. Sehingga aku memutuskan untuk kembali ke hutan.

“Apakah aku harus menunggumu lagi?”



- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -

8 komentar:

  1. waw.
    gaya bahasanya keren abiss!

    BalasHapus
  2. Jadi ingat kisah seorang yang jatoh dari kapal berjuang selama 15 hari di hutan belantara seorang diri, tapi yang ini dia ketemu tarzan kah?? jujur gw ngga nangkep ceritanya kearah mana.. agak gantung juga,,,

    BalasHapus
  3. salam gan ...
    menghadiahkan Pujian kepada orang di sekitar adalah awal investasi Kebahagiaan Anda...
    di tunggu kunjungan balik.nya gan !

    BalasHapus
  4. helloo pipit, kunjungan pertama kalinya nih :)

    BalasHapus
  5. Aul : makasih :)

    Uzay : bukan tarzan -_-, ini ceritanya tentang cewek penyihir yg selalu sendiri karena semua orang takut sama dia, trus suatu hari ada cowok yg tersesat dan terluka, dia bantuin. Ujung2nya suka ma cowok itu, ternyata cowok itu cuma mau emas penyihir itu. Dia ngasih harapan palsu bakal kembali, ternyata enggak. Si penyihir terus nunggu :3

    Outbound : :D

    Hzndi : hello :) makasih sudah berkunjung

    BalasHapus
  6. hee - . it's a good story :)
    give you 5 thumbs (y) if i can hehe .
    thanks was come to my blog before

    BalasHapus
  7. Hai karin chan :-)

    Thanks :-)

    BalasHapus
  8. first visit :D
    ceritanya keren :D

    BalasHapus

what do u think, say it !