Rabu, 08 Februari 2012

HUJAN YANG CENGENG

"Kadang, cinta itu bukan tentang aku akan menjagamu, bersamamu, selamanya disampingmu. Tetapi tentang kemurnian rasa untuk melepaskan, merelakan, dan menjaga rasa itu dihati. Inilah fase tersulit. Fase dimana kau diharuskan melepaskannya namun tetap mencintainya"


Teruntuk rintik hujan . . .

Maafkan aku yang sering memarahimu, ketika kau turun dengan tenang disela – sela langkahku yang kecil ini. Kau tahu aku tidak suka padamu karena kau terlihat rapuh. Rapuh bagiku yang selalu bersemangat dan mencintai matahari. Aku tak suka melihatmu melompat diantara tanah yang mengering. Kau terlihat bahagia menangisi dunia, yang bagiku tidak pantas untuk ditangisi.

Lihat sepasang flat shoesku ini. Ada noda disana, noda dari tanah berlumpur yang tercipta karenamu. Aku tidak suka ini, bisakah kau sedikit memahamiku? Hari ini, tolong tahan dulu kerapuhanmu itu.
Jangan marah padaku. Aku bukan tidak bersyukur atas turunnya dirimu di bumi ini. Aku hanya ingin melewatkan hariku dengan indah bersama matahari. Matahari yang bisa membuatku tersenyum. Matahari yang bisa membangkitkan kebahagiaan serta melupakan kesedihan dihari itu. Hari dimana kau muncul dengan sangat menakutkan.

Teruntuk rintik hujan . . .

Aku tidak membencimu karena aku mencintamu, sungguh. Tapi, ijinkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri. Caraku yang hanya menatapmu dari balkon, tanpa suara serta tanpa menyentuhmu. Tanpa berinteraksi dengan lembutnya rintikmu. Caraku yang hanya meringkuk malas di dalam kamar untuk menikmati hawa dingin yang kau berikan. Caraku yang selalu memarahimu. Klise memang tapi inilah cinta. Wujudnya abstrak dan selalu berbeda untuk tiap hal.

Teruntuk rintik hujan . . .

Tetaplah seperti itu, menjadi hujan yang mencintaiku meskipun kita tidak akan pernah bisa bersatu. Karena aku akan selalu seperti ini, mencintaimu dari hati dan tanpa tindakan pasti hingga terlihat seperti benci. Pesan terakhirku untukmu, kau akan selalu mendapatkan tempat dihatiku, kau akan selalu mendapatkan cintaku tetapi dengan caraku sendiri. Ku mohon mengertilah keadaan ini.

Untuk Hujan - Dari Matahari


- Regrads Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -

14 komentar:

  1. "Aku tidak membencimu karena aku mencintaimu, sungguh. Tapi, ijinkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri. Caraku yang hanya menatapmu dari balkon, tanpa suara serta tanpa menyentuhmu"..

    Aduh kak, maknanya dalam sekali.. :')

    BalasHapus
  2. kakaaaaak :'D
    bagusssnyaaa >.<

    aaah maknanya dalem bangeet :3
    aku juga pernah bikin post ttg ujan2 gini. waaaa. sukaaaaaa >.<

    BalasHapus
  3. kata2nya kereeen, maknyanya dalem, nancep ati banget :')) loveloveloveloveeeee!!

    BalasHapus
  4. blog yang keren... salam kena;

    BalasHapus
  5. Afrinaldi : iya dalam banget itu *ngelap airmata

    Rusy : udah ku baca :D

    Azrina : thanks thanks thanks :)

    Vaga : terimakasih, salam kenal juga :)

    BalasHapus
  6. Kereeen permainan kata"nya, Kak! Sampai nyesek nih walo baru baca 2-3 kalimat ><

    trus, bukannya 'disini', 'disela-sela' itu dipisah ya mestinya D:

    BalasHapus
  7. Kereeen permainan kata"nya, Kak! Sampai nyesek nih walo baru baca 2-3 kalimat ><

    trus, bukannya 'disini', 'disela-sela' itu dipisah ya mestinya D:

    BalasHapus
  8. bisanya nyese; :P

    Pinter :D akhirnya ada yg nyadar :D wkwkwkwkwkwk seperti biasa Fera teliti :D thats why I tagged u :)

    Yup betul dipisah, karena nunjukin tempat bukan imbuhan :)

    BalasHapus
  9. ini dia memeluk landak

    tnkz ya :D

    BalasHapus
  10. Zhi : makasih :)

    Geje : landak? :o

    BalasHapus
  11. Hmph abis baca ini seketika mematung.. T.T

    BalasHapus
  12. mematung kenapa nak ujay eh uzay?

    BalasHapus
  13. pengalaman si mommy ini mah :p
    nice post bebeb :3

    BalasHapus

what do u think, say it !