Selasa, 17 April 2012

BLOODY FANG #4


Fooling the fang

Previously (chapter sebelumnya) :


Seorang pria putih tinggi berdiri disudut jendela. Jemarinya yang kurus dan panjang menyingkap sebagian gorden biru donker. Ke dua matanya berkilat liar saat melihat seorang wanita berambut kuning emas memasuki halaman rumah. Seringai lebarnya terkuak begitu saja. Gorden biru donker ditutupnya kembali.

Tok Tok Tok . . .

“Saya tahu Antoniette, biarkan dia masuk” kata pria itu dengan suara bergetar yang berat.

Seorang wanita berambut kuning emas masuk ke dalam ruangan kerja milik pria putih. Wanita itu tersenyum lebar sambil menyerahkan sebuah agenda hitam.

“Jadi, kita bisa mendapatkan semuanya dalam sekali tepuk” kata pria itu.

Sang wanita hanya mengangguk sekali.

“Kau boleh pergi”

Wanita berambut kuning emas itu kemudian pergi tanpa berkata apapun. Pria putih menatap agenda hitam lusuh yang ada ditangannya. Matanya mulai menelusuri tiap kata yang terukir di badan agenda.

“Algeron anakku”

***

Angin bertiup kencang dan menerbangkan daun maple yang kekuningan. Charlotte meringkuk tajam ke dalam selimut tebal yang diberikan Andromeda. Selimut tebal itu tidak mampu membuat badannya terasa hangat.

“Ini jaket hangat untukmu”

Andromeda memberikan sebuah bungkusan coklat pada Charlotte. Charlotte segera mengenakan jaket berbahan wol yang sangat tebal dan berat. Kehangatan mulai bisa dirasakannya. Andromeda tersenyum lalu menawarkan segelas susu hangat pada Charlotte.

“Kita mau kemana?” tanya Charlotte

“Ke suatu tempat yang aman bagimu dan aku”

“Kenapa semalam Ibu membawaku pergi? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Charlotte. Dia sudah mulai terbiasa memanggil Andromeda dengan sebutan Ibu.

“Edwin telah menemukan kita dan harus ku katakan . . walaupun hahh mungkin ini berat”

“Katakan apa?” Charlotte menggenggam erat gelas plastiknya dan melihat ke dalam mata Andromeda.

“Algeron yang memberitahunya tentang keberadaan kita”

Gelas plastik yang dipegang Charlotte teremas semakin kuat. Charlotte terus menatap Andromeda seakan tidak mempercayai hal itu. Banyak pertanyaan yang ada dibenaknya dan tidak tahu harus memulai darimana.

“Aku mengenal Algeron karena dia keturunan terakhir dari pelayan dirumah kami. Aku tahu dia yang membebaskanmu dari jeratan Edwin dan memberikanmu agenda hitam itu kan?”

Charlotte mengangguk. Dia teringat agenda hitam yang kini hilang entah kemana.

Andromeda melanjutkan, “Semalam dia mendatangi kastil. Saat berdiri dijendela kamarmu, aku bisa merasakan kehadirannya. Aku menemuinya dan memintanya pergi. Aku tahu dia masih membenci keluarga kita”

“T-tapi. .”

“Ya, aku tahu dia membantumu pergi tapi apa pernah kau berpikir bahwa ada kemungkinan semua itu telah direncanakan oleh keluarga Sparks?” Andromeda terdiam dan mencoba menunggu Charlotte berbicara.

“Tidak”

“Nah, apa kau tidak merasa aneh, kenapa Algeron begitu berani melawan sekelompok keluarga serigala demi dirimu? Oke, mungkin aku tidak sepantasnya berbicara seperti ini tapi apa kau yakin dia ingin menolongmu dengan tulus sedangkan dia tahu bahwa kau adalah keturunan dari orang yang dibencinya?”

Charlotte terdiam, dia baru menyadarinya hari ini. Algeron sama sekali tidak pernah mengatakan alasannya untuk menolong Charlotte. Algeron selalu berkata “Nanti akan ku jelaskan”

Dia menatap mata Andromeda sekali lagi. Kini pikirannya semakin kacau, dia tidak tahu harus mempercayai siapa dan bagaimana kelanjutan pelariannya ini. Posisinya sekarang sangat membingungkan, dia tidak tahu siapa yang harus dipercayanya lagi.

“Bagaimana kalau aku menyamar menjadi orang lain saja? Bukankah hal itu lebih memudahkan pelarian kita?”
Andromeda tertawa dan berkata, “Kau sadar betul siapa dirimu kan?”

Charlotte mengangguk.

“Apa kau yakin Atheos, orang yang selama ini kau dengar adalah tipe pria yang bisa dengan mudah melepaskan anggota keluarganya untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya? Kau memiliki darah keluarga Louis, bau khas keluarga Louis. Semua itu sangat mudah dikenali oleh anggota keluarga Sparks, apalagi keluargamu sendiri”

Charlotte tampak semakin pucat, tubuhnya mulai membeku aneh.

“Dan apa kau yakin, Edwin dengan senang hati akan membiarkanmu lepas sejak dia tahu kenyataan apa yang tersembunyi selama ini dan apa yang telah dilakukan saudarimu?”

Charlotte menggeleng.

“Kau sudah tahu jawabannya, jangan bertanya lagi. Keretanya sudah datang, ayo”

Charlotte mengikuti langkah panjang Andromeda. Mereka dengan cepat duduk disalah satu peron yang kosong. Suasana kereta begitu sepi, hanya beberapa orang berpakaian tebal yang tampak hilir mudik.

“Mau kemana kita?” tanya Charlotte pada Andromeda.

“Rumah keluarga Louis diatas bukit sana” Andromeda menunjuk sebuah undakan hijau yang tinggi dan membentang panjang.

Charlotte mengernyitkan dahinya. Jika dia ingin kabur dan menghilang dari keluarga itu, kenapa mereka harus memilih rumah keluarga Louis?

“Itu tempat teraman untuk saat ini. Keluarga Sparks pasti tahu bahwa kau akan pergi jauh dari keluarga Louis karena jika kau ada ditangan keluarga Louis maka kau akan menerima hukuman yang sangat berat. Mereka tidak akan pernah tahu kau akan tinggal ditempat peristirahatn Atheos”

Charlotte menatap tajam Andromeda, raut wajahnya tampak terkejut dan tidak percaya. Dia telah terbiasa dengan gerak – gerik Andromeda yang seakan mengerti apa yang dipikirkannya namun dia tidak habis pikir Andromeda memiliki ide aneh seperti ini.

“Tenang saja, kakek buyutmu itu sudah lama tidak tinggal disana. Kalau cuaca buruk dan tidak memungkinkan, aku biasa tinggal disana. Atheos hanya menempati rumah itu sebulan dalam setahun”

Charlotte hanya mengangguk sekilas, menandakan bahwa dirinya mengerti apa yang dimaksud Andromeda. Desiran angin halus menyusup diantara kisi – kisi jendela. Charlotte mulai menguap dan merasa tubuhnya sangat ingin beristirahat. Kepalanya dimiringkan sejenak ke arah jendela. Kilasan dedaunan yang terbentur kaca tampak seperti lukisan abstrak dan membawa Charlotte dalam mimpi.

*

Algeron menatap agenda yang digenggam pria putih. Ke dua bola matanya mulai berubah warna. Emosinya tampak memuncak.

“Kau tahu Algeron, kau anakku yang paling tidak tahu diri !” kata pria putih sambil memamerkan barisan gigi putihnya.

“KEMBALIKAN AGENDAKU !!! DIMANA CHARLOTTE !!”

Algeron menggerakkan tangannya dengan kasar ke udara. Meja bundar mahoni kini tampak melayang ke arah pria putih.

“Emosimu sama denganku” kata pria itu.

Dalam satu kedipan mata pria itu kini telah berdiri dihadapan Algeron. Tangannya mengunci tangan Algeron dengan kuat.

“Kau anakku , masih butuh waktu beratus - ratus tahun untuk mengalahkanku”

“KAU BUKAN AYAHKU !! KAU ATHEOS LOUIS !! PEMBUNUH !!!”

Atheos hanya tertawa panjang. Mata Algeron menatap tajam Atheos, dia kembali mengingat semua kejadian yang dialaminya setelah Aura – salah satu gadis manis keluarga Louis – meninggal.

Waktu seakan berjalan mundur, Algeron kembali mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Belasan tahun lamanya dia hidup sebagai anak pelayan keluarga Louis dan akhirnya jatuh cinta pada Aura, salah satu anak gadis keluarga Louis yang sempurna. Cintanya itu yang membuat sebuah tabir terbuka.

Atheos dengan mata penuh emosi memarahi Algeron dan memukul Tom Reamus dengan kejam karena mengetahui bahwa Algeron dan Aura terlibat hubungan percintaan. Algeron yang tidak tega melihat ayahnya dipukuli, mulai melawan Atheos. Pada saat itulah kekuatan ditubuhnya muncul. Atheos yang semula sangat marah berubah lunak dan menatap takjub Algeron serta mengatakan bahwa Algeron adalah anaknya yang luar biasa. Algeron termangu mendengar semua perkataan Atheos. 

Selama ini dia menganggap Atheos adalah laki – laki baik dan berbudi luhur. Meskipun memiliki garis wajah yang tengah dan langkah kaki yang angkuh, tak bisa dipungkiri jika sosok Atheos memang pantas untuk dipuja.

Namun kini rasa kagum itu telah berubah. Kenyataan pahit akhirnya terlontar dari mulut Atheos sendiri. Dia mengaku menggunakan kesetiaan keluarga Reamus untuk memenuhi keinginannya. Dia berhasil menodai Lilian Reamus, anak Tom Reamus sehingga lahirlah Algeron. Dulu, Atheos menganggap Algeron bukanlah anak yang berguna karena dia dilahirkan dari rahim seorang pelayan biasa. Atheos menjelaskan itu semua tanpa merasa sedih bahkan bersalah. Dia terus tersenyum lebar dan merasa bangga bisa memiliki keturunan pria kuat seperti Algeron, mengingat semua anak Atheos dari isteri sahnya adalah wanita.

“Belasan tahun kau menipuku. Menjadikan ibu serta mertuamu sendiri sebagai pelayan. KAU BUKAN AYAHKU !!!”

Sejak saat itu Algeron tidak pernah datang lagi ke rumah utama keluarga Louis. Dia berkelana ke berbagai pelosok negeri dengan membawa sejumput dendam dihati. Sebuah dendam untuk kepalsuan dan kekejaman yang dibuat Atheos serta pengkhiatan yang dilakukan Andromeda.

Dalam pelariannya Algeron bertemu dengan Luthor Sparks, yang tidak lain adalah Ayah Edwin. Semakin lama, Algeron dan Luthor semakin dekat dan terlihat seperti keluarga. Algeron dipercaya dan diangkat menjadi kerabat keluarga Sparks. Tidak ada yang mengetahui kebenaran mengenai Algeron. Yang mereka tahu Algeron hanyalah seorang pelayan dan penerus terakhir keluarga Reamus yang sempat kerja pada keluarga Louis dan diusir karena jatuh cinta pada anak gadis Atheos.

“Sudah saatnya kau kembali” perkataan Atheos membuyarkan lamunan Algeron.

“....”

“Charlotte aman bersama Andromeda, selama aku belum menemukan cara yang bagus untuk mengajarkannya sesuatu”. Atheos tersenyum licik saat mengatakan hal itu. 

Algeron menatap ke arah bukit yang menjulang jauh dihadapannya. Hatinya bergetar sementara pikirannya dipenuhi dengan wajah Charlotte yang tertidur pulas.

“cih”

Tanpa berkata apapun lagi, Algeron lalu pergi meninggalkan Atheos yang tersenyum aneh. 

*

Edwin mendengus kesal memandang Lanny yang sedang sibuk memandang tajam ke arah bangunan modern diseberang jalan. Ke dua kakinya digerakkan dengan cepat ke atas dan ke bawah.

“Bisa tenang sedikit?” kata Lanny sambil meluruskan posisi kacamatanya.

“Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kau ingat perkataan Phoeboo dan Phoebee tadi? Charlotte sudah pergi bersama wanita pirang sialan itu ! You just wasting my time!”

Lanny menatap tajam Edwin. Matanya yang biru tua menelisik ke dalam mata Edwin. Edwin dengan segera mengalihkan pandangannya. Dia tahu Lanny bisa membaca situasi dengan hanya melihatnya. Matanya memiliki keajaiban, berbeda dengan keluarga Sparks lainnya yang lebih mengandalkan penciuman.

“Kau ingin mengejar Charlotte untuk membalas dendam atau ada yang lain?”

“Bukan urusanmu”

“Ini urusanku, aku harus mengetahuinya. Kau ingin aku membantumu atau balik menyerangmu?” cecar Lanny.

“Cih !!”

Edwin keluar dari dalam mobil dengan segera. Langkahnya yang panjang terarah pada rumah modern yang sejak tadi diintainya. Lanny membulatkan matanya dan segera mengejar Edwin.

“Kau ini bodoh atau apa hah? Kau tahukan siapa yang ada di dalam rumah itu? KAU TAHU KAN!!”

Suara Lanny menggema disudut jalan. Suasana jalan dikompleks perumahan modern itu memang sedang sepi sehingga Lanny tidak merasa ragu untuk berteriak kencang. Tangan Lanny yang kurus dan putih panjang menggenggam erat lengan Edwin.

“Kau baru saja mempertanyakan integritasku”

“Oke maaf, balik ke mobil sekarang”

Edwin menghela napas dan mengikuti Lanny ke arah mobil dengan sisa kesesalan di dalam dadanya. Dia terus menatap Lanny dari ujung kepala hingga kaki. Lanny adalah orang kepercayaan Odhin Sparks, kakek mereka. Odhin dikenal sebagai pria yang baik hati dan jujur. Dia adalah tetua keluarga Sparks yang sangat mencintai perdamaian.

“Tapi dia membiarkanku membalaskan dendam keluarga Sparks, aneh” batin Edwin.

“Bisa kita fokus ke hal ini lagi? Kau tahu Algeron tidak bisa dipercaya. Dia ada di rumah itu” telunjuk Lanny terarah pada rumah modern yang sejak tadi mereka intai.

“Aku tahu, aku . . .”

“Apa yang kau bicarakan pada Algeron waktu itu? Kau membiarkannya bebas dan pergi begitu saja”

“.....”

Lanny menghela napas dan menggelengkan kepalanya. Dia tahu Edwin tidak akan membuka mulutnya untuk berbicara mengenai hal ini sedikitpun.

“Algeron sudah pergi”

Edwin mengarahkan pandangan matanya pada sosok Algeron yang mengenakan topi softball serta jaket tebal berkerah tinggi. Lanny mengangguk dan mengarahkan roda mobil mengikuti langkah Algeron.

“Kita ikuti pria tua ini”

*

Edwin tertidur di dalam mobil selama hampir setengah jam. Angin pegunungan yang berdesir disela – sela rambut hitamnya membawa segala pikirannya melayang ke dunia mimpi. Tidurnya yang lelap kini dibumbui dengan bunga tidur yang manis. Seorang gadis berambut kuning emas tersenyum menatapnya. Dada Edwin berdesir halus, sudah lama dia tidak merasakan hal itu. Namun, sebuah tangan putih panjang menarik gadis itu. Edwin berlari mengejar bayangan sang gadis dengan sekuat tenaga, namun dia hanya bisa melihat sisa helaian rambut gadis itu yang tertinggal di jemarinya.

“Charlotte !!!” teriak Edwin sambil terbangun dari tidurnya.

Peluh membasahi tubuh Edwin yang berbalut kaos putih dan jaket semikulit hitam. Semua tampak gelap, Edwin mencoba mencari sosok Lanny yang bersamanya tadi. Bau basah yang menyusup dilembah sangat terasa saat Edwin memijakkan kaki keluar dari mobil. Embun diantara rumput dan dedaunan tampak berkilau terkena terpaan sinar bulan yang malu – malu.

“Sudah bangun?” sapa Lanny yang tiba – tiba menepuk bahu Edwin.

“Ah i-iya”

“Sebaiknya kita pergi dari sini, kita terbawa perangkap busuk Atheos”

“Apa maksudmu?”

Saat Lanny ingin membuka mulutnya, suara lolongan serigala terdengar semakin mendekat dan kemudian menerkam Lanny dan Edwin secara mendadak. Lanny dan Edwin yang tidak siap dengan serangan tersebut pun kini tertunduk pasrah dibawah kaki dua werewolf yang mereka kenal.

“Phoeboo, Phoebee” desis Lanny.

“Welcome home Sparks Klan” sapa Andromeda yang mendadak muncul dari balik semak – semak.

***

Charlotte menatap rembulan yang malu – malu dari sela jendela kamarnya. Suara hatinya mengatakan ada yang tidak beres. Entah mengapa sejak memijakkan kaki di bukit ini, pikirannya selalu tertuju pada Edwin. Charlotte mencoba menepis pikiran anehnya dengan cepat. 

Hembusan angin yang lembut menyusup ke dalam kamar. Pintu lemari tua berdecit pelan terkena hembusan tersebut. Charlotte menatap pintu lemari yang engselnya hampir lepas dengan seksama. Album foto tua jatuh berdengung di lantai marmer. Sebuah foto mencuat dari balik album foto. Seorang gadis berambut pirang bergelombang tampak tersenyum bahagia bersama seorang pria tegap difoto tersebut. Charlotte membalik bagian foto tersebut dan menemukan tulisan yang membuatnya tercengang.

Andromeda Narcissa Louis dan Fiandra Sparks
Endless Love


continue . . .

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

BLOODY FANG #3




Another fact of fang

Previously (chapter sebelumnya) :

Di sana hanya ada sebuah agenda yang tergeletak. Bangunan kecil berbahan kayu itu tampak berantakan. Deru angin yang berdesing diantara pepohonan seperti telah memporak – porandakan bangunan kecil itu. Algeron kini terlihat duduk di ruang tengah sambil terus membakar berlembar – lembar kertas.

“Dimana Charlotte sekarang?”

Tak ada seorang pun disana, Algeron menggumamkan pertanyaan tersebut lebih kepada dirinya sendiri. Tangannya yang bergaris – garis aneh membentuk sebuah gerakan acuh. Meja yang terbalik kini menari riang menuju ke tempatnya sementara sebuah sapu ijuk cokelat tampak mengibaskan debu di lantai.

Tepat saat semua gerakan tarian tersebut selesai, Algeron melihat benda berkilauan terselip di bawah sofa beludru. Sebuah bros manik dengan ukiran mawar. Algeron tersenyum aneh lalu menjentikkan jarinya seraya berkata, “Ternyata dia”

***

Charlotte diam seribu bahasa melihat wanita yang berdiri dihadapannya. Seorang wanita yang tampak manis dan masih muda. Wanita itu mengenakan sebuah baju berenda yang sangat panjang. Langkahnya yang pelan membuat ekor bajunya berbisik riang diantara sunyi. 

“Tehnya?” tanya wanita itu sambil menuangkan teh.

“Kamu pasti bingung aku siapa kan?” wanita itu berkata sekali lagi sambil tersenyum.

Charlotte mengangguk dalam – dalam, sikapnya menunjukkan rasa takut dan penasaran. Wanita itu tersenyum lagi lalu mendekati Charlotte. Charlotte merinding melihat tatapan mata wanita itu.

“Mirip Kak Karina” batin Charlotte

“Aku bukan Karina”

Charlotte membulatkan matanya, hampir saja dia menyemburkan tehnya. Wanita itu berdiri dan menjentikkan jemari lentiknya. Sebuah buku tebal bersampul hitam melayang begitu saja dihadapan mereka.

“Lihat, itu aku dan yang disana kakakmu”

“K-k-kembar?” Charlotte tercekat dengan kata – katanya sendiri.

Wanita itu tertawa lalu berkata, “Tidak, Tidak. Lihat baik – baik, wajahku lebih tua dari Karina di foto ini. Aku ibu kalian yang sebenarnya, ah bukan. Lebih tepatnya aku ibumu”

Charlotte mengerutkan dahinya, dia masih kaget dengan pernyataan yang baru saja didengarnya. 

"Kenyataan apalagi ini?" batin Charlotte.

Wanita itu duduk dihadapan Charlotte dan mulai bercerita. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Andromeda Louis, salah satu anak dari tetua Louis yang paling disayangi. Dia dan Iris – wanita yang selama ini mengasuh Charlotte dan dianggap sebagai ibu – adalah saudara kandung dari seorang wanita yang bernama Lussy Louis, anak kandung dari Atheos. Dengan kata lain, Andromeda adalah cucu Atheos. Andromeda ditakdirkan untuk menjadi penerus Atheos karena selama ini dialah yang paling menonjol di keluarga tersebut. Dia seperti mewarisi seluruh gen kakeknya, Atheos. Watak keras, pendirian teguh, cepat belajar, serta wajah yang sempurna. Atheos sangat menyayangi Andromeda melebihi sayangnya pada anak kandungnya sendiri. Andromeda dijadikan ratu dikeluarga tersebut, hal itu tampak menyenangkan namun Andormeda tidak menyukainya.

Hidupnya perlahan tapi pasti mulai diatur. Dia wajib tinggal di rumah utama keluarga Louis, menemani Atheos. Tidak boleh mendekati orang asing dan bahkan dirinya tidak diijinkan untuk keluar rumah tanpa persetujuan Atheos. Andromeda tampak seperti ratu yang terkurung di dalam istana emas. Awalnya Andromeda menerima itu semua dengan senang karena dia tahu hal tersebut adalah wujud cinta Atheos dan keluarga Louis terhadap dirinya. Namun, hatinya mulai menampakkan gejolak ketika dia dipaksa untuk menggunakan kekuatannya sesuai dengan tradisi keluarga. Charlotte bergidik mendengar hal itu.

Puncak kemarahan Andromeda mulai tersulut saat dirinya dipaksa untuk meninggalkan seorang pria yang sangat disayanginya saat dirinya sedang mengandung seorang bayi. Andromeda terus meronta, dia ingin pergi dari keluarga tersebut namun Atheos berhasil menahannya dan membuatnya menderita. Andromeda sempat berpikir mereka menyiksanya untuk membunuh bayi yang dikandungnya, namun hal tersebut ternyata salah. Dia disiksa demi menjauhkan pria yang disayanginya dari keluarga Charlotte.

“Anakmu akan ku biarkan hidup karena pria bodoh itu telah pergi. Tapi, kau tidak akan bisa menyentuhnya. Biarkan Iris merawatnya”

Itulah titah Atheos yang berhasil membuat Andromeda merasa merana dan tak mampu untuk melawan. Tahun berganti tahun, Andromeda terus mencari celah untuk lepas dari keluarga tersebut dan mencari anaknya – Charlotte. Dan kini dia berhasil menemui anaknya yang hilang itu.

“Tidak mungkin” Charlotte memberanikan diri untuk berbicara.

“Mungkin saja jika kamu kenal Atheos, kakek buyutmu. Mungkin kau tidak akan kuat mendengar ini semua tapi . . . inilah kenyataannya.

“Aku ingin sendiri dulu, aku . . .”

“Kaget dengan semua kenyataan yang ada. Kenyataan tentang Edwin, dan hidupmu” sambung Andromeda.

“....”

“Aku tahu, aku tahu. Aku tidak ingin memaksamu untuk percaya perkataanku dan aku juga tidak mungkin bisa memaksamu. Tapi, hanya ini kenyataan yang bisa ku katakan.”

“Maaf, aku . . . aku . . . bolehkah aku memelukmu?”

Andromeda kaget dan menyimpulkan seulas senyum. Dipeluknya Charlotte dengan erat. Sebuah pelukan yang selama ini diimpikannya. Detik itu juga, Charlotte tidak peduli dengan apapun yang terjadi pada dirinya karena yang dia inginkan dan impikan selama ini telah terkabulkan.

“Pelukan ibu seperti ini rupanya, hangat dan penuh kasih sayang” batin Charlotte.

*

Charlotte menatap ombak yang mencoba menerjang tebing kokoh. Jendela kamarnya terbuka begitu sangat lebar, sehingga deburan ombak dan hembusan angin bisa meresap perlahan ke sela – sela kamarnya. Charlotte meremas agenda milik Algeron yang masih dipegangnya.

“Semoga Algeron bisa tahu aku ada disini?”batinnya.

Tepat saat itu, Andromeda masuk ke dalam kamar seraya membawa sebuah nampan dengan mangkuk yang berisikan sup ikan tuna dan roti. Charlotte tersenyum dan mulai melahap makanan itu tanpa sisa. Kemarin malam dirinya dikagetkan dengan kehadiran Andromeda yang secara mendadak memaksanya untuk pergi. Tanpa penjelasan apapun, Andromeda masuk ke dalam rumah tempatnya bersembunyi dan mencengkeram tangannya dengan kencang.

“Kita harus pergi” kata Andromeda dengan mata berkilat,

“Kita?Siapa kau?”

“Demi hidupmu, Charlotte”

Saat itu Charlotte bergidik karena suara serta gaya bicara Andromeda sangat mirip dengan ketiga kakaknya. Sontak Charlotte meronta karena saat itu dia tidak percaya siapapun kecuali Algeron. Andromeda tampak kewalahan melihat Charlotte yang berusaha melawannya.

“Maafkan aku Charlotte” tepat saat kata – kata itu diucapkan, Andromeda menyapu sebuah ranting kecil dan rapuh yang dipegangnya. Charlotte pun pingsan seketika.

Paginya Charlotte kembali dikejutkan dengan pernyataan Andromeda. Namun entah mengapa, dia merasakan kenyamanan saat berada di dekat Andromeda.

“Mungkin aku harus mempercayainya” batin Charlotte.

“Kau aman disini, setidaknya dari keluarga werewolf itu” kata Andromeda sambil mengusap lembut rambut Charlotte

“Edwin?” tanya Charlotte gugup.

“Ya, kau sudah tahukan semua tentang keluarganya?”

“Aku hanya tahu beberapa hal. Mereka tidak menyukai keluarga kita”

Andromeda menghela napas dan memandang cahaya bulan yang terpantul di cermin.

“Kedua keluarga aneh ini memang tidak pernah akur. Semua ini terjadi sejak jaman dahulu, mungkin ini bagian dari tradisi aneh keluarga Louis dan Sparks. Keluarga kita, keluarga Louis adalah keluarga penyihir hitam. Menurut tradisi yang sudah ada sejak dulu, saat bulan purnama muncul setiap wanita dari keluarga kita wajib mengorbankan seorang wanita muda yang masih perawan untuk mempertahankan kekuatan yang ada di dalam diri kita. Hal itu berlaku bagi seluruh keluarga Louis ketika umur mereka telah genap 20. Sedangkan keluarga Sparks, awalnya merupakan keluarga petani biasa yang tinggal di pinggir kota”

“Jadi apa yang membuat mereka bersitegang dengan keluarga kita?” tanya Charlotte.

“Dulu, keluarga kita punya seorang leluhur yang cukup merepotkan, Paula. Dialah yang membuat semua ini terjadi”

“Jadi Eugene adalah keluarga Sparks?”

Andromeda mengerutkan dahinya, dia kaget mendengar nama Eugene disebut.

“Darimana kau tahu itu?” tanya Andromeda.

“Aku sudah bilang, aku tahu beberapa hal tentang dua keluarga ini” Charlotte merasa belum saatnya dia menyebutkan sesuatu tentang Algeron dan agenda yang diberikannya.

Andromeda tersenyum lalu berkata, “Eugene meneruskan semua kebencian didadanya kepada keturunannya. Dia membuat sebuah tradisi menangkap penyihir hitam untuk menghabisi Paula beserta keturunannya, kita ini” Jari telunjuk Andromeda terarah pada dirinya dan Charlotte, kemudian dia melanjutkan, “Tapi, hal itu tidak berlangsung lama karena Paula menemukan kenyataan bahwa dengan membunuh werewolf saat bulan purnama tiba, seorang penyihir hitam akan semakin kuat bahkan hidup kekal”

Bola mata Charlotte seakan ingin melompat saat Andromeda menyebutkan hal itu. Kini dia paham mengapa ketiga kakaknya selalu menentang keras hubungannya dan Edwin. Mereka tidak ingin rasa cinta yang  dimiliki Charlotte dapat menghancurkan semuanya.

“Kakakmu melarangmu mendekati Edwin bukan karena dia keluarga Sparks”

Charlotte tersentak mendengar hal itu, ini untuk ke dua kalinya Andromeda tampak memahami isi kepalanya. Sementara itu, Andromeda berdiri dan mendekati jendela yang tertiup angin lalu melanjutkan, “Penerus darah keluarga Sparks, maksudku darah werewolf hanya dari garis keturunan Ayah atau para pria. Edwin adalah anak dari seorang wanita keluarga Sparks. Jelas dia tidak memiliki darah werewolf. Kakakmu tidak ingin kau mendekatinya karena dia bukan werewolf”

“Aku tidak mengerti. Kalau Edwin tida mewarisi darah itu, kenapa mereka harus melarangku?”

“Karena berhubungan dengan Edwin tidak akan menghasilkan apa – apa. Tapi, setelah melihat cinta kalian berdua, sepertinya mereka memiliki ide licik lainnya. Mengubah Edwin menjadi serigala dan membuatnya menyerahkan dirinya pada keluarga Louis demi cintanya pdamu” Andromeda menghela napas panjang dan menatap Charlotte sebelum melanjutkan, “Keluarga Louis memelihara beberapa manusia serigala yang sudah tidak memiliki hati manusia. Semua ini mereka lakukan demi mendapatkan kehidupan abadi”

Wajah Charlotte menegang. Dia semakin takut mendengar semua kenyataaan ini. Dia tidak menyangka hubungannya dengan Edwin serta pertengkaran berabad – abad ini mengakibatkan hal aneh yang sangat rumit. Awalnya dia mengira bahwa semuanya akan segera kembali normal tapi ternyata tidak. Kenyataan memang tidak semudah yang diharapkan dan dibayangkan.

“Tidurlah, sudah malam” kata Andromeda seraya mengecup kening Charlotte.

Charlotte mengangguk sambil menatap Andromeda yang menghilang dari hadapannya. Kenyataan yang selama ini ingin diketahui Charlotte semakin jelas namun membingungkan. Semuanya tampak lebih buruk.
Dalam beberapa minggu saja semua hal terkuat dan kehidupan Charlotte berubah drastis. Charlotte kini lebih terbiasa melihat kejutan – kejutan itu.

*

Disisi tebing tampak Algeron yang sedang berdiri. Dia melihat pantulan bayangan seorang wanita disudut jendela. Tangannya ingin melambai saat itu juga, namun wanita itu telah pergi.

“Charlotte sedang apa kau disana?”gumam Algeron.

Algeron mengerutkan dahinya, dia memandang ranting yang tadi coba dikumpulkannya. Niatnya untuk membuat api unggun pun segera dia urungkan saat matanya kembali menelisik sebuah bayangan yang kembali terpatri di jendela.

“Andromeda?”

Bulu kuduk Algeron pun bergidik. Dia tahu siapa wanita itu dan baginya wanita itu telah mati. Rasa panas dan benci kembali menyeruak dihatinya. Mata Algeron yang tadinya lembut dan ingin merengkuh Charlotte berubah menjadi nanar dan penuh dengan amarah.

“Kenapa anak bodoh itu bisa ada disana !!”

Algeron berdiri dalam posisi sigap. Dia tahu cepat atau lambat Andromeda akan menghampirinya. Dia kenal siapa Andromeda dan bagaimana watak wanita itu.

“Kau menungguku rupanya Al” suara seorang wanita menyeruak diantara kabut. Sejurus kemudian senyuman tajam dan bengis Andromeda terpatri jelas diantara cahaya bulan.

“Kembalikan Charlotte padaku dan hentikan semua permainanmu” bentak Algeron sambil mengacungkan jari telunjuknya dengan sigap.

Andromeda tampak memanas, tangannya meraih sebuah tongkat kurus yang tampak seperti ranting dan berkata, “Kau sudah mempelajari ilmu itu rupanya hah ! Penerus keluarga terakhir Reamus, penyihir putih pengendali darah”

Algeron menatap cahaya bulan, matanya berubah menjadi merah dengan titik putih ditengah yang tampak sebagai pupil. Ke dua tangannya diangkat dengan cepat. Andromeda terkesiap, ke dua tangannya seakan terkunci sementara hatinya mulai merapalkan sesuatu.

“CHARLOTTE MASIH ADA PADAKU !! KAU INGIN DIA LENYAP?!”

Seketika itu rona merah di mata Algeron pun menghilang, tangannya terkulai lemas. Andromeda bisa merasakan kesempatannya untuk kabur terbuka lebar. Jentikan ranting mungilnya mengagetkan Algeron. Asap putih mengepul mengelilingi Algeron. Algeron merutuki dirinya sambil membuat beberapa garis di awang – awang. Tak butuh waktu lama, asap putih itu hilang dan digantikan dengan jejeran tebing yang membisu. Algeron sangat marah dan warna matanya pun berubah lagi.

Dengan langkah yang tegas dan mantap sampailah ia di depan bangunan tua di ujung tebing. Nama Charlotte diteriakinya berkali – kali. Tak ada jawaban yang terdengar, hanya pantulan suaranya sendiri yang coba menegaskan tentang kesendiriannya diruangan itu.

***

Disebuah bangunan tua di kota yang sama, dua orang pria berkulit hitam dengan tubuh kekar dan rambut gimbal tampak berseri menatap Andromeda yang sedang berbicara dengan nada memerintah. Dua pria itu tersenyum dan mengangguk. Mereka berdua tampak sangat patuh dengan apa yang diucapkan oleh Andromeda.

“Lakukan sekarang ! Jangan sampai mereka tahu tentang ini semua” kata Andromeda dengan mata mengkilat.

Dua pria tadi berjalan dengan cepat ke arah sebuah telepon umum. Salah satu diantara mereka melalukan sebuah percakapan singkat dengan seseorang diseberang.

“Edwin, kami tahu dimana Charlotte” kata salah seorang diantara mereka.

“Ya, tempat pastinya akan kami konfirmasi” kata pria itu sekali lagi diselingi dengan seringai yang lebar.

continue . . .


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

BLOODY FANG #2


The truth of fang

Previously (chapter sebelumnya) :
- The way to find a fang

Charlotte tidak bisa tidur malam ini, dadanya bergemuruh pelan selaras dengan angin malam yang menyapu tubuhnya. Kedua tangannya tampak tertaut satu sama lain menahan desakan angin. Meskipun telah memakai kapuchon  hitam yang tebal, desakan angin tetap mampu menembus kulit Charlotte. Perlahan tapi pasti tengkuknya mulai bergetar. Charlotte merasa inilah waktu yang tepat untuk masuk ke dalam rumah mungilnya.

Perapian disudut ruangan tampak berderak – derak menyambut Charlotte. Sebelum menutup tirai di ruangan mini tersebut, mata Charlotte dengan cekatan memeriksa rimbunan pohon yang bergerak seakan membentuk sebuah irama. Charlotte mendesah, menunjukkan kelegaan yang mendalam. Setelah semua tirai tertutup, Charlotte menuju ke arah pintu dan memasang kunci serta gembok secara ganda. Tatapannya kemudian terarah pada sesuatu yang terpajang di dinding. Wajahnya yang muram mulai tersimpul, dia merasakan sebuah sengatan yang aneh. Sebuah spidol merah direngkuhnya dari atas meja. Tangannya mulai membentuk sebuah gerakan pada kalender. Sebuah tanda silang kini tampak terpatri pada angka 14 di kalender tersebut.

“Sudah seminggu”

*

Charlotte menata meja dengan rapi. Sebouquet bunga tertata anggun menemani hidangan di meja. Charlotte bersenandung riang menatap meja makan tersebut. Wajahnya menyiratkan kebahagiaan yang mendalam. Untuk pertama kalinya dia merasa bebas seperti ini, bisa tinggal dan hidup bersama orang yang selama ini dia sayangi serta terbebas dari jeratan ke tiga kakaknya. Awalnya dia merasa tidak yakin bahkan takut untuk melakukan ini semua, namun perkataan Algeron dan kekejaman yang terus dia alami membuatnya semakin berani untuk bertindak.

“Maafkan aku kak” desah Charlotte sambil meremas kalung yang melingkari lehernya.

Bayang – bayang ke tiga kakaknya mulai mewarnai pikirannya. Dia dapat mengingat dengan jelas saat ketiga kakaknya dengan baik hati memberikannya seporsi besar kue kacang kesukaannya. Hal itu terjadi ketika desa mereka diliputi dengan kemarau berkepanjangan serta kelaparan. Saat itu dia tahu kalau persediaan makanan mereka telah menipis, namun ketiga kakaknya tampak tidak ingin melihat dirinya kelaparan. Itulah kenangan terbaik yang dimiliki Charlotte mengenai ketiga kakaknya, kenangan yang terjadi belasan tahun yang lalu. Setelah tumbuh menjadi seorang gadis remaja, penyiksaan serta penekanan mulai diterimanya.

Deru sura mobil menyadarkan Charlotte dari kenangannya. 

“Edwin” kata Charlotte gembira.

Seketika itu pula Charlotte melepas celemek hijau yang membungkus tubuhnya dan berlari ke arah pintu masuk. Air mukanya yang bahagia berubah drastis saat melihat wajah Edwin. Langkahnya yang mantap pun berhenti mendadak di depan pintu. Otaknya mengatur anggota tubuhnya untuk tidak mendekati Edwin.

“Ada apa?” mulut Charlotte mengucapkan pertanyaan tersebut tanpa suara dan lebih ditujukan pada Algeron.

Algeron mengangkat kedua bahunya lalu menepuk bahu Edwin. Edwin menggeram perlahan dan berlari ke dalam rumah tanpa mempedulikan Charlotte. Charlotte berteriak memanggil nama Edwin dan ingin menyusulnya namun Algeron menahannya.

“Biarkan dia”

“Ada dengannya Edwin? Kenapa wajahnya jadi mengerikan seperti itu? Kenapa dia seperti benci melihatku?” tanya Charlotte tanpa henti.

Algeron menghela napas panjang dan berat, dia memberi isyarat pada Charlotte untuk duduk. Kepalanya yang mulai terlihat tandus dielusnya dengan perlahan, dia mencoba memikirkan alasan yang bagus untuk diceritakan pada Charlotte.

Sebelum Charlotte membuka mulutnya untuk mulai bertanya tentang ini-itu, Algeron berkata, “Kami bertemu ketiga saudarimu karena Algeron ingin meminta restu untuk membunuh mereka”. Bagian akhir dari kalimat tersebut, diucapkannya dalam hati.

Charlotte tercekat mendengar perkataan tersebut. Dia tahu bahwa tindakan Edwin sangat konyol karena sudah jelas ketiga saudarinya tidak akan memberikan restu meskipun Edwin bersujud dan mencium kaki mereka. Sekarang Charlotte mengerti mengapa wajah Edwin menjadi aneh saat pulang ke rumah mungil mereka.

“Terus apa yang terjadi?”

“Edwin membunuh mereka” batin Algeron.

Charlotte terus menatap Algeron yang tersenyum sendiri dan tidak menjawab pertanyaannya. Algeron tersadar dari pemikiran liarnya dan berdehem sebentar sebelum akhirnya menjawab, “Tentu saja mereka bertengkar”

Charlotte memasang wajah sedih, tidak ada yang lebih menyakitkan baginya kecuali berada pada keadaan membingungkan seperti ini. Dia sangat mencintai Edwin namun disisi lain dia juga menyayangi keluarganya, namun satu hal yang pasti dia harus  memilih. Kekerasan yang diterimanya membuat batinnya semakin mantap untuk memilih Edwin tapi hari ini, ketika dia mendengar pertengkaran itu batinnya kembali tersiksa.

“Aku harus menemui Edwin, dia pasti sangat terpukul”

Algeron menarik tangan Charlotte dengan cepat lalu menggelengkan kepalanya.

“Kenapa?”

“Sebaiknya disini saja, dia butuh sendiri. Jangan kesana demi dirimu dan hubunganmu”

*

Malam semakin larut namun Charlotte tetap tidak bisa memejamkan matanya sendiri. Hampir lima jam dia berbaring di tempat tidur dan mencoba menutup matanya namun semuanya sia – sia. Sejam berikutnya dia mencoba menghitung domba, hal yang selalu dianjurkan ibunya jika dia terlihat susah tidur.

“seratus domba melompati pagar”

Charlotte mendesah lalu bangkit dari tempat tidurnya. Dia menatap bantal guling berselimut disebelahnya - tanpa Edwin. Sudah hampir seminggu Edwin tidak tidur dengannya. Setiap malam dia beralasan untuk melakukan sesuatu dan memilih menginap di rumah Algeron daripada pulang dan menemani Charlotte. Charlotte juga tidak pernah bisa duduk semeja lagi dengan Edwin ketika sarapan, makan siang, bahkan makan malam sekalipun.

Charlotte merasa Edwin telah berubah sejak bertemu dengan ketiga saudarinya. Dia merasa pasti telah terjadi sesuatu saat mereka bertemu sehingga perilaku Edwin berubah drastis. Charlotte selalu mencari kesempatan untuk menanyakan hal itu pada Edwin dan Algeron, namun keduanya tampak enggan mengungkit – ngungkit hal itu. Dan kini Charlotte pun tampaknya mulai bosan menanyakan hal yang sama.

Dia menatap keluar jendela sambil memikirkan itu semua. Bulan purnama bercak hitam tampak tersenyum pilu dibalik awan kelabu. Bulan tersebut tampak mengintip malu – malu dari balik awan, mencoba bermain hide and seek untuk menghibur Charlotte. Namun ketika melihat bulan penuh itu, hati Charlotte seperti teriris. Dia mengingat Edwin serta wajahnya yang kecoklatan ketika menatap Charlotte setiap bulan purnama menjelang. Edwin sangat suka mengajak Charlotte duduk dipinggir hutan saat malam menjelang dan menampakkan cahaya putih temaran dilangit yang gelap. Tapi, malam ini hal tersebut tidak dapat terjadi karena Edwin telah berubah.

Malam yang sama ditempat lain . . .

Edwin mondar – mandir di sebuah aula, dia tidak peduli dengan dengungan suara orang – orang yang berada di tempat tersebut. Dahinya tampak berkerut sementara kedua tangannya yang kekar mengelus dagunya yang bersih tanpa janggut.

“Apa yang sebenarnya kau pikirkan Edwin?” kata seorang pria jangkung berkulit pucat.

“Dia memikirkan rencana yang tepat untuk menghabiskan keluarga tersebut tanpa sisa” Algeron menjawab dari balik meja bundar yang berada di tengah aula.

“Aku tidak bertanya padamu Reamus, aku bertanya pada anak ini” pria jangkung menunjuk ke arah Edwin.

“Tenanglah Lanny, Algeron benar. Aku sedang memikirkan sesuatu yang bagus untuk membinasakan mereka tanpa sisa”

Pria jangkung tampak puas mendengar perkataan Edwin. Dia mengangguk khidmat dan memamerkan giginya yang putih dan berjejer rapi. Algeron menghela napas panjang dan tertunduk, entah mengapa dia merasa kasihan pada Charlotte yang sebenarnya tidak pantas untuk dijadikan tumbal.

“Kau tampak ragu, Reamus” kata seorang pria berkulit hitam dan bertubuh kekar yang duduk tepat diseberang Algeron.

“Dia kasihan pada gadis kecil keluarga Louis” lanjut seorang pria yang berwajah serupa dengan si pria hitam.

“Bagaimana bisa kalian mengatakan hal itu setelah apa yang telah ku lakukan untuk keluarga kecil ini? Tanyakan pada diri kalian sendiri apa yang terjadi pada gadis berambut emas dari keluarga Louis yang ditugaskan untuk kalian. Dimana dia sekarang? Naluri liarku mengatakan kalian menyembunyikannya, dasar saudara kembar yang aneh” cecar Algeron.
Kedua pria berkulit hitam itu tampak geram dan menggebrak meja bundar. Edwin menganggkat kedua tangannya, mencoba menenangkan suasana aula yang tampaknya mulai memanas.
“Phoeboo, Phoebee aku harap kalian duduk tenang” kata Edwin sambil mendekati kedua pria hitam tersebut lalu melanjutkan “Algeron, ku mohon bersikap dewasa”

Algeron menatap Edwin dengan tajam seakan berbicara “aku sudah bersikap dewasa”. Setelah semua yang hadir disitu tampak mulai menguasai emosi masing – masing, Edwin duduk disalah satu kursi dan mulai berbicara tentang rencananya dan apa yang harus dilakukan tiap anggota keluarga Sparks.

“Demi kelangsungan para serigala dan manusia, mari kita bersulang” Edwin mengakhiri pertemuan hari itu dengan sebuah dentingan gelas.

*

Algeron merasa semakin aneh dengan sikap Edwin. Edwin tampak telah kehilangan rasa cinta yang dulu sempat tumbuh memenuhi ruang dihatinya. Edwin kini seperti seorang pria bertubuh atletis yang pongah dan kasar. Awalnya Algeron tidak begitu peduli dengan perkataan Edwin yang ingin menghabisi seluruh keluarga Louis karena dia tahu bahwa Edwin sangat mencintai Charlotte, dan rasa cinta itu akan menyelamatkan semuanya. Namun melihat kematangan rencana Edwin, Algeron mulai merasa takut dan khawatir.

Perang telah terjadi di dalam hati Algeron, disatu sisi dia sangat mendukung keinginan Edwin untuk melakukan balas dendam pada keluarga Louis namun disatu sisi dia tidak tega melihat Charlotte dijadikan ‘alat’ untuk membalaskan dendam.

Sore ini di kabin tuanya, Algeron termenung memikirkan hal itu. Dalam hatinya dia tahu bahwa kebenciannya pada keluarga Louis sama sekali tak penting. Keluarganya telah bertahun – tahun bekerja pada keluarga itu. Perlakuan keluarga Louis pada para pelayan dan pekerja sangatlah baik sehingga keluarga Algeron secara turun temurun mengabdi pada keluarga tersebut meskipun telah mengetahui kenyataan kelam yang disembunyikan keluarga itu. Tapi, rasa cinta yang tumbuh dihati Algeron pada seorang gadis dari keluarga tersebut mengubah segalanya secara drastis.

Algeron merupakan penerus keluarga Reamus terakhir yang mengabdi pada keluarga Louis. Algeron menyimpan dendam yang sangat mendalam pada Atheos, tetua keluarga Louis yang diketahui masih hidup hingga saat ini. Atheos dengan kejam membunuh salah satu anak gadis keluarga Louis hanya karena menjalin hubungan dengan Algeron. Pembunuhan sadis itu dilakukannya dihadapan Algeron langsung.

Sebelum melihat kejadian mengenaskan itu, tubuh Algeron dipecut oleh cambuk hingga lemas. Penyiksaan keji pada gadis muda yang disayangi Algeron dimulai dengan pemasungan. Tubuh gadis itu tampak gemetar hebat saat dua pria dewasa menariknya secara kasar ke arah pasung yang telah disediakan. Atheos tersenyum licik dari bangkunya lalu melempar wajah gadis muda itu dengan tomat busuk.

“Rasakan baunya” teriak Atheos dengan suara serak.

Algeron menatap hal tersebut dengan iba dan berdoa dalam hati semoga hal itu tidak akan menjadi lebih buruk. Namun, saat Atheos melempar sebongkah batu bulat hitam ke wajah gadis muda itu, Algeron tahu bahwa Atheos berniat membunuh gadis itu dengan cara menyiksanya.
Algeron bergidik mengingat hal itu. Tangannya yang memegang pancingan hitam mulai bergetar. Dia membuang pancingan tersebut ke dalam danau dan berlari mengambil kunci mobil tuanya.

“Aku harus menyelamatkan Charlotte dari dua keluarga gila ini”

*

“Charlotte”

Charlotte mengangkat wajahnya dari panci sup, dia merasa mendengar suara seseorang memanggilnya. Matanya mengarah ke arah sumber suara.

“Charlotte”

Charlotte tersenyum menatap pemilik suara itu lalu berkata dalam nada yang wajar, “kenapa kau berbisik seperti itu Algeron?”

Algeron melompati jendela dapur  lalu menarik tubuh Charlotte mendekatinya.

“Edwin ada dirumah?”

Charlotte menggelengkan kepala dan menatap Algeron dengan heran. Dia menarik salah satu kursi dan mempersilahkan Algeron duduk.

“Sebaiknya kita pergi, ah maksudku sebaiknya kau pergi dari rumah ini”

“Maksudnya?”

“Charlotte, aku tahu jika kau mendengar hal ini kau akan terkejut bahkan mungkin tidak akan mempercayainya tapi aku rasa aku harus menceritakannya”

Charlotte mengangguk dan berkata,”Aku akan siap mendengar apapun”

Seperti biasa, Algeron menarik napas berat sebelum mulai bercerita. Dia memulai dengan kejadian naas yang menimpa ketiga saudarinya saat Edwin pergi menemui mereka. Dia juga menceritakan alasan sebenarnya mengapa Edwin kini berubah. Algeron dengan nada rendah dan keengganan yang besar juga menceritakan tentang rencana Edwin yang ingin menghabisi keluarga Louis seutuhnya, dan menjadikan Charlotte sebagai tumbal. Dia pun tak lupa menambahkan kata menyesal karena telah membuat Edwin seperti itu.

“Aku menyesal menceritakan apa yang terjadi pada kedua keluarga ini padanya. Aku pikir, rasa cintanya padamu lebih besar daripada amarahnya. Tapi ternyata, aku salah . . . salah besar”

Charlotte tetap diam. Wajahnya tampak pucat dan dingin. Bulir – bulir airmata menetes membasahi pipinya. Jauh di dalam hatinya dia ingin menolak dan tidak mempercayai apa yang dikatakan Algeron namun hati kecilnya dengan sigap mengatakan bahwa Algeron pasti berkata jujur.

“A-a-apa yang sebenarnya terjadi p-p-pada keluargaku dan . . .” Charlotte tampak tidak sanggup melanjutkan pertanyaannya. Dia terisak kuat dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang ringkih.

“Aku berjanji akan menceritakannya, tapi lebih baik kita berkemas dan pergi dari tempat ini”

Charlotte terlihat ragu namun Algeron menyebutkan beberapa fakta yang bisa membuatnya yakin. Dan apa yang selama ini terjadi sudah cukup membuatnya sadar tentang satu hal, keluarganya dan keluarga Edwin menyembunyikan sesuatu. Jika dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dia harus mengikuti Algeron dengan membawa setitik harapan.

Algeron menatap Charlotte untuk memastikan keputusan Charlotte. Dia tahu pasti sangat sulit bagi Charlotte untuk segera bergerak dan melakukan apa yang dikatakannya, namun gadis itu menampakkan sebuah semangat yang berbeda. Airmatanya memang masih menetes namun tubuh dan raut wajahnya menampakkan semangat yang kuat untuk menjauhi segala macam masalah. Algeron tahu bahwa sejak kecil, Charlotte pasti telah mengalami banyak penderitaan. Dan kini, disaat hatinya mulai memilih sebuah kebebasan yang dianggapnya terbaik dan akan membawakan kebahagiaan, takdir yang tertulis berkata lain. Algeron tidak yakin ada gadis lain yang akan kuat berdiri seperti Charlotte setelah melewati ini semua.

“Aku siap” kata Charlotte dengan lemah.

Algeron menatap Charlotte dengan tatapan yang menguatkan lalu dengan sigap mengangkat koper milik Charlotte ke dalam bagasi.

“Sebaiknya kau duduk dibelakang dan menutup tubuhmu dengan kain ini” Algeron melempar sebuah kain kotak – kotak tebal ke arah Charlotte.

Charlotte segera menuruti hal tersebut. Dia meringkuk dikursi belakang sambil terus mengingat kembali perkataan Algeron yang baru saja didengarnya. Dia sangat mencintai Edwin dan separuh dari hatinya masih tetap tidak mempercayai hal tersebut dan memaksa dirinya untuk tetap tinggal. Namun, sebagian dari hatinya lagi – bahkan hati kecilnya – menggerakkan naluri bertahan hidup yang ada pada dirinya dan juga sebuah kepastian. Tubuh Charlotte tampak lelah menjalani berbagai macam cobaan, sesekali dia ingin berlari dari semua yang ada tanpa pasrah menerima atau bahkan melawan. Charlotte tahu bahwa pasrah menerima dan melawan kini tidak lagi berlaku karena dirinya akan tetap tersakiti. Selain itu dia ingin memastikan satu hal.

“Sebaiknya aku memastikan ini semua lalu berlari dari mereka” batinnya.

*

Charlotte terbangun dari tidurnya karena mendengar suara Algeron yang memanggil namanya. Dia mengucek kedua matanya dan melihat sekelilingnya yang mulai gelap.

“Sebaiknya kau makan ini, sekarang sudah malam sebaiknya kau diam di dalam mobil”

Algeron menyodorkan dua buah roti gandum dan segelas susu hangat yang tampaknya baru saja dibelinya di sebuah pom bensin yang tampak berkedip beberapa meter dari tempat mereka terdiam.

“Dimana kita?” tanya Charlotte.

“Perbatasan, jangan kaget seperti itu. Aku harus membawamu pergi jauh dari kota ini. Menjauh dari keluarga Sparks dan keluargamu sendiri. Meskipun aku tahu itu adalah hal terkonyol yang pernah dilakukan oleh seseorang karena keluargamu memiliki koneksi yang sangat luas dan keluarga sparks memiliki . . .” Algeron tidak dapat melanjutkan kata – katanya. Dia menjatuhkan kopi yang dipegangnya seperti tersadar akan sesuatu.

“Oh tidak, aku melupakan hal terpenting”

“Kenapa?”

Algeron tidak menjawab pertanyaan Charlotte dan segera berlari ke arah pom bensin setelah mengambil beberapa potong baju milik Charlotte. Beberapa menit kemudian Algeron kembali dengan membawa sekaleng bensin. Dia menarik Charlotte keluar dari dalam mobil.

“Lumuri bensin ini ke tubuhmu”

“Apa kau gila?”

“Cepat !!!! Edwin memiliki penciuman serigala”

Charlotte membelalakkan matany. Algeron menghela napas lalu dengan kesal membasahi tubuh Charlotte dengan bensin. Charlotte mencoba mengelak namun gerakan Algeron tidak dapat diduga sehingga kini badannya telah basah dan berbau bensin.

“Bawa peta ini, kau harus pergi ke tempat yang ku lingkari. Dan ini uang yang akan menjadi bekalmu selama perjalanan. Sebaiknya kau cepat pergi dari sini” kata Algeron tergesa – gesa.
Charlotte tampak bingung dengan itu semua. Dia hanya menatap peta dan beberapa lembar uang yang ada ditangannya.

“Cepat !!! Aku akan menemui ditempat itu dan menceritakan detailnya” Algeron masuk ke dalam mobil dan mengambil sebuah agenda lalu berkata, “aku sudah menyiapkan sebuah penjelasan untukmu jika aku tidak dapat mendampingimu lagi. Aku tidak menyangka akan secepat ini. Semuanya ada di agenda ini, bacalah nanti!”

“Algeron , kau membuatku bingung”

Algeron tidak menggubris perkataan Charlotte dan bergumam, “ Oh tidak, dia datang”

Algeron dengan cekatan mendorong Charlotte dan menyuruhnya berlari sejauh mungkin dari tempat itu meskipun dia mendengar Edwin berteriak memanggil namanya. Charlotte merasa dadanya bergemuruh aneh, namun dia tahu bahwa dia harus menuruti perkataan Algeron.

Tubuh Charlotte menghilang diantara semak dan pepohonan dipinggir jalan tepat saat suara Edwin menggema karena amarah. Charlotte sempat mendengar suara Algeron dan Edwin serta seorang pria yang sedang berdebat sebelum akhirnya dia benar – benar menerobos masuk ke dalam semak belukar.

“KAU MEMBAWA KABUR CHARLOTTE !!!” suara Edwin terdengar keras dan kasar.

“Dia yang mengancamku untuk membawanya pergi karena sikapmu” jawab Algeron.

“BOHONG !!!” teriak seorang pria yang suaranya tidak dikenal Charlotte.

“LANNY ! JANGAN IKUT CAMPUR !!!” suara Edwin kembali menggema.

Setelah itu, Charlotte tidak dapat mendengar dengan jelas perdebatan itu. Dia hanya terus berlari tanpa menoleh ke belakang seperti permintaan Algeron. Peluhnya bercucuran seiring dengan langkah kakinya yang semakin kencang.

“Algeron, semoga kau baik – baik saja”

***

Charlotte telah duduk di depan perapian sambil menikmati secangkir susu hangat. Ditangan kanannya tergenggam sebuah agenda yang diberikan Algeron.

“Seabad lebih keluarga Louis dan Sparks bersitegang mengenai hal yang sebenarnya tidak ku ketahui. Ayah mengatakan padaku jika saatnya sudah tepat aku akan tahu kenyataan itu dan aku harus berjanji agar menjaga kehormatan keluarga Louis”

Charlotte membuka lembar demi lembar berikutnya dengan cepat.

“Hari ini semuanya terungkap. Aku melihat para Nona muda keluarga Louis berpesta di sebuah ruangan gelap. Aku melihat seorang gadis muda berpakaian putih dan berlumuran darah berbaring disana tepat saat Ayah menarikku. Ayah memarahi tingkahku yang tidak tahu malu ini. Aku tertunduk dan hanya berkata, ‘aku sudah tujuh belas Ayah sebaiknya aku tahu’. Ayah menghela napas dan menceritakannya sementara aku bergidik”

Charlotte menerawang jauh, mencoba mengingat kembali rumahnya di desa kecil. Dia ingat bahwa rumah setiap keluarga Louis pasti memiliki sebuah ruang bawah tanah tak tersentuh.

“Mereka keluarga penyihir hitam. Tradisi aneh selalu meliputi keluarga ini. Aku takut berada disini, namun Ayah mengingatkanku bahwa mereka sama sekali tidak tertarik pada darah pria sepertiku. Mereka hanya tertarik pada wanita muda”

Charlotte menutup agenda itu dengan kencang, airmatanya menetes. Sekarang dia tahu penyebab hilangnya beberapa wanita bangsawan muda di desanya. Charlotte kemudian melempar begitu saja agenda hitam itu. Secarik kertas pun tampak mencuat dari tengah agenda. Charlotte memungutnya dan mencoba membaca tulisan melingkar yang tampaknya bukan tulisan Algeron.

“Darah Werewolf untuk kehidupan abadi”

continue . . .


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..