Tampilkan postingan dengan label FIKSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FIKSI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Oktober 2014

TANYA


Aku mulai bertanya pada diriku sendiri tentang detik-detik yang terlewati bersamamu kini. Rasanya sangat asing. Seperti bertemu dengan seseorang yang hanya melintas sekejap di dalam hidupku. Kira-kira apa yang salah?

Terkadang aku ingin bertanya padamu, pahamkah kau apa yang aku inginkan? Sudahkah kau baca buku yang aku rekomendasikan? Mengertikah kau poin dari tiap kalimat yang aku utarakan lewat sms maupun telepon? Namun semua aku urungkan mengingat kejadian demi kejadian terdahulu.

Katamu berhenti bermain tebak-tebakan perasaan. Baiklah, aku mulai berkata jujur apa adanya. Namun tetap saja disalahkan. Sesaat saja aku minta didengarkan apa susahnya?

Aku merindukan hari-hari dimana waktu terasa berlalu sangat cepat. Masing-masing dari kita sibuk menorehkan guratan sketsa. Berdebat sangat panjang seperti sepasang musuh dan setelah itu tertawa melihat keegoisan masing-masing. Mendiskusikan masa depan yang tidak ada habisnya. Saling mencicipi pesanan yang seratus persen berbeda dari selera masing-masing. Kita tertawa bahagia. Aku merindukan jarak yang tidak menjauhkan kita, sesibuk apapun hari yang terlewati.

Aku mulai bertanya-tanya apakah sebaiknya aku mulai menapaki hidup sendiri?

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Senin, 20 Oktober 2014

MENUNGGU


Suasana ruangan ini begitu sepi. Aku merasa ada hawa dingin yang memelukku setiap angin berhembus. Udara pengap mengisi setiap sudut. Beberapa cat dinding tampak terkelupas. Waktu telah lama menelan semuanya. Di atas meja tempatku menatap dalam diam tampak dua buah pot bunga kering. Mengapa benda ini ada di sini? Dan untuk apa aku ke sini?

Tetes air jatuh tepat di atas pot bunga. Langit-langit yang penuh dengan bercak air memanggilku. Aku menengadah. Masih bertanya mengapa aku berada di tempat ini?

Pintu berderit dan terdengar langkah-langkah kaki. Ada seorang pria berdiri di bawah palang pintu. Wajahnya tampak sudah senja. Helai rambutnya memutih seutuhnya. Sama sepertiku, dia ikut menatap pot bunga dan langit-langit yang memiliki bercak. Ah, saat itu aku baru tersadar kalau langit-langit yang meneteskan air sebenarnya terbuat dari kaca. Debu yang tadi menutupinya mulai terkikis. Aku bisa melihat awan mendung bergelayut. Dadaku mulai bergemuruh. Rasanya ada yang menyergap ingatanku. Kenapa aku ada di tempat ini?

Pria itu melangkah mendekatiku. Wajahnya tepat berada di hadapanku. Jantungku berdegup semakin kencang.

“Aliana.” Ucapnya.

Apa ini hanya perasaanku? Sepertinya hawa di ruangan ini mulai berubah, semua terasa hangat. Pria itu mengulurkan tangannya. Mengambil buku lusuh yang ku pangku entah sejak kapan.

“Maaf baru sempat mengambil benda ini. Aku sudah ikhlas.”

Kabut putih mengerubungiku. Aku ingat sekarang kenapa aku berada di sini. Aku menunggunya.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Minggu, 19 Oktober 2014

PATUNG


“Aku hanya ingin didengar.”

Mungkin itu suara yang keluar dari isinya. Patung itu sudah terlalu membisu di sudut ruangan. Ke dua bola matanya bahkan sangat paham akan setiap situasi yang membingkai hari-hari di tempat itu. Ada orang yang menatapnya bingung. Ada pula yang dengan acuh mematikan puntung rokok ditubuh mulusnya.

“Ah hanya patung ini.”

Mungkin itu yang terlintas dipikiran orang-orang tersebut.

“Aku hanya ingin didengar.”

Patung itu kembali mendesah. Ah, rasanya seperti percuma dia protes pada dinding. Hanya keheningan yang kembali ia dapat. Andai saja ia bisa bergerak semaunya, ingin rasanya menendang dinding yang terdiam.

“Kau kesepian?”

Seekor kucing kecil meringkuk di samping patung. Suaranya mengagetkan sang patung.

“Kau berbicara padaku?”

Sang kucing hanya mengeong. Mungkin hanya lamunan.

“Ya aku berbicara padamu.” Ada kata-kata setelah itu.

Kucing kecil menempelkan kepalanya pada sang patung.

“Aku akan mendengar dan menemanimu. Anggap saja ini yang bisa aku lakukan sebagai balas bukti untuk majikanku yang telah tidur dipembaringan terakhirnya.”
Sang patung tersenyum. Hari ini bebannya akan berkurang. Ia berbicara banyak dan kucing kecil terdiam menatap takjub sang patung.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 18 Oktober 2014

GADIS BUNGA MATAHARI


Panas sangat menyengat. Suara serangga-serangga melengking memenuhi ladang bunga. Aku sudah siap dengan topi jeramiku. Mengikat rambutku yang pendek sebahu agar tidak lengket di leher dan membuat gerah.

“Liliana!”

Suara Ibu sudah membahana di belakangku. Ibu pasti ingin melarangku bermain ke ladang bunga. Tapi seperti biasa, aku tidak peduli dan terus berlari.

Hai, namaku Liliana Putri. Anak pertama dari keluarga yang mengabdikan dirinya untuk menjaga ladang bunga. Menurut cerita nenek, keluarga kami sejak jaman dahulu kala sudah menjadi penjaga ladang bunga. Jujur saja aku menyukainya. Apalagi ketika bunga-bunga mulai bermekaran. Wah, luar biasa! Matamu akan dimanjakan oleh warna-warna alam yang sangat indah.

Tahukah kau bunga apa yang aku sukai? Lili? Tebakanmu salah. Meskipun diberi nama Liliana tetapi bunga yang aku sukai adalah bunga matahari. Saking sukanya dengan bunga matahari, aku pernah merengek pada ke dua orang tuaku agar namaku diganti menjadi Matahari Putri. Dan rengekanku tersebut ditolak mentah-mentah.

Aku akan bercerita sedikit mengapa aku sangat menyukai bunga matahari. Semua ini karena dongeng yang diceritakan oleh nenek. Dongeng tentang gadis bunga matahari yang sangat mempesona. Gadis bunga matahari hidup bersama bunga-bunga matahari karena tugasnya adalah menjaga agar bunga-bunga tersebut mekar dengan baik. Tubuhnya mungil selayaknya peri. Ia memiliki sayap berwarna kuning cemerlang. Meskipun begitu, gadis bunga matahari sangat kuat. Ia kokoh seperti kelopak-kelopak bunga matahari yang mekar. Walaupun tugasnya sangat banyak, gadis bunga matahari tidak pernah mengeluh. Ia selalu menebar keceriaan oleh karena itu setiap melihat bunga matahari kau akan merasakan perasaan bahagia dan ceria. Benar-benar gadis pujaan.

Umurku sekitar lima tahun ketika mendengar dongeng tersebut. Mataku berbinar sangat cerah saat nenek menunjukkan gambar gadis bunga matahari. Pada saat itu, aku dengan polosnya mulai giat mencari sosok gadis bunga matahari. Sembunyi diantara deretan bunga matahari yang tingginya melebih tubuhku. Membuat ke dua orang tuaku kebingungan mencari sosokku.

Aku baru saja merayakan ulang tahunku yang ke dua puluh lima. Aku tahu gadis bunga matahari yang diceritakan nenek tidaklah nyata. Mana mungkin ada peri di ladang bunga. Tapi aku tetap ingin menjadi gadis bunga matahari yang selalu mempesona. Dan ritual kabur ke ladang bunga masih tetap aku lakukan. Bukan untuk mencari gadis bunga matahari tetapi untuk bersembunyi. Sejenak menghirup udara di dunia khayal milikku.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 27 Mei 2014

DENGAR [AWAL]

“Aku benci saat mataku terpejam.” Hal itu selalu berdengung dikepala Ariana.

Hari ini seperti biasa ia duduk diantara nyanyian angin yang menyerbu pepohonan. Beberapa wanita dan pria tampak lalu lalang. Sesekali tawa membuncah ketika bisik-bisik kecil dilontarkan. Ariana mengencangkan headset ke telinga, sayang headset sebagus itu hanya menggantung dilehernya. Jempolnya kini tengah memilih lagu mana yang akan ia dengar.

“Boleh aku duduk di sini?”

Ariana mengangguk singkat lalu menutuskan lagu apa yang sebaiknya ia dengar. Sebuah musik klasik dari seorang komposer ternama kini mengalun. Suara dentingan piano yang sangat anggun memanjakan telinga. Semilir angin dan aroma tanah yang basah menambah kenyamanan dihati. Ariana pun terpejam. Jiwanya seakan dibelai oleh suasana yang menyejukan itu.

“Apa yang harus aku lakukan dengan lembar jawaban ini?”

Sebuah suara menyusup ke dalam alunan nada-nada.

“Aku tidak ingin berlaku curang tapi jika aku tidak melakukannya maka . . . maka . . .”

Suara itu semakin jelas terdengar.

“Aku harus bisa mengalahkan anak-anak pindahan itu. Impianku akan hilang begitu saja jika aku tidak melakukan ini. Sudah cukup aku dipermalukan dengan hasil try out kemarin.”

Ariana menghela napas. Ia tahu kini apa yang terjadi. Harusnya ia tidak membiarkan gadis berkacamata tebal tadi duduk di sampingnya. Dan seharusnya lagi, ia tidak terbuai dengan kecup manja alunan lagu serta desah angin sehabis hujan. Entah berapa lama gadis di sebelahnya akan berhenti mengeluh. Mengeluh dalam pikirannya sendiri yang kini sangat mengganggu.

Ariana ingin sekali membuka matanya, namun ia tak kuasa. Kemampuannya membaca pikiran menahannya untuk melakukan itu. Ya, Ariana memang bisa membaca pikiran. Ia bahkan bisa mengubah jalan pikiran seseorang dengan memanipulasinya. Terdengar sangat tidak masuk akal tetapi itulah yang terjadi saat ini. Setiap kali matanya terpejam, tanpa sengaja-atau bisa saja sengaja-alam bawah sadarnya akan terhubung dengan alam bawah sadar orang lain.

“Apa aku harus membuangnya? Atau . . . .”

“Buang saja! Kau harus percaya pada kemampuanmu!” –Ariana memutuskan untuk membantu.

“Tapi . . .”

“Tidak ada kata tapi. Keputusanmu saat ini akan sangat berpengaruh untuk segala hal yang akan kamu jalani ke depannya. Apa kamu mau menodai perjuanganmu selama ini hanya karena sebuah keegoisan? Jika ya, memalukan!” –Ariana sangat berharap perang ini akan segera berakhir.

“Iya, benar juga.”

Temaran jingga mentari sore membuat pandangan sedikit memudar. Ariana menghalangi berkas cahaya itu dengan telapak tangannya.

“Akhirnya . . .” Tanpa sadar ia bergumam.

Gadis berkacamata tebal yang duduk di sebelahnya kini berdiri. Ia merobek beberapa lembar kertas lalu membuangnya ke tong sampah terdekat.

Ariana tersenyum, hari ini tidak terlalu berat tetapi ia tetap benci ketika matanya terpejam.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Minggu, 24 November 2013

TOPENG : TRI



Sudah sejam aku berkutat dengan kertas dan pensil. Membuat tulisan dan gambar tidak jelas seraya menikmati segelas cappuccino. Aku suka tempat ini, kafe diujung gang yang sunyi. Tempat favoritku adalah kursi dipojok dinding. Ada sebuah lukisan taman bunga matahari disana.

Kafe ini adalah panggung sandiwara. Setiap hari ada saja manusia dengan tingkah polah yang aneh. Seperti hari ini, ada pasangan yang datang dengan wajah bahagia. Mereka duduk dalam diam ketika menyantap pesanan. Tanpa ada aba-aba darimana pun, si cewek menangis dan mereka pun meninggalkan kafe dengan wajah cemberut.

Manusia itu unik, aku suka memperhatikan hal tersebut. Dan bagi pelayan kafe ini aku adalah salah satu dari manusia unik tersebut.

“Mbak, gak bosan ke sini setiap hari? Eh bukannya gak boleh loh tapi . . . .”

“Gak bosan kok.” Jawabku sambil tersenyum.

Pelayan itu memperhatikan sekeliling, sepi. Dia duduk disalah satu bangku dan mulai mengajakku berbicara. Terlihat dari gestur tubuhnya, dia butuh teman berbagi. Hanya perlu waktu lima menit untuk memancingnya berbicara. Berjam-jam kemudian semua masalahnya diceritakan begitu lancar. Aku menanggapinya dengan tersenyum dan sesekali mengangguk. Ya, dia hanya butuh didengar.

Sejak saat itu bangku disebelahku jarang sepi. Beberapa pengunjung dan pelayan mulai menghampiriku dan menceritakan berbagai masalah yang mereka hadapi. Ah, banyak sekali manusia yang ingin didengar.

Jika berada di kafe ini aku bisa mendengarkan dengan baik karena aku telah mengubur beberapa topengku dan memilih melangkah kepada kepribadian ini. Aku adalah Tri.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 15 Oktober 2013

PENJAGA WAKTU


Suara jarum jam yang berdetak itu sungguh indah. Dentingnya bergema membentuk rima yang tenang dan pasti. Membuat dunia ini berada dalam zona yang tersusun rapi.  Waktu adalah segalanya. Dia akan berlari tanpa menunggumu. Hal tersebut membuatku kagum. Kecintaanku pada waktu dan jam membuatku dihidupkan kembali sebagai penjaga waktu.

Tugasku adalah menjaga waktu agar tidak melenceng. Terlambat atau cepat satu detik saja bisa mengganggu tatanan dunia. Entah sudah berapa lama aku mengurus perangkat waktu di dalam kastil. Mengawasi manusia yang sibuk di dunia mereka lewat setiap jam yang mereka gunakan.

Aku bisa melihat manusia mana yang menghargai jerih payahku. Mereka akan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Tidak ada satu detik pun yang terbuang percuma. Rasanya bahagia sekali melihat hal itu. Namun ada juga manusia yang seenaknya saja mempermainkan waktu. Menunda. Sengaja melakukan sesuatu tidak tepat waktu. Menumpuk pekerjaan dan mengganggu tatanan hidup. Merusak setiap detik.

Arisa. Dia adalah seorang manusia baik hati yang secara khusus kuperhatikan. Caranya memanfaatkan waktu dan merawat setiap jam di rumahnya membuatku kagum. Hidupnya tidak berjalan mulus. Setidaknya itulah yang dikatakan orang-orang. Aku tidak sepenuhnya percaya karena Arisa selalu terlihat bahagia. Tidak peduli seberapa berat jalan yang dia hadapi. Dia menghargai waktu. Dia kuat.

Aku suka setiap kali Arisa terbangun pada pukul 05.00 tepat, mandi dan merapikan diri. Dia akan pergi ke perpustakaan pukul 04.00 sore, setiap harinya. Dia memanfaatkan waktu dengan tepat. Banyak yang mencibirnya sebagai wanita yang kaku. Arisa hanya tersenyum.

Kini diusianya yang menginjak 50 tahun, Arisa tetap sama seperti Arisa yang aku kenal. Meskipun sering sakit-sakitan, dia tidak pernah membuang waktu dengan percuma. Tanpa sadar aku lebih memperhatikannya daripada menjaga waktu. Suatu malam yang tenang, Arisa mendadak melirik jam besar di kamarnya. Aku yang selalu menatapnya melalui jam besar itu tertegun. Arisa seperti mengetahui bahwa aku terus mengawasinya.

“Penjaga Waktu, terimakasih. Aku tahu kau selalu membantuku. Membangunku dengan alarm yang kencang setiap pagi. Mengingatkanku akan janji-janji yang mungkin terlupa melalui dering nyaringmu. Sepertinya hari ini adalah hari terakhir untukku. Aku akan merindukan semuanya. Waktuku telah habis.”
Mendengar hal itu tanpa sadar membuat tubuhku melangkah keluar dari jam besar. Memegang tangan Arisa yang telah dingin.

“Sama-sama Arisa. Terimakasih juga karena sangat menghargai waktu.”




- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 12 Oktober 2013

DOLL




Aku melihatmu lagi. Langkahmu yang tegap melintas dijalanan yang ramai. Gesit sekali menghindar dari deretan manusia yang berpacu dengan waktu. Wajahmu tampak cemas memikirkan sesuatu. Beberapa kertas mencuat dari balik jas hitam yang kau kenakan. Sepertinya kau terburu-buru. Urusan perkerjaankah? Hmm, mungkin saja. Aku tersenyum menunggu.

Hujan deras membasahi siang di kota. Satu per satu payung dikembangkan. Aku bisa menatap kilauan rintik hujan diantara warna-warninya indah bagaikan kristal yang dilemparkan pada trampolin, memantulkan pesona. Diantara semua kemilau itu, aku berharap dapat melihat sebuah payung biru pudar. Payung usang yang selalu kau gunakan. Aku masih menunggumu.

Waktu berlalu dan malam pun mulai menjelang. Tirai-tirai telah menutupi pandanganku meninggalkan berkas hitam pekat warna malam. Ternyata kau tidak berkunjung. Aku menunggumu, menantikan cerita kisahmu tentang dunia ini. Mengenai kebisingan wanita-wanita ditempat kerjamu, amarah bosmu, atau pun kesedihan tentang dia yang jauh darimu. Aku menikmati setiap detik itu. Caramu berbicara membuatku bisa merasakan setiap alunan kalimat itu. Indah sekali dunia ini. Aku berharap bisa mendapatkan kesempatan untuk keluar dari tempat ini dan menikmati semuanya. Aku boneka kesepian.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Kamis, 03 Oktober 2013

TOPENG : FIA



Malam ini langit terlihat cerah. Bintang membentuk bintik putih di atas sana. Tumpukan lilin tertata rapi diantara kakiku. Api jingga bergoyang mengikuti gerakan angin, sendu tanpa padam sekali pun.

“Kau menikmatinya?” Pria di hadapanku bertanya.

Aku tersenyum.

Tentu saja aku menikmatinya. Mencicipi makanan dari koki terhebat di daratan Eropa. Melihat kerlip lampu dari ruang eksklusif sebuah café. Sajian yang seharusnya diterima oleh seorang wanita.

“Dan untuk hal yang . . .”

“Kita akan membicarakannya nanti Carlos. Aku sedang makan.”

Tanpa mempedulikan tatapan matanya, aku menikmati tiap gigitan steak yang sudah ku potong. Inilah konsekuensi yang harus dia terima jika nekat memaksaku menjadi apa yang dia inginkan. Aku pun bisa berlaku sama. Memaksanya mengikuti kehendakku yang kini sedang berapi-api.

Ini adalah kali ke lima aku memaksanya berkeliling Eropa. Menguras semua hal yang dia miliki, sama seperti apa yang telah dia lakukan.

“Orang tuaku akan datang malam ini.” Dia sibuk memeriksa smartphone miliknya.

“Aku tidak ingin bertemu mereka.”

“Tapi Fia, kau sudah berjanji.”

“Kapan?” Aku menatap lurus ke arah matanya.

Wajahnya yang pucat membuatku sangat bahagia. Sembarang saja dia meraih serbet dan membasuh wajahnya. Dia tampak gugup. Carlos bisa merasakan ketegangan yang merusak batinnya. Hal yang sama seperti yang dirasakan adikku ketika Carlos dengan sepihak membatalkan pernikahan.

“Bukankah kita telah merencanakan ini semua sejak . .”

“Kita?”

Aku berdiri merapikan black mini dress yang ku kenakan, berjalan menjauh darinya.

“Fia!”

“Kau pikir hubungan apa yang kita jalani?”

Wajahnya terlihat sangat ketakutan. Cincin berlian yang sejak tadi digenggamnya kini tergeletak pasrah di lantai. Ke dua orang tuanya yang baru tiba tampak kebingungan. Aku tersenyum santai meninggalkan aura kesedihan di ruangan tersebut. Malam yang sangat indah.

Ayah tidak pernah mengajarkanku untuk membalas dendam, tetapi hidup yang mengajarkanku semuanya. Dan ketika bersamanya aku memutuskan untuk mengubur beberapa topengku. Melangkah dengan satu kepribadian lain. Aku, Fia.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Minggu, 29 September 2013

TOPENG : RAHMA



Ada kalanya aku ingin berteriak ketika jiwa-jiwa di luar sana mulai mengatur tentang bagaimana semestinya bahagia itu. Uang yang melimpah serta kemilau wajah yang bersinar. Aku muak mendengar itu semua. Bukan berarti aku tidak membutuhkan uang atau tidak ingin memiliki kilau tetapi aku jengah diatur dengan peraturan yang bahkan tidak tahu bahwa aku memiliki standar tersendiri.

Hari ini tepat ketika reuni berlangsung, semua raut wajah tampak berseri membagi pengalaman mereka. Ada yang berkata bisa membeli sebuah ferrari dalam seminggu kerja. Ada yang bangga mendapatkan pasangan yang paling keren-well, itu persepsi pribadi yang berbicara. Kepalaku berdenyut cepat, seperti ada yang menusuk isinya dengan sebilah pisau. Dunia apa ini?

Aku memilih duduk menatap fenomena ini. Apa ada yang salah denganku ataukah hanya aku saja yang belum berubah menjadi lebih baik? Ah, oke. Apa itu standar lebih baik?

“Ku lihat kau sudah bisa membeli sebuah rumah baru.”

“. . . .”

“Rahma?”

“Ah ya, hanya sebuah rumah kecil untuk menampung semua ide gilaku.”

“Kau sudah jadi ‘orang’ rupanya.”

Dia membuat tanda kutip pada kata orang. Aku hanya tersenyum dan menggeleng. Hey, apa aku sudah menjadi lebih baik? Entahlah. Aku memutuskan untuk berdiri dan mencari tahu. Bertukar cerita dengan mereka yang aku temui. Sebagian menggeleng dan menatapku heran.

“Kau memilih tempat itu? Rahma, kau bisa mencari tempat yang lebih baik.”

Aku meringis mendengar semua komentar yang mereka ucapkan. Aturan dan standar meluncur bagaikan sebuah pasal-pasal dari tiap mulut mereka. Demi sopan santun, aku memaksakan diri untuk mendengarkan dan sesekali mengangguk. Bukan karena setuju melainkan menunjukkan pada mereka bahwa jiwaku ada bersama mereka, mendengarkan. Dan sepertinya hal itu berhasil karena mereka terus mengoceh tanpa henti. Namun yang tidak mereka sadari adalah kini sebagian dari hatiku mulai berputar di dalam ruangan ini mengumpulkan berbagai macam ide gila.

“Rahma?”

“Ya??”

“Entahlah. Tapi sepertinya kau berubah. Tidak terlalu ceria dan tampak banyak berpikir.”

Aku hanya tersenyum.

Apakah aku berubah? Jika itu standar yang mereka berikan, maka jawabnya adalah iya. Namun jika mengikuti standarku, maka jawabannya tidak. Hari ini aku memutuskan untuk melepaskan topeng itu. Melangkah dengan salah satu kepribadianku. Aku, Rahma.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Jumat, 27 September 2013

NECROMANCER



Jejak derasnya hujan semalam masih tampak jelas disepanjang jalan. Bau lembab menguap diudara. Hawa dingin yang berhembus sejak semalam membuat para penghuni kota enggan melangkahkan kaki mereka keluar rumah. Lebih nyaman berselimut tebal di dalam rumah sambil menikmati secangkir teh atau susu hangat. Namun hal itu tampak tidak berlaku bagi Levi. Tubuhnya yang ringkih terlihat terseok-seok menarik sebuah bungkusan besar. Ke dua telapak tangannya yang telah kapalan mulai membiru. Sesekali dia meniup ke dua telapak tangan tersebut, mencoba memberikan kehangatan. Ujung atap sebuah rumah tua mencuri perhatiannya. Langkah kakinya semakin dipercepat.

Rumah tua di pinggiran sungai tersebut tampak tidak terawat. Berbagai ilalang menutupi pagar karat yang berderit-derit ketika ditiup angin. Pintu kayu mahoninya terlihat rapuh dimakan oleh rayap. Wangi lembab dan bangkai tercium sangat kental dari dalam rumah.

“Kau datang juga.”

Seorang wanita seksi menepuk kepala Levi. Levi tersenyum – yang sebenarnya lebih tampak sebagai sebuah seringai.

“Aku membawakan sesuatu untuk Leona.”

Wanita seksi dihadapan Levi tersenyum melihat bungkusan. Dia memberi isyarat agar Levi mengikutinya ke ruang bawah tanah. Mereka berjalan beriringan, melewati sekat demi sekat ruangan yang meninggalkan cicitan tikus. Sungguh tempat yang sangat menjijikkan. Levi sempat pingsan ketika pertama kali berkunjung ke tempat ini. Penciumannya tidak kuat menghirup aroma campur aduk yang mengelilingi rumah ini.

Hari ini adalah kali ke sepuluh dia berkunjung. Penciumannya sudah mulai terlatih. Dia kini tidak peduli bau busuk yang masih menyengat dari dalam rumah atau hawa dingin yang menusuk kulit. Demi Leona.

Mereka mulai memasuki sebuah lorong yang lebih bersih. Pipa-pipa baja terlihat membeku di bawah lantai. Marmer putih berkilauan di kaki dan dinding. Lorong ini terlihat lebih modern dan bersih. Siapapun tidak akan yakin jika rumah bobrok tadi menyimpan sebuah lorong yang begitu mewah sebagai jalan menuju ruang bawah tanah.

Pintu besar dengan garis-garis lengkung aneh menyambut mereka. Sebuah symbol mencuat di tengah-tengah lengkungan tadi. Simbol yang membawa Levi ke tempat ini. Simbol yang menjadi pesan terakhir Leona.

“Kau harus bertemu Nadine ketika waktuku habis dan bawa aku menuju simbol abadi sehingga tidak akan ada yang dapat memisahkan kita.”

Setahun kata-kata itu bergema di dalam pikiran Levi. Kalimat tersebut dan sebuah coretan tangan Leona menjadi petunjuk bagi Levi untuk menemukan Nadine.

“Leona.”

Levi tak kuasa berlari memeluk sebuah tubuh membusuk di atas meja. Kerinduannya akan sosok manis itu menghalangi logikanya.

“Berhentilah menyentuhnya! Kau hanya akan merusak organnya!”

Nadine menarik kasar Levi. Levi berdiam diri menatap pantulan dirinya pada tetesan air di lantai. Wajahnya tampak sangat kusut. Ke dua matanya terlihat memiliki cekungan yang sangat dalam. Dia lelah.

“Kapan hal ini akan berakhir? Berapa lama lagi aku bisa melihat Leona?”

“Ambillah bungkusan tadi. Lakukan ritual secepat mungkin dan berhenti bertanya.”

Nadine bosan mendengar ocehan Levi yang sama sejak mereka pertama kali bertemu. Dia selalu berharap seandainya Leona menceritakan lebih detail bahwa hal yang mereka lakukan ini butuh waktu yang sangat lama.

Nadine mengenal Leona ketika perkumpulan mereka melakukan ritual pertama, memanggil jiwa ketua yang telah pergi. Mereka berdua menjadi sangat akrab dalam segi apapun, termasuk pemikiran yang bertentangan dengan perkumpulan.

“Kau! Masukan potongan itu ke dalam kuali! Berhentilah meratapi Leona!” teriak Nadine.

Levi tersentak kemudian memasukan potongan yang diminta Nadine. Isi kuali meletup-letup mengeluarkan asap dengan bau yang memusingkan kepala. Nadine mendekati Levi, tangan mereka bertaut satu sama lain. Nadine mulai mengucapkan kalimat-kalimat dalam bahasa yang tidak dapat di mengerti. Setelah dia selesai mengucapkan kalimat-kalimat tadi, Levi mulai menuangkan ramuan busuk ke tubuh Leona. Cairan kental berwarna hijau lumut mulai menutupi jasad Leona yang hampir membusuk.

“Apakah ini akan berhasil?” Levi kembali bertanya.

Nadine mengarahkan pandangannya pada Levi, kemudian mengarahkan telunjuknya pada kaki Leona yang kini tampak segar kembali.

“Ya. Ini baru permulaan.”

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Senin, 19 Agustus 2013

[POISON SERIES] ROSARY PEA


Kisah ini sangat panjang untuk dituturkan karena begitu banyak pelaku di dalamnya. Kisah ini mungkin akan menjadi kisah tanpa akhir. Bersambung hingga bumi berhenti berputar. Mari kita mulai.

Alkisah di sebuah sudut bumi terdapat satu cekungan besar yang ditutupi berjuta-juta pohon. Kanopi-kanopinya lebat selayaknya janggut seorang pria yang tak pernah bercukur. Debur ombak di bawah cekungan itu tampak mengikis karang besar secara perlahan namun pasti. Karang-karang tersebut menjulang kokoh tanpa adanya camar atau pun hewan lain yang bercengkerama. Sepi, seakan tidak ada satu pun makhluk hidup yang berani mendekati.

Angin utara bertiup kencang, membuat berjuta-juta pohon bergoyang indah. Kabut mulai melingkupi tempat tak terjamah itu. Siluet pohon kurus tinggi menari seperti manusia. Satu dua bayangan hitam mulai melompat kearah laut sementara yang lainnya berdiri di atas pohon, memantau sekitar. Mereka adalah penghuni hutan di cekungan tersebut.

Beribu-ribu tahun yang lalu para makhluk ini dikenal sebagai penjaga hutan. Mereka hidup berdampingan dengan manusia dalam damai. Namun seiring dengan berkembangnya teknologi, keberadaan mereka mulai tersingkirkan – tidak dipercaya.

ROSARY PEA



Tetes embun berkilau diterpa sinar matahari pagi. Badai semalam seakan tidak ada artinya ketika keindahan ini terlihat. Rosary Pea, gadis manis berambut putih mulai memainkan jemarinya menyerap embun-embun didedaunan. Gaun pink keunguannya menyapu tanah basah, meninggalkan bercak coklat.

“Segar”

Rosary Pea meneguk kumpulan embun yang dibawanya. Raut wajahnya terlihat bahagia menatap hutan. Inilah tempat yang paling menyenangkan untuknya, hutan di sebuah cekungan yang sepi. Matanya menatap nanar mangkuk putih yang tergeletak diantara sulur pohon. Beberapa biji kacang polong berhamburan. Rosary Pea teringat kejadian beberapa tahun lalu.

Musim panas setahun yang lalu, Rosary Pea melakukan tugas pertamanya. Dia mengunjungi sebuah perkampungan disudut hutan subtropis. Tugasnya adalah melindungi biota hutan yang indah itu. Rosary Pea akhirnya hidup di tengah-tengah penduduk desa. Semua berjalan sangat indah hingga beberapa orang – yang mengaku – datang dari kota  berkunjung.

Mereka menawarkan sejumlah uang untuk beberapa gelondongan kayu.

“Hanya satu dua pohon, tidak masalah. Bisa ditanam lagi”. Kata-kata dari mulut manis mereka berucap.

Para penduduk yang terbuai akan hal itu meng-iya-kan semuanya. Rosary Pea berusaha memperingatkan mereka namun ucapannya dianggap angin lalu bahkan ia diledek karena ucapannya sendiri.

“Kau masih percaya penjaga hutan? Sudah bukan jamannya lagi, gadis muda!”

Rosary Pea menggeram, dia harus melakukan ‘hal itu’. Akhirnya Rosary Pea menghilang dari perkampungan dan masa paceklik pun dimulai. Para penduduk kelimpungan mencari bahan pangan untuk penghidupan. Hutan tempat mereka bernaung telah habis tak bersisa sedangkan orang-orang kota telah kabur entah kemana. Para penduduk berusaha mempertahankan diri dengan melakukan apa saja. Kekacauan pun terjadi. Saling bantai, tangisan, dan amarah mewarnai perkampungan tersebut. Para penduduk tidak punya kekuatan untuk pergi dari tempat tersebut entah kenapa.

Di tengah kekacauan, Rosary Pea muncul kembali membawa semangkuk kacang polong putih. Para penduduk mendekatinya dengan cepat, merebut mangkuk tersebut.

“Tidak usah terburu-buru, aku punya banyak di sini”

Rosary Pea memunculkan mangkuk-mangkuk yang lainnya. Para penduduk yang kelaparan melahap habis kacang polong tersebut tanpa pikir panjang.

“Satu dua tiga”. Hitung Rosary Pea.

Pada hitungan terakhirnya para penduduk mulai tumbang. Mulut mereka mengeluarkan busa putih yang sangat banyak yang disertai dengan kejang-kejang hebat. Dalam waktu beberapa menit para penduduk serempak kehilangan nyawa mereka. Rosary Pea tersenyum dan mengumpulkan kembali mangkuk-mangkuknya.

“Anggap saja aku melakukan ini untuk kalian semua. Meringankan kesulitan hidup kalian karena cepat atau lambat kalian pasti mati. Dan apa yang kulakukan ini juga merupakan balasan dari hutan atas keserakahan kalian”.


***

Penjelasan :

Rosary Pea atau Abrus Precatorius adalah salah satu jenis tanaman kacang polong yang tumbuh di daerah subtropis. Biji tanaman Rosary Pea mengandung suatu senyawa yang dapat membunuh seorang manusia. Senyawa tersebut dinamai abrin yang mengakibatkan kejang, mual, demam, dan disfungsi gula darah. Obat penawar untuk racun tersebut belum ditemukan.

keterangan lebih lanjut : wikipedia

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..