Tampilkan postingan dengan label SINGKAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SINGKAT. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Mei 2014

KISAH KLASIK


Aku dibesarkan dengan dongeng-dongeng klasik yang selalu diceritakan oleh Ibuku. Tentang para leluhur penjaga semesta yang luar biasa. Mereka bagaikan elemen yang selalu ada di dalam kehidupanmu, yang menciptakan siklus siang dan malam. Adalah keturunan Raja Langit yang sekarang entah dimana keberadaannya. Raja Langit memiliki empat puteri yang masing-masing diberi anugerah kekuatan menjaga siklus di dunia. Puteri pertama adalah Puteri Matahari. Ia bertugas membawa cahaya terang yang membuat setiap penghuni bumi bergerak cepat dan tangkas. Puteri ke dua adalah Puteri Bulan, yang bertugas membawa ketenangan dan membuat setiap penghuni bumi merasa nyaman untuk beristirahat. Puteri Awan adalah Puteri ke tiga. Ia bertugas meredam keceriaan Puteri Matahari yang berlebih. Menaungi setiap makhluk bumi dengan keteduhan dan angin sepoi-sepoi. Sementara Puteri bungsu Raja Langit adalah Puteri Bintang. Puteri paling cantik yang bertugas menghiasi gelapnya malam. Membawa cahaya yang indah ketika Puteri Bulan terlalu lelah bersinar.

Di sela tugas yang padat, ketiga puteri tersebut sering mengunjungi bumi. Bahkan ada beberapa bagian dongeng yang mengatakan bahwa mereka menikah dengan ksatria tangkas dari bumi. Dongeng ini memiliki akhir yang kurang menyenangkan. Dikisahkan bahwa ke empat saudara itu bertengkar karena perbuatan Puteri Bintang. Entahlah, ketika aku bertanya hal ini pada Ibu, Ibu menolak menceritakannya lebih detail.

Ibu adalah pendongeng yang baik. Beliau dengan lihai mendeskripsikan tentang wujud setiap tokoh. Dan anehnya aku merasa mengenal setiap tokoh itu. Aku selalu merasa setiap orang yang ada di dalam hidupku adalah karakter dongeng tersebut. Seperti kakek Wisnu yang sangat mirip dengan deskripsi Raja Langit. Ibu yang sangat mirip dengan Puteri Bulan. Aku suka tersenyum sendiri ketika menyadari hal itu. Apa mungkin karena Ibuku yang sangat pandai bercerita atau dongeng tersebut adalah kisah leluhurku? Entahlah. Sejak umur lima tahun aku tidak terlalu peduli akan hal itu hingga ulang tahunku yang ke tujuh belas.

Waktu itu semua anggota keluarga berkumpul. Mulai dari tua dan muda, om, tante, hingga cicit. Ini adalah tradisi keluarga kami. Berhubung aku adalah cucu kesayangan kakek, maka setiap anggota keluarga diwajibkan berkumpul. Sejak pagi bel rumah tidak berhenti berbunyi. Setiap anggota keluarga sibuk membantu seperti akan ada pesta pernikahan.

Malam itu Ibu memakai gaun yang sangat indah. Gaun berwarna putih dengan renda-renda kuning muda. Ibu juga memakai kalung yang menarik perhatianku. Sebuah kalung berbentuk bulan sabit yang terlihat sangat outstanding. Tante Candra dan Sawitri pun menggunakan kalung senada, hanya dengan bentuk yang berbeda yaitu bentuk awan dan matahari. Sejenak aku tertegun, teringat dongeng yang selalu diceritakan Ibu.

“Kenapa perempuan ini datang?”

Bisik-bisik mulai terdengar. Khayalanku mulai terganggu dengan bisik-bisik tersebut. Mataku kemudian tertuju pada sosok seorang wanita yang tampaknya tidak jauh berbeda dari Ibu, tante Candra, dan tante Sawitri.Wanita itu mengenakan gaun putih bersih dan dilehernya tersemat sebuah kalung berbentuk bintang. Kakek Wisnu menyapa ramah wanita itu dan mengajaknya masuk. Beberapa menit kemudian kakek, ibu, tante Candra, tante Sawitri, dan wanita itu terlibat percakapan serius di ruang atas. Aku mengendap-endap, mencoba mencuri dengar karena penasaran.

“Puteri Bintangku sudah kembali.”

Suara Kakek Wisnu terdengar jelas olehku.

“Ayah yang mengundangnya? Setelah kekacauan yang dia buat di langit kita?”

Itu suara tante Candra.

“Sudahlah kak, toh kita butuh penjelasan tentang hal yang dulu terjadi . . .”

Suara Ibu menggantung begitu saja.

“Kau terlalu baik padanya. Ingat, dia mencoba mencuri semua sinarmu. Mengambil apa yang menjadi tugasmu dan merebut posisimu sebagai puteri bulan. Bahkan hampir saja merebut tunanganmu.”

Aku tertegun. Sebentar, apa yang baru saja aku dengar sama persis dengan dongeng yang dikisahkan oleh Ibu. Puteri Bintang yang selalu iri pada kakak-kakaknya mencoba melakukan kecurangan dengan menghancurkan reputasi Puteri Bulan.

Aku hampir limbung mendengar fakta yang baru saja aku dapat. Apakah dongeng itu nyata?

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Rabu, 09 Januari 2013

TUAN SEDERHANA DAN TUAN BIJAKSANA

Aku punya cerita. Tentang dia, si kalem yang misterius. Mereka memanggilnya Tuan Sederhana. Hidupnya menatap mantap tanpa meninggalkan pijakan. Iya, dia memang sangat sederhana. Tidak heran wajahku bersemu malu menatapnya kagum. Aku kagum melihat kesederhaan pandangan hidupnya. Pesonanya yang menunggu satu hati. Aku bersemu karena kagum.

Aku punya cerita. Tentang dia, si pendiam yang mempunyai senyuman manis. Mereka memanggilnya Tuan Bijaksana. Mungkin bagi beberapa orang, dia terkesan plin-plan tapi bagiku itulah sisi dewasa penerimaannya. Bukankah kepastian sejati memang milik Yang Maha Kuasa? Sudah, tidak perlu diperdebatkan. Yang jelas, wajahku memanas dan bersemu lebih merah ketika mencoba meliriknya. Ya, aku selalu mencoba menunduk dan melirik sekilas. Itu lebih baik.



- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Jumat, 28 Desember 2012

ILALANG SORE


Hallo ilalang sore. Aku mau bercerita.
Belakangan ini banyak sekali derita dan rasa sakit. Entah menimpa mereka, dia, bahkan aku. Ada yang merengutkan wajah. Mencaci kesibukan. Nelangsa meratapi hidup sendiri. Bercuap tentang hampa dan mengenaskannya hidup. Mereka bisa berbagi.

Hallo ilalang sore. Aku mau bercerita.
Sudah terhitung beberapa hari aku bergelung dengan sakit yang menusuk. Menggeliat setiap malam, menangis tiada henti. Tapi apa daya seorang manusia yang sejak dulu bersembunyi? Tidak ada yang tahu.

Hallo ilalang sore.

Jika aku tidak mengajakmu berbicara lagi, mungkin aku sudah menemukan jalanku. Merentangkan sayap menuju nirwana.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Rabu, 26 Desember 2012

CUKUP SUDAH

Tatkala kau pikir segala pujian itu indah, mohon pikir sekali lagi. Beberapa hari ini Cahaya sibuk mematutkan bayangan tubuhnya diantara lingkar kehidupan. Merangkai berbagai pola makna dibalik semua sirat rona kebahagiaan. Tidak terhitung berapa kali airmatanya mengalir.

Malam ini, malam keseratus. Genap sudah bulir airmata jatuh merembes kain selimut miliknya. Suara-suara sumbang penuh caci merobek jantung hatinya. Mereka yang dulu mengagungkannya, melempar dia begitu saja. Hanya karena setitik noda. Apalah arti susu sebelanga jika ada nila menetes di kualinya, begitu kata orang.

Tatkala kau pikir segala pujian itu indah, mohon pikir sekali lagi.

Manusia selalu merasa benar untuk urusan kehidupan. Padahal kuasa Tuhan jauh lebih benar, siapa kita berani sekali menghakimi seseorang? (catatan lain, pengingat diri, maaf atas segala salah)

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Rabu, 19 Desember 2012

PIMPI SI PELUKIS MIMPI

namanya Pimpi, umurnya tidak diketahui

Sebuah penghapus menggelinding pasrah dari atas meja, tersenggol siku yang runcing dan bergerak ke sana kemari. Rautan pensil memenuhi meja, sudut-sudut kaki meja, bahkan tegel putih bersih. Beberapa cat tampak tumpah begitu saja, meresap di atas kain kanvas yang membisu di bawah meja.

"Yah yah . ." Pimpi mendesis melihat tumpahan cat.

Tangan mungilnya dengan sigap menyamarkan tetesan cat. Padang bunga yang tadi dibuatnya kembali sempurna. Warna-warni dengan bau tiner membekas pada kanvas. Pimpi melompat ke atas kursi, mulai melanjutkan sketsa puteri duyung berambut kuning. Sesekali digigitnya crayola dengan gemas. Menepuk-nepuk crayola itu ke ujung meja.

Done.

Dia bergumam di dalam hati, membuka lembar sketchbook A5 miliknya. Titik-titik kembali menjalin, memilin warna crayola menjadi sebuah garis. Seorang gadis berambut pink dengan topi mungil di ujung kepalanya pun mencuat. Lembaran sketchbook putih tadi telah berubah. Pimpi tersenyum.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 18 Desember 2012

KEPEDULIAN BULAN MENANAM POHON

Tanah basah berhamburan. Dua sekop kecil mencungkil gundukan tanah dengan cepat. Srek. Srek. Sarung tangan karet kebesaran membungkus tangan-tangan mungil pemegang sekop.

Splash.

Gundukan kecil tanah yang dicungkil melompat pintar ke wajah salah satu anak. Anak lelaki tersebut otomatis jatuh terjengkang, kaget bukan main.

"Maafkan Bulan"

Lap sana. Lap sini. Tangan kecil itu selincah mungkin membantu mengebaskan tanah. Tapi bukannya makin bersih, wajah anak lelaki dihadapannya malah coreng moreng.

"Wajah Bintang jadi aneh" gadis kecil itu tertawa terbahak-bahak.

Anak lelaki yang dipanggil Bintang pun ikut tertawa menyadari bahwa wajahnya pasti telah sangat kotor. Butuh waktu semenit lebih untuk berhenti tertawa dan saling melempar tanah untuk kembali pada kerjaan mereka sejak sore. Wajah-wajah ceria penuh tawa tadi berubah bersinar. Mereka bersemangat.

Hari ini Bulan bersama tetangganya, Bintang, diajak bermain di salah satu sekolah taman oleh Tante Mery. Sekolah yang mengajarkan anak kecil untuk mencintai alam. Sejak pagi Bulan dan Bintang sibuk mengejar-ngejar anak ayam, memperhatikan proses menetasnya anak ayam, dan memerah susu sapi. Siangnya mereka dibiarkan beristirahat dan sorenya mereka dibebaskan untuk memilih ingin melakukan apapun. Bulan memilih untuk menanam pohon.

Sejak pertama kali datang ke tempat ini, Bulan terkesima melihat pohon raksasa yang ditunjukkan Kak Citra. Kata Kak Citra pohon itu bisa tumbuh dengan indah karena dicintai oleh masyarakat disekitarnya. Tidak ada yang jahil menebas, menggoreskan nama dibatangnya, atau bahkan sekedar iseng mematahkan ranting-ranting rapuh pohon tersebut.

Bulan sepenuhnya terkesima. Matanya berbinar melihat kanopi yang terbentang sangat indah. Sempurna menaunginya dan anak-anak lain dari terpaan sinar matahari. Wush. Wush. Angin yang berhembus pun terasa sangat sejuk. Berbeda sekali dengan suasana kota yang telah sesak oleh gedung pencakar langit.

"Bulan menanam pohon bareng Bintang" teriak Bulan ceria.

Tante Mery mengangguk khidmat. Kak Citra mengambil beberapa benih bunga akasia dan anakan pohon pinus. Memeluk Bulan dan Bintang. Dia senang Bulan menanam pohon dengannya.

"Cepat gede ya pohon" Bulan bergumam.

"Cepat gede" Bintang ikut bergumam.

Kak Citra tersenyum melihat kepolosan itu. Ah indah sekali. Andaikan saja semua orang berpikiran polos seperti ini. Penuh cinta dan mata berbinar memandang keindahan pohon hingga ikut melestarikannya. Hingga dapat kembali merasakan kesejukan dari Maha Pencipta. Kesegaran yang sebenarnya, yang tercipta dari kumpulan kanopi-kanopi pohon.

Andaikan saja semua orang bisa mengerti ini sebelum era modernisasi merenggut semuanya. Ya, semoga saja era modernisasi tidak mengubah kota kecil ini menjadi seperti kota Thneedville dalam film Dr.Seuss The Lorax. Tidak ada pohon asli. Tidak ada udara segar asli. Yang ada hanyalah pohon plastik dan udara segar buatan yang dijual seperti air galon. Ah, mengenaskan sekali.

Nih lihat, akibat sok tahunya manusia "cuma potong satu pohon aja kok, kan demi kebaikan" How bad it possibly be? Just look at it!

Kak Citra kembali tersenyum. Membuang jauh pemikiran buruknya. Setidaknya di tempat ini masih ada anak sekecil Bulan dan Bintang yang peduli terhadap kelestarian pohon. Ya, setidaknya masih ada yang peduli. Semoga kita juga begitu.

Mari menanam pohon!


You don't know me but names Sai
I'm just the O'Hare delivery guy
But it seems like trees might be worth a try
So I say let it grow

My name is Dan, and my name's Rose
Our son Wesley kind of glows
And that's not good so we suppose
We should let it grow

Let it grow
Let it grow
You can't reap what you don't sow
Plant a seed inside the earth
Just one way to know it's worth
Let's celebrate the world's rebirth
We say let it grow

My name's Maria and I am 3
I would really like to see a tree
Lalalalalalee
I say let it grow

I'm granny Norma I'm old and I got grey hair
But I remember when trees were everywhere
And no one had to pay for air
So I say let it grow

Let it grow
Let it grow
Like it did so long ago
Maybe it's just one tiny seed
But it's all we really need
It's time to change the life we lead
Time to let it grow

My name's O'Hare
I'm one of you
I live here in Thneedville too
The things you say just might be true
It could be time to start anew
And maybe change my point of view
Nah! I say let it die
Let it die, let it die
Let it shrivel up and die
Come one who's with me huh?

Nobody.

You greedy dirt bag!

Let it grow
Let it grow
Let the love inside ya show
Plant a seed inside the earth
Just one way to know it's worth
Let's celebrate the world's rebirth

We say let it grow
Let it grow
Let it grow
You can't reap what you don't sow
It's just one tiny seed
But it's all we really need
It's time to banish all your greed
Imagine Thneedville flowered and treed
Let this be our solemn creed
We say let it grow (x4)


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 15 Desember 2012

HARI BERSAMANYA

Detik jam berbunyi. Tik tok tik tok. Seakan membahana disetiap sudut ruangan. Sunyi sekali. Pagi telah menyambut matahari mengagetkan tiap pelelap dengan sinarnya yang menembus setiap celah rumah. Cerah. Mataku yang terbuka sejak semalam mengerling semangat. Hari yang ku tunggu.

Berlari secepat kilat menuju kamar mandi. Jebar jebur selama beberapa menit. Merapikan penampilan. Balik sana. Balik sini. Ah, genit sekali tampaknya untuk ukuran cowok sepertiku.

Wush!!

Secepat kilat aku berangkat, mengendarai sepeda motor tua. Bunyinya yang mengganggu telinga menjadi teriakan setiap pengguna jalan. Ah, peduli apa.

Splash!

Hampir saja aku menabrak seorang pejalan kaki. Orang tersebut memaki dengan kasar. A B C D, entah apa yang jadi sumpah serapahnya. Seluruh bagian tubuhku telah terfokus pada satu titik. Si sweater biru. Rambut sebahunya menari mengikuti gerakan angin, seakan melambai padaku.

"Ayo Lian belai saja" sebuah suara kecil berbisik-bisik. Imajinasi liar.

Senyumnya merekah seindah mawar di taman. Dua buah garis di bawah mata terbentuk. Manis sekali. Aku berdiam diri menikmati keindahan itu. Tuhan, terimakasih telah memberikanku kesempatan untuk menatapnya seperti ini walau hanya dari jauh, setiap pagi. Tuhan, terimakasih telah menciptakan makhluk seindah dia, sahabatku.

"Lian . . ." tangannya melambai dari jauh.

Aku merapatkan jaket. Saatnya berubah menjadi seorang sahabat.



Lagu penenang, nada dering hape. Entah kenapa suka banget sama lagu ini apalagi versi akustiknya. Jempol!!

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Jumat, 14 Desember 2012

YOSH!

"Jatuh loh kak, jatuh" Camon mendorong tubuh saya yang sebagian telah berada di ujung tempat tidur.

"Eh Ca, tinggi loh ini. Ca . . . Ca . . ."

Tangan Camon mulai jahil menggelitik perut. Sunggu, saya benci dikelitikin. Sigap ke dua tangan saya menahan tangan Camon. Dengan posisi setengah badan hampir terjatuh, hal ini tidak mudah.

Hap! Hap!

Tangan Camon berhasil saya kunci.

"Kak Pit kecil tapi tenaganya gede lah. Udah hampir jatuh bisaan aja nahan tanganku" Camon tertawa, maklum badan saya memang paling kecil di kost.

Kejadian ini secara tidak langsung menarik rasa rindu saya terhadap dojo (tempat latihan karate). Dulu, tiap sore sepulang dari kursus tambahan atau kumpul kelompok karya ilmiah remaja, saya menyempatkan waktu untuk berlatih karate. Sejak kecil badan saya memang lemah. Kata orang, badan selidi ini ditiup angin pun pasti terbang. Ah kalian perhatian sekali.

Jujur, saya adalah salah satu orang yang kurang suka olahraga. Ayah saya terhitung jago sekali dalam berolahraga, sepakbola, voli, basket, bulu tangkis, dan lain-lain. Ibu saya juga, selain rutin mengikuti senam body language, Ibu juga berprestasi dalam tenis meja dan bulu tangkis. Piala yang berjejer di ruang tengah adalah milik beliau. Sedangkan adik saya, sekecil itu (ketika SD) sudah jago melakukan smash keras terhadap saya ketika bermain bulu tangkis.

"Tri beda, dia lebih suka mikir" gumam Ayah sembari memperkenalkan catur terhadap saya.

Iya, permainan sejak kecil saya memang menggunakan otak. Entah puzzle, lego, teka-teki, atau sudoku. Sejak masuk SMA, saya mulai tertarik mengikuti bela diri. Alasan awalnya sih biar kuat ketika lari. Jaman sekolah dulu, guru olahraga saya keras sekali. Beliau tidak pandang bulu. Bayangkan, pemanasan dengan lari mengelilingi satu sekolah ditambah sekolah SMP terdekat ditambah kantor-kantor sekitar. Tidak hanya disitu, push up dan sit up pun setia menunggu. Waktu lari pun dihitung. Bisa terbayang gimana takutnya saya mendapatkan nilai merah pada pelajaran ini jika kondisi saya tidak meningkat?

Awalnya saya mencoba berlatih bulu tangkis mengikuti Ibu. Tapi saya bosan. Seorang teman mengajak ikut karate, saya yang memang ingin berlatih bela diri dan meningkatkan stamina pun mengikuti latihan tiap sore.

Dan waw, keras sekali latihan karate. Berlari melingkar selama dua puluh kali untuk setiap gaya lari. Lari cepat, lari biasa, lari jinjit, lari menyamping, lari dengan gaya mengangkat kaki setinggi perut, dan sebagainya.

"Push up!"

Itulah teriakan Senpai jika kita telat hadir atau telat melakukan gerakan.

Memulai memang berat. Saya ingin menangis dan meringis. Bayangkan, kita disuruh berbaring sambil melakukan sikap lilin. Senpai berjalan dan meninju perut kita. Latihan kekuatan perut katanya. Wajar dong kalau saya meringis karena saya tidak tahu akan hal ini. Tunggu, tidak tahu atau tidak menyimak? Ah sudahlah.

Hari berganti hari. Saya mulai belajar dari awal, ban putih. (saya mencoba menulis apa yang saya ingat)

Tsuki berasal dari bahasa jepang yang berarti dorongan, bulan (yang ada di atas langit), bulan (Januari, dll) tergantung penulisan. Latihan awal dengan Salah satu tangan lurus ke depan, tangan yang lain di samping pinggul dengan jari jemari dikatupkan. Kemudian ditambah dengan salah satu kaki menekuk dan kaki lainnya lurus ke belakang, berjarak dua tegel (saya sering di-tackle atau dijegal Senpai ketika bukaan kaki saya cuma berkisar satu setengah tegel) setelah lancar dengan perpindahan tangan.  Hal yang susah adalah ketika melakukan perpindahan dari tangan kiri ke kanan dengan gerakan kaki yang di buka (berbeda dengan gerakan kaki yang hanya terdiam). Ke dua tangan kamu harus memutar di depan selaras dengan langkah kaki yang membuka dan berpindah. Sebelum memutar tangan, tangan kamu yang tadinya menghadap ke bawah harus menghadap ke atas dan kembali lagi ke bawah dengan cepat. Saya butuh waktu tiga hari buat menguasai perpindahan ini. Tentu saja dengan kuda-kuda yang masih lemah dan genggaman tangan yang lemah pula. Belum sempurna. Variasi tsuki beraneka ragam. Saya lupa nama jelasnya, silahkan cari di gugel. Yang tadi saya jabarkan hanya gerakan dasarnya. Yang saya ingat ada gerakan memukul tepat ke depan, memukul dengan tangan yang masih bergerak (berpindah), pukulan mengaitkan tangan, pukulan belakang, dan sebagainya, entah apa julukan aslinya.

Di video ini selain ada conton tsuki, ada pula contoh pemanasan karate. Terlihat mudah awalnya tapi setelah dicoba, SUPER! Otot kaki ketarik-tarik, sukses bikin pemula seperti saya pincang dan pegal-pegal selama seminggu awal.


Geri, oke bagian ini saya cuma mengingat tendangan. Kata Sensei (pengajar senior dengan ban hitam), tendangan kaki kiri saya paling jelek. Ya, saya tahu. Salah satu pemanasan karate adalah split (ditempat saya latihan). Split lurus, menyamping kiri dan kanan. Saya sempurna bisa melakukannya, namun ketika melakukan split kiri, bagian paha saya terpelintir entah bagaimana caranya. Itu yang mengakibatkan tendangan kaki kiri saya tidak selurus kaki kanan. Balik ke geri. Kamu tahu, saya merasa berlatih balet ketika melakukan geri. Kaki kita harus kuat menendang ke depan dengan lurus, ini dasarnya. Yang paling susah buat saya adalah tendangan yang menyamping dan yang paling saya suka adalah tendangan memutar serta tendangan cangkul (saya lupa nama Jepangnya apa).

Nah ini salah satu gerakan tendangan favorit saya.

Berikutnya adalah kumite, kata, dan kihon. Biasanya ketiga ini dijadikan bahan ujian kenaikan sabuk (kalau tidak salah ingat).

Kihon adalah awal sebelum melakukan kata dan kumite. Ban putih biasanya melakukan kihon, belajar melakukan tendangan dan pukulan semacam tsuki dan geri tadi. Pada ban selanjutnya (kalau gak salah ban cokelat atau hijau, entah saya lupa) akan belajar tentang bantingan.

Kata merupakan  pola prinsip bertarung. Biasanya berisi variasi bentuk gerakan. Ada tingkatannya juga. Semakin tinggi tingkatan, semakin beragam variasi kata.

Dan kumite biasanya untuk para Senpai. Bisa diartikan kumite ini semacam sparing.


Sekilas itulah beberapa gerakan yang sangat ingat dari karate. Selain itu, semenjak berlatih karate (dulu) saya bisa lebih me-manage waktu. Bisa mengeluarkan emosi jiwa juga ketika melakukan kiai (atau teriakan karate). Kata Senpai, kiai membantu kita mengeluarkan energi di dalam tubuh makanya jangan heran kalau latihan karate dipenuh dengan teriakan Osh (teriakan hampir seurpa yosh atau osh dengan sh yang panjang, ini berarti setuju atau ya) atau Osu (teriakan serupa Os, dengan s yang pendek, ini berarti ya dan siap melakukan hal yang lebih baik).

Selain kiai dan jenis teriakan di atas, ada beberapa istilah dalam karate lagi yang saya ingat.

Dojo berarti tempat latihan. Sensei merujuk pada senior, biasanya yang sudah dan (sabuk hitam). Deshi merujuk kepada murid, Senpai merujuk kepada panggilan kakak senior sedangkan  panggilan junior biasanya sih Kohai. Jadi, Senpai dan Kohai merupakan Deshi (kalau tidak salah ingat).

Yame berarti berhenti dan ketika Senpai berteriak Yasume (rileks, dibaca yasme) berarti kita harus berada dalam posisi diam dan siap. Biasanya Senpai akan meneriakkan dua kata itu bersamaan semacam "Hai, Yame! Yasume!"

Baju karate biasa diberi istilah karategi dan untuk orang yang berlatih karate biasa disebut karateka. Sejauh ini itu yang saya ingat. Ah menulis ini membuka kenangan lama dan hasrat berlatih karate lagi semakin meningkat. Sepertinya kuda-kuda saya sudah tidak sekuat dulu dan gerakan kata sudah mulai terlupakan.

Semoga bisa berlatih karate lagi. YOSH! GANBARIMASU!




- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

INI TENGAH MALAM

Ini memang tengah malam. Tidak ada cahaya matahari seperti pagi tetapi ada hembusan angin sejuk. Emm, sejuk atau dingin? Ah entahlah.

Ini memang tengah malam. Ketika semua mata terpejam sementara mata saya mulai 'menyala' bagaikan lampu yang dipencet tombol on-nya.

Ini memang tengah malam. Suara dengkuran dari kamar depan terdengar jelas. Wah nyenyak sekali tidurnya. Saya cuma bisa senyum-senyum dari balik jendela. Apa saya juga tertidur seperti itu? atau bahkan lebih parah? Ah mana mungkin, toh selama ini tidak ada yang komplain ketika tidur berdua dengan saya.

Ini memang tengah malam. Tangan sibuk mengetik, menuang kilasan mimpi-mimpi yang muncul beberapa hari belakangan ini. Kau tahu, entah kenapa saya jadi rajin sekali menulis fiksi walaupun hanya dengan satu atau dua halaman. Itu karena mimpi yang memaksa saya bertemu dengan tengah malam.

Beberapa hari yang lalu saya bermimpi memliki rumah singgah, muncullah tulisan Amir Amira yang hingga sekarang tidak saya ketahui ujung ceritanya ada dimana. Esoknya saya bermimpi terjebak di dalam sebuah permainan yang mengharuskan saya si gadis lemah (di dalam mimpi itu) untuk bertarung demi menyelamatkan seorang pria, yang sejak dulu saya suka dengan rasa terpendam, muncullah Permainan Cinta untuk Arimbi. Kemarin saya bermimpi hidup sebagai gadis lemah, setiap hari hanya menangis, mengais tumpukan sampah demi mencari uang. Badan bau sangit, rambut acak-acakan, dan wajah coreng moreng. Dibalik itu semua ternyata saya jatuh hati terhadap seorang pria, dingin sekali sikapnya. Jangankan menyapa, tersenyum pun enggan. Entah bagaimana caranya (namanya juga mimpi) saya bisa menghabiskan waktu berkeliling kota bersama pria itu. Menangis dipunggungnya karena merasa itu semua mimpi (hey itu memang mimpi). Merasakan debaran yang tidak biasa. Untuk mimpi ini, saya belum membuat cerita tetapi saya telah memikirkan satu judul, Punggung Hangat Pria Dingin.

Ini memang tengah malam. Masih banyak mimpi yang lainnya tetapi tiga mimpi tadi sungguh sangat menarik perhatian saya. Entah kenapa, saya merasa sosok pria itu selalu muncul di dalam mimpi saya, iya pria yang sama. Wajahnya samar tetapi bentuk badannya tergambar jelas. Tinggi, tegap, memiliki punggung yang hangat.

Ini memang tengah malam. Sudah itu saja, saya mau menghabiskan sisa waktu untuk membaca ulang.



- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Rabu, 12 Desember 2012

KISAH TANPA AKHIR

Kisah ini dimulai ketika pagi yang lembut menyapa sebuah kota. Kota kecil dengan pesona surga.

"Selamat pagi dunia."

Teriakan cempreng di balkon menggema. Dua buah tangan kecil terangkat tinggi-tinggi. Regangkan badan sedikit. Bengkok ke kanan lalu ke kiri. Mata mengerjap-ngerjap ringan, mencoba beradaptasi dengan terpaan matahari pagi.

"Hari, kamu bangun pagi sekali"

Suara jahil berbunyi. Wajah bahagia sirna diganti dengan lipatan-lipatan wajah menggemaskan.

"Kak Cinta, namaku Matahari bukan Hari. Kayak cowok aja sih"

"Kamu kan memang cowok" Cinta mengacak jahil rambut adiknya.

"Aku cewek kak, cuma ya memang bagian ini kecil" Matahari menatap dadanya dengan pilu.

Cinta serba salah. Dia sudah berjanji tidak akan membahas hal ini namun kebiasaannya memanggil Matahari cowok sedikit banyak membuka bagian itu.

"Obatnya Nona Matahari" 

Matahari tertawa riang, meraih obat dari suster dan menenggaknya dengan cepat. Lihatlah wajahnya cerah sekali seperti namanya. Tidak ada gurat sedih sehabis operasi. Tidak ada gurat penyesalan menghabiskan waktu remajanya di rumah sakit, terapi ini, terapi itu. Mengembalikan kondisinya seperti sedia kala. Sebelum  kanker payudara menyerang.

"Jam berapa anak-anak itu bangun?" tanya Matahari pada suster seraya menyisir rambutnya yang amat tipis.

"Sebentar lagi"

Suster hanya tersenyum. Matahari selalu ceria menyambut pagi. Berlari ke sana kemari. Berkunjung ke bangsal anak-anak. Melipat origami, menggambar, bercerita kepada mereka. Mengembalikan semangat hidup sekitarnya.

Matahari seutuhnya tahu hidupnya tinggal menghitung waktu. Entah beberapa tahun, bulan, besok, bahkan mungkin sore ini semua napas titipannya bisa diambil begitu saja. Matahari seutuhnya telah terbebas dari kanker payudara itu tetapi penyakit lain ternyata telah bersemanyam di dalam tubuhnya.

Banyak yang menatap prihatin gadis itu ketika mendengar semuanya. Namun lihatlah Matahari, dia tetap tersenyum seolah-olah semuanya baik-baik saja. Matahari tegar. Matahari kuat. Itulah yang selalu ingin dia tunjukkan kepada semua orang. Hatinya sudah terlanjur remuk melihat ke dua orang tua dan kakaknya menangis. Merutuki hidup sepanjang hari. Matahari tidak ingin melihat itu lagi. Dia hanya ingin meninggalkan semuanya dengan senyum.

"Kak Cinta ikut?"

Cinta mengangguk. Hatinya perih namun dia tetap tersenyum.

"Kak Candra gak ikut ke sini?" Matahari memulai pertanyaan menusuk.

Candra adalah tunangan Cinta. Sebelum tragedi Matahari yang sakit-sakitan terjadi, mereka telah berencana untuk segera menikah. Tapi semuanya pupus. Cinta sangat sayang terhadap adiknya, dia tidak ingin meninggalkan adiknya untuk kehidupan yang baru.

"Sampai kapan pernikahannya ditunda?" Matahari sudah menahan pertanyaan ini sejak lama.

"Kita bicarakan itu nanti saja. Ayo cepat, anak-anak mungkin sudah menunggu" Cinta menarik tangan Matahari.

Matahari terdiam, melepaskan tarikan tersebut dengan paksa. Keceriaan itu memudar.

"Matahari mau melihat kakak menikah sebelum Matahari meninggal"

Bibir tipisnya berkata lirih.

*

Bunga matahari merekah di sana sini. Para tamu dengan berbagai setelan baju tersenyum bahagia. Hari ini Cinta menikah sesuai dengan permintaan Matahari. Pipi Cinta merona merah, tangannya mengamit Candra ketika mengelilingi taman. Menyapa para undangan satu per satu.

"Konsep nikahmu bagus sekali. Bunga mataharinya cerah. Aku juga mau kayak gini nanti ya sayang" seorang tamu merajuk manja pada kekasihnya.

Cinta tersenyum simpul. Candra menguatkan genggaman tangannya.

Puluhan anak kecil dengan wajah pucat mulai menyanyi. Tangan mereka melambai indah. Beberapa suster tampak siaga di samping mereka. Cinta menangis haru. Ini permintaan Matahari.

Sebulan sebelum pernikahan dilangsungkan, Matahari menghembuskan napasnya. Seketika langit berduka. Suasana Rumah Sakit menjadi kelam selama beberapa minggu. Tidak ada lagi Matahari dan senyumnya.

"Matahari sudah bahagia di atas langit. Matahari akan menunggu semuanya dengan tersenyum jadi tersenyumlah mengantar Matahari."

Beberapa baris kalimat terakhir yang menguatkan.

Kata orang kematian bukan akhir dari segalanya. Ya itu benar. Kematian bukan akhir dari Matahari karena meskipun raganya memiliki batas untuk bertahan tetapi cerahnya kebahagiaan yang dia tabur masih tetap tertinggal.

Tamat. Ah tidak, kisah ini tidak memiliki akhir. Selama kebaikan Matahari masih hangat dibicarakan di bumi, selama masih ada senyum yang tersisa dari kenangan Matahari.



- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 11 Desember 2012

WINARA CINTA RAMA CINTA SINTA

Lonceng di tengah kota berdentang tiga kali. Langkah kaki berlomba menyusuri jalanan dengan petak persegi. Potongan bunga terhambur di sana sini. Wajah-wajah penuh senyum ikut menjelajah sore itu.

Selamat atas pernikahannya

Semoga cepat dapat momongan ya

Aduh, pengen cepat nyusul deh

Banyak sekali komentar yang terlontar dari mulu para tamu. Hanya Winara yang manyun. Bibirnya ditekuk sedemikian rupa ke depan, matanya menyipit, dan dahinya berlipat. Dia kesal setengah mati melihat ini semua.

Sepuluh tahun dihabiskannya menemani Rama tidaklah cukup untuk menunjukkan bahwa dialah yang pantas menjadi pendamping Rama. Sementara Sinta yang muncul dalam waktu hanya lima bulan, dapat dengan mudah mengambil seluruh cinta Rama.

Ah, bukankah Rama memang untuk Sinta?

Tidak. Dengan cepat Winara menepis pemikiran itu. Dialah yang seharusnya bersama Rama. Dialah yang paling mengerti Rama, bukan Sinta atau siapa pun. Rama sempurna untuknya dan dia sempurna untuk Rama sedangkan Sinta, hanya seorang gadis biasa dengan pendidikan rendah. Tidak punya kemampuan spesial.

*
Berpuluh-puluh tahun berlalu dengan cepat. Winara masih saja menyindiri. Hidupnya dihabiskan untuk mengganggu kehidupan Rama dan Sinta. Namun lihatlah, Rama dan Sinta tetap hidup bahagia. Dua anak mereka bahkan tumbuh dengan sangat sehat. Dan hari ini, salah satu anak mereka akan menikah. Di tempat yang sama.

Lonceng di tengah kota berdentang lagi. Suasana berpuluh-puluh tahun kembali menghampiri tempat itu. Winara masih memasang wajah tidak menyenangkan. Hatinya kesal setengah mati. Dia masih tetap percaya bahwa Rama memang tercipta untuknya. Sementara Rama tidak peduli dengan semua itu, dia bahagia menikmati hidupnya bersama Sinta.

*

Cinta, bukan mencari pasangan yang sempurna tetapi mencari pasangan yang cocok untuk menutupi ketidaksempurnaan kita.
Cinta, bukan dilihat dari berapa lama bersama tetapi seberapa dalam kebersamaan itu mengukuhkan cinta.
Cinta, tidak pernah memaksa.

Untuk Winara yang selalu menunggu Rama.
Untuk Rama dan Sinta yang (semoga) selalu berbahagia dengan cinta yang sederhana.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Minggu, 09 Desember 2012

KENANGAN TENTANG EMIL



Aku ingin kau mengingatku hari ini, esok, dan selamanya.

Jejak pensil samar tercetak diantara kertas bergambar. Hurufnya memang seakan menghilang namun kata per kata masih bisa dicerna dengan baik oleh mata. Rara menghela napas, membuang kertas itu begitu saja. Dia muak dengan segala kesedihan beberapa bulan terakhir. Dia juga muak dengan kata-kata puitis yang menggelayut ditiap kertas itu.

"Apanya yang mengingat?"

Airmatanya membuncah. Tetes itu jatuh tak bersuara memenuhi ruang bantal bundar, meresap cepat ke dalam. Meninggalkan jejak basah. Berkas rembulan malam menyusup diantara kisi-kisi jendela. Mencoba mengintip raut wajah Rara. Dia terluka sepanjang bulan ini. Hatinya menolak kenyataan hidup, jiwanya bosan mendengar kata prihatin.

Desakan langkah kaki berhenti di depan pintu kamar. Suara saling berbisik bagaikan ular mengganggu telinga. Rara menarik bantal bundar, memindahkannya ke atas kepala. Sempurna menutup bagian kepalanya.

"Rara?"

Hening. Rara mendengus kesal mendengar suara itu. Tidakkah mereka tahu kalau dia hanya butuh sendiri dan menangis?

"Rara? Kami tahu kamu masih gak bisa terima kepergian Emil tapi bersedih selama ini juga tidak ada gunanya" Suara di depan pintu terdengar prihatin.

"Tahu apa mereka. Apanya yang tidak ada gunanya? Aku butuh sendiri." decak Rara perlahan.

"Rara?"

Rara tidak peduli. Tekanan bantal bundar semakin diperkuat. Airmata kembali membanjiri. Bisakah mereka berhenti memaksanya untuk ikhlas? Dua jiwa yang dipisah secara paksa dan penuh tragedi seperti ini  sangat menyakitkan. Rara tahu mereka sangat peduli terhadapnya tapi yang dibutuhkan Rara sekarang bukanlah nada prihatin tersebut melainkan waktu untuk tenang.

Aku ingin kau mengingatku hari ini, esok, dan selamanya.

Kata-kata itu kembali terlintas. Rara membenci kata-kata itu. Apanya yang harus diingat jika rasa pahit yang ditinggalkan sangat dalam? Apanya yang harus diingat jika jiwa satunya menghilang begitu saja mengkhianati janji? Apanya yang harus diingat jika bercermin, wajah yang muncul adalah raut wajah salah satu jiwanya ketika menghembuskan napas?

Penuh amarah Rara bangkit dari pembaringannya. Menghempaskan selimut dan bantal. Semuanya terbang begitu saja.

PRANG!

Sebuah pigura ikut terhempas bersamaan dengan bantal guling yang terlempar. Dua wajah sama persis tersenyum memegang piala. Rara ingat hari itu, hari dimana Emil menjuarai lomba lari nasional dan hari dimana kebiasaan buruk Emil ketahuan. Nge-drugs. 

Jarum jam berdentang sepuluh kali. Rara membatu.

"Kenapa?" mulutnya bergetar mengucap tanya, "Kenapa kamu mengingkari janji itu? Kenapa kamu menyentuh obat-obat terlarang itu lagi? Kenapa harus aku, orang pertama yang melihat wajah pucatmu menghembuskan napas terakhirmu? Kenapa harus aku yang dipaksa mengingatmu?"

Rara bangkit meraih pigura. Matanya bengkak menumpahkan airmata. Pecahan kaca dia biarkan begitu saja. Dia lebih peduli terhadap foto pada pigura itu. Rara menarik paksa foto tersebut dengan kesal. Fotoitu kusut dan menyisakan sobekan kecil di ujung kiri atas.

Dibalik foto tersebut terdapat sebuah tulisan. Rara tidak pernah mengetahuinya.

Kita lahir bersama meskipun dengan jenis kelamin berbeda dan nama berbeda.
Kita lahir bersama meskipun katamu wajah kita berbeda.
Kita lahir bersama, dari satu rahim wanita terhebat. Ibu

Walaupun kita tidak menghempaskan diri dari dunia ini bersama, kita masih tetap bersama. Ingatanmu. Ingatanku. Kenanganmu. Kenanganku. Jika salah satu diantara kita mengingatnya, bukankah itu sudah cukup?

"KAU BODOH!!! KAU BODOH!!!" Rara berteriak. Hatinya sakit sekali.

"Kau bodoh" suaranya melemah, "tapi aku lebih bodoh karena hanya mengingat kenangan buruk kita"

*



Selama satu jiwa masih mengingat kenangan indah tentang mereka yang telah pergi berarti mereka masih akan hidup indah bersama kita. Dekat bersama segala kenangan yang pernah ada. Setidaknya itu lebih indah dibanding hilang bersama segala kenangan, terlupakan.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 08 Desember 2012

LINGGA

Langit masih cerah ceria menyapa pagi Lingga, gadis itu sibuk menumpuk buku tebal yang ditentengnya ke sana kemari. Kacamatanya yang berbingkai hitam bertengger di atas kepalanya, menahan segenggam poni yang mencuat keluar. Dia terlihat sangat repot dan sibuk. Setidaknya itulah yang terlihat dari gerakannya saat ini. Sudah berapa kali tas tangan yang dibawanya jatuh begitu saja ke lantai, mencium mesra tegel kampus yang licin.

"Si kutu buku sibuk sekali hari ini"

"Lihat tuh, bantuin sana"

"Lu aja yang bantuin, gue sih ogah"

Bisik-bisik terdengar ketika Lingga repot mengambil kembali tasnya. Sekelumit kemudian, bisik-bisik tadi hanya lewat begitu saja. Terbang bersama udara yang mereka hirup. Tidak ada yang menolong. Lingga bersikap acuh, membiarkan semua itu terjadi seperti biasanya. Dia kembali mengangkat kepalanya, berjalan lurus.

Bruuuuk . .

Semua buku yang dibawanya dihempaskan begitu saja di atas meja mahoni persegi.  Lingga membenarkan posisi kacamatanya, duduk dengan anggun, dan mulai menyalin kata per kata dari buku yang dibawa. Lingga dan buku adalah sahabat sejati.

Lingga bukan tipe gadis kutu buku seperti yang dicitrakan di media elektronik. Ketinggalan jaman? tidak sama sekali. Lingga bahkan dapat dikategorikan sebagai cewek modis apalagi dengan bentuk wajahnya yang mempesona. Rambutnya panjang sebahu dengan ujung bergelombang halus. Raut wajahnya tegas, memperlihatkan sudut kecerdasannya.

Tapi lihatlah dia hanya duduk sendiri di taman. Mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan secara kelompok, kenapa? Karena itulah Lingga. Dia hanya percaya pada kemampuannya. Beberapa orang yang pernah sekelompok dengannya selalu kecewa. Lingga memang pintar dan itulah yang membuatnya celaka. Dia hanya akan percaya pada hasil yang sesuai dengan standarnya karena menurutnya dialah yang paling benar.

Ya, siapa yang tidak kenal Lingga. Si langganan juara karya ilmiah. Si hebat dalam berdebat. Si cerdas yang bahkan telah mendapatkan beasiswa di universitas ternama di luar negeri. Si cantik yang dijauhi.



"dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." Q.S Al-Luqman ayat 18

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..