Tampilkan postingan dengan label STORY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label STORY. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Agustus 2012

TWELVE



Sebuah kastil megah berdiri di atas bukit yang sepi. Kastil yang dibangun sejak abad ke 60 itu masih kokoh dan mempesona. Kastil itu dihuni oleh dua belas orang anak bangsawan serta seorang pelayan pria yang berumur 25 tahun. Tidak ada satu pun warga desa Stone yang berani mendekati kastil tersebut karena sosok para anak bangsawan di kastil itu mengundang hawa ‘jangan mendekat’. Selain warga desa yang tidak pernah berkunjung ke kastil itu, ke dua belas anak bangsawan itu pun tidak pernah berkunjung ke desa bahkan ketika mereka diundang sebagai tamu kehormatan pesta besar di desa.

 “Jangankan menghadiri pesta, baju yang mereka gunakan pun dikirim langsung ke kastil”

“Wajar saja mereka nyaman, apapun yang mereka inginkan sudah tersedia di kasti itu”

Itulah kata yang selalu dilontarkan para warga ketika membicarakan perilaku penghuni kastil nan megah di atas  bukit.

Bastian, sang pelayan setia keluarga tersebutlah yang selalu menjumpai para warga. Berbekal wajah yang tampan serta perangai yang ramah, Bastian dengan cepat diterima oleh warga desa. Tidak sedikit gadis desa yang menaruh hati padanya namun dengan halus Bastian menolak para gadis itu satu per satu.

“Hidupku akan aku habiskan untuk melayani anak keluarga Lord Diozac. Aku tidak ada waktu untuk membentuk dan mengurus keluarga sendiri” jawaban tersebut akan berulang kali dilontarkan Bastian ketika ada gadis yang bertanya mengapa Bastian menolaknya.

Entah apa yang telah diberi oleh keluarga bangsawan tersebut hingga Bastian dengan senang hati mempertaruhkan seluruh hidupnya hanya untuk mengurus ke dua belas anak Lord Diozac.

Lord Diozac adalah bangsawan ternama di desa Stone. Pria ini selalu mengenakan coat beludru berwarna merah maroon untuk menutupi perutnya yang membuncit serta bowler hat berwarna senada untuk menutupi sebagian kepalanya yang mulai gersang tanpa rambut. Lord Diozac memiliki seorang Istri yang bernama Cissa. Seorang wanita yang tidak diketahui asal usulnya. Wanita tersebut memiliki kulit yang putih tanpa cela, rambut perak yang bergelombang indah, serta tatapan mata yang tajam dan menusuk. Sejak menikah dengan Lord Diozac, panggilannya berubah menjadi Duchess Diozac.

Jika Lord Diozac senang berkeliling desa untuk menyapa para warga, Duchess Diozac tidak sama sekali. Setiap kereta kuda Lord Diozac menepi ke pinggiran desa, sang Duchess hanya bersembunyi dalam diam. Jika ada hal yang mendesak, sang Duchess akan menemani Lord Diozac namun dengan menutupi sebagian wajahnya menggunakan floppy hat. Perangai sang Duchess inilah yang diduga diwariskan oleh ke dua belas anaknya. Sejak Lord Diozac meninggal, Duchess Diozac tidak pernah menampakkan dirinya lagi dan muncullah Bastian ke desa itu. Kemunculan Bastian diduga karena sang Duchess telah wafat. Tidak ada yang bisa mengurus ke dua belas anak yatim piatu itu kecuali Bastian.

“Bagaimana caranya supaya saya bisa berkunjung ke kastil Lord Diozac?”

Seorang pengembara berkulit sawo matang mencoba bertanya pada warga sekitar. Sudah bisa dipastikan bahwa sebagian besar warga desa Stone tidak akan memberikan jawaban yang diinginkan. Meskipun begitu sang pengembara tetap bertanya pada setiap warga yang ditemuinya hingga akhirnya dia bertanya pada seorang tabib tua.

“Untuk apa kau menanyakan hal tersebut anak muda?” sang tabib bertanya balik sambil mengusap janggutnya yang putih dan bergelombang rapi.

“Saya ingin memberikan surat wasiat yang ditinggalkan Lord Diozac” jawab pengembara dengan mantab.

“Baiklah kalau begitu. Ambillah jalan lurus dibalik pohon yang besar di sana.” tangan kurus ringkih sang tabib tertuju pada sebuah pohon beringin yang sangat besar, “Jangan pernah berbalik atau pun berhenti jika ingin sampai di kastil itu dengan selamat”

Sang pengembara tampak bingung dengan pernyataan tabib.

“Tidak satu pun warga desa bahkan pengembara yang diijinkan berkunjung ke kastil. Kastil itu diberi kutukan” jelas tabib.

“Kutukan?”

“Ya, sejak ke dua belas anak Lord Diozac lahir, hutan lebat mulai menutupi jalan ke kastil. Banyak warga yang hilang di dalam hutan. Jika kau ingin pergi dan kembali dengan selamat, luruskanlah hati dan jalanmu untuk mengantarkan surat wasiat”

Sang pengembara ternganga mendengar penjelasan seadanya tabib tua. Tidak pernah dia bayangkan hal seperti itu akan ditemuinya di tempat yang kelihatannya ramah ini.

“Hutan itu dipenuhi dengan berbagai makhluk aneh. Kabarnya makhluk-makhluk tersebut adalah peliharaan Ram, anak tertua keluarga Diozac”

“Anak tertua keluarga Diozac punya peliharaan yang aneh?” Sang pengembara terlihat semakin bingung.

“Ya, jika kau masuk ke dalam hutan itu kau akan bertemu seorang gadis hutan yang manis. Gadis itu akan mengajakmu bermain. Dia akan menggodamu dan menyesatkanmu di hutan. Gadis itu ada Addler, utusan Ram untuk menyambut pria gagah sepertimu. Banyak sekali makhluk aneh yang dipelihara Ram. Dia gadis yang pintar tetapi jiwa petualangnya sangat menakutkan.”

“Sepertinya Anda mengetahui banyak hal tentang keluarga Diozac. Bolehkah saya mendengar cerita Anda seperti apa ke dua belas anak itu supaya saya bisa lebih mempersiapkan diri?”

“Baiklah.”

Sang pengembara mengikuti langkah tabib tua ke dalam rumahnya yang tidak jauh dari pohon beringin besar. Tabib tua menyuguhkan secangkir teh chamomile untuk sang pengembara sebelum mulai bercerita.

Cerita Tabib tua dimulai dari anak bungsu keluarga Diozac, Fisha. Fisha adalah seorang gadis berambut abu-abu gelap yang bergelombang. Kepribadiannya sulit untuk dijabarkan dengan rinci. Dia adalah tipikal gadis yang misterius dan sulit dipahami. Fisha senang membantu orang lain, meskipun apa yang dilakukannya hanya untuk mendapatkan timbal balik yang serupa. Fisha sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya dan semua hal yang mempengaruhinya akan dibawanya ke dalam hati serta seolah-olah semua yang terjadi padanya sangatlah berat. Penerimaan perasaan Fisha sangat ekstrim. Jika dia merasa bahagia maka dia akan terlihat sangat senang dan bisa tertawa sepanjang hari, jika dia merasa sedih maka dia akan terlihat sangat tertekan. Hal itu terjadi ketika Lord Diozac meninggal, Fisha meraung sedih dan berteriak-teriak sepanjang hari di kastil seolah-olah semuanya akan berakhir ketika lord Diozac meninggal. Dan kini, Fisha sangat bergantung pada Bastian. Hanya Bastian yang bisa menjaga Fisha agar tetap stabil, entah bagaimana caranya.

Berikutnya adalah Uran, anak lelaki termuda dikeluarga tersebut. Umur Uran terpaut setahun dengan Fisha, meskipun begitu dia terlihat lebih mandiri. Uran adalah anak yang sangat cerdas. Kecerdasannya itu membuatnya tidak mau terlihat salah sehingga cenderung terlihat keras kepala. Untuk menentukan hal yang baik dan benar, Uran sangatlah jeli dan objektif karena dia jarang menempatkan emosinya ke dalam beberapa hal. Ketika dia mulai berbicara, maka kata-kata yang akan diucapkannya adalah hal yang memang ingin diucapkannya-jujur, berbeda dengan Fisha yang terlihat lebih ingin menyenangkan orang lain. Oleh karena itu, ketika akan diadakan musyawarah didalam keluarga, Uran selalu diajak.

Anak lelaki berikutnya didalam keluarga tersebut adalah Saturn, terpaut lebih tua dua tahun daripada Uran. Saturn adalah anak lelaki yang melankolis dan terkesan galak. Pribadinya itu terbentuk karena kedisplinan diri dan tanggungjawab yang dimilikinya sejak kecil. Saturn suka mengevaluasi segala hal yang terjadi padanya dan tidak pernah berani mengambil resiko. Saturn tidak mempercayai orang lain untuk melakukan apa yang diinginkannya. Dia lebih suka bekerja sendiri agar tidak perlu mengkhawatirkan resiko yang akan muncul. Saturn adalah anak keluarga Diozac yang paling sering bertengkar dengan Bastian. Namun entah mengapa sampai saat ini perdebatannya dengan Bastian selalu berakhir damai.

Centaur, anak lelaki tergagah didalam keluarga Diozac. Rambutnya bergelombang indah membingkai wajahnya yang tegas. Centaur memiliki pribadi yang optimis dan positif, bahkan cenderung jauh dari perasaan negatif. Dia bagaikan cahaya didalam keluarganya. Jika ada pertengkaran yang terjadi diantara Saturn dan Bastian atau Uran dan Fisha, Centaurlah yang pertama kali muncul sebagai penengah. Sifat buruk Centaur adalah kurang peka terhadap sekitar dan tidak ingin mengetahui hal yang sedih dan penuh derita.

Meagle, gadis berikutnya didalam keluarga Diozac. Gadis yang ambisius dan gigih ini memiliki potongan rambut bob layer yang bergelombang indah. Didalam hidupnya, Meagle tidak pernah mengenal kata menyerah. Meagle sangat suka memanfaatkan posisinya sebagai anak tertua untuk menindas Fisha. Dia sangat pandai memanipulasi keadaan sehingga dengan mudah dapat membuat Uran menjadi koloninya. Mungkin Meagle adalah gadis yang paling sering diamati Bastian karena gerak-geriknya cenderung mengkhawatirkan. Dulu ketika keluarga Diozac masih memiliki banyak pelayan, Meagle membuat kekacauan dengan mengadu domba para pelayan tersebut. Ketika situasi kastil menjadi kacau, Meagle hanya tersenyum dari sudut ruangan melihat kejadian tersebut seolah semua yang terjadi bukan salahnya.

Scaley, si cantik bermata indah ini adalah anak gadis keluarga Diozac yang paling santai dalam menyikapi apapun dan paling adil diantara ke dua belas saudaranya. Scaley cenderung nyaman menyembunyikan perasaannya agar situasi yang ada disekitarnya damai. Kepribadiannya itu yang membuatnya terlihat lemah dan tampak tidak tegas dalam mengambil keputusan. Dia paling mengerti tentang berlaku adil tetapi ragu-ragu untuk menentukan keadilan itu sendiri.

Memiliki rambut perak yang sama dengan Duchess, membuat Mercury sering disangka adik sang Duchess. Tidak hanya fisik Mercury saja yang mirip dengan sang Duchess, perangai dan sikap dingin sang Duchess pun diwarisi ke anaknya yang satu ini. Mercury senang menganalisis semua kejadian sebelum menentukan apa yang harus dilakukan. Segala aspek dianalisisnya dengan cermat dan teliti. Dia adalah pengambil keputusan terlama didalam keluarga dan terkadang keputusan yang diambilnya hanya mengikuti keputusan yang telah ada. Mercury adalah anak yang paling jarang ditanyai pendapatnya karena hanya memakan banyak waktu, dengan hasil yang sudah jelas sama seperti sebelumnya.

Leo, si playboy kelas kakap keluarga Diozac. Leo sangat suka memamerkan kelebihannya terlebih kepada para gadis. Percaya dirinya sangat tinggi sehingga cenderung benci terhadap sikap penolakan yang diarahkan kepadanya. Kepribadiannya yang seperti ini yang membuatnya dijuluki si raja sombong. Entah apa yang terjadi pada jiwa petualang cinta Leo hingga dia bisa betah hidup di dalam kastil selama beberapa tahun belakangan ini.

Si lembut Croo yang rapuh, itulah anak berikutnya dari keluarga Diozac. Dia adalah gadis yang sangat sederhana dan pandai memasak. Selama ini yang bertanggungjawab mengurus ‘isi perut’ keluarga tersebut adalah Croo. Croo terkesan posesif dan sangat suka memuji orang lain. Croo bisa menjadi pendengar yang baik dan selalu menjadi tumpuan ke dua belas saudaranya untuk berbagi cerita. Croo sangat benci dengan kekerasan, namun ketika hatinya mulai tersakiti maka dia akan berubah menjadi sangat menakutkan.

Gwi dan Mwi, satu-satunya anak kembar didalam keluarga ini. Mereka memiliki fisik dan kepribadian yang sangat identik. Gwi dan Mwi paling benci dilarang melakukan sesuatu sehingga bisa dipastikan mereka berdua berdiam diri di kastil karena memang menginginkan hal tersebut. Gwi dan Mwi mudah dikenali tidak hanya karena kembar tetapi juga karena mereka sangat suka mengenakan pakaian yang ekstrim dan berwarna cerah ceria. Gwi dan Mwi memiliki rasa humor yang sangat berkelas. Siapapun yang berada didekat mereka pasti akan tersenyum ceria.

Jangan mengira bahwa ke dua belas anak bangsawan keluarga Diozac memiliki tubuh yang langsing dan tinggi menjulang. Chaldeans adalah anak dari keluarga tersebut yang mewarisi ciri fisik sang Lord. Chaldeans sangat menyukai kehidupan yang glamour. Chaldeans paling susah mengucapkan kata maaf sehingga dia akan selalu berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan saudara-saudaranya.

Dan yang terakhir, anak tertua keluarga ini dan sang penguasa adalah Ram. Fisik Ram sangat jauh berbeda dengan saudaranya yang lain. Rambutnya hitam legam dan panjang sedangkan kulitnya putih pucat seperti mayat. Ram sangat mandiri dan mudah tersinggung dengan ucapan orang lain. Ram adalah tipikal gadis yang sangat mudah untuk dicintai dan dibenci oleh orang lain. Ram selalu terlihat menonjol dan memiliki pribadi yang paling kuat dibandingkan saudaranya.

Tetes terakhir chamomile meluncur ditenggorokan sang pengembara. Tabib tua menatap pengembara itu dengan tajam.

“Masih mau kesana?”

“Ya, aku tidak bisa mendapatkan penjelasan dari cerita Anda bahwa para penghuni kastil itu berbahaya”

“Terserahlah”

Sang pengembara mulai melakukan perjalanannya. Dia mengingat pesan tabib tua untuk berjalan terus tanpa menoleh bahkan berhenti. Beberapa kali dia mendengar suara seorang gadis memanggilnya namun dia tahu siapa pemilik suara itu, Addler-gadis hutan. Sejam berlalu dan perut pengembara mulai meronta. Mendadak aroma sup jagung serta ayam panggang berlarian diantara indera penciumannya. Sang pengembara hampir tegoda, namun beruntung pesan tabib tua kembali terngiang ditelinganya hingga sampailah ia di depan gerbang kastil nan megah.

Kedatangan pengembara disambut hangat oleh Bastian. Bastian mengantarkan pengembara itu ke ruang pertemuan. Disana telah duduk ke dua belas anak keluarga Diozac. Pengembara bisa mengenal mereka dengan jelas. Ram, sang anak tertua duduk di kursi paling megah. Gaunnya yang berwarna merah menyala terlihat sangat menonjol dibandingkan saudaranya yang lain. Leo yang duduk disebelahnya tampak memasang ekspresi kecewa ketika tahu pengembara yang mengunjungi mereka adalah seorang pria. Gwi dan Mwi yang sedang asyik berbincang dengan Fisha memamerkan deretan gigi mereka yang rapi menyambut sang pengembara. Croo tampak sibuk menata meja dan memarahi Chaldeans yang tidak berhenti mengunyah makanan yang terhidang. Sementara Centaur, Uran,  Saturn, Scaley dan Mercury tetap terdiam dengan tenang dikursi mereka.

“Selamat datang tampan” Meagle dengan cepat mengapit lengan pengembara.

“Balik ke tempat dudukmu!!” Ram berkata tajam dan tegas.

Meagle tertunduk, segera meninggalkan pengembara berjalan ke tempat duduknya.

Sang pengembara mulai menyatakan maksudnya. Ram menyambut semua ucapan sang pengembara dengan penuh antusias hingga sampailah disatu titik dimana Ram mulai menanyakan hal penentu.

“Menarik sekali, wasiat untuk kami lagi dan kali ini dari tempat yang sangat jauh. Ceritakan pengalamanmu mengantarkan surat wasiat Ayah.” Ram melambaikan surat wasiat yang dipegangnya sejenak sebelum menyerahkannya pada Centaur.

“Seperti pengalaman biasanya Nona. Saya melintasi beberapa tempat dan . . .”

“Wah pasti menyenangkan” Fisha menampakkan wajah antusiasnya.

“Ya.” Sang pengembara tersenyum. Firasatnya mungkin benar, keluarga ini tidak mungkin dikutuk dengan hal aneh seperti yang diucapkan tabib tua.

“. . . . dan itulah yang dikatakan sang tabib tua” Pengembara mulai menceritakan apa yang didengarnya dari sang tabib tua.

“Tapi, kau masih berani kesini? Hebat!” Meagle tersenyum genit dari seberang meja.

“Petualanganmu di dalam hutan tidak menyenangkan.” celetuk Uran.

“Harusnya kamu bertemu Addler dan unicorn lucu milik kami sebelum kesini supaya . . .” Fisha mencekik lehernya sendiri kemudian melanjutkan, “kau bisa merasakan sensasi ingin mati namun harus tetap hidup”

Sang pengembara merinding mendengar kata-kata Fisha. Aura ruangan itupun seketika berubah. Ram, untuk pertama kalinya tersenyum.

“Tabib tua ini kah yang bercerita padamu?”

Bersamaan dengan tepukan tangan, sang tabib tua yang sudah dikenal pengembara pun muncul.

“T-t-tabib.”

“Hai pengembara yang polos.”

Sang pengembara berdiri dari kursinya dan ingin segera berlari. Perasaannya mulai tidak enak.

“Mau kemana?” Bastian menahan sang pengembara dengan kuat.

Ke dua belas anak keluarga Diozac tertawa tajam. Tabib melangkah mendekati pengembara sambil menggenggam erat sebuah pisau bergagang emas.

“Apa kita harus melakukan ini lagi?” Tanya Scaley pelan.

“Harus! Supaya semua yang kita alami segera berakhir.” jawab Centaur optimis.

Tabib mulai menancapkan pisau yang dipegangnya. Pertama, tepat mengenai ke dua bola mata pengembara. Darah segar mengalir seiring dengan terkoyaknya mata bening pengembara.

“Indah sekali.” Kata Meagle dengan antusias.

Ke dua, sang tabib merobek perut pengembara yang terus berteriak menahan sakit. Tabib tua itu lalu mengeluarkan seluruh isi perut pengembara. Napas kehidupan lenyap sudah. Sang tabib memasukkan seluruh organ yang diambilnya ke dalam toples besar yang bening.

“Aku ingin memasak daging itu.” kata Croo lembut.

Bastian mengangguk, “aku akan membersihkannya untuk Nona.”

“Kulitnya untuk kami.” Gwi dan Mwi tertawa seraya menguliti mayat pengembara.

“Bisakah kau meramu obat awet muda untukku?” Tanya Leo yang disambut dengan anggukan mantab sang tabib.

“Bereskanlah ini secepatnya. Masih ada lima pengembara lagi sebelum kita dengan bebas bisa keluar dari kastil ini. Chaldeans, jantung kali ini ditujukan padamu” kata Ram seraya membaca wasiat yang dipegangnya.

Jantung ke tujuh dari keluarga Lionel untuk Chaldeans 

With love 
Cissa

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Senin, 09 Juli 2012

SO SICK FOR YOU AND ME


Jammy – Man

Gotta change my answering machine. Now that I'm alone ‘cuz right now it says that we can't come to the phone. And I know it makes no sense 'cuz you walked out the door. But it's the only way I hear your voice anymore. (Ne-Yo – So sick/man version)

“Tahan Jammy, jangan sampai kau kalah”  aku menyemangati diriku sendiri.

Aku memandangi handphone ku yang membisu, tidak seperti biasanya. Harusnya malam ini, aku bisa mendengar suaranya yang renyah dan manja. Harusnya malam ini, aku bisa tertawa mendengarnya merengek padaku seperti biasanya. Ah, itu tidak mungkin terjadi karena semuanya telah berakhir. Aku melangkah pelan dan melihat handphoneku sekali lagi. Ingin rasanya mengganti sim card baru atau paling tidak membuang handphone ini tapi, itu tidak mungkin ku lakukan. Aku bimbang sejenak memandang handphone hitam ditanganku.

It's ridiculous. It's been months and for some reason I just can't get over us. And I'm stronger than this, yeah. Enough is enough, no more walkin' round with my head down. I'm so over being blue, cryin' over you. (Ne-Yo – So sick/man version).

Kemudian aku tertawa melihat kebodohanku sendiri. Sebulan sudah dia pergi dari hidupku dan membawa semua yang berharga untukku. Saat mengingat hal itu aku merasa kuat, aku kuat dari sebelumnya. Kebimbangan dan kesedihan di hati coba ku lawan.
Aku ingin mematikan handphone hitam yang masih terdiam di tanganku tapi, tanganku seakan tak mampu bergerak. Aku mengalihkan pandanganku dan berharap agar aku tidak tergoda lagi. Namun, kesalahan terbesar pun ku lakukan. Pandanganku mengarah ke sebuah kalender putih di atas meja.

Gotta fix that calendar I have that's marked July 15th. Because since there's no more you, there's no more anniversary. I'm so fed up with my thoughts of you and your memory. And how every song reminds me  of what used to be. (Ne-Yo – So sick/man version).

“15 Juli” batinku.

Semua kenangan tentangnya kembali menghantuiku. Kini ku tahu, mengapa aku sangat merindukan suara dan kehadirannya saat ini.

“15 Juli” batinku sekali lagi.

Kalau saja semua kesalahpahaman itu tidak terjadi, seharusnya saat ini aku bisa melihatnya duduk dihadapanku merayakan hari pernikahan kita. Aku bisa mencicipi masakannya, tertawa melihatnya melakukan kebodohan saat memotong kue, dan menerima hadiah pernikahan darinya.
Sebuah lagu mengalun indah di kepalaku saat mengingat hal itu.

“Aku tahu apa yang harus ku lakukan”

I'm so sick of love songs, so tired of tears. So done with wishing you were still here said I'm so sick of love songs, so sad and slow. So why can't I turn off the radio? . (Ne-Yo – So sick/man version).

Aku mematikan handphone dan melemparkannya ke atas kasur. Samar – samar aku mendengar suara penyanyi favoritku bernyanyi dengan indah. Lagu tersebut mengalun pelan dan mengingatkanku akan dirinya.
Rasanya sakit. Sakit mendengar lagu tersebut kini menemaniku di dalam kesedihan. Harusnya aku segera mematikan radio yang masih terus mengalunkan lagu kenangan itu tapi, aku tidak bisa dan tidak mau. Aku rasa dia juga akan merasakan hal yang sama jika mendengar lagu ini.

 Sedetik kemudian aku  berharap dia akan muncul dihadapanku tapi, aku tahu itu tidak mungkin.
Aku terdiam dan lagu tersebut terus mengalun dengan tenang.

Leave me alone. Leave me alone. Stupid love songs, don't make me think about her smile or having my first child. I'm letting go, turning off the radio. (Ne-Yo – So sick/man version).

Aku semakin merindukannya.

Aku berdiri sejenak dan membuka laci meja. Aku melihatnya tersenyum menggendong anak pertama kita. Ku usap foto itu perlahan dan kemudian aku tersadar saat melihat sobekan kecil di samping foto tersebut.
Kau saat itu bukan milikku.

15 Juli seharusnya menjadi hari pernikahan kita. Aku kemudian mengingat kejadian itu.
Sebulan yang lalu aku melihatmu di sebuah rumah, sedang tersenyum dan memeluk seorang pria. Aku terkejut dan ingin segera menarikmu tapi, aku tetap terdiam di tempatku berdiri sambil menunggu pria tersebut pergi.

Dan kemudian yang ku ingat adalah kau meninggalkanku sambil membawa semua cintaku dan anak pertama kita.

Aku semakin sedih. Ku robek foto itu menjadi sebuah kepingan dan segera mematikan radio.
“Aku akan melupakanmu Lily” batinku.

***

Lily - Woman

I gotta change the station that I had cause all I hear is you. It just keeps reminding me of all the things we used to do. And I know that I should turn off the radio but it's the only place I hear your voice anymore. (Ne-Yo – So sick/woman version)

Malam ini aku terduduk dalam diam memandang radio tua di sudut kamarku. Aku bimbang karena malam ini tidak seperti malam – malam sebelumnya. Suara penyiar radio yang tenang tidak dapat membuat jantungku berhenti meronta. Ingin rasanya melangkah ke radio tua itu dan mematikannya tapi, inilah satu – satunya cara untuk mendengar suaranya.

“Hahhhhhhhhhh....” aku menghela napas dan tertunduk.

It's ridiculous. It's been months since I spoken to you. You ain't keep in touch, don't know why it came to this. But enough is enough no more walkin' round with my head down. I don't wanna be a fool crying over you. (Ne-Yo – So sick/woman version)

Sebulan sudah aku tidak berbicara dengannya. Aku merasa inilah yang harus ku lakukan agar dia merasa tenang. Aku memang salah tapi aku tahu ini yang terbaik untukku.

Aku ingin menjalani hidupku dengan sedikit cinta untuknya tapi aku rasa semua itu sudah cukup. Terakhir kali aku ingin menyapanya, yang ku dapat adalah penolakan. Cukup sudah, aku tidak ingin menjadi orang bodoh yang berharap dia akan segera memaafkanku.

Gotta fix that calendar I have that's marked July 15th. Cause it seems like you forgot that it was our anniversary. When I heard your song it made it hard to  erase your memory. Now when I hear your song, I know it's meant  for me. (Ne-Yo – So sick/woman version)

Aku yakin saat ini dia masih menganggapku sampah. Aku memandangi kalender di dinding.
“15 Juli” batinku

Aku rasa dia tidak akan pernah mau mengingat hari ini, tanggal ini. Tanggal dimana semua kebahagiaan akan menghampiri kehidupan kita. Tanggal dimana aku mendengarnya mengucapkan sebuah sumpah yang selalu dinantikan oleh semua wanita.

Kemudian aku mendengar sebuah lantunan yang tidak asing bagiku dari radio tua di sudut kamar. Lagu kenangan ku, lagu yang sering dinyanyikannya untukku. Ketika aku merasa sedih, dia selalu ada untukku menyanyikan lagu ini. 


I can't believe that you're so sick of love songs, so tired of tears. You say you love me. Why ain't you here?I'm so sick of your love songs so sad and slow but I just can't turn off the radio. (Ne-Yo – So sick/woman version)

“ itulah lagu yang baru saja di request oleh sahabat kita Jammy....”

Suara penyiar radio membuyarkan lamunanku. Aku tahu dia pasti merasa sedih mendengar lagu ini. Aku tahu dia pasti merasa jenuh dengan semua ini.

Karena aku juga merasakan hal yang sama. Aku tahu dia menyayangiku tapi dia tidak akan mungkin hidup bersamaku setelah semua keputusan pahit yang telah ku ambil.

Seandainya saja dia tahu, ini demi masa depanku. Dan aku tahu aku sangat egois.

Now that I'm gone .Now that I'm gone. I wanna be left alone. And every time I see your smile, It's looking at our child. You should know. Why can't you move on? (Ne-Yo – So sick/woman version)

Sekarang aku telah pergi dari kehidupannya, hidup sendiri dengan segenap cinta.

Sebulan yang lalu, semua kebohongan yang ku lakukan telah terbongkar. Jammy melihatku bersama Doni, suamiku.

Aku tahu dia marah besar padaku meskipun dia tidak mengatakannya. Aku memandang wajahnya yang memerah dan mencoba menjelaskan semuanya.

“ Maafkan aku, kau meninggalkan aku saat bayi kita mulai hidup di dalam perutku. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan jika aku tidak segera menikah. Kau menghilang selama setahun. Kau menghubungiku tiba – tiba dan aku senang. Maafkan aku karena tidak memberi tahumu semua ini. Maafkan aku yang membohongimu. Maafkan aku tapi aku telah memilih jalan hidupku sendiri”

Itulah kata – kata yang ku ucapkan untuknya. Aku memang kejam dan egois. Hal itu menyakitiku dan aku tahu, dia pun tersakiti.

“Mama...”

Aku melihat balita manis yang memanggilku. Senyumnya sangat mirip dengan Jammy. Aku berharap dia tahu dan bisa hidup lebih baik serta mau memaafkanku.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

JANJI - JANJI AYAH V


V

Ayah sedang asyik membaca koran hari ini sambil menikmati secangkir kopi hitam di taman depan rumah. Dari dapur aku bisa melihat wajah Ayah yang semakin menua. Tak jauh dari Ayahku duduk, pria lain yang kusayangi pun sedang menikmati secangkir kopi sambil membaca koran. Mereka berdua tampak menikmati dunia sendiri.

“Aku mau masuk dulu” suara kaku pria yang kusayangi terdengar jelas.

Pria itu berjalan ke arahku sambil tersenyum masam. Aku tahu dia tidak nyaman dengan kehadiran Ayah di rumah kami tapi aku tidak bisa berbuat banyak. Sejak Ibu dirawat di rumah sakit, Ayah tidak bisa ditinggal sendiri. Di usianya yang semakin senja Ayah juga memerlukan perhatian khusus dan sebagai anak semata wayangnya, aku harus melakukan hal tersebut meskipun rasa engganku telah menggerogoti hatiku.

“Katamu hanya dua hari” pria yang kusayangi menarikku ke dalam kamar dan mulai marah.

“Mau bagaimana lagi, aku kira Ayah bakal pergi dengan sendirinya tapi ternyata Ayah masih betah disini. Lagipula kita gak bisa biarin Ayah tinggal sendirian, bagaimanapun juga dia masih Ayahku dan mertuamu”

“Alasan ! Kamu kan bisa bilang sama Ayah kalau kamu gak betah Ayah disini. Kita pengantin baru, sudah seharusnya Ayahmu itu mengerti !!” suaranya mulai meninggi.

“Pelankan sedikit suaramu”

“Biarkan saja !! Supaya Ayahmu bisa dengar semuanya. Sudah sejak awal dia tidak setuju hubungan kita !! Aku yakin sekarang Ayahmu disini karena ingin memisahkan kita !” dia mulai berteriak.

“Tolong jangan bicara seperti itu tentang Ayah” airmataku mulai menetes.

“Kenapa? Bukannya kamu juga bosan dengan tingkah Ayahmu itu? Bosan dengan semua janji – janjinya?”

Aku terdiam. Memang benar aku bosan dengan semua janji Ayah dan merasa kecewa dengan janji – janji itu tetapi Ayah tetaplah Ayah.

“Sudah berhenti menangis” dia menarik tanganku dengan kasar.

Tok tok tok . . .

“Flora?” suara Ayah terdengar lembut menyapa dari depan pintu.

Aku berlari dengan cepat ke arah pintu sambil menghapus jejak airmata yang tadi sempat mengalir.

“Ada apa Yah?” aku mencoba berbicara dengan intonasi yang tenang.

“Ayah mau pulang ke rumah. Kata dokter Ibumu sudah bisa dirawat di rumah. Maaf Ayah telah merepotkan kamu”

Sebuah tas besar telah tersampir dibahu Ayah. Sepertinya Ayah mendengar pertengkaran kami tadi.

“A-Ayah”

“Sudah tenang saja, Ayah bisa pulang sendiri kok”

Sepi. Siluet Ayahpun menghilang dengan cepat. Rasa hampa menyergap ke dalam ragaku. Kenangan dan rasa seperti ini pernah ku alami dulu.

*

Membiarkan semuanya berjalan dengan semestinya malah membuat hidupku terasa semakin suram. Bayangan Siska di dalam hidupku semakin terasa. Di rumah, Ibu selalu mengutamakan Siska sedangkan didalam lingkaran persahabatan kami James lebih memilih Siska dibanding aku. Dan hanya menunggu waktu yang tepat hingga akhirnya James benar – benar memilih Siska sebagai pendamping hidupnya.

“Ini akibatnya berdamai dengan keadaan !!” aku mulai membenci perkataan Ayah.

“Semua pasti ada hikmahnya Ra” Alvin selalu mencoba menenangkanku.

“Iya memang ada ! Aku tidak boleh berhenti membenci Siska. Dia sudah merebut semuanya dariku” aku berteriak marah dan meninggalkan Alvin terpaku sendirian di taman.

Hari berganti hari, masa kuliahku terlewati dengan berkonsentrasi mengalahkan Siska serta merebut semua hakku yang diambilnya. Aku mulai berhenti berbicara kepada Ayah dan Alvin mengenai semua rencanaku. Menurutku itu percuma karena mereka akan selalu memintaku untuk berdamai dengan keadaan, bersikap bijak, atau apapun itu. Omong kosong.

Sekarang yang aku yakini adalah aku harus merebut kebahagiaanku sendiri. Cara apapun akan ku tempuh. Pertama, aku harus merebut kasih sayang Ibu dari Siska. Untuk mewujudkan hal tersebut aku selalu mencoba bersikap semanis mungkin terhadap Siska agar Ibu bisa sedikit bersimpati padaku. Prestasiku di kampus juga harus aku tingkatkan agar Ibu semakin senang dan bangga padaku melebihi Siska.

Bersikap baik pada Siska membuahkan hasil yang sangat bagus. Siska sangat mempercayai aku sehingga aku dengan mudah bisa menghancurkan semua rencananya. Menghancurkannya dari dalam jauh lebih gampang dan menyakitkan. Lagipula, dia tidak akan pernah menyangka aku yang kemudian akan menghancurkan hidupnya.

Rencana pertamaku untuk meraih cinta Ibu telah berjalan sukses, dan rencanaku untuk merebut James pun telah berjalan dengan mulus bahkan sebelum aku menjalankan rencana tersebut. Belakangan ini Siska dan James sering sekali bertengkar entah apa alasannya. Yang jelas James selalu mencariku untuk berbagi keluh kesah. Tidak ada yang lebih indah dibandingkan hal ini.

“Sudah ada waktu untuk Ayah?” Ayah menerobos begitu saja ke dalam kamar.

Sudah hampir empat tahun aku tidak berbincang banyak dengan Ayah. Aku selalu berlari dan mencari alasan untuk tidak berbicara berdua saja dengan Ayah. Entah sejak kapan cara Ayah berbicara padaku pun berubah. Dulu Ayah selalu menyebut namaku seolah aku masih gadis kecilnya namun sekarang Ayah memperlakukanku selayaknya anak gadisnya yang telah dewasa.

“Eh ada apa Yah?”

“Pola hidupmu semakin berubah sejak kamu dewasa. Alvin sering menanyakan kabarmu. Sekarang dia sudah bekerja di perusahaan ternama di Amerika”

“Baguslah” kataku singkat.

“Kenapa kamu tidak pernah menghubunginya lagi?” Ayah mencoba bertanya sambil meneliti koleksi bukuku, seperti kebiasaan Ayah selama ini.

“Aku sibuk Yah”

“Sibuk apa menghindar?”Ayah menatapku sekilas lalu beralih ke jejeran buku,” Ayah tahu kamu menghindari Ayah dan Alvin karena kita selalu menasehatimu untuk tidak melakukan hal yang aneh – aneh terhadap Siska”

“. . . .”

“Apa yang selama ini Ayah katakan padamu hanya angin lalu?”

“Aku . . . aku tidak mengerti apa kata Ayah” jawabku gugup.

“Kamu mengerti, sangat mengerti. Ayah sudah berjanji untuk mengembalikan langkahmu yang berbelok ke jalan yang salah. Sejauh ini Ayah lihat, kamu telah berjalan ke arah yang salah. Siska tidak seburuk apa yang bergejolak dipikiranmu.”

Sekarang Ayah membela Siska? Aku tersentak dengan pernyataan Ayah itu.

“Ayah juga berjanji untuk membiarkan aku meraih kebahagiaanku” desisku menahan marah.

“Tapi ini bukan kebahagiaan yang sebenarnya. Flora, coba gunakan hatimu untuk melihat ini semua”

“Ayah sudah janji !! Ayah sudah janji untuk membiarkan aku meraih kebahagiaanku dan inilah caraku” amarahku mulai tersulut.

Ayah menghela napas dan memandangiku dengan tatapan sedih. Aku tidak tahan melihat tatapan mata itu. Aku memilih menundukkan pandanganku.

“Baiklah. Tapi kamu harus ingat, kebahagiaan yang terbentuk dengan merebut kebahagiaan orang lain bukanlah kebahagiaan sejati. Itu hanyalah napsu belaka. Dan Ayah minta, jauhi James. Kamu tidak tahu seberapa busuknya dia. Siska sudah menceritakan semuanya pada Ayah”

Aku mengepalkan tanganku. Tahu apa Ayah tentang kebahagiaanku? Bukankah selama ini justru Siska yang telah merebut semuanya dariku? Kenapa Ayah melarangku mendekati James? Entah apa yang telah Siska katakan hingga sekarang Ayah berpihak padanya.



continue . . .

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Minggu, 08 Juli 2012

KIMI GA DAISUKI

Aku melihat kimy yang duduk disebelahku. Ya dia Kimy, dia bukanlah Freya. Ku pejamkan ke dua mataku, menarik nafas sedalam - dalamnya. Aroma summer fragnance menari - nari di indera ku.

"Freya, hope you not here with me" batinku.

"Yang kamu lihat dari dirinya adalah diriku" kata Kimy tiba - tiba.

Aku hanya tersenyum lalu memeluk Kimy dan berkata, "Kau benar, dan aku yakin yang selama ini ada dihatiku hanya kamu meskipun . ." kata – kata itu menggantung begitu saja.

Sebuah kenangan kembali menyeruak. Aku kembali mengingat masa - masa itu.

*

"Ichi, Ichi kun bangun !!! KENICHI HIROGANO BANGUN!!!!!" teriak Kimy.

Aku membuka mataku perlahan. Wajah Kimy terlihat sangat menakutkan. Bibirnya melengkung ke bawah dan matanya yang bulat melotot ke arahku.

"Nande?" tanyaku.

"NANDE MO NAI !!!" teriak Kimy seraya meninggalkanku dengan cepat.

Itulah Kimy, gadis tomboy yang selama setahun ini resmi menjadi pacarku. Aku menyukainya sejak pertama kali melihatnya saat upacara penerimaan siswa baru di SMP Togano. Dia terlihat sangat bersemangat dan berbeda. Saat semua gadis seusianya sibuk dengan penampilan masing - masing, Kimy dengan cueknya berdandan apa adanya. Aku masih ingat dengan jelas ketika semua gadis di kelasku ketakutan saat di jahili Takeshi dengan cacing mainan, Kimy dengan santainya mengambil cacing itu dan menggantinya dengan ular kecil yang kemudian sukses membuat Takeshi lari terbirit - birit. Kimy memang berbeda dan hingga sekarang itulah yang membuatku kagum padanya.

"Kimy, ada apa?" tanyaku setengah berlari mengejarnya.

"Kamu !!! Tau ah"

"Kimy, kamu marah ya karena aku ketiduran di dalam kelas? semalam aku membantu Ayah menjaga toko dan .."

"Ya ya ya, bukan karena itu Ichi - kun " Kimy memotong perkataanku dengan cepat.

Aku duduk disebelahnya dan memasang wajah bertanya.

"Kamu janji akan menyelesaikan masalah ini sebelum kita berpisah. Bulan depan kita udah berpisah" Wajah Kimy terlihat sendu.

"Ya" kataku datar, aku mengerti betul apa yang sedang dia bicarakan.

Kimy dan aku kini telah menjadi siswa SM, bulan depan adalah perayaan kelulusan kami. Kimy mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah disebuah universitas negeri ternama di London. Sementara aku hanya akan melanjutkan bisnis keluargaku. Inilah awal dari semua masalah itu. Orang tua Kimy dan orang tuaku tidak cocok satu sama lain. Jelaslah hubungan kami juga mendapat pertentangan yang luar biasa. Aku berjanji pada Kimy akan menyelesaikan masalah ini sebelum lulus karena kami berdua tidak ingin dipisahkan. Sungguh naif pemikiran itu.

"Jadi bagaimana?" tanya Kimy membuyarkan lamunanku.

"Aku tidak tahu. Ayah dan ibuku masih tidak setuju"

"Haaah” Kimy menghela napas panjang, “sepertinya memang tidak bisa"

Kimy menangis dan ini untuk kesekian kalinya aku melihatnya menangis karena salahku. Aku mengangkat wajahnya dan mengusap air matanya. Rasanya sedih melihatnya begitu terluka karena keegoisanku. Saat itu sempat terpikir betapa bodohnya aku. Dulu saat Kimy mengetahui hubungan ini tidak disetujui mengapa aku tetap ingin mempertahankannya? Sementara Kimy telah ikhlas merelakan semuanya berakhir. Aku ingin memutar waktu. Aku tidak ingin melihat Kimy menangis lagi karena aku sayang padanya.

"Maafkan aku" kataku lirih.

*

Hari ini Kimy berangkat ke London. Aku tidak bisa mengantarnya ke bandara karena aku tidak ingin membuatnya sedih. Alasan lain adalah karena Ayahku memintaku untuk tinggal di rumah menunggu klien kami. Aku tahu, Ayahku sengaja melakukan itu karena dia tidak ingin aku bertemu Kimy. Aku juga telah diberi peringatan oleh Ayah Kimy agar jangan mengantar Kimy ke bandara.

"Kamu hanya akan membuatnya terluka !! Om kecewa telah menyetujui hubungan kalian sementara keluargamu masih saja menganggap Kimy sampah !!!"

Aku hanya duduk terdiam di dalam kamar dan melihat foto Kimy yang tersenyum ceria. Dengan segera ku raih handphone ku dan mengetik sebuah pesan singkat.

Maafkan aku tapi mungkin semuanya harus berakhir. Aku tidak ingin membuatmu sedih. Mungkin ini yang terbaik. Kamu akan selalu ada di hatiku, hontouni gomen nasai.

Ku matikan handphoneku dan tertidur dengan perasaan sedih. Tapi  aku tahu inilah yang terbaik untuknya.

*

Setahun telah berlalu . . .

Hal terakhir yang Kimy katakan padaku setelah aku bersikeras meminta semuanya berakhir adalah " KENICHI BAKA !!!! AKU BENCI KAMU"

Sakit rasanya saat membaca pesan singkat itu tapi aku sadar, semua ini memang salahku. Aku berharap hal tersebut merupakan hal terakhir yang membuatnya meneteskan airmata.

"Ken, kamu kenapa?" suara lembut menyapaku.

"Gak. Bagaimana ujiannya?" tanyaku sambil tersenyum.

"Lancar kok. Tadi Profesor Shitaro memberikan pujian padaku karena lukisan ini"

Gadis itu menunjukkan lukisan seorang pria dengan banyak warna.

"Itu kan aku. Freya kamu ..." kataku kagum seraya mengambil lukisan tersebut.

"Aku ingin memberikannya padamu saat perayaan hari jadi kita yang pertama tapi ya sudahlah" Freya tersenyum simpul, wajahnya memerah menahan malu.

"Arigatou"

Dia adalah Freya Takishima. Seorang mahasiswi jurusan seni rupa yang kini menjadi kekasihku. Dia adalah seorang gadis yang ceria dan suka sekali menggambar. Aku menyukainya tetapi belum menyayanginya.

Setelah berpisah dengan Kimy, aku telah menjalin hubungan dengan beberapa orang gadis dan semua itu hanya bertahan sebentar. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku cari. Tetapi untuk gadis yang satu ini, aku mulai merasa nyaman.

"Bagaimana pekerjaanmu hari ini? Lancarkan?" tanya Freya.

"Iya. Semuanya lancar kok"

"Ken...ada yang ingin aku tanyakan"

"Ya ?"

"Siapa Kimy?"

Aku terdiam. Kenapa Freya menanyakan hal itu padaku?

"Dia mantan kekasihku. Kenapa?" kataku datar dan mencoba memasang ekspresi sewajar mungkin.

"Oh begitu, kemarin aku bertemu dengannya di depan rumahmu. Dia marah padaku karena tahu aku adalah kekasihmu"

Freya menatapku dengan tegar. Aku tahu dia merasa terluka. Tapi, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Pikiranku dipenuhi banyak pertanyaan. Kimy ada disini disaat aku mulai membuka hati untuk seorang gadis.

*

Kimy telah duduk di hadapanku. Dia terlihat lebih kurus dari sebelumnya namun dengan pesona yang lebih segar. Wajahnya tampak sangat manis dengan sedikit blush on berwarna peach. Kimy telah berubah dan harus ku akui bahwa aku semakin menyukainya.

"Selamat ya. Well, mungkin aku sedikit shock mendengarnya dan aku minta maaf telah mengganggu hubunganmu. Tapi, sekarang aku bisa menerima semuanya kok. Ini bukan salahmu" kata Kimy seraya tersenyum.

Jantungku bergetar saat melihatnya tersenyum. Aku ingin memeluknya dan meminta maaf. Aku ingin memiliki kimy sekali lagi.

"Its okay Kimy"

Suara Freya membuatku tersadar bahwa hal itu tidak mungkin.

Aku menoleh ke samping dan melihat Freya tersenyum ke arah Kimy dan seorang pria yang duduk di sebelahnya. Pria itu adalah James, kekasih baru Kimy.

Ya, semuanya tidak mungkin kembali seperti semula, hingga suatu hari . . .

"Aku masih menyayangimu" kata Kimy sambil menatap mataku.

Aku merasa semua ini hanya mimpi. Tetapi jika ini mimpi, aku berharap agar aku tidak akan terbangun lagi.

"Ta - tapi"

"Ssst"

Kimy menempelkan jarinya ke bibirku dan membuatku terdiam. Aku mengangguk dan memeluknya. Waktu dan dunia telah berubah tetapi perasaan ku padanya masih tetap sama.

*

Aku dan Kimy menjalani hubungan yang sungguh sangat terlarang. Aku masih memiliki Freya namun aku sama sekali tidak mencintainya. Aku mencintai Kimy meskipun dia telah bertunangan dengan James.

Aku selalu menemani Kimy disaat dia bersedih. Aku selalu ada untuknya seolah - olah dialah kekasihku. Aku tahu ini salah tetapi aku menikmatinya. Setidaknya aku masih bisa memeluk Kimy dan menenangkan hatinya.

Kimy memang benar, yang aku lihat pada diri Freya adalah Kimy. Mereka menyukai hal yang sama, penampilan pun hampir sama. Tetapi, orang yang ku cintai tetaplah Kimy. Aku tidak tahu sampai kapan aku akan terus bertahan pada situasi ini.

“Kimi ga daisuki”

END


 KOSAKATA :

Nande : Mengapa/Kenapa?
Nande mo nai : Tidak ada/Tidak mengapa/ Tidak apa - apa
Hontouni gomen nasai : hontou (sungguh) gomen nasai (maaf) - maaf banget
Baka : bodoh
Arigatou : Terimakasih
Kimi ga daisuki : aku menyukaimu





- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..