Tampilkan postingan dengan label CHAOS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CHAOS. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 April 2013

GUAVA

Malam panjang tanpa bintang. Suasana gang dengan temaram lampu seadanya tampak sunyi. Tidak ada tanda seorang pun yang melintas. Sepertinya semua orang sedang sibuk mengisi malam mereka dengan kegiatan pilihan masing-masing.

Di sudut gang, sebuah lampu berpendar menerangi deretan bata yang menjulang. Tangan mungil dan kecil menelisik tirai. Mata bulat hitam menatap ke arah jalan seakan menunggu kehadiran seseorang. Namun, yang tersisa beberapa jam terakhir hanya bisik angin. Sepi.

Sebuah jambu biji terpelanting manja di atas karpet pada detik berikutnya. Tatapan mata tajam itu kemudian mengarah pada kulit mulus jambu biji. Satu bulir. Dua bulir. Tiga bulir. Airmata mulai menetesi pipinya.



Ada benda yang dapat membangkitkan kenangan. Ada kenangan yang tanpa disadari terus kau tunggu. Ada kenangan yang seharusnya kau sadari akan berakhir sebagai kenangan, tak akan terulang.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Senin, 15 April 2013

LONCENG KEMATIAN


Lonceng bangunan tua itu berdentang untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun lebih tampak mati suri. Penduduk desa meringkuk ke dalam selimut mereka masing – masing karena takut akan kenyataan yang terbangun oleh lonceng itu.

Berpuluh – puluh tahun yang lalu, ada seorang pemuda tampan yang hidup di desa. Warna matanya berbeda dari seluruh penghuni desa itu, perak. Pemuda tampan itu bernama Wira. Tidak ada yang tahu asal usul pasti anak Pemuda itu. Ketika mereka tersadar anak itu telah muncul di desa dan memberikan banyak senyuman.

Wira membuka sebuah toko roti dibangunan peninggalan Belanda yang diberikan oleh warga. Sebagai ganti kebaikan warga desa, Wira harus merawat lonceng yang terdapat dibangunan tersebut. Lonceng yang telah berumur ratusan tahun itu merupakan lonceng penanda jam milik desa. Selama ini tidak ada warga yang bersedia merawat lonceng raksasa itu. Wira secara sepihak ditunjuk untuk merawat lonceng itu. Wira yang tampan dengan telaten mulai merawat lonceng tersebut meski apapun yang terjadi.

Senin, ketika hujan membasahi desa dengan liarnya, lonceng bangunan tua berbunyi. Dentang lonceng tersebut tidak menunjukkan waktu saat itu. Seharian penuh lonceng itu terus berbunyi. Warga desa merasa terganggu namun tidak dapat berbuat apa – apa karena hujan menghambat langkah mereka untuk menghampiri bangunan tempat lonceng itu berbunyi. Bagaimana dengan Wira, mengapa dia tidak memperbaiki lonceng itu?

Jawabannya muncul keesokan harinya ketika lonceng tersebut masih terus berdentang. Matahari bersinar cerah, menyisakan kemilau yang indah dibalik tetes akhir hujan. Bangunan tua yang menjulang megah di tengah desa menarik perhatian warga. Dipuncak bangunan tua, tepatnya di atas lonceng tua terdapat sebuah siluet merah yang mengganggu. Siluet itu membuncahkan rasa panik warga. Tubuh Wira yang tertancap dengan mantap. Ujung bangunan yang runcing tampak menembus indah ditengah perut Wira yang berselimut kemeja berwarna merah. Ke dua bola mata Wira yang indah terpelanting di depan pintu bangunan tua, entah bagaimana caranya.

Entah apa yang terjadi, banyak spekulasi yang muncul namun pada akhirnya cerita itu pun terkubur seiring dengan kesunyian desa tanpa dentang lonceng.

Lima tahun kemudian, seorang pemuda tampan lainnya datang mengunjungi desa. Pemuda itu memiliki bola mata berwarna biru sapphire. Mata sendu yang serupa dengan mata Wira. Kemunculan pemuda itu membuat lonceng bangunan tua kembali berbunyi. Tidak ada yang curiga dengan pertanda itu hingga sang pemuda bermata biru sapphire ditemukan meninggal dengan kondisi yang sama persis seperti Wira.

Kejadian ini terus berulang setiap kali desa tersebut dikunjungi pemuda bermata indah.

“Apa mungkin ini kutukan Wira?”

“Kenapa harus pemuda dengan bermata indah?”

Pertanyaan – pertanyaan beberapa puluh tahun kembali terkuak. Kepala desa kemudian memutuskan untuk menutup akses wisata ke desa. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya musibah aneh tersebut. Namun hal tersebut tidak menghentikan musibah.

Secara misterius, setahun sekali seorang warga desa akan melahirkan seorang anak bayi bermata indah. Ketika anak mereka menginjak umur 5 tahun, sang lonceng akan berbunyi dan musibah itu pun kembali lagi. Mungkin ini karma untuk warga desa. Entah karma karena apa? Yang jelas tidak ada satu pun warga desa yang bisa melarikan diri dari semua kejadian ini.

Kepala desa yang merasa frustasi dengan ini semua pun kembali membuka akses wisata ke desa. Sesuai kesepakatan warga, ada baiknya membiarkan warga asing yang terenggut nyawanya dibandingkan warga desa itu sendiri.

Malam ini, seperti yang sudah dikatakan tadi, lonceng besar itu kembali berbunyi. Siluet merah siapakah yang akan tertancap mesra disana? Bola mata indah milik siapa yang akan terpelanting manja di depan pintu bangunan?

Aku hanya bisa memejamkan mataku yang hampa dan tersenyum dari balik lonceng sembari menatap wajah-wajah ketakutan di bawah sana.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Jumat, 28 Desember 2012

ILALANG SORE


Hallo ilalang sore. Aku mau bercerita.
Belakangan ini banyak sekali derita dan rasa sakit. Entah menimpa mereka, dia, bahkan aku. Ada yang merengutkan wajah. Mencaci kesibukan. Nelangsa meratapi hidup sendiri. Bercuap tentang hampa dan mengenaskannya hidup. Mereka bisa berbagi.

Hallo ilalang sore. Aku mau bercerita.
Sudah terhitung beberapa hari aku bergelung dengan sakit yang menusuk. Menggeliat setiap malam, menangis tiada henti. Tapi apa daya seorang manusia yang sejak dulu bersembunyi? Tidak ada yang tahu.

Hallo ilalang sore.

Jika aku tidak mengajakmu berbicara lagi, mungkin aku sudah menemukan jalanku. Merentangkan sayap menuju nirwana.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Rabu, 21 November 2012

CANTIK


Bagimu cinta adalah kemolekan fisik, wangi dunia yang membasuh jiwa, langkah tegap kaki jenjang, dan segala keindahan untuk matamu. Bagiku cinta adalah kamu, kehangatan kasih sayang, harapan untuk hidup lebih baik, dan debaran lainnya.

“Sudah telat”

Aku mengamit tumpukan buku begitu saja. Membiarkan kertas-kertas terlipat kusut, menindih satu sama lain tak peduli satu bagian atau bukan. Kau berdiri tepat di depan pagar. Senyum pagimu merekah.

“Perlu bantuan?”

Aku hanya bisa mengangguk, membiarkan bias semu merah menampar pipiku. Pagi yang dingin seketika menjadi hangat. Aku selalu suka kebiasaanmu itu. Rapi, teliti, sigap, dan lucu. Kita berjalan bersisian tanpa suara. Hanya detak jantung yang terdengar.

Tanganmu yang besar itu meraih tanganku, membenarkan posisi jalanku yang setengah miring. Aku suka. Jari jemari kita saling berbicara, membisikkan rasa hati yang bahkan dewa dewi sekali pun tidak paham. Inikah yang namanya dunia hanya milik berdua?

Entah berapa lama kita berjalan. Kau berhenti mendadak, matamu terpaku pada satu titik. Seseorang berdiri di ujung jalan. Bibir merahnya merekah memanggil namamu. Kau melempar begitu saja kertas dan buku dalam pelukan. Menghantam wajahku yang berbingkai tanya.

BRUK !

Ternyata mimpi itu lagi.

Kepalaku pusing, badanku sakit karena terpelanting dengan indah. Ya, indah sekali ! Mataku memicing menatap berkas mentari yang menelisik dicelah gorden. Ah pagi telah menyapa. Aku berdiri dengan gontai, mencoba merapikan rambutku dengan sisir perak.

Mimpi tadi selalu membangunkan dengan sangat sempurna tiap pagi.

“Wanita harus terlihat cantik dan mempesona bahkan ketika baru bangun”

Kata-katamu terngiang lagi ditelingaku. Sekuat itukah pengaruhmu terhadap hidupku?

Sebuah handuk bercorak bunga memanggilku, menampar halus bayang semua tadi. Aku memang butuh menyegarkan diriku sendiri. Ingatan itu membuatku ingin berlama-lama memanjakan tubuh diantara derasnya air, berharap semua asa akan luntur bersama air yang mengalir melewati pipa-pipa.

Tik tok . . .

Aku memandang riasan tipis yang menutupi seluruh wajahku. Tidak ada rambut kusut, mata yang sayu, bibir yang kering, dan pipi yang menjemukan. Aku telah berubah dan aku akan membuatmu menyesal. Aku berjumawa.
*
“Aku salah”

Tangismu pecah dihadapanku. Lututmu mencium tanah hampir sejam. Wajahmu penuh dengan peluh sebesar biji jagung, kau terlihat sangat lelah. Apa benar ini yang aku harapkan?

“Kau memang cantik Ra, aku sadar sekarang”

Hangat. Aku cuma bisa mendengar detak jantungnya, detak jantungku. Apa ini? Bukankah aku ingin membuatnya menyesal? Kenapa sekarang aku tidak tega membiarkannya seperti ini?

Dia memang hanya mencintai keindahan fisik dan aku . . . memang hanya mencintainya. Itu bodoh.





- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 20 November 2012

BOGOR, SUATU KETIKA



Hari itu cuaca sedang bahagia. Bandung seakan ingin memuntahkan amarahnya. Panas. Pengap. Keringat. Penghujung minggu yang luar biasa tidak elegan. Teriakan dari kamar samping memaksaku melompat turun dari tempat tidur, membenarkan jaket, merapikan anak rambut, dan menepuk pipi. Kebiasaan pagi yang lucu. Ibu tersenyum dari balik gorden biru.

"Sudah shubuh"

Aku mengangguk singkat. Tante berkata beberapa hal yang kemudian hanya jadi singgahan sementara ditelingaku.

Dentingan piring berbunyi. Tangan-tangan memperebutkan remote tv. Aku meringkuk di samping rak buku. Membaca satu atau dua lembar buku psikologi dengan kaki berlipat, mata berkedut, dan badan yang bergoyang maju mundur. Kebiasaan pagi lainnya.

Seperti biasa, beberapa komentar dari meja makan terdengar.

"Ini anak tiap pagi pasti gitu. Duduk di situ"

"Kak, bisanya ngelipat kaki gitu"

Seulas senyum merekah. Seaneh itukah aku ?

*


Rutinitas pagi telah selesai. Semua berkumpul di dalam mobil. Para anak muda berkumpul disatu mobil kijang hijau muda sedangkan para orang tua di mobil yang lainnya. Pembagian yang adil agar tidak ada teriakan seperti biasanya.

Aku yang biasa mual dan duduk tegang bisa rileks sejenak memandang keluar jendela. Bandung yang macet.

"Tumben gak pusing kak"

"Belum kali ya"

Aku menatap handphone ditangan kananku. Berharap ada seseorang yang menanyakan keadaanku saat ini. Aku terjebak di dalam keramain. Merasa sunyi. Aku tidak baik-baik saja. Aku butuh sendiri dan menangis.

*


Apakah Bogor selalu hujan?

Aku bertanya pada diriku sendiri. Tanganku membasuh jendela yang lembab. Rintiknya tak tersentuh tapi dinginnya terasa. Aku tidak suka. Hingar bingar terdengar disekitarku tapi aku merasa sunyi. Aku tak sendiri tetapi sunyi. Kau tahu, rasanya seperti terkurung di dalam penjara yang memaksamu melakukan sesuatu yang kau suka.

"Lagi ngapain kak?"

"Iseng"

"Selalu deh kak aneh-aneh aja"

Apakah aku memang aneh dimata mereka?



- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Senin, 19 November 2012

RINTIK YANG KU BENCI

Bukankah wajar jika aku tidak menyukainya ? Perciknya begitu menyedihkan buatku. Lembabnya menyakitkan sukmaku. Semuanya kembali terbayang begitu saja tanpa aba-aba yang jelas. Resonansi yang tidak aku sukai seakan memekakkan telinga.

"Hey . ." tepuknya menyadarkanku.

"Apa ?"

"Ayo main di luar. Hujannya indah sekali"

"Kau saja"

Aku kembali ke hari-hariku yang - mungkin hanya aku yang bisa mengerti - bahagia. Sepasang headset hijau, segelas besar air putih, tangan yang sibuk menelusuri laptop entah menulis atau menggambar, dan buncahan senyum yang - mungkin hanya aku yang bisa mengerti - bahagia.

"Hai, mau makan?"

"Tidak juga" Kepalaku setengah masuk ke dalam kulkas.

"Hmmm, tumben keluar kamar. Nyari apaan?"

"Iseng"

Kembali memasang headset. Rintik diluar semakin liar saja sedangkan derajat celcius tubuhku semakin bertambah. Cermin kecil di meja prihatin melihat ke dua pipiku yang memerah.

"Oh tidak, jangan demam" Tanganku otomatis melintang di atas jidat. Panas.

Sudah cukup. Sebaiknya istirahat, setiap hari apa sih yang kamu lakukan di depan laptop? Apa kamu benar-benar sakit atau hanya mencari perhatian.

Handphone putih touch screen itu ku lemparkan begitu saja. Apa yang mereka tahu tentang diriku? Siapa yang ada di sini ketika aku hampir sekarat, berpikir bahwa aku akan mati detik itu juga ? Hanya aku. Siapa yang tahu kalau sejak dulu sesak di dada ini semakin menjadi ketika hujan turun ? Hanya aku.

"Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah . . ."

Tenang saja, semuanya sudah membaik kok :D

Ya, itu yang ingin mereka tahu. Aku si ceria. Ya, itu yang mereka tahu.

Your message has been sent.

Wajar sekali aku membenci rintik kecil ini.

Aku meneguk segelas air putih dengan cepat, mencoba meredakan emosi. Masih tidak bisa. Sebuah jarum kecil mencuat diantara peralatan menjahit. Satu. Dua. Tiga. Menyakitkan juga menyentuh kulit dan daging ditanganku tapi ini menyenangkan. Setidaknya aku bisa merasakan sakit dan melihat gumpalan darah yang membulat. Oh aku masih hidup.





- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Minggu, 30 September 2012

LONCENG KEMATIAN

Lonceng bangunan tua itu berdentang untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun lebih tampak mati suri. Penduduk desa meringkuk ke dalam selimut mereka masing – masing karena takut akan kenyataan yang terbangun oleh lonceng itu.

Berpuluh – puluh tahun yang lalu, ada seorang pemuda tampan yang hidup di desa. Warna matanya berbeda dari seluruh penghuni desa itu, perak. Pemuda tampan itu bernama Wira. Tidak ada yang tahu asal usul pasti anak Pemuda itu. Ketika mereka tersadar anak itu telah muncul di desa dan memberikan banyak senyuman.
Wira membuka sebuah toko roti dibangunan peninggalan Belanda yang diberikan oleh warga. Sebagai ganti kebaikan warga desa, Wira harus merawat lonceng yang terdapat dibangunan tersebut. Lonceng yang telah berumur ratusan tahun itu merupakan lonceng penanda jam milik desa. Selama ini tidak ada warga yang bersedia merawat lonceng raksasa itu. Wira secara sepihak ditunjuk untuk merawat lonceng itu. Wira yang tampan dengan telaten mulai merawat lonceng tersebut meski apapun yang terjadi.

Senin, ketika hujan membasahi desa dengan liarnya, lonceng bangunan tua berbunyi. Dentang lonceng tersebut tidak menunjukkan waktu saat itu. Seharian penuh lonceng itu terus berbunyi. Warga desa merasa terganggu namun tidak dapat berbuat apa – apa karena hujan menghambat langkah mereka untuk menghampiri bangunan tempat lonceng itu berbunyi. Bagaimana dengan Wira, mengapa dia tidak memperbaiki lonceng itu?

Jawabannya muncul keesokan harinya ketika lonceng tersebut masih terus berdentang. Matahari bersinar cerah, menyisakan kemilau yang indah dibalik tetes akhir hujan. Bangunan tua yang menjulang megah di tengah desa menarik perhatian warga. Dipuncak bangunan tua, tepatnya di atas lonceng tua terdapat sebuah siluet merah yang mengganggu. Siluet itu membuncahkan rasa panik warga. Tubuh Wira yang tertancap dengan mantap. Ujung bangunan yang runcing tampak menembus indah ditengah perut Wira yang berselimut kemeja berwarna merah. Ke dua bola mata Wira yang indah terpelanting di depan pintu bangunan tua, entah bagaimana caranya.

Entah apa yang terjadi, banyak spekulasi yang muncul namun pada akhirnya cerita itu pun terkubur seiring dengan kesunyian desa tanpa dentang lonceng.

Lima tahun kemudian, seorang pemuda tampan lainnya datang mengunjungi desa. Pemuda itu memiliki bola mata berwarna biru sapphire. Mata sendu yang serupa dengan mata Wira. Kemunculan pemuda itu membuat lonceng bangunan tua kembali berbunyi. Tidak ada yang curiga dengan pertanda itu hingga sang pemuda bermata biru sapphire ditemukan meninggal dengan kondisi yang sama persis seperti Wira.
Kejadian ini terus berulang setiap kali desa tersebut dikunjungi pemuda bermata indah.

“Apa mungkin ini kutukan Wira?”

“Kenapa harus pemuda dengan bermata indah?”

Pertanyaan – pertanyaan beberapa puluh tahun kembali terkuak. Kepala desa kemudian memutuskan untuk menutup akses wisata ke desa. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya musibah aneh tersebut. Namun hal tersebut tidak menghentikan musibah.

Secara misterius, setahun sekali seorang warga desa akan melahirkan seorang anak bayi bermata indah. Ketika anak mereka menginjak umur 5 tahun, sang lonceng akan berbunyi dan musibah itu pun kembali lagi. Mungkin ini karma untuk warga desa. Entah karma karena apa? Yang jelas tidak ada satu pun warga desa yang bisa melarikan diri dari semua kejadian ini.

Kepala desa yang merasa frustasi dengan ini semua pun kembali membuka akses wisata ke desa. Sesuai kesepakatan warga, ada baiknya membiarkan warga asing yang terenggut nyawanya dibandingkan warga desa itu sendiri.

Malam ini, seperti yang sudah dikatakan tadi, lonceng besar itu kembali berbunyi. Siluet merah siapakah yang akan tertancap mesra disana? Bola mata indah milik siapa yang akan terpelanting manja di depan pintu bangunan?

Aku hanya bisa memejamkan mataku yang hampa dan tersenyum dari balik lonceng sembari menatap wajah – wajah ketakutan di bawah sana.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 29 September 2012

LOLITA

Bory


Apakah kau tahu arti kesepian? Jika kau berkata ya hanya karena semua orang tampak tidak peduli padamu maka kau salah. Jika kau berkata ya hanya karena dia yang kau cintai menjauhimu maka kau salah. Kesepian adalah Lolita, gadis bergaun putih yang dibuang di dalam hutan tak berpenghuni. Hutan terlarang, begitulah masyarakat awam selalu menyebutnya. Mereka menyebut segala sesuatu yang tidak bisa mereka rengkuh dengan kata ‘terlarang’. Picik dan memalukan sekali. Bukankah manusia memiliki derajat yang tinggi? Kenapa mereka mesti takut pada hutan dan segala suara aneh yang sebenarnya hanya diciptakan oleh imajinasi mereka sendiri? Sampah.

Lolita mengusap punggung tangannya yang putih bersih. Telinganya yang panjang bergerak sangat lucu. Beberapa masyarakat desa menyelinap masuk ke dalam hutan. Mereka adalah sekumpulan pemberontak murahan yang hanya ingin diberi sebutan pemberani. Lolita memanjat sebuah pohon meninggalkan jejak gaun putihnya yang berkibar.

“Kau lihat itu?” teriak salah seorang pemberontak murahan dengan gugup.

“Cuma angin” jawab yang lainnya.

Lolita terkikik dari atas pohon. Malam seperti ini telah terjadi beberapa kali. Lolita ingin mempermainkan para pemberontak murahan itu agar kembali dengan raut wajah selucu para pemberontak murahan terdahulunya. Lolita menarik perhatian mereka karena dia kesepian. Jika kau bilang padaku mengapa Lolita tidak bergabung bersama masyarakat desa? Maka tolong jawablah pertanyaanku ini, apakah masyarakat desa yang picik yang dulu telah membuang seorang bayi tak berdosa ke hutan hanya karena bayi itu terlihat berbeda akan menerima bayi itu lagi ketika bayi itu telah dewasa?

Jika kau berkata tidak, maka janganlah sok tahu dan merasa berhak memberikan komentar mengenai kehidupan orang lain.

Jika kau berkata ya, maka tunjukkanlah bukti bahwa kau akan menjamin segalanya jika hal yang paling buruk akan terjadi karena dunia tidak membutuhkan pahlawan yang hanya bisa sesumbar tetapi picik dan penakut.

Berani?



- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..