Tampilkan postingan dengan label FAMILY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FAMILY. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Juli 2012

JANJI - JANJI AYAH V


V

Ayah sedang asyik membaca koran hari ini sambil menikmati secangkir kopi hitam di taman depan rumah. Dari dapur aku bisa melihat wajah Ayah yang semakin menua. Tak jauh dari Ayahku duduk, pria lain yang kusayangi pun sedang menikmati secangkir kopi sambil membaca koran. Mereka berdua tampak menikmati dunia sendiri.

“Aku mau masuk dulu” suara kaku pria yang kusayangi terdengar jelas.

Pria itu berjalan ke arahku sambil tersenyum masam. Aku tahu dia tidak nyaman dengan kehadiran Ayah di rumah kami tapi aku tidak bisa berbuat banyak. Sejak Ibu dirawat di rumah sakit, Ayah tidak bisa ditinggal sendiri. Di usianya yang semakin senja Ayah juga memerlukan perhatian khusus dan sebagai anak semata wayangnya, aku harus melakukan hal tersebut meskipun rasa engganku telah menggerogoti hatiku.

“Katamu hanya dua hari” pria yang kusayangi menarikku ke dalam kamar dan mulai marah.

“Mau bagaimana lagi, aku kira Ayah bakal pergi dengan sendirinya tapi ternyata Ayah masih betah disini. Lagipula kita gak bisa biarin Ayah tinggal sendirian, bagaimanapun juga dia masih Ayahku dan mertuamu”

“Alasan ! Kamu kan bisa bilang sama Ayah kalau kamu gak betah Ayah disini. Kita pengantin baru, sudah seharusnya Ayahmu itu mengerti !!” suaranya mulai meninggi.

“Pelankan sedikit suaramu”

“Biarkan saja !! Supaya Ayahmu bisa dengar semuanya. Sudah sejak awal dia tidak setuju hubungan kita !! Aku yakin sekarang Ayahmu disini karena ingin memisahkan kita !” dia mulai berteriak.

“Tolong jangan bicara seperti itu tentang Ayah” airmataku mulai menetes.

“Kenapa? Bukannya kamu juga bosan dengan tingkah Ayahmu itu? Bosan dengan semua janji – janjinya?”

Aku terdiam. Memang benar aku bosan dengan semua janji Ayah dan merasa kecewa dengan janji – janji itu tetapi Ayah tetaplah Ayah.

“Sudah berhenti menangis” dia menarik tanganku dengan kasar.

Tok tok tok . . .

“Flora?” suara Ayah terdengar lembut menyapa dari depan pintu.

Aku berlari dengan cepat ke arah pintu sambil menghapus jejak airmata yang tadi sempat mengalir.

“Ada apa Yah?” aku mencoba berbicara dengan intonasi yang tenang.

“Ayah mau pulang ke rumah. Kata dokter Ibumu sudah bisa dirawat di rumah. Maaf Ayah telah merepotkan kamu”

Sebuah tas besar telah tersampir dibahu Ayah. Sepertinya Ayah mendengar pertengkaran kami tadi.

“A-Ayah”

“Sudah tenang saja, Ayah bisa pulang sendiri kok”

Sepi. Siluet Ayahpun menghilang dengan cepat. Rasa hampa menyergap ke dalam ragaku. Kenangan dan rasa seperti ini pernah ku alami dulu.

*

Membiarkan semuanya berjalan dengan semestinya malah membuat hidupku terasa semakin suram. Bayangan Siska di dalam hidupku semakin terasa. Di rumah, Ibu selalu mengutamakan Siska sedangkan didalam lingkaran persahabatan kami James lebih memilih Siska dibanding aku. Dan hanya menunggu waktu yang tepat hingga akhirnya James benar – benar memilih Siska sebagai pendamping hidupnya.

“Ini akibatnya berdamai dengan keadaan !!” aku mulai membenci perkataan Ayah.

“Semua pasti ada hikmahnya Ra” Alvin selalu mencoba menenangkanku.

“Iya memang ada ! Aku tidak boleh berhenti membenci Siska. Dia sudah merebut semuanya dariku” aku berteriak marah dan meninggalkan Alvin terpaku sendirian di taman.

Hari berganti hari, masa kuliahku terlewati dengan berkonsentrasi mengalahkan Siska serta merebut semua hakku yang diambilnya. Aku mulai berhenti berbicara kepada Ayah dan Alvin mengenai semua rencanaku. Menurutku itu percuma karena mereka akan selalu memintaku untuk berdamai dengan keadaan, bersikap bijak, atau apapun itu. Omong kosong.

Sekarang yang aku yakini adalah aku harus merebut kebahagiaanku sendiri. Cara apapun akan ku tempuh. Pertama, aku harus merebut kasih sayang Ibu dari Siska. Untuk mewujudkan hal tersebut aku selalu mencoba bersikap semanis mungkin terhadap Siska agar Ibu bisa sedikit bersimpati padaku. Prestasiku di kampus juga harus aku tingkatkan agar Ibu semakin senang dan bangga padaku melebihi Siska.

Bersikap baik pada Siska membuahkan hasil yang sangat bagus. Siska sangat mempercayai aku sehingga aku dengan mudah bisa menghancurkan semua rencananya. Menghancurkannya dari dalam jauh lebih gampang dan menyakitkan. Lagipula, dia tidak akan pernah menyangka aku yang kemudian akan menghancurkan hidupnya.

Rencana pertamaku untuk meraih cinta Ibu telah berjalan sukses, dan rencanaku untuk merebut James pun telah berjalan dengan mulus bahkan sebelum aku menjalankan rencana tersebut. Belakangan ini Siska dan James sering sekali bertengkar entah apa alasannya. Yang jelas James selalu mencariku untuk berbagi keluh kesah. Tidak ada yang lebih indah dibandingkan hal ini.

“Sudah ada waktu untuk Ayah?” Ayah menerobos begitu saja ke dalam kamar.

Sudah hampir empat tahun aku tidak berbincang banyak dengan Ayah. Aku selalu berlari dan mencari alasan untuk tidak berbicara berdua saja dengan Ayah. Entah sejak kapan cara Ayah berbicara padaku pun berubah. Dulu Ayah selalu menyebut namaku seolah aku masih gadis kecilnya namun sekarang Ayah memperlakukanku selayaknya anak gadisnya yang telah dewasa.

“Eh ada apa Yah?”

“Pola hidupmu semakin berubah sejak kamu dewasa. Alvin sering menanyakan kabarmu. Sekarang dia sudah bekerja di perusahaan ternama di Amerika”

“Baguslah” kataku singkat.

“Kenapa kamu tidak pernah menghubunginya lagi?” Ayah mencoba bertanya sambil meneliti koleksi bukuku, seperti kebiasaan Ayah selama ini.

“Aku sibuk Yah”

“Sibuk apa menghindar?”Ayah menatapku sekilas lalu beralih ke jejeran buku,” Ayah tahu kamu menghindari Ayah dan Alvin karena kita selalu menasehatimu untuk tidak melakukan hal yang aneh – aneh terhadap Siska”

“. . . .”

“Apa yang selama ini Ayah katakan padamu hanya angin lalu?”

“Aku . . . aku tidak mengerti apa kata Ayah” jawabku gugup.

“Kamu mengerti, sangat mengerti. Ayah sudah berjanji untuk mengembalikan langkahmu yang berbelok ke jalan yang salah. Sejauh ini Ayah lihat, kamu telah berjalan ke arah yang salah. Siska tidak seburuk apa yang bergejolak dipikiranmu.”

Sekarang Ayah membela Siska? Aku tersentak dengan pernyataan Ayah itu.

“Ayah juga berjanji untuk membiarkan aku meraih kebahagiaanku” desisku menahan marah.

“Tapi ini bukan kebahagiaan yang sebenarnya. Flora, coba gunakan hatimu untuk melihat ini semua”

“Ayah sudah janji !! Ayah sudah janji untuk membiarkan aku meraih kebahagiaanku dan inilah caraku” amarahku mulai tersulut.

Ayah menghela napas dan memandangiku dengan tatapan sedih. Aku tidak tahan melihat tatapan mata itu. Aku memilih menundukkan pandanganku.

“Baiklah. Tapi kamu harus ingat, kebahagiaan yang terbentuk dengan merebut kebahagiaan orang lain bukanlah kebahagiaan sejati. Itu hanyalah napsu belaka. Dan Ayah minta, jauhi James. Kamu tidak tahu seberapa busuknya dia. Siska sudah menceritakan semuanya pada Ayah”

Aku mengepalkan tanganku. Tahu apa Ayah tentang kebahagiaanku? Bukankah selama ini justru Siska yang telah merebut semuanya dariku? Kenapa Ayah melarangku mendekati James? Entah apa yang telah Siska katakan hingga sekarang Ayah berpihak padanya.



continue . . .

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Kamis, 05 Juli 2012

JANJI - JANJI AYAH IV


IV



Kata orang, cinta pertama adalah cinta yang paling sulit dilupakan. Dia menelisik jauh ke dalam hati kita secara perlahan, tanpa kita sadari. Itulah yang terjadi padaku ketika bertemu dengan seorang lelaki di tempat kursusku. Nama lelaki itu adalah James Aji Wijaya. Seorang lelaki blasteran Belanda – Jawa yang terlihat begitu bersinar dimataku.

“Ganteng banget” desisku saat James melintas dan melambaikan tangannya padaku.

“Iya udah tahu. Kalau dihitung – hitung udah hampir seribu kali kamu ngomong kayak gitu Ra” Alvin menanggapi dengan sinis.

Ah aku hampir lupa, entah bagaimana caranya berminggu – minggu kemudian aku dan Alvin menjadi sangat dekat. Awalnya hal tersebut membuahkan gosip tak sedap di area sekolah. Banyak yang mengatakan jika hubunganku dengan Alvin melebihi hubungan pertemanan namun seiring berjalannya waktu, gosip tersebut hilang selayaknya debu yang terbawa oleh angin.

Lagipula sejak awal memang aku telah berjanji untuk tidak menyukai Alvin melebihi rasa sukaku terhadap seorang teman atau sahabat. Sikap Alvin yang mirip dengan Siska membuatku takut untuk menjalin hubungan lebih dengannya. Dan sekarang aku telah memilih tambatan hati sendiri, James.

“Bagaimana kabar pangeran Belandamu?”

“Makin matang Yah, ternyata dia pintar banget” jawabku bersemangat.

Mungkin ini terdengar aneh tetapi aku lebih suka membagi ceritaku dengan Ayah dibanding beberapa sahabatku. Masalah apapun pasti akan ku ceritakan kepada Ayah, termasuk masalah hati. Ayah selalu bisa memberikan tanggapan baik akan hal yang aku ceritakan. Terkadang Ayah bersikap selayaknya sahabat yang memeluk segala ceritaku dengan santai namun terkadang Ayah bersikap selayaknya seorang kepala keluarga yang ingin menjaga putri kecilnya.

“Baguslah, jadikan itu penyemangat buat belajar. Ingat, Flora sudah kelas tiga dan sebentar lagi mau UAN. Fokus sama masa depan dulu” sepertinya malam ini Ayah berperan sebagai seorang Ayah.

“Kan cinta juga ada hubungannya sama masa depan Yah” kataku sambil nyengir.

“Ya sudahlah, nanti kalau sibuk Flora juga bakal lupain masalah ini”

Sekali lagi Ayah benar. Semenjak mempersiapkan diri menghadapi UAN, aku mulai berhenti memikirkan James dan segala macam hal yang berkaitan dengannya. Aku fokus untuk meraih prestasi sekali lagi dan membuat bangga Ayah. Ayah, Ibu, Alvin, bahkan James banyak membantuku. Rasanya sangat menyenangkan memiliki orang – orang yang selalu memberikan energi positif padamu. Segala sesuatu yang terlihat menakutkan berubah menjadi mudah seketika itu juga.

Dan pada akhirnya hari – hari berat pun terlewati dan masa indah kembali menghampiriku sekali lagi. Aku diterima disebuah perguruan tinggi ternama di kotaku bersama dengan Alvin dan juga James. Aku, Alvin, dan James menjadi tiga sahabat yang tidak terpisahkan. Rasa cintaku pada James kini tumbuh semakin besar. Mungkin dulu karena kesibukan yang ada aku bisa sedikit melupakan masalah ini, namun seiring berkembangnya waktu aku menyadari satu hal bahwa rasa ini tumbuh semakin dalam dan mengakar kuat.
Awalnya aku merasa tidaklah mengapa jika rasa ini tidak tersampaikan pada James selama aku masih bisa melihatnya dari jarak dekat dan menjadi orang pertama yang mengetahui semua tentangnya. Namun, kehadiran Siska di rumahku sekali lagi membuat aku tidak bisa berdiam diri saja.

*

“Siska sering ngirim email ke Flora kok, tapi tidak pernah ada balasan. Siska pernah sesekali telpon ke rumah, cuma diangkat sekilas terus sambungannya terputus. Siska pikir Ibu sekeluarga lagi sibuk makanya Siska mutusin gak hubungi ke rumah lagi” Siska menjelaskan panjang lebar kepada Ibu yang tadi mengatakan kekecewaannya.

Aku menghela napas dari sudut ruangan, berharap kehadiran Siska hanyalah mimpi belaka. Tetapi ketika melihat tatapan tajam Ibu, aku sadar ini adalah kenyataan. Kenyataan yang teramat pahit.

“Flora, kenapa kamu tega berbohong sama Ayah dan Ibu?” Ayah mendekatiku sambil berbisik perlahan.

“Ayah tahu kan kalau Flora gak suka sama dia” aku melemparkan pandanganku pada Siska yang masih asyik bercerita.

Ayah terlihat kaget dengan penyataanku.

“Ayah kira Flora sudah berdamai dengan keadaan”

“Flora memang sudah berdamai dengan keadaan tapi Flora tidak bisa berdamai dengan rasa sakit hati”

Aku melengos begitu saja setelah mengatakan hal itu. Masa bodoh jika akhirnya Ayah atau Ibu akan memarahiku. Aku hanya ingin mereka sadar bahwa aku tidak suka Siska merebut semua yang telah aku miliki saat ini.

“Siska ada disini” aku berbisik perlahan di telepon.

Selain Ayah, aku masih memiliki Alvin yang telah tahu semua ceritaku tentang Siska dan rasa sakit yang tanpa sengaja dia ciptakan. Meskipun suka pada James, aku lebih memilih untuk bercerita kepada Alvin.

“Ya udah biarin aja. Jangan sampai rasa kesalmu bikin semuanya hancur. Kamu kan sudah berubah banyak dan jadi jauh lebih hebat dibanding Siska” suara Alvin terdengar berapi – api dari seberang.

Aku hanya bisa tersenyum simpul menanggapi komentar Alvin. Sejam kemudian terlewati dengan semua curhatan kekesalanku. Alvin yang sesekali ku ejek memiliki perangai yang mirip dengan Siska menanggapi semuanya dengan bijak dan bagiku ini sangat aneh.

“Obrolan dengan Alvin masih mau berlanjut?”

Teguran Ayahlah yang membuat sambungan itu terputus. Ayah masuk ke dalam kamarku sambil tersenyum ramah, selalu seperti itu.

“Kalau Ayah mau memarahi Flora, silahkan saja” kataku kesal.

“Ayah gak mau marah kok” tangan Ayah menarik sebuah buku tebal dari jejeran rak buku,”kamu sudah pernah baca buku ini kan?”

Ayah menunjukkan sampul buku tebal tersebut. Buku bersampul cokelat lusuh itu terlihat sedikit berdebu. Terakhir kali aku membaca buku itu adalah ketika SMP tapi aku masih mengingat dengan jelas apa isi buku tersebut. Buku itu bercerita tentang seorang pengembara yang suka sekali membohongi penduduk desa dan pada akhirnya meninggal karena kebohongannya sendiri.

“Masih ingat ceritanya?”Ayah kembali bertanya.

Sepertinya aku tahu kemana arah pembicaraan Ayah. Aku pun mengangguk pasrah, apapun yang akan Ayah katakan nanti sebaiknya aku terima.

“Untunglah Flora masih ingat. Ayah takut Flora berubah menjadi sang pengembara.”

“Maafkan Flora”

“Iya, sudah Ayah maafkan. Ayah tahu Flora masih sakit hati dengan kedekatan Ibu dan Siska, tapi coba Flora sedikit berbesar hati. Siska sudah kehilangan seluruh anggota keluarganya, dia hanya memiliki kita. Coba bayangkan kalau Flora berada diposisi Siska, apa yang Flora rasakan jika keluarga tempat bertumpu Flora bersikap seperti sikapnya Flora ke Siska?”

Bulir airmata perlahan menetes dipipiku. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padaku jika kehidupanku dan Siska ditukar. Rasanya pasti sulit dan sedih sekali. Ayah mengusap punggung kepalaku, mencoba menenangkan kesedihanku.

“Flora bakal minta maaf ke Siska, Yah. Makasih sudah mengingatkan Flora”

“Iya, itu sudah kewajiban dan janji Ayah”

*

Aku mulai berdamai sekali lagi dengan Siska. Aku mencoba bersikap sebaik mungkin dan menjaga perasaan Siska serta Ibu. Sebagai langkah awal, aku mengijinkan Siska untuk masuk ke duniaku dengan mengenalkannya pada ke dua sahabatku, Alvin dan James. Namun, sesuatu tak diduga pun terjadi dan keteguhanku buat berdamai pun goyah.

“Siska?”

“James?”

Siska dan James saling bertatap kaget saat aku coba memperkenalkan mereka. Bukan hanya mereka yang kaget, bahkan aku dan Alvin pun sempat tertegun lama menatap Siska dan James yang akhirnya berbicara sangat akrab.

“James ini teman satu sekolahku di Singapura dulu tapi dia mendadak pindah” jelas Siska.

Aku dan Alvin pun mengangguk paham. Relung rasa sakit membuncah lagi. Ya Tuhan, kenapa setiap aku ingin berdamai dengan Siska selalu saja ada hal yang mengusik semuanya?

“Makasih ya Ra” kata Siska sambil tersenyum tulus saat kami berjalan menuju rumah.

“Terimakasih untuk apa?” tanyaku heran, bukankah selama ini aku selalu bersikap sinis padanya?

“Berkat kamu, aku bisa ketemu sama James lagi. Dia cinta pertamaku”

Seperti disiram air es seember penuh tubuhku pun membeku, kaku ditempat.

*

“Jadi?” Alvin kembali bertanya setelah aku berbicara panjang lebar mengenai perasaan Siska terhadap James.

“Ya ampun Vin, masa kamu gak ngerti sih. Aku sudah bosan jadi rivalnya si Siska dan selalu saja kalah. Entah dalam urusan sekolah maupun meraih cinta Ibu. Masa sekarang . . .” kata – kataku menggantung diudara begitu saja. Kemungkinan terburuk pun meluncur dengan cepat di kepalaku.

“Jalani aja dulu Ra. Belum tentu juga kan si James suka sama Siska”

“Benar kata temanmu” Ayah muncul mendadak dari pintu.

Aku memajukan bibirku dan merengut, bukan karena Ayah yang sepertinya menguping pembicaraan kami tetapi karena Ayah selalu mendukung perkataan Alvin.



continue . . .

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 03 Juli 2012

JANJI - JANJI AYAH III


III

“Sudah malam, sebaiknya kita tidur biar kau juga bisa tenang sayang”

Pria yang di sampingku kini menarikku perlahan, menjauhkanku dari bayangan kesedihan yang mulai menggerogoti hatiku. Dan dia memang benar, saat ini aku sangat membutuhkan ketenangan seperti yang dulu pernah ku rasakan. Sejak Ayah kembali memutuskan untuk memantau kehidupanku lagi, semua ketenangan rasanya sirna. Ayah memang masih tidak berkomentar banyak atas apa yang terjadi kini namun tatapan mata serta sikapnya telah menjabarkan semuanya.
*
Setelah dikabarkan mendapatkan beasiswa, sebulan kemudian Siska meninggalkan rumah kami dan melanjutkan sekolahnya di Singapura. Seluruh biaya hidupnya kini ditanggung oleh sebuah lembaga. Ini adalah kabar gembira bagiku karena aku tidak perlu berbagi kehidupan bahagiaku dengannya. Aku memang kejam tetapi ini kehidupanku dan aku merasa cukup membaginya untuk Siska.

“Mau melihat – lihat sekolah barumu?” Ayah tersenyum sambil menyeruput kopi hitam.

“Iya Yah, jam empat Flora mau kesana”

Ayah menangguk dan kembali menatap siaran televisi. Jika sudah begini Ayah tidak boleh diganggu. Jam dinding dirumah menunjukkan pukul satu, masih ada beberapa jam ke depan untuk menengok sekolahku yang baru. Hampir setahun menjalani hari – hari yang cukup melelahkan di SMA terdekat, aku dengan susah payah membujuk ke dua orangtuaku untuk memindahkanku ke sekolah yang sekarang. Aku ingin menghilangkan semua bekas kenangan bersama Siska. Mungkin aku telah berdamai dengan keadaan namun rasa sakit di dalam dadaku tetap ada.

“Flora, bisa bantu Ibu sebentar?” tanya Ibu yang tampak sibuk membungkus pesanan.

“ya Bu”

Secepat kilat aku berlari membantu Ibu. Kehidupan yang dulu telah kembali bahkan jauh lebih baik. Hubunganku dengan Ibu semakin dekat dan Ibu tidak pernah meremehkan aku lagi. Sebagai anak, aku juga ingin terlihat membanggakan dimata Ibu. Aku mulai memperbaiki diriku menjadi gadis yang lebih patuh dan santun seperti yang selama ini Ibu inginkan.

“Siska sudah membalas emailmu?” Ibu membuka pertanyaan yang sama seperti kemarin.

“belum Bu” aku mencoba menjawabnya dengan nada yakin.

“Aneh sekali, apa mungkin dia sibuk sekali disana ya?”

“Mungkin saja Bu”

Kenyataannya malah aku yang tidak pernah membalas email yang Siska kirimkan selama ini. Jika dia mengirimkan email berkali – kali baru aku membalasnya, itupun dengan kalimat seperlunya saja. Entah beruntung atau tidak,  Ayah dan Ibu sama seperti orang tua lain di kompleks perumahan ini tidak mahir memanfaatkan fasilitas internet yang ada. Hal ini memudahkanku untuk menjauhkan Ibu dari Siska.

*

Pohon cemara berjejer rapi diseputaran lapangan parkir. Suasana sore yang tenang tergambar jelas di sekolah ini. Tampak beberapa murid berlari menuju pelataran parkir yang terlihat agak legang. Pak satpam yang siap siaga menjaga pintu gerbang tersenyum ramah. Satpam itu bernama Sudino, orang jawa yang aksen ngapak yang sangat kental. Dia mempersilahkan aku masuk kesini tanpa bertanya banyak hal. Sepertinya dia mempercayai penampilanku yang tampak seperti anak gadis baik – baik.

“Awas !!”

Buk . . .

Sebuah bola basket mendarat mulus dikeningku. Hawa segar dan ketenangan yang tadi coba kubayangkan menghilang begitu saja dari kepalaku, digantikan oleh rasa sakit yang berdenyut cepat.

“Kamu tidak apa – apa?”

“Mana ada orang yang dicium bola basket baik – baik saja” teriakku.

“Maaf”

Seorang lelaki bertubuh tinggi menampakkan wajah penyesalannya. Jika ini drama televisi, aku yakin akan ada scene dimana pemeran utama wanita yang kepalanya terkena hantaman bola mendadak jatuh cinta pada pemain basket yang tidak sengaja melemparkan bola tersebut dan sebuah backsound selama beberapa menit akan menghiasi tatapan love at the first sight diantara ke duanya. Tetapi hal itu tidak terjadi padaku, lelaki yang ada dihadapanku kini malah terlihat menyebalkan, alih – alih terkesima.
Aku berdiri sambil memegang keningku yang sepertinya memerah dan meninggalkan lelaki itu yang mematung karena mendapatkan penolakan.

“Aku bilang maaf”

Lelaki itu menarik tanganku.

“Iya, udah aku maafin”

Lelaki itu tersenyum lalu berkata, “ Aku Alvin, murid di sekolah ini. Kamu siapa?”

“Flora, murid baru”

Sebelum Alvin atau siapalah itu namanya mau membuka mulutnya lagi, teman setimnya memanggilnya dari arah lapangan.

“Aku, mau lanjut latihan dulu ya” dia mengarahkan telunjuk ke lapangan basket.

“Oke”

Sore hari tanpa Siska ternyata tetap menyebalkan.

*

Alvin Kuntoro, sang ketua tim basket sekolah ternyata anak yang populer. Baru tiga hari masuk sekolah, rasa bosan mendengar namanya sudah mengalun. Tak heran sebagian besar murid perempuan di sekolahku menganguminya, tidak terkecuali teman sebangkuku, Andin.

“Alvin itu ganteng, pintar, lucu, baik hati lagi”

Kata – kata Andin itu membuatku merasa seperti berada di dalam sebuah drama televisi. Aku tidak mau terjebak dalam sebuah kisah drama televisi yang terlihat menyebalkan ini. Jika di dalam drama televisi sang pemeran utama wanita yang awalnya benci menjadi cinta, aku bersumpah dan yakin tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi padaku. Lagipula aku tidak sebenci itu pada Alvin karena sampai saat ini aku tidak menabuh genderang perang padanya. Aku mencoba bersikap selayaknya teman biasa.

“Hey Flora, bagaimana kepalamu?” Alvin duduk di sampingku dengan santai.

“Masih nyambung sama badan, tenang aja”

Alvin tertanya renyah mendengar jawabanku. Sikapnya ini mengingatkanku pada Siska.

“Bisa aja sih. Eh rumahmu itu di kompleks melati bukan? Kemarin aku gak sengaja lihat kamu disekitar sana”

“Apa dia ngikutin aku ya? Bukannya rumah nih cowok beda jalur sama rumahku?” batinku.

“Begitulah” jawabku pada akhirnya.

“Nanti pulangnya bareng ya, sekalian kita ngerjain tugas fisika di rumahmu” kata Alvin santai dan lagi – lagi terdengar seperti omongan Siska.

“Kenapa mesti di rumahku?”

“Kita kan sekelompok, sekalian aku pengen tahu dimana rumahmu”

Aku mengangguk tanpa berkomentar lebih jauh.

Tiga hari belakangan ini takdir selalu mempertemukanku dengan Alvin. Ah lebih tepatnya disebut kenyataan tak terduga. Alvin ternyata sekelas denganku entah itu di sekolah maupun tempat kursus, satu kelompok dalam berbagai tugas – parahnya satu kelompok terdiri dari dua orang, dan sekarang . .

“Loh, Alvin? Kamu teman sekelasnya Flora?”

Dia kenal Ibuku dengan baik.

*

“Sekolah baru menyenangkan bukan?” Ayah mendadak muncul dibalik pintu kamarku.

Aku mengangguk dan tetap mengerjakan tugas bahasa Inggris yang diberikan tadi siang. Ayah mendekati rak buku dan membolak – balik beberapa buku yang dipilihnya. Sudah lama aku tidak menghabiskan waktu sunyi seperti ini dengan Ayah. Terakhir kali berbicara dengan Ayah adalah ketika kunjungan perdana Alvin ke rumah.

Sikap Alvin yang baik terhadap Ayah serta candaan bahagianya dengan Ibu, sekali lagi mengingatkanku akan sosok Siska. Bedanya Alvin adalah seorang lelaki dan keluarganya masih utuh serta bahagia. Alvin mengenal Ibuku karenya Ibunya adalah salah satu langganan dibutik milik Ibu.

“Koleksi buku Flora belum bertambah ya?” Ayah mulai bertanya sambil kembali meneliti rak buku.

“Iya nih Yah, duit jajannya kepake mulu buat tugas” aku berhenti menulis.

“Tunggu sebentar . .” Ayah keluar kamar dan kembali sambil membawa sebuah bungkusan berlogo salah satu toko buku, “jadi gak ada salahnya Ayah ngasih ini ke kamu kan?”

Aku menerima bungkusan itu dengan binar bahagia. Ada tiga novel bersampul plastik disana. Sepertinya ini hadiah dari Ayah karena tidak bisa menemaniku bercerita selama beberapa minggu ini. Karir Ayah semakin menanjak dan kehidupan kami semakin membaik dalam hal finansial namun kebersamaan seperti dulu mulai terkikis. Dan hey, ternyata novel yang diberikan Ayah adalah novel yang selama ini aku incar.

“Wah ini kan novel yang Flora mau”

“Syukurlah kalau begitu, Ayah sempat ragu mau beliin apa gak soalnya Ayah takut Flora sudah beli duluan”

“Oh pantes Ayah meriksa rak buku Flora, sama seperti dulu” aku tersenyum sambil menerawang jauh.

“Ayah berusaha memberikan yang terbaik buat Flora. Maafin Ayah yang terlalu sibuk. Ayah janji akan selalu ngasih yang terbaik buat Flora. Ayah senang akhirnya Flora sama Ibu bisa sahabatan. Ayah gak perlu khawatir lagi karena Flora gak punya sandaran buat nangis kayak dulu”

Aku tertawa mendengar perkataan Ayah. Sewaktu Siska masih disini, aku sering menghabiskan malamku bersama Ayah. Curhat mengenai segala hal termasuk tentang Siska dan Ibu, dan disetiap cerita aku tidak pernah bisa menahan bulir airmataku untuk berhenti mengalir. Disaat seperti itu Ayah selalu menjadi sandaranku. Ayah menepati janjinya untuk ada disaat aku sedih dan menjadi sandaran utamaku.

“Tapi kalau Flora ada masalah sama cowok, Flora butuh Ayah kan ya?” Ayah melirik jam tangan yang diberikan Alvin saat aku berulang tahun.

Aku melotot seakan berkata, “itu hanya jam tangan biasa dari seorang sahabat”
Ayah tersenyum simpul lalu melanjutkan, “Cepat atau lambat Flora pasti mau cerita tentang masalah hati sama Ayah. Kalau udah kayak gitu Ayah mesti kurangi kesibukan nih. Apa ayah resign aja ya dari kantor?”

“Eh jangan Yah” aku merengut sambil menatap Ayah yang tertawa bahagia keluar dari kamar.

Perkataan Ayah malam itu pun menjadi kenyataan seiring dengan berjalannya waktu. Dan janji – janji Ayah yang lainnya pun mulai menunjukkan kegoyahan karena takdir.


continue . . .
- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Jumat, 22 Juni 2012

JANJI - JANJI AYAH II

II

Malam merajut bingkai yang kelam selaras dengan wajah Ayah yang terdiam disudut ruang tv. Aku menatap Ayah dengan perasaan pilu. Aku tahu tidak seharusnya aku melakukan ini semua setelah janji – janji yang Ayah tepati padaku. Namun keegoisanku menutup itu semua, Ayah juga telah berjanji untuk membiarkanku memilih jadi sudah seharusnya Ayah menepati janji itu sekali lagi.

“Apa yang kau lakukan disini sayang?”

Suara lembut itu menyapaku hangat. Pria yang hari ini sah menjadi suamiku itu memelukku hangat. Aku tersenyum getir menerima pelukan itu dan tetap menatap Ayah dari sudut mataku.

“Sampai kapan Ayah disini?” dia bertanya padaku lirih.

“Mungkin dua hari”

Aku tahu dia dan Ayah tidak akur karena beberapa hal. Sejak awal Ayah adalah orang yang paling menentang hubunganku dengannya namun karena aku bersikukuh untuk tetap menikah dengan pria pilihanku sendiri, Ayah pasrah menerimanya. Ini janji Ayah padaku, janji yang pada akhirnya menumbuhkan penyesalan seperti rasa sesalku karena berdamai dengan keadaan terdahulu.

*

Aku masih mengingat dengan jelas aroma tanah pemakaman yang basah oleh air hujan, suara pelayat, dan bahkan pelukan hangat saling menguatkan. Setiap kehidupan pasti memiliki akhir dan disetiap akhir selalu ada awal yang baru. Dan hari itu adalah hari bagi segala awal dan akhir yang akan menjadi penentu hidupku sekarang.

Hari itu Siska kehilangan Ibunya, satu – satunya keluarga yang dia miliki. Aku yang telah berdamai dengan keadaan karena mengingat janjiku pada Ayah selama beberapa tahun ini, datang menguatkannya. Matanya membengkak dan merah, tampak jelas dia menangis semalam suntuk.
Ibu yang berdiri di samping Ayah pun ikut menangis. Aku tahu Ibu sangat menyukai Siska dan aku sudah tidak terlalu peduli dengan hal itu lagi.

“Siska, ikut tante pulang yuk”

Siska tidak merespon apa – apa. Ibu menatap Ayah dengan segenap harapan. Ayah mengerti tatapan itu, lalu mendekati Siska.

“Om tahu kamu sedih tapi kalau kamu terus seperti ini, Ibumu pasti lebih sedih lagi”

Siska mulai mengangkat wajahnya dan menatap Ayah. Manik matanya tampak pilu dan kosong.

“Siska sudah tidak punya siapa – siapa lagi om” kata – kata itu terdengar getir melayang di udara.

“Kamu masih punya kami” tanpa sadar aku ikut berbicara. Ibu dan Ayah mengangguk ikhlas.

Siska menatap kami secara bergantian dan kemudian memutuskan untuk bangkit dari tanah yang masih basah itu. Mungkin dia merasa inilah kesempatannya untuk memulai sebuah hidup yang baru lagi. Ibu menggandeng tangan Siska dan mengajaknya pulang ke rumah kami. Melihat Ibu dan Siska seperti itu, rasa sesak didadaku muncul seketika.

“Siska tidak akan mengambil Ibu darimu” gumam Ayah.

*

Bulan menggantikan minggu yang bertumpuk dengan cepat. Siska yang hidup bersama kami pun mulai terlihat bahagia dan mendapatkan energinya kembali. Kehidupan kami juga berjalan semakin lancar. Ayah dipromosikan untuk naik jabatan sementara Ibu mulai membuka usaha butik kecil – kecilan dibantu oleh Siska. Ya, Siskalah yang dipercaya Ibu untuk mengurus butik kecil itu bukan aku, anak kandungnya sendiri.

“Lebih baik Siska saja yang bantu – bantu Ibu dibutik. Flora kan tidak punya minat ngurusin yang begituan” Itulah alasan yang diberikan Ibu ketika Ayah bertanya perihal ini.

Biarlah Siska mendapatkan posisi itu karena aku tidak peduli. Ibu memang tidak pernah bisa akur denganku dan aku rela membagi cinta Ibu pada Siska.

“Besok hasilnya tesnya keluar kan?” Ayah bertanya padaku.

“Iya Yah, tapi Flora tidak percaya diri nih. Saingannya berat sekali” jawabku merengut.

“Ayah sudah pernah bilang kan, kalau Ayah percaya sama kemampuanmu.” Ayah tersenyum dan menurunkan koran yang dibacanya.

Aku mengangguk perlahan, kata – kata Ayah kala itu tidak bisa membuatku tenang. Aku terlalu takut untuk mengecewakan Ayah. Aku tidak mau melihat Ayah kecewa dan memilih untuk lebih mempercayai Siska dibanding aku, seperti yang dilakukan Ibu.

*

Hasil tes penerimaan beasiswa pun diumumkan. Namaku sama sekali tidak tertera disana.

“Siska Amelia Winoto?” batinku membaca nama itu.

“Ah aku lolos”

Suara itu, suara yang aku kenal.

“Kamu ikut tes ini juga?” tanyaku pada Siska dengan nada menahan kekecewaan.

“Iya, maaf ya gak ngasih tahu kamu. Ibu dan Ayah yang nyuruh aku ikut”

Sejak tinggal bersama kami, Siska mulai memanggil ke dua orangtuaku sebagai Ayah dan Ibu. Tapi, tunggu apa katanya tadi? Ayah juga menyuruhnya ikut tes ini?

“Kamu gak lolos ya Ra?” tangan Siska menjelajari deretan nama penerima beasiswa perlahan –lahan, seperti mencari namaku.

“Ya” jawabku singkat.

Ayah tahu, untuk pertama kalinya aku merasa sesakit ini. Tidak masalah jika cinta Ibu berhasil direbut oleh Siska, tetapi jangan Ayah. Aku menahan airmata hingga pulang sekolah. Siska dengan wajah bahagia mengabarkan hasil tes sementara aku tertunduk lesu di sampingnya.

“Wah selamat Siska, kamu memang anak yang pintar. Bagaimana dengan Flora?” Ibu bertanya padaku.

“Gagal” jawabku datar.

Semua aura kebahagiaan yang tadi terpancar di ruang keluarga seketika lenyap. Ibu mengusap kepalaku tanpa berkata apa – apa.

“Flora mau istirahat sebentar”

Aku melangkahkan kakiku ke dalam kamar dan membenamkan wajahku diantara bantal. Apa yang harus aku katakan pada Ayah nanti? Tetesan airmata tidak dapat aku tahan. Sedih menggelayut di dadaku. Setengah jam menangis, aku pun lelah dan terlarut dalam mimpi.

*

“Flora . . Flora . . .”

Suara lembut terdengar di telingaku. Aku membuka mataku yang lelah dan menatap pemilik suara itu.

“Ayah” refleks aku terbangun dari tempat tidur.

“Sejak kapan anak Ayah jadi suka tidur sampai sore seperti ini?” Ayah tersenyum seraya mengacak rambutku.

“Aku gagal”

“Ayah tahu” Ayah masih tersenyum.

“Ayah tidak marah?” tanyaku takut – takut.

“Marah? Untuk apa?”

“Flora sudah mengecewakan Ayah”

Ayah tertawa keras, “mengecewakan bagaimana? Ayah sudah janji untuk selalu percaya sama kemampuanmu. Hari ini kamu gagal bukan karena kemampuanmu yang kurang, cuma waktunya saja yang belum tepat” Ayah mengedipkan matanya.

“Tapi . . . Siska lolos”

“Kamu harusnya bangga punya sahabat yang sukses seperti itu”

Aku menatap Ayah dengan nanar, inilah yang aku takutkan. Ayah mulai menyukai Siska.

“Ayah ngomong seperti ini bukan berarti Ayah menyuruhmu berubah seperti Siska. Tidak. Setiap orang punya jalan kehidupan masing – masing. Kalau kamu terus menyesali apa yang terjadi sekarang, kelak kamu juga akan menyesali hari – harimu yang terbuang percuma karena penyesalan. Lagipula, bukankah Siska sudah kamu anggap sebagai saudara sendiri?”

Aku mengangguk.

“Kalau begitu, beri dia selamat dan berusaha lakukan yang terbaik. Bagaimanapun juga, kamu adalah anak Ayah yang paling Ayah banggakan”

Aku mengangguk sekali lagi.

“Flora, jangan sekali – kali menangisi kesuksesan orang lain. Jadikan itu sebagai pacuan semangatmu”

“Iya Ayah” aku mencoba tersenyum.

Ayah membalas senyuman pahitku lalu bergegas menarikku keluar kamar. Di ruang makan telah terhidang dua kue tart yang dibawa oleh Ayah. Satu kue sebagai hadiah atas beasiswa yang diterima oleh Siska sedangkan kue yang satunya lagi, aku tidak mengerti untuk apa.

“Untuk Flora yang telah menepati janji. Tidak berkelahi dan membuat masalah” bisik Ayah.

“Seharusnya untuk Ayah yang menepati janji untuk selalu percaya pada kemampuanku” batinku.


continue . . .

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

JANJI - JANJI AYAH I


I

Rangkaian bunga tersemat indah diantara tiang penyangga panggung yang megah. Di tiap sudut bangunan tertata lilin – lilin putih yang menyala dengan indah. Aku tersenyum menyambut tamu yang datang satu per satu, menyalami mereka, dan meng-aamiini tiap doa yang terucap. Ayah yang duduk di sampingku pun ikut tersenyum namun aku dapat melihat arti tatapan matanya, tatapan mata kekecewaan.

“Ayah masih kecewa?” gumamku ketika tidak ada tamu yang menyalami.

“Kau tahu apa yang sebenarnya Ayah inginkan”

“Tapi Ayah, Flora sudah besar dan Ayah sendiri yang berjanji untuk membiarkan Flora menentukan pilihan Flora” suaraku mulai meninggi.

“Dan itu adalah janji yang seharusnya tidak pernah Ayah ucapkan”

Aku mengepalkan tanganku menahan emosi. Ingin sekali rasanya berteriak menanggapi ucapan Ayah namun semua itu terhalang oleh tamu yang tiba – tiba datang menghampiriku. Aku mencoba tersenyum menerima uluran tangan tamu tersebut dengan ekspresi sewajar mungkin.

“Berhenti berdebat dengan Ayahmu sendiri dalam suasana seperti ini” Pria yang berdiri disebelahku berbisik tajam. Aku tahu  dengan jarak sedekat ini  dia pasti bisa mendengar perdebatan kami.

Aku pun mengangguk dan kembali menatap Ayah dari sudut mataku. Aku tidak menyangka hubunganku dengan Ayah akan seperti ini, mengingat bertahun – tahun yang lalu aku dan Ayah adalah sahabat sejati. Ayah adalah orang yang berjasa padaku setidaknya itulah anggapanku sebelum tragedi itu terjadi.

*

Sejak kecil Ayah selalu mengajarkanku banyak hal. Ayah adalah orang yang membuatku bisa tumbuh menjadi gadis yang cerdas dan membanggakan. Ayah jugalah yang pertama kali mengajarkanku menulis dan membaca bahkan sebelum aku duduk di bangku Sekolah Dasar. Ayah melakukannya tanpa paksaan seperti yang dilakukan oleh orang tua kebanyakan.

“Kau mau tahu cara menuliskan namamu?”

Itulah cara Ayah untuk menarik perhatianku agar mau belajar menulis dan membaca. Berkat didikan tersebut, aku menjadi terkenal dikalangan anak – anak seumuranku sehingga aku memiliki banyak pengikut. Tetapi sebagian besar pengikutku adalah anak lelaki. Entah kenapa, anak – anak gadis terlihat tidak suka dengan prestasi yang ku torehkan.

Berteman dengan anak lelaki dalam jangka waktu yang lama membuat perangaiku pun mirip dengan mereka, bisa dikatakan aku tumbuh menjadi seorang gadis yang tomboy. Hal ini tidak menjadi masalah buatku tetapi bagi Ibu, ini adalah masalah yang sangat besar.

“Flora, kamu sudah SMP. Dandanan kayak anak laki – laki, bermain sama anak laki – laki, bahkan suka sekali bersendawa kayak laki – laki” Ibu mengomeliku dari sudut meja.

Sebenarnya omelan Ibu malam ini bukanlah omelan yang pertama kali aku dengar. Setiap malam ketika kami sedang menonton tv bersama, Ibu selalu menyempatkan diri untuk mengomeliku mengenai hal ini dan aku pun merasa kebal mendengarnya.

“Flora?? Kau dengar apa kata Ibu tadi?”

Aku menanggapinya dengan sebuah anggukan singkat.

“Mulai besok kurangi bermain dengan anak – anak itu” Aku tahu siapa yang Ibu maksud “dan mulailah ikut kursus bahasa Inggris”

“Ha???” Aku mengalihkan pandanganku dari tv dan menatap Ibu dengan tatapan protes.

“Iya, Flora pasti mau kok” Ayah buru – buru menengahi.

“Baguslah” kata Ibu sambil menunjukkan wajah kemenangan dan berlalu ke dalam kamar.

Tatapan kekesalanku kini ku tujukan pada Ayah. Tidak seperti biasanya, kali ini Ayah tidak mendukungku.

“Turuti saja apa kata Ibumu daripada kamu disuruh berhenti latihan karate”

Aku mengulum bibirku gemas. Jika Ayah sudah berkata seperti itu maka tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan.

Sudah hampir sebulan aku mengikuti latihan karate. Awalnya Ibu melarangku untuk mengikuti latihan ini namun Ayah memberikan berbagai macam argumen sehingga Ibu luluh dan memberikanku ijin. Sepertinya Ayah tahu, jika kali ini aku menentang kemauan Ibu maka bisa jadi Ibu akan segera menyuruhku untuk berhenti berlatih karate.

“Bagaimana latihan kihon*mu?” tanya Ayah seketika

“Baik”

“Cuma segitu?” Ayah menatapku sambil tersenyum.

“Namanya juga masih sabuk putih Yah. Latihannya masih dasar sih”

Malam itu pun berlanjut dengan obrolan singkat seputar karate dan tanpa sadar aku mulai melupakan kekesalanku.

* kihon : teknik dasar karate seperti menendang, memukul, menangkis, dan membanting.

*

Seperti kesepakatan terpaksa semalam, hari ini aku mulai mengikuti kursus bahasa Inggris disalah satu tempat kursus ternama di kotaku. Aku memasuki kelas dengan wajah cemberut dan raut wajahku itu semakin melipat ketika aku melihat seorang gadis berkepang dua yang ada di kelas kursusku.

“Ngapain cewek jadi – jadian ada disini?” gadis itu menggerutu.

“Mau belajarlah !” bentakku sebal.

Gadis itu menatapku dan membisikkan sesuatu pada gadis lain yang berdiri di sebelahnya. Mereka maju mendekatiku dan siap menumpahkan sebotol minuman padaku. Aku dengan refleks yang cepat menangkis tangan gadis itu sehingga air di dalam botol minuman tersebut mengotori baju mereka sendiri. Tepat saat itu, seorang guru masuk ke ruang kursus kami. Guru tersebut kaget melihat apa yang terjadi hingga pada akhirnya akulah yang disalahkan dan Ibu dipanggil hari itu juga untuk menemui guru tersebut. Sejak mendengar penjelasan guru tersebut, yang menurutku tanpa pertimbangan untuk menanyakan padaku kejadian yang sebenarnya, raut wajah Ibu terlihat menakutkan. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah Ibu hanya terdiam. Aku tahu Ibu sedang menumpuk semua kekesalannya.

“Flora !! Berhentilah membuat masalah dimanapun ! Kamu itu harus seperti Siska, jangan bersikap liar seperti ini !” sudah ku duga Ibu pasti akan mengomeliku setibanya di rumah. Dan yang lebih menyebalkan adalah Ibu selalu menyebutkan nama gadis berkepang itu.

“Aku bukan Siska Bu !” omelku tidak mau kalah. Aku benci dibanding – bandingkan seperti ini.

“Iya ! Kamu memang bukan Siska tapi setidaknya belajarlah bersikap manis seperti dia !”

“Kalau Ibu maunya gitu, ya sudah kenapa gak ambil Siska aja jadi anak Ibu. Jangan Flora !”

Aku tidak kuat mendengar omongan Ibu yang menyakitkan hatiku lagi. Air mataku tanpa sadar mengalir dengan hangat membasahi sudut pipiku. Aku berlari ke dalam kamar dan mencoba mengurung diri.

“Kau . . . . Flora . . Ibu belum selesai ngomong . . .”

Samar – samar aku mendengar Ibu meneriakkan namaku dari depan pintu kamar. Aku membebatkan bantal dengan kencang ke arah telingaku. Sejak SD hingga sekarang aku merasa Ibu lebih menyukai Siska dibandingkan aku. Meskipun aku mendapatkan peringkat yang paling tinggi di sekolah pun, Ibu tetap merasa Siskalah yang paling hebat.

“Sudahlah Bu, berhenti membanding – bandingkan Flora dengan Siska.”

Suara Ayah mulai terdengar, aku mengangkat bantal yang membebat telingaku dan mencoba mendengar percakapan Ayah dan Ibu.

“Maksud Ibu baik Yah. Ibu hanya mau Flora bersikap lebih manis lagi. Masa hari pertama masuk tempat kursus sudah buat masalah” Sepertinya Ibu terisak ketika mengatakan hal itu.

“Tapi, cara Ibu salah. Ibu malah membuat Flora makin membenci Ibu dan mungkin juga Siska”

Kata – kata Ayah tersebut seperti menghujam ke hatiku. Ayah benar, selama ini aku membenci Siska karena Ibu selalu membandingkannya denganku. Awalnya aku bisa menerima hal itu sebagai hal yang biasa saja. Namun ketika Ibu mulai membandingkanku dihadapan Siska secara langsung, hatiku menjadi sakit. Sejak saat itu aku mulai melakukan perang dingin dengan Siska dan tanpa disadari Siska pun melakukan hal yang sama.

Sekelumit rasa pedih pun mencuat. Entah mengapa aku merasa tidak dianggap oleh Ibu dan malam ini semua kejadian dan kata – kata Ibu terngiang secara random ditelingaku. Aku pun terisak.

Tok . . Tok . . Tok . .

“Flora? Boleh Ayah masuk?”

“. . .”

“Ayah tahu Flora lagi sedih, cerita sama Ayah mau kan?”

Aku membuka pintu sambil menundukkan wajahku. Ayah mengusap kepalaku lama sekali lalu berkata, 
“Flora jangan benci sama Ibu ya. Ibu lebih sayang Flora kok cuma Ibu tidak tahu cara menyampaikannya ke Flora. Buat Ayah sama Ibu, Flora lebih baik dibandingkan siapapun. Ayah janji untuk selalu percaya sama kemampuan Flora asal Flora juga mau janji, jangan berkelahi lagi dan buat masalah seperti ini. Flora mau kan?”

Aku mengusap ujung mataku yang berair, mengangkat wajah, tersenyum, dan mengangguk sekilas.


Itulah janji pertama Ayah padaku.

continue . . .
- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..