Tampilkan postingan dengan label PSYCHO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PSYCHO. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Agustus 2013

SACRAMENTO


Gemericik air sungai terdengar jelas dari sini. Kemilau cahaya bulan terpantul di atasnya. Bulatan putih itu tampak rapuh bergoyang menampilkan siluet aneh. Malam ini memang sangat cocok untuk melepas jiwa-jiwa keruh. Malam dimana cahaya bulan tepat berada di atas kepala.

Derak-derak kayu yang terbakar membawa hawa panas. Api jingga kebiruan silih berganti menari bagaikan pasangan di lantai dansa yang menjilat sebuah tali tambang yang terjulur begitu saja. Mencuat dari seorang tubuh gadis yang terikat.

“Amelie, si darah pasir ini harus kita bakar sekarang?!”

Seorang gadis bertudung coklat lusuh berbicara.

“Tidak Anelise.”

Jawaban tegas menghentikan semangat Anelise. Fokusnya kembali tertuju pada ritual. Mantra-mantra masih mengalun. Para tudung coklat lusuh tampak mulai mengelilingi api unggun. Tangan mereka kontan terangkat sekali diikuti teriakan rapalan yang kuat. Kemudian disusul rapalan yang lemah ketika mereka bersimpuh di tanah.

Dyin bisa merasakan bahwa ritual tersebut mulai bekerja pada dirinya. Tubuhnya mulai lemas dan semakin lama indera perasanya kelu. Tiga jam digantung dan seminggu disekap sudah cukup membuatnya merasa tersiksa dan kini ditambah dengan sebuah ritual aneh.

“Ini ganjaran yang setimpal untukmu!”

Entah mengapa suara Amelie kembali berdenging ditelinganya ibarat sebuah kaset yang diputar ulang. Imaji Dyin kembali pada waktu dimana Amelie mendobrak paksa pintu rumahnya dan mengganggu waktu liburnya. Amelie muncul begitu saja dengan segerombolan orang-orang bertudung coklat lusuh, mengganggu keasyikan Dyin menonton dorama. Amelie dan kelompoknya melontarkan kata-kata dalam bahasa yang tidak dia kenali seperti darah pasir atau ‘gedwee’. Disusul dengan membungkus Dyin begitu saja dan melemparnya ke sebuah tempat yang – bagi Dyin – terasa seperti bagasi.

“Buat dirimu nyaman di sini!” Kata Amelie dengan nada sarkasme yang dalam.

Dyin menjamah sekelilingnya, matanya dengan cepat mencoba menyesuaikan. Kini dia berada di dalam sebuah penjara bawah tanah. Jeruji-jeruji besih penjara tersebut terlihat kokoh namun basah karena terkena rembesan air yang jatuh dari tumpukan bata. Bau lembab begitu menyengat hidung, membuat napas seolah tertahan.

“Kastil Bayangan.” Batin Dyin.

“Tentu saja Dyin.”

Amelie seolah bisa membaca pikiran Dyin dan dia menyebut nama Dyin seperti melafalkan kata “dying” yang bagi telinga Dyin terdengar sangat mengganggu. Amelie hanya tertawa melihat ekspresi mual Dyin, dia menembus begitu saja jeruji besi yang menghadang. Membuat tubuhnya tampak seperti asap yang menyembul. Tudung coklat lusuhnya tersingkap dan menampakkan rambut pirang sebahu.

“Amnesiamu sudah sembuh? Berhentilah meniru Puteri kami, gedwee! Itu sangat tidak sopan!”

“Cukup!”

Seorang pria kekar masuk dengan cekatan ke dalam penjara. Pria itu menarik tangan Amelie yang siap menampar Dyin. Matanya menatap tajam Amelie sambil menggeleng.

“Biar upacara malam purnama yang akan melakukannya. Tidak seharusnya tangan kita dikotori oleh seorang gedwee”

“Kau benar Ralie.” Jawab Amelie sambil tersenyum licik.

Upacara yang mereka bicarakan adalah Sacramento, sebuah upacara penyucian dan pemberian maaf bagi mereka yang telah lancang mengusik keluarga tingkat atas Kastil Bayangan. Dyin telah melakukan kesalahan dengan meniru secara habis-habisan Puteri Kastil yang menyamar dan bersekolah di tempatnya. Dyin memang haus ketenaran, dia ingin dianggap dan dipandang namun dia salah memilih target untuk ditiru karena Puteri Kastil Bayangan sangat tidak suka akan sikap lancang Dyin ini. Kini Dyin harus membayar semua perbuatannya. Penghuni Kastil Bayangan – mulai dari pelayan hingga prajurit – membenci  seorang gedwee, orang yang selalu meniru.

“Sacramento dimulai!”

Ralie berteriak memandang bulan, membuyarkan kilas balik yang ada dalam angan Dyin. Rapalan mantra semakin tajam terdengar membuat api berkobar menjadi sangat besar, Dyin hanya bisa pasrah. Tubuhnya terbakar perlahan namun pasti. Upacara sudah dimulai dan tidak ada yang bisa menghentikannya.

Aku duduk di atas kursi hitam berkilauan, tak jauh dari tempat itu. Tersenyum bahagia.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Senin, 15 April 2013

LONCENG KEMATIAN


Lonceng bangunan tua itu berdentang untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun lebih tampak mati suri. Penduduk desa meringkuk ke dalam selimut mereka masing – masing karena takut akan kenyataan yang terbangun oleh lonceng itu.

Berpuluh – puluh tahun yang lalu, ada seorang pemuda tampan yang hidup di desa. Warna matanya berbeda dari seluruh penghuni desa itu, perak. Pemuda tampan itu bernama Wira. Tidak ada yang tahu asal usul pasti anak Pemuda itu. Ketika mereka tersadar anak itu telah muncul di desa dan memberikan banyak senyuman.

Wira membuka sebuah toko roti dibangunan peninggalan Belanda yang diberikan oleh warga. Sebagai ganti kebaikan warga desa, Wira harus merawat lonceng yang terdapat dibangunan tersebut. Lonceng yang telah berumur ratusan tahun itu merupakan lonceng penanda jam milik desa. Selama ini tidak ada warga yang bersedia merawat lonceng raksasa itu. Wira secara sepihak ditunjuk untuk merawat lonceng itu. Wira yang tampan dengan telaten mulai merawat lonceng tersebut meski apapun yang terjadi.

Senin, ketika hujan membasahi desa dengan liarnya, lonceng bangunan tua berbunyi. Dentang lonceng tersebut tidak menunjukkan waktu saat itu. Seharian penuh lonceng itu terus berbunyi. Warga desa merasa terganggu namun tidak dapat berbuat apa – apa karena hujan menghambat langkah mereka untuk menghampiri bangunan tempat lonceng itu berbunyi. Bagaimana dengan Wira, mengapa dia tidak memperbaiki lonceng itu?

Jawabannya muncul keesokan harinya ketika lonceng tersebut masih terus berdentang. Matahari bersinar cerah, menyisakan kemilau yang indah dibalik tetes akhir hujan. Bangunan tua yang menjulang megah di tengah desa menarik perhatian warga. Dipuncak bangunan tua, tepatnya di atas lonceng tua terdapat sebuah siluet merah yang mengganggu. Siluet itu membuncahkan rasa panik warga. Tubuh Wira yang tertancap dengan mantap. Ujung bangunan yang runcing tampak menembus indah ditengah perut Wira yang berselimut kemeja berwarna merah. Ke dua bola mata Wira yang indah terpelanting di depan pintu bangunan tua, entah bagaimana caranya.

Entah apa yang terjadi, banyak spekulasi yang muncul namun pada akhirnya cerita itu pun terkubur seiring dengan kesunyian desa tanpa dentang lonceng.

Lima tahun kemudian, seorang pemuda tampan lainnya datang mengunjungi desa. Pemuda itu memiliki bola mata berwarna biru sapphire. Mata sendu yang serupa dengan mata Wira. Kemunculan pemuda itu membuat lonceng bangunan tua kembali berbunyi. Tidak ada yang curiga dengan pertanda itu hingga sang pemuda bermata biru sapphire ditemukan meninggal dengan kondisi yang sama persis seperti Wira.

Kejadian ini terus berulang setiap kali desa tersebut dikunjungi pemuda bermata indah.

“Apa mungkin ini kutukan Wira?”

“Kenapa harus pemuda dengan bermata indah?”

Pertanyaan – pertanyaan beberapa puluh tahun kembali terkuak. Kepala desa kemudian memutuskan untuk menutup akses wisata ke desa. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya musibah aneh tersebut. Namun hal tersebut tidak menghentikan musibah.

Secara misterius, setahun sekali seorang warga desa akan melahirkan seorang anak bayi bermata indah. Ketika anak mereka menginjak umur 5 tahun, sang lonceng akan berbunyi dan musibah itu pun kembali lagi. Mungkin ini karma untuk warga desa. Entah karma karena apa? Yang jelas tidak ada satu pun warga desa yang bisa melarikan diri dari semua kejadian ini.

Kepala desa yang merasa frustasi dengan ini semua pun kembali membuka akses wisata ke desa. Sesuai kesepakatan warga, ada baiknya membiarkan warga asing yang terenggut nyawanya dibandingkan warga desa itu sendiri.

Malam ini, seperti yang sudah dikatakan tadi, lonceng besar itu kembali berbunyi. Siluet merah siapakah yang akan tertancap mesra disana? Bola mata indah milik siapa yang akan terpelanting manja di depan pintu bangunan?

Aku hanya bisa memejamkan mataku yang hampa dan tersenyum dari balik lonceng sembari menatap wajah-wajah ketakutan di bawah sana.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Jumat, 17 Agustus 2012

TWELVE



Sebuah kastil megah berdiri di atas bukit yang sepi. Kastil yang dibangun sejak abad ke 60 itu masih kokoh dan mempesona. Kastil itu dihuni oleh dua belas orang anak bangsawan serta seorang pelayan pria yang berumur 25 tahun. Tidak ada satu pun warga desa Stone yang berani mendekati kastil tersebut karena sosok para anak bangsawan di kastil itu mengundang hawa ‘jangan mendekat’. Selain warga desa yang tidak pernah berkunjung ke kastil itu, ke dua belas anak bangsawan itu pun tidak pernah berkunjung ke desa bahkan ketika mereka diundang sebagai tamu kehormatan pesta besar di desa.

 “Jangankan menghadiri pesta, baju yang mereka gunakan pun dikirim langsung ke kastil”

“Wajar saja mereka nyaman, apapun yang mereka inginkan sudah tersedia di kasti itu”

Itulah kata yang selalu dilontarkan para warga ketika membicarakan perilaku penghuni kastil nan megah di atas  bukit.

Bastian, sang pelayan setia keluarga tersebutlah yang selalu menjumpai para warga. Berbekal wajah yang tampan serta perangai yang ramah, Bastian dengan cepat diterima oleh warga desa. Tidak sedikit gadis desa yang menaruh hati padanya namun dengan halus Bastian menolak para gadis itu satu per satu.

“Hidupku akan aku habiskan untuk melayani anak keluarga Lord Diozac. Aku tidak ada waktu untuk membentuk dan mengurus keluarga sendiri” jawaban tersebut akan berulang kali dilontarkan Bastian ketika ada gadis yang bertanya mengapa Bastian menolaknya.

Entah apa yang telah diberi oleh keluarga bangsawan tersebut hingga Bastian dengan senang hati mempertaruhkan seluruh hidupnya hanya untuk mengurus ke dua belas anak Lord Diozac.

Lord Diozac adalah bangsawan ternama di desa Stone. Pria ini selalu mengenakan coat beludru berwarna merah maroon untuk menutupi perutnya yang membuncit serta bowler hat berwarna senada untuk menutupi sebagian kepalanya yang mulai gersang tanpa rambut. Lord Diozac memiliki seorang Istri yang bernama Cissa. Seorang wanita yang tidak diketahui asal usulnya. Wanita tersebut memiliki kulit yang putih tanpa cela, rambut perak yang bergelombang indah, serta tatapan mata yang tajam dan menusuk. Sejak menikah dengan Lord Diozac, panggilannya berubah menjadi Duchess Diozac.

Jika Lord Diozac senang berkeliling desa untuk menyapa para warga, Duchess Diozac tidak sama sekali. Setiap kereta kuda Lord Diozac menepi ke pinggiran desa, sang Duchess hanya bersembunyi dalam diam. Jika ada hal yang mendesak, sang Duchess akan menemani Lord Diozac namun dengan menutupi sebagian wajahnya menggunakan floppy hat. Perangai sang Duchess inilah yang diduga diwariskan oleh ke dua belas anaknya. Sejak Lord Diozac meninggal, Duchess Diozac tidak pernah menampakkan dirinya lagi dan muncullah Bastian ke desa itu. Kemunculan Bastian diduga karena sang Duchess telah wafat. Tidak ada yang bisa mengurus ke dua belas anak yatim piatu itu kecuali Bastian.

“Bagaimana caranya supaya saya bisa berkunjung ke kastil Lord Diozac?”

Seorang pengembara berkulit sawo matang mencoba bertanya pada warga sekitar. Sudah bisa dipastikan bahwa sebagian besar warga desa Stone tidak akan memberikan jawaban yang diinginkan. Meskipun begitu sang pengembara tetap bertanya pada setiap warga yang ditemuinya hingga akhirnya dia bertanya pada seorang tabib tua.

“Untuk apa kau menanyakan hal tersebut anak muda?” sang tabib bertanya balik sambil mengusap janggutnya yang putih dan bergelombang rapi.

“Saya ingin memberikan surat wasiat yang ditinggalkan Lord Diozac” jawab pengembara dengan mantab.

“Baiklah kalau begitu. Ambillah jalan lurus dibalik pohon yang besar di sana.” tangan kurus ringkih sang tabib tertuju pada sebuah pohon beringin yang sangat besar, “Jangan pernah berbalik atau pun berhenti jika ingin sampai di kastil itu dengan selamat”

Sang pengembara tampak bingung dengan pernyataan tabib.

“Tidak satu pun warga desa bahkan pengembara yang diijinkan berkunjung ke kastil. Kastil itu diberi kutukan” jelas tabib.

“Kutukan?”

“Ya, sejak ke dua belas anak Lord Diozac lahir, hutan lebat mulai menutupi jalan ke kastil. Banyak warga yang hilang di dalam hutan. Jika kau ingin pergi dan kembali dengan selamat, luruskanlah hati dan jalanmu untuk mengantarkan surat wasiat”

Sang pengembara ternganga mendengar penjelasan seadanya tabib tua. Tidak pernah dia bayangkan hal seperti itu akan ditemuinya di tempat yang kelihatannya ramah ini.

“Hutan itu dipenuhi dengan berbagai makhluk aneh. Kabarnya makhluk-makhluk tersebut adalah peliharaan Ram, anak tertua keluarga Diozac”

“Anak tertua keluarga Diozac punya peliharaan yang aneh?” Sang pengembara terlihat semakin bingung.

“Ya, jika kau masuk ke dalam hutan itu kau akan bertemu seorang gadis hutan yang manis. Gadis itu akan mengajakmu bermain. Dia akan menggodamu dan menyesatkanmu di hutan. Gadis itu ada Addler, utusan Ram untuk menyambut pria gagah sepertimu. Banyak sekali makhluk aneh yang dipelihara Ram. Dia gadis yang pintar tetapi jiwa petualangnya sangat menakutkan.”

“Sepertinya Anda mengetahui banyak hal tentang keluarga Diozac. Bolehkah saya mendengar cerita Anda seperti apa ke dua belas anak itu supaya saya bisa lebih mempersiapkan diri?”

“Baiklah.”

Sang pengembara mengikuti langkah tabib tua ke dalam rumahnya yang tidak jauh dari pohon beringin besar. Tabib tua menyuguhkan secangkir teh chamomile untuk sang pengembara sebelum mulai bercerita.

Cerita Tabib tua dimulai dari anak bungsu keluarga Diozac, Fisha. Fisha adalah seorang gadis berambut abu-abu gelap yang bergelombang. Kepribadiannya sulit untuk dijabarkan dengan rinci. Dia adalah tipikal gadis yang misterius dan sulit dipahami. Fisha senang membantu orang lain, meskipun apa yang dilakukannya hanya untuk mendapatkan timbal balik yang serupa. Fisha sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya dan semua hal yang mempengaruhinya akan dibawanya ke dalam hati serta seolah-olah semua yang terjadi padanya sangatlah berat. Penerimaan perasaan Fisha sangat ekstrim. Jika dia merasa bahagia maka dia akan terlihat sangat senang dan bisa tertawa sepanjang hari, jika dia merasa sedih maka dia akan terlihat sangat tertekan. Hal itu terjadi ketika Lord Diozac meninggal, Fisha meraung sedih dan berteriak-teriak sepanjang hari di kastil seolah-olah semuanya akan berakhir ketika lord Diozac meninggal. Dan kini, Fisha sangat bergantung pada Bastian. Hanya Bastian yang bisa menjaga Fisha agar tetap stabil, entah bagaimana caranya.

Berikutnya adalah Uran, anak lelaki termuda dikeluarga tersebut. Umur Uran terpaut setahun dengan Fisha, meskipun begitu dia terlihat lebih mandiri. Uran adalah anak yang sangat cerdas. Kecerdasannya itu membuatnya tidak mau terlihat salah sehingga cenderung terlihat keras kepala. Untuk menentukan hal yang baik dan benar, Uran sangatlah jeli dan objektif karena dia jarang menempatkan emosinya ke dalam beberapa hal. Ketika dia mulai berbicara, maka kata-kata yang akan diucapkannya adalah hal yang memang ingin diucapkannya-jujur, berbeda dengan Fisha yang terlihat lebih ingin menyenangkan orang lain. Oleh karena itu, ketika akan diadakan musyawarah didalam keluarga, Uran selalu diajak.

Anak lelaki berikutnya didalam keluarga tersebut adalah Saturn, terpaut lebih tua dua tahun daripada Uran. Saturn adalah anak lelaki yang melankolis dan terkesan galak. Pribadinya itu terbentuk karena kedisplinan diri dan tanggungjawab yang dimilikinya sejak kecil. Saturn suka mengevaluasi segala hal yang terjadi padanya dan tidak pernah berani mengambil resiko. Saturn tidak mempercayai orang lain untuk melakukan apa yang diinginkannya. Dia lebih suka bekerja sendiri agar tidak perlu mengkhawatirkan resiko yang akan muncul. Saturn adalah anak keluarga Diozac yang paling sering bertengkar dengan Bastian. Namun entah mengapa sampai saat ini perdebatannya dengan Bastian selalu berakhir damai.

Centaur, anak lelaki tergagah didalam keluarga Diozac. Rambutnya bergelombang indah membingkai wajahnya yang tegas. Centaur memiliki pribadi yang optimis dan positif, bahkan cenderung jauh dari perasaan negatif. Dia bagaikan cahaya didalam keluarganya. Jika ada pertengkaran yang terjadi diantara Saturn dan Bastian atau Uran dan Fisha, Centaurlah yang pertama kali muncul sebagai penengah. Sifat buruk Centaur adalah kurang peka terhadap sekitar dan tidak ingin mengetahui hal yang sedih dan penuh derita.

Meagle, gadis berikutnya didalam keluarga Diozac. Gadis yang ambisius dan gigih ini memiliki potongan rambut bob layer yang bergelombang indah. Didalam hidupnya, Meagle tidak pernah mengenal kata menyerah. Meagle sangat suka memanfaatkan posisinya sebagai anak tertua untuk menindas Fisha. Dia sangat pandai memanipulasi keadaan sehingga dengan mudah dapat membuat Uran menjadi koloninya. Mungkin Meagle adalah gadis yang paling sering diamati Bastian karena gerak-geriknya cenderung mengkhawatirkan. Dulu ketika keluarga Diozac masih memiliki banyak pelayan, Meagle membuat kekacauan dengan mengadu domba para pelayan tersebut. Ketika situasi kastil menjadi kacau, Meagle hanya tersenyum dari sudut ruangan melihat kejadian tersebut seolah semua yang terjadi bukan salahnya.

Scaley, si cantik bermata indah ini adalah anak gadis keluarga Diozac yang paling santai dalam menyikapi apapun dan paling adil diantara ke dua belas saudaranya. Scaley cenderung nyaman menyembunyikan perasaannya agar situasi yang ada disekitarnya damai. Kepribadiannya itu yang membuatnya terlihat lemah dan tampak tidak tegas dalam mengambil keputusan. Dia paling mengerti tentang berlaku adil tetapi ragu-ragu untuk menentukan keadilan itu sendiri.

Memiliki rambut perak yang sama dengan Duchess, membuat Mercury sering disangka adik sang Duchess. Tidak hanya fisik Mercury saja yang mirip dengan sang Duchess, perangai dan sikap dingin sang Duchess pun diwarisi ke anaknya yang satu ini. Mercury senang menganalisis semua kejadian sebelum menentukan apa yang harus dilakukan. Segala aspek dianalisisnya dengan cermat dan teliti. Dia adalah pengambil keputusan terlama didalam keluarga dan terkadang keputusan yang diambilnya hanya mengikuti keputusan yang telah ada. Mercury adalah anak yang paling jarang ditanyai pendapatnya karena hanya memakan banyak waktu, dengan hasil yang sudah jelas sama seperti sebelumnya.

Leo, si playboy kelas kakap keluarga Diozac. Leo sangat suka memamerkan kelebihannya terlebih kepada para gadis. Percaya dirinya sangat tinggi sehingga cenderung benci terhadap sikap penolakan yang diarahkan kepadanya. Kepribadiannya yang seperti ini yang membuatnya dijuluki si raja sombong. Entah apa yang terjadi pada jiwa petualang cinta Leo hingga dia bisa betah hidup di dalam kastil selama beberapa tahun belakangan ini.

Si lembut Croo yang rapuh, itulah anak berikutnya dari keluarga Diozac. Dia adalah gadis yang sangat sederhana dan pandai memasak. Selama ini yang bertanggungjawab mengurus ‘isi perut’ keluarga tersebut adalah Croo. Croo terkesan posesif dan sangat suka memuji orang lain. Croo bisa menjadi pendengar yang baik dan selalu menjadi tumpuan ke dua belas saudaranya untuk berbagi cerita. Croo sangat benci dengan kekerasan, namun ketika hatinya mulai tersakiti maka dia akan berubah menjadi sangat menakutkan.

Gwi dan Mwi, satu-satunya anak kembar didalam keluarga ini. Mereka memiliki fisik dan kepribadian yang sangat identik. Gwi dan Mwi paling benci dilarang melakukan sesuatu sehingga bisa dipastikan mereka berdua berdiam diri di kastil karena memang menginginkan hal tersebut. Gwi dan Mwi mudah dikenali tidak hanya karena kembar tetapi juga karena mereka sangat suka mengenakan pakaian yang ekstrim dan berwarna cerah ceria. Gwi dan Mwi memiliki rasa humor yang sangat berkelas. Siapapun yang berada didekat mereka pasti akan tersenyum ceria.

Jangan mengira bahwa ke dua belas anak bangsawan keluarga Diozac memiliki tubuh yang langsing dan tinggi menjulang. Chaldeans adalah anak dari keluarga tersebut yang mewarisi ciri fisik sang Lord. Chaldeans sangat menyukai kehidupan yang glamour. Chaldeans paling susah mengucapkan kata maaf sehingga dia akan selalu berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan saudara-saudaranya.

Dan yang terakhir, anak tertua keluarga ini dan sang penguasa adalah Ram. Fisik Ram sangat jauh berbeda dengan saudaranya yang lain. Rambutnya hitam legam dan panjang sedangkan kulitnya putih pucat seperti mayat. Ram sangat mandiri dan mudah tersinggung dengan ucapan orang lain. Ram adalah tipikal gadis yang sangat mudah untuk dicintai dan dibenci oleh orang lain. Ram selalu terlihat menonjol dan memiliki pribadi yang paling kuat dibandingkan saudaranya.

Tetes terakhir chamomile meluncur ditenggorokan sang pengembara. Tabib tua menatap pengembara itu dengan tajam.

“Masih mau kesana?”

“Ya, aku tidak bisa mendapatkan penjelasan dari cerita Anda bahwa para penghuni kastil itu berbahaya”

“Terserahlah”

Sang pengembara mulai melakukan perjalanannya. Dia mengingat pesan tabib tua untuk berjalan terus tanpa menoleh bahkan berhenti. Beberapa kali dia mendengar suara seorang gadis memanggilnya namun dia tahu siapa pemilik suara itu, Addler-gadis hutan. Sejam berlalu dan perut pengembara mulai meronta. Mendadak aroma sup jagung serta ayam panggang berlarian diantara indera penciumannya. Sang pengembara hampir tegoda, namun beruntung pesan tabib tua kembali terngiang ditelinganya hingga sampailah ia di depan gerbang kastil nan megah.

Kedatangan pengembara disambut hangat oleh Bastian. Bastian mengantarkan pengembara itu ke ruang pertemuan. Disana telah duduk ke dua belas anak keluarga Diozac. Pengembara bisa mengenal mereka dengan jelas. Ram, sang anak tertua duduk di kursi paling megah. Gaunnya yang berwarna merah menyala terlihat sangat menonjol dibandingkan saudaranya yang lain. Leo yang duduk disebelahnya tampak memasang ekspresi kecewa ketika tahu pengembara yang mengunjungi mereka adalah seorang pria. Gwi dan Mwi yang sedang asyik berbincang dengan Fisha memamerkan deretan gigi mereka yang rapi menyambut sang pengembara. Croo tampak sibuk menata meja dan memarahi Chaldeans yang tidak berhenti mengunyah makanan yang terhidang. Sementara Centaur, Uran,  Saturn, Scaley dan Mercury tetap terdiam dengan tenang dikursi mereka.

“Selamat datang tampan” Meagle dengan cepat mengapit lengan pengembara.

“Balik ke tempat dudukmu!!” Ram berkata tajam dan tegas.

Meagle tertunduk, segera meninggalkan pengembara berjalan ke tempat duduknya.

Sang pengembara mulai menyatakan maksudnya. Ram menyambut semua ucapan sang pengembara dengan penuh antusias hingga sampailah disatu titik dimana Ram mulai menanyakan hal penentu.

“Menarik sekali, wasiat untuk kami lagi dan kali ini dari tempat yang sangat jauh. Ceritakan pengalamanmu mengantarkan surat wasiat Ayah.” Ram melambaikan surat wasiat yang dipegangnya sejenak sebelum menyerahkannya pada Centaur.

“Seperti pengalaman biasanya Nona. Saya melintasi beberapa tempat dan . . .”

“Wah pasti menyenangkan” Fisha menampakkan wajah antusiasnya.

“Ya.” Sang pengembara tersenyum. Firasatnya mungkin benar, keluarga ini tidak mungkin dikutuk dengan hal aneh seperti yang diucapkan tabib tua.

“. . . . dan itulah yang dikatakan sang tabib tua” Pengembara mulai menceritakan apa yang didengarnya dari sang tabib tua.

“Tapi, kau masih berani kesini? Hebat!” Meagle tersenyum genit dari seberang meja.

“Petualanganmu di dalam hutan tidak menyenangkan.” celetuk Uran.

“Harusnya kamu bertemu Addler dan unicorn lucu milik kami sebelum kesini supaya . . .” Fisha mencekik lehernya sendiri kemudian melanjutkan, “kau bisa merasakan sensasi ingin mati namun harus tetap hidup”

Sang pengembara merinding mendengar kata-kata Fisha. Aura ruangan itupun seketika berubah. Ram, untuk pertama kalinya tersenyum.

“Tabib tua ini kah yang bercerita padamu?”

Bersamaan dengan tepukan tangan, sang tabib tua yang sudah dikenal pengembara pun muncul.

“T-t-tabib.”

“Hai pengembara yang polos.”

Sang pengembara berdiri dari kursinya dan ingin segera berlari. Perasaannya mulai tidak enak.

“Mau kemana?” Bastian menahan sang pengembara dengan kuat.

Ke dua belas anak keluarga Diozac tertawa tajam. Tabib melangkah mendekati pengembara sambil menggenggam erat sebuah pisau bergagang emas.

“Apa kita harus melakukan ini lagi?” Tanya Scaley pelan.

“Harus! Supaya semua yang kita alami segera berakhir.” jawab Centaur optimis.

Tabib mulai menancapkan pisau yang dipegangnya. Pertama, tepat mengenai ke dua bola mata pengembara. Darah segar mengalir seiring dengan terkoyaknya mata bening pengembara.

“Indah sekali.” Kata Meagle dengan antusias.

Ke dua, sang tabib merobek perut pengembara yang terus berteriak menahan sakit. Tabib tua itu lalu mengeluarkan seluruh isi perut pengembara. Napas kehidupan lenyap sudah. Sang tabib memasukkan seluruh organ yang diambilnya ke dalam toples besar yang bening.

“Aku ingin memasak daging itu.” kata Croo lembut.

Bastian mengangguk, “aku akan membersihkannya untuk Nona.”

“Kulitnya untuk kami.” Gwi dan Mwi tertawa seraya menguliti mayat pengembara.

“Bisakah kau meramu obat awet muda untukku?” Tanya Leo yang disambut dengan anggukan mantab sang tabib.

“Bereskanlah ini secepatnya. Masih ada lima pengembara lagi sebelum kita dengan bebas bisa keluar dari kastil ini. Chaldeans, jantung kali ini ditujukan padamu” kata Ram seraya membaca wasiat yang dipegangnya.

Jantung ke tujuh dari keluarga Lionel untuk Chaldeans 

With love 
Cissa

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 24 April 2012

DUCHESS

Love and obedience

Bangunan rumah itu masih kokoh meskipun tampak rapuh. Bebatuan yang menjadi tonggak rumah itu berdiri terlihat mulai dipenuhi lumut yang hijau dan berlendir. Barisan tumbuhan liar pun merambat dengan indah di sekitar rumah itu. Sebuah penggambaran akan rumah yang tak berpenghuni. Namun tahukah kau bahwa rumah itu kini dihuni seorang duchess yang sangat cantik ? Seorang duchess dengan wajah bak puteri negeri dongeng. Dia tinggal bersama tiga orang putrinya yang juga cantik serta seorang pelayan pria dan juru masak wanita.

Kisah ini pun dimulai . . . .

***

“Anthony, apa semua undangan yang kuminta sudah kau sebar?” tanya Duchess Rosemary dengan dagu terangkat.

“Sudah Nyonya” jawab Anthony dengan setengah membungkuk.

“Bagus. Persiapkan semua yang dibutuhkan untuk pesta malam ini. Pastikan semua berjalan lancar termasuk hal itu” Duchess Rosemary memberikan penekanan yang sangat dalam pada kata terakhir yang dia ucapkan.

“Baik Nyonya”

“GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!”

Teriakan seorang gadis menggema di seluruh penjuru rumah. Duchess Rosemary hanya menghela napasnya. Hal seperti ini sudah sering terjadi. Tak heran jika penghuni rumah yang berjumlah enam orang ini tidak tampak terkejut.

“Tenangkan Lilian”

Mendengar perintah itu, Anthony lalu bergegas menuju kamar Lilian. Lilian adalah anak ke dua dari Duchess Rosemary. Rambutnya yang panjang dan lurus selalu dibiarkan tergerai menyelimuti tubuhnya yang ramping. Sejak kecil Lilian sudah tergila – gila dengan tengkorak. Kamarnya dipenuhi dengan koleksi tengkorak yang entah darimana dia memperolehnya.

“Ada apa Nona?”

“Kau lihat ini Anthony??? Jeremyku retak” Lilian mengangkat sebuah tengkorak dengan wajah yang mendung.

“Nona . . .”

“Jeremymu memang sudah retak daridulu ! Dia tewas dengan pukulan dikepalanya yang tak berotak itu” timpal Iris, anak tertua dari keluarga ini.

“Ah iya” Lilian lalu mengangguk dan kembali tersenyum.

Anthony menggelengkan kepala melihat tingkah anak ke dua dari keluarga ini. Hampir sepuluh tahun dia mengabdi pada keluarga ini. Ketika berumur 17 tahun, dia kabur dari panti asuhan tempatnya dibesarkan. Ditengah kegundahan untuk terus berjalan atau kembali ke panti, dia bertemu dengan Duchess Rosemary. Sang Duchess lalu mengajaknya pulang ke rumahnya dan meminta Anthony untuk menjadi pelayannya. Kecantikan serta sikap baik sang Duchess membuat Anthony luluh. Sepuluh tahun berlalu dan kini Anthony terus memberikan pengabdiannya pada sang Duchess serta ketiga putrinya yang cantik jelita. Segala tingkah laku putri sang Duchess pun telah dihafalnya.

“Anthony, boleh aku meminta bantuanmu?” tanya Iris dengan wajah bersemu.

My pleasure, Nona”

Anthony lalu mengikuti Iris menuju kamarnya. Iris memang terlahir sebagai gadis bangsawan yang sempurna. Perangai dan hobinya jauh berbeda dari Lilian serta Jasmine. Jika Lilian suka segala sesuatu yang berbau gothic maka, Iris menyukai hal yang lembut dan indah. Jika Jasmine suka berteriak dan berlari selayaknya seorang anak lelaki, maka Iris adalah kebalikannya.

“Aku ingin melukismu”

Iris menata dengan baik peralatan lukis serta kanvas dengan disebuah meja bundar. Anthony tersenyum dan mengikuti Iris menuju balkon kamar.

Jasmine menatap Iris dengan tajam dari taman rumah. Dia melihat raut wajah Iris yang berubah aneh. Sesuatu yang janggal terlihat disana. Jasmine sama sekali tidak cemburu melihat kedekatan Anthony dan Iris namun ada sesuatu yang lain di dalam pikirannya.

Jasmine merupakan anak bungsu dari keluarga ini. Dia adalah tipikal gadis yang lebih pantas disebut sebagai kembaran tak nyata sang Duchess. Perangainya memang jauh berbeda dengan sang Duchess namun pemikirannya sama seperti sang Duchess.

“Ibu harus tahu ini” gumam Jasmine.

*

Alunan musik waltz mengalun tenang diantara gemerlap lampu pesta. Anthony sibuk menemani Iris menemui teman – temannya yang datang ke pesta itu. Entah sejak kapan Iris terlihat ingin menguasai Anthony.
Malam itu Iris mengenakan gaun merah mengembang yang sangat indah. Gaun tersebut memiliki potongan yang tidak simetris dibagian bawah dengan hiasan renda berwarna senada.

“Kamu mirip sekali dengan Ibumu” puji orang – orang yang hadir ke pesta itu.

Iris tersenyum bangga. Ibunya cantik dan sangat dipuja di kota ini. Jika dia dikatakan mirip seperti Ibunya, sudah dipastikan kecantikan mereka pun sama.

“Kau dengar itu Anthony? Mereka bilang aku mirip Ibu” Iris tersenyum pada Anthony.

Anthony hanya mengangguk. Matanya terarah pada sang Duchess yang tersenyum di tengah keramaian. Duchess Rosemary menggunakan gaun berwarna hitam, tak seperti biasanya. Mungkin karena anak tertuanya telah menggunakan baju merah yang menjadi warna kesukaannya atau mungkin karena Duchess Rosemary ingin mencoba sesuatu yang baru. Satu hal yang pasti, gaun berwarna hitam yang dikenakannya membuat kecantikannya semakin terlihat.

“Anda cantik sekali nyonya” Anthony menghampiri sang Duchess.

Duchess Rosemary tersenyum dan melihat ke sekelilingnya “dimana Iris?”

“Entahlah” jawab Anthony asal.

“Ah, biarkanlah dia. Aku sudah memilih beberapa orang yang tidak terlalu mencolok. Bunga hitam yang mereka bawa, itu tandanya. Sekarang laksanakan tugasmu”

“Bunga hitam?”

“Ya, aku sudah mulai membenci warna merah”

*

Ruangan pesta kembali tertata rapi. Jejak pesta beberapa jam yang lalu sudah tidak nampak lagi disana. Rumah bebatuan yang tadinya rame menjadi sunyi kembali. Sudut – sudut ruangan tampak lelah dan telah bersemanyam dengan waktu istirahat yang pekat berselimut malam gelap.

Sementara itu di ruang bawah tanah yang lembab dan berbau busuk, tampak ke enam penghuni rumah yang sibuk dengan kegiatan mereka masing – masing.

“Dua orang wanita muda, masih perawan. Dua orang pria, masih perjaka. Tiga anak kecil berumur lima tahun” sang Duchess melihat tujuh orang yang terkulai dihadapannya.

Mereka adalah tamu pesta yang diundang oleh sang Duchess. Pesta yang memiliki makna terselubung. Semua telah diatur sedemikian rupa hingga tak ada seorang pun yang tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.

Duchess Rosemary mengambil sebilah pisau dan menancapkannya ke tembok. Dia berjongkok perlahan mendekati ke tujuh orang tersebut, memeriksa denyut nadi mereka.

“Organ mereka harus tetap bagus. Kuliti satu per satu” perintah Duchess Rosemary.

Anthony dan juru masak wanita yang berada disitu pun mengangguk. Duchess Rosemary bersama ke tiga putrinya duduk di pojok ruangan sambil memperhatikan ke dua budak mereka bekerja.

Pertama, mereka mulai menguliti tubuh ke tujuh orang yang tampak tertidur pulas namun tak bernyawa itu. Kulit mereka yang mulus disobek perlahan dengan pisau kecil yang tajam. Daging tampak mencuat dari sayatan yang ditorehkan.

Beberapa jam pun terlewati, organ – organ pilihan telah tertata rapi di meja. Duchess Rosemary dan Jasmine tampak bahagia melihat organ dalam yang disusun di meja. Sementara Lilian membersihkan tulang – tulang yang berserakan dilantai dan Iris tetap diam di sudut ruangan.

“Ibu, bisakah dipercepat? Jika ingin memakan semua itu, jangan disini. Aku sudah tidak tahan lagi di ruangan ini” gerutu Iris.

Jasmine menatap Iris dengan tajam lalu berkata “ sejak kapan kamu boleh memerintah Ibu? Merasa sudah hebatkah?”

“Diam kau anak bungsu !”

“Sudahlah Jasmine, Iris. Hentikan semua itu”

Duchess Rosemary mengangkat tangannya yang putih lalu memberi isyarat pada Anthony dan juru masak wanita untuk membereskan itu semua.

“Kita ke atas”

Duchess Rosemary, Jasmine, dan Iris naik ke ruang tengah sementara Lilian dibiarkan menikmati kebahagiaannya. Tulang – tulang itu akan menjadi koleksi terbarunya.

Ya, keluarga ini memang aneh. Aneh dalam arti yang memang sebenarnya. Setahun sekali mereka akan mengadakan pesta yang cukup meriah. Tujuan pesta itu untuk membagi kebahagiaan keluarga tersebut pada penghuni kota sekaligus berkenalan dengan lebih dekat. Maklum penduduk kota memang terlihat individualis. Banyak penduduk yang datang ke pesta tersebut karena diliputi rasa penasaran akan pesta yang dirancang oleh seorang wanita bangsawan cantik kota tersebut. Terlebih lagi semua penduduk diundang, tanpa mengenal status mereka.

Namun mereka tidak tahu bahwa dibalik itu semua tersimpan sebuah rahasia yang aneh. Keluarga Duchess ini setiap tahun akan mengorban tujuh nyawa untuk memuaskan napsu aneh mereka. Sang Duchess mengajarkan anak mereka untuk menikmati organ dalam para pengunjung pesta. Menurut sang Duchess organ dalam tersebut dapat membuat mereka menjadi semakin cantik dan muda.

“Selalu nikmat” kata Jasmine sambil menyuapkan hidangan tersebut ke mulutnya.

Iris hanya mengangguk menyetujui dan memotong hidangan dihadapannya dengan tenang. Dari sudut meja Duchess memperhatikannya dengan mata dipicingkan. Dia tampak tidak suka melihat tingkah anaknya tersebut.

*

“Anthony, biarkan aku yang bicara pada Ibu” Iris memecah keheningan diantara dia dan Anthony.

“Tapi Nona . . .”

“Kenapa? Aku kan suka sama kamu dan itu yang penting”

Anthony hanya terdiam mendengar perkataan Iris. Iris memang cantik dan anggun namun Anthony tidak menyukainya sama sekali. Tapi jika dia menolak permintaan Iris semua yang selama ini dia jalani akan kacau. Pada akhirnya Anthony pun hanya pasrah pada permintaan Iris.

“Ada apa ini?” Jasmine dan Duchess Rosemary muncul mendadak.

“Aku menyukai Anthony, boleh aku menikah dengannya?” kata Iris tanpa tedeng aling – aling.

“HAH!!!” reaksi keras muncul dari Jasmine “kau ini bodoh atau apa?!”

“Sudahlah Jasmine, biarkan kakakmu melakukan apa yang diinginkannya” sela Duchess Rosemary.

Iris tersenyum semangat mendengar ucapan Ibunya barusan. Secara tidak langsung Duchess Rosemary telah menyetujui hal yang diinginkannya. Iris lalu memeluk Anthony yang tampak pucat dan tidak setuju.

*

Malam berkabut menyelimuti rumah Duchess Rosemary. Angin menelisik diantara kisi – kisi jendela dan menembus kulit Iris yang tertidur pulas. Dia sedang bermimpi mengadakan pesta pernikahan dengan Anthony di taman rumah mereka.

Ketika Iris sedang menikmati mimpi indahnya, seseorang mengendap – endap ke dalam kamarnya. Orang tersebut menggenggam dua bilah pisau dikedua tangannya. Tangannya yang kanan memegang sebilah pisau bermata tumpul, sedangkan ditangan kirinya tampak sebilah pisau yang terasah tajam dan mengkilat.

Sreettt . . .

“AAAAAAAAWW!!”

Suara goresan pisau tumpul beradu dengan teriakan Iris. Iris membelalakkan matanya seketika, terpaksa bangun karena rasa sakit.

Teriakan itu menganggetkan seluruh penghuni rumah. Mereka berbondong – bondong berlari ke arah kamar Iris.

Braaaakkkkkk . .

“Iris !!”

Duchess Rosemary teriak sambil melihat anaknya yang tersudut dan menangis. Seseorang yang mereka kenal berdiri dihadapan Iris dengan wajah yang bengis. Orang itu adalah Anthony. Anthony menancapkannya pisaunya yang bermata tajam ke arah dada Iris yang terus melafalkan kata maaf.

“Aku tidak menyukaimu” itulah kata yang akhirnya terucap dari mulut Anthony ketika Iris menghembuskan napas terakhirnya.

Duchess Rosemary dan Jasmine hanya tersenyum melihat Anthony. Mereka berdua berjalan mendekati Anthony sambil mengacungkan jempol.

“Sepantasnya dia pergi dan ini cepat sekali. Kau tahu Anthony harusnya kau menyiksanya lebih dalam lagi” gumam Jasmine.

“Ya, Jasmine benar. Hal ini tidak sebanding, anak tak tahu diri yang terus saja mengikutiku dan itu sangat memuakkan” kata Duchess Rosemary geram, lalu melanjutkan “Tapi setidaknya dia sudah tidak ada lagi di istana ini”

Lilian yang datang bersama juru masak terkegut. Lilian berteriak histeris dan menangis menatap kakaknya. Duchess Rosemary yang kesal dengan teriakan itu lalu merebut pisau yang dipegang Anthony dan melemparkannya ke arah Lilian. Lilian pun meregang nyawa.

“Anak ini terlalu berisik, Anthony tolong urus dua anak ini”

Anthony kembali menguasai dirinya dan tersenyum lalu berkata “baik nyonya”

***
Bangunan rumah itu masih terlihat kokoh dan seram seperti biasanya. Setiap orang tahu bahwa rumah itu kini dihuni oleh seorang Duchess dan dua orang pelayannya. Enam bulan yang lalu ke dua anaknya dikabarkan meninggal karena diserang oleh perampok sementara anak bungsunya telah pindah ke sebuah kastil di kota lain. Meski telah berpisah, anak bungsu sang Duchess tersebut tetap meneruskan pesta tahunan yang selalu diadakan oleh sang Duchess di kastilnya sendiri.

Kisah lain pun masih terus berlanjut . . .


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 17 Maret 2012

CRUEL FAIRYTALE

when you found that life isn't easy as a fairytale


“Dan mereka pun hidup bahagia selamanya”

Kata – kata itu terus terngiang ditelinga Alicia kecil. Alicia yang masih polos dan tidak mengerti kerasnya hidup pun tersenyum dan menggumam pada dirinya sendiri, bahwa suatu hari nanti dia pun akan mengalami hal yang sama.

Cinderella, cerita yang sangat disukai oleh Alicia. Seorang gadis yang hidup dengan Ibu dan kakak tiri yang jahat. Alicia merasa senasib dengan gadis itu. Ibunya meninggal sejak lama sementara Ayahnya menikah lagi dengan seorang janda beranak dua. Tahun berganti tahun, Alicia kecil tumbuh menjadi gadis remaja yang manis. Perangai buruk Ibu tiri dan ke dua kakaknya pun mulai terlihat. Semua terjadi persis seperti di dalam cerita Cinderella. Dan menjadi semakin buruk ketika Ayah Alicia menghembuskan napas terakhirnya.

Alicia yang polos menjalani hidupnya dengan keras dengan membawa segenggam mimpi kecilnya. Kisah Cinderella akan terjadi dikehidupannya. Seorang pangeran akan datang menyelamatkannya. Namun pada akhirnya Alicia tersadar bahwa hidupnya tidak semudah cerita dongeng.

*
5 tahun kemudian . . .

“Licy, selamat ya bukumu jadi bestseller. Luar biasa sekali” Kinta memeluk Alicia dengan hangat.

“Terimakasih” jawab Alicia datar.

“Bukumu ini keren tapi agak serem ya. Tiap baca bukumu aku merasa semuanya nyata. Seperti kebalikan dari kisah Cinderella, gadis ini berani sekali menukar nyawa Ibu dan kakak tirinya demi kebebasan hidupnya.”

Alicia tersenyum pahit mendengar kata – kata Kinta. Semua yang dia curahkan ke dalam buku itu memang nyata. Buku itu bercerita tentang seorang gadis polos yang berubah karena lelah dibodohi oleh cerita – cerita manis semasa kecil. Seorang gadis yang akhirnya bisa terlepas dari belenggu ibu tiri dan kakak tirinya.

“Licy??”

“Ah iya, maaf . . .”

Kinta mengapit lengan Alicia dan menariknya keluar dari toko buku. Kinta mengenal Alicia sejak 3 tahun yang lalu. Mereka tidak sengaja bertemu disebuah kantor penerbit. Alicia dengan rambut hitam panjangnya tampak sangat menyeramkan ketika itu. Lambat laun Kinta tahu bahwa Alicia tidak seseram penampilannya. Namun, dia merasa Alicia menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang tampaknya sangat buruk dan rentan untuk diceritakan pada siapapun.

“Berhubung honormu sepertinya akan semakin bertambah, wajar dong ya kalau aku minta ditraktir” Kinta tersenyum jahil pada Alicia.

Alicia hanya mengangguk dan mengikuti langkah Kinta. Mereka kemudian berhenti di depan sebuah restoran pizza. Wajah Kinta mendadak bersemu merah ketika mereka masuk ke dalam restoran tersebut.

“Kamu kenapa?” tanya Alicia datar.

“A-a-aku . . .”

“ini pesanan Anda, silahkan dinikmati” seorang pelayan pria muncul dan menghidangkan pesanan mereka.

Alicia membulatkan matanya ketika melihat pria itu. Pria itu pun tampak terkejut ketika melihat Alicia.

“Licy???” kata pria itu tidak yakin.

“Rifan”

“K-k-kalian saling kenal?” Kinta tampak kebingungan melihat tingkah dua orang tersebut.

“Dulu” jawab Alicia datar dan pria bernama Rifan itupun pergi meninggalkan meja mereka.

“Dia teman lamaku. Jangan kuatir, aku tidak suka padanya. Kamu bisa tenang sekarang”

Kinta tersedak mendengar pernyataan Alicia yang jelas – jelas menohok hatinya. Kinta memang menyukai pria itu sejak dulu. Dia selalu mengunjungi restoran ini hanya untuk mendekati pria itu. Tapi, bagaimana Alicia bisa tahu?

“Aku tahu karena semua tergambar jelas disenyummu dan ekspresimu. Ketika seorang gadis jatuh cinta, senyum mereka akan terlihat berbeda”

Sekali lagi Kinta tersedak oleh pernyataan yang diberikan Alicia. Alicia selalu bisa menebak isi hatinya.

“Aku memang suka sama Rifan. Dia seperti pangeran di dalam cerita – cerita negeri dongeng. Entah kapan aku bisa jadi seorang putri untuk dia” akhirnya Kinta berani jujur pada Alicia.

“Cerita indah seperti itu hanya ada di dalam dongeng” batin Alicia.
*

Dua minggu kemudian . . .

Alicia menatap Kinta dan Rifan yang bergandengan tangan di taman kota. Dia tidak suka melihat senyuman yang mereka tunjukan. Dan dia pun benci melihat semua yang diinginkan Kinta terwujud dengan mudah selayaknya cerita di negeri dongeng.

“Licy . . . . !!!” Kinta melambaikan tangannya pada Alicia.

Alicia mencoba tersenyum pada mereka. Dia bisa melihat tatapan wajah Rifan yang mulai berubah. Rifan, sosok pangeran berkuda yang dulu masuk ke dalam hidupnya. Rifan yang membuka mata Alicia dan menyadarkannya bahwa cerita di dalam negeri dongeng hanyalah tipuan semata. Rifan yang membuat Alicia lebih berani menghadapi Ibu dan kakak tirinya.

“Aku bahagia” Kinta menghempaskan tubuhnya di samping Alicia.

Kinta menatap siluet Rifan yang menghilang diantara pepohonan. Wajahnya terus memancarkan senyuman yang hangat dan indah.

“Makasih ya Licy. Kamu memang sahabat terbaikku. Happy ending story memang ada. Kalau saja kamu gak kenal sama Rifan, mungkin saat ini aku gak bisa tersenyum lega kayak gini”

“Oke”

“Tapi, apa kamu yakin kalau dulu kamu dan Rifan gak ada hubungan apa – apa?”

“Yakin” jawab Alicia tanpa ekspresi.

Kinta hanya terdiam melihat reaksi Alicia. Dia teringat kembali awal mula dia bisa dekat dengan Rifan hingga sekarang. Rifan selalu bertanya tentang Alicia dan bagaimana keluarga Alicia sekarang. Seperti ada sesuatu yang ingin Rifan pastikan. Awalnya Kinta merasa heran namun Rifan selalu berkelit bahwa dia hanya ingin tahu keadaan teman lamanya. Rifan mengaku tidak bisa menanyakan langsung pada Alicia karena takut Alicia akan merasa tersinggung. Kinta pun mengerti alasan Rifan itu. Alicia memang selalu tertutup jika Kinta mulai menanyakan hal – hal seperti itu padanya. Tiga tahun berteman, Alicia tidak pernah membahas tentang keluarganya bahkan masa lalunya.

“Malam ini, Rifan ngajakin aku candle light dinner  di apartemennya. Romantis kan?” kata Kinta memecah keheningan.

“Ya”

*

Malam terlihat sendu tanpa bintang. Angin malam mengalun manja disela – sela jejeran lilin yang tertata rapi di atas sebuah meja bundar. Kinta tersenyum haru melihat keindahan itu. Dia tidak menyangka Rifan bisa seromantis ini.

Sit down please, my princess” kata Rifan sambil menarik kursi.

Kinta pun duduk di kursi tersebut. Malam itu Rifan melayaninya selayaknya seorang putri. Kinta merasakan bahagia yang luar biasa.

“Kamu suka sama semua ini?” tanya Rifan setelah mereka menghabiskan makan malam yang terhidang.

“Sangat suka” jawab Kinta sambil tersenyum.

“Jawabanmu datar sekali, seperti Alicia saja”

“Alicia lagi” batin Kinta.

are you jealous?” tanya Rifan sambil tersenyum melihat perubahan air muka Kinta.

Kinta memang cemburu dan dia tidak bisa menahan rasa itu lebih jauh lagi. Selama ini dia selalu berusaha keras berpikir positif mengenai Rifan dan Alicia. Namun, entah mengapa malam ini terasa berbeda termasuk mata Rifan ketika menyebut nama Alicia.

Splash . . .

Bau amis darah mengalir di udara. Kinta merasakan kehangatan berbau amis itu mengalir diwajahnya. Matanya terbelalak ketika melihat Rifan menusuk tangannya sendiri dengan pisau yang ada di meja.

“RIFAN !!!”

“Aku bisa merelakan tangan kananku untukmu. Tolong jangan cemburu pada Alicia.”

“I-i-iya, diam disitu !!!”

Kinta semakin panik melihat darah yang terus mengucur dari tangan Rifan. Kinta mencari kotak P3K dan berharap bisa menghentikan darah yang terus mengalir dari tangan Rifan.

“Kinta”

“GYAAAAAA!!”

Kinta terkejut ketika Rifan mendadak memeluknya dari belakang. Seketika itu juga gaun Kinta yang berwarna putih berubah menjadi merah.

“R-r-rifan, sebaiknya kamu duduk dulu di sofa”

“Aku bisa mengorbankan tangan kananku. Bagaimana denganmu?” Rifan mengangkat pisau yang dipegangnya.

“R-r-rifan jangan macam – macam”

“Aku tidak macam – macam. Kau terlihat cemburu pada Alicia dan aku buktikan padamu kalau aku rela mengorbankan tanganku untukmu. Tangan ini pernah menyentuh Alicia.” Rifan mengangkat tangannya yang berlumuran darah, lalu melanjutkan “Bagaimana denganmu? Bagian mana dari tubuhmu yang pernah disentuh pria lain?”

Rifan mengencangkan pelukannya pada Kinta. Kinta menangis karena takut. Dia tidak menyangka Rifan seperti ini. Rifan ternyata bukan seorang pangeran melainkan pria aneh yang sangat menyeramkan.

“Licy . . tolong aku” batin Kinta.

BRAKKKKKKKKK . . . !!

Alicia muncul dari balik pintu. Sepertinya sejak tadi Alicia memang mengikuti Kinta atau bahkan menguntit kegiatan yang dilakukan oleh Kinta dan Rifan.

“Licyyyyyyyyyyyy !!!”

Mata Alicia dengan cepat mencari benda yang dapat digunakan untuk melawan Rifan. Rifan tetap memeluk  Kinta dengan kencang. Seulas senyum aneh merekah diwajahnya.

“Akhirnya datang juga kau”

“Ya”

Alicia tersenyum sambil memegang dua buah pisau daging.

“Licy . . jangan nekat”

Rifan mengarahkan pisau yang dipegangnya ke mulut Kinta seraya berkata “ssssttt, sebaiknya kamu diam saja disini”

Alicia hanya berdiri diam menatap Rifan. Kinta tidak tahu apa yang sekarang ada dipikiran temannya itu. Alicia sama sekali tidak berkata akan menolongnya atau berteriak pada Rifan untuk melepaskannya.

“Licy, apa yang akan kamu lakukan?” batin Kinta.

“Baiklah” Rifan mendadak melepaskan pelukannya pada Kinta.

“Ini saatnya” batin Kinta ketika pelukan itu semakin longgar.

“Eitssssss”

Rifan dengan cekatan menarik tangan Kinta dan membuat Kinta berdiri disebelahnya.

“Bukan berarti kamu bisa pergi begitu saja”

“Tuhan, kenapa bisa begini?” Kinta berteriak di dalam hatinya, dia semakin takut.

Splash . . .

Sekali lagi darah segar mengalir dari tangan Rifan. Sebuah luka gores mencuat dari lengan kirinya.

Alicia menatap pisau yang tadi dilemparnya dengan kesal lalu berkata “meleset”

“Apa – apaan ini?” Kinta kaget menatap Alicia yang mendadak melemparkan pisau daging dengan santainya kearah dia dan Rifan. Kinta tahu Alicia ingin membantunya tapi dia tidak ingin melihat Alicia menjadi pembunuh. Namun ketika dia menatap tawa Rifan yang berubah menjadi semakin bengis, Kinta berharap pria disebelahnya ini segera meregang nyawa.

“Kau ingin dia mati?” Alicia mendadak bertanya seperti itu pada Kinta.

“A-a-aku . . .”

“Iya, tatapannya berkata seperti itu” Rifan memotong perkataan Kinta.

Kinta melihat wajah Rifan yang semakin bengis. Dia tidak menyangka bisa melihat wajah seperti itu dari orang yang sangat dia sukai.

“Orang ini seharusnya lenyap !!!!” teriak Kinta.

“HAHAHAHAHAHAH”

Splasssssh . . .

“Ups, salah sasaran” kata Rifan sambil menatap kepala Kinta yang telah terpisah dengan badannya. Semua terjadi begitu cepat.

“Dia adalah sasarannya. Gadis pemimpi yang bodoh. Aku tidak suka dipanggil Licy dan Rifan adalah pangeranku. Dan aku cukup lelah melihatmu selalu bermesraannya dengannya.”

Alicia tersenyum lalu memeluk Rifan. Rifan membuang pisau ditangannya dan menerima pelukan Alicia dengan hangat.

“Lima tahun sejak kau menghilang, rasanya hampa” kata Alicia sekali lagi.

“Ingat, aku membantumu mencari mangsa yang tepat. Takdir mempertemukan kita disini” balas Rifan.

“Dan gadis pemimpi ini memang mangsa yang tepat. Pancinganmu hebat sekali”

Another cruel fairytale” bisik Rifan ditelinga Alicia.

“Setelah Ibu dan ke dua kakak tiriku, dia adalah bahan ceritaku berikutnya. Thanks, my prince

Malam semakin larut selayaknya cinta pasangan yang sedang dimabuk asmara. Bau amis darah dan terhempasnya sebuah nyawa bukanlah halangan bagi mereka untuk memadu kasih.

*

“Dia tampan sekali Al, seperti seorang pangeran”

“Kau ingin menjadi putrinya?”

“Iya, kau kenal pria bernama Rifan itu kan?”

“Bisa dikatakan dia adalah teman lamaku”

Great, bantuin aku deketin dia dong. Sikapnya manis sekali, sama seperti senyumnya. Tipikal bos dan calon suami yang baik. Dia seperti pangeran. Kalau aku bisa jadi putri dihatinya, semuanya pasti indah ya”

“Percayalah, cerita seperti itu hanya ada di dalam dongeng”


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..