Tampilkan postingan dengan label CATATAN CINTA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CATATAN CINTA. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Oktober 2013

SURAT UNTUKMU



Seperti bunga dandelion yang terbang mengikuti arah angin, aku pun begitu. Mengikuti alur cerita hidup yang diberikan Tuhan padaku. Teman-temanku memiliki skema kehidupan sendiri. Berapa tahun lagi menjadi apa atau harus berbuat apa keesokan harinya. Mereka sebut itu dengan mimpi dan harapan. Tapi tidak denganku. Sejak kejadian beberapa tahun silam, yang aku percaya kini adalah hiduplah dengan penuh kebahagiaan untuk hari ini karena kita tidak tahu kapan deru napas yang dipinjamkan akan kembali diambil.

Aku mungkin terlihat selalu optimis dimatamu. Mencoba apa pun yang aku percaya. Mengikatmu untuk melihat semua ekspresi sesungguhnya diriku. Bahkan aku melepaskan cangkangku agar kau tahu aslinya jiwaku. Aku takut tidak memiliki cukup waktu untuk menjelaskan padamu seperti apa diriku karena hidup adalah misteri.

Kau sering bilang firasatmu mengatakan kita akan hidup bahagia. Tinggal di rumah mungil di tepi pantai. Memancing dan memandang karunia Tuhan untuk kita yang berlarian diantara pasir putih. Bersama hingga akhirnya kau pergi dengan bangga. Itukah mimpimu? Semoga tercapai karena aku tidak tahu bagaimana jadinya nanti ragaku.

Aku tidak punya mimpi meskipun aku tahu mimpi bisa membuat seseorang bangkit. Yang aku punya hanyalah untaian kata dan rasa hati yang sesungguhnya. Aku hidup bahagia untuk hari ini, ketika bersamamu.

Surat untukmu jika nanti aku tidak bisa lagi memijakkan kaki di muka Bumi.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 19 Juni 2012

ADA SEBENTUK KASIH DI KOLONG LANGIT

Sebuah benda padat berwarna merah terjatuh dari langit. Benda itu mendarat mulus di tangan seorang pemuda manis dengan deretan gigi yang tersusun rapi. Pemuda itu berlari menghampiri seorang gadis rupawan yang duduk termenung di bawah pohon ginkgo. Benda padat yang didapatinya tadi diberikan kepada sang gadis. Sang gadis pun tersenyum dan mempersilahkan pemuda manis tersebut duduk menemaninya.
Tak jauh dari dua sejoli tersebut, tampak seorang pemuda dengan paras yang menakutkan. Matanya yang berwarna kemerahan, kulitnya yang berkelupas, serta rambutnya yang terlihat tak beraturan membuat siapapun enggan untuk mendekatinya. Pemuda itu menggenggam semua tongkat dengan ujung yang melengkung indah. Dia baru saja meraih benda padat berwarna merah yang menggantung di langit. Benda itu ingin diserahkannya kepada sang gadis rupawan. Namun, sosoknya yang jelas - jelas menakutkan membuatnya meminta bantuan seorang pemuda rupawan untuk memberikan benda padat itu kepada sang gadis. Sang pemuda dengan paras menakutkan berharap agar gadis pujaannya akan tersenyum seperti hari - hari terdahulu.
Dan kini gadis itupun tersenyum meski sembari menggenggam tangan pemuda berwajah manis.




"Ketika kasih tidak hanya sekedar aku ada untuk memilikimu melainkan aku ada karena kau membutuhkanku meskipun kau tak perlu tahu bahwa aku yang melakukan semuanya untukmu"

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Jumat, 15 Juni 2012

DEAR DADDY

Untuk Ayah yang jauh disana . . .

Ayah sering bilang untuk tidak takut akan apapun yang menghadang karena setiap masalah punya caranya sendiri untuk diselesaikan. Ayah selalu menanamkan kata - kata itu setiap ketakutan ini menimpa. Masih teringat jelas kejadian beberapa minggu lalu ketika seminar Proyek Akhir yang akan kutempuh tiba.

"Fitri takut"

Sms sesingkat itu ternyata menyulut amarah Ayah.

"Belum berperang sudah takut ! Anak kebanggaan Ayah mau menyerah padahal sudah sejauh ini??"

Ayah tahu, jika ada yang lebih menyakitkan dari cinta yang bertepuk sebelah tangan maka pagi itu adalah pagi yang menyakitkan. Aku merasa sakit karena salahku sendiri yang terlalu takut. Memang benar kata Oniisan, selama ini aku terlalu bahagia hidup di zona nyaman. Berada diantara pengawasan Ayah dan Ibu yang luar biasa. Yang selalu ada disaat masalah menghadangku, disaat aku takut dan ingin berlari dari kenyataan. Tapi, sekarang semuanya berbeda.

Kata - kata Ayah pagi itu membuatku bangkit namun kini entah mengapa aku membutuhkan lebih dari itu. Aku ingin bertemu Ayah dan menangis. Selama ini banyak yang bertanya apa aku tidak kangen dengan rumah setelah 3 tahun berpisah? Pertanyaan yang bodoh ! Coba tanyakan hal itu pada diri sendiri.

Aku diam dan selalu tersenyum bukan berarti aku tidak merindukan mereka. Aku juga diam dan selalu tersenyum ketika Maret - April lalu Ayah berkunjung. Aku tidak mau membuat Ayah sedih. Ayah sudah terlihat tua dan lemah tapi Ayah malah berkata semua baik - baik saja.

"Kalau Fitri sudah kerja, Ayah gak usah sibuk ngurus apa - apa lagi. Ayah sama Ibu nikmati masa tua aja di Jawa"

"Hahahaha . . . iya iya"

"Ayah gak usah capek - capek lagi kayak sekarang"

"Tri, yang namanya manusia itu . . . selama dia masih hidup pasti akan kenal namanya capek. Kalau gak mau capek mati aja. Apa mau Ayah mati aja?"

"Enggak"

Percakapan malam yang panjang, sejak dua tahun terakhir tidak ketemu. Asap rokok dari mulut Ayah tergantung di langit - langit kamarku. Aku merindukan suasana ini. Sebelum tidur Ayah mengucapkan sebuah kalimat yang membuatku tertegun.

"Kamu harapan Ayah. Dibanding adekmu, Ayah menaruh harapan besar sama kamu"

Ayah, semoga aku tidak mengecewakanmu. Ayah yang bikin aku bertahan disini. Semuak apapun aku, aku coba bertahan untuk menghadapi semuanya. Sekasar apapun perkataan orang padaku, aku coba bertahan demi Ayah.

Beberapa malam terakhir, aku semakin rindu rumah. Rindu canda Ayah dan Uji ketika menonton bola. Rindu teriakan Ibu yang kesal karena keributan diruang tv. Rindu wangi tembakau di rumah.

Fitri, ingin pulang.


Fitri sayang Ayah, dan apapun kata orang . . . Ayah selalu jadi orang terhebat dalam hidup Fitri sampai kapanpun.

Sincerely

Fitria Rahmawati

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 27 Desember 2011

CATATAN CINTA UNTUK AYAH #2

Bukan karena mereka memarahiku dan menjelekkanku sehingga airmata ini mengalir.
Bukan karena mereka menertawakanku sehingga airmata ini mengalir.
Bukan karena impian itu kembali bangkit sehingga airmata ini mengalir.

Tapi . .
Karena aku mengingatmu, merindukanmu, menyayangimu, mencintaimu

Aku ingin pulang dan mencium aroma tembakau yang menghiasi tubuhmu
Aku ingin pulang dan melihat senyuman yang terbingkai diantara gigimu yang rapi
Aku ingin pulang

Ayah :')

Aku ingat janjiku untuk kembali disaat berhasil
Aku ingat janjiku untuk tidak menangis
Aku masih ingat janjiku :')

Ayah :')

Maafkan anakmu ini . . .
Engkaulah nafasku
Yang menjaga di dalam hidupku
Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik
Kau tak pernah lelah
S'bagai penopang dalam hidupku
Kau berikan aku semua yang terindah


Aku hanya memanggilmu ayah
Di saat aku kehilangan arah
Aku hanya mengingatmu ayah
Jika aku tlah jauh darimu - Ayah by seventeen
 

- Regrads Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 10 Desember 2011

CATATAN CINTA UNTUK AYAH #1


" untuk cinta yang tertuang ke dalam sebuah kertas, Ayah aku mencintaimu "


Catatan cinta untuk orang yang berarti dihidupku, Ayah. Terkadang saya memanggil Beliau dengan sebutan Bapak maupun Pak. Beliau adalah tipikal orang yang keras dan terkadang egois. Aku menyayangi dan mengagumi sosok beliau.

Sejak kecil, sosok Ayah begitu dekat dengan saya. Setiap diomeli oleh Ibu dan nangis sesenggukan, Ayah pasti memeluk dan menenangkan saya. Kedekatan ini semakin terasa setelah saya beranjak dewasa. Ibu terkadang sibuk dengan urusan diluar rumah hingga saya ditinggalkan berdua dengan Ayah.

Ayah adalah orang yang pertama kali mengajarkan saya cara mencuci dan memasak. Hal itu terjadi ketika saya duduk di sekolah dasar. Ibu dan adik lelaki saya pergi ke luar kota sedangkan saya dan Ayah ditinggal di rumah. Saya yang masih kecil mencoba membantu Ayah sekuat tenaga. Ayah meracik bumbu untuk daging yang akan kita makan sembari merendam pakaian. Saya yang masih kecil dan tinggi di bawah rata – rata, mencoba membantu memasak dengan bantuan kursi agar tinggi saya sesuai dengan kompor yang ada. Jika saya terlihat kesulitan, Ayah akan datang menggantikan saya memasak, lalu saya akan berlari dan menggantikan Ayah mencuci. Kenangan manis yang sulit untuk dilupakan.

Masih teringat jelas diingatan saya ketika pertama kali membuat sambal, saya tahu rasanya keasinan dan tidak enak. Maklumlah masih kecil, tapi Ayah dengan senyuman khasnya membuat guyonan ringan lalu menghabiskan apa yang saya masak. Hal kecil seperti ini yang tidak bisa saya lupa. Terkadang, cinta itu sesederhana ini ya.

Sejak SD hingga SMA , Ayah lah yang selalu mengambil rapor dan menghadiri segala macam acara sekolah. Ayah adalah orang yang menjunjung tinggi pendidikan. Dan semangat beliau dalam pendidikan sepertinya menular pada saya. Sejak kecil, keinginan saya untuk menulis dan membaca bisa dikatakan luar biasa. Berbeda dengan anak pada umumnya, saat berumur 3 tahun saya telah memaksa ke dua orang tua saya untuk disekolahkan dan belajar membaca.

Ayah adalah orang yang keras dan penuh disiplin. Beliau dengan tegas akan memarahi saya jika menemukan buku catatan saya tercoret tidak pada tempatnya. Dan orang yang selalu mengecek barang bawaan serta catatan sekolah saya adalah Ibu. Awalnya saya kesal karena merasa diatur dan terlalu dikekang ,tapi ketika saya mengingat kembali hal itu, saya merasakan cinta yang ada didalamnya. Ayah dan Ibu sangat memperhatikan saya hingga hal kecil seperti ini.

Ayah adalah pria yang sederhana, saya telah berapa kali menyinggung hal ini, Ayah hingga sekarang (tahun 2011) masih setia menggunakan sepeda onthel miliknya. Motor yang kini ada dirumah malah digunakan oleh adik dan Ibu. Terkadang sedih mengetahui hal itu.

Saya : Kok motornya dipake si uji? Dia kan belum punya SIM
Ayah : Gak apa – apalah, selama dia gak berbuat aneh – aneh.
Saya : Lha terus Ayah?
Ayah : Naik sepedalah, lebih sehat. Jangan kuatir, wong masih kuat dan muda ini.

Kata – kata itu membuat hati saya ingin menangis, menangis karena ketulusan Ayah yang masih ada hingga sekarang. Sejak saya TK, Ayah telah menggunakan sepeda tersebut. Ayah dengan setia mengantarkan saya kesana kemari, hingga saya SD. Malu ? Tidak, buat apa malu dengan sepeda. Saya malah bangga, bangga karena Ayah dengan senyuman khasnya mengantarkan saya ke sekolah setiap pagi. Menyaksikan saya melambaikan tangan dari balik pagar sekolah. Itulah cinta yang beliau berikan. Saya menyayangi beliau bukan dari apa yang beliau pakai dan apa yang beliau miliki. Tapi, karena beliau adalah Ayah saya, seorang lelaki yang dipilih oleh Allah SWT untuk mengasuh saya. Mengajarkan saya dengan baik dan penuh cinta hingga saya berdiri disini sambil tersenyum.

Ayah selalu mendahulukan kami, anak – anaknya, dibanding dirinya sendiri. Hingga terkadang saya merasa sedih sendiri. Ketika Ayah membelikan sesuatu, misalnya makanan. Ayah akan memaksa saya dan adik lelaki saya untuk makan tanpa memperdulikan beliau.

Dihabisin aja, tenang aja Ayah sih gampang”

Ah Ayah, rasanya tidak ada yang pria yang lebih baik darimu.

Sifat Ayah sangat mirip dengan saya. Kita berdua adalah tipikal orang yang paling susah menyatakan rasa cinta dan sayang secara langsung (lisan). Ayah jarang , bahkan hampir tidak pernah mengucapkan kata – kata cinta dan sayang dibandingkan Ibu. Tapi, Ayah selalu menunjukkan hal tersebut lewat tindakan. Ketika saya sakit, beliau terlihat sangat perhatian.

Ayah tidak pernah mengucapkan lekas sembuh, ayo ke dokter atau sebagainya dibandingkan Ibu. Yang Ayah lakukan adalah membelikan apa yang saya inginkan, menuruti apa yang saya mau dan membuat saya tersenyum. Itu sudah lebih dari cukup. Hingga suatu hari Ayah mengucapkan sebuah kalimat yang tidak pernah bisa saya lupakan.

Ayah mengucapkan kalimat tersebut setelah menerima rapor SMP saya (kelas 9). Nilai saya hampir mendekati sempurna. Tidak ada angka 8 bahkan 7, semua 9. Seluruh keluarga saya dan bahkan saya pun heran.

Ayah dengan wajah sumringah dan gigi yang berjejer rapi berkata dengan tegas “ AYAH BANGGA MA FITRI”

Kalimat yang sangat sederhana namun berarti dan terus saya ingat. Ayah jarang mengucapkan kata seperti itu dan ketika beliau mengatakan hal tersebut, hal itu menjadi sangat sangat sangat indah serta bermakna.

Orang yang paling mengerti dan memiliki kontak batin yang sangat tepat dengan saya adalah Ayah. Tanpa mengucapkan apa yang saya inginkan, Ayah sudah tahu. Saya bisa ingat dengan jelas ketika saya sangat menginginkan sebuah makanan dan hanya memendamnya dalam hati. Ayah datang dan memberikan makanan tersebut tanpa mengucapkan apa – apa. Dan hal ini terjadi tidak hanya sekali tetapi berkali – kali.

Ketika tragedi semasa SMA terjadi, dimana saya terjun bebas dari atas mobil hingga terguling dan pingsan. Ayah telah merasakannya, sejak saya meminta ijin untuk pergi wajah beliau terlihat tidak ikhlas. Mulai saat itu, saya selalu meminta ijin beliau untuk melakukan sesuatu. Jika beliau mengatakan tidak, maka saya tidak akan melanggarnya. Selama saya belum menjadi milik orang lain, perkataan beliau dan Ibulah yang akan selalu saya dengar.

Ayah sangat lihai membaca karakter seseorang. Jika Ayah melarang saya untuk dekat dengan seseorang, berarti saya harus menurutinya karena apa yang beliau katakan akan berdampak dikemudian hari. Saya sangat mengagumi beliau.

Masih banyak kata, kalimat, bahkan paragraf yang bisa saya torehkan untuk Ayah. Catatan ini tidak akan pernah habis dan tidak akan ada habisnya seperti rasa sayang saya pada Beliau. Jika suatu saat nanti, Ayah harus melepaskan saya, yang saya inginkan adalah berada ditangan yang tepat. Tangan seseorang yang pastinya harus diridhai lahir dan batin oleh Ayah, pria yang saya cintai hingga kapan pun J

Apapun yang terjadi saya akan selalu bangga dan bersyukur memiliki Ayah seperti beliau, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang beliau miliki. Tidak masalah jika saya dipandang aneh bahkan dicaci oleh orang lain asalkan saya bisa berdiri disamping Ayah dan melihat beliau tersenyum. Dan asalkan hanya saya yang dicaci, bukan Ayah maupun keluarga yang sangat cintai ini.

“Ayah, terimakasih untuk semua cinta dan kasih sayang yang engkau berikan. Jika suatu saat nanti tulisan ini terbaca olehmu, saya berharap engkau akan tersenyum bahagia seperti biasanya. Thanks for everything, I will  always love you.”


- Regrads Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..