Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 April 2015

RAHASIA DI DALAM BOTOL


Minggu malam dengan rintik hujan yang malu-malu aku menepikan sepeda motor tua ini di sebuah rumah. Tetesan air dari genteng kelabu membasahi garasi dengan sempurna. Aku rasa tidak ada salahnya jika menghempaskan jas hujan di lantai garasi, toh sudah basah juga. Pintu berdecit membuat ngilu pendengaran, seseorang dengan tongkat jati keluar dari dalam rumah.

“Kan sudah Oma bilang kamu di rumah saja.” Suara renta yang khas, jujur aku merindukannya.

“Tidak apa-apa Oma. Kan Nila sudah janji sama Oma mau nginap di sini semalam.” Aku merapikan anak rambut yang mencuat.

Oma menepuk kepalaku. Kerutan diwajahnya ketika tersenyum tampak cerah sekali. Ia memberikan handuk kecil untuknya, menyuguhkan teh hangat, dan menata kue-kue yang baru ia buat. Cekatan sekali untuk seorang wanita yang berumur hampir satu abad.

“Coba cicipi resep baru buatan Oma.”

Kue-kue kecil itu terlihat menggiurkan. Ada beberapa warna yang berpadu di atas piring. Aku mencoba mencicipi kue berwarna hijau. Tercium wangi pandan yang lembut.

“Ah ini rasa pandan.” Batinku.

Oma mengangguk seakan bisa membaca pikiranku. Aku melanjutkan gigitan berikutnya dengan jenis kue yang berbeda. Tepat saat itu, mataku tertuju pada sebuah botol bening di sudut ruangan. Seakan ada yang memanggilku dari botol tersebut. Mulutku tidak berhenti mengunyah tetap mataku seakan tidak bisa berhenti untuk menatap botol.

“Nila?” Oma melambaikan tangannya di hadapan wajahku. Pandangannya mencoba mengikuti ke arah apa yang sedang ku lihat.

“Itu botol turun temurun dari keluarga Oma.”

Aku baru berbalik menatap Oma.

“Ketika Oma sudah meninggal nanti, botol itu akan diserahkan kepada mamamu.” Oma membicarakan kematian dengan santainya.

“Isi botol itu apa Oma? Sepertinya penting sekali hingga harus dijaga turun temurun.” Aku mengunyah kue yang lain.

“Botol itu . .” jeda sebentar, Oma menatap keluar jendela,”milik seseorang yang penting dikeluarga ini. Harusnya Oma menceritakan hal ini sejak lama.”

Aku sempurna berhenti mengunyah. Kami duduk berhimpitan. Tangan lembut Oma menepuk-nepuk pergelangan kecilku.

“Sebenarnya Oma juga tidak mengerti apa yang ada di dalam botol itu. Hanya saja, entah mengapa Oma merasa harus menjaganya. Yang Oma tahu hanya cerita kecil ini.” Oma menyodorkan album usang.

Lembar demi lembar dibuka, aku melihat beberapa wajah yang ku kenal. Ada siluet Mama, Om Wiryo, dan Opa di sana. Selebihnya adalah wajah-wajah asing yang belum pernah ku temui. Tangan Oma berhenti membuka album.

“Perjalanan menjaga botol diawali oleh para buyut. Bermula ketika dua sahabat lama berjanji untuk menyimpan rahasia terbesar mereka di dalam sebuah botol. Terdengar seperti dicerita dongeng bukan?”

Aku tertawa.

“Entah siapa yang memulai,  pada akhirnya persahabatan itu hancur karena memperebutkan cinta seseorang.  Dua sahabat itu berpisah sekian tahun, mengikuti ego masing-masing.  Setelah berpuluh tahun terlewati, dua sahabat itu baru menyadari kebodohan masa muda mereka. Mereka berjanji bertemu di tempat perkelahian terakhir. Namun sayang, salah satu dari mereka harus pergi meninggalkan dunia ini terlebih dahulu. Sahabat yang lain akhirnya memutuskan untuk menjaga botol itu hingga sekarang.”

“Botol tanpa isi? Bukannya tadi . . .”

Oma tersenyum.

“Mungkin rahasia sudah seharusnya tidak terlihat.”

Aku menggaruk kepala yang tidak gatal.

“Nanti ada saatnya kamu mengerti.”


Aku hanya mengangkat bahu. Aku memang tidak mengerti apa yang dikatakan Oma, yang aku tahu adalah aku siap menjaga rahasia apapun yang ada dibotol itu.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 18 Oktober 2014

GADIS BUNGA MATAHARI


Panas sangat menyengat. Suara serangga-serangga melengking memenuhi ladang bunga. Aku sudah siap dengan topi jeramiku. Mengikat rambutku yang pendek sebahu agar tidak lengket di leher dan membuat gerah.

“Liliana!”

Suara Ibu sudah membahana di belakangku. Ibu pasti ingin melarangku bermain ke ladang bunga. Tapi seperti biasa, aku tidak peduli dan terus berlari.

Hai, namaku Liliana Putri. Anak pertama dari keluarga yang mengabdikan dirinya untuk menjaga ladang bunga. Menurut cerita nenek, keluarga kami sejak jaman dahulu kala sudah menjadi penjaga ladang bunga. Jujur saja aku menyukainya. Apalagi ketika bunga-bunga mulai bermekaran. Wah, luar biasa! Matamu akan dimanjakan oleh warna-warna alam yang sangat indah.

Tahukah kau bunga apa yang aku sukai? Lili? Tebakanmu salah. Meskipun diberi nama Liliana tetapi bunga yang aku sukai adalah bunga matahari. Saking sukanya dengan bunga matahari, aku pernah merengek pada ke dua orang tuaku agar namaku diganti menjadi Matahari Putri. Dan rengekanku tersebut ditolak mentah-mentah.

Aku akan bercerita sedikit mengapa aku sangat menyukai bunga matahari. Semua ini karena dongeng yang diceritakan oleh nenek. Dongeng tentang gadis bunga matahari yang sangat mempesona. Gadis bunga matahari hidup bersama bunga-bunga matahari karena tugasnya adalah menjaga agar bunga-bunga tersebut mekar dengan baik. Tubuhnya mungil selayaknya peri. Ia memiliki sayap berwarna kuning cemerlang. Meskipun begitu, gadis bunga matahari sangat kuat. Ia kokoh seperti kelopak-kelopak bunga matahari yang mekar. Walaupun tugasnya sangat banyak, gadis bunga matahari tidak pernah mengeluh. Ia selalu menebar keceriaan oleh karena itu setiap melihat bunga matahari kau akan merasakan perasaan bahagia dan ceria. Benar-benar gadis pujaan.

Umurku sekitar lima tahun ketika mendengar dongeng tersebut. Mataku berbinar sangat cerah saat nenek menunjukkan gambar gadis bunga matahari. Pada saat itu, aku dengan polosnya mulai giat mencari sosok gadis bunga matahari. Sembunyi diantara deretan bunga matahari yang tingginya melebih tubuhku. Membuat ke dua orang tuaku kebingungan mencari sosokku.

Aku baru saja merayakan ulang tahunku yang ke dua puluh lima. Aku tahu gadis bunga matahari yang diceritakan nenek tidaklah nyata. Mana mungkin ada peri di ladang bunga. Tapi aku tetap ingin menjadi gadis bunga matahari yang selalu mempesona. Dan ritual kabur ke ladang bunga masih tetap aku lakukan. Bukan untuk mencari gadis bunga matahari tetapi untuk bersembunyi. Sejenak menghirup udara di dunia khayal milikku.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 05 Juli 2014

PENARI


Spanduk besar terpampang di gedung pertunjukan kota. Nama Ambar bersanding dengan sebuah predikat penari berbakat abad ini. Banyak mata yang berdecak kagum melihat spanduk tersebut. Siapa yang tidak kenal Ambar? Beberapa bulan ini namanya mengisi seluruh pemberitaan negeri. Seorang gadis yang terlahir dengan keterbatasan yang bertransformasi menjadi penari hebat. Ambar bahkan disebut-sebut sebagai penari yang muncul hanya sekali dalam berjuta-juta tahun. Ambar mendobrak dinding yang selama ini memenjarakannya dari indahnya alunan musik dunia.

“Nona Ambar.”

Penanggungjawab pertunjukan memberi isyarat. Ia menulis sebuah kalimat ‘lima menit lagi pertunjukan dimulai’. Tangannya membentuk sebuah lingkaran, meminta jawaban pada Ambar. Ambar mengangguk dan ikut membulatkan jemarinya tanda mengerti.

Sebuah sepatu berukuran 27 yang tampak lusuh tertata rapi dipinggir meja rias. Ambar menatapnya dengan senyuman yang cerah. Sepatu itu yang membimbingnya menjadi Ambar yang sekarang. Pemberian dari seseorang yang amat berjasa.

Ketika itu Ambar berumur 7 tahun. Ia suka sekali bermain di sebuah rumah tua. Rumah itu memiliki sebuah piano lusuh yang ditinggalkan penghuninya. Sejak dulu Ambar penasaran dengan piano yang memiliki tuts aneh. Ambar sering melihat orang-orang ditelevisi memainkan benda besar itu. Ia tidak mengerti mengapa orang-orang itu sangat bahagia melakukan hal tersebut.

Suatu hari ketika ia kembali mengunjungi rumah tua, ia bertemu dengan seorang pria. Pria dengan punggung yang lebar tampak asyik memainkan piano. Pria itu menutup matanya dan tampak sangat menikmati apa yang sedang ia lakukan. Tanpa sadar Ambar pun ikut terhanyut dengan gerakan pria tersebut. Tangan dan kakinya bergerak secara spontan. Ambar menari untuk pertama kalinya tanpa tahu lagu apa yang sedang dimainkan oleh pria berpunggung lebar tadi.

“Kau penari yang hebat.”

Ambar membuka matanya. Ia terkejut melihat pria itu terus menatapnya sambil tersenyum. Ambar menggerakkan tangannya, berusaha mengatakan bahwa ia tidak ada niat mengganggu.

“Kau bisu?”

Ambar hanya terdiam.

“Kau bisu?” Pria itu mengulangi pertanyaannya perlahan-lahan.

Ambar mengangguk. Ia lalu menggerakkan tangannya ke arah telinga.

“Kau juga tidak bisa mendengar?”

Ambar mengangguk. Ia tidak merasa sakit hati ada orang yang bertanya seperti itu. Ia sudah terbiasa hidup dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih menyakitkan di panti asuhan.

“Tetapi kau bisa menari. Hebat.”

Pria itu berdiri dan bertepuk tangan. Ambar bingung. Ia tidak tahu mengapa pria dihadapannya tersenyum dan bertepuk tangan. Namun, ia merasakan sebuah kehangatan yang menjalar ke dalam hatinya. Rasanya sangat menyenangkan.

“Kau sangat istimewa.” Pria itu mengacak rambut Ambar.

Ambar tersenyum bahagia. Sejak saat itu Ambar semakin giat mengunjungi rumah tua. Ia selalu menantikan saat bertemu dengan pria berpunggung lebar. Pria itu mengajarinya memahami nada dan not balok. Mereka pun menari bersama-sama dengan riang. Ambar menemukan apa yang selama ini ia cari. Kebahagiaan. Dengan menari Ambar bisa merasakan hal yang membuatnya merasa dibutuhkan di dunia ini. Ia seperti hidup kembali dan melupakan kekurangannya yang selama ini menjadi bahan tertawaan.

“Kau akan menjadi penari hebat.” Pria tersebut selalu berkata seperti itu.

Ambar menjawabnya dengan sebuah anggukan yang keras. Iya, ia ingin menjadi penari yang hebat agar bisa membuat semua orang berhenti menertawakannya. Menutup mulut orang-orang yang tidak ingin mengadopsinya karena beralasan akan kerepotan mengurus anak kecil yang terlahir tidak sempurna.

Pria berpunggung lebar membuka jalan bagi Ambar untuk meraih dunia yang lebih luas. Lewat sepasang sepatu putih dan senyuman yang mengembang, pria itu mengantarkan Ambar mengikuti kompetisi pertamanya. Kompetisi yang membuat Ambar kembali ditertawai banyak orang.

“Tuli kayak gitu disuruh ikut lomba?”

“Ya ampun, pria satu ini tidak pernah kapok membawa orang aneh kesini.”

“Menyerah saja!”

Ambar tidak dapat mendengar tetapi ia paham ejekan-ejekan yang dilontarkan kepadanya. Ia semakin membulatkan tekad memenangkan kompetisi tersebut. Ia pun menari dengan sangat hebat. Pengunjung berdecak kagum. Tetapi hal itu tidak lantas membuatnya memenangkan kompetisi. Juri tidak bisa memenangkannya dengan alasan keterbatasan yang dimiliki Ambar. Ambar sudah siap menerima hal itu. Ia tahu untuk meraih dunia yang luas tidaklah mudah. Berbeda dengan pria berpunggung lebar. Ia marah besar pada juri. Ia bahkan membanting meja yang digunakan untuk berdiskusi. Untuk pertama kalinya Ambar melihat seseorang membelanya. Seketika itu air matanya menetes. Ia tidak sakit hati dilecehkan. Ia hanya merasa bahagia dan sedih melihat ada orang yang berjuang untuknya.

Ambar memeluk pria berpunggung lebar tanpa sadar. Ia menggelengkan kepalanya dengan keras. Dalam hatinya ia berteriak “sudah cukup Tuan. Sudah cukup.” Pria berpunggung lebar mengerti. Ia mengusap anak kepala Ambar dengan hangat.

Mereka pun pulang ke rumah tua sambil bergandengan tangan. Pengalaman menyakitkan hari itu adalah awal segalanya.

“Kau memiliki hati yang besar. Aku belajar banyak darimu hari ini. Ayo kita raih dunia yang luas untukmu.”

Ambar mengangguk.

Sepasang sepatu putih itu menjadi saksi perjuangannya. Solnya kini telah menipis. Warna putihnya berubah menjadi lusuh. Namun semangat Ambar tetap menyala. Apa yang tampak pada sepatu itu adalah ceminan perjuangan bertahun-tahun yang dilewati oleh Ambar.

Sekali lagi Ambar tersenyum. Hari ini adalah pertunjukan keseratusnya. Pertunjukan emas yang ia persembahkan untuk pria berpunggung lebar. Pertunjukan bertajuk ‘Perjalanan Sepasang Sepatu Putih’.




- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 14 Juni 2014

LARI


Angin memainkan dedaunan kering yang berserakan di taman. Sehelai daun dengan lihai melesat masuk ke dalam kamar dan berhenti pada buku catatanku. Suara tawa anak-anak pecah di bawah sana. Orang tua tampak sibuk berteriak tentang jangan begini dan begitu. Tapi, namanya juga anak kecil mereka hanya terdiam beberapa detik dan kembali lagi tertawa-tawa. Tanpa sadar senyumku pun mengembang. Aku juga ingin bermain seperti itu. Berlari menyusuri taman, melempar ranting, daun, atau apa saja yang bisa ku raih.

“Tentu saja masa itu sudah lewat”

Aku hanya bisa menatap ke dua kakiku yang hilang entah kemana. Tiga bulan yang lalu dokter memutuskan untuk mengamputasinya. Menurut pemeriksaan hal itu merupakan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diriku. Oh tentu saja. Kaki yang membusuk selama hampir setahun. Aku tahu cepat atau lambat hal itu akan terjadi.

Suara langkah kaki menaiki tangga membuatku siaga. Segera ku arahkan kursi roda menuju tempat tidur, mendorong diriku sendiri hingga terhempas di atas kasur, menarik selimut, dan berpura-pura tidur.

“Kau masih tidur atau hanya berpura-pura?”

Itu suara Ayah, orang yang pada akhirnya menjadi tempatku berbagi cerita.

“Sudahlah Talia, Ayah tahu kau hanya berpura-pura tidur.”

Ayah mendekatiku dan mulai mengeluarkan ‘jurus pamungkasnya’. Aku tidak dapat menahan tawa. Langsung bangkit dan kembali menyerang. Kami tertawa bahagia, saling melempar bantal.
Inilah keadaan rumahku sekarang, berbanding terbalik dengan yang dulu. Dulu penghuni rumah kami berjumlah lima orang. Ayah, Ibu, aku, dan dua kakakku. Cukup ramai jika dihitung, tetapi sepi jika dirasakan. Tidak pernah ada obrolan dan berkumpul bersama di ruang keluarga. Hanya tegur sapa biasa. Kami sekeluarga tetapi seperti orang yang tak saling kenal. Mengapa? Entahlah, yang aku tahu sejak aku dilahirkan hal ini sudah terjadi.

Menurut kakak pertamaku, ini semua karena posisi Ayah dan Ibu di kantor yang telah meningkat. Promosi yang luar biasa, ekonomi keluarga terangkat. Sudah pasti membuat sibuk Ayah dan Ibu. Jarang bertemu keluarga sendiri. Cuma member uang dan mengecek nilai kami setiap minggu. Ketika nilai kami bagus, maka tidak ada peringatan apapun. Tetapi ketika nilai kami menurun, maka les tambahan akan siap menanti. Menolak? Ah itu hal yang membuang tenaga. Pada akhirnya ke dua kakakku bertingkah selayaknya anak baik di rumah. Dan ketika berada di luar jangkauan keluarga, mereka akan bertindak semaunya. Aku tahu hal itu namun aku terlalu malas untuk mencampurinya. Yah, aturan lain keluarga kami-secara tidak tertulis. Jangan mengganggu urusan keluargamu ketika berada di lingkungan luar.

Itulah mengapa aku selalu iri dengan teman sebayaku yang diperhatikan sangat ketat oleh ke dua orang tuanya. Saling mengejek dan bertengkar, namun kemudian tertawa lagi. Aku juga ingin merasakannya. Aku selalu berharap akan ada kejadian besar yang membuat harapanku itu terkabul. Beberapa bulan kemudian, tragedi itu terjadi.

Ayah bekerja sebagai hakim dan Ibu sebagai pengacara publik. Waktu itu mereka sedang menangani sebuah kasus yang sangat berat. Kasus seseorang yang berkuasa di negeri ini. Suatu malam aku sempat mendengar Ibu menangis. Entah apa yang terjadi, yang jelas aku menangkap sekilas bahwa nyawa keluarga kami terancam.

“Andai saja kita masih hidup sebagai warga negara biasa, bukan penegak hukum atau semacamnya. Aku menyayangi anak-anakku meskipun . . .”

Ayah menutup pintu sebelum Ibu menyelesaikan kalimatnya.

Ke esokan harinya kakak pertamaku ditemukan tertembak. Ibu sangat histeris. Kakakku kabur dari rumah pada malam hari. Itu adalah kebiasaannya, bertemu teman-temannya di klub. Ibu dan Ayah tidak mengetahui hal tersebut dan menganggap anak-anaknya sudah terlelap di kamar.

“Tama,anakku!!!” Ibu kembali berteriak.

“INI SEMUA SALAH AYAH DAN IBU!”

Kakak ke duaku meledakkan amarahnya. Ia sangat dekat dengan kakak pertamaku, mereka selalu merencanakan hal-hal aneh bersama.

“Kalau saja Ayah dan Ibu lebih memperhatikan kami dan berhenti . . .”

“Tara . .” Ibu mencoba memeluk kakakku, “maafkan Ibu.”

Kakak keduaku menghempaskan pelukan Ibu dan berkata, “andai saja kata maaf itu bisa menghidupkan kak Tama.”

Suasana rumah menjadi semakin sepi, kali ini ditambah dengan duka yang mendalam. Entah kutukan apa yang terjadi. Siang harinya kami menemukan mayat kakak ke duaku di dalam kamar. Ia menggantung dirinya. Ibu semakin histeris dan merasa bersalah. Ibu berteriak tanpa henti dan melarang siapapun bahkan tim forensik serta dokter menyentuh mayat anaknya. Ibu kehilangan akal sehatnya.

Ayah mencoba menjauhkanku dari Ibu. Tidak ingin aku terluka oleh tingkah Ibu yang semakin aneh. Rasa bersalah dan kesedihan yang mendalam membuat Ibu sering berhalusinasi. Kadang Ibu memelukku erat dan memanggil namaku dengan penuh kasih sayang. Kemudian mendadak Ibu menjadi histeris dan mencoba mencekik leherku.

Puncaknya, Ibu membawaku kabur dari rumah. Saat itu, Ayah lalai memperhatikanku karena panggilan dari kantor. Ibu tertawa-tawa sambil menginjak gas sekuat tenaga. Aku yang masih berumur tujuh tahun hanya bisa menangis. Ibu menabrak apa saja yang menghalangi jalannya hingga pada akhirnya Ibu mencoba menabrak sebuah beton yang menjulang tinggi. Kami kecelakaan. Ibu pingsan namun tidak terluka parah. Sementara aku mendapati luka yang cukup serius. Ke dua kakiku kemudian mulai membusuk karena infeksi yang disebabkan kecelakaan itu.

“Talia? Anakku yang cantik masih di sana?” Ayah membuyarkan lamunanku.

“Eh, iya.” Jawabku sambil tersenyum.

Aku menatap garis wajah Ayah. Kerutan mulai tampak diwajahnya yang bersih. Aku tahu jauh di dalam hatinya, Ayah juga ingin berteriak seperti Ibu. Ayah juga pasti merasa bersalah bahkan mungkin lebih. Tetapi Ayah memutuskan untuk kuat dan mengubah semuanya dengan menjagaku dan Ibu. Dua permatanya yang berharga. Itulah kata Ayah ketika bertemu denganku di rumah sakit. Untuk pertama kalinya aku melihat Ayah menangis seraya memanggil namaku.

Kau tahu teman, dulu ketika keluargaku masih lengkap aku ingin sekali lari dari kenyataan. Aku ingin lari mencari keluarga yang lain, yang lebih hangat dan saling memperhatikan. Namun aku sadar aku tidak bisa melakukan hal itu.

Ketika keluargaku mulai hancur dengan kepergian kakak-kakakku. Aku juga ingin berlari. Sudah cukup rasa sepi yang selama ini aku rasakan, sesak dada ini mengetahui harus memikul beban kesedihan juga. Namun sekali lagi aku sadar bahwa aku tidak bisa melakukannya.

Sekarang, aku masih tetap ingin berlari. Tetapi berlari untuk meraih cahaya kebahagiaan. Membuat Ayahku tetap hidup dengan memiliki permatanya yang berharga. Dan berlari meraih jiwa Ibuku, mengembalikannya seperti sedia kala.

“Ayo kita tengok Ibu, Yah.”

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Minggu, 11 Mei 2014

KISAH KLASIK


Aku dibesarkan dengan dongeng-dongeng klasik yang selalu diceritakan oleh Ibuku. Tentang para leluhur penjaga semesta yang luar biasa. Mereka bagaikan elemen yang selalu ada di dalam kehidupanmu, yang menciptakan siklus siang dan malam. Adalah keturunan Raja Langit yang sekarang entah dimana keberadaannya. Raja Langit memiliki empat puteri yang masing-masing diberi anugerah kekuatan menjaga siklus di dunia. Puteri pertama adalah Puteri Matahari. Ia bertugas membawa cahaya terang yang membuat setiap penghuni bumi bergerak cepat dan tangkas. Puteri ke dua adalah Puteri Bulan, yang bertugas membawa ketenangan dan membuat setiap penghuni bumi merasa nyaman untuk beristirahat. Puteri Awan adalah Puteri ke tiga. Ia bertugas meredam keceriaan Puteri Matahari yang berlebih. Menaungi setiap makhluk bumi dengan keteduhan dan angin sepoi-sepoi. Sementara Puteri bungsu Raja Langit adalah Puteri Bintang. Puteri paling cantik yang bertugas menghiasi gelapnya malam. Membawa cahaya yang indah ketika Puteri Bulan terlalu lelah bersinar.

Di sela tugas yang padat, ketiga puteri tersebut sering mengunjungi bumi. Bahkan ada beberapa bagian dongeng yang mengatakan bahwa mereka menikah dengan ksatria tangkas dari bumi. Dongeng ini memiliki akhir yang kurang menyenangkan. Dikisahkan bahwa ke empat saudara itu bertengkar karena perbuatan Puteri Bintang. Entahlah, ketika aku bertanya hal ini pada Ibu, Ibu menolak menceritakannya lebih detail.

Ibu adalah pendongeng yang baik. Beliau dengan lihai mendeskripsikan tentang wujud setiap tokoh. Dan anehnya aku merasa mengenal setiap tokoh itu. Aku selalu merasa setiap orang yang ada di dalam hidupku adalah karakter dongeng tersebut. Seperti kakek Wisnu yang sangat mirip dengan deskripsi Raja Langit. Ibu yang sangat mirip dengan Puteri Bulan. Aku suka tersenyum sendiri ketika menyadari hal itu. Apa mungkin karena Ibuku yang sangat pandai bercerita atau dongeng tersebut adalah kisah leluhurku? Entahlah. Sejak umur lima tahun aku tidak terlalu peduli akan hal itu hingga ulang tahunku yang ke tujuh belas.

Waktu itu semua anggota keluarga berkumpul. Mulai dari tua dan muda, om, tante, hingga cicit. Ini adalah tradisi keluarga kami. Berhubung aku adalah cucu kesayangan kakek, maka setiap anggota keluarga diwajibkan berkumpul. Sejak pagi bel rumah tidak berhenti berbunyi. Setiap anggota keluarga sibuk membantu seperti akan ada pesta pernikahan.

Malam itu Ibu memakai gaun yang sangat indah. Gaun berwarna putih dengan renda-renda kuning muda. Ibu juga memakai kalung yang menarik perhatianku. Sebuah kalung berbentuk bulan sabit yang terlihat sangat outstanding. Tante Candra dan Sawitri pun menggunakan kalung senada, hanya dengan bentuk yang berbeda yaitu bentuk awan dan matahari. Sejenak aku tertegun, teringat dongeng yang selalu diceritakan Ibu.

“Kenapa perempuan ini datang?”

Bisik-bisik mulai terdengar. Khayalanku mulai terganggu dengan bisik-bisik tersebut. Mataku kemudian tertuju pada sosok seorang wanita yang tampaknya tidak jauh berbeda dari Ibu, tante Candra, dan tante Sawitri.Wanita itu mengenakan gaun putih bersih dan dilehernya tersemat sebuah kalung berbentuk bintang. Kakek Wisnu menyapa ramah wanita itu dan mengajaknya masuk. Beberapa menit kemudian kakek, ibu, tante Candra, tante Sawitri, dan wanita itu terlibat percakapan serius di ruang atas. Aku mengendap-endap, mencoba mencuri dengar karena penasaran.

“Puteri Bintangku sudah kembali.”

Suara Kakek Wisnu terdengar jelas olehku.

“Ayah yang mengundangnya? Setelah kekacauan yang dia buat di langit kita?”

Itu suara tante Candra.

“Sudahlah kak, toh kita butuh penjelasan tentang hal yang dulu terjadi . . .”

Suara Ibu menggantung begitu saja.

“Kau terlalu baik padanya. Ingat, dia mencoba mencuri semua sinarmu. Mengambil apa yang menjadi tugasmu dan merebut posisimu sebagai puteri bulan. Bahkan hampir saja merebut tunanganmu.”

Aku tertegun. Sebentar, apa yang baru saja aku dengar sama persis dengan dongeng yang dikisahkan oleh Ibu. Puteri Bintang yang selalu iri pada kakak-kakaknya mencoba melakukan kecurangan dengan menghancurkan reputasi Puteri Bulan.

Aku hampir limbung mendengar fakta yang baru saja aku dapat. Apakah dongeng itu nyata?

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 11 Februari 2014

PERGURUAN GANESHA : BUYAN SI ANAK BAMBU




Di belakang perguruan Pak Ganesha terdapat sebuah ladang bambu. Bambu tersebut tumbuh sangat subur. Buyan adalah murid yang dipercaya Pak Ganesha merawat bambu-bambu itu hingga ia dijuluki si anak bambu.

Setiap pagi Buyan akan berkunjung ke ladang bambu, memperhatikan serta menyiangi rumput yang berada disekitar bambu. Tidak jarang Buyan membawa beberapa bilah bambu untuk digunakan diperguruan atau rebung dari bambu untuk dimasak oleh Bi Lastri.

Buyan selalu sumringah ketika melihat bambu-bambu tersebut. Membuat beberapa temannya bertanya-tanya.

“Kalian tahu, banyak hal yang bisa kita pelajari dari bambu. Yang pertama dari siklus hidupnya. Empat tahun pertama ditanam, akar-akarnya akan tumbuh subur dan kokoh di bawah tanah. Pada tahun berikutnya barulah batang bambu yang akan menjulang ke langit. Intinya adalah untuk melakukan sesuatu yang luar biasa, kokohkanlah niat sebagai pondasi.” Jelas Buyan mantab mengikuti gaya Pak Ganesha.

“Pelajaran berikutnya adalah bambu merupakan tanaman yang hebat karena bisa ditemukan di daerah mana saja.”

“Nah kalau yang ini aku tahu nih. Intinya kita harus hidup dimana saja kan?”

Safar dan Indah menyoraki Abu yang memotong begitu saja penjelasan Buyan. Buyan hanya tersenyum membiarkan.

“Buyan belum selesai bercerita sudah dipotong begitu saja. Harusnya kau ingat pelajaran yang dikasih Pak Ganesha, jangan mengambil kesimpulan sebelum selesai menyimak dengan baik.” Gerutu Indah.

Buyan sekali lagi tersenyum kemudian menlanjutkan,”benar kata Indah. Yang ingin aku sampaikan adalah bambu bisa hidup dimana saja karena tergolong ke dalam jenis rumput-rumputan. Jangan dipotong dulu Abu. Kalau kau tidak percaya coba cek dibuku sainsmu.”

Safar dan Indah tertawa melihat Abu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Bambu memang unik, jenis rumput yang tidak lazim. Meskipun bisa hidup di daerah mana saja tetapi bentuk dan klasifikasinya sama. Intinya adalah tidak peduli darimanapun kita datang, asalkan kita memiliki karakter yang unik kita pasti akan menjadi orang yang mudah diingat.”

Safar, Indah, dan Abu mengangguk sepakat.

“Pelajaran yang bisa diambil dari bambu selanjutnya adalah bambu memiliki banyak kegunaan. Intinya adalah kita harus hidup sebagai manusia yang berguna.” Jelas Buyan.

“Kalau yang ini aku sangat setuju. Jadi, biarkan aku menjadi sangat berguna dengan membawa rebung ini ke Bi Lastri.”

Abu merampas rebung yang dipegang Indah dan Safar sambil berlari ke arah perguruan. Safar dan Indah yang kaget segera mengejar Abu. Buyan hanya bisa tertawa melihat tingkah ketiga temannya itu.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

PERGURUAN GANESHA : PIRING ARIMBI (VERSI CERPEN)





Gadis berkuncir dua ini bernama Arimbi. Ia tinggal di sebuah rumah mungil bersama sang Ayah. Ada satu sifat Arimbi yang tidak disukai sang Ayah. Arimbi sering mengulang kesalahan yang pernah ia perbuat. Arimbi seperti tidak benar-benar menyesal ketika menyatakan permintaan maaf.

Suatu hari, Arimbi diperkenalkan kepada seorang guru tua bernama Pak Ganesha. Sang Ayah sudah mendengar banyak hal tentang perguruan yang didirikan Pak Ganesha. Metode pembelajaran yang berbeda dari biasanya tidak hanya membuat murid lulusan perguruan ganesha menjadi pintar secara akademik, tetapi juga pintar bertingkah laku dengan baik. Sang Ayah berharap agar sifat buruk Arimbi bisa berubah dengan belajar di perguruan Pak Ganesha.

Hari pertama belajar di perguruan, Arimbi diminta memecahkan setumpuk piring. Arimbi bisa melakukannya dalam waktu yang singkat. Setelah itu, Pak Ganesha memintanya untuk memperbaiki piring-piring tersebut dengan menggunakan sebuah lem. Arimbi kembali menuruti perintah tersebut. Ternyata memperbaiki piring yang telah pecah tidak semudah ketika memecahkannya.

“Lihatlah intinya.” Kata Pak Ganesha.

Arimbi hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Berulang kali dia membolak-balik piring, mencoba mencari tahu apa yang dimaksud Pak Ganesha. Tapi tetap saja dia tidak mengerti.

Sebulan kini telah berlalu. Arimbi masih diminta melakukan hal sama yaitu memecahkan dan memperbaiki piring. Arimbi mulai bosan dengan hal tersebut. Dia selalu menghela napas. Pak Ganesha yang melihat hal tersebut bertanya pada Arimbi apa dia sudah menemukan inti melakukan hal tersebut? Arimbi kembali menggeleng.

Pak Ganesha mendekati Arimbi, memandang piring yang meninggalkan jejak retak.

“Muridku Arimbi, inti dari semua ini sama dengan perilakumu selama ini. Melakukan kesalahan tidak semudah meminta maaf. Namun, dengan meminta maaf maka kesalahan yang telah diperbuat setidaknya bisa diperbaiki. Sama halnya dengan merekatkan piring yang telah pecah. Tetapi, jika kata maaf tidak disertai dengan penyesalan yang tulus maka permintaan maaf itu tidak akan ada artinya. Seperti piring-piring yang telah diperbaiki dan kembali pecah. Tidak dapat digunakan lagi, hanya dapat melukai orang yang menyentuhnya.”

Arimbi tertunduk. Ia mengerti apa yang dikatakan Pak Ganesha.

“Muridku Arimbi. Kau bisan melakukan ini semua bukan? Sama halnya dengan mereka yang melihat perilakumu.”

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 01 Februari 2014

PANTAS


Pertemuan pertama kami bisa dibilang sangat memalukan. Aku menuduhnya sebagai penyusup di rumahnya sendiri. Saat itu umur kami sekitar 6 tahun. Ibuku bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumahnya. Wajahnya yang kebingungan mendengar teriakanku masih membekas hingga saat ini. Namanya adalah Adis. Putri pengusaha ternama di kotaku. Adis adalah gadis yang mempesona. Perangainya yang berkilau tampak serasi membalut fisiknya yang indah. Tanpa sadar aku jatuh hati. Aku menghabiskan hampir sebagian besar masa kecilku dengannya. Kami selalu bersama apalagi ke dua orang tuanya dengan baik hati menyekolahkanku di tempat Adis bersekolah.

Aku selalu berusaha untuk membuat posisiku sejajar dengan Adis. Aku berusaha mendapatkan nilai yang bagus. Sembunyi-sembunyi mempelajari berbagai macam hal yang Adis pelajari. Sudah menjadi kebiasaan bahwa putri seorang pengusaha harus menghabiskan waktu untuk kursus ini dan itu. Pernah sekali Adis mengajakku mengikutinya masuk ke kelas kursus, ketika saat itu pula aku sadar perbedaan lingkungan kami. Beberapa kumpulan anak tampak sibuk dengan berbagai macam benda elektronik yang sama sekali belum pernah ku sentuh. Sejak saat itu aku berjanji pada diriku sendiri agar suatu hari kelak bisa mandiri, punya usaha sendiri dan membuat posisiku sejajar dengan mereka.

Akhirnya ketika berumur 21, aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah di kota lain. Ibuku yang sudah tua pun berhenti bekerja. Perpisahan pertama kami. Aku ingat sekali wajah Adis yang sendu. Jemari kecilnya mencoba menahan tanganku. Aku harus kuat. Aku ingin memantaskan diri.
Tahun pun terus berganti, komunikasi yang aku jalin dengan Adis terputus tepat disaat aku menerima beasiswa keluar negeri. Cobaan berikutnya, tetapi sekali lagi aku berusaha kuat.

Tahun pun berganti tanpa terasa.

Hari ini adalah pertemuan pertama kami setelah perpisahan yang sangat panjang. Adis tumbuh menjadi gadis yang lebih mempesona. Kami janjian bertemu di café yang tak jauh dari kantorku. Akhirnya aku bisa menunjukkan ini semua padanya. Statusku sudah sejajar dengannya. Aku bercerita panjang lebar tentang perusahaan yang aku pegang saat ini. Adis mendengarkan dengan baik.

“Mungkin . . . .” perkataanku mulai tersendat, aku sudah menantikan momen ini sejak tadi.

Adis menghentikan suapan spaghetti.

“Mungkin ini saat em . . . maksudku . . . aku sudah berusaha sebaik mungkin agar sejajar denganmu. Aku . . . mencoba memantaskan diri. Aku yang sekarang . . . apa kamu . . . apa Adis mau menerima ini?”

Tanganku gemetar mengeluarkan box berisi cincin emas putih. Aku tidak berani menatap Adis.

Satu detik

Dua detik

Adis tertawa. Aku mengangkat wajah.

“Selama ini . . . .” Adis sedikit menghela napas, “aku juga berusaha memantaskan diriku. Adis si putri istana. Kadang aku merasa benci mendengar hal itu. Kau tahu Ram, aku berusaha memasak, mencuci, bahkan melakukan semuanya agar bisa hidup bersama denganmu. Kepergianmu lah yangmembuatku sadar.”

Aku terkejut mendengar hal itu.

Adis tersenyum cantik sekali lalu berkata, “aku menerimanya.”

"Ketika proses memantapkan diri telah siap, tahap selanjutnya adalah keberanian untuk melangkah maju apa pun jawabannya."

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Minggu, 29 Desember 2013

KUCING KEBERUNTUNGAN


Halo, namaku kucing keberuntungan. Aku adalah pajangan bundar gendut  yang suka menggerak-gerakkan satu tangan memanggil orang-orang untuk mampir. Menurut kepercayaan beberapa orang, memajang badan tambunku di atas etalase toko akan mendatangkan rejeki yang melimpah. Entah benar atau tidak, kenyataannya adalah sepuluh tahun yang lalu seorang pria berkulit putih dan pendek membeli dan menempatkanku di toko miliknya. Sebuah toko kue tempat berbagai macam orang datang. Mulai dari anak kecil yang iseng mencomot krim kue, remaja tanggung yang suka duduk ngerumpi di sudut-sudut meja, atau ibu-ibu arisan yang heboh memamerkan perhiasan mereka. Dunia manusia yang luar biasa.

Kring!

Nah ini dia, si gadis misterius yang sejak tiga hari lalu mencuri perhatianku. Namanya adalah Laras. Beberapa orang di tempat ini melihatnya dengan heran. Ya, itulah yang aku rasakan ketika pertama kali melihatnya. Sebuah kaos belel dipadu dengan dengan shaggy pantalon serta coat panjang yang kumal menutup tubuhnya yang kurus. Belum lagi ditambah dengan topi rap cap yang hampir menutup sebagian besar wajahnya. Sempurna sudah tampilannya sebagai manusia aneh. Gayanya seperti seseorang yang ditelan tumpukan pakaian raksasa.

Kunjungan pertamanya di toko membuat hampir sebagian besar petugas toko kue berbisik-bisik.

“Orang kayak gini pasti cuma lihat-lihat aja. Gak bakal bisa beli kue.”

“Dia gak punya baju lain apa? Seragam kita aja masih lebih bagus.”

Bla bla bla.

Terlalu membosankan untuk didengar lebih lanjut.

Dibalik itu semua, Laras si manusia dengan pakaian bertumpuk memiliki tatapan mata yang sangat indah. Seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan. Melihatnya masuk ke dalam toko membuat imajinasiku berputar. Diimajiku berkelebat sosoknya dalam peran kehidupan yang berbeda-beda. Kadang Laras berubah menjadi seorang gadis bangsawan yang lari dari kehidupan nyamannya, agen rahasia, atau pemilik toko kue yang sedang menyamar. Ah, entah mana yang benar tapi aku sangat menikmatinya.

Hari ini dia datang dengan tergesa-gesa. Ada cipratan lumpur diantara ujung-ujung coat kumalnya. Padahal sejak pagi tadi kota ini tidak diguyur hujan, mana mungkin bisa ada kubangan lumpur yang tercipta? Apa mungkin dia habis menjelajah kota seberang? Aku mulai berasumsi dengan imajiku lagi. Senyumku mulai mengembang, meski mungkin tidak ada yang memperhatikan. Eh tapi tunggu dulu.

“Mama, kucingnya hidup.”

“Iya nak, iya.”

Si Ibu yang sedang sibuk dengan smartphone-nya seperti tidak terlalu peduli. Syukurlah. Sudut mataku kembali melirik Laras yang sekarang sedang duduk mencoret sketchbook polkadot miliknya. Apa yang kali ini dia gambar? Penasaran sekali rasanya. Pikiranku mulai melayangkan banyak ilusi khayalan. Saking penasarannya, tanpa sadar tubuhku bergeser begitu jauh dari atas etalase toko hingga hampir terjatuh. Tatapan Laras yang membuatku sadar akan hal itu. Manik matanya yang sejak tadi lurus ke arah sketchbook mendadak bertemu dengan mataku. Apa mungkin dia sadar kalau aku memperhatikannya? Ah, itu tidak mungkin. Lihatlah kini Laras kembali sibuk dengan coretan-coretannya. Tidak mungkin Laras memperhatikanku yang tersembunyi. Tersembunyi? Yup, sejak lima tahun lalu penerus toko kue ini memutuskan untuk tidak lagi mempercayaiku hingga menyembunyikanku di atas etalase toko yang tidak terlihat.

Tapi sudahlah sekarang kembali lagi ke Laras. Hey, kemana dia? Ah, sekarang dia berjalan ke arahku. Sebaiknya aku mematung dan berakting sebaik mungkin.

“Kamu kesepian sepertiku? Kamu penasaran sepertiku? Sama. Namaku Laras, salam kenal kucing keberuntungan.”

Aku tidak percaya apa yang baru saja aku dengar. Ingin rasanya berbalik dan menjawab pertanyaan Laras namun takdir langit tidak memperbolehkan. Aku hanya bisa mengerling dalam senang.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 28 Desember 2013

ILMUWAN GILA


Sepagi ini wajahku sudah muram. Bagaimana tidak, Ayah membuat seluruh rumah penuh dengan bulu-bulu coklat dari tubuhnya. Ya, Ayahku memiliki bulu coklat diseluruh tubuhnya layaknya serigala. Tidak. Tidak. Ayahku bukan manusia serigala seperti yang diceritakan buku-buku. Ayahku adalah seorang ilmuwan aneh yang suka sekali menjadikan dirinya sendiri sebagai bahan percobaan. Aku tidak tahu apa yang ingin Ayah coba sehingga tubuhnya berubah menjadi aneh seperti itu. Aku sudah tidak peduli lagi.

“Tidak sarapan dulu?”

Aku hanya menggeleng. Bagaimana bisa aku sarapan dengan bulu-bulu yang berserakan di meja makan? Seringkali aku berharap Ayah akan berubah menjadi Ayah pada umumnya. Bekerja di kantor pemerintah, mengantarkanku pergi sekolah, dan bisa menemaniku libur akhir pekan. Tidak tahukah Ayah bahwa aku kesepian sejak Ibu meninggal?

“Kusut banget sih mukamu.” Cita menepuk punggungku.

“Mau bagaimana lagi . . .”

“Pasti Ayahmu.” Belum sempat aku melanjutkan Cita sudah menebaknya dengan sempurna.

Cita adalah sahabatku yang luar biasa. Dia adalah tempat curhat nomor satu. Dulu disaat sebagian besar teman kelas menjauhiku karena pekerjaan Ayah yang dijuluki ‘ilmuwan gila’, Cita memilih mendekatiku. Dia juga selalu berkata bahwa Ayahku pasti punya alasan mengapa melakukan itu semua. Tapi aku, seperti biasa tidak menaruh perhatian terhadap ceramah Cita.

“Makan siang sudah ada di meja, makan dulu. Ayah mau pergi sebentar, ada urusan.” Ayah membuyarkan lamunanku yang sudah terbang ke sana kemari. Jika Ayah berkata ada urusan maka Ayah tidak akan pulang hingga malam menjelang. Waktu yang cukup bagiku untuk membersihkan sudut rumah yang penuh dengan bulu.

Sigap, setelah makan siang beres aku mulai kegiatan bersih-bersih. Ketika jingga fajar terbenam kegiatan tersebut baru selesai. Luar biasa. Aku memilih merebahkan tubuh disofa, kemudian teringat sebuah buku yang tidak sengaja aku temukan ketika membersihkan lorong menuju laboratorium Ayah. Buku itu terlihat usang dengan ujung yang berlipat-lipat. Aku membuka lembar demi lembar. Beberapa rumus tampak berhamburan di kertas-kertas menguning. Ah, ini pasti buku yang berisi penelitian milik Ayah. Aku memilih tidak peduli sebelum akhirnya mataku melihat sesuatu yang mencuat. Itu adalah fotoku yang tersenyum ketika berada di depan petshop.

Aku ingat hari itu adalah hari dimana aku meminta dibelikan kucing berbulu coklat yang tambun. Dan di hari itu juga akhirnya aku menyerah untuk memelihara kucing. Ternyata aku alergi terhadap bulu kucing, hewan yang sangat aku sukai. Seharian itu pula aku tidak ingin beranjak dari petshop dan membuat Ayah serta Ibu pusing.

Kenapa Ayah menyimpan foto ini? Di kertas tempat buku itu tertambat ada rumus-rumus aneh yang tetap saja tidak ku mengerti. Dibagian paling bawah rumus tersebut ada sebuah tulisan yang membuatku tertegun.

Misi : menciptakan makhluk berbulu untuk Ani agar tidak bersin-bersin.

Airmataku mengalir. Jadi, ini alasan mengapa tubuh Ayah menjadi sangat berbulu? Dan hey sekarang aku sadar bulu-bulu Ayah tidak membuatku bersin.

“Ani.” Ayah sudah berdiri dihadapanku, aku tidak menyadarinya.

Ayah terkejut melihat ekspresiku dan buku yang aku pegang. Aku mengira akan dimarahi habis-habis namun ternyata Ayah hanya tersenyum.

“Ani sudah melihatnya?” Aku mengangguk.

“Banyak yang bilang itu adalah penelitian paling bodoh yang Ayah lakukan tapi menurut Ayah itu adalah penelitian paling menyenangkan. Kapan lagi penelitian Ayah bisa membuat puteri kesayangan Ayah bisa tersenyum? Ayah tahu Ani kesepian, Ayah mengerti tidak bisa menemani Ani. Jadi Ayah memilih untuk membawakanmu teman.”

Ayah mengangkat seekor kucing tambun. Refleks aku menjauh, takut bersin-bersin. Tapi Ayah berkata ‘tidak apa-apa’ sehingga aku mendekat. Dan Ayah benar, aku tidak bersin sama sekali.

“Penemuan Ayah akhirnya berhasil meskipun harus membuatmu murung beberapa bulan karena bulu-bulu itu.”

Aku tertawa dan memeluk Ayah. Cita benar Ayah pasti punya alasan melakukan itu semua. Dan sekarang aku peduli terhadap apapun yang dilakukan Ayah, sama seperti pedulinya Ayah terhadapku.

Percayalah bahwa keluarga adalah orang pertama yang selalu memikirkanmu. Oleh karena itu, jadilah orang pertama yang juga memikirkan ke dua orang tuamu.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Jumat, 27 Desember 2013

ALMIRA DAN IRENG



"Kepedulian yang tidak dilihat oleh mata"

Aku tidak mengerti apa itu waktu dan jam yang berdetak. Bagiku firasat sudah cukup. Firasat itulah yang membuatku tahu kapan Almira akan pulang dan kapan kita akan bermain bersama. Seperti hari ini ketika penghuni rumah tengah nyaman beristirahat siang, aku memilih duduk sigap di depan pintu. Tidak sabar menanti si gadis berambut emas berlari ke arahku dan menunjukkan senyum manisnya.

Saat seperti inilah yang sangat ku nanti. Bermain seharian dengannya dan mendengkur manja ketika mendengar ia bercerita. Hal ini jauh lebih membahagiakan dibanding mengejar bola bulu atau tikus-tikus nakal di atas loteng.

“Ireng!!”

Suara Almira membahana dari ujung pagar. Ia tersipu setelah berteriak begitu keras. Ada seorang laki-laki yang berdiri di sampingnya. Dari baju yang ia kenakan, laki-laki itu tampak seperti teman sekolah Almira. Mereka berjalan menghampiriku.

“Ini kucingku, namanya Ireng.”

Almira mengelus ujung kepalaku. Laki-laki itu tersenyum dan terlihat ingin ikut mengelus ujung kepalaku. Aku menggeleng lalu berjalan mengitari kaki Almira. Aku tidak ingin dielus oleh orang lain.

“Ireng, mainnya nanti saja ya. Aku mau ngerjain PR sama Brahma.”

Aku merengut dan duduk di atas bantal bulu. Mataku menatap sigap Almira dan laki-laki bernama Brahma itu. Mereka terlihat sangat akrab.

“Hey bung, harusnya aku yang saat ini bercanda akrab dengan Almira!” Ingin rasanya berteriak seperti itu.

Aku tidak suka Brahma. Lihat saja tingkahnya yang tidak sopan. Sekarang tangannya mulai genit menyentuh tangan Almira. Telingaku bergetar. Ujung-ujung kumisku mulai bergoyang ikut kesal.

RAWR!!

“IRENG!!!”

Almira menarikku kasar. Hey, aku melakukan itu demi kamu Almira.

“Aku pulang aja deh, kayaknya kucingmu gak suka aku di sini.”

Almira menatapku geram. Setelah Brahma pulang dengan tangan yang tercakar, Almira mulai memarahiku. Ia mengucapkan kalimat seperti ‘cinta pertama’ dan ‘jangan mengganggu’. Ah Almira, tindakanku tadi adalah untuk melindungimu dari kelakuan tidak sopan laki-laki bernama Brahma itu. Rasanya tidak tega melihat Almira hanya menjadi objek mainan. Aku tidak tahu darimana pemikiran itu berasal. Yang aku tahu, aku menyayangi Almira dan yang bisa aku lakukan untuknya adalah menjaganya dengan cakar-cakarku ini. Semoga suatu saat nanti Almira bisa mengerti.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 15 Oktober 2013

PENJAGA WAKTU


Suara jarum jam yang berdetak itu sungguh indah. Dentingnya bergema membentuk rima yang tenang dan pasti. Membuat dunia ini berada dalam zona yang tersusun rapi.  Waktu adalah segalanya. Dia akan berlari tanpa menunggumu. Hal tersebut membuatku kagum. Kecintaanku pada waktu dan jam membuatku dihidupkan kembali sebagai penjaga waktu.

Tugasku adalah menjaga waktu agar tidak melenceng. Terlambat atau cepat satu detik saja bisa mengganggu tatanan dunia. Entah sudah berapa lama aku mengurus perangkat waktu di dalam kastil. Mengawasi manusia yang sibuk di dunia mereka lewat setiap jam yang mereka gunakan.

Aku bisa melihat manusia mana yang menghargai jerih payahku. Mereka akan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Tidak ada satu detik pun yang terbuang percuma. Rasanya bahagia sekali melihat hal itu. Namun ada juga manusia yang seenaknya saja mempermainkan waktu. Menunda. Sengaja melakukan sesuatu tidak tepat waktu. Menumpuk pekerjaan dan mengganggu tatanan hidup. Merusak setiap detik.

Arisa. Dia adalah seorang manusia baik hati yang secara khusus kuperhatikan. Caranya memanfaatkan waktu dan merawat setiap jam di rumahnya membuatku kagum. Hidupnya tidak berjalan mulus. Setidaknya itulah yang dikatakan orang-orang. Aku tidak sepenuhnya percaya karena Arisa selalu terlihat bahagia. Tidak peduli seberapa berat jalan yang dia hadapi. Dia menghargai waktu. Dia kuat.

Aku suka setiap kali Arisa terbangun pada pukul 05.00 tepat, mandi dan merapikan diri. Dia akan pergi ke perpustakaan pukul 04.00 sore, setiap harinya. Dia memanfaatkan waktu dengan tepat. Banyak yang mencibirnya sebagai wanita yang kaku. Arisa hanya tersenyum.

Kini diusianya yang menginjak 50 tahun, Arisa tetap sama seperti Arisa yang aku kenal. Meskipun sering sakit-sakitan, dia tidak pernah membuang waktu dengan percuma. Tanpa sadar aku lebih memperhatikannya daripada menjaga waktu. Suatu malam yang tenang, Arisa mendadak melirik jam besar di kamarnya. Aku yang selalu menatapnya melalui jam besar itu tertegun. Arisa seperti mengetahui bahwa aku terus mengawasinya.

“Penjaga Waktu, terimakasih. Aku tahu kau selalu membantuku. Membangunku dengan alarm yang kencang setiap pagi. Mengingatkanku akan janji-janji yang mungkin terlupa melalui dering nyaringmu. Sepertinya hari ini adalah hari terakhir untukku. Aku akan merindukan semuanya. Waktuku telah habis.”
Mendengar hal itu tanpa sadar membuat tubuhku melangkah keluar dari jam besar. Memegang tangan Arisa yang telah dingin.

“Sama-sama Arisa. Terimakasih juga karena sangat menghargai waktu.”




- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Jumat, 27 September 2013

NECROMANCER



Jejak derasnya hujan semalam masih tampak jelas disepanjang jalan. Bau lembab menguap diudara. Hawa dingin yang berhembus sejak semalam membuat para penghuni kota enggan melangkahkan kaki mereka keluar rumah. Lebih nyaman berselimut tebal di dalam rumah sambil menikmati secangkir teh atau susu hangat. Namun hal itu tampak tidak berlaku bagi Levi. Tubuhnya yang ringkih terlihat terseok-seok menarik sebuah bungkusan besar. Ke dua telapak tangannya yang telah kapalan mulai membiru. Sesekali dia meniup ke dua telapak tangan tersebut, mencoba memberikan kehangatan. Ujung atap sebuah rumah tua mencuri perhatiannya. Langkah kakinya semakin dipercepat.

Rumah tua di pinggiran sungai tersebut tampak tidak terawat. Berbagai ilalang menutupi pagar karat yang berderit-derit ketika ditiup angin. Pintu kayu mahoninya terlihat rapuh dimakan oleh rayap. Wangi lembab dan bangkai tercium sangat kental dari dalam rumah.

“Kau datang juga.”

Seorang wanita seksi menepuk kepala Levi. Levi tersenyum – yang sebenarnya lebih tampak sebagai sebuah seringai.

“Aku membawakan sesuatu untuk Leona.”

Wanita seksi dihadapan Levi tersenyum melihat bungkusan. Dia memberi isyarat agar Levi mengikutinya ke ruang bawah tanah. Mereka berjalan beriringan, melewati sekat demi sekat ruangan yang meninggalkan cicitan tikus. Sungguh tempat yang sangat menjijikkan. Levi sempat pingsan ketika pertama kali berkunjung ke tempat ini. Penciumannya tidak kuat menghirup aroma campur aduk yang mengelilingi rumah ini.

Hari ini adalah kali ke sepuluh dia berkunjung. Penciumannya sudah mulai terlatih. Dia kini tidak peduli bau busuk yang masih menyengat dari dalam rumah atau hawa dingin yang menusuk kulit. Demi Leona.

Mereka mulai memasuki sebuah lorong yang lebih bersih. Pipa-pipa baja terlihat membeku di bawah lantai. Marmer putih berkilauan di kaki dan dinding. Lorong ini terlihat lebih modern dan bersih. Siapapun tidak akan yakin jika rumah bobrok tadi menyimpan sebuah lorong yang begitu mewah sebagai jalan menuju ruang bawah tanah.

Pintu besar dengan garis-garis lengkung aneh menyambut mereka. Sebuah symbol mencuat di tengah-tengah lengkungan tadi. Simbol yang membawa Levi ke tempat ini. Simbol yang menjadi pesan terakhir Leona.

“Kau harus bertemu Nadine ketika waktuku habis dan bawa aku menuju simbol abadi sehingga tidak akan ada yang dapat memisahkan kita.”

Setahun kata-kata itu bergema di dalam pikiran Levi. Kalimat tersebut dan sebuah coretan tangan Leona menjadi petunjuk bagi Levi untuk menemukan Nadine.

“Leona.”

Levi tak kuasa berlari memeluk sebuah tubuh membusuk di atas meja. Kerinduannya akan sosok manis itu menghalangi logikanya.

“Berhentilah menyentuhnya! Kau hanya akan merusak organnya!”

Nadine menarik kasar Levi. Levi berdiam diri menatap pantulan dirinya pada tetesan air di lantai. Wajahnya tampak sangat kusut. Ke dua matanya terlihat memiliki cekungan yang sangat dalam. Dia lelah.

“Kapan hal ini akan berakhir? Berapa lama lagi aku bisa melihat Leona?”

“Ambillah bungkusan tadi. Lakukan ritual secepat mungkin dan berhenti bertanya.”

Nadine bosan mendengar ocehan Levi yang sama sejak mereka pertama kali bertemu. Dia selalu berharap seandainya Leona menceritakan lebih detail bahwa hal yang mereka lakukan ini butuh waktu yang sangat lama.

Nadine mengenal Leona ketika perkumpulan mereka melakukan ritual pertama, memanggil jiwa ketua yang telah pergi. Mereka berdua menjadi sangat akrab dalam segi apapun, termasuk pemikiran yang bertentangan dengan perkumpulan.

“Kau! Masukan potongan itu ke dalam kuali! Berhentilah meratapi Leona!” teriak Nadine.

Levi tersentak kemudian memasukan potongan yang diminta Nadine. Isi kuali meletup-letup mengeluarkan asap dengan bau yang memusingkan kepala. Nadine mendekati Levi, tangan mereka bertaut satu sama lain. Nadine mulai mengucapkan kalimat-kalimat dalam bahasa yang tidak dapat di mengerti. Setelah dia selesai mengucapkan kalimat-kalimat tadi, Levi mulai menuangkan ramuan busuk ke tubuh Leona. Cairan kental berwarna hijau lumut mulai menutupi jasad Leona yang hampir membusuk.

“Apakah ini akan berhasil?” Levi kembali bertanya.

Nadine mengarahkan pandangannya pada Levi, kemudian mengarahkan telunjuknya pada kaki Leona yang kini tampak segar kembali.

“Ya. Ini baru permulaan.”

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..