Tampilkan postingan dengan label LOVELY DOVEY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LOVELY DOVEY. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Juli 2012

KIMI GA DAISUKI

Aku melihat kimy yang duduk disebelahku. Ya dia Kimy, dia bukanlah Freya. Ku pejamkan ke dua mataku, menarik nafas sedalam - dalamnya. Aroma summer fragnance menari - nari di indera ku.

"Freya, hope you not here with me" batinku.

"Yang kamu lihat dari dirinya adalah diriku" kata Kimy tiba - tiba.

Aku hanya tersenyum lalu memeluk Kimy dan berkata, "Kau benar, dan aku yakin yang selama ini ada dihatiku hanya kamu meskipun . ." kata – kata itu menggantung begitu saja.

Sebuah kenangan kembali menyeruak. Aku kembali mengingat masa - masa itu.

*

"Ichi, Ichi kun bangun !!! KENICHI HIROGANO BANGUN!!!!!" teriak Kimy.

Aku membuka mataku perlahan. Wajah Kimy terlihat sangat menakutkan. Bibirnya melengkung ke bawah dan matanya yang bulat melotot ke arahku.

"Nande?" tanyaku.

"NANDE MO NAI !!!" teriak Kimy seraya meninggalkanku dengan cepat.

Itulah Kimy, gadis tomboy yang selama setahun ini resmi menjadi pacarku. Aku menyukainya sejak pertama kali melihatnya saat upacara penerimaan siswa baru di SMP Togano. Dia terlihat sangat bersemangat dan berbeda. Saat semua gadis seusianya sibuk dengan penampilan masing - masing, Kimy dengan cueknya berdandan apa adanya. Aku masih ingat dengan jelas ketika semua gadis di kelasku ketakutan saat di jahili Takeshi dengan cacing mainan, Kimy dengan santainya mengambil cacing itu dan menggantinya dengan ular kecil yang kemudian sukses membuat Takeshi lari terbirit - birit. Kimy memang berbeda dan hingga sekarang itulah yang membuatku kagum padanya.

"Kimy, ada apa?" tanyaku setengah berlari mengejarnya.

"Kamu !!! Tau ah"

"Kimy, kamu marah ya karena aku ketiduran di dalam kelas? semalam aku membantu Ayah menjaga toko dan .."

"Ya ya ya, bukan karena itu Ichi - kun " Kimy memotong perkataanku dengan cepat.

Aku duduk disebelahnya dan memasang wajah bertanya.

"Kamu janji akan menyelesaikan masalah ini sebelum kita berpisah. Bulan depan kita udah berpisah" Wajah Kimy terlihat sendu.

"Ya" kataku datar, aku mengerti betul apa yang sedang dia bicarakan.

Kimy dan aku kini telah menjadi siswa SM, bulan depan adalah perayaan kelulusan kami. Kimy mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah disebuah universitas negeri ternama di London. Sementara aku hanya akan melanjutkan bisnis keluargaku. Inilah awal dari semua masalah itu. Orang tua Kimy dan orang tuaku tidak cocok satu sama lain. Jelaslah hubungan kami juga mendapat pertentangan yang luar biasa. Aku berjanji pada Kimy akan menyelesaikan masalah ini sebelum lulus karena kami berdua tidak ingin dipisahkan. Sungguh naif pemikiran itu.

"Jadi bagaimana?" tanya Kimy membuyarkan lamunanku.

"Aku tidak tahu. Ayah dan ibuku masih tidak setuju"

"Haaah” Kimy menghela napas panjang, “sepertinya memang tidak bisa"

Kimy menangis dan ini untuk kesekian kalinya aku melihatnya menangis karena salahku. Aku mengangkat wajahnya dan mengusap air matanya. Rasanya sedih melihatnya begitu terluka karena keegoisanku. Saat itu sempat terpikir betapa bodohnya aku. Dulu saat Kimy mengetahui hubungan ini tidak disetujui mengapa aku tetap ingin mempertahankannya? Sementara Kimy telah ikhlas merelakan semuanya berakhir. Aku ingin memutar waktu. Aku tidak ingin melihat Kimy menangis lagi karena aku sayang padanya.

"Maafkan aku" kataku lirih.

*

Hari ini Kimy berangkat ke London. Aku tidak bisa mengantarnya ke bandara karena aku tidak ingin membuatnya sedih. Alasan lain adalah karena Ayahku memintaku untuk tinggal di rumah menunggu klien kami. Aku tahu, Ayahku sengaja melakukan itu karena dia tidak ingin aku bertemu Kimy. Aku juga telah diberi peringatan oleh Ayah Kimy agar jangan mengantar Kimy ke bandara.

"Kamu hanya akan membuatnya terluka !! Om kecewa telah menyetujui hubungan kalian sementara keluargamu masih saja menganggap Kimy sampah !!!"

Aku hanya duduk terdiam di dalam kamar dan melihat foto Kimy yang tersenyum ceria. Dengan segera ku raih handphone ku dan mengetik sebuah pesan singkat.

Maafkan aku tapi mungkin semuanya harus berakhir. Aku tidak ingin membuatmu sedih. Mungkin ini yang terbaik. Kamu akan selalu ada di hatiku, hontouni gomen nasai.

Ku matikan handphoneku dan tertidur dengan perasaan sedih. Tapi  aku tahu inilah yang terbaik untuknya.

*

Setahun telah berlalu . . .

Hal terakhir yang Kimy katakan padaku setelah aku bersikeras meminta semuanya berakhir adalah " KENICHI BAKA !!!! AKU BENCI KAMU"

Sakit rasanya saat membaca pesan singkat itu tapi aku sadar, semua ini memang salahku. Aku berharap hal tersebut merupakan hal terakhir yang membuatnya meneteskan airmata.

"Ken, kamu kenapa?" suara lembut menyapaku.

"Gak. Bagaimana ujiannya?" tanyaku sambil tersenyum.

"Lancar kok. Tadi Profesor Shitaro memberikan pujian padaku karena lukisan ini"

Gadis itu menunjukkan lukisan seorang pria dengan banyak warna.

"Itu kan aku. Freya kamu ..." kataku kagum seraya mengambil lukisan tersebut.

"Aku ingin memberikannya padamu saat perayaan hari jadi kita yang pertama tapi ya sudahlah" Freya tersenyum simpul, wajahnya memerah menahan malu.

"Arigatou"

Dia adalah Freya Takishima. Seorang mahasiswi jurusan seni rupa yang kini menjadi kekasihku. Dia adalah seorang gadis yang ceria dan suka sekali menggambar. Aku menyukainya tetapi belum menyayanginya.

Setelah berpisah dengan Kimy, aku telah menjalin hubungan dengan beberapa orang gadis dan semua itu hanya bertahan sebentar. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku cari. Tetapi untuk gadis yang satu ini, aku mulai merasa nyaman.

"Bagaimana pekerjaanmu hari ini? Lancarkan?" tanya Freya.

"Iya. Semuanya lancar kok"

"Ken...ada yang ingin aku tanyakan"

"Ya ?"

"Siapa Kimy?"

Aku terdiam. Kenapa Freya menanyakan hal itu padaku?

"Dia mantan kekasihku. Kenapa?" kataku datar dan mencoba memasang ekspresi sewajar mungkin.

"Oh begitu, kemarin aku bertemu dengannya di depan rumahmu. Dia marah padaku karena tahu aku adalah kekasihmu"

Freya menatapku dengan tegar. Aku tahu dia merasa terluka. Tapi, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Pikiranku dipenuhi banyak pertanyaan. Kimy ada disini disaat aku mulai membuka hati untuk seorang gadis.

*

Kimy telah duduk di hadapanku. Dia terlihat lebih kurus dari sebelumnya namun dengan pesona yang lebih segar. Wajahnya tampak sangat manis dengan sedikit blush on berwarna peach. Kimy telah berubah dan harus ku akui bahwa aku semakin menyukainya.

"Selamat ya. Well, mungkin aku sedikit shock mendengarnya dan aku minta maaf telah mengganggu hubunganmu. Tapi, sekarang aku bisa menerima semuanya kok. Ini bukan salahmu" kata Kimy seraya tersenyum.

Jantungku bergetar saat melihatnya tersenyum. Aku ingin memeluknya dan meminta maaf. Aku ingin memiliki kimy sekali lagi.

"Its okay Kimy"

Suara Freya membuatku tersadar bahwa hal itu tidak mungkin.

Aku menoleh ke samping dan melihat Freya tersenyum ke arah Kimy dan seorang pria yang duduk di sebelahnya. Pria itu adalah James, kekasih baru Kimy.

Ya, semuanya tidak mungkin kembali seperti semula, hingga suatu hari . . .

"Aku masih menyayangimu" kata Kimy sambil menatap mataku.

Aku merasa semua ini hanya mimpi. Tetapi jika ini mimpi, aku berharap agar aku tidak akan terbangun lagi.

"Ta - tapi"

"Ssst"

Kimy menempelkan jarinya ke bibirku dan membuatku terdiam. Aku mengangguk dan memeluknya. Waktu dan dunia telah berubah tetapi perasaan ku padanya masih tetap sama.

*

Aku dan Kimy menjalani hubungan yang sungguh sangat terlarang. Aku masih memiliki Freya namun aku sama sekali tidak mencintainya. Aku mencintai Kimy meskipun dia telah bertunangan dengan James.

Aku selalu menemani Kimy disaat dia bersedih. Aku selalu ada untuknya seolah - olah dialah kekasihku. Aku tahu ini salah tetapi aku menikmatinya. Setidaknya aku masih bisa memeluk Kimy dan menenangkan hatinya.

Kimy memang benar, yang aku lihat pada diri Freya adalah Kimy. Mereka menyukai hal yang sama, penampilan pun hampir sama. Tetapi, orang yang ku cintai tetaplah Kimy. Aku tidak tahu sampai kapan aku akan terus bertahan pada situasi ini.

“Kimi ga daisuki”

END


 KOSAKATA :

Nande : Mengapa/Kenapa?
Nande mo nai : Tidak ada/Tidak mengapa/ Tidak apa - apa
Hontouni gomen nasai : hontou (sungguh) gomen nasai (maaf) - maaf banget
Baka : bodoh
Arigatou : Terimakasih
Kimi ga daisuki : aku menyukaimu





- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Kamis, 08 Desember 2011

4 O’CLOCK


"when time has profound meaning"

MAHASISWI

Cinta dan rasa sayang memang aneh. Perbedaannya tampak tipis, setipis rasa yang mungkin ada dihatinya. Sore hari, sekitar jam empat dia selalu duduk dibangku yang sama dengan buku sketsa serta laptop putih yang sama. Setiap sore disaat yang sama, aku selalu menatapnya dari balkon kampus. Aku mengaguminya seperti Narcissa mengagumi wajahnya sendiri. Rasa kagum itu berkembang dengan pesat hingga tanpa ku sadari rasa itu berubah menjadi cinta.

Aku hanya seorang mahasiswi biasa dari keluarga yang biasa. Selayaknya mahasiswi yang merantau ke pulau orang, aku harus bisa beradaptasi dan hidup dengan tepa selira. Aku harus berhemat agar bisa bertahan hidup. Meskipun ke dua orangtuaku pasti bisa memberikanku lebih dari apa yang aku minta. Aku tak peduli jika banyak mata dan ucapan yang mengejekku. Aku memang gadis biasa dengan penampilan biasa dan terkadang tidak mengerti dengan apa yang mereka ucapkan. Aku memang berasal dari kota kecil yang mungkin tak mereka ketahui. Tapi, aku juga ingin memiliki teman yang bisa berbagi. Aku tahu manusia tidak dapat memikul bebannya sendiri, dia harus berani berbicara dan berbagi dengan seseorang. Hal itulah yang membuatku mencoba mendekati beberapa kelompok mahasiswi dikelasku, namun sebagian dari mereka tampak enggan menerimaku dan perlahan aku pun merasa belum mendapatkan kecocokan dengan mereka.

Kelompok pertama, sebut sajalah sekelompok gadis barbie dengan pakaian yang bermerk serta dandanan yang “wah”. Saat aku mencoba menyapa mereka dan menanyakan materi yang baru disampaikan dosen, mereka tidak menghiraukanku. Aku diabaikan selayaknya patung.

“Kau dengar ada yang berbicara?” kata salah satu diantara mereka yang disambut dengan gelengan kepala. Sedih dan miris memang, sebuah kehadiran akan diterima bila kau memang dianggap “cukup”.

Disisi lain, aku mencoba mendekati beberapa gadis yang terlihat cerdas dan aktif dikampus. Mereka memang menerimaku namun entah mengapa aku merasa hanya bisa menjadikan mereka teman biasa, bukan sahabat untuk berbagi. Ketika berkumpul dengan mereka, aku hanya bisa terdiam dan mendengar mereka membahas hal yang sama sekali tidak aku mengerti. Dan sekali lagi, aku menjadi orang yang terbuang. Aku terbuang karena aku tidak bisa mengikuti alur yang mereka berikan.

Sejak saat itu aku tidak berani mendekati siapapun dikelas, termasuk dia. Dia yang bersinar dan berbeda. Dia yang selalu membuat sketsa di taman tiap sore pada jam yang sama. Dia yang selalu memenuhi ruang hati dan pikiranku. Dia yang ku pikir tak bisa ku rengkuh dan ku dekati. Hingga suatu hari, kesempatan itu datang.

Kita sekelompok”

Aku menatapnya yang tersenyum ramah. Tidak ada yang pernah tersenyum seperti itu padaku disini. Wajahku memanas dan tanganku pun bergetar. Inikah rasa cinta itu? Entahlah, yang jelas aku bahagia melihat senyuman yang dia beri padaku.

“Hallo???” dia melambaikan ke dua tangannya yang besar dihadapanku.

“Ah iya”

“Hmm, mau dikerjakan kapan? Aku bisa kapan saja kecuali jam empat sore”

“Ya, aku tahu”  aku tersenyum mendengar perkataannya.

Kau tahu?”

“Ah . . i-itu a-a-a- ku . . .”

“Kau pasti sering melihatku ditaman tiap jam empat sore”

Aku hanya bisa mengangguk, mungkin dia tak menyadari bahwa aku dengan sengaja melihatnya. Aku senang melihatnya mengerutkan dahi ketika membuat sketsa. Aku bisa menghabiskan waktuku berjam – jam hanya untuk menatapnya menorehkan garis dibuku sketsanya. Aku tak tahu apa yang disketsanya, yang jelas hal tersebut membuatnya bahagia.

Aku berharap dengan adanya tugas kelompok ini, aku bisa dekat dengannya. Saat ini, cukuplah bagiku untuk menjadi sahabatnya, ya untuk saat ini.


*


MAHASISWA

Aku melirik sekilas arlojiku, jarumnya yang runcing dan tidak simetris menunjukkan jam empat sore. Aku bergegas merapikan buku yang akan ku pinjam diperpustakaan. Aku tidak boleh melewatkan jam empat sore yang selalu membuatku tersenyum. Jam empat sore yang berharga, yang selalu mengingatkanku akan gadis berkuncir dua.

Gadis itu yang membuat semangatku selalu menyala. Setiap mengingat dirinya, tanpa kusadari aku akan tersenyum bahagia. Kemudian tangan serta jemariku akan bergerak membuat sebuah lekukan garis. Garis yang akan berkembang menjadi wajahnya. Entah berapa banyak sketsa yang ku buat untuk dirinya. Sketsa wajahnya yang tersenyum, menangis, merajuk, bahkan marah.

Aku tidak pernah diberi kesempatan untuk menunjukkan sketsa ini padanya karena kita berpisah begitu cepat. Dia cinta pertamaku sewaktu SD. Orang – orang menyebutnya hanya sebuah cinta monyet tapi bagiku, dialah cinta yang tidak bisa kulupakan begitu saja.

Aku berlari dan berpacu dengan detik yang semakin ganas menunjukkan jam empat sore. Langkahku semakin panjang hingga aku melihatnya berjalan diantara mahasiswa yang berkumpul di lobi. Aku bisa mengenalinya dengan jelas. Tubuh kecil yang ringkih serta rambut yang dikepang dua. Gadis penyemangatku yang telah dewasa. Langkahku terhenti seketika, aku menatapnya dengan tajam. Mencoba mengingat tiap inci wajahnya serta lekukan yang muncul saat dia berlari. Aku terus menatapnya hingga dia menghilang dibalik sudut menuju balkon.

Wajahnya hari ini adalah sketsaku hari ini. Aku tak menyangka akan mendengar namanya yang indah ketika dosen waliku mengabsen satu per satu mahasiswa di kelas. Dia tumbuh menjadi cantik meskipun beberapa orang menganggapnya kuper . Mereka tidak tahu bahwa dia memiliki rambut hitam yang berkilau, yang selalu tersembunyi dibalik pita dan kepangan rambut. Mereka tidak tahu bahwa dia memiliki manik mata yang teduh dan berwarna cokelat tua. Mereka tidak tahu bahwa dia memiliki suara yang indah, suara yang jarang ditunjukkannya.

Aku berharap diberi kesempatan untuk dekat dengannya dan bisa berbicara dengannya. Menatap wajahnya dari dekat dan mendengar suaranya yang halus. Dan perlahan tapi pasti, kesempatan itupun datang.

“Kita sekelompok” aku mencoba menyapanya setelah kegugupan menyergapku ketika aku mencoba merangkai kata yang pas untuk menyapanya. Dadaku bergemuruh dan tanganku bergetar. Suasana diantara kami hening. Aku takut dia menganggapku orang aneh karena menyapanya secara mendadak.

Aku tak suka keheningan ini karena kegugupanku akan semakin terlihat. Aku mencoba melambaikan tanganku dihadapan wajahnya. Semoga dia tidak menyadari getaran gugup pada tanganku.

“Hallo???”

“Ah iya”

“Hmm, mau dikerjakan kapan? Aku bisa kapan saja kecuali jam empat sore” kataku dengan nada yang dibuat tenang.

“Ya, aku tahu”  katanya sambil tersenyum. Senyuman yang sama seperti dulu.

Kau tahu?” tanyaku dengan nada senang yang tertahan.

“Ah . . i-itu a-a-a- ku . . .”

“Kau pasti sering melihatku ditaman tiap jam empat sore”

Entah mengapa mulutku memotong kata – kata yang ingin dia ucapkan. Aku terlalu bahagia hingga seperti ini. Aku bahagia karena bisa berbicara dengannya. Aku bahagia karena dia tahu kebiasaanku pada jam empat sore meskipun mungkin dia telah melupakan kejadian beberapa tahun silam pada jam yang sama.
Suatu hari nanti, aku berharap agar aku bisa menyatakan apa yang kusimpan selama beberapa tahun dan menunjukkan semua sketsaku padanya. Namun, keinginan terbesarku saat ini adalah cukup untuk menjadi sahabatnya, ya untuk saat ini.



- Regrads Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 11 Juni 2011

PAINTING ODE TO JOY


Prolog
Kaki kecil itu melangkah indah di jalan setapak. Sesekali kaki kecil itu terlihat melompat dengan riang seakan ingin menari. Sebuah senyum tersungging dari wajah seorang pria tua yang menggandeng tangannya gadis berkaki kecil itu.

“Cita – cita Mimi apa?” tanya pria tua itu.

Gadis berkaki kecil tersebut tersenyum dan mengangkat sebuah kanvas kecil ditangannya tinggi – tinggi.

“Mimi ingin seperti kakek”
***

“Deadlinenya besok, gimana ya?”

“Gak tau ah, bingung juga nih. Punyaku belum selesai apalagi guru kita yang satu itu perfeksionis banget”

Mimi hanya tersenyum memandang ke dua sahabatnya yang sibuk berdebat. Matanya kemudian tetuju ke arah jendela, seorang pria tampak sedang asyik bermain gitar di gedung sebelah. Seulas senyum merekah di bibir Mimi.

“Mimi, bantuin kita”

Mimi kemudian melihat ke arah kedua sahabatnya sambil tersenyum.

“Kalian, kebiasaan. Makanya kalau punya tugas, langsung dikerjain. Jangan ditumpuk seperti ini”

Mimi menarik kanvas yang dipegang Lisa, salah satu sahabatnya.

“Mulai dari Lisa aja deh, soalnya” Mimi menunjuk ke arah kanvas yang ditariknya lalu berkata lagi “sketsanya aja belum”

Lisa hanya memasang cengiran khasnya.

“Jangan bilang kamu belum tahu mau dilukisin apa?” kata Mimi lagi.

Cengiran Lisa semakin lebar. Mimi menghela napas panjang. Lisa menghampirinya dan berkata “Sesuka kamu aja Mi, tema dari guruku bebas kok. Nanti aku traktir makan deh”

“Mimi ditraktir makan?Mana mau dia”kata Kania, sahabat Mimi yang lain.

“Eh iya, ku traktir beli peralatan lukis yang terbaru dan paling bagus deh”

Mimi tersenyum dan mengangguk. Lisa lalu memeluknya dengan hangat dan berkata akan pergi sebentar bersama Kania untuk membelikan Mimi makanan karena bisa dipastikan Mimi akan begadang malam ini di sekolah mereka.

Setelah Lisa dan Kania pergi, Mimi terus memandang kanvas berukuran sedang yang masih tampak polos dihadapannya.

“Apa ya?” gumamnya.

Simponi ke 9 Beethoven mengalun indah dari gedung sebelah. Seketika itu pula, Mimi berdiri dan berjalan ke arah jendela. Pria yang tadi dilihatnya kini sedang asyik memainkan jemari lentiknya pada tubuh sebuah piano hitam.

“Ode to Joy lagi untuk hari ini” gumam Mimi.

Mimi menempelkan tangannya pada jendela dan menutup ke dua matanya, hal yang selalu dilakukannya bila mendengar simponi ke 9 itu mengalun.

Tepat saat lagu itu berhenti mengalun, Mimi membuka ke dua matanya dan berkata “I’ve got an idea”

***
Mimi membereskan meja nomor tujuh dengan segera meskipun belum ada satu pelanggan pun yang datang. Dia melihat ke arah jam yang terpasang di dinding restoran, berlari ke depan meja kasir, dan merapikan seragam waitressnya.

“Lima menit lagi dia datang” gumam Mimi.

Kring Kring Kring . . .

Lonceng di depan pintu restoran itu berbunyi. Mimi tersenyum melihat pria bersimponi 9 memasuki restoran. Namun, senyuman itu seketika lenyap saat dia melihat pria itu datang bersama seseorang yang dikenalnya.

“Lisa?” lirih Mimi.

“Mimi” sapa Lisa sambil melambaikan tangannya.

Mimi menghampiri mereka yang kini telah duduk di meja nomor tujuh.

“Aku pesan seperti biasa”kata Lisa

“Eh oh” Mimi tampak kaget dan kemudian mengeluarkan sebuah catatan dari sakunya.

“Oh ya, kenalin ini Dika” kata Lisa sambil menepuk bahu pria yang duduk disebelahnya.

Dika hanya melihat menu yang kini berada dihadapannya saat Mimi mengulurkan tangannya. Dengan sungkan Mimi menarik tangannya kembali. Melihat hal itu, Lisa dengan cepat mengalihkan pembicaraan.

“Mi, nanti aku jemput kamu habis kerja ya, aku mau . . .” Lisa menarik Mimi ke arahnya, kemudian berkata lirih “berterima kasih”.

***

Mimi tersenyum memandang plastik belanjaan yang terbungkus pasrah dihadapannya. Kanvas, Marie’s Oil Colour, dan kuas dari nomor terkecil hingga terbesar kini telah dia miliki.

“Makasih ya Mi” kata Lisa sambil membantu Mimi mengangkat belanjaannya dari meja kasir.

“Sama – sama Lis. Akhirnya punya peralatan lukis lagi” kata Mimi.

Lisa hanya tersenyum dan memandang Mimi dengan lekat.

“Kamu mau ngomong apa lagi?” tanya Mimi

“Eh, gak apa – apa. Lukisanmu kemarin dikasih poin tertinggi sama guruku”

“Wah, syukurlah. Tapi, tidak ketahuan kan kalau itu aku yang lukis?”

“Gak kok. Hmmm, siapa sih model dilukisan itu?”tanya Lisa.

“. . .”

“Mirip sama Dika”

“Eh iya gitu? Aku iseng aja loh padahal, tapi kok bisa mirip, heheheh”

Mimi mencoba menyembunyikan kegugupannya sambil meminum jus alpukat.

“Oh kirain aku memang Dika. Tapi, gak mungkin ya soalnya kamu kan gak kenal sama Dika”

Lisa lalu tersenyum dan melahap hamburger yang ada dihadapannya.

“Aku memang tidak mengenalnya tetapi aku mengetahui keberadaannya”batin Mimi

***

Teng Teng Teng . . .

Lonceng sekolah seni yang megah itu berdentang. Mimi berjalan perlahan diantara deretan bunga bakung yang terletak di belakang sekolah seni itu.

“Aman”lirihnya.

Dia melangkah dengan hati – hati ke sebuah ruangan yang mulai terlihat ramai. Semua peralatan melukis yang dibawanya dikeluarkan dengan berhati – hati. Lalu, Mimi mengintip ke arah ruang tersebut dan mulai mencatat semua yang didengarkannya.

De ja vu

Mimi kembali mengingat kejadian yang dialaminya dua tahun yang lalu. Sama seperti hari ini, dimana dia dalam diam mencuri dengar pelajaran yang diberikan oleh Pak Kato, seorang seniman jenius berdarah Jepang. Tepat saat itu pula, dua orang gadis manis memergokinya.

“Lisa dan Kania” lirih Mimi sambil melihat ke dua sahabatnya yang tersenyum dari dalam ruangan.

“Selamat pagi semua” kata Pak Kato dengan aksen yang aneh.

Jari – jarinya yang putih menekan sebuah remote hitam. Proyektor yang ada dihadapannya pun menyala dan menampilkan sebuah lukisan yang meliuk – liuk dengan kombinasi warna biru, putih, kuning, abu – abu, coklat, dan sedikit hijau muda, hasil dari campuran warna biru dan kuning.

“Ada yang tahu lukisan siapa ini?”

“Georgia O’Keefe” Lirih Mimi.

“I guess, tidak ada yang tahu. Hah, berapa banyak sih pelukis internasional yang kalian tahu?”

“Banyak Pak” celetuk seseorang.

“Sebutkan” kata Pak Kato

“Monet” teriak seorang anak yang duduk di barisan paling belakang

“Van Gogh”

“Da Vinci”

“Raden Saleh”

“Kok ada Raden Saleh?” kata seorang gadis manis yang duduk di deretan ke dua dari depan.

“Suka – suka aku dong” kata anak yang meneriaki nama Raden Saleh.

“Oke oke, semuanya benar. Apa ada diantara kalian yang mengetahui siapa pelukis dari lukisan indah ini?” kata Pak Kato.

“Jangankan pelukisnya, lukisannya aja gak ngerti. Lukisannya abstrak sih Pak,hehehe” celetuk Lisa

Seisi kelas pun tertawa, begitu juga Mimi. Pak Kato berdiri dari kursinya.

“Lisa, lukisan yang kamu bilang abstrak ini masuk ke dalam daftar lukisan terkenal sepanjang masa loh”

Pak Kato kemudian berjalan ke arah Lisa dan berkata “ Lukisan ini dibuat oleh Georgia O’Keefe. Dia menghabiskan waktunya selama berhari – hari di danau George dan menciptakan banyak karya. Lukisan ini adalah salah satu hasil karyanya selama berada di danau tersebut. Lukisan ini bukan hanya sekedar lukisan abstrak” Pak Kato mendekatkan wajahnya pada Lisa saat mengatakan hal tersebut.

Beberapa siswa tampak tersenyum melihat hal itu.

“Coba cermati dengan baik, lukisan ini menampilkan sebuah gelombang lembut dan riak danau George”

“Mana saya tahu Pak, saya kan belum pernah ke danau itu” kata Lisa kesal.

Seisi kelas pun kembali tertawa. Pak Kato hanya tersenyum lalu melanjutkan”Ada yang tahu, lukisan ini diberi nama apa?”

“From the Lake” teriak Mimi spontan.

“Benar sekali, siapa yang menjawab?”

Seisi kelas sunyi, Mimi duduk dibawah jendela sambil memukul kepalanya sendiri.

“Duh bego banget sih”

Tanpa diduga Lisa mengangkat tangannya. Pak Kato memasang wajah tidak percaya.

“Hanya menebak – nebak Pak” kata Lisa sambil tersenyum.

Istirahat . . . .

“Hampir saja ketahuan Mi” kata Kania.

Mimi hanya tersenyum dan melukis.

“Untung aja tadi si Lisa pura – pura gitu. Kalau gak, bisa gawat nih” sambung Kania.

“Terus sekarang Lisa kemana?” tanya Mimi.

“Gak tahu” kata Kania.

“Tumben gak tahu, aneh banget”

Kania hanya tertunduk dan menikmati bekal yang dibawanya.

“Maaf Mi” batinnya.

Ditempat lain, Lisa sedang asyik bercanda dengan seorang pria. Dia tampak sangat menikmati ketenarannya disekolah saat ini.

***

Untuk kesekian kalinya Lisa mendatangi Mimi dan meminta Mimi untuk mengerjakan tugas – tugasnya. Kanvas beserta kawan – kawannya kini terdiam melihat perdebatan Mimi dan Lisa.

“Pleaseeeeee” kata Lisa

“Bukan aku gak mau bantuin kamu Lis, tapi ini bukan untuk pertama kalinya kamu kayak gini. Kania aja gak gini banget” kata Mimi

“Maaf, aku ada urusan penting banget. Buatin aku lukisan lagi ya. Nanti aku beliin alat lukis lagi deh, ya ya ya”

“Tapi Lis . .”

“Please. Aku udah nyiapain semua peralatannya kok, buatin ya” Lisa menyerahkan semua perlengkapan melukis yang dibawanya

“Ya sudahlah. Tapi ini terakhir kalinya ya”

Lisa tersenyum dan memeluk Mimi.

“Eh iya, satu permintaan dan pertanyaan lagi” kata Lisa

“Apa?”

“Dika ulangtahun dua hari lagi, lukisin wajah dia buat aku dong, heheheh”

Deg, jantung Mimi seperti tertusuk oleh pisau. Bagaimana ini? Dia ingin mengatakan menolak permintaan Lisa itu, tetapi alasan apa yang harus dikatakannya? Tidak mungkin dia mengaku pada Lisa kalau Dika adalah pria yang disukainya sejak 10 tahun belakangan ini. Apalagi sekarang ini Lisa sedang dekat – dekatnya dengan Dika. Pada akhirnya, dengan terpaksa Mimi menjawab “ya”.

“Makasih, nah sekarang aku mau nanya. Lukisanmu yang dulu itu, katamu itu bukan Dika kan?”

Mimi mengangguk.

“Terus not balok yang kamu lukis disamping cowok dilukisan itu apaan?”

“Kenapa emangnya?” tanya Mimi

“Emm, gak apa – apa sih. Cuma penasaran aja. Emang apaan?”

“Itu lagu yang sering aku dengar”

“Lagu apaan?”

“Ode to joy”

Tak jauh dari rumah Mimi . . .

Dika memandang deretan lukisan yang berada dihadapannya. Semua lukisan itu menampakkan dirinya yang sedang memainkan berbagai macam instrumen. Satu hal yang membuatnya penasaran, di setiap lukisan itu selalu tertulis part dari not balok ode to joy.

“Siapa kau sebenarnya” gumam Dika.
***

Hari ini ulang tahun Dika. Lisa terlihat sangat manis dengan baju berwarna peach dan tas pesta yang berwarna senada. Dia tersenyum lebar saat berbicara dengan Dika mengenai kado yang diberikannya.

Kania melihat Lisa dengan kesal. Ingin rasanya dia menarik Lisa dari hadapan Dika.

“Kamu kenapa sih?” tanya Putra, sepupu Kania.

“Cemburu sama Lisa?” kata Putra saat melihat mata Kania yang tertuju pada Lisa dan Dika.

“Gak kok” jawab Kania sambil meneguk habis minuman yang dipegangnya.

“Ngaku aja deh. Kamu kan masuk di sekolah seni gara – gara Dika juga kan?”

“K-k-kata siapa?”

“Emangnya aku baru kenal kamu kemarin?”

Kania menarik Putra ke arah taman, menarik napas , dan mulai berbicara.

“Dengar, aku memang suka sama Dika. Tapi itu dulu, sekarang udah gak lagi”

Putra menaikkan alisnya.

“Oke , maksudku tidak seperti dulu. Aku masih menyukainya tapi aku tidak segila yang dulu”

“Maksudnya?”tanya Putra.

“Dulu aku berani melakukan segala cara untuk dilirik Dika tapi aku sadar itu gak ada gunanya karena hanya akan menyakiti orang lain”

Mata Kania pun tertuju pada seorang pria yang duduk sendirian di tengah pesta.

“Oh, masalah yang waktu itu?” tanya Putra lagi

“Ya”

“Terus?”

“Aku cuma tidak mau Lisa melakukan hal bodoh seperti yang aku lakukan dulu. Aku akan memperingatkannya”

“Kalau dia keras kepala?”

“Aku, aku, aku akan memberikannya pelajaran”

Seusai pesta . . . .

Dika melihat hadiah yang diberikan oleh Lisa.

“Persis seperti semua kado yang kuterima selama 10 tahun ini”

Dika kemudian teringat percakapannya dengan Lisa saat pesta tadi.

“Itu not balok ode to joy”kata Lisa

“Kenapa kamu melukisnya juga?”

“Hmmm, itu lagu yang sering aku dengar”

***
Mimi melihat lukisan yang ada dihadapannya. Lukisan seorang pria yang sedang memainkan sebuah piano hitam.

“Harusnya ini menjadi kado kesebelas”

Mimi berjalan ke arah jendela dan melihat rumah megah yang menjulang didepan rumah mungilnya.

“Kakek, kapan Mimi bisa kesana lagi?” desahnya.

Mimi kembali mengingat senyuman kakeknya dan seorang anak kecil yang dulu sering menghiasi hari – harinya. Dulu saat kakeknya masih hidup, Mimi hidup dengan penuh kebahagiaan. Mimi selalu menemani kakeknya menjual lukisan dipinggir jalan. Disaat berjualan itulah, Mimi bertemu dengan seorang anak kecil  yang selalu membawa partitur lagu.

“Lucu, meliuk – liuk aneh” kata Mimi, saat anak itu menunjukkan partitur yang dibawanya.

“Ini not balok”

“Not balok?”

“Iya, suatu hari nanti aku pasti bisa mainin partitur ini dengan baik, seperti Ayah. Lihat, aku akan memainkannya dengan biola milik Ayah ini” kata anak itu sambil menunjukkan biola miliknya.

“Iya, Mimi percaya. Nanti kalau sudah jago mainin buat Mimi”

“Oke, jangan lupa kalau kamu sudah jago melukis. Lukisin aku”

“Iya, terus ini partitur lagu apa?”

“Simponi ke 9 beethoven”

Mimi kemudian tersenyum. Anak kecil itu kini telah tumbuh dewasa. Mimi selalu mengingat janji mereka tetapi sepertinya anak itu telah melupakannya.

“Aku hanya berharap kamu mengingat janji kita. Tapi sepertinya petunjuk yang aku berikan disetiap lukisan itu tidak ada artinya untukmu” lirih Mimi.

Di depan pintu kamar Mimi, seseorang tampak tersenyum sinis.

***
Dika membaringkan tubuhnya di rerumputan. Kepalanya dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan. Hari ini Kania menemuinya dan mengatakan bahwa Lisa adalah gadis pembohong.

“Maksudnya apa?” tanya Dika saat Kania mengatakan hal tersebut.

“Jangan percaya semua perkataannya, lukisannya, pokoknya apapun yang dia lakukan”

“Memangnya kenapa? Dan apa hakmu melarang aku? Terserah aku dong, lagipula . .” Dika menatap Kania dengan canggung karena tidak dapat melanjutkan perkataannya.

“Oke aku tahu kamu tidak bisa mempercayaiku karena aku dulu pernah melakukan kesalahan”

“Kesalahan besar”kata Dika tegas

“Ya, aku minta maaf. Tapi aku hanya ingin mengingatkanmu. Kalau kamu mau benar – benar menemukan siapa pengirim 10 lukisan itu, jangan percaya sama Lisa.”

Dika menghela napasnya sekali  lagi.

“Siapa yang harus aku percaya? Lisa, lukisannya, perkataannya semua sesuai dengan apa yang telah aku alami selama 10 tahun ini. Tapi, Kania . .  argghhhhhhhh”

***

Mimi tersenyum dan melangkah dengan riang ke sekolah seni yang megah itu. Mulutnya sibuk menggumamkan Ode to Joy. Tiba – tiba, langkahnya dihentikan oleh sebuah suara.

“Itu suara Lisa dan Kania”

Mimi pun mendekati asal suara tersebut.

“Lisa !!” bentak Kania

“Kenapa? Kamu cemburu karena sekarang Dika lebih memilihku hah?”

“Ya aku cemburu tapi kenapa sih kamu seperti ini !! Memanfaatkan sahabat sendiri. Rendah banget sih kamu”

Plakk . . . .

Pipi Kania memerah. Lisa berdiri dihadapannya dengan wajah yang penuh emosi.

“Aku rendah? Kamu juga rendah !!! Ingat apa yang dulu kamu lakukan, kamu sudah membunuh adik perempuan Dika hanya karena cemburu padanya !!”

Mata Kania berkaca – kaca. Dia tidak menyangka sahabatnya sejak kecil ini akan mengatakan hal seperti itu.

“Aku bukan pembunuh”kata Kania lirih.

“PEMBUNUH !!! KAMU PEMBUNUH” Lisa mendorong Kania hingga terjatuh.

“AKU BUKAN PEMBUNUH”

“Terserahlah, yang jelas jangan ganggu aku. Aku bosan berada dibelakangmu terus sejak kecil. Aku juga ingin dilihat dan dipuji”

Kania berdiri sambil memegang pipinya yang masih memerah.

“Aku tidak menyuruhmu untuk terus berada dibelakangku. Dan aku juga tidak akan mengganggumu kalau saja kamu tidak mengganggu Mimi. Kamu mengaku – ngaku semua lukisan yang dia buat untuk Dika adalah bikinanmu. Mencuri diarynya dan bertingkah seolah – olah kamu adalah gadis yang dicari Dika selama ini. SAHABAT MACAM APA KAMU !!!”

Kania berbalik mendorong Lisa. Lisa terduduk disebuah kursi lalu tertawa.

“Sahabat? Siapa yang kamu bilang sahabat? Mimi bukan sahabatku. Dia hanya pesuruhku dan anak yatim piatu bodoh. Demi uang dan peralatan lukis dia rela melakukan apa pun. Dia bodoh”

Plak . . . Plak . . .

Kania menampar Lisa dua kali, dengan airmata yang berderai dia berkata

“Mimi tidak bodoh. Dia menyayangimu sebagai sahabat, bukan hanya karena uang dan peralatan lukis. Dia melakukan ini semua karena dia tidak tahu telah dimanfaatkan olehmu. Sebagai sahabatmu dan Mimi, aku mohon jangan seperti ini”

Sementara itu diluar kelas, Mimi tampak menangis mendengar percakapan Lisa dan Kania.

***

Sejak saat itu, Mimi meninggalkan kota kelahiran kakeknya tersebut. Dia ingin menghilang dari kehidupan Lisa, Kania, dan Dika. Dia tidak ingin kehadirannya membuat Lisa dan Kania akan semakin memburuk.

“Kakek, mungkin Dika memang bukan untuk Mimi. Mimi ikhlas ninggalin semuanya” kata Mimi memandang foto kakeknya di atas kereta.

Sementara itu disebuah galeri seni, Lisa tampak sedang diinterogasi oleh seorang polisi. Galeri seninya yang baru dibuka seminggu belakangan ini telah digugat oleh beberapa pihak. Beberapa lukisan yang dipajang disana diduga adalah lukisan milik orang lain yang diklaim Lisa sebagai hasil karyanya.

“T-tapi ini benar lukisan saya Pak” kata Lisa gugup.

“Bohong kamu. Ini”kata seorang pria tua sambil mengangkat lukisan yang dipegangnya “lukisan anakku”

“Iya, ini juga lukisan milikku”

“Dasar penipu”

Lisa tampak ketakutan dicecar oleh banyak orang.

“Percaya sekarang sama aku kan?” kata Kania sambil melihat Lisa yang kini dibawa oleh mobil patroli.

“Iya, maaf ya Kania. Semua yang dikatakan Lisa sama dengan apa yang aku alami jadi aku pikir dia yang selama ini aku cari. Aku . . .”

“Bingung”

Dika menganggukkan kepalanya. Kania tersenyum dan kemudian menyerahkan sebuah buku bersampul biru dan bertuliskan ‘Ode to Joy’

“Mungkin ini bisa jadi petunjuk” kata Kania.

***
Aku percaya waktu tidak akan bisa diputar kembali tetapi waktu bisa mengembalikan kebahagiaanku. Hari ini aku melihatnya di tempat pertama kali kita bertemu dulu. Masih seperti yang dulu, dia membawa partitur aneh dan biola coklat itu.Ya, aku yakin itu dia. Tatapan dan senyumannya masih sama, begitupun dengan kalung aneh yang sangat disayanginya itu.
Kakek, aku ingin kembali kesana dan menyapanya.

Dika menarik napas panjang lalu memegang kalung yang melingkar indah dilehernya.

“Bagaimana caranya biar Mimi bisa tahu kalau orang yang nanti Mimi ketemu itu kamu kalau udah dewasa nanti?”

“Lihat saja kalung ini. Aku tidak akan melepaskannya, ini dari ibuku. Terus kalau aku gimana? ”

“Mmm, ke tempat ini saja. Mimi selalu disini bareng kakek”

Dika kembali mengingat percakapannya dengan seorang gadis kecil yang dulu ditemuinya. Hari itu adalah hari terakhir mereka bertemu karena Dika harus mengikuti kepindahan Ayahnya ke luar negeri.

“Dasar gadis aneh. Kenapa dia tidak mengatakannya sejak awal” batin Dika.

Harusnya ini menjadi kado kesebelas dariku kalau saja Lisa tidak mengenalmu, atau seharusnya aku berani menyapamu saat melihatmu dipinggir jalan waktu itu. Tapi, aku malu karena kondisiku saat itu. Aku tidak sepertimu yang mungkin telah lihai memainkan Ode to Joy. Aku tidak bisa mengejar cita – citaku untuk menjadi pelukis terkenal. Dan sekarang semuanya sudah terlambat.

Dika menutup buku bersampul biru tersebut. Pikirannya melayang – layang entah kemana.

Kring Kring . . .

“Halo, Ada apa Kania?? Ya? Aku baru saja membacanya. . . .Apa?! Kamu yakin?  Oke hari ini juga aku kesana”

Dika berlari dengan bahagia ke dalam kamarnya. Kini tangannya tampak sibuk memasukkan pakaian ke dalam sebuah koper hitam.

“Kali ini kita harus benar – benar ketemu”

***

Epilog

Alunan Ode to Joy terdengar indah diantara angin musim gugur yang menyelimuti sebuah kota kecil. Seorang pria tersenyum memandangi gadis yang duduk dihadapannya. Dia menatap gadis itu dengan lembut dan menepis daun maple yang jatuh diatas rambut gadis itu.

“Janjiku sudah terpenuhi” kata pria itu

Gadis itu menyerahkan sebuah bingkisan yang terbungkus kertas coklat rapi, lalu berkata “So do I”

“Mimi . . . Dika . . .! ” teriak seseorang dari jauh.

Gadis dan pria itu tersenyum bahagia, lalu melambaikan ke dua tangan mereka.




- Regrads Pipit -
Read More..