Ujian sudah di depan mata,
gonjang-ganjingnya membuat kepala seperti ditusuk. Dada ketar ketir menghitung
hari.
Joni merebahkan badannya yang
berpeluh. Sudah tiga bulan dia rutin mengikuti kelas tambahan, persiapan untuk
Ujian katanya. Dia berharap usahanya ini tidak sia-sia, hey Joni percaya bahwa
setiap usaha pasti membuahkan hasil yang menggembirakan. Walaupun usahanya baru
dilakukan beberapa bulan ini. Ah, apalah artinya berusaha sekarang dan nanti.
Toh dia sudah berusaha.
Di sisi lain, ada Rica yang sejak
awal sekolah selalu rajin. Disiplin belajar setiap malam, memahami setiap
jengkal pelajaran yang ada. Menjelang ujian, belajar secukupnya dan berdoa
maksimal. Rica hanya mengulang beberapa mata pelajaran yang sekelebat
terlupakan. Ah, dia berusaha jauh lebih dahulu daripada Joni.
Beberapa kilometer dari rumah
Rica, ada Leon yang asyik bermain game bersama teman-temannya. Peduli amat
dengan Ujian. Ujian bukan penentu nasib dan kesuksesanmu. Itu pikirnya dan hal
tersebut yang dia sampaikan kepada beberapa temannya. Tapi tahukah kalian,
menjelang Ujian Leon mengendap-endap di depan sekolah untuk bertemu dengan
seseorang yang katanya memiliki kunci jawaban ujian. Ah, mudah sekali usaha
Leon. Segepok duit bisa memuluskan jalannya.
Ujian kini telah berakhir. Mari
kita lihat ketiga teman kita. Joni berhasil lulus dengan usaha sangat kerasnya.
Nilainya bisa dikatakan memuaskan, namun pasca selesainya Ujian dia jatuh sakit
dan tidak bisa mengikuti upacara kelulusan. Usahamu keras sekali Nak.
Rica, dinobatkan sebagai siswi
teladan dengan nilai nyaris sempurna. Hebat!
Sementara Leon, yah dia lulus dan
tersenyum saat ini. Namun, beberapa tahun ke depan dia tumbuh menjadi pribadi
yang tidak pernah jujur. Hidupnya semakin kacau dan berakhir di penjara.
*
Mencontek dan berbuat curang
dengan membeli kunci jawaban Ujian memang butuh usaha, usaha mengeluarkan duit.
Namun usaha tersebut tidak layak untuk dibanggakan. Malu dong!
Katanya benci dengan korupsi.
Emosi membara ketika melihat ada yang berlaku curang. Tapi ups, kalau diri
sendiri juga mencontek dan membeli kunci jawaban Ujian bukankah sama saja?
Umurnya
sudah separuh baya. Memiliki tiga orang anak, dua diantaranya adalah seorang
wanita. Isterinya? Jelaslah seorang wanita, bisa dikategorikan sebagai isteri
yang cantik dan baik. Tapi, apa yang membuatnya menjadi seperti ini? Setiap
hari, pada saat jam tertentu (sesuai dengan akumulasi waktu yang dia tentukan)
niat anehnya disalurkan. Mahasiswi dan siswa yang kelihatannya ‘mengundang’
akan menjadi sasarannya. Jika tidak ditemukan target seperti itu, target mana
pun boleh. Kacaunya meskipun sang target merasa ‘dijahati’ target hanya bisa
terdiam kaku. Lebih kacau lagi, beberapa penumpang di angkutan tersebut hanya
mendiamkan meskipun menyaksikan hal tersebut. Ups!
Tapi hari ini keberuntungan (?) tidak berpihak pada pria ini. Tangan jahilnya
yang sedang asyik melakukan kejahatan pada target seorang siswa SMA ditarik dan
digenggam dengan erat oleh seorang penumpang pemberani. Tidak hanya disitu
saja, sang penumpang pun berteriak dengan kencang. “Selamat
menikmati buah yang kau tanam om”
*
Mungkin
itu satu diantara berbagai macam cerita pelecehan seksual di dalam angkutan
umum. Sebagian dari kita sepertinya telah menyadari hal tersebut apalagi untuk
mereka yang tinggal di kota besar semacam Jakarta. Kadang kita merasa “bukan
urusan saya”, “nanti kalau saya ikut campur jadi berabe”, dan “siapa suruh
korbannya berpakaian seperti itu” ketika melihat kejahatan seperti ini terjadi.
Ada baiknya sekarang mengubah paradigma tadi, bayangkan jika keluarga kita yang
menjadi korban pelecehan seksual tersebut dan beberapa orang yang sebenarnya
tahu malah mendiamkan. Satu sikap berani bisa mendatangkan keberanian lain.
- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Entah darimana peribahasa itu muncul, tapi disadari atau tidak kesehatan memang bergantung pada kebersihan (salah satunya). Pernah sadar tidak kalau sebenarnya kita bisa gampang menjaga kebersihan karena hal tersebut telah menjadi tradisi. Nih contoh gampangnya menjaga kebersihan yang tanpa disadari kita lakukan sehari-hari :
1. Mandi, siapa sih orang di dunia ini yang belum pernah mandi ? (oke, gak perlu bilang saya kalau emang kamu males mandi).Maksudnya di dunia ini semalas-malasnya seseorang untuk mandi, suatu saat dia pasti akan luluh juga untuk merasakan sensasi sabun dan air yang saling beradu. Contohnya ketika mendadak naksir seseorang, trus orang itu ngajak kencan. Pasti mau tampil wangi dan bersih kan ? Nah, langkah awalnya ya mandi.
2. Mencuci pakaian atau piring. Menjaga kebersihan peralatan makan dan perlengkapan yang melekat dibadan juga sudah menjadi kebiasaan umum seseorang. Kecuali kalau kamu seorang konglomerat yang sekali make barang langsung dibuang :))
3. Membuang sampah pada tempatnya. Kenapa "pada tempatnya" dicetak miring ? Karena beberapa orang mengartikan kata itu sebagai "buang di sungai, di halaman rumah tetangga, di selokan, di mana saja sesuka hati". Entah karena ambigu-nya kalimat atau kekurangpahaman masyarakat sehingga kita masih melihat sampah bertebaran di mana-mana. Tapi, mereka gak salah kok, mereka sudah menjaga tradisi dengan membuang sampah pada tempatnya.
Nah, ternyata menjaga kebersihan itu gampang bukan? Tuh beberapa bahkan sudah menjadi kebiasaan kita. Yuk, biasain menjaga kebersihan yang lain sehingga menambah tradisi baik lainnya.
- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Tanah basah berhamburan. Dua sekop kecil mencungkil gundukan tanah dengan cepat. Srek. Srek. Sarung tangan karet kebesaran membungkus tangan-tangan mungil pemegang sekop.
Splash.
Gundukan kecil tanah yang dicungkil melompat pintar ke wajah salah satu anak. Anak lelaki tersebut otomatis jatuh terjengkang, kaget bukan main.
"Maafkan Bulan"
Lap sana. Lap sini. Tangan kecil itu selincah mungkin membantu mengebaskan tanah. Tapi bukannya makin bersih, wajah anak lelaki dihadapannya malah coreng moreng.
"Wajah Bintang jadi aneh" gadis kecil itu tertawa terbahak-bahak.
Anak lelaki yang dipanggil Bintang pun ikut tertawa menyadari bahwa wajahnya pasti telah sangat kotor. Butuh waktu semenit lebih untuk berhenti tertawa dan saling melempar tanah untuk kembali pada kerjaan mereka sejak sore. Wajah-wajah ceria penuh tawa tadi berubah bersinar. Mereka bersemangat.
Hari ini Bulan bersama tetangganya, Bintang, diajak bermain di salah satu sekolah taman oleh Tante Mery. Sekolah yang mengajarkan anak kecil untuk mencintai alam. Sejak pagi Bulan dan Bintang sibuk mengejar-ngejar anak ayam, memperhatikan proses menetasnya anak ayam, dan memerah susu sapi. Siangnya mereka dibiarkan beristirahat dan sorenya mereka dibebaskan untuk memilih ingin melakukan apapun. Bulan memilih untuk menanam pohon.
Sejak pertama kali datang ke tempat ini, Bulan terkesima melihat pohon raksasa yang ditunjukkan Kak Citra. Kata Kak Citra pohon itu bisa tumbuh dengan indah karena dicintai oleh masyarakat disekitarnya. Tidak ada yang jahil menebas, menggoreskan nama dibatangnya, atau bahkan sekedar iseng mematahkan ranting-ranting rapuh pohon tersebut.
Bulan sepenuhnya terkesima. Matanya berbinar melihat kanopi yang terbentang sangat indah. Sempurna menaunginya dan anak-anak lain dari terpaan sinar matahari. Wush. Wush. Angin yang berhembus pun terasa sangat sejuk. Berbeda sekali dengan suasana kota yang telah sesak oleh gedung pencakar langit.
Tante Mery mengangguk khidmat. Kak Citra mengambil beberapa benih bunga akasia dan anakan pohon pinus. Memeluk Bulan dan Bintang. Dia senang Bulan menanam pohon dengannya.
"Cepat gede ya pohon" Bulan bergumam.
"Cepat gede" Bintang ikut bergumam.
Kak Citra tersenyum melihat kepolosan itu. Ah indah sekali. Andaikan saja semua orang berpikiran polos seperti ini. Penuh cinta dan mata berbinar memandang keindahan pohon hingga ikut melestarikannya. Hingga dapat kembali merasakan kesejukan dari Maha Pencipta. Kesegaran yang sebenarnya, yang tercipta dari kumpulan kanopi-kanopi pohon.
Andaikan saja semua orang bisa mengerti ini sebelum era modernisasi merenggut semuanya. Ya, semoga saja era modernisasi tidak mengubah kota kecil ini menjadi seperti kota Thneedville dalam film Dr.Seuss The Lorax. Tidak ada pohon asli. Tidak ada udara segar asli. Yang ada hanyalah pohon plastik dan udara segar buatan yang dijual seperti air galon. Ah, mengenaskan sekali.
Nih lihat, akibat sok tahunya manusia "cuma potong satu pohon aja kok, kan demi kebaikan" How bad it possibly be? Just look at it!
Kak Citra kembali tersenyum. Membuang jauh pemikiran buruknya. Setidaknya di tempat ini masih ada anak sekecil Bulan dan Bintang yang peduli terhadap kelestarian pohon. Ya, setidaknya masih ada yang peduli. Semoga kita juga begitu.
Hari pahlawansudah lewat tapi masih teringat jelas sosok seorang pahlawan yang berjasa sekali di dalam hidup saya. Beliau adalah Pak Guru kesenian saya ketika SMP, Pak Idhar. Beliau adalah pria ke dua yang amat saya banggakan dan saya anggap sebagai pahlawan setelah Ayah.
Pak Idhar adalah sosok guru yang sedikit nyentrik. Rambutnya sepanjang punggung, agak ikal, dan terkadang diikat dengan sebuah kuncir kecil. Tangannya suka mengamit rokok yang menyala, tidak heran badannya sedikit beraroma tembakau.
Dipikiran saya ketika pertama kali melihat beliau adalah "apa orang ini benar-benar seorang guru?"
Yeah, saat itu otak saya masih diisi dengan pemikiran menilai seseorang dari kulitnya saja. Hal yang pertama kali membuat saya tercengang adalah ketika beliau mengukir sebuah kata di papan tulis. TULISANNYA RAPI SEKALI! Seperti tercetak begitu saja.
Pak Idhar, pahlawantanpa tanda jasa. Saya tidak bisa menyembunyikan kekaguman saya ketika beliau menunjukkan kumpulan gambar yang beliau miliki. SUPER! LUAR BIASA! Saya yang sejak SD memang suka menggambar hanya bisa terpekur. Kagum. Malu. Tidak percaya diri. Ingin menjadi lebih hebat.
Pak Idhar adalah orang yang pertama kali percaya bahwa saya dianugerahi bakat menggambar, sementara yang lain menganggap saya hanya bisa melakukan sesuatu yang berhubungan dengan akademik. Saya bangga menjadi murid beliau. Belajar tentang banyak hal dan tak jarang menemani beliau menyeruput kopi di ruang guru. Bertukar pikiran.
Pak Idhar, pahlawan tanpa tanda jasa. Banyak hal yang beliau lakukan yang berpengaruh terhadap pemikiran saya. Masih teringat dengan jelas teguran pertama beliau.
Sewaktu dibebaskan menggambar di halaman sekolah, beliau menghampiri muridnya satu per satu. Saya yang duduk di pojok laboratorium bahasa (yang waktu itu belum sempurna jadi) melirik sekilas. Berharap beliau menghampiri dan memuji sketsa yang saya buat. Tapi ternyata kritikan pedas yang saya dapat.
"Ini sketsa? Terlalu real. Dari jarak seperti ini harusnya daun pohon itu tidak sejelas ini" beliau menarik gambar salah satu teman, "Lihat ini. Ini baru namanya sketsa"
Kritikan pertama yang menghujam tepat ke jantung, terekam jelas dan menampar begitu hebat. Rasanya malu sekali dikritik di depan teman-teman yang bahkan tidak punya sense of art (pikiran sombong ketika itu). Sebaris kalimat yang dilontarkan beliau membuat mata saya terbuka. Mungkin saya terlalu banyak terima pujian hingga terbang, terbang terlalu tinggi malah. Jatuhnya jadi sakit sendiri.
Pak Idhar, pahlawan tanpa tanda jasa. Beliau adalah yang membuat saya mengerti cara menggunakan cat air, belajar teknik pointilis, bahkan membuat gambar realis. Hingga saat ini, tugas menggambar bebas saya ketika itu adalah satu-satunya gambar paling realis yang pernah saya buat.
Sekarang pahlawan tanpa tanda jasa tersebut telah berpulang ke sisi Yang Maha Kuasa, ya beberapa tahun yang lalu. Saya belum diberi kesempatan untuk berucap terimakasih. Terimakasih karena telah mengajarkan banyak hal. Untuk tidak melihat seseorang dari penampilannya, untuk mengerti bahwa setiap karya seni memiliki penggemarnya masing-masing, untuk tidak berlaku sombong, untuk melakukan semuanya dari hati, dan untuk percaya bahwa bakat bisa diasah dengan rasa percaya yang kuat.
Thank you for everything Sir :-)
Guru memang pahlawan tanpa tanda jasa tapi jasa mereka terkadang bisa menyelamatkan kita.
Pengennya ngepost gambar ketika SMP tapi sayang semua gambarnya ditinggal di Papua.
- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Tawuran yang terjadi tadi menimbulkan beberapa korban luka . . .
Suara tv terus terdengar menggema diruang tengah. Andin menatap layar persegi dihadapannya dengan seksama, tampak beberapa orang pelajar dengan wajah tertutup masker yang berlari dari kejaran polisi. Ditangan para pelajar tersebut tampak beberapa benda tumpul yang digunakan untuk melempar.
"Masih aja ada yang begini ya?" gumam Andin.
"Jaman udah edan" celetuk Rifka, kakak tertua Andin, "sekarang kalau kesenggol dikit langsung bacok, gak kayak jaman mbak dulu".
"Iya nih mbak, daritadi Andin nonton berita yang disorot masalah itu-itu aja. Yang bikin gerah nih tawuran ini. Yang buat masalah orang-orang itu, yang kena hampir seluruh pelajar. Bergerombol dikit, dikira mau tawuran" gerutu Andin. Ingatannya kembali ke beberapa hari yang lalu.
"Masih kesal ya dek gara-gara dikira mau tawuran?"
"Iya, padahal aku sama teman-teman cuma diskusi tugas doang dipinggir jalan sambil nunggu angkutan. Eh, malah diusir dan dimarahi, dikira mau tawuran" Andin cemberut sambil menerawang jauh.
"Yah begitulah, sepertinya tawuran udah jadi budaya yang salah dikalangan pelajar kita" Rifka duduk termangu menemani Andin, "kadang mbak mikir, kenapa tenaga mereka itu gak dipakai buat ngebantu orang tua di rumah ya? Nyuci atau ngangkat-ngangkat apa gitu"
Andin menghela napas, kakaknya yang satu ini memang selalu suka memberikan komentar yang aneh.
"Eh kenapa kamu? Bener kan? Daripada tenaganya habis dipakai buat mukulin anak orang dan nambahin dosa mending dipakai buat bantuin orang tua di rumah"
"Tawuran sehat? lebih tepatnya memanfaatkan tenaga yang terbuang karena tawuran menjadi lebih sehat dan bermanfaat" kata Rifka sembari berdiri dan mengepalkan tangannya seolah-olah sedang berorasi.
- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Alika Kusuma Winarni, siapa yang tidak kenal siswi cantik dan berprestasi itu? Anak pertama dari keluarga Winarni yang terpandang ini sukses membuat iri. Parasnya yang mempesona serta kelihaiannya dalam mengolah kata dihadapan orang lain patut diacungi jempol.
Jika ditanya siapa icon remaja yang pantas dijadikan panutan? Alika lah orangnya. Wajahnya yang cerah selalu menghiasi berbagai jenis perlombaan, mulai dari lomba yang mengasah otak hingga lomba yang mengolah fisik. Nama Alika tidak hanya harum di kotaku tetapi juga diseluruh Indonesia bahkan dunia internasional.
Banyak siswi yang iri padanya. Di tengah hingar bingar dunia yang penuh dengan masalah, Alika bisa maju sebagai icon remaja yang hebat. Semua itu bertahan hingga suatu ketika sebuah situs porno menampilkan sisi lain Alika. Wajah Alika yang manis muncul disitus porno tersebut. Alika menghilang seketika itu juga. Tidak ada yang tahu dimana dia berada bahkan ke dua orang tuanya sekalipun.
Dunia berputar dengan cepat, pamor Alika yang dulunya baik berubah menjadi buruk apalagi dengan kepergiannya yang semakin memperkuat dugaan bahwa Alika memang bersalah. Aku baru saja kembali dari perjalanan panjangku hanya bisa tertegun mendengar itu semua dan berjuang mencari Alika. Aku butuh penjelasan langsung darinya. Hari berganti menjadi minggu dan berujung bulan, aku berhasil menemukan Alika disebuah tempat tak bernama. Alika duduk mematung dengan wajah yang murung di depan sebuah rumah yang tampaknya akan segera rubuh ketika tertiup angin kencang. Alika menatapku dengan tatapan yang pilu seakan meminta pertolongan. Bulir airmata mengalir dengan deras disela kata yang diucapkannya. Jelas sudah, semua yang terpampang pada situs porno itu benar adanya. Alika terjebak dalam sebuah situasi yang membuat dia sangat takut untuk memberikan penjelasan. Sosok Alika yang selalu tegar menghadapi apapun kini terlihat sangat rapuh. Dia bercerita tentang segala. Apa yang membuatnya berubah dan kenapa semua itu bisa terjadi. Awalnya Alika dijebak oleh beberapa kenalannya untuk mengakses sebuah situs porno. Penjebakan itu sukses membuat Alika ketagihan dan melakukan hal yang jauh lebih buruk. Dia merasa semua akan baik - baik saja karena tidak ada satu pun orang yang akan menyangka dia akan melakukan hal seperti itu. Tetapi nasib berkata lain, sebuah link tersebar dan menjalar kesana kemari bagaikan api yang melahap habis sebuah pemukiman. Alika terlalu takut menghadapi kenyataan. Dia tidak tahan melihat segalanya hancur berantakan. Berlari, menurutnya itu adalah hal yang terbaik hingga akhirnya dia tidak tahu harus kemana lagi melangkah.
Kini Alika hanya bisa menyesali semuanya, begitupun denganku. Aku menyesal karena tidak bisa berada disisinya selama ini, menjaganya dari segala macam bahaya. Aku terlalu naif, merasa Alika telah kuat menghadapi semuanya. Seharusnya aku sadar, Alika tetaplah Alika . . seorang gadis remaja yang mudah dipengaruhi.
Aku meletakkan diary milik kakakku yang tergelatak begitu saja di meja belajar. Alika, gadis ceria yang dulu sering datang ke rumah kini harus mengikuti rehabilitasi. Kejiwaannya terganggu karena shock yang sangat parah. Entahlah penjelasan medis yang pasti seperti apa, yang jelas sekarang Alika jauh berbeda.
Sebuah situs porno merusak segala rencana masa depan Alika yang mungkin telah dirancangnya dengan matang. Alika hanyalah contoh kecil dari beragam masalah yang ditimbulkan dengan mengakses situs porno. Pornografi jauh lebih menakutkan dibandingkan dengan pengaruh narkoba. Salah satu sahabatku yang merupakan mahasiswi jurusan psikologi pernah menjelaskan padaku bahwa dampak psikologi yang muncul dari mengakses situs porno jauh lebih menakutkan.
Pengaruh mengakses situs porno bisa melekat sangat dalam dan lebih sulit dihilangkan dibandingkan dengan pengaruh narkoba. Kenapa? Narkoba terjadi karena konsumsi obat - obatan terlarang dan dapat dihilangkan secara medis sedangkan mengakses situs porno dan melihat segala isi yang terkandung di dalam situs tersebut, sudah jelas akan terekam didalam ingatan. Ingin menghilangkannya? Silahkan lupa ingatan ! See, inilah alasan kenapa pengaruh mengakses situs haram tersebut lebih susah dihilangkan.
Semoga tidak ada Alika lain diluar sana yang membuang waktu senggangnya dengan percuma. Jika diberi kesempatan untuk melakukan browsing, bukalah situs yang bermanfaat . . . bukan situs pornoyang hanya akan merusak masa depan kita.
Alika, semoga kamu cepat membaik disana.
- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Tidak jarang kita mendengar stigma negatif ketika kata ABG SMA dilontarkan. Mungkin karena sebagian besar pemberitaan yang tersorot adalah berita negatif. Tapi, tidak semua lho ABG SMA seperti ini. Masih banyak ABG SMA diluar sana yang berhasil mengukir prestasi dan membanggakan keluarga bahkan bangsa Indonesia ini. Sebut saja para ABG SMA yang terlibat sebagai peserta Olimpiade Sains. Sudah pernah dengarkan kalau Indonesia sering menjadi juara Olimpiade Matematika dan Fisika, bertaraf internasional pula. Nah, sudah saatnya nih kita sebagai warga Indonesia melakukan shout out tentang hal ini supaya stigma negatif tentang ABG SMA tidak terus berkembang dan malah menjadi 'excuse'ABG SMA lain melakukan kesalahan yang sama. Coba bayangkan percakapan ini :
A : eh lo masih SMA kok sudah minum - minuman keras? Gak takut tuh tubuh rusak?
B : Biasa aja kali, jaman sekarang kan semuanya pada seperti ini. Bukan gue aja kali lagipula santai aja masih muda ini.
Duh, parah banget ini yak, bukannya berlomba mengukir prestasi malah jadi follower hal yang gak bener. So, kalau kamu ABG SMA, tetap ingat satu hal berprestasilah selagi masih muda karena kebanggaan dari sebuah prestasi akan menguntungkan dirimu sendiri (sebenarnya ini petuah dari Ayah sih hehehe)
Ah itu aja deh sedikit cuap - cuapnya, sekarang mau berpantun dulu. Oh iya, harap maklum kalau pantunnya agak gimana gitu ya . . . namanya juga pemula :P
Pergi menanam bunga akasia Menanamnya bareng mang Oba Kami ABG SMA Indonesia Katakan tidak untuk narkoba Pergi menanam bunga akasia Eh akasianya dimakan angsa Kami ABG SMA Indonesia Siap berprestasi mengharumkan nama bangsa Pergi menanam bunga akasia udah ah capek bunga akasia mulu :P
- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Dilahirkan dan dibesarkan di Serui (Papua) yang memiliki beragam penduduk dari berbagai suku di Indonesia membuat saya jadi mengerti betapa kayanya Indonesia. Berbagai suku di Indonesia memiliki ciri mereka yang unik dan keren :D Mungkin itu adalah salah satu faktor yang menjadi daya tarik penduduk asing untuk berkunjung ke Indonesia. Rasanya menyenangkan kalau penduduk asing datang ke Indonesia dan melihat sendiri betapa kayanya budaya Indonesia serta mempelajarinya :-)
Untuk itu, sebagai warga negara yang baik dan calon penerus bangsa yang budiman *ehem* sudah seharusnya kita menjaga budaya yang ada di Indonesia dengan baik. Melestarikannya dan bangga terhadap budaya itu sendiri agar tidak dicuri oleh bangsa lain. Kita boleh berteriak " JANGAN CURI BUDAYA KAMI" tapi kita juga harus sadar, apakah selama ini kita menjaga budaya tersebut? Atau apakah kita baru sadar akan hal itu hanya ketika budaya kita mau dicuri? Tanyakan pada diri sendiri deh kalau masalah itu :-)
- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Mari ngeblog untuk Indonesia yang lebih baik, be positive, do positive, and then get the positive things
PS : Gambar dibuat dengan media kertas, spidol, dan iPit. Maaf kalau tulisannya terlalu cantik :3 sedikit curcol, aslinya tulisan tangan saya itu tegak bersambung, berhubung nulisnya pake spidol dan takut gak kebaca jadilah seperti diatas.
- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -