Tampilkan postingan dengan label PROJECT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PROJECT. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Mei 2013

KUNCI JAWABAN UJIAN



Matematika

1. A
2. B
3. C
4. A
5. C
6. E
7. D
8. B
9. B
10. A

Ujian sudah di depan mata, gonjang-ganjingnya membuat kepala seperti ditusuk. Dada ketar ketir menghitung hari.

Joni merebahkan badannya yang berpeluh. Sudah tiga bulan dia rutin mengikuti kelas tambahan, persiapan untuk Ujian katanya. Dia berharap usahanya ini tidak sia-sia, hey Joni percaya bahwa setiap usaha pasti membuahkan hasil yang menggembirakan. Walaupun usahanya baru dilakukan beberapa bulan ini. Ah, apalah artinya berusaha sekarang dan nanti. Toh dia sudah berusaha.

Di sisi lain, ada Rica yang sejak awal sekolah selalu rajin. Disiplin belajar setiap malam, memahami setiap jengkal pelajaran yang ada. Menjelang ujian, belajar secukupnya dan berdoa maksimal. Rica hanya mengulang beberapa mata pelajaran yang sekelebat terlupakan. Ah, dia berusaha jauh lebih dahulu daripada Joni.

Beberapa kilometer dari rumah Rica, ada Leon yang asyik bermain game bersama teman-temannya. Peduli amat dengan Ujian. Ujian bukan penentu nasib dan kesuksesanmu. Itu pikirnya dan hal tersebut yang dia sampaikan kepada beberapa temannya. Tapi tahukah kalian, menjelang Ujian Leon mengendap-endap di depan sekolah untuk bertemu dengan seseorang yang katanya memiliki kunci jawaban ujian. Ah, mudah sekali usaha Leon. Segepok duit bisa memuluskan jalannya.

Ujian kini telah berakhir. Mari kita lihat ketiga teman kita. Joni berhasil lulus dengan usaha sangat kerasnya. Nilainya bisa dikatakan memuaskan, namun pasca selesainya Ujian dia jatuh sakit dan tidak bisa mengikuti upacara kelulusan. Usahamu keras sekali Nak.

Rica, dinobatkan sebagai siswi teladan dengan nilai nyaris sempurna. Hebat!

Sementara Leon, yah dia lulus dan tersenyum saat ini. Namun, beberapa tahun ke depan dia tumbuh menjadi pribadi yang tidak pernah jujur. Hidupnya semakin kacau dan berakhir di penjara.

*
Mencontek dan berbuat curang dengan membeli kunci jawaban Ujian memang butuh usaha, usaha mengeluarkan duit. Namun usaha tersebut tidak layak untuk dibanggakan. Malu dong!

Katanya benci dengan korupsi. Emosi membara ketika melihat ada yang berlaku curang. Tapi ups, kalau diri sendiri juga mencontek dan membeli kunci jawaban Ujian bukankah sama saja?

Pikirlah!

Tips jitu berhenti mencontek adalah BERHENTILAH MENCONTEK


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Senin, 18 Februari 2013

TRADISI GAMPANGNYA MENJAGA KEBERSIHAN

Bersih pangkal sehat !

Entah darimana peribahasa itu muncul, tapi disadari atau tidak kesehatan memang bergantung pada kebersihan (salah satunya). Pernah sadar tidak kalau sebenarnya kita bisa gampang menjaga kebersihan karena hal tersebut telah menjadi tradisi. Nih contoh gampangnya menjaga kebersihan yang tanpa disadari kita lakukan sehari-hari :

1. Mandi, siapa sih orang di dunia ini yang belum pernah mandi ? (oke, gak perlu bilang saya kalau emang kamu males mandi).Maksudnya di dunia ini semalas-malasnya seseorang untuk mandi, suatu saat dia pasti akan luluh juga untuk merasakan sensasi sabun dan air yang saling beradu. Contohnya ketika mendadak naksir seseorang, trus orang itu ngajak kencan. Pasti mau tampil wangi dan bersih kan ? Nah, langkah awalnya ya mandi.


2. Mencuci pakaian atau piring. Menjaga kebersihan peralatan makan dan perlengkapan yang melekat dibadan juga sudah menjadi kebiasaan umum seseorang. Kecuali kalau kamu seorang konglomerat yang sekali make barang langsung dibuang :))


3. Membuang sampah pada tempatnya. Kenapa "pada tempatnya" dicetak miring ? Karena beberapa orang mengartikan kata itu sebagai "buang di sungai, di halaman rumah tetangga, di selokan, di mana saja sesuka hati". Entah karena ambigu-nya kalimat atau kekurangpahaman masyarakat sehingga kita masih melihat sampah bertebaran di mana-mana. Tapi, mereka gak salah kok, mereka sudah menjaga tradisi dengan membuang sampah pada tempatnya.


Nah, ternyata menjaga kebersihan itu gampang bukan? Tuh beberapa bahkan sudah menjadi kebiasaan kita. Yuk, biasain menjaga kebersihan yang lain sehingga menambah tradisi baik lainnya.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 18 Desember 2012

KEPEDULIAN BULAN MENANAM POHON

Tanah basah berhamburan. Dua sekop kecil mencungkil gundukan tanah dengan cepat. Srek. Srek. Sarung tangan karet kebesaran membungkus tangan-tangan mungil pemegang sekop.

Splash.

Gundukan kecil tanah yang dicungkil melompat pintar ke wajah salah satu anak. Anak lelaki tersebut otomatis jatuh terjengkang, kaget bukan main.

"Maafkan Bulan"

Lap sana. Lap sini. Tangan kecil itu selincah mungkin membantu mengebaskan tanah. Tapi bukannya makin bersih, wajah anak lelaki dihadapannya malah coreng moreng.

"Wajah Bintang jadi aneh" gadis kecil itu tertawa terbahak-bahak.

Anak lelaki yang dipanggil Bintang pun ikut tertawa menyadari bahwa wajahnya pasti telah sangat kotor. Butuh waktu semenit lebih untuk berhenti tertawa dan saling melempar tanah untuk kembali pada kerjaan mereka sejak sore. Wajah-wajah ceria penuh tawa tadi berubah bersinar. Mereka bersemangat.

Hari ini Bulan bersama tetangganya, Bintang, diajak bermain di salah satu sekolah taman oleh Tante Mery. Sekolah yang mengajarkan anak kecil untuk mencintai alam. Sejak pagi Bulan dan Bintang sibuk mengejar-ngejar anak ayam, memperhatikan proses menetasnya anak ayam, dan memerah susu sapi. Siangnya mereka dibiarkan beristirahat dan sorenya mereka dibebaskan untuk memilih ingin melakukan apapun. Bulan memilih untuk menanam pohon.

Sejak pertama kali datang ke tempat ini, Bulan terkesima melihat pohon raksasa yang ditunjukkan Kak Citra. Kata Kak Citra pohon itu bisa tumbuh dengan indah karena dicintai oleh masyarakat disekitarnya. Tidak ada yang jahil menebas, menggoreskan nama dibatangnya, atau bahkan sekedar iseng mematahkan ranting-ranting rapuh pohon tersebut.

Bulan sepenuhnya terkesima. Matanya berbinar melihat kanopi yang terbentang sangat indah. Sempurna menaunginya dan anak-anak lain dari terpaan sinar matahari. Wush. Wush. Angin yang berhembus pun terasa sangat sejuk. Berbeda sekali dengan suasana kota yang telah sesak oleh gedung pencakar langit.

"Bulan menanam pohon bareng Bintang" teriak Bulan ceria.

Tante Mery mengangguk khidmat. Kak Citra mengambil beberapa benih bunga akasia dan anakan pohon pinus. Memeluk Bulan dan Bintang. Dia senang Bulan menanam pohon dengannya.

"Cepat gede ya pohon" Bulan bergumam.

"Cepat gede" Bintang ikut bergumam.

Kak Citra tersenyum melihat kepolosan itu. Ah indah sekali. Andaikan saja semua orang berpikiran polos seperti ini. Penuh cinta dan mata berbinar memandang keindahan pohon hingga ikut melestarikannya. Hingga dapat kembali merasakan kesejukan dari Maha Pencipta. Kesegaran yang sebenarnya, yang tercipta dari kumpulan kanopi-kanopi pohon.

Andaikan saja semua orang bisa mengerti ini sebelum era modernisasi merenggut semuanya. Ya, semoga saja era modernisasi tidak mengubah kota kecil ini menjadi seperti kota Thneedville dalam film Dr.Seuss The Lorax. Tidak ada pohon asli. Tidak ada udara segar asli. Yang ada hanyalah pohon plastik dan udara segar buatan yang dijual seperti air galon. Ah, mengenaskan sekali.

Nih lihat, akibat sok tahunya manusia "cuma potong satu pohon aja kok, kan demi kebaikan" How bad it possibly be? Just look at it!

Kak Citra kembali tersenyum. Membuang jauh pemikiran buruknya. Setidaknya di tempat ini masih ada anak sekecil Bulan dan Bintang yang peduli terhadap kelestarian pohon. Ya, setidaknya masih ada yang peduli. Semoga kita juga begitu.

Mari menanam pohon!


You don't know me but names Sai
I'm just the O'Hare delivery guy
But it seems like trees might be worth a try
So I say let it grow

My name is Dan, and my name's Rose
Our son Wesley kind of glows
And that's not good so we suppose
We should let it grow

Let it grow
Let it grow
You can't reap what you don't sow
Plant a seed inside the earth
Just one way to know it's worth
Let's celebrate the world's rebirth
We say let it grow

My name's Maria and I am 3
I would really like to see a tree
Lalalalalalee
I say let it grow

I'm granny Norma I'm old and I got grey hair
But I remember when trees were everywhere
And no one had to pay for air
So I say let it grow

Let it grow
Let it grow
Like it did so long ago
Maybe it's just one tiny seed
But it's all we really need
It's time to change the life we lead
Time to let it grow

My name's O'Hare
I'm one of you
I live here in Thneedville too
The things you say just might be true
It could be time to start anew
And maybe change my point of view
Nah! I say let it die
Let it die, let it die
Let it shrivel up and die
Come one who's with me huh?

Nobody.

You greedy dirt bag!

Let it grow
Let it grow
Let the love inside ya show
Plant a seed inside the earth
Just one way to know it's worth
Let's celebrate the world's rebirth

We say let it grow
Let it grow
Let it grow
You can't reap what you don't sow
It's just one tiny seed
But it's all we really need
It's time to banish all your greed
Imagine Thneedville flowered and treed
Let this be our solemn creed
We say let it grow (x4)


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Jumat, 07 Desember 2012

CINTA DI LANGIT


Semburat jingga segar menelisik diantara tirai jendela. Biasnya terpancar tepat ke wajah seorang gadis. Kain satin merah melambai-lambai memeluk jendela. Pagi menyapa Bandung.

Embun pagi menyisakan titik-titik dingin disekitar jendela. Lembabnya membuat tubuh enggan untuk tersadar. Butuh waktu beberapa menit untuk gadis itu bergelung dengan selimut biru tebal. Memaksakan diri untuk beranjak dari tempat yang nyaman, kasur empuknya.

Geser sedikit ke kiri. Tangannya meraih laptop hitam pekat di sudut meja. Melirik sekilas jam dan tanggal yang tertera di sudut kiri bawah. Menguap sekali dan merapikan anak rambut kemudian duduk dalam diam. Setiap pagi hal sama selalu dilakukan Mentari. Duduk dalam diam bagaikan pertapa tua. Hatinya sedang kosong karena kabar mendadak yang ia terima.

Mentari masih remaja tanggung. Baru merasakan indahnya masa-masa kuliah. Sibuk mengikuti ospek, mencari sahabat, mengingat nama dan wajah baru, serta berpisah dari keluarga tercintanya. Berat dan indah, mungkin itu yang dirasakannya.

"Kita sampai di sini aja"

Kata-kata itu terus terngiang di telinga Mentari. Hubungan beberapa bulan yang dianggapnya indah, luluh lantak dalam semalam. Sakit sekali.

Hidup Mentari akhirnya berubah drastis. Dia tidak percaya kehidupan nyata. Mengurung dan menutup diri dari semua orang. Asyik berbagi dengan dunia barunya, social media.

Hari itu bulan baru kembali menyapa. Tangan Mentari sibuk mengetik beberapa kata. Menguap sekali lagi, menatap jadwal kuliah. Merapatkan selimut dengan kuat. Hingar bingar suara di luar kamar tidak dipedulikannya. Hidupnya telah terkurung entah dimana.

Sebuah nama mencuat disela-sela barisan kata. Bulatan hijau berkedip-kedip memanggil. Mentari membaca nama yang tertera dikotak kecil dengan seksama, mencoba mengingat siapa pemilik nama itu.

Awan

Mentari bergumam kecil. Otomatis tangannya membalas pertanyaan yang terangkai di sana. Terlihat ceria dan segar, berbeda jauh dengan keadaan aslinya.

Hari ini langit bersih sekali. Awan seputih kapas berarak dengan riang. Terlempar halus ke sana kemari mengikuti arah angin membentuk garis indah melengkung dekat dengan matahari. Sebuah senyuman.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 04 Desember 2012

CINTA DI LANGIT


Namanya Mentari, dia gadis ceria yang selalu tersenyum menyambut apa pun. Siapa pun yang melihatnya pasti akan merasa ceria dan hangat. Mentari seakan tidak memiliki beban masalah. Tapi satu hal yang tidak mereka ketahui. Ketika malam menjelang dan matahari redup jatuh diganti bulan, Mentari meringkuk sedih dibalik selimut birunya. Dia kesepian.

Namanya Awan, dia pria yang terlihat tegas dan dingin. Jiwa petualangnya sangat besar. Dia tidak suka terikat dengan hal apa pun. Semua yang bertemu dengannya pasti tahu bahwa Awan tidak mungkin bisa direngkuh. Tapi satu hal yang tidak mereka ketahui. Di hari-hari hilangnya Awan tepat ketika suasana langit tampak muram, Awan bersedih. Dia hanya bisa memendam semuanya sendiri meskipun jauh di dasar hatinya dia sangat ingin berbagi semuanya secara rinci. Dia kesepian.

Di langit cinta apa pun bisa terjadi.
Di langit cinta dua buah nasib bisa terpaut menjadi satu, menyulam benang kebahagiaan.
Di langit cinta ada Awan dan Mentari.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Kamis, 18 Oktober 2012

TAWURAN SEHAT PELAJAR

Tawuran yang terjadi tadi menimbulkan beberapa korban luka . . .

Suara tv terus terdengar menggema diruang tengah. Andin menatap layar persegi dihadapannya dengan seksama, tampak beberapa orang pelajar dengan wajah tertutup masker yang berlari dari kejaran polisi. Ditangan para pelajar tersebut tampak beberapa benda tumpul yang digunakan untuk melempar.

"Masih aja ada yang begini ya?" gumam Andin.

"Jaman udah edan" celetuk Rifka, kakak tertua Andin, "sekarang kalau kesenggol dikit langsung bacok, gak kayak jaman mbak dulu".

"Iya nih mbak, daritadi Andin nonton berita yang disorot masalah itu-itu aja. Yang bikin gerah nih tawuran ini. Yang buat masalah orang-orang itu, yang kena hampir seluruh pelajar. Bergerombol dikit, dikira mau tawuran" gerutu Andin. Ingatannya kembali ke beberapa hari yang lalu.

"Masih kesal ya dek gara-gara dikira mau tawuran?"

"Iya, padahal aku sama teman-teman cuma diskusi tugas doang dipinggir jalan sambil nunggu angkutan. Eh, malah diusir dan dimarahi, dikira mau tawuran" Andin cemberut sambil menerawang jauh.

"Yah begitulah, sepertinya tawuran udah jadi budaya yang salah dikalangan pelajar kita" Rifka duduk termangu menemani Andin, "kadang mbak mikir, kenapa tenaga mereka itu gak dipakai buat ngebantu orang tua di rumah ya? Nyuci atau ngangkat-ngangkat apa gitu"

Andin menghela napas, kakaknya yang satu ini memang selalu suka memberikan komentar yang aneh.

"Eh kenapa kamu? Bener kan? Daripada tenaganya habis dipakai buat mukulin anak orang dan nambahin dosa mending dipakai buat bantuin orang tua di rumah"

"Iya sih kak, jadi tawuran sehat gitu ya?" Aninda memasang cengiran khasnya.

"Tawuran sehat? lebih tepatnya memanfaatkan tenaga yang terbuang karena tawuran menjadi lebih sehat dan bermanfaat" kata Rifka sembari berdiri dan mengepalkan tangannya seolah-olah sedang berorasi.



- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 19 Juni 2012

ADA SEBENTUK KASIH DI KOLONG LANGIT

Sebuah benda padat berwarna merah terjatuh dari langit. Benda itu mendarat mulus di tangan seorang pemuda manis dengan deretan gigi yang tersusun rapi. Pemuda itu berlari menghampiri seorang gadis rupawan yang duduk termenung di bawah pohon ginkgo. Benda padat yang didapatinya tadi diberikan kepada sang gadis. Sang gadis pun tersenyum dan mempersilahkan pemuda manis tersebut duduk menemaninya.
Tak jauh dari dua sejoli tersebut, tampak seorang pemuda dengan paras yang menakutkan. Matanya yang berwarna kemerahan, kulitnya yang berkelupas, serta rambutnya yang terlihat tak beraturan membuat siapapun enggan untuk mendekatinya. Pemuda itu menggenggam semua tongkat dengan ujung yang melengkung indah. Dia baru saja meraih benda padat berwarna merah yang menggantung di langit. Benda itu ingin diserahkannya kepada sang gadis rupawan. Namun, sosoknya yang jelas - jelas menakutkan membuatnya meminta bantuan seorang pemuda rupawan untuk memberikan benda padat itu kepada sang gadis. Sang pemuda dengan paras menakutkan berharap agar gadis pujaannya akan tersenyum seperti hari - hari terdahulu.
Dan kini gadis itupun tersenyum meski sembari menggenggam tangan pemuda berwajah manis.




"Ketika kasih tidak hanya sekedar aku ada untuk memilikimu melainkan aku ada karena kau membutuhkanku meskipun kau tak perlu tahu bahwa aku yang melakukan semuanya untukmu"

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Jumat, 15 Juni 2012

DEAR DADDY

Untuk Ayah yang jauh disana . . .

Ayah sering bilang untuk tidak takut akan apapun yang menghadang karena setiap masalah punya caranya sendiri untuk diselesaikan. Ayah selalu menanamkan kata - kata itu setiap ketakutan ini menimpa. Masih teringat jelas kejadian beberapa minggu lalu ketika seminar Proyek Akhir yang akan kutempuh tiba.

"Fitri takut"

Sms sesingkat itu ternyata menyulut amarah Ayah.

"Belum berperang sudah takut ! Anak kebanggaan Ayah mau menyerah padahal sudah sejauh ini??"

Ayah tahu, jika ada yang lebih menyakitkan dari cinta yang bertepuk sebelah tangan maka pagi itu adalah pagi yang menyakitkan. Aku merasa sakit karena salahku sendiri yang terlalu takut. Memang benar kata Oniisan, selama ini aku terlalu bahagia hidup di zona nyaman. Berada diantara pengawasan Ayah dan Ibu yang luar biasa. Yang selalu ada disaat masalah menghadangku, disaat aku takut dan ingin berlari dari kenyataan. Tapi, sekarang semuanya berbeda.

Kata - kata Ayah pagi itu membuatku bangkit namun kini entah mengapa aku membutuhkan lebih dari itu. Aku ingin bertemu Ayah dan menangis. Selama ini banyak yang bertanya apa aku tidak kangen dengan rumah setelah 3 tahun berpisah? Pertanyaan yang bodoh ! Coba tanyakan hal itu pada diri sendiri.

Aku diam dan selalu tersenyum bukan berarti aku tidak merindukan mereka. Aku juga diam dan selalu tersenyum ketika Maret - April lalu Ayah berkunjung. Aku tidak mau membuat Ayah sedih. Ayah sudah terlihat tua dan lemah tapi Ayah malah berkata semua baik - baik saja.

"Kalau Fitri sudah kerja, Ayah gak usah sibuk ngurus apa - apa lagi. Ayah sama Ibu nikmati masa tua aja di Jawa"

"Hahahaha . . . iya iya"

"Ayah gak usah capek - capek lagi kayak sekarang"

"Tri, yang namanya manusia itu . . . selama dia masih hidup pasti akan kenal namanya capek. Kalau gak mau capek mati aja. Apa mau Ayah mati aja?"

"Enggak"

Percakapan malam yang panjang, sejak dua tahun terakhir tidak ketemu. Asap rokok dari mulut Ayah tergantung di langit - langit kamarku. Aku merindukan suasana ini. Sebelum tidur Ayah mengucapkan sebuah kalimat yang membuatku tertegun.

"Kamu harapan Ayah. Dibanding adekmu, Ayah menaruh harapan besar sama kamu"

Ayah, semoga aku tidak mengecewakanmu. Ayah yang bikin aku bertahan disini. Semuak apapun aku, aku coba bertahan untuk menghadapi semuanya. Sekasar apapun perkataan orang padaku, aku coba bertahan demi Ayah.

Beberapa malam terakhir, aku semakin rindu rumah. Rindu canda Ayah dan Uji ketika menonton bola. Rindu teriakan Ibu yang kesal karena keributan diruang tv. Rindu wangi tembakau di rumah.

Fitri, ingin pulang.


Fitri sayang Ayah, dan apapun kata orang . . . Ayah selalu jadi orang terhebat dalam hidup Fitri sampai kapanpun.

Sincerely

Fitria Rahmawati

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Rabu, 08 Februari 2012

HUJAN YANG CENGENG

"Kadang, cinta itu bukan tentang aku akan menjagamu, bersamamu, selamanya disampingmu. Tetapi tentang kemurnian rasa untuk melepaskan, merelakan, dan menjaga rasa itu dihati. Inilah fase tersulit. Fase dimana kau diharuskan melepaskannya namun tetap mencintainya"


Teruntuk rintik hujan . . .

Maafkan aku yang sering memarahimu, ketika kau turun dengan tenang disela – sela langkahku yang kecil ini. Kau tahu aku tidak suka padamu karena kau terlihat rapuh. Rapuh bagiku yang selalu bersemangat dan mencintai matahari. Aku tak suka melihatmu melompat diantara tanah yang mengering. Kau terlihat bahagia menangisi dunia, yang bagiku tidak pantas untuk ditangisi.

Lihat sepasang flat shoesku ini. Ada noda disana, noda dari tanah berlumpur yang tercipta karenamu. Aku tidak suka ini, bisakah kau sedikit memahamiku? Hari ini, tolong tahan dulu kerapuhanmu itu.
Jangan marah padaku. Aku bukan tidak bersyukur atas turunnya dirimu di bumi ini. Aku hanya ingin melewatkan hariku dengan indah bersama matahari. Matahari yang bisa membuatku tersenyum. Matahari yang bisa membangkitkan kebahagiaan serta melupakan kesedihan dihari itu. Hari dimana kau muncul dengan sangat menakutkan.

Teruntuk rintik hujan . . .

Aku tidak membencimu karena aku mencintamu, sungguh. Tapi, ijinkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri. Caraku yang hanya menatapmu dari balkon, tanpa suara serta tanpa menyentuhmu. Tanpa berinteraksi dengan lembutnya rintikmu. Caraku yang hanya meringkuk malas di dalam kamar untuk menikmati hawa dingin yang kau berikan. Caraku yang selalu memarahimu. Klise memang tapi inilah cinta. Wujudnya abstrak dan selalu berbeda untuk tiap hal.

Teruntuk rintik hujan . . .

Tetaplah seperti itu, menjadi hujan yang mencintaiku meskipun kita tidak akan pernah bisa bersatu. Karena aku akan selalu seperti ini, mencintaimu dari hati dan tanpa tindakan pasti hingga terlihat seperti benci. Pesan terakhirku untukmu, kau akan selalu mendapatkan tempat dihatiku, kau akan selalu mendapatkan cintaku tetapi dengan caraku sendiri. Ku mohon mengertilah keadaan ini.

Untuk Hujan - Dari Matahari


- Regrads Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Senin, 16 Januari 2012

CERMIN DI DINDING



Teruntuk cermin di dinding . . .

Pagi ini aku tak bermaksud mengindahkanmu. Terdiam disudut kamar, bergelung dibalik selimut biru tebal demi mencari kehangatan. Kau tahu, pagi ini cuaca Bandung sedang memaksaku untuk beristirahat. Lampu yang seharusnya berpijar ketika alarm berbunyi pun hanya pasrah tak menyala, gelap. Jadi, jangan marah padaku jika aku tidak menyapamu terlebih dahulu.

Kau tahu, banyak sekali yang ingin ku katakan padamu. Pada lekukan tubuhmu yang lurus dan selalu membiaskan diriku dengan segala kejujuran. Ketika air kesedihan memelukku, aku selalu menatapmu dan berteriak seakan – akan kau mendengarku lalu mendekapku. Dan ketika aku bahagia, aku akan selalu tersenyum padamu sementara kau tetap memantulkan kebahagiaan yang sama.

Kali ini aku ingin bercerita sesuatu padamu, tentang dia. Mungkin kau bukanlah satu – satunya . . . . yang mengetahui hal ini. Tapi, hanya kaulah yang tahu bagaimana riak wajahku ketika bahagia dan sedih karenanya. Kau tahu, apa yang ku rasa saat ini? Indah. Sejak pertama kali mengucapkan sebuah kata untuknya, rasa indah itu muncul. Aku tahu kau pun merasakannya, kau bisa mendengar dan menatap ekspresiku dari sudut tubuhmu kala aku memukul jejeran boneka karena tingkahnya. Segala bentuk gerakku menjadi aneh. Jangan tanya padaku kenapa? Karena aku juga tidak mengerti, semua ini untuk pertama kalinya. Rasa indah ini, ya aku sangat yakin ini untuk pertama kalinya.

Entah apa yang akan dia pikirkan dan rasakan, setidaknya inilah yang terjadi padaku. Jemariku secara tak sadar bisa menggoreskan namanya pada tubuhmu. Ah, maafkan kekhilafanku ini. Aku tahu kau tidak meronta marah padaku tapi aku tetap akan meminta maaf karena telah mengotorimu. Nama indahnya entah kenapa terus menghantuiku.

Pernahkah kau merasakan hal seperti ini? Sepertinya hangat. Semuanya menjalar menjadi satu dan membuat wajahku memerah. Kau melihatnya kan? Kau lihat? Merah ini, indah.

Teruntuk cermin di dinding, sahabat setiaku, tempat membuang isi hatiku . . . tetaplah di sudut kamarku, dengarlah ceritaku.


"tulisan untuk L.O.V.E project, mau menulis setiap rasa syukur akan cinta yang diucapkan kepada apapun :D mendadak kepikiran buat beginian di blog"
- Regrads Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 27 Desember 2011

CATATAN CINTA UNTUK AYAH #2

Bukan karena mereka memarahiku dan menjelekkanku sehingga airmata ini mengalir.
Bukan karena mereka menertawakanku sehingga airmata ini mengalir.
Bukan karena impian itu kembali bangkit sehingga airmata ini mengalir.

Tapi . .
Karena aku mengingatmu, merindukanmu, menyayangimu, mencintaimu

Aku ingin pulang dan mencium aroma tembakau yang menghiasi tubuhmu
Aku ingin pulang dan melihat senyuman yang terbingkai diantara gigimu yang rapi
Aku ingin pulang

Ayah :')

Aku ingat janjiku untuk kembali disaat berhasil
Aku ingat janjiku untuk tidak menangis
Aku masih ingat janjiku :')

Ayah :')

Maafkan anakmu ini . . .
Engkaulah nafasku
Yang menjaga di dalam hidupku
Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik
Kau tak pernah lelah
S'bagai penopang dalam hidupku
Kau berikan aku semua yang terindah


Aku hanya memanggilmu ayah
Di saat aku kehilangan arah
Aku hanya mengingatmu ayah
Jika aku tlah jauh darimu - Ayah by seventeen
 

- Regrads Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 10 Desember 2011

CATATAN CINTA UNTUK AYAH #1


" untuk cinta yang tertuang ke dalam sebuah kertas, Ayah aku mencintaimu "


Catatan cinta untuk orang yang berarti dihidupku, Ayah. Terkadang saya memanggil Beliau dengan sebutan Bapak maupun Pak. Beliau adalah tipikal orang yang keras dan terkadang egois. Aku menyayangi dan mengagumi sosok beliau.

Sejak kecil, sosok Ayah begitu dekat dengan saya. Setiap diomeli oleh Ibu dan nangis sesenggukan, Ayah pasti memeluk dan menenangkan saya. Kedekatan ini semakin terasa setelah saya beranjak dewasa. Ibu terkadang sibuk dengan urusan diluar rumah hingga saya ditinggalkan berdua dengan Ayah.

Ayah adalah orang yang pertama kali mengajarkan saya cara mencuci dan memasak. Hal itu terjadi ketika saya duduk di sekolah dasar. Ibu dan adik lelaki saya pergi ke luar kota sedangkan saya dan Ayah ditinggal di rumah. Saya yang masih kecil mencoba membantu Ayah sekuat tenaga. Ayah meracik bumbu untuk daging yang akan kita makan sembari merendam pakaian. Saya yang masih kecil dan tinggi di bawah rata – rata, mencoba membantu memasak dengan bantuan kursi agar tinggi saya sesuai dengan kompor yang ada. Jika saya terlihat kesulitan, Ayah akan datang menggantikan saya memasak, lalu saya akan berlari dan menggantikan Ayah mencuci. Kenangan manis yang sulit untuk dilupakan.

Masih teringat jelas diingatan saya ketika pertama kali membuat sambal, saya tahu rasanya keasinan dan tidak enak. Maklumlah masih kecil, tapi Ayah dengan senyuman khasnya membuat guyonan ringan lalu menghabiskan apa yang saya masak. Hal kecil seperti ini yang tidak bisa saya lupa. Terkadang, cinta itu sesederhana ini ya.

Sejak SD hingga SMA , Ayah lah yang selalu mengambil rapor dan menghadiri segala macam acara sekolah. Ayah adalah orang yang menjunjung tinggi pendidikan. Dan semangat beliau dalam pendidikan sepertinya menular pada saya. Sejak kecil, keinginan saya untuk menulis dan membaca bisa dikatakan luar biasa. Berbeda dengan anak pada umumnya, saat berumur 3 tahun saya telah memaksa ke dua orang tua saya untuk disekolahkan dan belajar membaca.

Ayah adalah orang yang keras dan penuh disiplin. Beliau dengan tegas akan memarahi saya jika menemukan buku catatan saya tercoret tidak pada tempatnya. Dan orang yang selalu mengecek barang bawaan serta catatan sekolah saya adalah Ibu. Awalnya saya kesal karena merasa diatur dan terlalu dikekang ,tapi ketika saya mengingat kembali hal itu, saya merasakan cinta yang ada didalamnya. Ayah dan Ibu sangat memperhatikan saya hingga hal kecil seperti ini.

Ayah adalah pria yang sederhana, saya telah berapa kali menyinggung hal ini, Ayah hingga sekarang (tahun 2011) masih setia menggunakan sepeda onthel miliknya. Motor yang kini ada dirumah malah digunakan oleh adik dan Ibu. Terkadang sedih mengetahui hal itu.

Saya : Kok motornya dipake si uji? Dia kan belum punya SIM
Ayah : Gak apa – apalah, selama dia gak berbuat aneh – aneh.
Saya : Lha terus Ayah?
Ayah : Naik sepedalah, lebih sehat. Jangan kuatir, wong masih kuat dan muda ini.

Kata – kata itu membuat hati saya ingin menangis, menangis karena ketulusan Ayah yang masih ada hingga sekarang. Sejak saya TK, Ayah telah menggunakan sepeda tersebut. Ayah dengan setia mengantarkan saya kesana kemari, hingga saya SD. Malu ? Tidak, buat apa malu dengan sepeda. Saya malah bangga, bangga karena Ayah dengan senyuman khasnya mengantarkan saya ke sekolah setiap pagi. Menyaksikan saya melambaikan tangan dari balik pagar sekolah. Itulah cinta yang beliau berikan. Saya menyayangi beliau bukan dari apa yang beliau pakai dan apa yang beliau miliki. Tapi, karena beliau adalah Ayah saya, seorang lelaki yang dipilih oleh Allah SWT untuk mengasuh saya. Mengajarkan saya dengan baik dan penuh cinta hingga saya berdiri disini sambil tersenyum.

Ayah selalu mendahulukan kami, anak – anaknya, dibanding dirinya sendiri. Hingga terkadang saya merasa sedih sendiri. Ketika Ayah membelikan sesuatu, misalnya makanan. Ayah akan memaksa saya dan adik lelaki saya untuk makan tanpa memperdulikan beliau.

Dihabisin aja, tenang aja Ayah sih gampang”

Ah Ayah, rasanya tidak ada yang pria yang lebih baik darimu.

Sifat Ayah sangat mirip dengan saya. Kita berdua adalah tipikal orang yang paling susah menyatakan rasa cinta dan sayang secara langsung (lisan). Ayah jarang , bahkan hampir tidak pernah mengucapkan kata – kata cinta dan sayang dibandingkan Ibu. Tapi, Ayah selalu menunjukkan hal tersebut lewat tindakan. Ketika saya sakit, beliau terlihat sangat perhatian.

Ayah tidak pernah mengucapkan lekas sembuh, ayo ke dokter atau sebagainya dibandingkan Ibu. Yang Ayah lakukan adalah membelikan apa yang saya inginkan, menuruti apa yang saya mau dan membuat saya tersenyum. Itu sudah lebih dari cukup. Hingga suatu hari Ayah mengucapkan sebuah kalimat yang tidak pernah bisa saya lupakan.

Ayah mengucapkan kalimat tersebut setelah menerima rapor SMP saya (kelas 9). Nilai saya hampir mendekati sempurna. Tidak ada angka 8 bahkan 7, semua 9. Seluruh keluarga saya dan bahkan saya pun heran.

Ayah dengan wajah sumringah dan gigi yang berjejer rapi berkata dengan tegas “ AYAH BANGGA MA FITRI”

Kalimat yang sangat sederhana namun berarti dan terus saya ingat. Ayah jarang mengucapkan kata seperti itu dan ketika beliau mengatakan hal tersebut, hal itu menjadi sangat sangat sangat indah serta bermakna.

Orang yang paling mengerti dan memiliki kontak batin yang sangat tepat dengan saya adalah Ayah. Tanpa mengucapkan apa yang saya inginkan, Ayah sudah tahu. Saya bisa ingat dengan jelas ketika saya sangat menginginkan sebuah makanan dan hanya memendamnya dalam hati. Ayah datang dan memberikan makanan tersebut tanpa mengucapkan apa – apa. Dan hal ini terjadi tidak hanya sekali tetapi berkali – kali.

Ketika tragedi semasa SMA terjadi, dimana saya terjun bebas dari atas mobil hingga terguling dan pingsan. Ayah telah merasakannya, sejak saya meminta ijin untuk pergi wajah beliau terlihat tidak ikhlas. Mulai saat itu, saya selalu meminta ijin beliau untuk melakukan sesuatu. Jika beliau mengatakan tidak, maka saya tidak akan melanggarnya. Selama saya belum menjadi milik orang lain, perkataan beliau dan Ibulah yang akan selalu saya dengar.

Ayah sangat lihai membaca karakter seseorang. Jika Ayah melarang saya untuk dekat dengan seseorang, berarti saya harus menurutinya karena apa yang beliau katakan akan berdampak dikemudian hari. Saya sangat mengagumi beliau.

Masih banyak kata, kalimat, bahkan paragraf yang bisa saya torehkan untuk Ayah. Catatan ini tidak akan pernah habis dan tidak akan ada habisnya seperti rasa sayang saya pada Beliau. Jika suatu saat nanti, Ayah harus melepaskan saya, yang saya inginkan adalah berada ditangan yang tepat. Tangan seseorang yang pastinya harus diridhai lahir dan batin oleh Ayah, pria yang saya cintai hingga kapan pun J

Apapun yang terjadi saya akan selalu bangga dan bersyukur memiliki Ayah seperti beliau, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang beliau miliki. Tidak masalah jika saya dipandang aneh bahkan dicaci oleh orang lain asalkan saya bisa berdiri disamping Ayah dan melihat beliau tersenyum. Dan asalkan hanya saya yang dicaci, bukan Ayah maupun keluarga yang sangat cintai ini.

“Ayah, terimakasih untuk semua cinta dan kasih sayang yang engkau berikan. Jika suatu saat nanti tulisan ini terbaca olehmu, saya berharap engkau akan tersenyum bahagia seperti biasanya. Thanks for everything, I will  always love you.”


- Regrads Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..