Tampilkan postingan dengan label HOPE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HOPE. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Februari 2013

CINTA NEGERI CAHAYA

Halo dunia yang cerah ceria menyambut hari esok. Hari ini ada kabar dari Putri Matahari. Pangeran Awan mengajak Putri Matahari berkeliling di tanah kelahirannya, Kerajaan Biru. Banyak sekali hal baru yang ditemui Putri Matahari di sana. Dia belajar lagi tentang kepercayaan, rasa sakit hati, dan airmata ketulusan.

Lukisan indah dikanvas kering yang dulu terlupakan oleh Putri Matahari kini terukir lagi. Aku akan menunjukkannya nanti, ketika angin bernyanyi kalam hati dan desahan napas kerinduanmu memanggilku untuk berdongeng tentang kisah cinta dua penghuni negeri cahaya.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 22 Januari 2013

RAHASIA KECERIAAN PUTERI MATAHARI

Alkisah di negeri cahaya, hiduplah seorang puteri manis rupawan. Mereka memanggilnya puteri Matahari. Dia selalu berjalan beriringan dengan pangeran Awan, puteri Bulan, dan ksatria Gemintang. Diantara mereka semua, puteri Matahari terkenal paling ceria. Sudah menjadi tugasnya untuk bersinar dan menerangi sekitarnya. Ajaib. Bahkan ksatria Gemintang yang gagah berani mengikuti perang bintang, dapat meneteskan airmatanya. Apa rahasia puteri Matahari ?

Pertama, melepaskan semua kegundahan pada pangeran Awan. Setiap menyentuh pangeran Awan, kesedihan puteri Matahari terserap. Inilah janji cinta pangeran Awan kepada puteri Matahari.

Ke dua, jeritan untuk botol bening. Puteri Matahari memiliki sebuah botol bening yang penuh dengan gulungan kertas kecil di dalamnya. Ketika sabut botol itu dilepas, aura kesedihan akan merebak. Kertas warna warni di dalam botol tersebut adalah tumpahan kegundahan hati sang puteri. Puteri Matahari tahu, tidak selamanya dia bisa menggantungkan harapan pada pangeran Awan. Hal tersebut - cepat atau lambat - akan menyakiti mereka.

Sampai kapan puteri Matahari akan menyimpan bergunung-gunung jeritan itu? Entahlah.



- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Rabu, 09 Januari 2013

TUAN SEDERHANA DAN TUAN BIJAKSANA

Aku punya cerita. Tentang dia, si kalem yang misterius. Mereka memanggilnya Tuan Sederhana. Hidupnya menatap mantap tanpa meninggalkan pijakan. Iya, dia memang sangat sederhana. Tidak heran wajahku bersemu malu menatapnya kagum. Aku kagum melihat kesederhaan pandangan hidupnya. Pesonanya yang menunggu satu hati. Aku bersemu karena kagum.

Aku punya cerita. Tentang dia, si pendiam yang mempunyai senyuman manis. Mereka memanggilnya Tuan Bijaksana. Mungkin bagi beberapa orang, dia terkesan plin-plan tapi bagiku itulah sisi dewasa penerimaannya. Bukankah kepastian sejati memang milik Yang Maha Kuasa? Sudah, tidak perlu diperdebatkan. Yang jelas, wajahku memanas dan bersemu lebih merah ketika mencoba meliriknya. Ya, aku selalu mencoba menunduk dan melirik sekilas. Itu lebih baik.



- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Jumat, 04 Januari 2013

KETIKA MIMPIMU DITERTAWAKAN

Pernahkah kamu menceritakan mimpimu pada seseorang kemudian ditertawakan? Jika iya, pasti sakit. Tapi biarkan saja, jadikan cambukan semangat bukan dendam kesumat.

Saya juga pernah merasakan hal seperti itu tetapi saya lupa siapa yang menertawakan. Yang membekas adalah kata-kata "Terlalu banyak mimpi, di dunia ini uang berbicara"

Semuanya berawal ketika semua file tulisan saya terbaca. Banyak yang belum selesai, tidak sedikit yang sudah tersusun rapi. Banyak kumpulan cerpen yang mau diikutkan dalam lomba tapi terlupakan begitu saja (my bad).

Kirim ke penerbit.

Saya cuma bisa menggeleng. Saya menikmati waktu menulis dengan ringan, damai, menumpahkan cinta di atasnya tanpa skenario. Meskipun saya juga ingin memiliki buku bertuliskan nama saya sendiri tetapi tidak berniat menjualnya, hingga muncullah mimpi itu. Ingin memiliki rumah baca. Bukan rumah baca biasa, rumah baca yang penuh dengan tulisan polos para pecinta tulis menulis yang ikhlas menyumbangkan tulisannya, dicetak seadanya. Dibaca seluarbiasanya oleh para pengunjung. Tiap minggu akan ada kegiatan mendongeng untuk anak-anak yang mampir, berbagi kerajinan tangan yang dibuat bersama. Sebulan sekali membagikan buku ke mereka yang membutuhkan. Ah, indah sekali. Rumah baca Mentari.

Mimpi buah dari rindu akan senyum anak-anak kecil, pecinta buku, dan para orang tua. Rindu merasakan aroma bahagia ruang baca.

Mimpi yang aneh, jaman sekarang gitu loh! Jangan sok beramal deh!

Alhamdulillah~

Ada yang bilang tidak banyak orang yang diberi anugerah bakat. Kata-kata itu memacu saya untuk melangkah sedikit demi sedikit. Mengumpulkan kepingan mimpi besar saya hingga menjadi satu bagian utuh, suatu saat nanti. Tidak apa ada yang menertawakan karena yang saya cari adalah kebahagiaan versi saya sendiri.

Mimpi membuatmu hidup ! Mimpi membuatmu sadar bahwa ada sesuatu yang harus kamu perjuangkan, bangun!

Pembuktian bukan balasan untuk mereka yang tertawa tetapi pembuktian untuk diri sendiri, sejauh mana kamu percaya akan mimpi itu, sekuat mana kamu bertahan untuk menggapainya.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Rabu, 26 Desember 2012

CUKUP SUDAH

Tatkala kau pikir segala pujian itu indah, mohon pikir sekali lagi. Beberapa hari ini Cahaya sibuk mematutkan bayangan tubuhnya diantara lingkar kehidupan. Merangkai berbagai pola makna dibalik semua sirat rona kebahagiaan. Tidak terhitung berapa kali airmatanya mengalir.

Malam ini, malam keseratus. Genap sudah bulir airmata jatuh merembes kain selimut miliknya. Suara-suara sumbang penuh caci merobek jantung hatinya. Mereka yang dulu mengagungkannya, melempar dia begitu saja. Hanya karena setitik noda. Apalah arti susu sebelanga jika ada nila menetes di kualinya, begitu kata orang.

Tatkala kau pikir segala pujian itu indah, mohon pikir sekali lagi.

Manusia selalu merasa benar untuk urusan kehidupan. Padahal kuasa Tuhan jauh lebih benar, siapa kita berani sekali menghakimi seseorang? (catatan lain, pengingat diri, maaf atas segala salah)

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Rabu, 05 Desember 2012

CERITA FIA


Beberapa bulan terakhir aktivitas kuliah sudah berhenti. Tidak ada lagi tugas. Tidak ada lagi begadang menyelesaikan laporan. Bolak-balik angkat PC, crimping, beli kabel UTP, dan menggendong tiga buah laptop sekali jalan.

Semua dunia engineering sudah berakhir. Dunia yang dulu tidak mau aku lihat bahkan hampir membenci. Tapi akhirnya aku sadar, kalau aku tidak terjebak di dunia itu mungkin aku tidak akan bisa seperti sekarang.

Hari dan bulan sudah berganti dengan cepat. Banyak teman yang sudah berhasil mendapatkan kerja, sibuk kuliah lagi. Aku hanya bisa tersenyum melihat itu semua. Diam di sini dan menunggu.

Beberapa orang mengira aku hanya diam saja di kamar, membuang-buang waktu percuma. Wajar saja karena memang aku lebih sering berdiam diri di kamar. Merenung. Banyak sekali hal yang aku simpan dalam diam tiba-tiba mencuat begitu saja. Bertanya banyak hal. Merutuki berbagai macam hal. Menangisi semuanya.

Bisa gila rasanya melewati itu semua tapi hey sejauh ini aku bisa. Bertahan sampai sejauh ini, lebih lama lagi mungkin bisa. Tumpukan hal-hal yang berserakan di meja setia menemaniku. Melihat merahnya wajahku ketika menangis. Melototnya mataku ketika marah. Ngedumel gak jelas ketika kesal. Bahkan menyakiti diri sendiri.


Iya, aku memang susah sekali menunjukkan ekspresi itu semua bahkan ke sahabatku sekali pun. Banyak merenung dan berpikir membuat aku enggan bertemu orang-orang. Aku tidak ingin diganggu, aku butuh sendiri. Berhari-hari aku menanamkan itu dihatiku hingga aku sadar sebenarnya aku membutuhkan mereka. Manusia yang sebenarnya kesepian bukan butuh senyap sekeliling, hanya butuh didengar.

Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti merenungkan hal-hal yang membuatku bingung. Mencari kesibukan lain. Coret sana. Coret sini. Bukankah ini pelarianku ketika aku merasa sendiri dan tidak ada yang mau mendengar?


Semakin lama pelarianku itu (entah kenapa) terasa semakin menyedihkan. Rasanya sudah cukup. Aku butuh meluapkan hal yang bertahun-tahun aku simpan. Aku butuh sekali didengar. Sekali saja, siapa pun.

Aku bercerita, memutuskan meluapkan semuanya. Kebingunganku. Lega rasanya. Terimakasih.

Sudah mendapatkan jawaban? Alhamdulillah.
Dari sedikit bercerita ada setitik pencerahan. Dari sedikit membaca yang entah kenapa (mungkin ini takdir) aku menemukan sesuatu untuk kebingungan itu.

Sabar. Berusaha. Sebab-Akibat. Berbuat baik.


*

Fia menutup laptopnya, menghela napas. Semua sudah ditulisnya. Ada senyuman yang mengembang disudut wajahnya. Satu-satunya lesung pipit merekah. Sudah lama sekali lesung itu tidak terlihat.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Rabu, 21 November 2012

BIASA ITU LUAR BIASA

Suara merdu menyusup diantara kabel dan terdengar membahana melalui dua speaker kecil. Tanganku lihai mengetik berbagai kata.

"Kau ingin hidup seperti semua tulisanmu?"

Kau berbisik di sebelahku. Senyummu yang gagah membuat jantungku berdegup kencang.

PLAK !

Ku tutup paksa laptop dengan cepat, tak peduli apakah tulisan tadi akan tersimpan sebagai draft atau akan hilang begitu saja.

"Apa?"

Wajahku memerah. Aku paling tidak suka ada yang mengintipku melakukan apa pun yang aku suka. Ini sangat memalukan.

"Hidup seperti itu . . ." telunjuknya mengarah pada laptop.

Wajahnya ikhlas, begitu pun dengan senyum kecilnya. Dia tidak mengejekku, dia hanya bertanya.

"Klise"

Aku suka menulis, merangkai kata indah. Aku suka menggambar, mengukir lekuk indah. Tapi aku bukan wanita romantis yang selalu menginginkan selipan kata mutiara ditiap ucapan atau tumpukan kertas kecil bertuliskan 'aku cinta padamu' disetiap sudut.

Aku suka kata sederhana, yang mengalir dari hati. Aku suka ucapan 'aku cinta padamu' yang jarang terucap, setahun sekali. Sesederhana itu, tapi istimewa. Aku lebih suka duduk diam, menikmati detak jantung atau mendengarkan lagu bersama-sama. Tertawa, memperbaiki lirik yang salah lalu tertawa lagi.

Aku suka saat kau dengan wajah kaku menyerahkan mawar putih.

"Selamat datang di Jogja"

Ucapanmu tulus, tanpa tatapan mata berbinar, tanpa menggenggam tanganku. Hanya menatap lurus ke depan, membunyikan klakson mobil. Cuek? tidak, itulah caramu yang sederhana dan aku melihat ketulusan di sana.

Aku suka saat kau memilah kol diantara soto yang ingin ku makan. Mengatakan masakanku enak di depan mamamu yang tersenyum. Terimakasih karena telah mengajakku bertemu keluargamu.

Aku suka melihat deretan buku di dalam kamarmu, cara mamamu yang menjelaskan segala hal tentangmu bahkan cara adikmu menyelidiki usiaku. Aku suka semua kenangan itu.

Aku suka kita terpisah jarak. Memilin rindu ke dalam sebuah ikatan, berjanji mengunci ini semua hingga waktunya datang. Terimakasih telah menjagaku.

Kau bilang apapun yang kau lakukan terlalu biasa dan aku terlalu banyak berkorban. Bagiku yang biasa itu luar biasa. Call me the old fashioned one. Tapi aku suka saat kau dengan tulus menegurku, memarahiku ketika aku salah, dan memaafkanku ketika aku mulai menangis.

Kadang aku marah, merasa bahwa apa yang kita pilih ini berbeda dari kebanyakan orang. Tapi, bukankah ini indah? Hubungan dari hati, bukan napsu. Berusaha saling percaya dan memegang janji.

Aku suka caramu yang seakan marah melihat pria lain mendekatiku. Itu lucu, tapi aku tahu itu karena kau sayang, percayalah aku tetap menunggu. Bukankah aku telah menunggu hingga sejauh ini? Dua tahun lagi bukan masalah buatku.

Jangan pernah berkata aku telah berkorban banyak, terlalu sabar, terlalu baik karena percayalah aku hanya seorang wanita biasa yang menangis ketika merindu, yang sesak menahan sakit, dan menunggu dengan penuh harap.

Terimakasih karena telah mengajarkanku banyak hal. Sikapmu yang dewasa dan taat membuatku kagum, caramu menahan diri pun membuatku kagum hingga terkadang membuatku malu untuk bertanya. Bukankah kita memang sedang menjaga jarak? Masuk ke dalam sebuah proses.

"Jadi kau mau hidup seperti apa?" Kali ini pertanyaanmu terdengar lebih serius.

"Aku mau hidup biasa dan sederhana, apa adanya"

clannad anime



- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Rabu, 14 November 2012

TUHAN PELUK AKU SEJENAK

Tuhan

Peluk aku sejenak supaya aku tidak merasa sendiri di duniamu yang luas ini. Ijinkan aku kembali mengingat bahwa setidaknya masih ada sebuah pilar untukku bersandar. Mungkin saat ini beberapa pilar penyangga yang telah rusak sedang diperbaiki, mungkin . . .

Tuhan

Peluk aku sejenak supaya aku bisa memejamkan mataku, merasakan kehangatan yang mampu menghilangkan mimpi burukku. Mungkin ini karma karena segala salah yang pernah aku perbuat di masa lalu, entah disengaja atau tidak.

Tuhan

Peluk aku sejenak supaya aku bisa menahan senyuman ini dan bisa memberi semangat untuk semua orang yang telah dan belum ku temui. Jangan biarkan mereka menemukan airmata dan raut sedih diwajahku.

Tuhan

Peluk aku sejenak supaya aku bisa tetap bernafas dan melawan segala sakit ini.
Hanya pada-Mu kini aku memohon, tolong tunjukkan keajaiban sekali lagi seperti masa sekolahku dulu meskipun aku tahu nafas ini sejatinya milik-Mu dan akan kembali pada-Mu. Tapi, bolehkah aku berharap tidak untuk sekarang?




- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Minggu, 04 November 2012

YANG AKU BAYANGKAN



Aku ingat suatu ketika kau bertanya padaku, apa yang akan aku lakukan ketika semua rencanaku terwujud dan kau siap meraih tanganku? Mungkin dulu aku hanya menjawabnya secara klise "hidup bersamamu sudah cukup"

Tapi kini aku membayangkan sesuatu yang lain. Aku ingin hidup luar biasa bersamamu. Membina sebuah keluarga dengan rumah kecil sederhana yang di dalamnya akan hidup sepasang malaikat kecil yang lucu. Rumah kita akan dipenuhi oleh buku-buku yang kau dan aku sukai. Kita akan membuka sebuah perpustakaan kecil. Dipenghujung minggu, kau akan menemaniku membacakan cerita tentang kehidupan, melukis tawa dan canda untuk semua malaikat kecil yang singgah di perpustakaan mini ini. Kau akan tertawa lebar, ya khas tawamu, seraya menggoreskan pensil kecil yang selalu kau bawa. Aku akan memandangmu dengan takjub karena aku selalu kagum pada goresan pensilmu yang menurutku jauh lebih indah dari apa yang aku lakukan.

Setiap shubuh merengkuh, kita akan bersujud mensyukuri kehidupan yang telah diberi. Tersenyum satu sama lain mengawali pagi. Aku akan menyiapkan hidangan yang kau suka sejak dulu, segelas teh hangat dengan roti selai cokelat. Kau akan tersenyum dari ruang tengah sembari membantuku mengurus dua malaikat kecil kita. Dengan penuh kasih dan wibawa, kau menuntun kami semua berterimakasih pada Sang Pencipta atas segala yang telah diberi. Kau akan meninggalkan rumah dengan senyuman hangat dan lambaian tangan yang akan ku rindukan.

Jika matahari telah setinggi kepalaku. Kau akan pulang setelah menjemput dua malaikat kecil kita. Beristirahat sejenak dari kepenatan kerja. Aku akan menyiapkan buah-buahan segar serta makan siang yang selalu kau inginkan. Eits, tapi sebelum itu kita harus bersyukur sekali lagi atas ini semua, bersujud kepada Sang Pencipta.

Ketika malam menjelang, kita akan bermunajat kepada Sang Pencipta sekali lagi sebelum terlelap mengistirahatkan jiwa dan raga yang telah lelah. Kau masih setia di sampingku tersenyum penuh ikhlas, senyuman yang selalu sama sejak dulu.

Ya, aku ingin hidup luar biasa bersamamu karena bertemu denganmu sungguh luar biasa. Aku tahu arti bersyukur dan cinta pada kesabaran.

Ya, aku ingin hidup luar biasa bersamamu karena itu aku masih setia menunggumu hingga saat ini, yang namanya tercatat di sana.



- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 23 Oktober 2012

PILIHAN MENTARI II

II

Mentari menatap lurus ke arah jendela. Kabut shubuh masih menyisakan dingin yang tak tertahan. Selimut biru tebal yang membebat tubuhnya semakin dieratkan.

"Ayah kenapa selalu menelpon sepagi ini" gumam Mentari dengan bibir yang bergetar.

Dengan posisi menyamping di depan pintu kamar dan selimut yang hampir membungkus separuh tubuhnya, Mentari merasa enggan untuk beranjak. Bahkan hanya untuk sekedar kembali ke peraduan kasurnya yang empuk.

"Apa gak terlalu berat?"

Mentari kembali mengingat obrolannya dengan sang Ayah tadi.

"Itu hanya keinginan Mentari. Lagipula yang terpenting bagi Mentari adalah dia mengerti bagaimana harus bersikap sesuai dengan ajaran agama. Mentari tahu Ayah lebih mementingkan sikap dibanding . . ." kata-kata itu menggantung begitu saja diudara.

Mentari tidak bermaksud menyakiti hati Ayahnya. Untuk urusan agama dan ketaatan, Mentari dan Ayahnya memang memiliki pandangan yang berbeda.

"Bagi Ayah asal kamu bahagia, apapun itu tidak masalah"

Kabut perlahan menghilang dari pandangan Mentari. Hawa dingin menusuk mulai menguap bersama cahaya fajar yang menyingsing. Mentari membelai lembut pintu kamarnya yang terbuat dari kayu jati.

BUK !

Tangannya melayangkan sebuah pukulan yang keras. Airmatanya membuncah.

"Ayah, suatu saat nanti apa mungkin pilihanku akan engkau terima?"

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Senin, 22 Oktober 2012

PILIHAN MENTARI I

I

"Jadi, seperti apa pilihanmu?" Ayah bertanya sekali lagi.

Mentari menundukkan kepalanya. Meskipun terpaut beberapa kilometer dari sang Ayah, Mentari tidak dapat menyembunyikan ekspresinya. Bingung.

"Mentari masih terlalu muda"

Handphone putih bersih diremasnya dengan kencang. Bukan itu yang ingin dia katakan tetapi dia tahu bahwa jawaban itulah yang diingankan Ayahnya.

"Mentari juga ingin ada yang menggantikan Ayah untuk menjaga Mentari" batinnya.

"Ayah cuma ingin bertanya kriteriamu" suara berat di seberang pulau terdengar ceria.

"Oh jangan sampai aku dijodohkan"

Mentari mematutkan kepalanya ke tembok perlahan. Bunyi dentuman membuatnya sedikit tenang. Kebiasaan yang aneh namun hanya itulah satu-satu cara untuk membuatnya tetap tenang dan tidak berteriak karena emosi.

"Suara apa itu?"

"Bukan apa-apa kok Yah. Bagaimana keadaan di sana?" Mentari mencoba mengalihkan pembicaraan.

Suasana sejam berikutnya lebih bersahabat bagi hati Mentari. Canda dan tawa yang jauh dari pembahasan mengenai 'penjaga'nya lebih bisa diterima.

Hening.

Mendadak semua canda tawa lenyap.

"Jadi, kembali ke pertanyaan awal. Apa kriteriamu?"

"Hmmmmm" sepertinya Mentari tidak bisa lagi menghindar. Ayahnya selalu seperti itu. Terlalu cepat beberapa juta tahun untuk mengelabui seorang Ayah.

"Ayah cuma bertanya, tidak bermaksud menjodohkan. Bukankah umurmu telah cukup dikatakan matang?"

Suara itu terdengar lembut. Mentari tersenyum. Ah, apapun yang terjadi nanti, pilihan yang ada di depan sana pasti yang terbaik.

"Hafidz Al-Qur'an Yah" jawab Mentari dengan senyum mengembang.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 22 September 2012

SIAPA KAU

Jika kau bertanya padaku siapa yang berarti dalam hidupku? Dengan pasti aku akan menjawab bahwa kaulah orangnya. Kau yang selalu berada disampingku dan tersenyum memberiku semangat. Ketika aku merasa dunia seakan tidak adil padaku, kau memelukku dengan hangat dan berkata bahwa semua pasti akan baik-baik saja. Hariku yang sendu tidak pernah lagi terukir ketika kau menjabat tanganku dengan kuat. Ya, kau selalu ada disisiku bagaikan bayangan.

Jika sekali lagi kau bertanya padaku siapa yang berarti dalam hidupku? Dengan pasti aku akan menjawab bahwa kaulah orangnya. Tapi, bolehkah aku bertanya, siapakah kau?



- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Senin, 17 September 2012

GENIE

Denting jam disela malam menelisik diantara lorong rumah. Aku merasakannya mengalir melewati sepasang daun telingaku yang terbuka lebar. Aku berharap ada suara derap langkah kuda menerobos semak yang menjalar disekitar kastil. Nyatanya tidak.

Aku hampir gila menunggu waktu berganti setiap saat. Rasanya seperti menunggu sekotak susu basi berubah menjadi keju padat tanpa adanya proses yang pasti. Bisakah peri biru datang saja padaku dan mengubah semuanya menjadi lebih pasti? Aku tidak akan mengeluh jika aku diharuskan untuk berubah menjadi pinokio dan terjebak dilautan selama beberapa hari asalkan peri biru datang padaku dan menyulam kepastian.

Setidaknya ada yang bisa aku lakukan.
Setidaknya ada yang bisa aku harapkan.
Setidaknya . . . . bukan aku yang harus terjebak di sebuah kastil dan tak berdaya.

Hari keseratus sepuluh, denting jam baru saja terdengar sebanyak sepuluh kali. Apakah kau ada disana? Ini panggilan keseratus sepuluhku.




- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..