Tampilkan postingan dengan label CERBUNG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERBUNG. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 April 2015

ASTRAL : PHOSPORA


Apa kau yakin hanya kita yang tinggal di dunia ini?
Apa kau percaya dengan lapisan partikel dunia lain?

A1 : DUNIA PHOSPORA

Aku akan bercerita padamu tentang sebuah perjalanan yang mungkin belum pernah kau dengar. Kisah ini dimulai dari sebuah tempat bernama Phospora, dunia teratas tempat banyak makhluk bermukim. Kali ini kita akan pergi ke sebuah pelosok yang jauh dari jangkauan manusia pada umumnya, yaitu kota Sical. Di kota tersebut terdapat seorang anak spesial bernama Lila. Apa yang spesial dari dirinya? Ia tidak bisa berbicara, hanya berekspresi. Ketika semua anak di kota sibuk dengan bermain game online dan mulai menyombongkan mainan mahal mereka, Lila memilih berlari ke hutan. Ia telaten mengumpulkan biji-bijian dan ranting pohon. Di dinding rumahnya berjejer rapi botol berisi biji pohon kastanye, bodhi, dan jarak. Sedangkan di langit-langit rumahnya bergantung silih berganti biji pohon mahoni, pinus,dan ek. Ia sangat spesial.

Lila tidak bersekolah seperti anak-anak pada umumnya. Sang nenek yang tinggal bersamanya yang mengajarkannya banyak hal. Mulai dari berhitung hingga membaca. Oleh karena itu meskipun tidak bersekolah, Lila tetap tumbuh menjadi anak yang pintar. Lila bisa membaca dengan baik serta memahami apa pun dengan cepat. Ia bahkan bisa membaca pertanda sekitarnya. Ia dengan mudah mengetahui kapan hujan akan turun atau hewan buas apa yang akan menyerang kebun kecil mereka. Ia memang spesial.

Suatu malam yang cerah, bulan purnama sempurna membingkai langit. Lila duduk di beranda rumah. Ia menatap langit dan kebun sayur yang membentang luas di seberang. Malam ini seperti ada sesuatu yang beda, namun ia tidak tahu apa itu.

“Kau belum tidur?” Nenek ikut duduk di samping Lila.

Lila menggeleng. Telunjuknya terarah pada bulan dan kebun.

“Pemandangan yang indah bukan?”

Lila mengangguk. Sunyi setelah itu, Lila dan sang nenek menikmati suasana tersebut dengan cara masing-masing.

Tiba-tiba penglihatan Lila berubah. Ia seakan melihat berbondong-bondong orang berjalan menuju hutan. Mereka membawa umbul-umbul berwarna warni. Lila mengedipkan mata serta menggeleng kepalanya, ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia menoleh pada sang nenek yang tampaknya tidak merasa curiga atau bahkan tidak melihat apa yang dilihatnya.

“Kau kenapa?” Akhirnya nenek bertanya.

Lila hanya menggeleng. Ia tidak mau membuat sang nenek curiga atau khawatir dengan apa yang dilihatnya. Mungkin saja pemandangan tadi hanya ilusinya yang muncul karena beberapa hari ini ia susah tertidur.

Di malam berikutnya hal tersebut terjadi lagi. Tidak hanya itu, Lila pun melihat seorang anak kecil diantara pembawa umbul-umbul yang melambaikan tangan padanya seakan mengajaknya untuk ikut serta. Lia menggeleng, ia merasa was-was.

Pagi berikutnya Lila ikut serta dengan sang nenek ke hutan. Mereka akan mengumpulkan jamur untuk dijual ke pasar. Selain itu Lila juga ingin menambahkan koleksi biji-bijian yang ia miliki. Setelah hampir setengah jam mengumpulkan jamur dan beristirahat, Lila memutuskan untuk mengambil kumpulan biji kastanye yang ia lihat di pinggiran hutan.

Banyak sekali biji kastanye yang berserakan di bawah pohon. Lila mengumpulkannya dengan hati-hati. Membungkus biji-biji tersebut ke dalam plastik bening.

KRASH

Sebuah suara daun bergesek terdengar. Lila menyebar pandangannya ke sekeliling. Ada seorang anak kecil dengan tudung gelap yang bersembunyi di balik pohon. Lila tersenyum lalu memanggil anak tersebut. Anak dengan tudung gelap perlahan keluar dari persembunyiannya. Tepat disaat itu, Lila merasakan tubuhnya menjadi sangat lemah. Kesadarannya seakan akan segera menghilang. Dan benar saja, seiring dengan langkah sang anak yang kian dekat, kesadaran Lila pun menghilang hingga akhirnya ia pingsan.

“Kakak”
“Kakak”

Ada suara nyaring yang memanggil-manggil. Lila membuka matanya. Anak yang ia lihat dibalik pohon duduk tepat di hadapannya.

“Kamu siapa?”

Anak itu hanya tersenyum.

“Aku . .” Seketika Lila melotot dan menutup mulutnya. Ia bisa berbicara.

“Kakak tidak usah kaget. Aku Vrana. Selamat datang di Vragel.”

Vrana membentangkan tangannya. Hutan yang sama sekali berbeda terbentang di sana. Pohon-pohon yang seperti gulali dan permen cokelat menghiasi hutan aneh tersebut. Lila tertegun, ia menepuk pipinya sendiri berharap hal ini hanyalah mimpi dan ia akan segera bangun. Namun, ini bukanlah mimpi.

Di sisi lain, tepatnya di dunia Phospora, nenek terlihat pucat. Ia menatap cucu semata wayangnya dengan perasaan khawatir. Ia tahu hari seperti ini akan tiba tetapi ia tidak menyangka akan secepat ini.

“Cepat selesaikan tugasmu dan kembalilah cucuku.”

Lila dan Vrana


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Minggu, 24 November 2013

TOPENG : TRI



Sudah sejam aku berkutat dengan kertas dan pensil. Membuat tulisan dan gambar tidak jelas seraya menikmati segelas cappuccino. Aku suka tempat ini, kafe diujung gang yang sunyi. Tempat favoritku adalah kursi dipojok dinding. Ada sebuah lukisan taman bunga matahari disana.

Kafe ini adalah panggung sandiwara. Setiap hari ada saja manusia dengan tingkah polah yang aneh. Seperti hari ini, ada pasangan yang datang dengan wajah bahagia. Mereka duduk dalam diam ketika menyantap pesanan. Tanpa ada aba-aba darimana pun, si cewek menangis dan mereka pun meninggalkan kafe dengan wajah cemberut.

Manusia itu unik, aku suka memperhatikan hal tersebut. Dan bagi pelayan kafe ini aku adalah salah satu dari manusia unik tersebut.

“Mbak, gak bosan ke sini setiap hari? Eh bukannya gak boleh loh tapi . . . .”

“Gak bosan kok.” Jawabku sambil tersenyum.

Pelayan itu memperhatikan sekeliling, sepi. Dia duduk disalah satu bangku dan mulai mengajakku berbicara. Terlihat dari gestur tubuhnya, dia butuh teman berbagi. Hanya perlu waktu lima menit untuk memancingnya berbicara. Berjam-jam kemudian semua masalahnya diceritakan begitu lancar. Aku menanggapinya dengan tersenyum dan sesekali mengangguk. Ya, dia hanya butuh didengar.

Sejak saat itu bangku disebelahku jarang sepi. Beberapa pengunjung dan pelayan mulai menghampiriku dan menceritakan berbagai masalah yang mereka hadapi. Ah, banyak sekali manusia yang ingin didengar.

Jika berada di kafe ini aku bisa mendengarkan dengan baik karena aku telah mengubur beberapa topengku dan memilih melangkah kepada kepribadian ini. Aku adalah Tri.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Kamis, 03 Oktober 2013

TOPENG : FIA



Malam ini langit terlihat cerah. Bintang membentuk bintik putih di atas sana. Tumpukan lilin tertata rapi diantara kakiku. Api jingga bergoyang mengikuti gerakan angin, sendu tanpa padam sekali pun.

“Kau menikmatinya?” Pria di hadapanku bertanya.

Aku tersenyum.

Tentu saja aku menikmatinya. Mencicipi makanan dari koki terhebat di daratan Eropa. Melihat kerlip lampu dari ruang eksklusif sebuah café. Sajian yang seharusnya diterima oleh seorang wanita.

“Dan untuk hal yang . . .”

“Kita akan membicarakannya nanti Carlos. Aku sedang makan.”

Tanpa mempedulikan tatapan matanya, aku menikmati tiap gigitan steak yang sudah ku potong. Inilah konsekuensi yang harus dia terima jika nekat memaksaku menjadi apa yang dia inginkan. Aku pun bisa berlaku sama. Memaksanya mengikuti kehendakku yang kini sedang berapi-api.

Ini adalah kali ke lima aku memaksanya berkeliling Eropa. Menguras semua hal yang dia miliki, sama seperti apa yang telah dia lakukan.

“Orang tuaku akan datang malam ini.” Dia sibuk memeriksa smartphone miliknya.

“Aku tidak ingin bertemu mereka.”

“Tapi Fia, kau sudah berjanji.”

“Kapan?” Aku menatap lurus ke arah matanya.

Wajahnya yang pucat membuatku sangat bahagia. Sembarang saja dia meraih serbet dan membasuh wajahnya. Dia tampak gugup. Carlos bisa merasakan ketegangan yang merusak batinnya. Hal yang sama seperti yang dirasakan adikku ketika Carlos dengan sepihak membatalkan pernikahan.

“Bukankah kita telah merencanakan ini semua sejak . .”

“Kita?”

Aku berdiri merapikan black mini dress yang ku kenakan, berjalan menjauh darinya.

“Fia!”

“Kau pikir hubungan apa yang kita jalani?”

Wajahnya terlihat sangat ketakutan. Cincin berlian yang sejak tadi digenggamnya kini tergeletak pasrah di lantai. Ke dua orang tuanya yang baru tiba tampak kebingungan. Aku tersenyum santai meninggalkan aura kesedihan di ruangan tersebut. Malam yang sangat indah.

Ayah tidak pernah mengajarkanku untuk membalas dendam, tetapi hidup yang mengajarkanku semuanya. Dan ketika bersamanya aku memutuskan untuk mengubur beberapa topengku. Melangkah dengan satu kepribadian lain. Aku, Fia.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Minggu, 29 September 2013

TOPENG : RAHMA



Ada kalanya aku ingin berteriak ketika jiwa-jiwa di luar sana mulai mengatur tentang bagaimana semestinya bahagia itu. Uang yang melimpah serta kemilau wajah yang bersinar. Aku muak mendengar itu semua. Bukan berarti aku tidak membutuhkan uang atau tidak ingin memiliki kilau tetapi aku jengah diatur dengan peraturan yang bahkan tidak tahu bahwa aku memiliki standar tersendiri.

Hari ini tepat ketika reuni berlangsung, semua raut wajah tampak berseri membagi pengalaman mereka. Ada yang berkata bisa membeli sebuah ferrari dalam seminggu kerja. Ada yang bangga mendapatkan pasangan yang paling keren-well, itu persepsi pribadi yang berbicara. Kepalaku berdenyut cepat, seperti ada yang menusuk isinya dengan sebilah pisau. Dunia apa ini?

Aku memilih duduk menatap fenomena ini. Apa ada yang salah denganku ataukah hanya aku saja yang belum berubah menjadi lebih baik? Ah, oke. Apa itu standar lebih baik?

“Ku lihat kau sudah bisa membeli sebuah rumah baru.”

“. . . .”

“Rahma?”

“Ah ya, hanya sebuah rumah kecil untuk menampung semua ide gilaku.”

“Kau sudah jadi ‘orang’ rupanya.”

Dia membuat tanda kutip pada kata orang. Aku hanya tersenyum dan menggeleng. Hey, apa aku sudah menjadi lebih baik? Entahlah. Aku memutuskan untuk berdiri dan mencari tahu. Bertukar cerita dengan mereka yang aku temui. Sebagian menggeleng dan menatapku heran.

“Kau memilih tempat itu? Rahma, kau bisa mencari tempat yang lebih baik.”

Aku meringis mendengar semua komentar yang mereka ucapkan. Aturan dan standar meluncur bagaikan sebuah pasal-pasal dari tiap mulut mereka. Demi sopan santun, aku memaksakan diri untuk mendengarkan dan sesekali mengangguk. Bukan karena setuju melainkan menunjukkan pada mereka bahwa jiwaku ada bersama mereka, mendengarkan. Dan sepertinya hal itu berhasil karena mereka terus mengoceh tanpa henti. Namun yang tidak mereka sadari adalah kini sebagian dari hatiku mulai berputar di dalam ruangan ini mengumpulkan berbagai macam ide gila.

“Rahma?”

“Ya??”

“Entahlah. Tapi sepertinya kau berubah. Tidak terlalu ceria dan tampak banyak berpikir.”

Aku hanya tersenyum.

Apakah aku berubah? Jika itu standar yang mereka berikan, maka jawabnya adalah iya. Namun jika mengikuti standarku, maka jawabannya tidak. Hari ini aku memutuskan untuk melepaskan topeng itu. Melangkah dengan salah satu kepribadianku. Aku, Rahma.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Senin, 19 Agustus 2013

[POISON SERIES] ROSARY PEA


Kisah ini sangat panjang untuk dituturkan karena begitu banyak pelaku di dalamnya. Kisah ini mungkin akan menjadi kisah tanpa akhir. Bersambung hingga bumi berhenti berputar. Mari kita mulai.

Alkisah di sebuah sudut bumi terdapat satu cekungan besar yang ditutupi berjuta-juta pohon. Kanopi-kanopinya lebat selayaknya janggut seorang pria yang tak pernah bercukur. Debur ombak di bawah cekungan itu tampak mengikis karang besar secara perlahan namun pasti. Karang-karang tersebut menjulang kokoh tanpa adanya camar atau pun hewan lain yang bercengkerama. Sepi, seakan tidak ada satu pun makhluk hidup yang berani mendekati.

Angin utara bertiup kencang, membuat berjuta-juta pohon bergoyang indah. Kabut mulai melingkupi tempat tak terjamah itu. Siluet pohon kurus tinggi menari seperti manusia. Satu dua bayangan hitam mulai melompat kearah laut sementara yang lainnya berdiri di atas pohon, memantau sekitar. Mereka adalah penghuni hutan di cekungan tersebut.

Beribu-ribu tahun yang lalu para makhluk ini dikenal sebagai penjaga hutan. Mereka hidup berdampingan dengan manusia dalam damai. Namun seiring dengan berkembangnya teknologi, keberadaan mereka mulai tersingkirkan – tidak dipercaya.

ROSARY PEA



Tetes embun berkilau diterpa sinar matahari pagi. Badai semalam seakan tidak ada artinya ketika keindahan ini terlihat. Rosary Pea, gadis manis berambut putih mulai memainkan jemarinya menyerap embun-embun didedaunan. Gaun pink keunguannya menyapu tanah basah, meninggalkan bercak coklat.

“Segar”

Rosary Pea meneguk kumpulan embun yang dibawanya. Raut wajahnya terlihat bahagia menatap hutan. Inilah tempat yang paling menyenangkan untuknya, hutan di sebuah cekungan yang sepi. Matanya menatap nanar mangkuk putih yang tergeletak diantara sulur pohon. Beberapa biji kacang polong berhamburan. Rosary Pea teringat kejadian beberapa tahun lalu.

Musim panas setahun yang lalu, Rosary Pea melakukan tugas pertamanya. Dia mengunjungi sebuah perkampungan disudut hutan subtropis. Tugasnya adalah melindungi biota hutan yang indah itu. Rosary Pea akhirnya hidup di tengah-tengah penduduk desa. Semua berjalan sangat indah hingga beberapa orang – yang mengaku – datang dari kota  berkunjung.

Mereka menawarkan sejumlah uang untuk beberapa gelondongan kayu.

“Hanya satu dua pohon, tidak masalah. Bisa ditanam lagi”. Kata-kata dari mulut manis mereka berucap.

Para penduduk yang terbuai akan hal itu meng-iya-kan semuanya. Rosary Pea berusaha memperingatkan mereka namun ucapannya dianggap angin lalu bahkan ia diledek karena ucapannya sendiri.

“Kau masih percaya penjaga hutan? Sudah bukan jamannya lagi, gadis muda!”

Rosary Pea menggeram, dia harus melakukan ‘hal itu’. Akhirnya Rosary Pea menghilang dari perkampungan dan masa paceklik pun dimulai. Para penduduk kelimpungan mencari bahan pangan untuk penghidupan. Hutan tempat mereka bernaung telah habis tak bersisa sedangkan orang-orang kota telah kabur entah kemana. Para penduduk berusaha mempertahankan diri dengan melakukan apa saja. Kekacauan pun terjadi. Saling bantai, tangisan, dan amarah mewarnai perkampungan tersebut. Para penduduk tidak punya kekuatan untuk pergi dari tempat tersebut entah kenapa.

Di tengah kekacauan, Rosary Pea muncul kembali membawa semangkuk kacang polong putih. Para penduduk mendekatinya dengan cepat, merebut mangkuk tersebut.

“Tidak usah terburu-buru, aku punya banyak di sini”

Rosary Pea memunculkan mangkuk-mangkuk yang lainnya. Para penduduk yang kelaparan melahap habis kacang polong tersebut tanpa pikir panjang.

“Satu dua tiga”. Hitung Rosary Pea.

Pada hitungan terakhirnya para penduduk mulai tumbang. Mulut mereka mengeluarkan busa putih yang sangat banyak yang disertai dengan kejang-kejang hebat. Dalam waktu beberapa menit para penduduk serempak kehilangan nyawa mereka. Rosary Pea tersenyum dan mengumpulkan kembali mangkuk-mangkuknya.

“Anggap saja aku melakukan ini untuk kalian semua. Meringankan kesulitan hidup kalian karena cepat atau lambat kalian pasti mati. Dan apa yang kulakukan ini juga merupakan balasan dari hutan atas keserakahan kalian”.


***

Penjelasan :

Rosary Pea atau Abrus Precatorius adalah salah satu jenis tanaman kacang polong yang tumbuh di daerah subtropis. Biji tanaman Rosary Pea mengandung suatu senyawa yang dapat membunuh seorang manusia. Senyawa tersebut dinamai abrin yang mengakibatkan kejang, mual, demam, dan disfungsi gula darah. Obat penawar untuk racun tersebut belum ditemukan.

keterangan lebih lanjut : wikipedia

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Jumat, 07 Desember 2012

CINTA DI LANGIT


Semburat jingga segar menelisik diantara tirai jendela. Biasnya terpancar tepat ke wajah seorang gadis. Kain satin merah melambai-lambai memeluk jendela. Pagi menyapa Bandung.

Embun pagi menyisakan titik-titik dingin disekitar jendela. Lembabnya membuat tubuh enggan untuk tersadar. Butuh waktu beberapa menit untuk gadis itu bergelung dengan selimut biru tebal. Memaksakan diri untuk beranjak dari tempat yang nyaman, kasur empuknya.

Geser sedikit ke kiri. Tangannya meraih laptop hitam pekat di sudut meja. Melirik sekilas jam dan tanggal yang tertera di sudut kiri bawah. Menguap sekali dan merapikan anak rambut kemudian duduk dalam diam. Setiap pagi hal sama selalu dilakukan Mentari. Duduk dalam diam bagaikan pertapa tua. Hatinya sedang kosong karena kabar mendadak yang ia terima.

Mentari masih remaja tanggung. Baru merasakan indahnya masa-masa kuliah. Sibuk mengikuti ospek, mencari sahabat, mengingat nama dan wajah baru, serta berpisah dari keluarga tercintanya. Berat dan indah, mungkin itu yang dirasakannya.

"Kita sampai di sini aja"

Kata-kata itu terus terngiang di telinga Mentari. Hubungan beberapa bulan yang dianggapnya indah, luluh lantak dalam semalam. Sakit sekali.

Hidup Mentari akhirnya berubah drastis. Dia tidak percaya kehidupan nyata. Mengurung dan menutup diri dari semua orang. Asyik berbagi dengan dunia barunya, social media.

Hari itu bulan baru kembali menyapa. Tangan Mentari sibuk mengetik beberapa kata. Menguap sekali lagi, menatap jadwal kuliah. Merapatkan selimut dengan kuat. Hingar bingar suara di luar kamar tidak dipedulikannya. Hidupnya telah terkurung entah dimana.

Sebuah nama mencuat disela-sela barisan kata. Bulatan hijau berkedip-kedip memanggil. Mentari membaca nama yang tertera dikotak kecil dengan seksama, mencoba mengingat siapa pemilik nama itu.

Awan

Mentari bergumam kecil. Otomatis tangannya membalas pertanyaan yang terangkai di sana. Terlihat ceria dan segar, berbeda jauh dengan keadaan aslinya.

Hari ini langit bersih sekali. Awan seputih kapas berarak dengan riang. Terlempar halus ke sana kemari mengikuti arah angin membentuk garis indah melengkung dekat dengan matahari. Sebuah senyuman.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 23 Oktober 2012

PILIHAN MENTARI II

II

Mentari menatap lurus ke arah jendela. Kabut shubuh masih menyisakan dingin yang tak tertahan. Selimut biru tebal yang membebat tubuhnya semakin dieratkan.

"Ayah kenapa selalu menelpon sepagi ini" gumam Mentari dengan bibir yang bergetar.

Dengan posisi menyamping di depan pintu kamar dan selimut yang hampir membungkus separuh tubuhnya, Mentari merasa enggan untuk beranjak. Bahkan hanya untuk sekedar kembali ke peraduan kasurnya yang empuk.

"Apa gak terlalu berat?"

Mentari kembali mengingat obrolannya dengan sang Ayah tadi.

"Itu hanya keinginan Mentari. Lagipula yang terpenting bagi Mentari adalah dia mengerti bagaimana harus bersikap sesuai dengan ajaran agama. Mentari tahu Ayah lebih mementingkan sikap dibanding . . ." kata-kata itu menggantung begitu saja diudara.

Mentari tidak bermaksud menyakiti hati Ayahnya. Untuk urusan agama dan ketaatan, Mentari dan Ayahnya memang memiliki pandangan yang berbeda.

"Bagi Ayah asal kamu bahagia, apapun itu tidak masalah"

Kabut perlahan menghilang dari pandangan Mentari. Hawa dingin menusuk mulai menguap bersama cahaya fajar yang menyingsing. Mentari membelai lembut pintu kamarnya yang terbuat dari kayu jati.

BUK !

Tangannya melayangkan sebuah pukulan yang keras. Airmatanya membuncah.

"Ayah, suatu saat nanti apa mungkin pilihanku akan engkau terima?"

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Senin, 22 Oktober 2012

PILIHAN MENTARI I

I

"Jadi, seperti apa pilihanmu?" Ayah bertanya sekali lagi.

Mentari menundukkan kepalanya. Meskipun terpaut beberapa kilometer dari sang Ayah, Mentari tidak dapat menyembunyikan ekspresinya. Bingung.

"Mentari masih terlalu muda"

Handphone putih bersih diremasnya dengan kencang. Bukan itu yang ingin dia katakan tetapi dia tahu bahwa jawaban itulah yang diingankan Ayahnya.

"Mentari juga ingin ada yang menggantikan Ayah untuk menjaga Mentari" batinnya.

"Ayah cuma ingin bertanya kriteriamu" suara berat di seberang pulau terdengar ceria.

"Oh jangan sampai aku dijodohkan"

Mentari mematutkan kepalanya ke tembok perlahan. Bunyi dentuman membuatnya sedikit tenang. Kebiasaan yang aneh namun hanya itulah satu-satu cara untuk membuatnya tetap tenang dan tidak berteriak karena emosi.

"Suara apa itu?"

"Bukan apa-apa kok Yah. Bagaimana keadaan di sana?" Mentari mencoba mengalihkan pembicaraan.

Suasana sejam berikutnya lebih bersahabat bagi hati Mentari. Canda dan tawa yang jauh dari pembahasan mengenai 'penjaga'nya lebih bisa diterima.

Hening.

Mendadak semua canda tawa lenyap.

"Jadi, kembali ke pertanyaan awal. Apa kriteriamu?"

"Hmmmmm" sepertinya Mentari tidak bisa lagi menghindar. Ayahnya selalu seperti itu. Terlalu cepat beberapa juta tahun untuk mengelabui seorang Ayah.

"Ayah cuma bertanya, tidak bermaksud menjodohkan. Bukankah umurmu telah cukup dikatakan matang?"

Suara itu terdengar lembut. Mentari tersenyum. Ah, apapun yang terjadi nanti, pilihan yang ada di depan sana pasti yang terbaik.

"Hafidz Al-Qur'an Yah" jawab Mentari dengan senyum mengembang.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Kamis, 16 Agustus 2012

JANJI – JANJI AYAH VI

VI

Dunia berputar, keadaan berbalik. Sekarang aku berhasil dekat dengan Ibu dan mendapatkan cinta James sedangkan Siska jatuh tersungkur ke dalam posisiku terdahulu. Hubungan Siska dan James berakhir dan aku masuk ke kehidupan James sebagai pengganti Siska. Siska dan Ayah sangat menentang hubungan kami, sementara Ibu bersikap biasa saja – tidak memihak siapapun dan Alvin yang menurut kabar terakhir ada di Amerika, tidak pernah menghubungiku lagi semenjak aku menceritakan perihal hubunganku dengan James. Sepertinya dia berpihak kepada Ayah dan Siska atau entahlah, aku sudah tidak peduli lagi.

“James itu tidak sebaik yang kamu bayangkan” Siska selalu berkata seperti itu, begitupun dengan Ayah.

Rasanya Siska hanya cemburu dengan keberhasilanku yang sekarang sehingga dia mencoba menarik simpati Ayah dan kembali menjatuhkan aku. Mereka berdua selalu mencoba menghalangi niatku untuk bersatu dengan James. Hingga tibalah saat dimana semua kemarahan memuncak dan Ibu yang selalu memilih posisi tenang akhirnya kembali berpihak pada Siska.

“James itu bukan pria yang baik. Ayah tidak pernah setuju hubungan kalian lebih dari sekedar sahabat dan sekarang kamu mau bertunangan dengannya?” Ayah melotot tajam ke arahku.

Ibu yang duduk di samping Ayah coba menenangkan hati Ayah sementara Siska tetap tertunduk lesu.

“Ini sudah tekadku dan seperti janji Ayah, Ayah akan selalu merestui apapun yang akan aku lakukan” kataku tak mau kalah.

“Ayah akan merestui seandainya pria pilihanmu bukan James”

“Bukankah dulu Ayah yang paling bersemangat saat tahu aku menyukai James?” aku mencoba mengingatkan hal ini kepada Ayah dan berharap Ayah melunak.

“Itu dulu sebelum Ayah tahu pria macam apa dia”

“James pria yang baik, Yah. Apa sih yang sudah dikatakan Siska sampai Ayah benci setengah mati pada James?” aku mulai melemparkan kekesalanku pada Siska yang sejak tadi hanya menunduk.

“Kau . . .”

“Flora . .”Siska mencoba memotong perkataan Ayah yang penuh emosi, “ James itu pria yang kasar dan licik. Selama ini dia mendekatiku hanya ingin memanfaatkan semua yang ku miliki. Dia mengira akulah anak pertama keluarga ini. Keluarga ini tumbuh sebagai keluarga yang sukses dan James ingin merebut semua ini, seperti yang selama ini dia lakukan pada . . ”

“BOHONG!!”

“Percayalah padaku Ra” Siska meraih tanganku dan memaksaku duduk kembali, “awalnya aku juga berpikir seperti itu hingga aku menemukan beberapa bukti tentang James. James selama ini yatim piatu dan orang yang dia akui sebagai keluarga, tidak lebih dari sepasang suami istri yang dia tipu. Dia menguras harta mereka dan mengancam kehidupan mereka”

Kepalaku pusing, aku tidak bisa mencerna lebih jauh perkataan Siska. Apa mungkin perkataan Siska itu benar adanya? Atau dia hanya mencoba merebut kembali apa yang sudah aku miliki?

“Jangan percaya dia” James masuk ke dalam rumah dan dengan cepat menggenggam tanganku.

“Om dan Tante, mungkin dulu saya pria yang bejat tapi sekarang semuanya berubah karena Flora. Siska hanya cemburu dengan apa yang Flora raih selama ini”

Aku pun semakin kalut. Benar kata James, sepatah kalimat yang diucapkan James barusan memang lebih nyata dibandingkan perkataan Siska tadi.

“Diam kamu !” Ayah membanting meja dengan penuh emosi.

Selama sekian tahun hidup bersama Ayah, baru kali ini aku melihat Ayah semarah ini.

“Ayah ! “ aku mulai berbicara dengan tatapan berlinang airmata,”selama ini aku bahagia karena Ayah selalu menepati janji Ayah untuk berada dipihakku dan membiarkan aku meraih kebahagianku. Ayah pasti mengerti kenapa aku membenci Siska. Dia sudah merebut beasiswaku, cinta Ibu, bahkan cinta James ! Merebut semua kebahagiaanku !”

“Flora . . .” Ibu ikut menangis,”maafkan Ibu tapi selama ini cinta Ibu padamu tidak direbut oleh siapa – siapa”

“BOHONG !! aku bisa merasakan semuanya ! Orang ini” aku mengarahkan telunjukku pada Siska, kemarahanku yang terpendam membuncah sudah, “dia sudah merebut semua kebahagiaanku ! Tidak bisakah kalian membiarkan aku memilih jalanku sekarang?”

Ayah, Ibu, dan Siska terdiam. James menggenggam tanganku lebih erat. Aku hanya ingin mereka tahu bahwa aku ingin menjaga kebahagiaanku ini, menghabiskan hidup bersama James. Dan aku ingin mereka lebih mempercayaiku dibanding Siska.

“Om dan Tante, saya dan Flora saling mencintai”

“Iya, Ayah harus memegang janji Ayah. Membiarkan aku menentukan jalan hidupku”

Ayah terpaku menatap ubin. Raut wajahnya terlihat sangat marah namun Ayah tahu tidak akan bisa melakukan apapun untuk menghentikan niatku ini.
Itulah hari terakhir dimana aku bisa melihat Siska lagi. Hari itu, Siska pergi dari kehidupan kami. Seiring berjalannya waktu hubunganku dengan kedua orang tuaku kembali seperti biasa namun seperti ada sesuatu yang mengganjal. Ibu memang perhatian lagi padaku dan membantuku mengurus pernikahan hingga jatuh sakit sementara Ayah tetap mencoba menunjukkan rasa kecewanya terhadap pilihanku.
Biar bagaimanapun Ayah harus ingat semua janji itu.

continue . . .


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Senin, 09 Juli 2012

JANJI - JANJI AYAH V


V

Ayah sedang asyik membaca koran hari ini sambil menikmati secangkir kopi hitam di taman depan rumah. Dari dapur aku bisa melihat wajah Ayah yang semakin menua. Tak jauh dari Ayahku duduk, pria lain yang kusayangi pun sedang menikmati secangkir kopi sambil membaca koran. Mereka berdua tampak menikmati dunia sendiri.

“Aku mau masuk dulu” suara kaku pria yang kusayangi terdengar jelas.

Pria itu berjalan ke arahku sambil tersenyum masam. Aku tahu dia tidak nyaman dengan kehadiran Ayah di rumah kami tapi aku tidak bisa berbuat banyak. Sejak Ibu dirawat di rumah sakit, Ayah tidak bisa ditinggal sendiri. Di usianya yang semakin senja Ayah juga memerlukan perhatian khusus dan sebagai anak semata wayangnya, aku harus melakukan hal tersebut meskipun rasa engganku telah menggerogoti hatiku.

“Katamu hanya dua hari” pria yang kusayangi menarikku ke dalam kamar dan mulai marah.

“Mau bagaimana lagi, aku kira Ayah bakal pergi dengan sendirinya tapi ternyata Ayah masih betah disini. Lagipula kita gak bisa biarin Ayah tinggal sendirian, bagaimanapun juga dia masih Ayahku dan mertuamu”

“Alasan ! Kamu kan bisa bilang sama Ayah kalau kamu gak betah Ayah disini. Kita pengantin baru, sudah seharusnya Ayahmu itu mengerti !!” suaranya mulai meninggi.

“Pelankan sedikit suaramu”

“Biarkan saja !! Supaya Ayahmu bisa dengar semuanya. Sudah sejak awal dia tidak setuju hubungan kita !! Aku yakin sekarang Ayahmu disini karena ingin memisahkan kita !” dia mulai berteriak.

“Tolong jangan bicara seperti itu tentang Ayah” airmataku mulai menetes.

“Kenapa? Bukannya kamu juga bosan dengan tingkah Ayahmu itu? Bosan dengan semua janji – janjinya?”

Aku terdiam. Memang benar aku bosan dengan semua janji Ayah dan merasa kecewa dengan janji – janji itu tetapi Ayah tetaplah Ayah.

“Sudah berhenti menangis” dia menarik tanganku dengan kasar.

Tok tok tok . . .

“Flora?” suara Ayah terdengar lembut menyapa dari depan pintu.

Aku berlari dengan cepat ke arah pintu sambil menghapus jejak airmata yang tadi sempat mengalir.

“Ada apa Yah?” aku mencoba berbicara dengan intonasi yang tenang.

“Ayah mau pulang ke rumah. Kata dokter Ibumu sudah bisa dirawat di rumah. Maaf Ayah telah merepotkan kamu”

Sebuah tas besar telah tersampir dibahu Ayah. Sepertinya Ayah mendengar pertengkaran kami tadi.

“A-Ayah”

“Sudah tenang saja, Ayah bisa pulang sendiri kok”

Sepi. Siluet Ayahpun menghilang dengan cepat. Rasa hampa menyergap ke dalam ragaku. Kenangan dan rasa seperti ini pernah ku alami dulu.

*

Membiarkan semuanya berjalan dengan semestinya malah membuat hidupku terasa semakin suram. Bayangan Siska di dalam hidupku semakin terasa. Di rumah, Ibu selalu mengutamakan Siska sedangkan didalam lingkaran persahabatan kami James lebih memilih Siska dibanding aku. Dan hanya menunggu waktu yang tepat hingga akhirnya James benar – benar memilih Siska sebagai pendamping hidupnya.

“Ini akibatnya berdamai dengan keadaan !!” aku mulai membenci perkataan Ayah.

“Semua pasti ada hikmahnya Ra” Alvin selalu mencoba menenangkanku.

“Iya memang ada ! Aku tidak boleh berhenti membenci Siska. Dia sudah merebut semuanya dariku” aku berteriak marah dan meninggalkan Alvin terpaku sendirian di taman.

Hari berganti hari, masa kuliahku terlewati dengan berkonsentrasi mengalahkan Siska serta merebut semua hakku yang diambilnya. Aku mulai berhenti berbicara kepada Ayah dan Alvin mengenai semua rencanaku. Menurutku itu percuma karena mereka akan selalu memintaku untuk berdamai dengan keadaan, bersikap bijak, atau apapun itu. Omong kosong.

Sekarang yang aku yakini adalah aku harus merebut kebahagiaanku sendiri. Cara apapun akan ku tempuh. Pertama, aku harus merebut kasih sayang Ibu dari Siska. Untuk mewujudkan hal tersebut aku selalu mencoba bersikap semanis mungkin terhadap Siska agar Ibu bisa sedikit bersimpati padaku. Prestasiku di kampus juga harus aku tingkatkan agar Ibu semakin senang dan bangga padaku melebihi Siska.

Bersikap baik pada Siska membuahkan hasil yang sangat bagus. Siska sangat mempercayai aku sehingga aku dengan mudah bisa menghancurkan semua rencananya. Menghancurkannya dari dalam jauh lebih gampang dan menyakitkan. Lagipula, dia tidak akan pernah menyangka aku yang kemudian akan menghancurkan hidupnya.

Rencana pertamaku untuk meraih cinta Ibu telah berjalan sukses, dan rencanaku untuk merebut James pun telah berjalan dengan mulus bahkan sebelum aku menjalankan rencana tersebut. Belakangan ini Siska dan James sering sekali bertengkar entah apa alasannya. Yang jelas James selalu mencariku untuk berbagi keluh kesah. Tidak ada yang lebih indah dibandingkan hal ini.

“Sudah ada waktu untuk Ayah?” Ayah menerobos begitu saja ke dalam kamar.

Sudah hampir empat tahun aku tidak berbincang banyak dengan Ayah. Aku selalu berlari dan mencari alasan untuk tidak berbicara berdua saja dengan Ayah. Entah sejak kapan cara Ayah berbicara padaku pun berubah. Dulu Ayah selalu menyebut namaku seolah aku masih gadis kecilnya namun sekarang Ayah memperlakukanku selayaknya anak gadisnya yang telah dewasa.

“Eh ada apa Yah?”

“Pola hidupmu semakin berubah sejak kamu dewasa. Alvin sering menanyakan kabarmu. Sekarang dia sudah bekerja di perusahaan ternama di Amerika”

“Baguslah” kataku singkat.

“Kenapa kamu tidak pernah menghubunginya lagi?” Ayah mencoba bertanya sambil meneliti koleksi bukuku, seperti kebiasaan Ayah selama ini.

“Aku sibuk Yah”

“Sibuk apa menghindar?”Ayah menatapku sekilas lalu beralih ke jejeran buku,” Ayah tahu kamu menghindari Ayah dan Alvin karena kita selalu menasehatimu untuk tidak melakukan hal yang aneh – aneh terhadap Siska”

“. . . .”

“Apa yang selama ini Ayah katakan padamu hanya angin lalu?”

“Aku . . . aku tidak mengerti apa kata Ayah” jawabku gugup.

“Kamu mengerti, sangat mengerti. Ayah sudah berjanji untuk mengembalikan langkahmu yang berbelok ke jalan yang salah. Sejauh ini Ayah lihat, kamu telah berjalan ke arah yang salah. Siska tidak seburuk apa yang bergejolak dipikiranmu.”

Sekarang Ayah membela Siska? Aku tersentak dengan pernyataan Ayah itu.

“Ayah juga berjanji untuk membiarkan aku meraih kebahagiaanku” desisku menahan marah.

“Tapi ini bukan kebahagiaan yang sebenarnya. Flora, coba gunakan hatimu untuk melihat ini semua”

“Ayah sudah janji !! Ayah sudah janji untuk membiarkan aku meraih kebahagiaanku dan inilah caraku” amarahku mulai tersulut.

Ayah menghela napas dan memandangiku dengan tatapan sedih. Aku tidak tahan melihat tatapan mata itu. Aku memilih menundukkan pandanganku.

“Baiklah. Tapi kamu harus ingat, kebahagiaan yang terbentuk dengan merebut kebahagiaan orang lain bukanlah kebahagiaan sejati. Itu hanyalah napsu belaka. Dan Ayah minta, jauhi James. Kamu tidak tahu seberapa busuknya dia. Siska sudah menceritakan semuanya pada Ayah”

Aku mengepalkan tanganku. Tahu apa Ayah tentang kebahagiaanku? Bukankah selama ini justru Siska yang telah merebut semuanya dariku? Kenapa Ayah melarangku mendekati James? Entah apa yang telah Siska katakan hingga sekarang Ayah berpihak padanya.



continue . . .

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Kamis, 05 Juli 2012

JANJI - JANJI AYAH IV


IV



Kata orang, cinta pertama adalah cinta yang paling sulit dilupakan. Dia menelisik jauh ke dalam hati kita secara perlahan, tanpa kita sadari. Itulah yang terjadi padaku ketika bertemu dengan seorang lelaki di tempat kursusku. Nama lelaki itu adalah James Aji Wijaya. Seorang lelaki blasteran Belanda – Jawa yang terlihat begitu bersinar dimataku.

“Ganteng banget” desisku saat James melintas dan melambaikan tangannya padaku.

“Iya udah tahu. Kalau dihitung – hitung udah hampir seribu kali kamu ngomong kayak gitu Ra” Alvin menanggapi dengan sinis.

Ah aku hampir lupa, entah bagaimana caranya berminggu – minggu kemudian aku dan Alvin menjadi sangat dekat. Awalnya hal tersebut membuahkan gosip tak sedap di area sekolah. Banyak yang mengatakan jika hubunganku dengan Alvin melebihi hubungan pertemanan namun seiring berjalannya waktu, gosip tersebut hilang selayaknya debu yang terbawa oleh angin.

Lagipula sejak awal memang aku telah berjanji untuk tidak menyukai Alvin melebihi rasa sukaku terhadap seorang teman atau sahabat. Sikap Alvin yang mirip dengan Siska membuatku takut untuk menjalin hubungan lebih dengannya. Dan sekarang aku telah memilih tambatan hati sendiri, James.

“Bagaimana kabar pangeran Belandamu?”

“Makin matang Yah, ternyata dia pintar banget” jawabku bersemangat.

Mungkin ini terdengar aneh tetapi aku lebih suka membagi ceritaku dengan Ayah dibanding beberapa sahabatku. Masalah apapun pasti akan ku ceritakan kepada Ayah, termasuk masalah hati. Ayah selalu bisa memberikan tanggapan baik akan hal yang aku ceritakan. Terkadang Ayah bersikap selayaknya sahabat yang memeluk segala ceritaku dengan santai namun terkadang Ayah bersikap selayaknya seorang kepala keluarga yang ingin menjaga putri kecilnya.

“Baguslah, jadikan itu penyemangat buat belajar. Ingat, Flora sudah kelas tiga dan sebentar lagi mau UAN. Fokus sama masa depan dulu” sepertinya malam ini Ayah berperan sebagai seorang Ayah.

“Kan cinta juga ada hubungannya sama masa depan Yah” kataku sambil nyengir.

“Ya sudahlah, nanti kalau sibuk Flora juga bakal lupain masalah ini”

Sekali lagi Ayah benar. Semenjak mempersiapkan diri menghadapi UAN, aku mulai berhenti memikirkan James dan segala macam hal yang berkaitan dengannya. Aku fokus untuk meraih prestasi sekali lagi dan membuat bangga Ayah. Ayah, Ibu, Alvin, bahkan James banyak membantuku. Rasanya sangat menyenangkan memiliki orang – orang yang selalu memberikan energi positif padamu. Segala sesuatu yang terlihat menakutkan berubah menjadi mudah seketika itu juga.

Dan pada akhirnya hari – hari berat pun terlewati dan masa indah kembali menghampiriku sekali lagi. Aku diterima disebuah perguruan tinggi ternama di kotaku bersama dengan Alvin dan juga James. Aku, Alvin, dan James menjadi tiga sahabat yang tidak terpisahkan. Rasa cintaku pada James kini tumbuh semakin besar. Mungkin dulu karena kesibukan yang ada aku bisa sedikit melupakan masalah ini, namun seiring berkembangnya waktu aku menyadari satu hal bahwa rasa ini tumbuh semakin dalam dan mengakar kuat.
Awalnya aku merasa tidaklah mengapa jika rasa ini tidak tersampaikan pada James selama aku masih bisa melihatnya dari jarak dekat dan menjadi orang pertama yang mengetahui semua tentangnya. Namun, kehadiran Siska di rumahku sekali lagi membuat aku tidak bisa berdiam diri saja.

*

“Siska sering ngirim email ke Flora kok, tapi tidak pernah ada balasan. Siska pernah sesekali telpon ke rumah, cuma diangkat sekilas terus sambungannya terputus. Siska pikir Ibu sekeluarga lagi sibuk makanya Siska mutusin gak hubungi ke rumah lagi” Siska menjelaskan panjang lebar kepada Ibu yang tadi mengatakan kekecewaannya.

Aku menghela napas dari sudut ruangan, berharap kehadiran Siska hanyalah mimpi belaka. Tetapi ketika melihat tatapan tajam Ibu, aku sadar ini adalah kenyataan. Kenyataan yang teramat pahit.

“Flora, kenapa kamu tega berbohong sama Ayah dan Ibu?” Ayah mendekatiku sambil berbisik perlahan.

“Ayah tahu kan kalau Flora gak suka sama dia” aku melemparkan pandanganku pada Siska yang masih asyik bercerita.

Ayah terlihat kaget dengan penyataanku.

“Ayah kira Flora sudah berdamai dengan keadaan”

“Flora memang sudah berdamai dengan keadaan tapi Flora tidak bisa berdamai dengan rasa sakit hati”

Aku melengos begitu saja setelah mengatakan hal itu. Masa bodoh jika akhirnya Ayah atau Ibu akan memarahiku. Aku hanya ingin mereka sadar bahwa aku tidak suka Siska merebut semua yang telah aku miliki saat ini.

“Siska ada disini” aku berbisik perlahan di telepon.

Selain Ayah, aku masih memiliki Alvin yang telah tahu semua ceritaku tentang Siska dan rasa sakit yang tanpa sengaja dia ciptakan. Meskipun suka pada James, aku lebih memilih untuk bercerita kepada Alvin.

“Ya udah biarin aja. Jangan sampai rasa kesalmu bikin semuanya hancur. Kamu kan sudah berubah banyak dan jadi jauh lebih hebat dibanding Siska” suara Alvin terdengar berapi – api dari seberang.

Aku hanya bisa tersenyum simpul menanggapi komentar Alvin. Sejam kemudian terlewati dengan semua curhatan kekesalanku. Alvin yang sesekali ku ejek memiliki perangai yang mirip dengan Siska menanggapi semuanya dengan bijak dan bagiku ini sangat aneh.

“Obrolan dengan Alvin masih mau berlanjut?”

Teguran Ayahlah yang membuat sambungan itu terputus. Ayah masuk ke dalam kamarku sambil tersenyum ramah, selalu seperti itu.

“Kalau Ayah mau memarahi Flora, silahkan saja” kataku kesal.

“Ayah gak mau marah kok” tangan Ayah menarik sebuah buku tebal dari jejeran rak buku,”kamu sudah pernah baca buku ini kan?”

Ayah menunjukkan sampul buku tebal tersebut. Buku bersampul cokelat lusuh itu terlihat sedikit berdebu. Terakhir kali aku membaca buku itu adalah ketika SMP tapi aku masih mengingat dengan jelas apa isi buku tersebut. Buku itu bercerita tentang seorang pengembara yang suka sekali membohongi penduduk desa dan pada akhirnya meninggal karena kebohongannya sendiri.

“Masih ingat ceritanya?”Ayah kembali bertanya.

Sepertinya aku tahu kemana arah pembicaraan Ayah. Aku pun mengangguk pasrah, apapun yang akan Ayah katakan nanti sebaiknya aku terima.

“Untunglah Flora masih ingat. Ayah takut Flora berubah menjadi sang pengembara.”

“Maafkan Flora”

“Iya, sudah Ayah maafkan. Ayah tahu Flora masih sakit hati dengan kedekatan Ibu dan Siska, tapi coba Flora sedikit berbesar hati. Siska sudah kehilangan seluruh anggota keluarganya, dia hanya memiliki kita. Coba bayangkan kalau Flora berada diposisi Siska, apa yang Flora rasakan jika keluarga tempat bertumpu Flora bersikap seperti sikapnya Flora ke Siska?”

Bulir airmata perlahan menetes dipipiku. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padaku jika kehidupanku dan Siska ditukar. Rasanya pasti sulit dan sedih sekali. Ayah mengusap punggung kepalaku, mencoba menenangkan kesedihanku.

“Flora bakal minta maaf ke Siska, Yah. Makasih sudah mengingatkan Flora”

“Iya, itu sudah kewajiban dan janji Ayah”

*

Aku mulai berdamai sekali lagi dengan Siska. Aku mencoba bersikap sebaik mungkin dan menjaga perasaan Siska serta Ibu. Sebagai langkah awal, aku mengijinkan Siska untuk masuk ke duniaku dengan mengenalkannya pada ke dua sahabatku, Alvin dan James. Namun, sesuatu tak diduga pun terjadi dan keteguhanku buat berdamai pun goyah.

“Siska?”

“James?”

Siska dan James saling bertatap kaget saat aku coba memperkenalkan mereka. Bukan hanya mereka yang kaget, bahkan aku dan Alvin pun sempat tertegun lama menatap Siska dan James yang akhirnya berbicara sangat akrab.

“James ini teman satu sekolahku di Singapura dulu tapi dia mendadak pindah” jelas Siska.

Aku dan Alvin pun mengangguk paham. Relung rasa sakit membuncah lagi. Ya Tuhan, kenapa setiap aku ingin berdamai dengan Siska selalu saja ada hal yang mengusik semuanya?

“Makasih ya Ra” kata Siska sambil tersenyum tulus saat kami berjalan menuju rumah.

“Terimakasih untuk apa?” tanyaku heran, bukankah selama ini aku selalu bersikap sinis padanya?

“Berkat kamu, aku bisa ketemu sama James lagi. Dia cinta pertamaku”

Seperti disiram air es seember penuh tubuhku pun membeku, kaku ditempat.

*

“Jadi?” Alvin kembali bertanya setelah aku berbicara panjang lebar mengenai perasaan Siska terhadap James.

“Ya ampun Vin, masa kamu gak ngerti sih. Aku sudah bosan jadi rivalnya si Siska dan selalu saja kalah. Entah dalam urusan sekolah maupun meraih cinta Ibu. Masa sekarang . . .” kata – kataku menggantung diudara begitu saja. Kemungkinan terburuk pun meluncur dengan cepat di kepalaku.

“Jalani aja dulu Ra. Belum tentu juga kan si James suka sama Siska”

“Benar kata temanmu” Ayah muncul mendadak dari pintu.

Aku memajukan bibirku dan merengut, bukan karena Ayah yang sepertinya menguping pembicaraan kami tetapi karena Ayah selalu mendukung perkataan Alvin.



continue . . .

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..