Tampilkan postingan dengan label DRAWING OR PAINTING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DRAWING OR PAINTING. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Mei 2014

DENGAR [AWAL]

“Aku benci saat mataku terpejam.” Hal itu selalu berdengung dikepala Ariana.

Hari ini seperti biasa ia duduk diantara nyanyian angin yang menyerbu pepohonan. Beberapa wanita dan pria tampak lalu lalang. Sesekali tawa membuncah ketika bisik-bisik kecil dilontarkan. Ariana mengencangkan headset ke telinga, sayang headset sebagus itu hanya menggantung dilehernya. Jempolnya kini tengah memilih lagu mana yang akan ia dengar.

“Boleh aku duduk di sini?”

Ariana mengangguk singkat lalu menutuskan lagu apa yang sebaiknya ia dengar. Sebuah musik klasik dari seorang komposer ternama kini mengalun. Suara dentingan piano yang sangat anggun memanjakan telinga. Semilir angin dan aroma tanah yang basah menambah kenyamanan dihati. Ariana pun terpejam. Jiwanya seakan dibelai oleh suasana yang menyejukan itu.

“Apa yang harus aku lakukan dengan lembar jawaban ini?”

Sebuah suara menyusup ke dalam alunan nada-nada.

“Aku tidak ingin berlaku curang tapi jika aku tidak melakukannya maka . . . maka . . .”

Suara itu semakin jelas terdengar.

“Aku harus bisa mengalahkan anak-anak pindahan itu. Impianku akan hilang begitu saja jika aku tidak melakukan ini. Sudah cukup aku dipermalukan dengan hasil try out kemarin.”

Ariana menghela napas. Ia tahu kini apa yang terjadi. Harusnya ia tidak membiarkan gadis berkacamata tebal tadi duduk di sampingnya. Dan seharusnya lagi, ia tidak terbuai dengan kecup manja alunan lagu serta desah angin sehabis hujan. Entah berapa lama gadis di sebelahnya akan berhenti mengeluh. Mengeluh dalam pikirannya sendiri yang kini sangat mengganggu.

Ariana ingin sekali membuka matanya, namun ia tak kuasa. Kemampuannya membaca pikiran menahannya untuk melakukan itu. Ya, Ariana memang bisa membaca pikiran. Ia bahkan bisa mengubah jalan pikiran seseorang dengan memanipulasinya. Terdengar sangat tidak masuk akal tetapi itulah yang terjadi saat ini. Setiap kali matanya terpejam, tanpa sengaja-atau bisa saja sengaja-alam bawah sadarnya akan terhubung dengan alam bawah sadar orang lain.

“Apa aku harus membuangnya? Atau . . . .”

“Buang saja! Kau harus percaya pada kemampuanmu!” –Ariana memutuskan untuk membantu.

“Tapi . . .”

“Tidak ada kata tapi. Keputusanmu saat ini akan sangat berpengaruh untuk segala hal yang akan kamu jalani ke depannya. Apa kamu mau menodai perjuanganmu selama ini hanya karena sebuah keegoisan? Jika ya, memalukan!” –Ariana sangat berharap perang ini akan segera berakhir.

“Iya, benar juga.”

Temaran jingga mentari sore membuat pandangan sedikit memudar. Ariana menghalangi berkas cahaya itu dengan telapak tangannya.

“Akhirnya . . .” Tanpa sadar ia bergumam.

Gadis berkacamata tebal yang duduk di sebelahnya kini berdiri. Ia merobek beberapa lembar kertas lalu membuangnya ke tong sampah terdekat.

Ariana tersenyum, hari ini tidak terlalu berat tetapi ia tetap benci ketika matanya terpejam.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Senin, 17 Februari 2014

PERGURUAN GANESHA : SI JENIUS DARWIS



Pelajaran matematika merupakan pelajaran yang sangat disukai Darwis. Ia suka menghitung segala kemungkinan. Berkutat berjam-jam merangkai rumus-rumus dengan caranya sendiri. Hingga suatu malam, entah darimana asalnya pertanyaan itu muncul. Mata Darwis terus memperhatikan rumus perkalian plus dan minus dibuku sakunya.

“Kenapa bisa minus dikali minus hasilnya plus? Padahal dalam hidup jika keburukan dikali dengan keburukan bukankah hasilnya kan jadi buruk?” Gumam Darwis.

Malam itu ia habiskan dengan berpikir hingga akhirnya terlelap. Keesokan paginya ia bergegas menemui Pak Ganesha. Lupa mencuci muka bahkan sikat gigi. Pak Ganesha hanya menggeleng-geleng kepala melihat tingkah Darwis.

“Pertanyaan lagi Darwis?” Pak Ganesha bisa menebaknya dengan tepat.

Darwis mengangguk dan segera melontarkan pertanyaan yang ada dibenaknya. Pak Ganesha mendengarkan dengan seksama, mengelus janggut gelombangnya dan sesekali tersenyum. Hening sejenak ketika Darwis telah selesai mengungkapkan isi kepalanya.

“Bagaimana kalau kita utak-atik sedikit pendapatmu seperti ini. Menyatakan keburukan terhadap hal yang buruk, bukankah akan menghasilkan suatu kebaikan? Sama seperti minus dikali minus yang menghasilkan plus. Begitu juga dengan menyatakan kebaikan terhadap hal yang sebenarnya buruk, bukankah seharusnya tetap akan menghasilkan hal yang buruk? Seperti minus dikali plus atau sebaliknya.”
Darwis berpikir sejenak, menimbang-nimbang.

“Muridku Darwis, intinya adalah . . .”

“Menyatakan hal yang buruk terhadap hal yang memang buruk adalah suatu kebenaran yang baik. Menyatakan hal buruk terhadap sesuatu yang sebenarnya baik menghasilkan musibah begitu juga sebaliknya. Menyatakan hal yang baik terhadap hal yang benar-benar baik mendatangkan kebaikan yang berlipat.” Darwis memotong dengan cepat.

Pak Ganesha tersenyum. Seharusnya dia tahu bahwa muridnya yang satu ini adalah murid yang paling cepat paham.

“Tapi . . .”

“Sudut pandang Darwis, sudut pandang. Ubahlah cara berpikirmu. Jika tidak, tidurmu malam ini juga tidak akan tenang.”

Pak Ganesha tertawa meninggalkan Darwis yang garuk-garuk kepala.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Rabu, 12 Februari 2014

LOCK [1]


Hai, aku adalah si pembuka. Aku membawa sebuah benda berharga kemana-mana. Kunci pembuka jiwa, begitu mereka menyebutnya. Tugasku adalah mengeluarkan jiwa-jiwa kelam agar dapat kembali pada wadahnya, manusia.

Halo, aku adalah si pengunci. Aku telah mengunci banyak sekali jiwa kelam di dalam tubuhku. Tugasku adalah menjaga agar jiwa-jiwa tersebut tidak kembali pada wadahnya, manusia.

*

Ini adalah catatan perjalanan si pembuka dan pengunci melepaskan jiwa-jiwa. Ada yang berjalan mudah dan tak jarang berjalan sangat sulit. Kadang mereka berdebat dan kadang saling membantu. Mari kita mulai.

*

TERIAKAN SARI

            Alarm berbunyi nyaring di rumah si pengunci. Ada sebuah kedip jingga di salah satu kotak bernama.
“Tugas!”

Si pengunci berseru nyaring. Ia melempar serbuk berkilau ke udara dan tring . . . seketika itu juga ia menghilang.

Tiga hari yang lalu . . .

Suasana sekolah sudah mulai sunyi. Beberapa menit yang lalu, tepat ketika bel berbunyi para siswa berlarian meninggalkan ruang kelas. Menyisakan para guru di ruangan mereka. Merapikan tumpukan kertas ulangan dan sedikit berbincang mengenai kelakuan siswa masing-masing. Sementara itu dibeberapa ruang kelas tampak siswa yang sibuk memegang sapu, melaksanakan tugas piket harian. Ada yang mengangkat bangku ke atas meja, membersihkan papan tulis, serta membuang sampah ke bak pembuangan. Setiap anak memiliki tugasnya masing-masing. Namun di salah satu kelas, terlihat seorang gadis berambut ikal yang melakukan semua tugas tadi sendirian. Dua puluh bangku diangkatnya dengan sekuat tenaga. Setelah itu tangannya mulai cekatan menyapu lantai. Sesekali ia menghela napas. Kejadian ini tidak hanya terjadi sekali tetapi berkali-kali.

“Sari, hari ini aku harus menemani mama ke pasar. Gantian kamu yang piket ya.”

“Sari, aku harus buru-buru pulang. Ada hal penting yang harus aku lakukan.”

Selalu saja teman-temannya memiliki alasan untuk meninggalkan tugas piket. Sebenarnya Sari ingin sekali berkata bahwa ia keberatan jika harus melakukan semuanya sendiri. Namun pada akhirnya yang keluar dari mulutnya adalah kata yang meng-iya-kan ini semua terjadi.

“Kenapa sih susah banget bilang tidak?” Gumam Sari pada dirinya sendiri.
“Kau saja yang kurang berusaha.”Jawab si pembuka.

Sejak tadi ia duduk di atas meja, dekat dengan posisi Sari berdiri. Tentu saja Sari tidak dapat melihat bahkan mendengar perkataan si pembuka barusan.

            Sari Lulanita. Nama itu yang muncul pada kotak tugas miliki si pembuka. Kali ini ia harus melepaskan jiwa kelam gadis itu. Ya, setiap orang pasti punya satu sisi kelam di dalam dirinya. Hampir sebagian besar sisi kelam itu terkunci rapat-rapat. Tidak semua sisi kelam bersifat buruk karena ada beberapa bagian dari sisi itu yang sengaja terkunci untuk menunggu waktu yang tepat.

            Hampir sejam Sari membersihkan ruang kelas sendirian sebelum akhirnya ia bisa pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang, Sari menerima sebuah pesan singkat dari sang kakak untuk membeli susu coklat di sebuah toko.

“Aku harus jalan memutar dong, kan jauh!” Gerutu Sari sambil menekan balasan yang tentu saja berbeda dari gerutuannya barusan.

“Anak ini aneh sekali.” Si pembuka memutar bola matanya bingung.
*
Sudah dua hari si pembuka mengikuti Sari. Ia mengamati segala tingkah laku Sari untuk mencari pemicu yang bisa membuatnya mendapatkan kunci pembuka jiwa. Memang hanya si pembuka yang bisa melepaskan jiwa-jiwa tersebut, tetapi ia juga membutuhkan sebuah ‘ijin’ dari si pemilik jiwa. Oleh karena itu, ia selalu memantau setiap jiwa yang ingin dilepaskannya. Biasanya di saat seperti ini, si pengunci akan muncul dan mencoba menghentikannya. Namun entah kenapa sejak hari pertama memantau, si pengunci tidak juga menampakkan dirinya.

“Sari! Sari!” Sang Kakak menepuk tangannya di depan wajah Sari.

“Eh kenapa Kak?”

“Ck! Tahun ini kan kamu sudah lulus sekolah menengah atas, Ayah nanya kamu mau lanjut kuliah di jurusan apa?”

“Eh . . . itu . . .”

“Kuliah yang sama denganku saja.” Sang Kakak memotong dengan cepat.

“Sania, biarkan adikmu yang menjawab.” Sang Ayah mencoba menengahi.

“Sari pasti mau kok. Buktinya Sari sering bantuin Sania ngajar murid-murid yang les. Itu tandanya Sari juga mau kuliah pendidikan bahasa sama kayak Sania.”

“Enak saja! Aku mau jadi penulis! Selama ini aku bantuin Kak Sania karena kasihan melihat Kak Sania repot. Tidak lebih.”

“Nanti Sari pikirkan lagi.” Akhirnya sebaris kalimat itulah yang keluar dari mulutnya.

“Tuh, apa kata Sania. Sari pasti mau kuliah di tempatnya Sania. Tenang saja, pasti Kakak bantu.”
“Gak usah. Terima kasih.”

“I-i-iya Kak.” Sekali lagi kata yang keluar berbeda dari apa yang terucap dihatinya.

            Si pembuka tersenyum puas. Kejadian di meja makan malam itu membuatnya tahu apa yang harus dilakukan.
*
Hari ke tiga. Si pembuka memutuskan untuk melepas jiwa kelam milik Sari di hari ini juga. Tidak seperti tugas yang ia dapat sebelumnya, yang butuh waktu hingga sebulan untuk memantau. Tugas kali ini termasuk mudah.

“Namamu sudah aku masukan ke daftar mahasiswa baru di kampus ku loh Sar.” Sang Kakak membuka pembicaraan.

“Nah ini dia.” Si pembuka menggerakkan ke dua kupingnya.

“Apa!”

Sari yang sejak tadi asyik menulis, berteriak kaget.

“Ih biasa aja kali. Kakak tahu kamu pasti senang. Bla bla blab la . . .”

Sari tidak sanggup lagi mendengar setiap kalimat yang diucapkan kakaknya. Selama ini dia sudah berusaha keras untuk menekan teriakan penolakan. Entah itu dari teman, kakak, atau bahkan ke dua orang tuanya.

            Sari bisa bertahan dengan berlari ke dunia menulis. Dimana ia bisa menumpahkan apa yang sebenarnya ada di kepalanya. Tapi entah kenapa, sejak dua hari yang lalu ia merasa ada sebuah hasrat untuk memberontak. Ia ingin sekali berteriak pada semua orang tentang apa yang sebenarnya ia rasa dan pikirkan. Seperti ada sebuah arwah aneh yang merasuki tubuhnya. Memaksa satu sosok lain di dalam dirinya untuk keluar.

“Satu . . .”

Si pembuka memutar badannya yang bulat di udara. Ritual membuka jiwa sudah mau ia mulai.

“Dua . . .”

Ke dua telinganya yang panjang bersinar terang. Ada siluet-siluet yang terpancar dari sana bagaikan kolase yang terbang.

PLOP!

Tepat di saat si pembuka ingin mengucapkan kata ‘tiga’, si pengunci muncul di hadapannya.

“Kenapa kau muncul disaat seperti ini?” Gerutu si pembuka.

“Hoam. Lanjutkan saja. Aku tidak peduli sama yang satu ini.” Kata si pengunci santai.

            Jangan bayangkan mereka akan bertengkar. Meskipun memiliki tugas yang berbeda dan sering berdebat, sebenarnya mereka adalah dua sahabat karib. Terkadang si pengunci membantu si pembuka untuk melepaskan beberapa jiwa. Dan kadang si pembuka mengurungkan niatnya untuk membuka jiwa. Sepertinya tugas kali ini menjadi sangat mudah karena si pengunci memutuskan untuk muncul di saat terakhir. Membantu si pembuka melancarkan ritualnya. Dengan adanya si pengunci di dekat pemilik jiwa dan si pembuka maka jiwa yang ingin dilepaskan akan cepat masuk ke wadahnya, manusia.

“Tiga . . .”

            Siluet-siluet tadi terbang dengan sangat cepat menuju Sari. Hanya butuh waktu beberapa detik hingga akhirnya Sari berteriak. Ia seakan baru saja menenggak ramuan kejujuran. Ia dengan lantang menolak mentah-mentah apa yang diucapkan kakaknya. Tegas sekali ia menjelaskan bahwa keinginannya adalah menjadi penulis dan tidak peduli dengan apapun yang berkaitan dengan mengajar. Sang kakak hanya bisa terpaku. Hari itu menjadi hari yang baru untuk Sari yang baru.




- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 11 Februari 2014

PERGURUAN GANESHA : BUYAN SI ANAK BAMBU




Di belakang perguruan Pak Ganesha terdapat sebuah ladang bambu. Bambu tersebut tumbuh sangat subur. Buyan adalah murid yang dipercaya Pak Ganesha merawat bambu-bambu itu hingga ia dijuluki si anak bambu.

Setiap pagi Buyan akan berkunjung ke ladang bambu, memperhatikan serta menyiangi rumput yang berada disekitar bambu. Tidak jarang Buyan membawa beberapa bilah bambu untuk digunakan diperguruan atau rebung dari bambu untuk dimasak oleh Bi Lastri.

Buyan selalu sumringah ketika melihat bambu-bambu tersebut. Membuat beberapa temannya bertanya-tanya.

“Kalian tahu, banyak hal yang bisa kita pelajari dari bambu. Yang pertama dari siklus hidupnya. Empat tahun pertama ditanam, akar-akarnya akan tumbuh subur dan kokoh di bawah tanah. Pada tahun berikutnya barulah batang bambu yang akan menjulang ke langit. Intinya adalah untuk melakukan sesuatu yang luar biasa, kokohkanlah niat sebagai pondasi.” Jelas Buyan mantab mengikuti gaya Pak Ganesha.

“Pelajaran berikutnya adalah bambu merupakan tanaman yang hebat karena bisa ditemukan di daerah mana saja.”

“Nah kalau yang ini aku tahu nih. Intinya kita harus hidup dimana saja kan?”

Safar dan Indah menyoraki Abu yang memotong begitu saja penjelasan Buyan. Buyan hanya tersenyum membiarkan.

“Buyan belum selesai bercerita sudah dipotong begitu saja. Harusnya kau ingat pelajaran yang dikasih Pak Ganesha, jangan mengambil kesimpulan sebelum selesai menyimak dengan baik.” Gerutu Indah.

Buyan sekali lagi tersenyum kemudian menlanjutkan,”benar kata Indah. Yang ingin aku sampaikan adalah bambu bisa hidup dimana saja karena tergolong ke dalam jenis rumput-rumputan. Jangan dipotong dulu Abu. Kalau kau tidak percaya coba cek dibuku sainsmu.”

Safar dan Indah tertawa melihat Abu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Bambu memang unik, jenis rumput yang tidak lazim. Meskipun bisa hidup di daerah mana saja tetapi bentuk dan klasifikasinya sama. Intinya adalah tidak peduli darimanapun kita datang, asalkan kita memiliki karakter yang unik kita pasti akan menjadi orang yang mudah diingat.”

Safar, Indah, dan Abu mengangguk sepakat.

“Pelajaran yang bisa diambil dari bambu selanjutnya adalah bambu memiliki banyak kegunaan. Intinya adalah kita harus hidup sebagai manusia yang berguna.” Jelas Buyan.

“Kalau yang ini aku sangat setuju. Jadi, biarkan aku menjadi sangat berguna dengan membawa rebung ini ke Bi Lastri.”

Abu merampas rebung yang dipegang Indah dan Safar sambil berlari ke arah perguruan. Safar dan Indah yang kaget segera mengejar Abu. Buyan hanya bisa tertawa melihat tingkah ketiga temannya itu.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

PERGURUAN GANESHA : PIRING ARIMBI (VERSI CERPEN)





Gadis berkuncir dua ini bernama Arimbi. Ia tinggal di sebuah rumah mungil bersama sang Ayah. Ada satu sifat Arimbi yang tidak disukai sang Ayah. Arimbi sering mengulang kesalahan yang pernah ia perbuat. Arimbi seperti tidak benar-benar menyesal ketika menyatakan permintaan maaf.

Suatu hari, Arimbi diperkenalkan kepada seorang guru tua bernama Pak Ganesha. Sang Ayah sudah mendengar banyak hal tentang perguruan yang didirikan Pak Ganesha. Metode pembelajaran yang berbeda dari biasanya tidak hanya membuat murid lulusan perguruan ganesha menjadi pintar secara akademik, tetapi juga pintar bertingkah laku dengan baik. Sang Ayah berharap agar sifat buruk Arimbi bisa berubah dengan belajar di perguruan Pak Ganesha.

Hari pertama belajar di perguruan, Arimbi diminta memecahkan setumpuk piring. Arimbi bisa melakukannya dalam waktu yang singkat. Setelah itu, Pak Ganesha memintanya untuk memperbaiki piring-piring tersebut dengan menggunakan sebuah lem. Arimbi kembali menuruti perintah tersebut. Ternyata memperbaiki piring yang telah pecah tidak semudah ketika memecahkannya.

“Lihatlah intinya.” Kata Pak Ganesha.

Arimbi hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Berulang kali dia membolak-balik piring, mencoba mencari tahu apa yang dimaksud Pak Ganesha. Tapi tetap saja dia tidak mengerti.

Sebulan kini telah berlalu. Arimbi masih diminta melakukan hal sama yaitu memecahkan dan memperbaiki piring. Arimbi mulai bosan dengan hal tersebut. Dia selalu menghela napas. Pak Ganesha yang melihat hal tersebut bertanya pada Arimbi apa dia sudah menemukan inti melakukan hal tersebut? Arimbi kembali menggeleng.

Pak Ganesha mendekati Arimbi, memandang piring yang meninggalkan jejak retak.

“Muridku Arimbi, inti dari semua ini sama dengan perilakumu selama ini. Melakukan kesalahan tidak semudah meminta maaf. Namun, dengan meminta maaf maka kesalahan yang telah diperbuat setidaknya bisa diperbaiki. Sama halnya dengan merekatkan piring yang telah pecah. Tetapi, jika kata maaf tidak disertai dengan penyesalan yang tulus maka permintaan maaf itu tidak akan ada artinya. Seperti piring-piring yang telah diperbaiki dan kembali pecah. Tidak dapat digunakan lagi, hanya dapat melukai orang yang menyentuhnya.”

Arimbi tertunduk. Ia mengerti apa yang dikatakan Pak Ganesha.

“Muridku Arimbi. Kau bisan melakukan ini semua bukan? Sama halnya dengan mereka yang melihat perilakumu.”

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Rabu, 15 Januari 2014

SPARROW ORIGAMI


I want to love myself. Tidak peduli lagi dengan ucapan mereka.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 11 Januari 2014

NAMAKU DRUPADI



- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 07 Januari 2014

KISAH PUTERI LANGIT : BULAN DAN MENTARI



- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Minggu, 29 Desember 2013

KUCING KEBERUNTUNGAN


Halo, namaku kucing keberuntungan. Aku adalah pajangan bundar gendut  yang suka menggerak-gerakkan satu tangan memanggil orang-orang untuk mampir. Menurut kepercayaan beberapa orang, memajang badan tambunku di atas etalase toko akan mendatangkan rejeki yang melimpah. Entah benar atau tidak, kenyataannya adalah sepuluh tahun yang lalu seorang pria berkulit putih dan pendek membeli dan menempatkanku di toko miliknya. Sebuah toko kue tempat berbagai macam orang datang. Mulai dari anak kecil yang iseng mencomot krim kue, remaja tanggung yang suka duduk ngerumpi di sudut-sudut meja, atau ibu-ibu arisan yang heboh memamerkan perhiasan mereka. Dunia manusia yang luar biasa.

Kring!

Nah ini dia, si gadis misterius yang sejak tiga hari lalu mencuri perhatianku. Namanya adalah Laras. Beberapa orang di tempat ini melihatnya dengan heran. Ya, itulah yang aku rasakan ketika pertama kali melihatnya. Sebuah kaos belel dipadu dengan dengan shaggy pantalon serta coat panjang yang kumal menutup tubuhnya yang kurus. Belum lagi ditambah dengan topi rap cap yang hampir menutup sebagian besar wajahnya. Sempurna sudah tampilannya sebagai manusia aneh. Gayanya seperti seseorang yang ditelan tumpukan pakaian raksasa.

Kunjungan pertamanya di toko membuat hampir sebagian besar petugas toko kue berbisik-bisik.

“Orang kayak gini pasti cuma lihat-lihat aja. Gak bakal bisa beli kue.”

“Dia gak punya baju lain apa? Seragam kita aja masih lebih bagus.”

Bla bla bla.

Terlalu membosankan untuk didengar lebih lanjut.

Dibalik itu semua, Laras si manusia dengan pakaian bertumpuk memiliki tatapan mata yang sangat indah. Seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan. Melihatnya masuk ke dalam toko membuat imajinasiku berputar. Diimajiku berkelebat sosoknya dalam peran kehidupan yang berbeda-beda. Kadang Laras berubah menjadi seorang gadis bangsawan yang lari dari kehidupan nyamannya, agen rahasia, atau pemilik toko kue yang sedang menyamar. Ah, entah mana yang benar tapi aku sangat menikmatinya.

Hari ini dia datang dengan tergesa-gesa. Ada cipratan lumpur diantara ujung-ujung coat kumalnya. Padahal sejak pagi tadi kota ini tidak diguyur hujan, mana mungkin bisa ada kubangan lumpur yang tercipta? Apa mungkin dia habis menjelajah kota seberang? Aku mulai berasumsi dengan imajiku lagi. Senyumku mulai mengembang, meski mungkin tidak ada yang memperhatikan. Eh tapi tunggu dulu.

“Mama, kucingnya hidup.”

“Iya nak, iya.”

Si Ibu yang sedang sibuk dengan smartphone-nya seperti tidak terlalu peduli. Syukurlah. Sudut mataku kembali melirik Laras yang sekarang sedang duduk mencoret sketchbook polkadot miliknya. Apa yang kali ini dia gambar? Penasaran sekali rasanya. Pikiranku mulai melayangkan banyak ilusi khayalan. Saking penasarannya, tanpa sadar tubuhku bergeser begitu jauh dari atas etalase toko hingga hampir terjatuh. Tatapan Laras yang membuatku sadar akan hal itu. Manik matanya yang sejak tadi lurus ke arah sketchbook mendadak bertemu dengan mataku. Apa mungkin dia sadar kalau aku memperhatikannya? Ah, itu tidak mungkin. Lihatlah kini Laras kembali sibuk dengan coretan-coretannya. Tidak mungkin Laras memperhatikanku yang tersembunyi. Tersembunyi? Yup, sejak lima tahun lalu penerus toko kue ini memutuskan untuk tidak lagi mempercayaiku hingga menyembunyikanku di atas etalase toko yang tidak terlihat.

Tapi sudahlah sekarang kembali lagi ke Laras. Hey, kemana dia? Ah, sekarang dia berjalan ke arahku. Sebaiknya aku mematung dan berakting sebaik mungkin.

“Kamu kesepian sepertiku? Kamu penasaran sepertiku? Sama. Namaku Laras, salam kenal kucing keberuntungan.”

Aku tidak percaya apa yang baru saja aku dengar. Ingin rasanya berbalik dan menjawab pertanyaan Laras namun takdir langit tidak memperbolehkan. Aku hanya bisa mengerling dalam senang.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 28 Desember 2013

ILMUWAN GILA


Sepagi ini wajahku sudah muram. Bagaimana tidak, Ayah membuat seluruh rumah penuh dengan bulu-bulu coklat dari tubuhnya. Ya, Ayahku memiliki bulu coklat diseluruh tubuhnya layaknya serigala. Tidak. Tidak. Ayahku bukan manusia serigala seperti yang diceritakan buku-buku. Ayahku adalah seorang ilmuwan aneh yang suka sekali menjadikan dirinya sendiri sebagai bahan percobaan. Aku tidak tahu apa yang ingin Ayah coba sehingga tubuhnya berubah menjadi aneh seperti itu. Aku sudah tidak peduli lagi.

“Tidak sarapan dulu?”

Aku hanya menggeleng. Bagaimana bisa aku sarapan dengan bulu-bulu yang berserakan di meja makan? Seringkali aku berharap Ayah akan berubah menjadi Ayah pada umumnya. Bekerja di kantor pemerintah, mengantarkanku pergi sekolah, dan bisa menemaniku libur akhir pekan. Tidak tahukah Ayah bahwa aku kesepian sejak Ibu meninggal?

“Kusut banget sih mukamu.” Cita menepuk punggungku.

“Mau bagaimana lagi . . .”

“Pasti Ayahmu.” Belum sempat aku melanjutkan Cita sudah menebaknya dengan sempurna.

Cita adalah sahabatku yang luar biasa. Dia adalah tempat curhat nomor satu. Dulu disaat sebagian besar teman kelas menjauhiku karena pekerjaan Ayah yang dijuluki ‘ilmuwan gila’, Cita memilih mendekatiku. Dia juga selalu berkata bahwa Ayahku pasti punya alasan mengapa melakukan itu semua. Tapi aku, seperti biasa tidak menaruh perhatian terhadap ceramah Cita.

“Makan siang sudah ada di meja, makan dulu. Ayah mau pergi sebentar, ada urusan.” Ayah membuyarkan lamunanku yang sudah terbang ke sana kemari. Jika Ayah berkata ada urusan maka Ayah tidak akan pulang hingga malam menjelang. Waktu yang cukup bagiku untuk membersihkan sudut rumah yang penuh dengan bulu.

Sigap, setelah makan siang beres aku mulai kegiatan bersih-bersih. Ketika jingga fajar terbenam kegiatan tersebut baru selesai. Luar biasa. Aku memilih merebahkan tubuh disofa, kemudian teringat sebuah buku yang tidak sengaja aku temukan ketika membersihkan lorong menuju laboratorium Ayah. Buku itu terlihat usang dengan ujung yang berlipat-lipat. Aku membuka lembar demi lembar. Beberapa rumus tampak berhamburan di kertas-kertas menguning. Ah, ini pasti buku yang berisi penelitian milik Ayah. Aku memilih tidak peduli sebelum akhirnya mataku melihat sesuatu yang mencuat. Itu adalah fotoku yang tersenyum ketika berada di depan petshop.

Aku ingat hari itu adalah hari dimana aku meminta dibelikan kucing berbulu coklat yang tambun. Dan di hari itu juga akhirnya aku menyerah untuk memelihara kucing. Ternyata aku alergi terhadap bulu kucing, hewan yang sangat aku sukai. Seharian itu pula aku tidak ingin beranjak dari petshop dan membuat Ayah serta Ibu pusing.

Kenapa Ayah menyimpan foto ini? Di kertas tempat buku itu tertambat ada rumus-rumus aneh yang tetap saja tidak ku mengerti. Dibagian paling bawah rumus tersebut ada sebuah tulisan yang membuatku tertegun.

Misi : menciptakan makhluk berbulu untuk Ani agar tidak bersin-bersin.

Airmataku mengalir. Jadi, ini alasan mengapa tubuh Ayah menjadi sangat berbulu? Dan hey sekarang aku sadar bulu-bulu Ayah tidak membuatku bersin.

“Ani.” Ayah sudah berdiri dihadapanku, aku tidak menyadarinya.

Ayah terkejut melihat ekspresiku dan buku yang aku pegang. Aku mengira akan dimarahi habis-habis namun ternyata Ayah hanya tersenyum.

“Ani sudah melihatnya?” Aku mengangguk.

“Banyak yang bilang itu adalah penelitian paling bodoh yang Ayah lakukan tapi menurut Ayah itu adalah penelitian paling menyenangkan. Kapan lagi penelitian Ayah bisa membuat puteri kesayangan Ayah bisa tersenyum? Ayah tahu Ani kesepian, Ayah mengerti tidak bisa menemani Ani. Jadi Ayah memilih untuk membawakanmu teman.”

Ayah mengangkat seekor kucing tambun. Refleks aku menjauh, takut bersin-bersin. Tapi Ayah berkata ‘tidak apa-apa’ sehingga aku mendekat. Dan Ayah benar, aku tidak bersin sama sekali.

“Penemuan Ayah akhirnya berhasil meskipun harus membuatmu murung beberapa bulan karena bulu-bulu itu.”

Aku tertawa dan memeluk Ayah. Cita benar Ayah pasti punya alasan melakukan itu semua. Dan sekarang aku peduli terhadap apapun yang dilakukan Ayah, sama seperti pedulinya Ayah terhadapku.

Percayalah bahwa keluarga adalah orang pertama yang selalu memikirkanmu. Oleh karena itu, jadilah orang pertama yang juga memikirkan ke dua orang tuamu.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Jumat, 27 Desember 2013

ALMIRA DAN IRENG



"Kepedulian yang tidak dilihat oleh mata"

Aku tidak mengerti apa itu waktu dan jam yang berdetak. Bagiku firasat sudah cukup. Firasat itulah yang membuatku tahu kapan Almira akan pulang dan kapan kita akan bermain bersama. Seperti hari ini ketika penghuni rumah tengah nyaman beristirahat siang, aku memilih duduk sigap di depan pintu. Tidak sabar menanti si gadis berambut emas berlari ke arahku dan menunjukkan senyum manisnya.

Saat seperti inilah yang sangat ku nanti. Bermain seharian dengannya dan mendengkur manja ketika mendengar ia bercerita. Hal ini jauh lebih membahagiakan dibanding mengejar bola bulu atau tikus-tikus nakal di atas loteng.

“Ireng!!”

Suara Almira membahana dari ujung pagar. Ia tersipu setelah berteriak begitu keras. Ada seorang laki-laki yang berdiri di sampingnya. Dari baju yang ia kenakan, laki-laki itu tampak seperti teman sekolah Almira. Mereka berjalan menghampiriku.

“Ini kucingku, namanya Ireng.”

Almira mengelus ujung kepalaku. Laki-laki itu tersenyum dan terlihat ingin ikut mengelus ujung kepalaku. Aku menggeleng lalu berjalan mengitari kaki Almira. Aku tidak ingin dielus oleh orang lain.

“Ireng, mainnya nanti saja ya. Aku mau ngerjain PR sama Brahma.”

Aku merengut dan duduk di atas bantal bulu. Mataku menatap sigap Almira dan laki-laki bernama Brahma itu. Mereka terlihat sangat akrab.

“Hey bung, harusnya aku yang saat ini bercanda akrab dengan Almira!” Ingin rasanya berteriak seperti itu.

Aku tidak suka Brahma. Lihat saja tingkahnya yang tidak sopan. Sekarang tangannya mulai genit menyentuh tangan Almira. Telingaku bergetar. Ujung-ujung kumisku mulai bergoyang ikut kesal.

RAWR!!

“IRENG!!!”

Almira menarikku kasar. Hey, aku melakukan itu demi kamu Almira.

“Aku pulang aja deh, kayaknya kucingmu gak suka aku di sini.”

Almira menatapku geram. Setelah Brahma pulang dengan tangan yang tercakar, Almira mulai memarahiku. Ia mengucapkan kalimat seperti ‘cinta pertama’ dan ‘jangan mengganggu’. Ah Almira, tindakanku tadi adalah untuk melindungimu dari kelakuan tidak sopan laki-laki bernama Brahma itu. Rasanya tidak tega melihat Almira hanya menjadi objek mainan. Aku tidak tahu darimana pemikiran itu berasal. Yang aku tahu, aku menyayangi Almira dan yang bisa aku lakukan untuknya adalah menjaganya dengan cakar-cakarku ini. Semoga suatu saat nanti Almira bisa mengerti.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Kamis, 26 Desember 2013

PRASANGKA ALILA




- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

PIRING ARIMBI



(Sebenarnya banyak tulisan yang mau di-post cuma lagi pengen mengubah semua tulisan itu jadi dongeng singkat)

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 14 Desember 2013

NADA DAN PETRICHOR DI BULAN DESEMBER




Percik hujan pada setiap sudut jalan masih membekas. Semua hal tak bisa menampik kedatangan karunia satu ini. Aku mulai belajar menyebutnya sebagai karunia sejak kau mengalunkan irama indah itu untukku. Nada-nada itu membuatku lupa akan rasa tidak suka pada hujan di bulan Desember. Alunan merdu tersebut membelai lembut seirama dengan petrichor yang berkejaran.

Kepulan asap susu hangat dari toko seberang menyahut. Aku menengadahkan pandanganku sejenak, berharap bisa mendengar kembali nada-nada yang membuatku bahagia dan merasakan kesejukan petrichor hari itu.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..