Tampilkan postingan dengan label DIARY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DIARY. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Januari 2014

SPARROW ORIGAMI


I want to love myself. Tidak peduli lagi dengan ucapan mereka.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Kamis, 23 Mei 2013

I MISS HIM SO BAD




Kucing kesayangan hilang dua hari.
 
- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Kamis, 09 Mei 2013

JOGJA 4 : PANTAI

Ini postingan yang tertunda karena susahnya meng-upload foto (-.- ) Oke, langsung saja.

Perjalanan pindah ke Jogja yang diawali dengan jalan-jalan adalah hal yang menyenangkan. Setelah melihat Sekaten-an, main ke Tamansari, dan kongkow di Kalimilk hari ke sekian kami berkunjung ke daerah Selatan Jogja. Main di pantai.


Mengawali petualangan pertama di pantai, kami berkunjung ke Pantai Indrayanti. Awalnya sih saya pengen ketemuan sama teman SMA, Winda. Kebetulan kita janjian di sana. Meskipun pada akhirnya tidak bertemu karena waktunya yang tidak pas.

Yang ada dipikiran saya pertama kali adalah Pantai yang teduh dengan pemandangan yang indah. Mengingat setahun lalu ketika berkunjung ke Pantai Baron, pemandangannya menyenangkan. Tapi kenyataan berkata lain. Well, kita memang tidak bisa berharap lebih.

Pantai Indrayanti padatnya minta ampun deh. Panasnya juga luar biasa, rasanya pengen ngadem aja di dalam mobil (-.- )

ramai sekali
Pada akhirnya beli topi, gak kuat sama panasnya~

Sambil menunggu balasan sms dari Winda, kami berempat ikut-ikutan beberapa pengunjung mendaki sebuah bukit (?) karena kami tidak mungkin berenang. Ehm, sebenarnya sih ogah berenang :P

Foto sok unyu :P ~

Pemandangan dari atas bukit lebih kece tapi harus berhati-hati karena jalannya cukup curam. Pemandangan di balik bukit ini juga tidak kalah menyenangkan. Terdapat sebuah pantai yang sepi di bawahnya. Sayang kalau mau menuju pantai tersebut, kita harus memilih jalan memutar.

Bosan menjelajah, kami memutuskan untuk mengisi perut yang telah keroncongan di salah satu warung dekat pantai. Ekspektasi sih bisa makan makanan laut seenak di Baron.

Es kelamudnya seger dan enak, begitu juga dengan sayur kangkungnya. Untuk sop ikan, kuahnya seger sayang ikannya kurang greget.
mari makan~

Perjalanan di lanjut ke pantai Siung, berhubung nungguin Winda terlalu lama :P
Kata seorang Ibu yang kami temui (sepertinya warga sekitar) pantai Siung bukan pantai yang indah dan tergolong kotor. Hal tersebut tidak menyurutkan niat kami untuk mengunjungi pantai tersebut. Toh, niat awal kami adalah menjelajah jajaran pantai di sini.

Dan ternyata~ apa yang dikatakan Ibu tadi tidak sama dengan kenyataan yang ada.

Inikah pantai  yang disebut tidak indah? Mereka pasti bercanda~
Dibandingkan Indrayanti, pantai ini jauh lebih indah. Masih banyak hewan dan rumput laut yang bisa ditemukan. Sayang, beberapa pengunjung dan warga sekitar seenaknya menangkap bahkan merusak rumput laut yang ada.
Ombaknya cihuy~
Akhirnya gagal bertemu Winda, sinyal sudah lenyap ketika asyik bermain di pantai. Dan ternyata Winda pun begitu. Ya sudah~

Perjalanan pun kami lanjutkan. Sesuai dengan informasi yang kami dapat di internet, pantai Pok Tunggal merupakan pantai yang pas buat berfoto ria (eh) dan menikmati sunset. Untuk dapat menikmati pemandangan luar biasa tersebut, kami harus melewati jalan setapak yang sempit dan terjal. Well, ini yang disebut bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.


Pok Tunggal merupakan pantai terakhir yang kita kunjungi hari itu. Lelah tapi menyenangkan. Dan mulai saat itu aku menetap di Jogja \(^.^)/


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Senin, 11 Maret 2013

JOGJA 3 : NENENERS

Nenen~ers, apa itu? Pikirannya jangan aneh-aneh dulu.


Nenen-ers everywhere . . .
Pengunjung di tempat ini akan disebut nenen-ers atau penikmat susu. Wow.
Dimana nih??

Mau tahu???
Ini adalah salah satu tempat asyik buat ngegaul (halah) sehat di Jogja. Istilah kecenya buat kongkow-kongkow gitu. Namanya Kalimilk! Milk? Yup, tempat ini isinya tentang susu eh maksudnya menu utama yang ditawarkan di tempat ini adalah minuman dengan kreasi susu segar.


Selain minuman, Kalimilk juga nyediain makanan sebagai 'teman' minum susu. Makanan yang disediain di sini bukan makanan berat seperti nasi namun cemilan seperti risoles maupun kentang goreng.


Untuk minuman sendiri khususnya susu murni sebagai menu andalan, ditawarkan ukuran kecil, sedang, dan segede gaban. Buat kamu yang doyan nyusu, boleh dicoba yang segede gaban. Kalau saya dan teman-teman sangat cukup dengan ukuran sedang. Sewaktu mengunjungi kalimilk, Erwin memesan susu caramel serta risoles goreng, Ayu memesan susu oreo serta risoles coklat, Oniisan tidak memesan minuman apa-apa karena dia memiliki pengalaman buruk dengan susu murni, dan saya memesan susu hazelnut. Sengaja kita milih menu yang beda supaya bisa saling icip-icip, hahahahaha.

Saya pribadi lumayan puas dengan susu hazelnut, rasa manisnya pas  sayangnya tidak ada potongan hazelnut seperti yang saya harapkan. Untuk susu oreo rasanya enak, ada sensasi krenyes-krenyes dari serpihan oreo yang diberikan. Dan untuk susu caramel rasanya manis-manis gimana gitu. (Ketahuan banget nyicipin satu per satu :v )

Ayu dan pesanannya
Erwin dan pesanannya
Saya yang lagi sibuk lihatin twitter, sangat dilarang pemirsa karena bisa merusak suasana kongkow :|

Kalimilk berkonsep terbuka. Sejauh pengamatan saya tempat ini tidak menggunakan AC, ya iyalah namanya juga terbuka jadi anginnya alami, wush wush langsung dari luar.
Kalimilk terletak di jalan Monjali, alamat lengkapnya coba gugeling aja ya soalnya saya juga gak hapal :P
Selain itu cabang barunya juga bisa ditemukan di daerah Kaliurang (lupa bagian bawah atau atas :| )

Jadi, buat kamu yang nantinya mau liburan ke Jogja cobain deh sensasi jadi bagian nenen-ers biar bisa dibilang gaol, LOL! Yang jelas kongkow di sini bisa lebih sehat karena minum susu, cring cring~

Sekian. Adios.
- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Kamis, 21 Februari 2013

JOGJA 2 : TAMANSARI

Hari ke dua di Jogja setelah melihat sekatenan (Jogja 1) di alun-alun utara, kami memilih berkunjung ke Tamansari. Ini adalah kali ke dua saya ke sana.


Taman Sari Yogyakarta atau Taman Sari Keraton Yogyakarta adalah situs bekas taman atau kebun istana Keraton Yogyakarta, yang dapat dibandingkan dengan Kebun Raya Bogor sebagai kebun Istana Bogor. Kebun ini dibangun pada zaman Sultan Hamengku Buwono I (HB I) pada tahun 1758-1765/9. Awalnya, taman yang mendapat sebutan "The Fragrant Garden" ini memiliki luas lebih dari 10 hektare dengan sekitar 57 bangunan baik berupa gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, maupun danau buatan beserta pulau buatan dan lorong bawah air. Kebun yang digunakan secara efektif antara 1765-1812 ini pada mulanya membentang dari barat daya kompleks Kedhaton sampai tenggara kompleks Magangan. Namun saat ini, sisa-sisa bagian Taman Sari yang dapat dilihat hanyalah yang berada di barat daya kompleks Kedhaton saja.

Konon, Taman Sari dibangun di bekas keraton lama, Pesanggrahan Garjitawati, yang didirikan oleh Susuhunan Paku Buwono II sebagai tempat istirahat kereta kuda yang akan pergi ke Imogiri. Sebagai pimpinan proyek pembangunan Taman Sari ditunjuklah Tumenggung Mangundipuro. Seluruh biaya pembangunan ditanggung oleh Bupati Madiun, Tumenggung Prawirosentiko, besrta seluruh rakyatnya. Oleh karena itu daerah Madiun dibebaskan dari pungutan pajak. Di tengah pembangunan pimpinan proyek diambil alih oleh Pangeran Notokusumo, setelah Mangundipuro mengundurkan diri. Walaupun secara resmi sebagai kebun kerajaan, namun bebrapa bangunan yang ada mengindikasikan Taman Sari berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir jika istana diserang oleh musuh. Konon salah seorang arsitek kebun kerajaan ini adalah seorang Portugis yang lebih dikenal dengan Demang Tegis.
Kompleks Taman Sari setidaknya dapat dibagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama adalah danau buatan yang terletak di sebelah barat. Bagian selanjutnya adalah bangunan yang berada di sebelah selatan danau buatan antara lain Pemandian Umbul Binangun. Bagian ketiga adalah Pasarean Ledok Sari dan Kolam Garjitawati yang terletak di selatan bagian kedua. Bagian terakhir adalah bagian sebelah timur bagian pertama dan kedua dan meluas ke arah timur sampai tenggara kompleks Magangan. - wikipedia

Harga tiket masuk untuk satu orangnya Rp.3.000 untuk wisatawan domestik dan untuk izin untuk memotret, dikenakan biaya Rp.1.000



Memasuki bagian pertama, kita akan melihat segaran (danau buatan) yang terletak diantara bangunan berwarna krem. Kami melangkah ke arah samping, memasuki sebuah bangunan yang membatasi dua segaran. Ayu dan Erwin memilih naik ke menara untuk melihat-lihat. Sementara saya dan Oniisan menunggu di bawah. Ketika menunggu, secara kebetulan saya bertemu dengan kakak dan adik tingkat sewaktu SMA, Kak Dayat, Risky, dan satu orang lagi yang saya lupa namanya -_- (maaf).

Kami lalu beranjak ke kolam yang lain. Kolam pemandian di area ini dibagi menjadi tiga yaitu Umbul Kawitan (kolam untuk putra-putri Raja), Umbul Pamuncar (kolam untuk para selir), dan Umbul Panguras (kolam untuk Raja).





Setelah puas melihat sana sini kami lalu menuju ke tempat lukisan batik. Beberapa tahun yang lalu saya berjanji kepada penjual di tempat itu untuk membeli lukisan simbol cinta sejati (Rama Shinta, Arjuna Srikandi).

Pilihan saya jatuh pada lukisan batik Rama dan Sinta versi klasik. Versi klasik? Yup, lukisan batik di sana memiliki dua versi, klasik dan modern. Lukisan batik modern lebih berwarna dibandingkan lukisan klasik.


Ayu sepertinya pengen jadi model lukisan :P
Lukisan Nyi Roro Kidul yang menghipnotis
Setelah dari tempat tersebut, kami tidak langsung menuju ke arah bangunan lain di sayap lain Tamansari, kalau gak salah ingat bangunan tersebut dulunya menjadi dapur. Namun kami menuju ke bangunan Sumur Guling, tempat yang dulunya dijadikan Masjid. Kami melewati jalur yang meliuk-liuk sebelum sampai ke sana. Sempat berfoto dan singgah di tempat oleh-oleh.

Iklan tak berbayar :P
Gambarnya lucu (>.<)
Voice of Jogja, tempat jual kaos big size dengan gambar-gambar yang lucu, penjualnya juga ramah
Setelah melewati beberapa jalan meliuk dan lorong-lorong akhirnya kita sampai di tempat tujuan.
Sumur Guling memiliki tempat imam memimpin shalat. Di tempat ini suaramu akan bergema dan terdengar hampir ke seluruh penjuru bangunan. Hal ini terbukti ketika beberapa pengunjung di bagian lorong atas sedang berbicara, saya dan beberapa pengunjung di sisi lorong lain mendengar percakapan mereka tanpa melihat wujud mereka (padahal ngobrolnya sambil berbisik).



Empat tangga menuju ke bawah sedangkan satu tangga lain menuju ke arah atas. Katanya hal ini merujuk pada rukun Islam (entahlah).

Setelah dari Sumur Guling, kami menuju ke tempat kunjungan terakhir. Melihat puing-puing dan berisitirahat sejenak. Pegel juga berkeliling selama beberapa jam. 


Foto alay hari itu . . .
Sekian untuk jalan-jalan di Tamansari. Adios !

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Kamis, 14 Februari 2013

JOGJA 1 : SEKATEN

Terhitung sejak tanggal 23 Januari, saya hijrah sementara dari Bandung ke Jogja. Berangkat ke Jogja bareng Erwin, Ayu, dan Oniisama di pagi buta yang dingin-dingin unyu. Ini untuk kali pertama nyobain naik kereta ekonomi dan membawa si ganteng Noir.

Terjadi gonjang-ganjing di stasiun, dilarang membawa hewan karena takut mengganggu penumpang lain -_-
Untungnya, penjaga gerbong barang kebetulan lewat. Nitip sebentar deh sama mas-nya setelah ngobrol beberapa saat. Sempat khawatir karena cuaca panas banget.

Sore menyambut, sampailah di Jogja. Langsung meluncur menuju rumah Erwin, mandi, dan bersiap-siap menuju acara Sekaten. Dari Bandung, kita memang sudah niat melihat acara ini.

Apa itu Sekaten? Ada yang sudah pernah melihatnya?
Biar gaul, baca penjelasan hasil comotan berikut ini :

Sekaten atau upacara Sekaten (berasal dari kata Syahadatain atau dua kalimat syahadat) adalah acara peringatan ulang tahun nabi Muhammad s.a.w. yang diadakan pada tiap tanggal 5 bulan Jawa Mulud (Rabiul awal tahun Hijrah) di alun-alun utara Surakarta dan Yogyakarta. Upacara ini dulunya dipakai oleh Sultan Hamengkubuwana I, pendiri keraton Yogyakarta untuk mengundang masyarakat mengikuti dan memeluk agama Islam.


Pada hari pertama, upacara diawali saat malam hari dengan iring-iringan abdi Dalem (punggawa kraton) bersama-sama dengan dua set gamelan Jawa: Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu. Iring-iringan ini bermula dari pendopo Ponconiti menuju masjid Agung di alun-alun utara dengan dikawal oleh prajurit Kraton. Kyai Nogowilogo akan menempati sisi utara dari masjid Agung, sementara Kyai Gunturmadu akan berada di Pagongan sebelah selatan masjid. Kedua set gamelan ini akan dimainkan secara bersamaan sampai dengan tanggal 11 bulan Mulud selama 7 hari berturut-turut. Pada malam hari terakhir, kedua gamelan ini akan dibawa pulang ke dalam Kraton. - wikipedia



Nah, kurang lebih begitulah penjelasannya. Melihat acara Sekaten secara langsung merupakan pengalaman pertama bagi saya. Kaget melihat luapan manusia di alun-alun utara. Beberapa tampak berbaring (sepertinya menginap beberapa hari di tempat ini).

foto diantara keramaian orang
Berhubung kami datangnya di sore hari, jadi kami hanya bisa melihat prosesi pengembalian gamelan ke dalam Keraton. Sembari menunggu prosesi tersebut, kami mengelilingi area sekitar untuk melihat beberapa kereta yang dipajang, ngobrol santai bersama abdi dalem, dan berfoto bersama sinden.


Dengan mata mengantuk dan badan yang pegal-pegal kita memutuskan untuk segera pulang. Namun ternyata pintu pagar untuk keluar telah ditutup.

"Sampeyan mau kemana? Dikit lagi acara puncaknya loh. Gamelannya mau dimasukin"

Yang jaga menunjuk ke pagar lain. Beberapa orang tampak mulai berdiri dan berbaris. Kami berempat langsung siap siaga mencari tempat yang pas untuk merekam prosesi tersebut. Untung saja Oniisama memiliki tinggi yang lumayan :P jadi tugas merekam gambar diserahkan padanya, dengan konsekuensi kepala saya sebagai ganjelan tangannya yang besar -_-,

Ke esokan harinya kami masih ingin melihat prosesi lain yang katanya akan diadakan pagi hari. Erwin sempat menceritakan prosesi apa itu, tetapi saya tidak mengingatnya karena setengah sadar. Yang saya ingat ada hubungannya dengan gunungan. Mungkin acara yang dimaksud Erwin seperti yang dijelaskan ini :


Grebeg Muludan

Acara puncak peringatan Sekaten ini ditandai dengan Grebeg Muludan yang diadakan pada tanggal 12 (persis di hari ulang tahun Nabi Muhammad s.a.w.) mulai jam 8:00 pagi. Dengan dikawal oleh 10 macam (bregodo/kompi) prajurit Kraton: Wirobrojo, Daeng, Patangpuluh, Jogokaryo, Prawirotomo, Nyutro, Ketanggung, Mantrijero, Surokarso, dan Bugis, sebuah Gunungan yang terbuat dari beras ketan, makanan dan buah-buahan serta sayur-sayuan akan dibawa dari istana Kemandungan melewati Sitihinggil dan Pagelaran menuju masjid Agung. Setelah dido'akan Gunungan yang melambangkan kesejahteraan kerajaan Mataram ini dibagikan kepada masyarakat yang menganggap bahwa bagian dari Gunungan ini akan membawa berkah bagi mereka. Bagian Gunungan yang dianggap sakral ini akan dibawa pulang dan ditanam di sawah/ladang agar sawah mereka menjadi subur dan bebas dari segala macam bencana dan malapetaka. wikipedia 


Keinginan melihat salah satu prosesi Sekaten di pagi hari batal sudah, kami semua bangun terlambat. Wajar saja, perjalanan yang menguras tenaga dari Bandung ditambah begadang karena menyaksikan prosesi memasukkan gamelan.

Berhubung acara Sekaten yang ingin kita lihat telah selesai, kami memutuskan untuk berkunjung ke Tamansari dengan berjalan kaki dari tempat parkir disekitar alun-alun utara. Dalam perjalanan menuju ke Tamansari, kami berkesempatan memotret beberapa rombongan (ikutan narsis juga).




Nah untuk kelanjutan jalan-jalan ke Tamansari dan tempat kece lainnya di Jogja, menyusul. Sampai di sini dulu. Adios.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Minggu, 06 Januari 2013

ORIGAMI, FLANEL, CERDAS CEMAT RJ

Minggu sibuk lagi. Hari ini seperti hari Minggu di bulan Desember lalu, saya bermain lagi bersama Rumah Jendela (tengok postingan bulan Desember di sini).

Jika Desember kemarin kita masak memasak bersama Zeze, hari ini kita bermain dan nonton film. Acara dimulai sejak pagi. Pukul tujuh teng~ sudah diminta berkumpul untuk segera pergi ke tempat Rumah Jendela. Saya masih menggeliat malas ketika terbangun pukul lima. Cuaca di Bandung sangat kondusif untuk tidur. Kebetulan partner tebengan ke Rumah Jendela, si Anna juga telat datangnya jadi masih ada sisa waktu untuk berleha-leha sambil menyiapkan kembali bahan-bahan. Kali ini saya bertindak sebagai penanggung jawab flanel (padahal saya masih amatir, ha ha ha).

Perjalanan ke Rumah Jendela diselingi dengan singgah dibeberapa tempat, untuk membeli lem UHU sebagai pengganti lem tembak yang sepertinya tidak bisa digunakan.

Ketika sampai di Rumah Jendela, ternyata anak-anak dan beberapa pengurus Rumah Jendela sedang menyaksikan film Hafalan Shalat Delisa. Yup, berarti masih ada waktu untuk beristirahat sebentar. Jujur saat itu kepala saya masih nyut-nyut-an karena menahan kantuk. Maklum tidurnya menjelang shubuh.

Sambil menunggu anak-anak dan pengurus Rumah Jendela selesai menyaksikan film, kami yang duduk di mushala mulai sibuk membuat origami.

ayo tebak saya yang mana? :P


Jeng jeng . . .

Nonton film selesai. Waktu untuk kerajinan tangan pun tiba. Anak-anak tersebut dibagi menjadi dua kelompok. Sebagian membuat origami dan sebagiannya lagi membuat kreasi flanel. Untungnya saya dibantu Ana yang sudah paham seluk beluk (cielah) kreasi flanel, Wina si master masangain gantungan kunci, Gilih yang diam-diam jago mainan flanel (main?), dan Risna yang setia mendampingi saya ketika mengurus kreasi bros dari flanel (maklum lagi ngantuk dan menahan sakit tenggorokan).

bros pita dan buntelan kupu-kupu [?] kreasi anak-anak
pocket hape ala anak-anak dan saya sendiri :3
Berhubung ketika proses membuat saya sedikit sibuk jadi tidak sempat mendokumentasikan seluruhnya (dokumentasi lengkapnya di Bapak Teguh :P ) jadi saya cuma sempat mendokumentasikan foto anak-anak dikelompok bros. Kelompok gantungan kunci belum sempat difoto juga karyanya, maaf.

kelompok membuat bros cewek semua
pemenang kreasi flanel, foto yang bertiga nge-blur :|
Nah sementara sebagian anak sibuk membuat kreasi flanel, sebagian lainnya juga membuat kreasi melipat kertas/origami di Rumah Jendela dengan penanggung jawab Mas Abid. Berikut ini dokumentasi yang saya comot dari facebook Rumah Jendela :

lagi pada serius nih
ini  dia origami kodoknya \(>.<)/
Setelah bersenang-senang dengan nonton serta berkreasi, waktunya mengasah kemampuan otak dalam cerdas cermat. Yup, ini adalah rangkaian terakhir liburan untuk anak-anak di Minggu ini.

teeeeeeeeeet! waktu habis, Juri Koh Biyan menjelaskan jawaban yang tepat
"pulpen mana? penonton harap diem ya" kata Ika selaku MC
Bersenang-senang, makan, ibadahnya sudah rasanya kurang lengkap tanpa adanya foto-foto. Betul apa betul?

Ciye Asrudi punya banyak fans nih
ayo senyum~
say cheese~
adek-adeknya narsis juga ya :P
lagi pada ngapain nih?
sebelum kadonya dibagikan, foto dulu~
It was fun !

Meskipun menahan kantuk dari pagi tapi berbagi itu menyenangkan (seperti kata Inna :P ) apalagi setelah selesai rangkaian acara, Mas Abid dan Risna mentraktir kita semua makan di rumah makan Selasih. Alhamdulillah. Traktiran wujud syukuran bertambahnya umur. Barakallah, semoga diberikan yang terbaik ya Mas Abid dan Risna, aamiin. Makasih makan-makannya, meskipun ada sedikit tragedi perebutan makanan :P

Cukup untuk hari ini. Melelahkan tapi menyenangkan !

So, kegiatan apalagi yang akan diadakan Rumah Jendela? Pengen ikutan ? kepoin saja di facebook Rumah Jendela  , fanspage Rumah Jendela atau twitter Rumah Jendela.

Kami juga menerima sumbangan buku buat ngisi rak buku di Rumah Jendela, yang berminat menyumbangkan buku . . . yuk mari mention atau pm aja link di atas tadi \(^.^)

Sekian. Adios.
- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..