Tampilkan postingan dengan label KATA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KATA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Desember 2013

NADA DAN PETRICHOR DI BULAN DESEMBER




Percik hujan pada setiap sudut jalan masih membekas. Semua hal tak bisa menampik kedatangan karunia satu ini. Aku mulai belajar menyebutnya sebagai karunia sejak kau mengalunkan irama indah itu untukku. Nada-nada itu membuatku lupa akan rasa tidak suka pada hujan di bulan Desember. Alunan merdu tersebut membelai lembut seirama dengan petrichor yang berkejaran.

Kepulan asap susu hangat dari toko seberang menyahut. Aku menengadahkan pandanganku sejenak, berharap bisa mendengar kembali nada-nada yang membuatku bahagia dan merasakan kesejukan petrichor hari itu.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Rabu, 30 Oktober 2013

SEE



Terlahir dilangit dengan kemilau yang membuat beberapa orang terpaku, tidak lantas membuat kami terlihat hebat.
Tampak begitu kecil berhamburan diantara luasnya langit malam yang gelap, tidak lantas membuat kami pantas dikasihani.
Setiap hal memiliki sisinya masing-masing yang mungkin tidak akan pernah dipahami oleh orang lain.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Senin, 14 Oktober 2013

SURAT UNTUKMU



Seperti bunga dandelion yang terbang mengikuti arah angin, aku pun begitu. Mengikuti alur cerita hidup yang diberikan Tuhan padaku. Teman-temanku memiliki skema kehidupan sendiri. Berapa tahun lagi menjadi apa atau harus berbuat apa keesokan harinya. Mereka sebut itu dengan mimpi dan harapan. Tapi tidak denganku. Sejak kejadian beberapa tahun silam, yang aku percaya kini adalah hiduplah dengan penuh kebahagiaan untuk hari ini karena kita tidak tahu kapan deru napas yang dipinjamkan akan kembali diambil.

Aku mungkin terlihat selalu optimis dimatamu. Mencoba apa pun yang aku percaya. Mengikatmu untuk melihat semua ekspresi sesungguhnya diriku. Bahkan aku melepaskan cangkangku agar kau tahu aslinya jiwaku. Aku takut tidak memiliki cukup waktu untuk menjelaskan padamu seperti apa diriku karena hidup adalah misteri.

Kau sering bilang firasatmu mengatakan kita akan hidup bahagia. Tinggal di rumah mungil di tepi pantai. Memancing dan memandang karunia Tuhan untuk kita yang berlarian diantara pasir putih. Bersama hingga akhirnya kau pergi dengan bangga. Itukah mimpimu? Semoga tercapai karena aku tidak tahu bagaimana jadinya nanti ragaku.

Aku tidak punya mimpi meskipun aku tahu mimpi bisa membuat seseorang bangkit. Yang aku punya hanyalah untaian kata dan rasa hati yang sesungguhnya. Aku hidup bahagia untuk hari ini, ketika bersamamu.

Surat untukmu jika nanti aku tidak bisa lagi memijakkan kaki di muka Bumi.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Minggu, 05 Mei 2013

KEMBALI


( Setitik tinta jatuh ke dalam kertas putih. Kertas tersebut tidak sebersih dulu, dengan menangisinya hanya menjadi sia-sia. Ubahlah menjadi sebuah lukisan indah. Belajarlah dari kesalahan)

Berhari-hari kita lewati bersama. Memoriku penuh dengan senyuman lebar khas milikmu. Ke dua bola matamu yang bening dan penuh pengharapan selalu membuatku terhanyut untuk terus menjagamu.
Aku suka saat kau menyebut namaku dengan suaramu yang lembut. Pita suara yang bergetar itu beresonansi dengan getaran hatiku. Indah.

Aku merindukan saat itu. Hatiku memang masih beresonansi tapi kini bukan dengan suara, namun tangisanmu. Tidak ada lagi pendar bintang di kelopak matamu. Yang ada hanya dua gumpal awan mendung, tiap saat bisa memuntahkan berjuta-juta air.

Salahku. Harusnya aku bisa memotong sedikit saja keegoisanku, mendengar keluh kesahmu, dan mengerti arti diammu. Aku terlalu terlena oleh semua raut kebahagiaanmu. Merasa bahwa kau memang dewi yang tak pernah merasa sedih.

Ah, salahku. Berlari dan berlari membuat keisengan. Menarik orang lain untuk menggerus rasa hati yang kurasa telah membosankan.

Maafkan aku.
Kembalilah.
Shinta.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Jumat, 03 Mei 2013

KAMU

Hai kamu . . .

Hari ini matahari bersinar cerah sekali. Tubuh mungilku yang terbungkus jaket merah tebal seakan tak kuat berlari menembus keramaian. Teriakan beberapa orang tak sabaran berdengung bagaikan sekumpulan lebah. Sibuk sekali.

Aku diam sejenak menenangkan diri. Membiarkan kebisingan merasuki jiwaku yang seakan kosong. Aku kehilangan sesuatu.

Hai kamu . . .

Matahari dengan gagah mengucapkan selamat tinggal sejenak pada bumi. Bulan tersipu merona di ujung sana. Bintang-bintang berkedip manja menggodaku. Sibuk sekali.

Aku termenung. Membiarkan segala kegenitan itu menggodaku lebih jauh. Aku kehilangan sesuatu.

Hei kamu . . .

Bisakah kita berbicara sejenak? Aku lelah menyapa angin kosong, tanpamu.



- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Kamis, 02 Mei 2013

HALO, SELAMAT PAGI

Setitik embun membasahi dedaunan. Pagi menyapa gulungan selimut yang menutup rapat tubuh mungil. Cahaya diam-diam mengintip dari balik kanopi pepohonan.

Dunia telah terbangun, bersiap menyambutmu dengan sejuta keindahannya. Bagaimana dengan dirimu?

Halo, Selamat Pagi.



- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Kamis, 18 April 2013

GUAVA

Malam panjang tanpa bintang. Suasana gang dengan temaram lampu seadanya tampak sunyi. Tidak ada tanda seorang pun yang melintas. Sepertinya semua orang sedang sibuk mengisi malam mereka dengan kegiatan pilihan masing-masing.

Di sudut gang, sebuah lampu berpendar menerangi deretan bata yang menjulang. Tangan mungil dan kecil menelisik tirai. Mata bulat hitam menatap ke arah jalan seakan menunggu kehadiran seseorang. Namun, yang tersisa beberapa jam terakhir hanya bisik angin. Sepi.

Sebuah jambu biji terpelanting manja di atas karpet pada detik berikutnya. Tatapan mata tajam itu kemudian mengarah pada kulit mulus jambu biji. Satu bulir. Dua bulir. Tiga bulir. Airmata mulai menetesi pipinya.



Ada benda yang dapat membangkitkan kenangan. Ada kenangan yang tanpa disadari terus kau tunggu. Ada kenangan yang seharusnya kau sadari akan berakhir sebagai kenangan, tak akan terulang.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Rabu, 19 Desember 2012

PIMPI SI PELUKIS MIMPI

namanya Pimpi, umurnya tidak diketahui

Sebuah penghapus menggelinding pasrah dari atas meja, tersenggol siku yang runcing dan bergerak ke sana kemari. Rautan pensil memenuhi meja, sudut-sudut kaki meja, bahkan tegel putih bersih. Beberapa cat tampak tumpah begitu saja, meresap di atas kain kanvas yang membisu di bawah meja.

"Yah yah . ." Pimpi mendesis melihat tumpahan cat.

Tangan mungilnya dengan sigap menyamarkan tetesan cat. Padang bunga yang tadi dibuatnya kembali sempurna. Warna-warni dengan bau tiner membekas pada kanvas. Pimpi melompat ke atas kursi, mulai melanjutkan sketsa puteri duyung berambut kuning. Sesekali digigitnya crayola dengan gemas. Menepuk-nepuk crayola itu ke ujung meja.

Done.

Dia bergumam di dalam hati, membuka lembar sketchbook A5 miliknya. Titik-titik kembali menjalin, memilin warna crayola menjadi sebuah garis. Seorang gadis berambut pink dengan topi mungil di ujung kepalanya pun mencuat. Lembaran sketchbook putih tadi telah berubah. Pimpi tersenyum.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 18 Desember 2012

KEPEDULIAN BULAN MENANAM POHON

Tanah basah berhamburan. Dua sekop kecil mencungkil gundukan tanah dengan cepat. Srek. Srek. Sarung tangan karet kebesaran membungkus tangan-tangan mungil pemegang sekop.

Splash.

Gundukan kecil tanah yang dicungkil melompat pintar ke wajah salah satu anak. Anak lelaki tersebut otomatis jatuh terjengkang, kaget bukan main.

"Maafkan Bulan"

Lap sana. Lap sini. Tangan kecil itu selincah mungkin membantu mengebaskan tanah. Tapi bukannya makin bersih, wajah anak lelaki dihadapannya malah coreng moreng.

"Wajah Bintang jadi aneh" gadis kecil itu tertawa terbahak-bahak.

Anak lelaki yang dipanggil Bintang pun ikut tertawa menyadari bahwa wajahnya pasti telah sangat kotor. Butuh waktu semenit lebih untuk berhenti tertawa dan saling melempar tanah untuk kembali pada kerjaan mereka sejak sore. Wajah-wajah ceria penuh tawa tadi berubah bersinar. Mereka bersemangat.

Hari ini Bulan bersama tetangganya, Bintang, diajak bermain di salah satu sekolah taman oleh Tante Mery. Sekolah yang mengajarkan anak kecil untuk mencintai alam. Sejak pagi Bulan dan Bintang sibuk mengejar-ngejar anak ayam, memperhatikan proses menetasnya anak ayam, dan memerah susu sapi. Siangnya mereka dibiarkan beristirahat dan sorenya mereka dibebaskan untuk memilih ingin melakukan apapun. Bulan memilih untuk menanam pohon.

Sejak pertama kali datang ke tempat ini, Bulan terkesima melihat pohon raksasa yang ditunjukkan Kak Citra. Kata Kak Citra pohon itu bisa tumbuh dengan indah karena dicintai oleh masyarakat disekitarnya. Tidak ada yang jahil menebas, menggoreskan nama dibatangnya, atau bahkan sekedar iseng mematahkan ranting-ranting rapuh pohon tersebut.

Bulan sepenuhnya terkesima. Matanya berbinar melihat kanopi yang terbentang sangat indah. Sempurna menaunginya dan anak-anak lain dari terpaan sinar matahari. Wush. Wush. Angin yang berhembus pun terasa sangat sejuk. Berbeda sekali dengan suasana kota yang telah sesak oleh gedung pencakar langit.

"Bulan menanam pohon bareng Bintang" teriak Bulan ceria.

Tante Mery mengangguk khidmat. Kak Citra mengambil beberapa benih bunga akasia dan anakan pohon pinus. Memeluk Bulan dan Bintang. Dia senang Bulan menanam pohon dengannya.

"Cepat gede ya pohon" Bulan bergumam.

"Cepat gede" Bintang ikut bergumam.

Kak Citra tersenyum melihat kepolosan itu. Ah indah sekali. Andaikan saja semua orang berpikiran polos seperti ini. Penuh cinta dan mata berbinar memandang keindahan pohon hingga ikut melestarikannya. Hingga dapat kembali merasakan kesejukan dari Maha Pencipta. Kesegaran yang sebenarnya, yang tercipta dari kumpulan kanopi-kanopi pohon.

Andaikan saja semua orang bisa mengerti ini sebelum era modernisasi merenggut semuanya. Ya, semoga saja era modernisasi tidak mengubah kota kecil ini menjadi seperti kota Thneedville dalam film Dr.Seuss The Lorax. Tidak ada pohon asli. Tidak ada udara segar asli. Yang ada hanyalah pohon plastik dan udara segar buatan yang dijual seperti air galon. Ah, mengenaskan sekali.

Nih lihat, akibat sok tahunya manusia "cuma potong satu pohon aja kok, kan demi kebaikan" How bad it possibly be? Just look at it!

Kak Citra kembali tersenyum. Membuang jauh pemikiran buruknya. Setidaknya di tempat ini masih ada anak sekecil Bulan dan Bintang yang peduli terhadap kelestarian pohon. Ya, setidaknya masih ada yang peduli. Semoga kita juga begitu.

Mari menanam pohon!


You don't know me but names Sai
I'm just the O'Hare delivery guy
But it seems like trees might be worth a try
So I say let it grow

My name is Dan, and my name's Rose
Our son Wesley kind of glows
And that's not good so we suppose
We should let it grow

Let it grow
Let it grow
You can't reap what you don't sow
Plant a seed inside the earth
Just one way to know it's worth
Let's celebrate the world's rebirth
We say let it grow

My name's Maria and I am 3
I would really like to see a tree
Lalalalalalee
I say let it grow

I'm granny Norma I'm old and I got grey hair
But I remember when trees were everywhere
And no one had to pay for air
So I say let it grow

Let it grow
Let it grow
Like it did so long ago
Maybe it's just one tiny seed
But it's all we really need
It's time to change the life we lead
Time to let it grow

My name's O'Hare
I'm one of you
I live here in Thneedville too
The things you say just might be true
It could be time to start anew
And maybe change my point of view
Nah! I say let it die
Let it die, let it die
Let it shrivel up and die
Come one who's with me huh?

Nobody.

You greedy dirt bag!

Let it grow
Let it grow
Let the love inside ya show
Plant a seed inside the earth
Just one way to know it's worth
Let's celebrate the world's rebirth

We say let it grow
Let it grow
Let it grow
You can't reap what you don't sow
It's just one tiny seed
But it's all we really need
It's time to banish all your greed
Imagine Thneedville flowered and treed
Let this be our solemn creed
We say let it grow (x4)


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Jumat, 14 Desember 2012

SOK SIBUK

"Pit baru bangun?"

"Pit, gak pernah kelihatan"

"Pit, di kamar mulu gak keluar"

"Pit, gak bosan apa?"

Banyak komentar ini dan itu saya cuma tersenyum saja menjawabnya. Lagipula saya memang malas menjelaskan panjang lebar. Toh biarkan saja manusia dengan sikap serta sifat melihat apa yang tidak dikerjakan seseorang daripada apa yang dikerjakan orang itu.

Iya, saya memang jarang kelihatan. Jarang muncul ke komunitas atau gabung bareng teman-teman lain. Saya sibuk dengan sesuatu yang baru, yang menyenangkan.

Iya, belakangan ini saya memang di kamar terus. Tidur dan makan. Ya mau apalagi, masa tidur dan makan di teras depan, kan gak mungkin. 

Tidak, saya tidak bosan. Kamar selalu menjadi tempat favorit saya. Ada tumpukan kertas, cat lukis, buku-buku, dan kumpulan boneka rilakkuma. Apa alasan saya untuk bosan?

Hari ini agenda sejak pagi batal soalnya saya telat bangun. Ketiduran setelah shalat shubuh. Dasar pemalas. Ah terserah orang-orang mau nge-judge bagaimana. Mereka kan tidak tahu saya ketiduran karena apa. Kalau saya jelaskan, takutnya dibilang pencitraan doang.

Balik lagi, seperti hari ini ketika semua agenda batal dan saya menyesalkan hal ini. Saya mulai mengisi hari yang penuh rintik hujan dengan menyelesaikan tugas dari Teguh untuk kenang-kenangan pengisi acara masak bareng anak-anak Rumah Jendela. Si finalis master chef.



Entah kenapa Desember membuat saya kembali mengingat perform SO7 setahun yang lalu. Jadilah saya memasang  headset hijau, mendengarkan (kadang melihat) video SO7 sewaktu IAA tahun lalu. Sret sret. Kelar tugas yang ini, saya mulai melanjutkan beberapa pesanan dan kerjaan lain. Lumayan, mengisi dompet dan waktu luang. Bisa sedikit menambah koleksi buku dan portofolio.

Ah sok sibuk sekali saya. Nanti malam pun mau keluar. Biasa . . . cuma main-main doang, saya kan sok sibuk. Gak ada kerjaan. Adios.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

INI TENGAH MALAM

Ini memang tengah malam. Tidak ada cahaya matahari seperti pagi tetapi ada hembusan angin sejuk. Emm, sejuk atau dingin? Ah entahlah.

Ini memang tengah malam. Ketika semua mata terpejam sementara mata saya mulai 'menyala' bagaikan lampu yang dipencet tombol on-nya.

Ini memang tengah malam. Suara dengkuran dari kamar depan terdengar jelas. Wah nyenyak sekali tidurnya. Saya cuma bisa senyum-senyum dari balik jendela. Apa saya juga tertidur seperti itu? atau bahkan lebih parah? Ah mana mungkin, toh selama ini tidak ada yang komplain ketika tidur berdua dengan saya.

Ini memang tengah malam. Tangan sibuk mengetik, menuang kilasan mimpi-mimpi yang muncul beberapa hari belakangan ini. Kau tahu, entah kenapa saya jadi rajin sekali menulis fiksi walaupun hanya dengan satu atau dua halaman. Itu karena mimpi yang memaksa saya bertemu dengan tengah malam.

Beberapa hari yang lalu saya bermimpi memliki rumah singgah, muncullah tulisan Amir Amira yang hingga sekarang tidak saya ketahui ujung ceritanya ada dimana. Esoknya saya bermimpi terjebak di dalam sebuah permainan yang mengharuskan saya si gadis lemah (di dalam mimpi itu) untuk bertarung demi menyelamatkan seorang pria, yang sejak dulu saya suka dengan rasa terpendam, muncullah Permainan Cinta untuk Arimbi. Kemarin saya bermimpi hidup sebagai gadis lemah, setiap hari hanya menangis, mengais tumpukan sampah demi mencari uang. Badan bau sangit, rambut acak-acakan, dan wajah coreng moreng. Dibalik itu semua ternyata saya jatuh hati terhadap seorang pria, dingin sekali sikapnya. Jangankan menyapa, tersenyum pun enggan. Entah bagaimana caranya (namanya juga mimpi) saya bisa menghabiskan waktu berkeliling kota bersama pria itu. Menangis dipunggungnya karena merasa itu semua mimpi (hey itu memang mimpi). Merasakan debaran yang tidak biasa. Untuk mimpi ini, saya belum membuat cerita tetapi saya telah memikirkan satu judul, Punggung Hangat Pria Dingin.

Ini memang tengah malam. Masih banyak mimpi yang lainnya tetapi tiga mimpi tadi sungguh sangat menarik perhatian saya. Entah kenapa, saya merasa sosok pria itu selalu muncul di dalam mimpi saya, iya pria yang sama. Wajahnya samar tetapi bentuk badannya tergambar jelas. Tinggi, tegap, memiliki punggung yang hangat.

Ini memang tengah malam. Sudah itu saja, saya mau menghabiskan sisa waktu untuk membaca ulang.



- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Rabu, 12 Desember 2012

KISAH TANPA AKHIR

Kisah ini dimulai ketika pagi yang lembut menyapa sebuah kota. Kota kecil dengan pesona surga.

"Selamat pagi dunia."

Teriakan cempreng di balkon menggema. Dua buah tangan kecil terangkat tinggi-tinggi. Regangkan badan sedikit. Bengkok ke kanan lalu ke kiri. Mata mengerjap-ngerjap ringan, mencoba beradaptasi dengan terpaan matahari pagi.

"Hari, kamu bangun pagi sekali"

Suara jahil berbunyi. Wajah bahagia sirna diganti dengan lipatan-lipatan wajah menggemaskan.

"Kak Cinta, namaku Matahari bukan Hari. Kayak cowok aja sih"

"Kamu kan memang cowok" Cinta mengacak jahil rambut adiknya.

"Aku cewek kak, cuma ya memang bagian ini kecil" Matahari menatap dadanya dengan pilu.

Cinta serba salah. Dia sudah berjanji tidak akan membahas hal ini namun kebiasaannya memanggil Matahari cowok sedikit banyak membuka bagian itu.

"Obatnya Nona Matahari" 

Matahari tertawa riang, meraih obat dari suster dan menenggaknya dengan cepat. Lihatlah wajahnya cerah sekali seperti namanya. Tidak ada gurat sedih sehabis operasi. Tidak ada gurat penyesalan menghabiskan waktu remajanya di rumah sakit, terapi ini, terapi itu. Mengembalikan kondisinya seperti sedia kala. Sebelum  kanker payudara menyerang.

"Jam berapa anak-anak itu bangun?" tanya Matahari pada suster seraya menyisir rambutnya yang amat tipis.

"Sebentar lagi"

Suster hanya tersenyum. Matahari selalu ceria menyambut pagi. Berlari ke sana kemari. Berkunjung ke bangsal anak-anak. Melipat origami, menggambar, bercerita kepada mereka. Mengembalikan semangat hidup sekitarnya.

Matahari seutuhnya tahu hidupnya tinggal menghitung waktu. Entah beberapa tahun, bulan, besok, bahkan mungkin sore ini semua napas titipannya bisa diambil begitu saja. Matahari seutuhnya telah terbebas dari kanker payudara itu tetapi penyakit lain ternyata telah bersemanyam di dalam tubuhnya.

Banyak yang menatap prihatin gadis itu ketika mendengar semuanya. Namun lihatlah Matahari, dia tetap tersenyum seolah-olah semuanya baik-baik saja. Matahari tegar. Matahari kuat. Itulah yang selalu ingin dia tunjukkan kepada semua orang. Hatinya sudah terlanjur remuk melihat ke dua orang tua dan kakaknya menangis. Merutuki hidup sepanjang hari. Matahari tidak ingin melihat itu lagi. Dia hanya ingin meninggalkan semuanya dengan senyum.

"Kak Cinta ikut?"

Cinta mengangguk. Hatinya perih namun dia tetap tersenyum.

"Kak Candra gak ikut ke sini?" Matahari memulai pertanyaan menusuk.

Candra adalah tunangan Cinta. Sebelum tragedi Matahari yang sakit-sakitan terjadi, mereka telah berencana untuk segera menikah. Tapi semuanya pupus. Cinta sangat sayang terhadap adiknya, dia tidak ingin meninggalkan adiknya untuk kehidupan yang baru.

"Sampai kapan pernikahannya ditunda?" Matahari sudah menahan pertanyaan ini sejak lama.

"Kita bicarakan itu nanti saja. Ayo cepat, anak-anak mungkin sudah menunggu" Cinta menarik tangan Matahari.

Matahari terdiam, melepaskan tarikan tersebut dengan paksa. Keceriaan itu memudar.

"Matahari mau melihat kakak menikah sebelum Matahari meninggal"

Bibir tipisnya berkata lirih.

*

Bunga matahari merekah di sana sini. Para tamu dengan berbagai setelan baju tersenyum bahagia. Hari ini Cinta menikah sesuai dengan permintaan Matahari. Pipi Cinta merona merah, tangannya mengamit Candra ketika mengelilingi taman. Menyapa para undangan satu per satu.

"Konsep nikahmu bagus sekali. Bunga mataharinya cerah. Aku juga mau kayak gini nanti ya sayang" seorang tamu merajuk manja pada kekasihnya.

Cinta tersenyum simpul. Candra menguatkan genggaman tangannya.

Puluhan anak kecil dengan wajah pucat mulai menyanyi. Tangan mereka melambai indah. Beberapa suster tampak siaga di samping mereka. Cinta menangis haru. Ini permintaan Matahari.

Sebulan sebelum pernikahan dilangsungkan, Matahari menghembuskan napasnya. Seketika langit berduka. Suasana Rumah Sakit menjadi kelam selama beberapa minggu. Tidak ada lagi Matahari dan senyumnya.

"Matahari sudah bahagia di atas langit. Matahari akan menunggu semuanya dengan tersenyum jadi tersenyumlah mengantar Matahari."

Beberapa baris kalimat terakhir yang menguatkan.

Kata orang kematian bukan akhir dari segalanya. Ya itu benar. Kematian bukan akhir dari Matahari karena meskipun raganya memiliki batas untuk bertahan tetapi cerahnya kebahagiaan yang dia tabur masih tetap tertinggal.

Tamat. Ah tidak, kisah ini tidak memiliki akhir. Selama kebaikan Matahari masih hangat dibicarakan di bumi, selama masih ada senyum yang tersisa dari kenangan Matahari.



- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 11 Desember 2012

WINARA CINTA RAMA CINTA SINTA

Lonceng di tengah kota berdentang tiga kali. Langkah kaki berlomba menyusuri jalanan dengan petak persegi. Potongan bunga terhambur di sana sini. Wajah-wajah penuh senyum ikut menjelajah sore itu.

Selamat atas pernikahannya

Semoga cepat dapat momongan ya

Aduh, pengen cepat nyusul deh

Banyak sekali komentar yang terlontar dari mulu para tamu. Hanya Winara yang manyun. Bibirnya ditekuk sedemikian rupa ke depan, matanya menyipit, dan dahinya berlipat. Dia kesal setengah mati melihat ini semua.

Sepuluh tahun dihabiskannya menemani Rama tidaklah cukup untuk menunjukkan bahwa dialah yang pantas menjadi pendamping Rama. Sementara Sinta yang muncul dalam waktu hanya lima bulan, dapat dengan mudah mengambil seluruh cinta Rama.

Ah, bukankah Rama memang untuk Sinta?

Tidak. Dengan cepat Winara menepis pemikiran itu. Dialah yang seharusnya bersama Rama. Dialah yang paling mengerti Rama, bukan Sinta atau siapa pun. Rama sempurna untuknya dan dia sempurna untuk Rama sedangkan Sinta, hanya seorang gadis biasa dengan pendidikan rendah. Tidak punya kemampuan spesial.

*
Berpuluh-puluh tahun berlalu dengan cepat. Winara masih saja menyindiri. Hidupnya dihabiskan untuk mengganggu kehidupan Rama dan Sinta. Namun lihatlah, Rama dan Sinta tetap hidup bahagia. Dua anak mereka bahkan tumbuh dengan sangat sehat. Dan hari ini, salah satu anak mereka akan menikah. Di tempat yang sama.

Lonceng di tengah kota berdentang lagi. Suasana berpuluh-puluh tahun kembali menghampiri tempat itu. Winara masih memasang wajah tidak menyenangkan. Hatinya kesal setengah mati. Dia masih tetap percaya bahwa Rama memang tercipta untuknya. Sementara Rama tidak peduli dengan semua itu, dia bahagia menikmati hidupnya bersama Sinta.

*

Cinta, bukan mencari pasangan yang sempurna tetapi mencari pasangan yang cocok untuk menutupi ketidaksempurnaan kita.
Cinta, bukan dilihat dari berapa lama bersama tetapi seberapa dalam kebersamaan itu mengukuhkan cinta.
Cinta, tidak pernah memaksa.

Untuk Winara yang selalu menunggu Rama.
Untuk Rama dan Sinta yang (semoga) selalu berbahagia dengan cinta yang sederhana.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Minggu, 09 Desember 2012

KENANGAN TENTANG EMIL



Aku ingin kau mengingatku hari ini, esok, dan selamanya.

Jejak pensil samar tercetak diantara kertas bergambar. Hurufnya memang seakan menghilang namun kata per kata masih bisa dicerna dengan baik oleh mata. Rara menghela napas, membuang kertas itu begitu saja. Dia muak dengan segala kesedihan beberapa bulan terakhir. Dia juga muak dengan kata-kata puitis yang menggelayut ditiap kertas itu.

"Apanya yang mengingat?"

Airmatanya membuncah. Tetes itu jatuh tak bersuara memenuhi ruang bantal bundar, meresap cepat ke dalam. Meninggalkan jejak basah. Berkas rembulan malam menyusup diantara kisi-kisi jendela. Mencoba mengintip raut wajah Rara. Dia terluka sepanjang bulan ini. Hatinya menolak kenyataan hidup, jiwanya bosan mendengar kata prihatin.

Desakan langkah kaki berhenti di depan pintu kamar. Suara saling berbisik bagaikan ular mengganggu telinga. Rara menarik bantal bundar, memindahkannya ke atas kepala. Sempurna menutup bagian kepalanya.

"Rara?"

Hening. Rara mendengus kesal mendengar suara itu. Tidakkah mereka tahu kalau dia hanya butuh sendiri dan menangis?

"Rara? Kami tahu kamu masih gak bisa terima kepergian Emil tapi bersedih selama ini juga tidak ada gunanya" Suara di depan pintu terdengar prihatin.

"Tahu apa mereka. Apanya yang tidak ada gunanya? Aku butuh sendiri." decak Rara perlahan.

"Rara?"

Rara tidak peduli. Tekanan bantal bundar semakin diperkuat. Airmata kembali membanjiri. Bisakah mereka berhenti memaksanya untuk ikhlas? Dua jiwa yang dipisah secara paksa dan penuh tragedi seperti ini  sangat menyakitkan. Rara tahu mereka sangat peduli terhadapnya tapi yang dibutuhkan Rara sekarang bukanlah nada prihatin tersebut melainkan waktu untuk tenang.

Aku ingin kau mengingatku hari ini, esok, dan selamanya.

Kata-kata itu kembali terlintas. Rara membenci kata-kata itu. Apanya yang harus diingat jika rasa pahit yang ditinggalkan sangat dalam? Apanya yang harus diingat jika jiwa satunya menghilang begitu saja mengkhianati janji? Apanya yang harus diingat jika bercermin, wajah yang muncul adalah raut wajah salah satu jiwanya ketika menghembuskan napas?

Penuh amarah Rara bangkit dari pembaringannya. Menghempaskan selimut dan bantal. Semuanya terbang begitu saja.

PRANG!

Sebuah pigura ikut terhempas bersamaan dengan bantal guling yang terlempar. Dua wajah sama persis tersenyum memegang piala. Rara ingat hari itu, hari dimana Emil menjuarai lomba lari nasional dan hari dimana kebiasaan buruk Emil ketahuan. Nge-drugs. 

Jarum jam berdentang sepuluh kali. Rara membatu.

"Kenapa?" mulutnya bergetar mengucap tanya, "Kenapa kamu mengingkari janji itu? Kenapa kamu menyentuh obat-obat terlarang itu lagi? Kenapa harus aku, orang pertama yang melihat wajah pucatmu menghembuskan napas terakhirmu? Kenapa harus aku yang dipaksa mengingatmu?"

Rara bangkit meraih pigura. Matanya bengkak menumpahkan airmata. Pecahan kaca dia biarkan begitu saja. Dia lebih peduli terhadap foto pada pigura itu. Rara menarik paksa foto tersebut dengan kesal. Fotoitu kusut dan menyisakan sobekan kecil di ujung kiri atas.

Dibalik foto tersebut terdapat sebuah tulisan. Rara tidak pernah mengetahuinya.

Kita lahir bersama meskipun dengan jenis kelamin berbeda dan nama berbeda.
Kita lahir bersama meskipun katamu wajah kita berbeda.
Kita lahir bersama, dari satu rahim wanita terhebat. Ibu

Walaupun kita tidak menghempaskan diri dari dunia ini bersama, kita masih tetap bersama. Ingatanmu. Ingatanku. Kenanganmu. Kenanganku. Jika salah satu diantara kita mengingatnya, bukankah itu sudah cukup?

"KAU BODOH!!! KAU BODOH!!!" Rara berteriak. Hatinya sakit sekali.

"Kau bodoh" suaranya melemah, "tapi aku lebih bodoh karena hanya mengingat kenangan buruk kita"

*



Selama satu jiwa masih mengingat kenangan indah tentang mereka yang telah pergi berarti mereka masih akan hidup indah bersama kita. Dekat bersama segala kenangan yang pernah ada. Setidaknya itu lebih indah dibanding hilang bersama segala kenangan, terlupakan.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 08 Desember 2012

LINGGA

Langit masih cerah ceria menyapa pagi Lingga, gadis itu sibuk menumpuk buku tebal yang ditentengnya ke sana kemari. Kacamatanya yang berbingkai hitam bertengger di atas kepalanya, menahan segenggam poni yang mencuat keluar. Dia terlihat sangat repot dan sibuk. Setidaknya itulah yang terlihat dari gerakannya saat ini. Sudah berapa kali tas tangan yang dibawanya jatuh begitu saja ke lantai, mencium mesra tegel kampus yang licin.

"Si kutu buku sibuk sekali hari ini"

"Lihat tuh, bantuin sana"

"Lu aja yang bantuin, gue sih ogah"

Bisik-bisik terdengar ketika Lingga repot mengambil kembali tasnya. Sekelumit kemudian, bisik-bisik tadi hanya lewat begitu saja. Terbang bersama udara yang mereka hirup. Tidak ada yang menolong. Lingga bersikap acuh, membiarkan semua itu terjadi seperti biasanya. Dia kembali mengangkat kepalanya, berjalan lurus.

Bruuuuk . .

Semua buku yang dibawanya dihempaskan begitu saja di atas meja mahoni persegi.  Lingga membenarkan posisi kacamatanya, duduk dengan anggun, dan mulai menyalin kata per kata dari buku yang dibawa. Lingga dan buku adalah sahabat sejati.

Lingga bukan tipe gadis kutu buku seperti yang dicitrakan di media elektronik. Ketinggalan jaman? tidak sama sekali. Lingga bahkan dapat dikategorikan sebagai cewek modis apalagi dengan bentuk wajahnya yang mempesona. Rambutnya panjang sebahu dengan ujung bergelombang halus. Raut wajahnya tegas, memperlihatkan sudut kecerdasannya.

Tapi lihatlah dia hanya duduk sendiri di taman. Mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan secara kelompok, kenapa? Karena itulah Lingga. Dia hanya percaya pada kemampuannya. Beberapa orang yang pernah sekelompok dengannya selalu kecewa. Lingga memang pintar dan itulah yang membuatnya celaka. Dia hanya akan percaya pada hasil yang sesuai dengan standarnya karena menurutnya dialah yang paling benar.

Ya, siapa yang tidak kenal Lingga. Si langganan juara karya ilmiah. Si hebat dalam berdebat. Si cerdas yang bahkan telah mendapatkan beasiswa di universitas ternama di luar negeri. Si cantik yang dijauhi.



"dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." Q.S Al-Luqman ayat 18

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Rabu, 05 Desember 2012

CERITA FIA


Beberapa bulan terakhir aktivitas kuliah sudah berhenti. Tidak ada lagi tugas. Tidak ada lagi begadang menyelesaikan laporan. Bolak-balik angkat PC, crimping, beli kabel UTP, dan menggendong tiga buah laptop sekali jalan.

Semua dunia engineering sudah berakhir. Dunia yang dulu tidak mau aku lihat bahkan hampir membenci. Tapi akhirnya aku sadar, kalau aku tidak terjebak di dunia itu mungkin aku tidak akan bisa seperti sekarang.

Hari dan bulan sudah berganti dengan cepat. Banyak teman yang sudah berhasil mendapatkan kerja, sibuk kuliah lagi. Aku hanya bisa tersenyum melihat itu semua. Diam di sini dan menunggu.

Beberapa orang mengira aku hanya diam saja di kamar, membuang-buang waktu percuma. Wajar saja karena memang aku lebih sering berdiam diri di kamar. Merenung. Banyak sekali hal yang aku simpan dalam diam tiba-tiba mencuat begitu saja. Bertanya banyak hal. Merutuki berbagai macam hal. Menangisi semuanya.

Bisa gila rasanya melewati itu semua tapi hey sejauh ini aku bisa. Bertahan sampai sejauh ini, lebih lama lagi mungkin bisa. Tumpukan hal-hal yang berserakan di meja setia menemaniku. Melihat merahnya wajahku ketika menangis. Melototnya mataku ketika marah. Ngedumel gak jelas ketika kesal. Bahkan menyakiti diri sendiri.


Iya, aku memang susah sekali menunjukkan ekspresi itu semua bahkan ke sahabatku sekali pun. Banyak merenung dan berpikir membuat aku enggan bertemu orang-orang. Aku tidak ingin diganggu, aku butuh sendiri. Berhari-hari aku menanamkan itu dihatiku hingga aku sadar sebenarnya aku membutuhkan mereka. Manusia yang sebenarnya kesepian bukan butuh senyap sekeliling, hanya butuh didengar.

Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti merenungkan hal-hal yang membuatku bingung. Mencari kesibukan lain. Coret sana. Coret sini. Bukankah ini pelarianku ketika aku merasa sendiri dan tidak ada yang mau mendengar?


Semakin lama pelarianku itu (entah kenapa) terasa semakin menyedihkan. Rasanya sudah cukup. Aku butuh meluapkan hal yang bertahun-tahun aku simpan. Aku butuh sekali didengar. Sekali saja, siapa pun.

Aku bercerita, memutuskan meluapkan semuanya. Kebingunganku. Lega rasanya. Terimakasih.

Sudah mendapatkan jawaban? Alhamdulillah.
Dari sedikit bercerita ada setitik pencerahan. Dari sedikit membaca yang entah kenapa (mungkin ini takdir) aku menemukan sesuatu untuk kebingungan itu.

Sabar. Berusaha. Sebab-Akibat. Berbuat baik.


*

Fia menutup laptopnya, menghela napas. Semua sudah ditulisnya. Ada senyuman yang mengembang disudut wajahnya. Satu-satunya lesung pipit merekah. Sudah lama sekali lesung itu tidak terlihat.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Selasa, 04 Desember 2012

CINTA DI LANGIT


Namanya Mentari, dia gadis ceria yang selalu tersenyum menyambut apa pun. Siapa pun yang melihatnya pasti akan merasa ceria dan hangat. Mentari seakan tidak memiliki beban masalah. Tapi satu hal yang tidak mereka ketahui. Ketika malam menjelang dan matahari redup jatuh diganti bulan, Mentari meringkuk sedih dibalik selimut birunya. Dia kesepian.

Namanya Awan, dia pria yang terlihat tegas dan dingin. Jiwa petualangnya sangat besar. Dia tidak suka terikat dengan hal apa pun. Semua yang bertemu dengannya pasti tahu bahwa Awan tidak mungkin bisa direngkuh. Tapi satu hal yang tidak mereka ketahui. Di hari-hari hilangnya Awan tepat ketika suasana langit tampak muram, Awan bersedih. Dia hanya bisa memendam semuanya sendiri meskipun jauh di dasar hatinya dia sangat ingin berbagi semuanya secara rinci. Dia kesepian.

Di langit cinta apa pun bisa terjadi.
Di langit cinta dua buah nasib bisa terpaut menjadi satu, menyulam benang kebahagiaan.
Di langit cinta ada Awan dan Mentari.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Minggu, 25 November 2012

BATAS

Semua makin jauh. Entah itu mimpi maupun rencana yang sudah tersusun. Mungkin kuasa manusia memang cuma sampai di sini, membuat rencana dan berharap. Dentuman di sebelah kiri tengkorak semakin terasa, berat. Sepertinya memaksaku untuk tertidur selama dua hari berturut-turut seperti kemarin.

Kalau sudah begini, salahkah aku jika berhenti sejenak mendorong dan menyemangati kalian? Aku butuh duniaku, aku juga butuh didengar. Walau susah untuk mengatakannya.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Sabtu, 24 November 2012

BERHARAP

Rasanya hari ini semuanya meledak. Amarah, tangis, dan rasa sakit. Sakitnya di sini, tepat dihati. Sunnguh tidak menyenangkan ketika kau mencoba melakukan apa pun agar senyummu terus mengembang tapi hatimu menangis. Lebih tidak menyenangkan lagi ketika kau diminta berkata jujur, namun kejujuran itu tidak diterima.

Rasanya hari ini semuanya meledak. Kita tidak baik-baik saja, setidaknya disisi aku. Mungkin aku memang terlalu banyak diam, memendam semuanya. Berharap kita akan baik-baik saja.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

MENGEJAR MIMPI MENTARI

02.00 AM

Sudah dua hari ini Mentari sibuk mengejar asanya yang dulu terkubur. Tangan, mata, bahkan otaknya terus bekerja. Sibuk sana, sibuk sini, entah apa yang dia kerjakan. Kamarnya yang biasanya rapi teratur, setiap peralatan disusun berdasarkan kegunaan, kini tampak berantakan. Pensil diam disudut lemari, penghapus terhimpit kursi, dan kabel berpelukan kesana kemari.

"Aku lapar"

Mentari memegang perutnya sendiri. Dia ingat seharian ini belum menyentuh nasi. Waktunya habis dipakai untuk mengurus ini itu. Rehat sejenak hanya ketika adzan memanggil dan matanya telah lelah, mengingat kacamata kotaknya hilang entah kemana.

Maaf mbak, jualan kami sudah habis

Sms balasan yang muncul dari salah satu langganan Mentari. 

"Makan apa nih?"

Mata Mentari otomatis melihat sekeliling. Tidak ada sesuatu yang bisa dimakan. Biasanya Mentari mempunyai banyak sekali stock cemilan di lemari kecilnya, namun sudah hampir sebulan ini dia tidak membelanjakan uangnya untuk hal-hal tersebut. Banyak hal yang dia pikirkan. Mimpi yang terkubur itu telah bangkit lagi. Semangatnya memang terlihat redup dari luar tapi langkahnya perlahan mulai maju. Sedikit demi sedikit.

"Waktuku maksimal dua tahun lagi . . ." Mentari bergumam pada dirinya, menepuk pipinya dan kembali bekerja, berharap suara perutnya berhenti berbunyi.

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..