Rabu, 18 Juli 2012

JANGAN CURI BUDAYA KAMI

Dilahirkan dan dibesarkan di Serui (Papua) yang memiliki beragam penduduk dari berbagai suku di Indonesia membuat saya jadi mengerti betapa kayanya Indonesia. Berbagai suku di Indonesia memiliki ciri mereka yang unik dan keren :D Mungkin itu adalah salah satu faktor yang menjadi daya tarik penduduk asing untuk berkunjung ke Indonesia. Rasanya menyenangkan kalau penduduk asing datang ke Indonesia dan melihat sendiri betapa kayanya budaya Indonesia serta mempelajarinya :-)

Untuk itu, sebagai warga negara yang baik dan calon penerus bangsa yang budiman *ehem* sudah seharusnya kita menjaga budaya yang ada di Indonesia dengan baik. Melestarikannya dan bangga terhadap budaya itu sendiri agar tidak dicuri oleh bangsa lain. Kita boleh berteriak " JANGAN CURI BUDAYA KAMI" tapi kita juga harus sadar, apakah selama ini kita menjaga budaya tersebut? Atau apakah kita baru sadar akan hal itu hanya ketika budaya kita mau dicuri? Tanyakan pada diri sendiri deh kalau masalah itu :-)



- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Senin, 09 Juli 2012

SO SICK FOR YOU AND ME


Jammy – Man

Gotta change my answering machine. Now that I'm alone ‘cuz right now it says that we can't come to the phone. And I know it makes no sense 'cuz you walked out the door. But it's the only way I hear your voice anymore. (Ne-Yo – So sick/man version)

“Tahan Jammy, jangan sampai kau kalah”  aku menyemangati diriku sendiri.

Aku memandangi handphone ku yang membisu, tidak seperti biasanya. Harusnya malam ini, aku bisa mendengar suaranya yang renyah dan manja. Harusnya malam ini, aku bisa tertawa mendengarnya merengek padaku seperti biasanya. Ah, itu tidak mungkin terjadi karena semuanya telah berakhir. Aku melangkah pelan dan melihat handphoneku sekali lagi. Ingin rasanya mengganti sim card baru atau paling tidak membuang handphone ini tapi, itu tidak mungkin ku lakukan. Aku bimbang sejenak memandang handphone hitam ditanganku.

It's ridiculous. It's been months and for some reason I just can't get over us. And I'm stronger than this, yeah. Enough is enough, no more walkin' round with my head down. I'm so over being blue, cryin' over you. (Ne-Yo – So sick/man version).

Kemudian aku tertawa melihat kebodohanku sendiri. Sebulan sudah dia pergi dari hidupku dan membawa semua yang berharga untukku. Saat mengingat hal itu aku merasa kuat, aku kuat dari sebelumnya. Kebimbangan dan kesedihan di hati coba ku lawan.
Aku ingin mematikan handphone hitam yang masih terdiam di tanganku tapi, tanganku seakan tak mampu bergerak. Aku mengalihkan pandanganku dan berharap agar aku tidak tergoda lagi. Namun, kesalahan terbesar pun ku lakukan. Pandanganku mengarah ke sebuah kalender putih di atas meja.

Gotta fix that calendar I have that's marked July 15th. Because since there's no more you, there's no more anniversary. I'm so fed up with my thoughts of you and your memory. And how every song reminds me  of what used to be. (Ne-Yo – So sick/man version).

“15 Juli” batinku.

Semua kenangan tentangnya kembali menghantuiku. Kini ku tahu, mengapa aku sangat merindukan suara dan kehadirannya saat ini.

“15 Juli” batinku sekali lagi.

Kalau saja semua kesalahpahaman itu tidak terjadi, seharusnya saat ini aku bisa melihatnya duduk dihadapanku merayakan hari pernikahan kita. Aku bisa mencicipi masakannya, tertawa melihatnya melakukan kebodohan saat memotong kue, dan menerima hadiah pernikahan darinya.
Sebuah lagu mengalun indah di kepalaku saat mengingat hal itu.

“Aku tahu apa yang harus ku lakukan”

I'm so sick of love songs, so tired of tears. So done with wishing you were still here said I'm so sick of love songs, so sad and slow. So why can't I turn off the radio? . (Ne-Yo – So sick/man version).

Aku mematikan handphone dan melemparkannya ke atas kasur. Samar – samar aku mendengar suara penyanyi favoritku bernyanyi dengan indah. Lagu tersebut mengalun pelan dan mengingatkanku akan dirinya.
Rasanya sakit. Sakit mendengar lagu tersebut kini menemaniku di dalam kesedihan. Harusnya aku segera mematikan radio yang masih terus mengalunkan lagu kenangan itu tapi, aku tidak bisa dan tidak mau. Aku rasa dia juga akan merasakan hal yang sama jika mendengar lagu ini.

 Sedetik kemudian aku  berharap dia akan muncul dihadapanku tapi, aku tahu itu tidak mungkin.
Aku terdiam dan lagu tersebut terus mengalun dengan tenang.

Leave me alone. Leave me alone. Stupid love songs, don't make me think about her smile or having my first child. I'm letting go, turning off the radio. (Ne-Yo – So sick/man version).

Aku semakin merindukannya.

Aku berdiri sejenak dan membuka laci meja. Aku melihatnya tersenyum menggendong anak pertama kita. Ku usap foto itu perlahan dan kemudian aku tersadar saat melihat sobekan kecil di samping foto tersebut.
Kau saat itu bukan milikku.

15 Juli seharusnya menjadi hari pernikahan kita. Aku kemudian mengingat kejadian itu.
Sebulan yang lalu aku melihatmu di sebuah rumah, sedang tersenyum dan memeluk seorang pria. Aku terkejut dan ingin segera menarikmu tapi, aku tetap terdiam di tempatku berdiri sambil menunggu pria tersebut pergi.

Dan kemudian yang ku ingat adalah kau meninggalkanku sambil membawa semua cintaku dan anak pertama kita.

Aku semakin sedih. Ku robek foto itu menjadi sebuah kepingan dan segera mematikan radio.
“Aku akan melupakanmu Lily” batinku.

***

Lily - Woman

I gotta change the station that I had cause all I hear is you. It just keeps reminding me of all the things we used to do. And I know that I should turn off the radio but it's the only place I hear your voice anymore. (Ne-Yo – So sick/woman version)

Malam ini aku terduduk dalam diam memandang radio tua di sudut kamarku. Aku bimbang karena malam ini tidak seperti malam – malam sebelumnya. Suara penyiar radio yang tenang tidak dapat membuat jantungku berhenti meronta. Ingin rasanya melangkah ke radio tua itu dan mematikannya tapi, inilah satu – satunya cara untuk mendengar suaranya.

“Hahhhhhhhhhh....” aku menghela napas dan tertunduk.

It's ridiculous. It's been months since I spoken to you. You ain't keep in touch, don't know why it came to this. But enough is enough no more walkin' round with my head down. I don't wanna be a fool crying over you. (Ne-Yo – So sick/woman version)

Sebulan sudah aku tidak berbicara dengannya. Aku merasa inilah yang harus ku lakukan agar dia merasa tenang. Aku memang salah tapi aku tahu ini yang terbaik untukku.

Aku ingin menjalani hidupku dengan sedikit cinta untuknya tapi aku rasa semua itu sudah cukup. Terakhir kali aku ingin menyapanya, yang ku dapat adalah penolakan. Cukup sudah, aku tidak ingin menjadi orang bodoh yang berharap dia akan segera memaafkanku.

Gotta fix that calendar I have that's marked July 15th. Cause it seems like you forgot that it was our anniversary. When I heard your song it made it hard to  erase your memory. Now when I hear your song, I know it's meant  for me. (Ne-Yo – So sick/woman version)

Aku yakin saat ini dia masih menganggapku sampah. Aku memandangi kalender di dinding.
“15 Juli” batinku

Aku rasa dia tidak akan pernah mau mengingat hari ini, tanggal ini. Tanggal dimana semua kebahagiaan akan menghampiri kehidupan kita. Tanggal dimana aku mendengarnya mengucapkan sebuah sumpah yang selalu dinantikan oleh semua wanita.

Kemudian aku mendengar sebuah lantunan yang tidak asing bagiku dari radio tua di sudut kamar. Lagu kenangan ku, lagu yang sering dinyanyikannya untukku. Ketika aku merasa sedih, dia selalu ada untukku menyanyikan lagu ini. 


I can't believe that you're so sick of love songs, so tired of tears. You say you love me. Why ain't you here?I'm so sick of your love songs so sad and slow but I just can't turn off the radio. (Ne-Yo – So sick/woman version)

“ itulah lagu yang baru saja di request oleh sahabat kita Jammy....”

Suara penyiar radio membuyarkan lamunanku. Aku tahu dia pasti merasa sedih mendengar lagu ini. Aku tahu dia pasti merasa jenuh dengan semua ini.

Karena aku juga merasakan hal yang sama. Aku tahu dia menyayangiku tapi dia tidak akan mungkin hidup bersamaku setelah semua keputusan pahit yang telah ku ambil.

Seandainya saja dia tahu, ini demi masa depanku. Dan aku tahu aku sangat egois.

Now that I'm gone .Now that I'm gone. I wanna be left alone. And every time I see your smile, It's looking at our child. You should know. Why can't you move on? (Ne-Yo – So sick/woman version)

Sekarang aku telah pergi dari kehidupannya, hidup sendiri dengan segenap cinta.

Sebulan yang lalu, semua kebohongan yang ku lakukan telah terbongkar. Jammy melihatku bersama Doni, suamiku.

Aku tahu dia marah besar padaku meskipun dia tidak mengatakannya. Aku memandang wajahnya yang memerah dan mencoba menjelaskan semuanya.

“ Maafkan aku, kau meninggalkan aku saat bayi kita mulai hidup di dalam perutku. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan jika aku tidak segera menikah. Kau menghilang selama setahun. Kau menghubungiku tiba – tiba dan aku senang. Maafkan aku karena tidak memberi tahumu semua ini. Maafkan aku yang membohongimu. Maafkan aku tapi aku telah memilih jalan hidupku sendiri”

Itulah kata – kata yang ku ucapkan untuknya. Aku memang kejam dan egois. Hal itu menyakitiku dan aku tahu, dia pun tersakiti.

“Mama...”

Aku melihat balita manis yang memanggilku. Senyumnya sangat mirip dengan Jammy. Aku berharap dia tahu dan bisa hidup lebih baik serta mau memaafkanku.


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

JANJI - JANJI AYAH V


V

Ayah sedang asyik membaca koran hari ini sambil menikmati secangkir kopi hitam di taman depan rumah. Dari dapur aku bisa melihat wajah Ayah yang semakin menua. Tak jauh dari Ayahku duduk, pria lain yang kusayangi pun sedang menikmati secangkir kopi sambil membaca koran. Mereka berdua tampak menikmati dunia sendiri.

“Aku mau masuk dulu” suara kaku pria yang kusayangi terdengar jelas.

Pria itu berjalan ke arahku sambil tersenyum masam. Aku tahu dia tidak nyaman dengan kehadiran Ayah di rumah kami tapi aku tidak bisa berbuat banyak. Sejak Ibu dirawat di rumah sakit, Ayah tidak bisa ditinggal sendiri. Di usianya yang semakin senja Ayah juga memerlukan perhatian khusus dan sebagai anak semata wayangnya, aku harus melakukan hal tersebut meskipun rasa engganku telah menggerogoti hatiku.

“Katamu hanya dua hari” pria yang kusayangi menarikku ke dalam kamar dan mulai marah.

“Mau bagaimana lagi, aku kira Ayah bakal pergi dengan sendirinya tapi ternyata Ayah masih betah disini. Lagipula kita gak bisa biarin Ayah tinggal sendirian, bagaimanapun juga dia masih Ayahku dan mertuamu”

“Alasan ! Kamu kan bisa bilang sama Ayah kalau kamu gak betah Ayah disini. Kita pengantin baru, sudah seharusnya Ayahmu itu mengerti !!” suaranya mulai meninggi.

“Pelankan sedikit suaramu”

“Biarkan saja !! Supaya Ayahmu bisa dengar semuanya. Sudah sejak awal dia tidak setuju hubungan kita !! Aku yakin sekarang Ayahmu disini karena ingin memisahkan kita !” dia mulai berteriak.

“Tolong jangan bicara seperti itu tentang Ayah” airmataku mulai menetes.

“Kenapa? Bukannya kamu juga bosan dengan tingkah Ayahmu itu? Bosan dengan semua janji – janjinya?”

Aku terdiam. Memang benar aku bosan dengan semua janji Ayah dan merasa kecewa dengan janji – janji itu tetapi Ayah tetaplah Ayah.

“Sudah berhenti menangis” dia menarik tanganku dengan kasar.

Tok tok tok . . .

“Flora?” suara Ayah terdengar lembut menyapa dari depan pintu.

Aku berlari dengan cepat ke arah pintu sambil menghapus jejak airmata yang tadi sempat mengalir.

“Ada apa Yah?” aku mencoba berbicara dengan intonasi yang tenang.

“Ayah mau pulang ke rumah. Kata dokter Ibumu sudah bisa dirawat di rumah. Maaf Ayah telah merepotkan kamu”

Sebuah tas besar telah tersampir dibahu Ayah. Sepertinya Ayah mendengar pertengkaran kami tadi.

“A-Ayah”

“Sudah tenang saja, Ayah bisa pulang sendiri kok”

Sepi. Siluet Ayahpun menghilang dengan cepat. Rasa hampa menyergap ke dalam ragaku. Kenangan dan rasa seperti ini pernah ku alami dulu.

*

Membiarkan semuanya berjalan dengan semestinya malah membuat hidupku terasa semakin suram. Bayangan Siska di dalam hidupku semakin terasa. Di rumah, Ibu selalu mengutamakan Siska sedangkan didalam lingkaran persahabatan kami James lebih memilih Siska dibanding aku. Dan hanya menunggu waktu yang tepat hingga akhirnya James benar – benar memilih Siska sebagai pendamping hidupnya.

“Ini akibatnya berdamai dengan keadaan !!” aku mulai membenci perkataan Ayah.

“Semua pasti ada hikmahnya Ra” Alvin selalu mencoba menenangkanku.

“Iya memang ada ! Aku tidak boleh berhenti membenci Siska. Dia sudah merebut semuanya dariku” aku berteriak marah dan meninggalkan Alvin terpaku sendirian di taman.

Hari berganti hari, masa kuliahku terlewati dengan berkonsentrasi mengalahkan Siska serta merebut semua hakku yang diambilnya. Aku mulai berhenti berbicara kepada Ayah dan Alvin mengenai semua rencanaku. Menurutku itu percuma karena mereka akan selalu memintaku untuk berdamai dengan keadaan, bersikap bijak, atau apapun itu. Omong kosong.

Sekarang yang aku yakini adalah aku harus merebut kebahagiaanku sendiri. Cara apapun akan ku tempuh. Pertama, aku harus merebut kasih sayang Ibu dari Siska. Untuk mewujudkan hal tersebut aku selalu mencoba bersikap semanis mungkin terhadap Siska agar Ibu bisa sedikit bersimpati padaku. Prestasiku di kampus juga harus aku tingkatkan agar Ibu semakin senang dan bangga padaku melebihi Siska.

Bersikap baik pada Siska membuahkan hasil yang sangat bagus. Siska sangat mempercayai aku sehingga aku dengan mudah bisa menghancurkan semua rencananya. Menghancurkannya dari dalam jauh lebih gampang dan menyakitkan. Lagipula, dia tidak akan pernah menyangka aku yang kemudian akan menghancurkan hidupnya.

Rencana pertamaku untuk meraih cinta Ibu telah berjalan sukses, dan rencanaku untuk merebut James pun telah berjalan dengan mulus bahkan sebelum aku menjalankan rencana tersebut. Belakangan ini Siska dan James sering sekali bertengkar entah apa alasannya. Yang jelas James selalu mencariku untuk berbagi keluh kesah. Tidak ada yang lebih indah dibandingkan hal ini.

“Sudah ada waktu untuk Ayah?” Ayah menerobos begitu saja ke dalam kamar.

Sudah hampir empat tahun aku tidak berbincang banyak dengan Ayah. Aku selalu berlari dan mencari alasan untuk tidak berbicara berdua saja dengan Ayah. Entah sejak kapan cara Ayah berbicara padaku pun berubah. Dulu Ayah selalu menyebut namaku seolah aku masih gadis kecilnya namun sekarang Ayah memperlakukanku selayaknya anak gadisnya yang telah dewasa.

“Eh ada apa Yah?”

“Pola hidupmu semakin berubah sejak kamu dewasa. Alvin sering menanyakan kabarmu. Sekarang dia sudah bekerja di perusahaan ternama di Amerika”

“Baguslah” kataku singkat.

“Kenapa kamu tidak pernah menghubunginya lagi?” Ayah mencoba bertanya sambil meneliti koleksi bukuku, seperti kebiasaan Ayah selama ini.

“Aku sibuk Yah”

“Sibuk apa menghindar?”Ayah menatapku sekilas lalu beralih ke jejeran buku,” Ayah tahu kamu menghindari Ayah dan Alvin karena kita selalu menasehatimu untuk tidak melakukan hal yang aneh – aneh terhadap Siska”

“. . . .”

“Apa yang selama ini Ayah katakan padamu hanya angin lalu?”

“Aku . . . aku tidak mengerti apa kata Ayah” jawabku gugup.

“Kamu mengerti, sangat mengerti. Ayah sudah berjanji untuk mengembalikan langkahmu yang berbelok ke jalan yang salah. Sejauh ini Ayah lihat, kamu telah berjalan ke arah yang salah. Siska tidak seburuk apa yang bergejolak dipikiranmu.”

Sekarang Ayah membela Siska? Aku tersentak dengan pernyataan Ayah itu.

“Ayah juga berjanji untuk membiarkan aku meraih kebahagiaanku” desisku menahan marah.

“Tapi ini bukan kebahagiaan yang sebenarnya. Flora, coba gunakan hatimu untuk melihat ini semua”

“Ayah sudah janji !! Ayah sudah janji untuk membiarkan aku meraih kebahagiaanku dan inilah caraku” amarahku mulai tersulut.

Ayah menghela napas dan memandangiku dengan tatapan sedih. Aku tidak tahan melihat tatapan mata itu. Aku memilih menundukkan pandanganku.

“Baiklah. Tapi kamu harus ingat, kebahagiaan yang terbentuk dengan merebut kebahagiaan orang lain bukanlah kebahagiaan sejati. Itu hanyalah napsu belaka. Dan Ayah minta, jauhi James. Kamu tidak tahu seberapa busuknya dia. Siska sudah menceritakan semuanya pada Ayah”

Aku mengepalkan tanganku. Tahu apa Ayah tentang kebahagiaanku? Bukankah selama ini justru Siska yang telah merebut semuanya dariku? Kenapa Ayah melarangku mendekati James? Entah apa yang telah Siska katakan hingga sekarang Ayah berpihak padanya.



continue . . .

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..