Selasa, 17 April 2012

BLOODY FANG #3




Another fact of fang

Previously (chapter sebelumnya) :

Di sana hanya ada sebuah agenda yang tergeletak. Bangunan kecil berbahan kayu itu tampak berantakan. Deru angin yang berdesing diantara pepohonan seperti telah memporak – porandakan bangunan kecil itu. Algeron kini terlihat duduk di ruang tengah sambil terus membakar berlembar – lembar kertas.

“Dimana Charlotte sekarang?”

Tak ada seorang pun disana, Algeron menggumamkan pertanyaan tersebut lebih kepada dirinya sendiri. Tangannya yang bergaris – garis aneh membentuk sebuah gerakan acuh. Meja yang terbalik kini menari riang menuju ke tempatnya sementara sebuah sapu ijuk cokelat tampak mengibaskan debu di lantai.

Tepat saat semua gerakan tarian tersebut selesai, Algeron melihat benda berkilauan terselip di bawah sofa beludru. Sebuah bros manik dengan ukiran mawar. Algeron tersenyum aneh lalu menjentikkan jarinya seraya berkata, “Ternyata dia”

***

Charlotte diam seribu bahasa melihat wanita yang berdiri dihadapannya. Seorang wanita yang tampak manis dan masih muda. Wanita itu mengenakan sebuah baju berenda yang sangat panjang. Langkahnya yang pelan membuat ekor bajunya berbisik riang diantara sunyi. 

“Tehnya?” tanya wanita itu sambil menuangkan teh.

“Kamu pasti bingung aku siapa kan?” wanita itu berkata sekali lagi sambil tersenyum.

Charlotte mengangguk dalam – dalam, sikapnya menunjukkan rasa takut dan penasaran. Wanita itu tersenyum lagi lalu mendekati Charlotte. Charlotte merinding melihat tatapan mata wanita itu.

“Mirip Kak Karina” batin Charlotte

“Aku bukan Karina”

Charlotte membulatkan matanya, hampir saja dia menyemburkan tehnya. Wanita itu berdiri dan menjentikkan jemari lentiknya. Sebuah buku tebal bersampul hitam melayang begitu saja dihadapan mereka.

“Lihat, itu aku dan yang disana kakakmu”

“K-k-kembar?” Charlotte tercekat dengan kata – katanya sendiri.

Wanita itu tertawa lalu berkata, “Tidak, Tidak. Lihat baik – baik, wajahku lebih tua dari Karina di foto ini. Aku ibu kalian yang sebenarnya, ah bukan. Lebih tepatnya aku ibumu”

Charlotte mengerutkan dahinya, dia masih kaget dengan pernyataan yang baru saja didengarnya. 

"Kenyataan apalagi ini?" batin Charlotte.

Wanita itu duduk dihadapan Charlotte dan mulai bercerita. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Andromeda Louis, salah satu anak dari tetua Louis yang paling disayangi. Dia dan Iris – wanita yang selama ini mengasuh Charlotte dan dianggap sebagai ibu – adalah saudara kandung dari seorang wanita yang bernama Lussy Louis, anak kandung dari Atheos. Dengan kata lain, Andromeda adalah cucu Atheos. Andromeda ditakdirkan untuk menjadi penerus Atheos karena selama ini dialah yang paling menonjol di keluarga tersebut. Dia seperti mewarisi seluruh gen kakeknya, Atheos. Watak keras, pendirian teguh, cepat belajar, serta wajah yang sempurna. Atheos sangat menyayangi Andromeda melebihi sayangnya pada anak kandungnya sendiri. Andromeda dijadikan ratu dikeluarga tersebut, hal itu tampak menyenangkan namun Andormeda tidak menyukainya.

Hidupnya perlahan tapi pasti mulai diatur. Dia wajib tinggal di rumah utama keluarga Louis, menemani Atheos. Tidak boleh mendekati orang asing dan bahkan dirinya tidak diijinkan untuk keluar rumah tanpa persetujuan Atheos. Andromeda tampak seperti ratu yang terkurung di dalam istana emas. Awalnya Andromeda menerima itu semua dengan senang karena dia tahu hal tersebut adalah wujud cinta Atheos dan keluarga Louis terhadap dirinya. Namun, hatinya mulai menampakkan gejolak ketika dia dipaksa untuk menggunakan kekuatannya sesuai dengan tradisi keluarga. Charlotte bergidik mendengar hal itu.

Puncak kemarahan Andromeda mulai tersulut saat dirinya dipaksa untuk meninggalkan seorang pria yang sangat disayanginya saat dirinya sedang mengandung seorang bayi. Andromeda terus meronta, dia ingin pergi dari keluarga tersebut namun Atheos berhasil menahannya dan membuatnya menderita. Andromeda sempat berpikir mereka menyiksanya untuk membunuh bayi yang dikandungnya, namun hal tersebut ternyata salah. Dia disiksa demi menjauhkan pria yang disayanginya dari keluarga Charlotte.

“Anakmu akan ku biarkan hidup karena pria bodoh itu telah pergi. Tapi, kau tidak akan bisa menyentuhnya. Biarkan Iris merawatnya”

Itulah titah Atheos yang berhasil membuat Andromeda merasa merana dan tak mampu untuk melawan. Tahun berganti tahun, Andromeda terus mencari celah untuk lepas dari keluarga tersebut dan mencari anaknya – Charlotte. Dan kini dia berhasil menemui anaknya yang hilang itu.

“Tidak mungkin” Charlotte memberanikan diri untuk berbicara.

“Mungkin saja jika kamu kenal Atheos, kakek buyutmu. Mungkin kau tidak akan kuat mendengar ini semua tapi . . . inilah kenyataannya.

“Aku ingin sendiri dulu, aku . . .”

“Kaget dengan semua kenyataan yang ada. Kenyataan tentang Edwin, dan hidupmu” sambung Andromeda.

“....”

“Aku tahu, aku tahu. Aku tidak ingin memaksamu untuk percaya perkataanku dan aku juga tidak mungkin bisa memaksamu. Tapi, hanya ini kenyataan yang bisa ku katakan.”

“Maaf, aku . . . aku . . . bolehkah aku memelukmu?”

Andromeda kaget dan menyimpulkan seulas senyum. Dipeluknya Charlotte dengan erat. Sebuah pelukan yang selama ini diimpikannya. Detik itu juga, Charlotte tidak peduli dengan apapun yang terjadi pada dirinya karena yang dia inginkan dan impikan selama ini telah terkabulkan.

“Pelukan ibu seperti ini rupanya, hangat dan penuh kasih sayang” batin Charlotte.

*

Charlotte menatap ombak yang mencoba menerjang tebing kokoh. Jendela kamarnya terbuka begitu sangat lebar, sehingga deburan ombak dan hembusan angin bisa meresap perlahan ke sela – sela kamarnya. Charlotte meremas agenda milik Algeron yang masih dipegangnya.

“Semoga Algeron bisa tahu aku ada disini?”batinnya.

Tepat saat itu, Andromeda masuk ke dalam kamar seraya membawa sebuah nampan dengan mangkuk yang berisikan sup ikan tuna dan roti. Charlotte tersenyum dan mulai melahap makanan itu tanpa sisa. Kemarin malam dirinya dikagetkan dengan kehadiran Andromeda yang secara mendadak memaksanya untuk pergi. Tanpa penjelasan apapun, Andromeda masuk ke dalam rumah tempatnya bersembunyi dan mencengkeram tangannya dengan kencang.

“Kita harus pergi” kata Andromeda dengan mata berkilat,

“Kita?Siapa kau?”

“Demi hidupmu, Charlotte”

Saat itu Charlotte bergidik karena suara serta gaya bicara Andromeda sangat mirip dengan ketiga kakaknya. Sontak Charlotte meronta karena saat itu dia tidak percaya siapapun kecuali Algeron. Andromeda tampak kewalahan melihat Charlotte yang berusaha melawannya.

“Maafkan aku Charlotte” tepat saat kata – kata itu diucapkan, Andromeda menyapu sebuah ranting kecil dan rapuh yang dipegangnya. Charlotte pun pingsan seketika.

Paginya Charlotte kembali dikejutkan dengan pernyataan Andromeda. Namun entah mengapa, dia merasakan kenyamanan saat berada di dekat Andromeda.

“Mungkin aku harus mempercayainya” batin Charlotte.

“Kau aman disini, setidaknya dari keluarga werewolf itu” kata Andromeda sambil mengusap lembut rambut Charlotte

“Edwin?” tanya Charlotte gugup.

“Ya, kau sudah tahukan semua tentang keluarganya?”

“Aku hanya tahu beberapa hal. Mereka tidak menyukai keluarga kita”

Andromeda menghela napas dan memandang cahaya bulan yang terpantul di cermin.

“Kedua keluarga aneh ini memang tidak pernah akur. Semua ini terjadi sejak jaman dahulu, mungkin ini bagian dari tradisi aneh keluarga Louis dan Sparks. Keluarga kita, keluarga Louis adalah keluarga penyihir hitam. Menurut tradisi yang sudah ada sejak dulu, saat bulan purnama muncul setiap wanita dari keluarga kita wajib mengorbankan seorang wanita muda yang masih perawan untuk mempertahankan kekuatan yang ada di dalam diri kita. Hal itu berlaku bagi seluruh keluarga Louis ketika umur mereka telah genap 20. Sedangkan keluarga Sparks, awalnya merupakan keluarga petani biasa yang tinggal di pinggir kota”

“Jadi apa yang membuat mereka bersitegang dengan keluarga kita?” tanya Charlotte.

“Dulu, keluarga kita punya seorang leluhur yang cukup merepotkan, Paula. Dialah yang membuat semua ini terjadi”

“Jadi Eugene adalah keluarga Sparks?”

Andromeda mengerutkan dahinya, dia kaget mendengar nama Eugene disebut.

“Darimana kau tahu itu?” tanya Andromeda.

“Aku sudah bilang, aku tahu beberapa hal tentang dua keluarga ini” Charlotte merasa belum saatnya dia menyebutkan sesuatu tentang Algeron dan agenda yang diberikannya.

Andromeda tersenyum lalu berkata, “Eugene meneruskan semua kebencian didadanya kepada keturunannya. Dia membuat sebuah tradisi menangkap penyihir hitam untuk menghabisi Paula beserta keturunannya, kita ini” Jari telunjuk Andromeda terarah pada dirinya dan Charlotte, kemudian dia melanjutkan, “Tapi, hal itu tidak berlangsung lama karena Paula menemukan kenyataan bahwa dengan membunuh werewolf saat bulan purnama tiba, seorang penyihir hitam akan semakin kuat bahkan hidup kekal”

Bola mata Charlotte seakan ingin melompat saat Andromeda menyebutkan hal itu. Kini dia paham mengapa ketiga kakaknya selalu menentang keras hubungannya dan Edwin. Mereka tidak ingin rasa cinta yang  dimiliki Charlotte dapat menghancurkan semuanya.

“Kakakmu melarangmu mendekati Edwin bukan karena dia keluarga Sparks”

Charlotte tersentak mendengar hal itu, ini untuk ke dua kalinya Andromeda tampak memahami isi kepalanya. Sementara itu, Andromeda berdiri dan mendekati jendela yang tertiup angin lalu melanjutkan, “Penerus darah keluarga Sparks, maksudku darah werewolf hanya dari garis keturunan Ayah atau para pria. Edwin adalah anak dari seorang wanita keluarga Sparks. Jelas dia tidak memiliki darah werewolf. Kakakmu tidak ingin kau mendekatinya karena dia bukan werewolf”

“Aku tidak mengerti. Kalau Edwin tida mewarisi darah itu, kenapa mereka harus melarangku?”

“Karena berhubungan dengan Edwin tidak akan menghasilkan apa – apa. Tapi, setelah melihat cinta kalian berdua, sepertinya mereka memiliki ide licik lainnya. Mengubah Edwin menjadi serigala dan membuatnya menyerahkan dirinya pada keluarga Louis demi cintanya pdamu” Andromeda menghela napas panjang dan menatap Charlotte sebelum melanjutkan, “Keluarga Louis memelihara beberapa manusia serigala yang sudah tidak memiliki hati manusia. Semua ini mereka lakukan demi mendapatkan kehidupan abadi”

Wajah Charlotte menegang. Dia semakin takut mendengar semua kenyataaan ini. Dia tidak menyangka hubungannya dengan Edwin serta pertengkaran berabad – abad ini mengakibatkan hal aneh yang sangat rumit. Awalnya dia mengira bahwa semuanya akan segera kembali normal tapi ternyata tidak. Kenyataan memang tidak semudah yang diharapkan dan dibayangkan.

“Tidurlah, sudah malam” kata Andromeda seraya mengecup kening Charlotte.

Charlotte mengangguk sambil menatap Andromeda yang menghilang dari hadapannya. Kenyataan yang selama ini ingin diketahui Charlotte semakin jelas namun membingungkan. Semuanya tampak lebih buruk.
Dalam beberapa minggu saja semua hal terkuat dan kehidupan Charlotte berubah drastis. Charlotte kini lebih terbiasa melihat kejutan – kejutan itu.

*

Disisi tebing tampak Algeron yang sedang berdiri. Dia melihat pantulan bayangan seorang wanita disudut jendela. Tangannya ingin melambai saat itu juga, namun wanita itu telah pergi.

“Charlotte sedang apa kau disana?”gumam Algeron.

Algeron mengerutkan dahinya, dia memandang ranting yang tadi coba dikumpulkannya. Niatnya untuk membuat api unggun pun segera dia urungkan saat matanya kembali menelisik sebuah bayangan yang kembali terpatri di jendela.

“Andromeda?”

Bulu kuduk Algeron pun bergidik. Dia tahu siapa wanita itu dan baginya wanita itu telah mati. Rasa panas dan benci kembali menyeruak dihatinya. Mata Algeron yang tadinya lembut dan ingin merengkuh Charlotte berubah menjadi nanar dan penuh dengan amarah.

“Kenapa anak bodoh itu bisa ada disana !!”

Algeron berdiri dalam posisi sigap. Dia tahu cepat atau lambat Andromeda akan menghampirinya. Dia kenal siapa Andromeda dan bagaimana watak wanita itu.

“Kau menungguku rupanya Al” suara seorang wanita menyeruak diantara kabut. Sejurus kemudian senyuman tajam dan bengis Andromeda terpatri jelas diantara cahaya bulan.

“Kembalikan Charlotte padaku dan hentikan semua permainanmu” bentak Algeron sambil mengacungkan jari telunjuknya dengan sigap.

Andromeda tampak memanas, tangannya meraih sebuah tongkat kurus yang tampak seperti ranting dan berkata, “Kau sudah mempelajari ilmu itu rupanya hah ! Penerus keluarga terakhir Reamus, penyihir putih pengendali darah”

Algeron menatap cahaya bulan, matanya berubah menjadi merah dengan titik putih ditengah yang tampak sebagai pupil. Ke dua tangannya diangkat dengan cepat. Andromeda terkesiap, ke dua tangannya seakan terkunci sementara hatinya mulai merapalkan sesuatu.

“CHARLOTTE MASIH ADA PADAKU !! KAU INGIN DIA LENYAP?!”

Seketika itu rona merah di mata Algeron pun menghilang, tangannya terkulai lemas. Andromeda bisa merasakan kesempatannya untuk kabur terbuka lebar. Jentikan ranting mungilnya mengagetkan Algeron. Asap putih mengepul mengelilingi Algeron. Algeron merutuki dirinya sambil membuat beberapa garis di awang – awang. Tak butuh waktu lama, asap putih itu hilang dan digantikan dengan jejeran tebing yang membisu. Algeron sangat marah dan warna matanya pun berubah lagi.

Dengan langkah yang tegas dan mantap sampailah ia di depan bangunan tua di ujung tebing. Nama Charlotte diteriakinya berkali – kali. Tak ada jawaban yang terdengar, hanya pantulan suaranya sendiri yang coba menegaskan tentang kesendiriannya diruangan itu.

***

Disebuah bangunan tua di kota yang sama, dua orang pria berkulit hitam dengan tubuh kekar dan rambut gimbal tampak berseri menatap Andromeda yang sedang berbicara dengan nada memerintah. Dua pria itu tersenyum dan mengangguk. Mereka berdua tampak sangat patuh dengan apa yang diucapkan oleh Andromeda.

“Lakukan sekarang ! Jangan sampai mereka tahu tentang ini semua” kata Andromeda dengan mata mengkilat.

Dua pria tadi berjalan dengan cepat ke arah sebuah telepon umum. Salah satu diantara mereka melalukan sebuah percakapan singkat dengan seseorang diseberang.

“Edwin, kami tahu dimana Charlotte” kata salah seorang diantara mereka.

“Ya, tempat pastinya akan kami konfirmasi” kata pria itu sekali lagi diselingi dengan seringai yang lebar.

continue . . .


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

BLOODY FANG #2


The truth of fang

Previously (chapter sebelumnya) :
- The way to find a fang

Charlotte tidak bisa tidur malam ini, dadanya bergemuruh pelan selaras dengan angin malam yang menyapu tubuhnya. Kedua tangannya tampak tertaut satu sama lain menahan desakan angin. Meskipun telah memakai kapuchon  hitam yang tebal, desakan angin tetap mampu menembus kulit Charlotte. Perlahan tapi pasti tengkuknya mulai bergetar. Charlotte merasa inilah waktu yang tepat untuk masuk ke dalam rumah mungilnya.

Perapian disudut ruangan tampak berderak – derak menyambut Charlotte. Sebelum menutup tirai di ruangan mini tersebut, mata Charlotte dengan cekatan memeriksa rimbunan pohon yang bergerak seakan membentuk sebuah irama. Charlotte mendesah, menunjukkan kelegaan yang mendalam. Setelah semua tirai tertutup, Charlotte menuju ke arah pintu dan memasang kunci serta gembok secara ganda. Tatapannya kemudian terarah pada sesuatu yang terpajang di dinding. Wajahnya yang muram mulai tersimpul, dia merasakan sebuah sengatan yang aneh. Sebuah spidol merah direngkuhnya dari atas meja. Tangannya mulai membentuk sebuah gerakan pada kalender. Sebuah tanda silang kini tampak terpatri pada angka 14 di kalender tersebut.

“Sudah seminggu”

*

Charlotte menata meja dengan rapi. Sebouquet bunga tertata anggun menemani hidangan di meja. Charlotte bersenandung riang menatap meja makan tersebut. Wajahnya menyiratkan kebahagiaan yang mendalam. Untuk pertama kalinya dia merasa bebas seperti ini, bisa tinggal dan hidup bersama orang yang selama ini dia sayangi serta terbebas dari jeratan ke tiga kakaknya. Awalnya dia merasa tidak yakin bahkan takut untuk melakukan ini semua, namun perkataan Algeron dan kekejaman yang terus dia alami membuatnya semakin berani untuk bertindak.

“Maafkan aku kak” desah Charlotte sambil meremas kalung yang melingkari lehernya.

Bayang – bayang ke tiga kakaknya mulai mewarnai pikirannya. Dia dapat mengingat dengan jelas saat ketiga kakaknya dengan baik hati memberikannya seporsi besar kue kacang kesukaannya. Hal itu terjadi ketika desa mereka diliputi dengan kemarau berkepanjangan serta kelaparan. Saat itu dia tahu kalau persediaan makanan mereka telah menipis, namun ketiga kakaknya tampak tidak ingin melihat dirinya kelaparan. Itulah kenangan terbaik yang dimiliki Charlotte mengenai ketiga kakaknya, kenangan yang terjadi belasan tahun yang lalu. Setelah tumbuh menjadi seorang gadis remaja, penyiksaan serta penekanan mulai diterimanya.

Deru sura mobil menyadarkan Charlotte dari kenangannya. 

“Edwin” kata Charlotte gembira.

Seketika itu pula Charlotte melepas celemek hijau yang membungkus tubuhnya dan berlari ke arah pintu masuk. Air mukanya yang bahagia berubah drastis saat melihat wajah Edwin. Langkahnya yang mantap pun berhenti mendadak di depan pintu. Otaknya mengatur anggota tubuhnya untuk tidak mendekati Edwin.

“Ada apa?” mulut Charlotte mengucapkan pertanyaan tersebut tanpa suara dan lebih ditujukan pada Algeron.

Algeron mengangkat kedua bahunya lalu menepuk bahu Edwin. Edwin menggeram perlahan dan berlari ke dalam rumah tanpa mempedulikan Charlotte. Charlotte berteriak memanggil nama Edwin dan ingin menyusulnya namun Algeron menahannya.

“Biarkan dia”

“Ada dengannya Edwin? Kenapa wajahnya jadi mengerikan seperti itu? Kenapa dia seperti benci melihatku?” tanya Charlotte tanpa henti.

Algeron menghela napas panjang dan berat, dia memberi isyarat pada Charlotte untuk duduk. Kepalanya yang mulai terlihat tandus dielusnya dengan perlahan, dia mencoba memikirkan alasan yang bagus untuk diceritakan pada Charlotte.

Sebelum Charlotte membuka mulutnya untuk mulai bertanya tentang ini-itu, Algeron berkata, “Kami bertemu ketiga saudarimu karena Algeron ingin meminta restu untuk membunuh mereka”. Bagian akhir dari kalimat tersebut, diucapkannya dalam hati.

Charlotte tercekat mendengar perkataan tersebut. Dia tahu bahwa tindakan Edwin sangat konyol karena sudah jelas ketiga saudarinya tidak akan memberikan restu meskipun Edwin bersujud dan mencium kaki mereka. Sekarang Charlotte mengerti mengapa wajah Edwin menjadi aneh saat pulang ke rumah mungil mereka.

“Terus apa yang terjadi?”

“Edwin membunuh mereka” batin Algeron.

Charlotte terus menatap Algeron yang tersenyum sendiri dan tidak menjawab pertanyaannya. Algeron tersadar dari pemikiran liarnya dan berdehem sebentar sebelum akhirnya menjawab, “Tentu saja mereka bertengkar”

Charlotte memasang wajah sedih, tidak ada yang lebih menyakitkan baginya kecuali berada pada keadaan membingungkan seperti ini. Dia sangat mencintai Edwin namun disisi lain dia juga menyayangi keluarganya, namun satu hal yang pasti dia harus  memilih. Kekerasan yang diterimanya membuat batinnya semakin mantap untuk memilih Edwin tapi hari ini, ketika dia mendengar pertengkaran itu batinnya kembali tersiksa.

“Aku harus menemui Edwin, dia pasti sangat terpukul”

Algeron menarik tangan Charlotte dengan cepat lalu menggelengkan kepalanya.

“Kenapa?”

“Sebaiknya disini saja, dia butuh sendiri. Jangan kesana demi dirimu dan hubunganmu”

*

Malam semakin larut namun Charlotte tetap tidak bisa memejamkan matanya sendiri. Hampir lima jam dia berbaring di tempat tidur dan mencoba menutup matanya namun semuanya sia – sia. Sejam berikutnya dia mencoba menghitung domba, hal yang selalu dianjurkan ibunya jika dia terlihat susah tidur.

“seratus domba melompati pagar”

Charlotte mendesah lalu bangkit dari tempat tidurnya. Dia menatap bantal guling berselimut disebelahnya - tanpa Edwin. Sudah hampir seminggu Edwin tidak tidur dengannya. Setiap malam dia beralasan untuk melakukan sesuatu dan memilih menginap di rumah Algeron daripada pulang dan menemani Charlotte. Charlotte juga tidak pernah bisa duduk semeja lagi dengan Edwin ketika sarapan, makan siang, bahkan makan malam sekalipun.

Charlotte merasa Edwin telah berubah sejak bertemu dengan ketiga saudarinya. Dia merasa pasti telah terjadi sesuatu saat mereka bertemu sehingga perilaku Edwin berubah drastis. Charlotte selalu mencari kesempatan untuk menanyakan hal itu pada Edwin dan Algeron, namun keduanya tampak enggan mengungkit – ngungkit hal itu. Dan kini Charlotte pun tampaknya mulai bosan menanyakan hal yang sama.

Dia menatap keluar jendela sambil memikirkan itu semua. Bulan purnama bercak hitam tampak tersenyum pilu dibalik awan kelabu. Bulan tersebut tampak mengintip malu – malu dari balik awan, mencoba bermain hide and seek untuk menghibur Charlotte. Namun ketika melihat bulan penuh itu, hati Charlotte seperti teriris. Dia mengingat Edwin serta wajahnya yang kecoklatan ketika menatap Charlotte setiap bulan purnama menjelang. Edwin sangat suka mengajak Charlotte duduk dipinggir hutan saat malam menjelang dan menampakkan cahaya putih temaran dilangit yang gelap. Tapi, malam ini hal tersebut tidak dapat terjadi karena Edwin telah berubah.

Malam yang sama ditempat lain . . .

Edwin mondar – mandir di sebuah aula, dia tidak peduli dengan dengungan suara orang – orang yang berada di tempat tersebut. Dahinya tampak berkerut sementara kedua tangannya yang kekar mengelus dagunya yang bersih tanpa janggut.

“Apa yang sebenarnya kau pikirkan Edwin?” kata seorang pria jangkung berkulit pucat.

“Dia memikirkan rencana yang tepat untuk menghabiskan keluarga tersebut tanpa sisa” Algeron menjawab dari balik meja bundar yang berada di tengah aula.

“Aku tidak bertanya padamu Reamus, aku bertanya pada anak ini” pria jangkung menunjuk ke arah Edwin.

“Tenanglah Lanny, Algeron benar. Aku sedang memikirkan sesuatu yang bagus untuk membinasakan mereka tanpa sisa”

Pria jangkung tampak puas mendengar perkataan Edwin. Dia mengangguk khidmat dan memamerkan giginya yang putih dan berjejer rapi. Algeron menghela napas panjang dan tertunduk, entah mengapa dia merasa kasihan pada Charlotte yang sebenarnya tidak pantas untuk dijadikan tumbal.

“Kau tampak ragu, Reamus” kata seorang pria berkulit hitam dan bertubuh kekar yang duduk tepat diseberang Algeron.

“Dia kasihan pada gadis kecil keluarga Louis” lanjut seorang pria yang berwajah serupa dengan si pria hitam.

“Bagaimana bisa kalian mengatakan hal itu setelah apa yang telah ku lakukan untuk keluarga kecil ini? Tanyakan pada diri kalian sendiri apa yang terjadi pada gadis berambut emas dari keluarga Louis yang ditugaskan untuk kalian. Dimana dia sekarang? Naluri liarku mengatakan kalian menyembunyikannya, dasar saudara kembar yang aneh” cecar Algeron.
Kedua pria berkulit hitam itu tampak geram dan menggebrak meja bundar. Edwin menganggkat kedua tangannya, mencoba menenangkan suasana aula yang tampaknya mulai memanas.
“Phoeboo, Phoebee aku harap kalian duduk tenang” kata Edwin sambil mendekati kedua pria hitam tersebut lalu melanjutkan “Algeron, ku mohon bersikap dewasa”

Algeron menatap Edwin dengan tajam seakan berbicara “aku sudah bersikap dewasa”. Setelah semua yang hadir disitu tampak mulai menguasai emosi masing – masing, Edwin duduk disalah satu kursi dan mulai berbicara tentang rencananya dan apa yang harus dilakukan tiap anggota keluarga Sparks.

“Demi kelangsungan para serigala dan manusia, mari kita bersulang” Edwin mengakhiri pertemuan hari itu dengan sebuah dentingan gelas.

*

Algeron merasa semakin aneh dengan sikap Edwin. Edwin tampak telah kehilangan rasa cinta yang dulu sempat tumbuh memenuhi ruang dihatinya. Edwin kini seperti seorang pria bertubuh atletis yang pongah dan kasar. Awalnya Algeron tidak begitu peduli dengan perkataan Edwin yang ingin menghabisi seluruh keluarga Louis karena dia tahu bahwa Edwin sangat mencintai Charlotte, dan rasa cinta itu akan menyelamatkan semuanya. Namun melihat kematangan rencana Edwin, Algeron mulai merasa takut dan khawatir.

Perang telah terjadi di dalam hati Algeron, disatu sisi dia sangat mendukung keinginan Edwin untuk melakukan balas dendam pada keluarga Louis namun disatu sisi dia tidak tega melihat Charlotte dijadikan ‘alat’ untuk membalaskan dendam.

Sore ini di kabin tuanya, Algeron termenung memikirkan hal itu. Dalam hatinya dia tahu bahwa kebenciannya pada keluarga Louis sama sekali tak penting. Keluarganya telah bertahun – tahun bekerja pada keluarga itu. Perlakuan keluarga Louis pada para pelayan dan pekerja sangatlah baik sehingga keluarga Algeron secara turun temurun mengabdi pada keluarga tersebut meskipun telah mengetahui kenyataan kelam yang disembunyikan keluarga itu. Tapi, rasa cinta yang tumbuh dihati Algeron pada seorang gadis dari keluarga tersebut mengubah segalanya secara drastis.

Algeron merupakan penerus keluarga Reamus terakhir yang mengabdi pada keluarga Louis. Algeron menyimpan dendam yang sangat mendalam pada Atheos, tetua keluarga Louis yang diketahui masih hidup hingga saat ini. Atheos dengan kejam membunuh salah satu anak gadis keluarga Louis hanya karena menjalin hubungan dengan Algeron. Pembunuhan sadis itu dilakukannya dihadapan Algeron langsung.

Sebelum melihat kejadian mengenaskan itu, tubuh Algeron dipecut oleh cambuk hingga lemas. Penyiksaan keji pada gadis muda yang disayangi Algeron dimulai dengan pemasungan. Tubuh gadis itu tampak gemetar hebat saat dua pria dewasa menariknya secara kasar ke arah pasung yang telah disediakan. Atheos tersenyum licik dari bangkunya lalu melempar wajah gadis muda itu dengan tomat busuk.

“Rasakan baunya” teriak Atheos dengan suara serak.

Algeron menatap hal tersebut dengan iba dan berdoa dalam hati semoga hal itu tidak akan menjadi lebih buruk. Namun, saat Atheos melempar sebongkah batu bulat hitam ke wajah gadis muda itu, Algeron tahu bahwa Atheos berniat membunuh gadis itu dengan cara menyiksanya.
Algeron bergidik mengingat hal itu. Tangannya yang memegang pancingan hitam mulai bergetar. Dia membuang pancingan tersebut ke dalam danau dan berlari mengambil kunci mobil tuanya.

“Aku harus menyelamatkan Charlotte dari dua keluarga gila ini”

*

“Charlotte”

Charlotte mengangkat wajahnya dari panci sup, dia merasa mendengar suara seseorang memanggilnya. Matanya mengarah ke arah sumber suara.

“Charlotte”

Charlotte tersenyum menatap pemilik suara itu lalu berkata dalam nada yang wajar, “kenapa kau berbisik seperti itu Algeron?”

Algeron melompati jendela dapur  lalu menarik tubuh Charlotte mendekatinya.

“Edwin ada dirumah?”

Charlotte menggelengkan kepala dan menatap Algeron dengan heran. Dia menarik salah satu kursi dan mempersilahkan Algeron duduk.

“Sebaiknya kita pergi, ah maksudku sebaiknya kau pergi dari rumah ini”

“Maksudnya?”

“Charlotte, aku tahu jika kau mendengar hal ini kau akan terkejut bahkan mungkin tidak akan mempercayainya tapi aku rasa aku harus menceritakannya”

Charlotte mengangguk dan berkata,”Aku akan siap mendengar apapun”

Seperti biasa, Algeron menarik napas berat sebelum mulai bercerita. Dia memulai dengan kejadian naas yang menimpa ketiga saudarinya saat Edwin pergi menemui mereka. Dia juga menceritakan alasan sebenarnya mengapa Edwin kini berubah. Algeron dengan nada rendah dan keengganan yang besar juga menceritakan tentang rencana Edwin yang ingin menghabisi keluarga Louis seutuhnya, dan menjadikan Charlotte sebagai tumbal. Dia pun tak lupa menambahkan kata menyesal karena telah membuat Edwin seperti itu.

“Aku menyesal menceritakan apa yang terjadi pada kedua keluarga ini padanya. Aku pikir, rasa cintanya padamu lebih besar daripada amarahnya. Tapi ternyata, aku salah . . . salah besar”

Charlotte tetap diam. Wajahnya tampak pucat dan dingin. Bulir – bulir airmata menetes membasahi pipinya. Jauh di dalam hatinya dia ingin menolak dan tidak mempercayai apa yang dikatakan Algeron namun hati kecilnya dengan sigap mengatakan bahwa Algeron pasti berkata jujur.

“A-a-apa yang sebenarnya terjadi p-p-pada keluargaku dan . . .” Charlotte tampak tidak sanggup melanjutkan pertanyaannya. Dia terisak kuat dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang ringkih.

“Aku berjanji akan menceritakannya, tapi lebih baik kita berkemas dan pergi dari tempat ini”

Charlotte terlihat ragu namun Algeron menyebutkan beberapa fakta yang bisa membuatnya yakin. Dan apa yang selama ini terjadi sudah cukup membuatnya sadar tentang satu hal, keluarganya dan keluarga Edwin menyembunyikan sesuatu. Jika dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dia harus mengikuti Algeron dengan membawa setitik harapan.

Algeron menatap Charlotte untuk memastikan keputusan Charlotte. Dia tahu pasti sangat sulit bagi Charlotte untuk segera bergerak dan melakukan apa yang dikatakannya, namun gadis itu menampakkan sebuah semangat yang berbeda. Airmatanya memang masih menetes namun tubuh dan raut wajahnya menampakkan semangat yang kuat untuk menjauhi segala macam masalah. Algeron tahu bahwa sejak kecil, Charlotte pasti telah mengalami banyak penderitaan. Dan kini, disaat hatinya mulai memilih sebuah kebebasan yang dianggapnya terbaik dan akan membawakan kebahagiaan, takdir yang tertulis berkata lain. Algeron tidak yakin ada gadis lain yang akan kuat berdiri seperti Charlotte setelah melewati ini semua.

“Aku siap” kata Charlotte dengan lemah.

Algeron menatap Charlotte dengan tatapan yang menguatkan lalu dengan sigap mengangkat koper milik Charlotte ke dalam bagasi.

“Sebaiknya kau duduk dibelakang dan menutup tubuhmu dengan kain ini” Algeron melempar sebuah kain kotak – kotak tebal ke arah Charlotte.

Charlotte segera menuruti hal tersebut. Dia meringkuk dikursi belakang sambil terus mengingat kembali perkataan Algeron yang baru saja didengarnya. Dia sangat mencintai Edwin dan separuh dari hatinya masih tetap tidak mempercayai hal tersebut dan memaksa dirinya untuk tetap tinggal. Namun, sebagian dari hatinya lagi – bahkan hati kecilnya – menggerakkan naluri bertahan hidup yang ada pada dirinya dan juga sebuah kepastian. Tubuh Charlotte tampak lelah menjalani berbagai macam cobaan, sesekali dia ingin berlari dari semua yang ada tanpa pasrah menerima atau bahkan melawan. Charlotte tahu bahwa pasrah menerima dan melawan kini tidak lagi berlaku karena dirinya akan tetap tersakiti. Selain itu dia ingin memastikan satu hal.

“Sebaiknya aku memastikan ini semua lalu berlari dari mereka” batinnya.

*

Charlotte terbangun dari tidurnya karena mendengar suara Algeron yang memanggil namanya. Dia mengucek kedua matanya dan melihat sekelilingnya yang mulai gelap.

“Sebaiknya kau makan ini, sekarang sudah malam sebaiknya kau diam di dalam mobil”

Algeron menyodorkan dua buah roti gandum dan segelas susu hangat yang tampaknya baru saja dibelinya di sebuah pom bensin yang tampak berkedip beberapa meter dari tempat mereka terdiam.

“Dimana kita?” tanya Charlotte.

“Perbatasan, jangan kaget seperti itu. Aku harus membawamu pergi jauh dari kota ini. Menjauh dari keluarga Sparks dan keluargamu sendiri. Meskipun aku tahu itu adalah hal terkonyol yang pernah dilakukan oleh seseorang karena keluargamu memiliki koneksi yang sangat luas dan keluarga sparks memiliki . . .” Algeron tidak dapat melanjutkan kata – katanya. Dia menjatuhkan kopi yang dipegangnya seperti tersadar akan sesuatu.

“Oh tidak, aku melupakan hal terpenting”

“Kenapa?”

Algeron tidak menjawab pertanyaan Charlotte dan segera berlari ke arah pom bensin setelah mengambil beberapa potong baju milik Charlotte. Beberapa menit kemudian Algeron kembali dengan membawa sekaleng bensin. Dia menarik Charlotte keluar dari dalam mobil.

“Lumuri bensin ini ke tubuhmu”

“Apa kau gila?”

“Cepat !!!! Edwin memiliki penciuman serigala”

Charlotte membelalakkan matany. Algeron menghela napas lalu dengan kesal membasahi tubuh Charlotte dengan bensin. Charlotte mencoba mengelak namun gerakan Algeron tidak dapat diduga sehingga kini badannya telah basah dan berbau bensin.

“Bawa peta ini, kau harus pergi ke tempat yang ku lingkari. Dan ini uang yang akan menjadi bekalmu selama perjalanan. Sebaiknya kau cepat pergi dari sini” kata Algeron tergesa – gesa.
Charlotte tampak bingung dengan itu semua. Dia hanya menatap peta dan beberapa lembar uang yang ada ditangannya.

“Cepat !!! Aku akan menemui ditempat itu dan menceritakan detailnya” Algeron masuk ke dalam mobil dan mengambil sebuah agenda lalu berkata, “aku sudah menyiapkan sebuah penjelasan untukmu jika aku tidak dapat mendampingimu lagi. Aku tidak menyangka akan secepat ini. Semuanya ada di agenda ini, bacalah nanti!”

“Algeron , kau membuatku bingung”

Algeron tidak menggubris perkataan Charlotte dan bergumam, “ Oh tidak, dia datang”

Algeron dengan cekatan mendorong Charlotte dan menyuruhnya berlari sejauh mungkin dari tempat itu meskipun dia mendengar Edwin berteriak memanggil namanya. Charlotte merasa dadanya bergemuruh aneh, namun dia tahu bahwa dia harus menuruti perkataan Algeron.

Tubuh Charlotte menghilang diantara semak dan pepohonan dipinggir jalan tepat saat suara Edwin menggema karena amarah. Charlotte sempat mendengar suara Algeron dan Edwin serta seorang pria yang sedang berdebat sebelum akhirnya dia benar – benar menerobos masuk ke dalam semak belukar.

“KAU MEMBAWA KABUR CHARLOTTE !!!” suara Edwin terdengar keras dan kasar.

“Dia yang mengancamku untuk membawanya pergi karena sikapmu” jawab Algeron.

“BOHONG !!!” teriak seorang pria yang suaranya tidak dikenal Charlotte.

“LANNY ! JANGAN IKUT CAMPUR !!!” suara Edwin kembali menggema.

Setelah itu, Charlotte tidak dapat mendengar dengan jelas perdebatan itu. Dia hanya terus berlari tanpa menoleh ke belakang seperti permintaan Algeron. Peluhnya bercucuran seiring dengan langkah kakinya yang semakin kencang.

“Algeron, semoga kau baik – baik saja”

***

Charlotte telah duduk di depan perapian sambil menikmati secangkir susu hangat. Ditangan kanannya tergenggam sebuah agenda yang diberikan Algeron.

“Seabad lebih keluarga Louis dan Sparks bersitegang mengenai hal yang sebenarnya tidak ku ketahui. Ayah mengatakan padaku jika saatnya sudah tepat aku akan tahu kenyataan itu dan aku harus berjanji agar menjaga kehormatan keluarga Louis”

Charlotte membuka lembar demi lembar berikutnya dengan cepat.

“Hari ini semuanya terungkap. Aku melihat para Nona muda keluarga Louis berpesta di sebuah ruangan gelap. Aku melihat seorang gadis muda berpakaian putih dan berlumuran darah berbaring disana tepat saat Ayah menarikku. Ayah memarahi tingkahku yang tidak tahu malu ini. Aku tertunduk dan hanya berkata, ‘aku sudah tujuh belas Ayah sebaiknya aku tahu’. Ayah menghela napas dan menceritakannya sementara aku bergidik”

Charlotte menerawang jauh, mencoba mengingat kembali rumahnya di desa kecil. Dia ingat bahwa rumah setiap keluarga Louis pasti memiliki sebuah ruang bawah tanah tak tersentuh.

“Mereka keluarga penyihir hitam. Tradisi aneh selalu meliputi keluarga ini. Aku takut berada disini, namun Ayah mengingatkanku bahwa mereka sama sekali tidak tertarik pada darah pria sepertiku. Mereka hanya tertarik pada wanita muda”

Charlotte menutup agenda itu dengan kencang, airmatanya menetes. Sekarang dia tahu penyebab hilangnya beberapa wanita bangsawan muda di desanya. Charlotte kemudian melempar begitu saja agenda hitam itu. Secarik kertas pun tampak mencuat dari tengah agenda. Charlotte memungutnya dan mencoba membaca tulisan melingkar yang tampaknya bukan tulisan Algeron.

“Darah Werewolf untuk kehidupan abadi”

continue . . .


- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..

Senin, 16 April 2012

BLOODY FANG #1



The way to find a fang

 “Aku akan kembali nanti setelah sukses dan bisa membuat Ayah dan Ibumu yakin” suara itu terdengar samar – samar ditelan deru mesin bus yang semakin menjauh.

Seorang gadis berkepang dua tersenyum diantara deraian air mata mendengar hal itu. Sebuah sapu tangan bercorak dikeluarkannya dengan perlahan. Deru mesin bus kini tak terdengar lagi. Gadis itu tetap terpaku ditempatnya berdiri, menatap jalan yang dilalui bus tadi dengan sebuah harapan.

***

“Bagaimana?” tanya seorang gadis bersepatu bot kulit.

Gadis lain yang berdiri dihadapannya hanya menggelengkan kepala lalu meletakkan sekaleng besar susu perah ditanah yang becek. Gadis tadi menghela napas dan masuk ke istal kuda. Gadis itu adalah Karina Louis, gadis yang mewarisi sebuah peternakan besar di desa. Dia merupakan anak tertua dari keluarga Louis. Sedangkan gadis yang tadi diajaknya berbicara adalah Charlotte Louis, anak bungsu dari keluarga Louis.

Charlotte menatap kakaknya yang tengah sibuk menggosok punggung kuda hitam kesayangannya. Ada sekelumit rasa takut yang menggelayut didadanya. Dia teringat akan susu perah yang dibawanya kembali. Otaknya mulai dipaksa bekerja dengan cepat, siang ini dia harus bisa menjual susu perah tersebut jika tidak ingin kakaknya marah besar. Mau tidak mau, dia harus berjalan lebih jauh lagi untuk menjual susu tersebut. Sebagai anak bungsu, dia tidak memiliki pilihan yang lebih menyenangkan untuk menghindari ini semua. Sudah menjadi tugas Charlotte untuk menjual susu perahan itu setiap hari dan dia diwajibkan pulang dengan membawa kaleng susu yang kosong beserta uang yang sesuai.

Sejak kedua orang tuanya meninggal, Karina, Miranda, dan Rowinda adalah satu – satunya keluarga yang dimiliki oleh Charlotte di desa ini. Setidaknya itulah yang Charlotte kira. Hal itu merupakan alasan lain Charlotte selalu patuh terhadap perintah ketiga kakaknya tersebut, terutama Karina.

“Kenapa masih disitu?” teriak Karina dari istal kuda sambil menatap Charlotte dengan tajam.

“Tugasmu belum selesai?” Rowinda muncul mendadak dari belakang Charlotte. Dia menatap Charlotte dari atas sampai bawah dengan tatapan mengejek.

“Sebaiknya cepat jual susu itu kalau tidak ingin Karina memarahimu seperti biasa” lanjut Rowinda sambil terkekeh pelan.

Charlotte menghela napas pasrah lalu mencoba mengangkat sekaleng susu yang ada dihadapannya. Wajahnya merengut menahan beban susu di dalam kaleng tersebut. Baru beberapa meter saja dia bergeser, keringatnya telah bercucuran dengan sangat deras. Pikirannya mulai tidak tenang ketika membayangkan bahwa dia harus mengangkat sekaleng susu itu ke pasar di tengah desa.

“Kenapa kakak tidak membeli gerobak untuk membantuku membawa susu – susu ini?” batin Charlotte.
“Butuh bantuan?” 

Charlotte mengangkat wajahnya dari kaleng susu dan menatap pemilik suara lembut tersebut. Seorang pria berbadan tegap dan  memiliki warna kulit cokelat tua berdiri dihadapannya. Charlotte menatap pria itu dengan seksama, mata teduh pria itu mengingatkannya akan sebuah mata yang dulu pernah menatapnya.

“Edwin?” kata Charlotte seketika.

Pria yang dipanggil Edwin tersebut turun dari motor tuanya lalu tersenyum dan memeluk Charlotte.

“Aku kembali” desis Edwin pada telinga Charlotte.

Charlotte tersenyum lalu melepaskan pelukan Edwin. Dia mengarahkan pandangan matanya pada peternakan. Edwin melirik sekilas lalu mengangguk. Dia menawarkan diri untuk mengantarkan Charlotte menjual susu perah tersebut. Charlotte dengan senang hati menerima tawaran itu.

“Aku sudah dengar dari penduduk desa. Bagaimana keadaanmu sekarang?” kata Edwin sambil tetap fokus mengendarai motor.

“Aku baik – baik saja. Masih ada Kak Karina, Miranda, dan Rowinda. Mereka menyayangi dan menjagaku dengan baik” Charlotte memeluk kaleng susu dihadapannya semakin erat.

Edwin melirik sekilas dari balik spion. Dia tahu wajah Charlotte menampakkan hal yang berbeda.

*

“Anak itu sudah kembali” Rowinda berdesis perlahan di meja makan.

Charlotte tersentak dan menjatuhkan sendok supnya ke lantai. Rowinda terkekeh melihat tingkah adik bungsunya itu. Karina dan Miranda hanya terdiam dan tampak menikmati sup mereka masing – masing. Charlotte tidak suka melihat sikap tenang kedua kakaknya itu. Sup kacang polong yang terhidang dihadapannya tampak tak nikmat lagi. Rasa takut mulai menjalar diantara tubuhnya yang kecil itu.

“Supmu harus cepat dihabiskan selagi masih hangat” kata Karina sambil tetap menikmati supnya.

“I-i-iya” dengan tangan gemetar Charlotte mulai memasukan suapan sup kacang polong ke mulutnya. Sup kacang polong yang encer seperti berubah menjadi butiran batu saat menghampiri tenggorokannya.

Menit berganti dengan cepat. Kini Charlotte tampak terdiam di istal kuda menatap ke tiga kakaknya yang sedang berdiri dihadapannya. Charlotte tertunduk lesu, airmatanya membuncah dengan deras.

“Ini peringatan kedua Charlotte” desis Miranda sambil mengangkat wajah Charlotte.

Karina melangkah keluar dari istal sambil membuang sebuah kotak obat diikuti Miranda dan Rowinda, sementara Charlotte masih membisu dengan deraian air mata. Matanya yang sembab terarah pada telapak tangannya yang melepuh. Rasa sakit dari luka itu mungkin bisa ditahannya namun rasa sakit dihatinya entah kapan baru bisa disembuhkan. Selama ini Charlotte bermimpi untuk menjadi pianis tapi ketika tangannya mulai dilukai seperti ini dia merasa harus mulai belajar mengubur mimpinya itu. Bagi seorang pianis seperti Charlotte tangan adalah segalanya.

Sepi menyapu malam yang berselimut kegelapan. Charlotte coba menghentikan aliran airmatanya dengan berpikir semua akan baik – baik saja. Telapak tangannya yang melepuh dibersihkan dengan perlahan. Sesekali wajahnya tampak meringis menahan sakit saat kapas lembut mendarat dilepuhan itu. Sebuah perban panjang dililitkannya dengan rapi menutupi lepuhan itu.

“Aku pasti baik – baik saja”

*

Edwin menatap Charlotte yang berlari kecil diantara padang rumput. Senyumannya membuncah diiringi dengan gerak tangannya yang secara otomatis melambai ke arah Charlotte. Charlotte menghampiri Edwin dengan tatapan sendu. Beberapa telah berlalu dan kini dia merasa siap untuk berpisah dengan Edwin. Semua ini dilakukannya demi Edwin dan dirinya sendiri. Peringatan dari ketiga kakaknya di istal kuda sudah cukup jelas. Dia tidak boleh melanjutkannya hubungannya dengan Edwin jika tidak ingin melihat kakaknya melakukan tindakan yang lebih nekat dari hal itu.

“Kenapa?” kata Edwin saat melihat wajah Charlotte yang sama sekali tidak tersenyum.

“Sebaiknya kita berpisah saja” Charlotte memalingkan wajahnya dari Edwin.

“Apa ?!!” kata Edwin setengah berteriak. Tangannya dengan cekatan menahan Charlotte yang ingin berlari meninggalkannya.

Charlotte tahu hal ini berat bagi Edwin, begitupun baginya. Charlotte telah menunggu Edwin sekian lama dan berharap bisa bersatu dengannya seperti mimpinya dulu. Namun, kejadian demi kejadian yang menimpanya membuat keinginannya itu harus tersimpan rapat – rapat. Charlotte mengira dia bisa melupakan Edwin dengan mudah. Namun ternyata hal itu tidak dapat dilakukannya. Rasa sayangnya pada Edwin telah tumbuh sedemikian besarnya. Pada akhirnya Charlotte terisak perlahan, badannya yang kecil bergerak – gerak mengikuti isakan tangisnya. Edwin yang kaget melihat tingkah Charlotte dengan segera mencoba menenangkan Charlotte. Edwin menyerahkan sapu tangan biru donkernya pada Charlotte.

“Kakakmu lagi?” tanya Edwin dengan hati – hati.

Charlotte diam dan tertunduk memandang rerumputan yang layu pasrah karena terinjak. Edwin memeluk Charlotte dengan erat, berharap Charlotte akan segera tenang kembali.

“Maaf” desis Edwin.

Mendengar perkataan Edwin, tangis Charlotte semakin pecah. Tidak seharusnya Edwin meminta maaf padanya karena semua ini terjadi karena kesalahannya. Saat itu juga Charlotte merasa tidak peduli lagi dengan hal yang akan dilakukan ketiga kakaknya. Bibirnya pun seakan menjadi kelu dan tidak sanggup mengucapkan kata – kata kejam tadi sekali lagi. Dengan sekuat tenaga Charlotte mencoba mengangkat wajahnya dan tersenyum menatap Edwin.

“Tadi . . . apa maksudnya? Kamu tidak serius kan?” tanya Edwin.

Charlotte menghela napasnya dan mencoba menahan senyumannya agar tetap mengembang dan bekata “Aku cuma . . sepertinya aku cuma kelelahan jadi ngomong aneh seperti itu”

Edwin mengangguk dan menarik kembali Charlotte ke dalam pelukannya. Dia tahu  bahwa Charlotte berkata bohong  padanya tapi ia tidak mau membahas hal itu lebih jauh lagi. Dia tidak ingin perasaan Charlotte terluka.

Tak jauh dari tempat tersebut, dibawah pepohonan rindang tampak tiga orang gadis berdiri dengan tatapan tajam.

“Sepertinya mereka masih tetap . . .”

“Biarkan saja, kita ubah rencananya” gadis yang paling tinggi memotong ucapan gadis paling pendek dengan cepat.

*

Karina duduk di ruang tamu sambil menghirup jasmine tea. Tangannya yang kasar mengambil salah satu muffin cokelat yang terhidang diporselen antik. Miranda melakukan hal yang sama namun sambil berdiri menatap ke istal kuda. Mata Miranda menyipit secara otomatis melihat sebuah titik yang berlari – lari di peternakan.
Senyuman anehnya mengembang dengan menakutkan. Sejurus kemudian dia duduk perlahan disalah satu kursi di samping Karina. Matanya menatap tajam jasmine tea didalam gelas porselennya.

“Rowinda sudah kembali dan seperti yang ku lihat, rencana kita berjalan sukses” kata Miranda tenang sambil tetap menatap jasmine tea nya.

“Bagus, pria itu harus membayar semua yang telah dia lakukan pada kita” kata Karina sambil menatap Miranda dengan tajam.

Beberapa menit yang lalu, di sebuah hutan . . .

Edwin memperhatikan senapan laras panjang miliknya dengan seksama. Tangannya yang cokelat kekar mencoba mengelus senapan tersebut. Sebuah suara diantara ranting pohon membuat matanya dengan sigap memutar liar. Seekor kijang tampak malu – malu menunjukkan wajahnya. Edwin tersenyum mengejar kijang tersebut sambil memegang senapannya dengan erat, dan berharap akan segera bisa menarik pelatuk kecil senapannya itu.

Lima menit berlalu, sang kijang masih tampak semangat berlari – lari diantara pepohonan dan ranting yang menutupi jalan setapak di hutan tersebut. Edwin menghela napasnya dengan berat. Diusapinya peluh yang membanjiri tubuhnya. Entah mengapa hari ini matahari tampak terlalu bersemangat menyinari desa kecil tersebut. Edwin tersengal – sengal menatap matahari sambil terus membatinkan kutukan.

Tanpa diduga, kijang itu berhenti dipinggir sungai. Moncong kecilnya diturunkan perlahan menyentuh air sungai yang bening. Edwin tersenyum menatap hal itu.  Senapan laras panjangnya dinaikkan dan diarahkan tepat ke arah kijang itu. Matanya yang bening mencoba mencari bidikan yang pas.

DOORRRRRR . . . . !!!

Sebuah tembakan mendadak melesat jauh dari sang kijang. Edwin tersentak kaget menatap makhluk besar dan berbulu yang berhasil mengoyak lengannya. Jantungnya berdegup kencang ketika melihat makhluk menyeringai. Berbagai macam pengharapan diucapkan hati kecilnya kepada Sang Pencipta.
Sebuah siulan terdengar menggema diantara sela – sela hutan. Seketika itu juga, makhluk besar dan berbulu tersebut berlari menjauh.

“Serigala . . .” batin Edwin menatap gigitan makhluk tersebut.

*

Beberapa minggu belakangan ini Charlotte tidak dapat menemui Edwin. Hatinya merasa cemas dan khawatir memikirkan Edwin yang tiba – tiba menghilang.

“Apa yang kamu harapkan dari orang yang tiba – tiba menghilang seperti itu?” ejek Rowinda sambil membawa kayu bakar.

Charlotte hanya terdiam memandangi kakaknya yang memang terbiasa mengganggunya. Matanya meniti tiap tawa yang keluar dari bibir tipis Rowinda. Dia merasa ada sesuatu yang terjadi pada Edwin dan hal itu berkaitan dengan kakaknya. Rowinda menurunkan kayu bakar yang dibawanya dengan cepat. Dentuman kecil terdengar diantara rerumputan.

“Apa yang kau lihat ?!” bentak Rowinda yang merasa risih pada tatapan Charlotte.

Charlotte menggeleng dan berjalan menjauhi Rowinda. Dia tidak ingin memulai pertengkaran karena yang akan disalahkan nantinya adalah dirinya sendiri. Namun saat melihat cengiran Rowinda yang semakin aneh, langkahnya berubah menuju tempat Rowinda berdiri. Tangan Charlotte dengan cepat mencengkeram lengan Rowinda, entah darimana datangnya kekuatan aneh itu. Rowinda membulatkan mata cokelatnya dan menatap tajam Charlotte.

“Apa yang kau lakukan anak kecil !!!!” suara Rowinda mulai meninggi.

Charlotte tersentak namun pikiran dan hatinya memaksanya untuk tetap bertahan. Batinnya mengatakan bahwa Rowinda pasti mengetahui sesuatu dan kali ini dia sudah cukup sabar dipermainkan oleh kakaknya sendiri.

“Kakak pasti tahu sesuatu tentang Edwin” desis Charlotte.

Rowinda bergetar namun wajahnya tetap terangkat seakan menantang Charlotte. Dia menyembunyikan kegugupannya dengan mencoba tersenyum sinis dan berkata, “Berani sekali kau, Charlotte. Aku ini kakakmu, diamlah dan kembali bekerja”

“Jawab aku !! Kakak pasti tahu sesuatu tentang Edwin !! Aku tahu Kakak tidak suka Edwin dekat denganku karena Kakak juga menyukainya kan ??!” suara Charlotte meninggi dan penuh emosi. Tangannya yang kurus tetap mencengkeram lengan Rowinda, bahkan lebih kencang.

Rowinda meringis dan mulai merasa marah karena harga dirinya seakan diinjak, padahal dia jauh lebih tua daripada Charlotte. Sebuah sentakan kuat membuat tubuh Charlotte mundur. Rowinda memegang lengannya yang terlihat memerah. Air mukanya berubah, dengan sekali ayunan keras tangannya melesat dipipi Charlotte.
Amarah Charlotte semakin tersulut. Adu mulut yang tak sengaja terjadi tadi, kini berubah menjadi perang tarik rambut dan cakaran. Charlotte dan Rowinda berteriak menahan sakit dari perlakuan mereka  sendiri. Teriakan mereka terdengar hingga ke telinga Karina dan Miranda. Keduanya pun datang menghampiri Charlotte dan Rowinda. Mata Miranda membulat lebar melihat adik kecilnya berani melawan Rowinda, sementara Karina menengahi perkelahian itu dengan wajah memerah menahan amarah.

“ HENTIKAN !!!” teriak Karina kesal.

Charlotte dan Rowinda pun terdiam seketika. Dengan penuh emosi Karina menarik mereka berdua ke dalam rumah disusul oleh Miranda yang masih tidak percaya bahwa Charlotte telah berani melawan Rowinda. Dia tahu seperti apa Charlotte. Meskipun selalu disiksa olehnya dan Karina serta ditertawakan oleh Rowinda, Charlotte tidak pernah membantah bahkan cenderung menerimanya dalam diam. Miranda mendelik tajam ke arah Rowinda saat mereka melangkah panjang ke dalam rumah. Rowinda menggerakan bibirnya membentuk sebuah kata tanpa suara. Miranda mengangguk lalu tersenyum sinis karena mengerti apa yang diucapkan adiknya itu.

“Oh jadi pria itu yang membuatnya seperti ini” batin Miranda kemudian.

Mata Karina yang tajam menusuk ke dalam dada Charlotte. Charlotte tampak tepekur diam mendengar Rowinda yang terus mengoceh. Ingin sekali rasanya ia berteriak dan memberontak, namun setiap melihat tatapan tajam Karina segala keinginan hatinya sirna.

“Angkat kepalamu Nona muda !! Memalukan sekali tingkahmu itu !!” cecar Karina pada Charlotte.

Charlotte tetap terdiam dan mencoba mengangkat wajahnya sekuat tenaga. Tangisnya pecah saat itu juga. Miranda yang sejak tadi tampak kesal juga turut mencecar Charlotte. Tangannya dengan sigap menarik rambut ikal Charlotte dan berkata, “Ingat apa yang membuat Ayah dan Ibu meninggal??”

Charlotte menggigit bawah bibirnya untuk menahan rasa sakit. Airmatanya terus mengalir membasahi pipinya yang memerah. Kematian Ayah dan Ibunya membuat airmata tersebut mengalir semakin deras. Apa yang terjadi padanya hari ini adalah buah dari tragedi tersebut.

Semua orang di desa ini tahu bahwa keluarga Louis adalah keluarga sangat menjunjung tinggi tradisi keluarga mereka. Keluarga mereka – sejak jaman dulu – hanya akan menikah dengan sesama keluarga jauh Louis lainnya. Charlotte dianggap membuat sebuah pelanggaran dengan mencintai Edwin dan membuat ke tiga kakaknya tidak menikah. Menurut kepercayaan keluarga besar Louis, menikah dan mencintai orang lain selain keluarga Louis akan mendatangkan malapetaka. Charlotte dan Edwin tahu tradisi dan kepercayaan tersebut, namun mereka percaya bahwa cinta mereka akan mengalahkan segalanya.

Charlotte masih dapat mengingat dengan jelas tragedi yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Hari itu adalah hari minggu kelabu di pertengahan Desember. Seperti biasa keluarga Louis akan mengadakan pertemuan di pusat kota. Charlotte yang telah berjanji pada Edwin untuk selalu menunggunya di sudut hutan , memilih tidak mengikuti pertemuan tersebut dengan berpura – pura sakit.

Semuanya tentu akan berjalan lancar jika saja Dorothy – penjual pancake madu di desa tersebut – tidak melaporkan apa yang dilihatnya di sudut hutan. Kedua orangtua Charlotte yang marah besar dengan segera menderu mesin mobil tua mereka kembali ke desa. Dalam perjalanan ke desa, mobil yang mereka kendarai menabrak sebuah truk pengangkut kayu dan pada akhirnya mereka meninggal di tempat kejadian. Sejak saat itu, Charlotte dan Edwin selalu dicap sebagai pembawa kutukan.

“ BERHENTI MENANGIS !!!” teriak Karina tiba – tiba.

Kedua tangannya dengan sigap menyeret Charlotte dengan kejam disepanjang lorong rumah. Tangis Charlote kini berganti menjadi sebuah teriakan kesakitan. Kedua tangannya yang telah terikat tambang coba digerakkan dengan cepat.

PRANGGGGGGGGGG . . . .

Suara kaca pecah menghentikan langkah Karina. Dia segera memberikan isyarat pada Miranda dan Rowinda untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa saat kemudian suara teriakan mengejutkan terdengar. Karina mulai merasa cemas, matanya dengan siaga terarah pada ujung lorong tempat Miranda dan Rowinda menghilang.

“S-s-siapa itu? Miranda? R-r-rowinda?” kata Karina menatap siluet di ujung lorong.

Siluet tersebut melangkah mantab ke arah Karina. Sejurus kemudian Karina tersadar siluet tersebut bukanlah milik kedua adiknya. Jantungnya berdegup sangat kencang disertai dengan peluh yang keluar dengan tak terkira.

“Edwin” desis Karina.

Edwin tampak sangat beda dengan sebelumnya. Wajahnya tampak penuh goresan sementara matanya tampak merah dan berair. Baju putihnya yang biasa tersampir menutupi tubuh kekarnya tampak sobek membentuk lekukan aneh. Jeans biru yang digunakannya pun tampak sama mengenaskan.

“Kalian yang membuatku seperti begini”

Akhirnya Edwin melepas suaranya yang serak. Karina tampak gemetar ketakutan menatap Edwin yang semakin dekat dengannya. Karina mundur secara perlahan mendekati meja bundar sementara Edwin melepaskan ikatan ditangan Charlotte.

“Sial, kenapa harus di malam seperti ini?” batin Karina.

Merasa memiliki kesempatan yang bagus, Karina dengan sigap menarik sebuah pisau lipat dan menancapkannya pada otot bisep Edwin. Darah kental mengucur dengan perlahan. Edwin menatap pisau tersebut sekilas dan mencabutnya. Seraya menggendong Charlotte, dia berjalan ke arah Karina dan berkata, “Jangan macam – macam lagi denganku !”

*

Charlotte termenung menatap bulan purnama yang tersenyum diselimuti langit malam. Malam ini adalah malam yang sangat aneh. Dia kemudian melempar pandangan pada Edwin dan seorang pria tua yang tampak seperti kepala suku Indian.

“Ini Algeron, sahabat Ayahku. Hampir enam bulan dia tinggal di dalam hutan ini” kata Edwin.

Charlotte tersenyum dan menerima uluran tangan Algeron. Tidak butuh waktu lama, Algeron telah akrab bertukar cerita dengan Charlotte. Algeron merupakan tipe pria yang senang berceloteh tanpa diminta. Charlotte sangat senang mendengar setiap perkataan yang dilontarkan Algeron, tajam namun tidak menyinggung perasaan. 

Api unggun dihadapan mereka kini berderak – derak pasrah menjadi abu, sementara Algeron mulai mengatakan rasa prihatinnya pada Charlotte. Dia mengatakan bagaimana bisa ada seorang kakak yang tega melakukan hal tersebut pada adiknya sendiri.

“Tradisi keluarga yang . . .” kata – kata Charlotte terputus karena Edwin segera berdiri.

“Aku mau pergi sebentar”

Edwin menghilang begitu saja diantara pepohonan tanpa berpaling pada Charlotte. Charlotte mencoba berdiri dan menahan kepergian Edwin, namun Algeron menarik tangannya dan menggeleng. Pada akhirnya Charlotte hanya duduk pasrah melihat api unggun yang mulai padam. Wajahnya yang murung tertutupi gelapnya malam, namun Algeron tetap dapat melihatnya.

“Dia harus pergi karena . . .”

Sebuah teriakan lengking serigala terdengar dan menghentikan perkataan Algeron. Dia tertunduk dan menangkupkan kedua tangannya di depan wajah. Charlotte – saat itu juga – tahu bahwa telah terjadi sesuatu pada Edwin.

“Apa yang telah terjadi? Edwin sudah lama menghilang dan kini muncul dihadapanku seperti itu dan . . . . .” Charlotte tidak dapat melanjutkan kata – katanya.

Algeron memeluknya dengan hangat, lalu menarik napas panjang dan mulai bercerita. Dia tahu bahwa selama ini, keluarga Charlotte sangat tidak menyetujui hubungannya dengan Edwin. Dia pun tahu bahwa keluarga Charlotte merupakan sebuah keluarga dari abad pertengahan yang masih berpegang teguh pada beberapa tradisi. Hal tersebutlah yang membuatnya kini berada di hutan ini.

“Aku tahu asal usul keluargamu karena keluargaku pernah bekerja pada keluarga Louis” desis Algeron perlahan.

Algeron mulai bercerita tentang bagaimana piciknya ke tiga saudari Charlotte. Mereka sudah beberapa kali ingin mencelakai Edwin. Terakhir kali mereka menggunakan sebuah serigala hutan untuk membunuh Edwin. Charlotte tepekur, dia mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan Algeron.

“Mereka ingin menggunakan taktik yang sama seperti taktik yang pernah digunakan nenek buyutmu”

Algeron menerawang jauh dan kembali mengingat cerita dari kakeknya mengenai betapa Paula Louis – nenek buyut Charlotte -  dengan tega menyaksikan kekasih adiknya menjadi santapan serigala. Separuh  tangan pria malang itu habis tak tersisa akibat gigitan tersebut. Eugene – pria malang itu – bertingkah aneh selayaknya serigala. Paula menjadikan hal tersebut untuk mengusir Eugene dari kota. Dia menebarkan isu bahwa makhluk ganas yang tega membunuh hampir sebagian penduduk kota adalah Eugene. Dia dengan hebatnya dapat meyakinkan para penduduk bahwa Eugene adalah manusia serigala. Para penduduk yang pada jaman tersebut masih percaya akan hal – hal takhayul seperti itu mulai merasa ketakutan dan mengusir Eugene dari kota.

“Tapi, sekarang tidak mungkin ada yang percaya dengan hal tersebut. Semua orang tahu, hal tersebut disebabkan oleh rabies yang ditularkan dari gigitan serigala” kata Charlotte.

Algeron mengangguk dan berkata, “Tapi, desa ini berbeda dan bisa kau lihat penduduk macam apa yang menghuni desa ini. Ada baiknya kalian pergi dari tempat ini dengan segera karena aku yakin saudari – saudari anehmu tidak akan berani mengikutimu dan Edwin karena mereka telah percaya bahwa Edwin berubah menjadi manusia serigala.”

“Aku setuju, aku ingin segera pergi dari tempat ini. Selama ini kakakku tidak pernah takut apa pun dan mereka selalu menindasku, tapi malam ini mereka tampak sangat aneh terutama Karina”

“Karena malam ini purnama dan mereka masih mentah” batin Algeron.

***

Algeron melambaikan tangannya pada Charlotte yang tampak tersenyum bahagia. Dia mengangguk perlahan pada Edwin yang berpamitan pada Charlotte.

“Hati – hati, aku akan memasak sup jamur untuk makan malam. Cepat pulang” teriak Charlotte.

Algeron dan Edwin mengangkat jempol mereka sebelum meninggalkan Charlotte. Di dalam mobil, Edwin tersenyum menatap sebilah pisau bermata tumpul yang terbungkus rapi oleh selembar kain sutera cokelat. Tangannya mengelus pisau tersebut dengan perasaan bahagia.

“Kita beruntung, ke tiga saudari Louis yang tersisa tidak menceritakan semuanya pada Charlotte” kata Algeron sambil terus memperhatikan jalan yang membentang dihadapannya.

Edwin mengangguk dan tersenyum sinis. Pikirannya memutar perlahan, membuka sisa memori kehidupannya. Dia masih mengingat dengan jelas wajah ibunya yang terkoyak. Awalnya dia tidak mempercayai semua cerita Algeron mengenai tradisi dan hal bodoh yang telah terjadi pada keluarganya dan keluarga Louis. Namun, kematian ibunya, membuatnya sadar bahwa selama ini dia telah salah menilai keluarga tersebut.

“Kita sampai” bisik Algeron.

Edwin dan Algeron mengendap diantara pepohonan yang tampak enggan menampakkan kemilau zamrud. Suasana rumah megah serta peternakan dihadapan mereka tampak sunyi senyap.

“Mereka tidak kuat menghadapi malam – malam berat seperti ini” batin Edwin.

Merasa keadaan sekitar cukup mendukung niat mereka, Edwin dan Algeron pun mempercepat langkah mereka ke dalam rumah megah tersebut. Mata Edwin yang tajam dengan sigap mulai menyesuaikan keadaan di dalam rumah yang tampak gelap. Algeron memberikan isyarat pada Edwin untuk berpencar. Edwin mengangguk dan mengendap menuju ruang makan. Dari jarak 5 meter dia bisa mencium bau darah yang sangat amis. Matanya semakin di tajamkan sementara giginya mulai tampak meruncing.

“Edwin”

Algeron dengan cepat memegang tangan Edwin yang tampak mulai mengeras dan berbulu. Dia menggeleng dan menarik Edwin ke ruang bawah tanah. 

“Kita harus cepat mencari Charlotte” suara Rowinda terdengar samar – samar.

Edwin memantapkan kakinya dibalik sebuah tiang beton. Dia melihat dengan seksama ke arah tiga wanita yang memakai dress hitam pekat dengan tudung kepala. Diantara temaran cahaya bulan, dia dapat melihat wajah Karina, Miranda, dan Rowinda dibalik tudung itu. Kini, tatapannya terarah pada seorang wanita muda berbaju pelayan yang terbaring di atas sebuah meja batu. Tubuh gadis itu tampak terkoyak dan berlumuran darah.

Edwin meremas kedua tangannya, dia merasa sangat marah. Algeron yang melihat hal tersebut mencoba menahan Edwin, namun hentakan keras dari tangan Edwin membuatnya terpental.
Edwin melompat dengan beringas ke arah tiga wanita tersebut dan mulai mengeluarkan cakarnya. Semenit kemudian, napas kehidupan ke tiga wanita tersebut telah lenyap.

“Kau hampir saja merusak segalanya. Mereka harus ditusuk” kata Algeron sambil menusukkan pisau bermata tumpul pada tubuh Karina.

“Satu lagi keluarga Louis yang tersisa dan siap menghadapi pembalasan” kata Edwin.

“Dia istrimu” Algeron tampak menyela.

“Tapi ini tradisi”


continue . . .

- Regards Pipit, menulis dan menggambar karena cinta -
Read More..